-
The History Professor That Broke the Internet and Refused Fame and Wealth
One day a few months ago I saw someone’s comment on YouTube. I thought it was a short clip showing a Chinese professor talking in fluent English about history of the world. And I traced back to his real YouTube channel, e.g. Predictive History. Months…
-
Bagaimana Hidup dalam Masa Serba Krisis
Salah satu pemengaruh pikiran yang saya sukai dan berpengaruh bagi diri saya adalah Fahruddin Faiz. Dosen filsafat ini kerap membagikan mutiara pemikir-pemikir dunia lewat kanal lapak_mjs di platform YouTube dan Spotify. Ia sanggup mengurai pemikiran kompleks untuk bisa dicerna dengan lebih baik oleh masyarakat awam…
-
Why Community Is Our Greatest Asset in the Age of AI
My recent journey to Palembang, the capital of South Sumatra, offered a powerful glimpse into a future not dominated by algorithms, but defined by human connection. I had been invited to teach a yoga class, an opportunity that arose not from a corporate booking, but…
-
Homo-homo Politicus
Di TikTok, rakyat yang semula geram terhadap AS berbalik menjadi mengolok-oloknya. Konon ada flash disk yang ikut dijarah dari kediaman dia dan begitu dibuka, ada foto-foto ia sedang di lapangan golf dengan celana berwarna menyolok mata, yang memicu sebuah tagar di TikTok: “Apakah AS itu…
-
Tugas Wartawan di Tengah Ontran-ontran
Tahun 1998 saat krisis multidimensi menerpa Indonesia, memori saya yang masih tertancap adalah saat Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) kala itu mengumumkan Gerakan Cinta Rupiah. Melalui televisi milik anak sulung Presiden Suharto itu, pemerintah mengimbau masyarakat Indonesia untuk menggunakan rupiah dalam bertransaksi apapun. Saya yang masih…
-
Community Similikity
Saya pernah membaca sebuah buku, sayang lupa judulnya. Intinya adalah agar sebuah masyarakat di permukiman baru bisa berkembang lalu menjelma sebagai masyarakat yang mandiri, diperlukan sebuah tempat ketiga. Bukan rumah kita. Bukan juga tempat kerja. Tempat ketiga ini adalah kafe-kafe, toko-toko buku, taman-taman publik tempat…
-
Apa Saja Demi Hidup Lebih Baik
Kemarin saya iseng saja menghubungi sebuah UMKM lokal dan mengatakan ingin menulis soal bisnis kecilnya. Si pemilik ternyata sedang di lokasi dan saya pun menyatakan niat saya berbincang sebentar setelah menyantap dan membayar makanan. Saya ke sana bukan dalam kapasitas sebagai kreator konten yang bakal…
-
Romantisasi Hidupmu yang Biasa-biasa Saja Itu dengan Journaling Segera Karena Siapa Lagi yang Mau Melakukannya?
Malam ini saya menyadari bahwa jauh sebelum anak-anak muda Gen Z itu demam journaling seperti sekarang, saya juga sudah melakukannya sejak lama. Tentu saja, karena saya termasuk Generasi Geriatric Millennials yang lebih tua dari mereka. Tapi saya menggunakan medium yang berbeda: blog privat. Entri blog…
-
Karena Kita Hidup Tak Cuma Sekali Ini Saja
“Mengungkap Rahasia Hari Kemudian” seakan ditulis Imam Ghazali untuk menyanggah semboyan hidup masa kini “You Only Live Once” alias YOLO. Pemikiran YOLO banyak diadopsi orang modern untuk menjustifikasi gaya hidup mereka yang mengedepankan hedonisme dan materialisme. Tapi apakah memang pasti kita akan hidup sekali saja?…
-
Kerasnya Perjuangan Agar Tetap Relevan
Siang itu saya memesan sebuah taksi. Saya lihat sang pengemudi seorang ibu paruh baya. Jarang sekali saya menemukan seorang pengemudi taksi yang seorang perempuan usia 50-an. Rambutnya dipotong pendek, putihnya mulai merata, kulitnya kering karena AC mobil dan sinar matahari. Ia mengaku bukan berasal dari…