• MENULIS bisa menjadi salah satu bentuk terapi kejiwaan bagi manusia.

    Jenis menulis terapeutik ini disebut sebagai “expressive writing”, sebuah metode menulis untuk melepaskan beban trauma psikologis yang pertama kali digagas oleh James Pennebaker, Ph.D., seorang ilmuwan dari Amerika Serikat yang pernah menulis buku Expressive Writing: Words That Heal bersama John F. Evans.

    Bagaimana Expressive Writing Lahir

    Pennebaker sendiri memiliki riwayat asma sejak kecil yang kambuh-kambuhan seiring pergantian musim. Dari ingatannya, ia mengalami level keparahan gejala asma yang berbeda-beda tatkala dikunjungi orang yang berbeda saat ia dirawat. Dari catatan masa lalunya tersebut, Pennebaker menyimpulkan pasti ada kaitan antara kondisi kesehatan dan kondisi emosional seseorang.

    Sebagai ilmuwan pertama yang meneliti kaitan menulis dengan kesehatan, emosi dan fisik, Pennebaker melakukan studi ilmiah yang melibatkan sejumlah mahasiswa yang diberikan instruksi untuk menuliskan peristiwa yang paling traumatis dalam hidup mereka masing-masing.

    Para mahasiswa ini diharuskan menulis tanpa henti, tanpa sensor, dan tanpa mengindahkan tata bahasa selama durasi 13-30 menit pengalaman paling traumatis mereka.

    Mereka juga diberitahu bahwa apa yang mereka tulis tidak akan dibacakan atau diberitahukan ke orang lain. Untuk menjaga kerahasiaan isi tulisan itu, mereka diperbolehkan menyobek atau membakar kertas tempat mereka menulis begitu sesi menulis telah selesai.

    Jadi tujuan menulis di sini bukan untuk dibaca orang lain tapi untuk menumpahkan perasaan dan kegelisahan yang ada dalam benak seseorang akibat akumulasi emosi negatif dan trauma masa lalu.

    Menulis trauma ini bisa dilakukan dengan kertas dan pulpen atau bisa juga menulis dengan word processor seperti Microsoft Word atau menggunakan aplikasi Notes di gawai.

    Metode Expressive Writing

    Sebelum menulis, patut diperhatikan agar kita menuliskan fakta yang kita alami dengan sebenarnya, emosi yang dirasakan saat mengalami pengalaman traumatis itu dan emosi yang dirasakan sekarang setelah pengalaman tersebut berlalu jauh serta yang tak kalah penting ialah menyertakan semua informasi baik di masa kini atau lampau yang masih relevan dengan pengalaman traumatis tersebut misalnya orang-orangnya, dan sebagainya.

    Agar lebih jelas sebelum memilih pengalaman traumatis, perlu dipahami bahwa trauma ialah pengalaman atau kumpulan pengalaman yang mengubah otak kita dan sirkuit otak/ badan yang membuat kita tidak bisa berfungsi secara normal dalam hal fisik, kognitif, perilaku, dan sebagainya dan kita merasa sangat sulit untuk melupakannya, demikian ungkap pakar kejiwaan Paul Conti.

    Instruksinya ialah “tulislah semua hal yang paling meresahkan atau paling sering Anda pikirkan selama hidup akhir-akhir ini, atau sesuatu yang membuat Anda bermimpi buruk atau sesuatu yang Anda anggap masalah yang paling besar dalam hidup Anda”.

    Instruksi selanjutnya ialah “tulislah emosi terdalam atau pikiran terjujur mengenai peristiwa yang paling buruk dalam hidup Anda dan kemudian eksplorasi semua emosi tanpa kecuali dan sambil menuliskannya kamu bisa gambarkan masa kecil, hubungan dengan ortu dan saudara kandung, orang yang Anda cintai, karier atau pendidikan, perspektif Anda soal diri dahulu kala, saat ini dan pribadi yang Anda inginkan ke depan.”

    Waktu yang disediakan untuk menulis semua ini bervariasi, antara 13-30 menit.

    Saat menuliskan pengalaman traumatis, perlu diingat 3 komponennya: fakta (siapa yang ada di sana, apa yang terjadi pada kita), bagaimana perasaan kita saat itu dan sekarang, dan kaitan/ asosiasi antara apa yang terjadi dengan hal lain (misal orang tertentu).

    Selama menulis, bisa terjadi jeda karena emosi yang kembali bergolak hingga menangis. Dan sediakan waktu untuk menetralkan emosi setelah sesi expressive writing.

    Bukan Diary

    Menulis dalam metode expressive writing berbeda dari gratitude journaling (jurnal pribadi yang isinya hal-hal yang patut disyukuri setiap hari dalam kehidupan) dan menulis diary atau jurnal harian biasa yang isinya rentetan aktivitas sehari-hari yang bersifat superficial.

    Anda harus melakukan ini selama 4 hari berturut-turut untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari expressive writing. Jadi 30 menit untuk setiap hari.

    Jenis protokol lainnya ialah menulis dengan pendekatan expressive writing di satu hari tertentu per minggu, tidak perlu 4 hari berturut-turut.

    Low Expressor VS High Expressors

    Menurut Pennebaker, ada dua jenis tipe utama expressive writers: low and high expressors.

    Low expressors ialah orang-orang yang cenderung untuk menggunakan bahasa yang kurang deskriptif dan kurang emosional. Badan mereka selama sesi menulis terpantau mengalami stres yang lebih ringan.

    High expressors ialah orang-orang yang cenderung lebih banyak menggunakan kata-kata negatif untuk mendeskripsikan pengalaman negatif mereka dan lebih sering dan tubuh mereka lebih stres juga karena itu.

    Menariknya, di hari pertama, high expressors memang lebih stres tapi di hari-hari berikutnya low expressors malah makin stres dan di saat yang sama high expressors makin menurun stresnya.

    Terlepas dari temuan ini, kedua tipe ini tidak ada yang lebih buruk atau lebih baik. Perbedaan keduanya bukan masalah besar tapi yang penting ialah melepaskan trauma yang menumpuk dalam sel-sel otak.

    Peran Kosakata

    Kadang orang yang lebih banyak mengetahui kosakata sedih lebih sedih dan sebaliknya tapi tidak selalu.

    Pennebaker menemukan bahwa orang yang lebih banyak menggunakan kata kata negatif cenderung kondisi emosinya juga lebih negatif.

    Apakah ini menjadi masalah? Tidak juga. Malah jangan berusaha menghindari kata-kata negatif karena sekali lagi, inilah kesempatan untuk melampiaskan semua emosi negatif yang tidak bisa diungkapkan selama ini.

    Setelah sesi expressive writing berlalu seminggu barulah Anda boleh membaca kembali dan mengamati volume kata-kata positif dan negatif dalam tulisan kita sendiri.

    Bandingkan tulisan/ entri dari hari pertama, kedua, ketiga, dan keempat.

    Dalam temuan Pennebaker, terjadi penurunan volume kata yang negatif dan terjadi kenaikan volume kata yang positif dari tulisan/ entri hari pertama hingga keempat.

    Manfaat Expressive Writing

    Sederet faedah jika pengalaman traumatis dituangkan ke luar secara tertulis melalui metode expressive writing ini ialah meringankan keluhan kecemasan berlebihan, insomnia, depresi, arthritis, kanker, lupus, autoimun, fybromelgia, irritable bowel syndrome, dan sebagainya.

    Jika dibandingkan menulis diary biasa, expressive writing ini memiliki efek terapeutik yang lebih besar, ungkap Pennebaker.

    Hal ini diketahui dari tes darah para subjek penelitian Pennebaker. Dalam tubuh orang yang menulis dengan metode expressive writing, aktivasi sel darah putih (T limfosit) jauh lebih kuat. Aktivasi imun lebih baik dengan expressive writing.

    Dari sini diyakini bahwa memang ada kaitan erat antara kondisi pikiran dan kesehatan fisik seorang manusia.

    Menata Ulang Sel-sel Otak

    Sejak kecil, sistem syaraf manusia bertugas menyerap beragam pengalaman baru dan makin pintar dalam membuat tebakan-tebakan berdasarkan akumulasi pengalaman yang diperolehnya.

    Makin lama kita bisa menebak apa yang akan terjadi pada kondisi emosional kita saat berada di tempat tertentu, bersama orang tertentu, apa yang biasanya terjadi, dan apa dampaknya pada diri kita setelah itu. Dengan kata lain, otak menjadi semacam mesin penerka yang cerdas tapi juga bisa salah.

    Perilaku dan penyakit kronis yang kambuhan misal insomnia, GERD, kecemasan berlebihan, dan sebagainya adalah respon tubuh terhadap stres yang berlebihan.

    Namun, begitu seseorang menjadi matang dan dewasa (usia 20-an), perubahan pada sel-sel otak masih bisa juga terjadi saat kita menghadapi momen atau kondisi yang luar biasa.

    Sesi expressive writing ini menjadi alat untuk mengubah kembali pola di sel-sel otak ini. Jika sel-sel otak diibaratkan seperti kabel-kabel, ia akan ditata ulang kembali agar lebih rapi dan bisa bekerja lebih baik.

    Sesi expressive writing secara sepintas memang membuat tak nyaman emosi dan pikiran tetapi memaksa sel-sel otak menata ulang susunannya.

    Para pelaku expressive writing yang sangat emosional bisa mengalami perubahan susunan sel otak yang pada gilirannya bisa merilis emosi terpendam.

    Lega dengan Memahami Lebih Utuh

    Hasil yang bisa dirasakan seseorang setelah menjalani prosedur expressive writing yang direkomendasikan oleh Pennebaker di atas ialah rasa lega, yang diiringi dengan sejumlah perubahan positif dalam kondisi tubuh dan kondisi pikiran/ psikologis.

    Expressive writing disarankan bagi mereka yang pernah mengalami kejadian traumatis di masa lalunya. Misalnya kekerasan di masa kecil, perceraian orang tua, perisakan (bullying), dan sebagainya. Itu karena setelah mengalami kejadian traumatis, banyak orang yang tidak mau membahasnya atau mengingatnya lagi seumur hidup.

    Dan sayangnya keengganan untuk membahasnya inilah yang nantinya malah berakibat buruk. Kita menjadi bingung dan kurang bisa memahami mengapa dan bagaimana peristiwa traumatis itu terjadi secara lebih utuh.

    Kebingungan dalam pikiran inilah yang nantinya menambah ruwet keadaan saat ada pemicu trauma datang kembali dan mendorong kita bereaksi yang tidak seharusnya.

    Simpulannya, expressive writing membantu kita untuk memahami pengalaman-pengalaman traumatis tersebut lebih baik dan akhirnya pemahaman yang lebih baik itu membuat kita bisa melepaskannya dengan lebih sehat. Jadi tidak cuma melupakan, tapi justru kita harus mencerna pengalaman traumatis itu dulu dan baru membuangnya secara tuntas agar tidak menjadi beban seumur hidup.

    Karena tidak untuk dikonsumsi publik, tulisan di sesi expressive writing juga seharusnya dibuat dengan sejujur mungkin agar kita bisa memahami sebuah fenomena dengan lebih baik. Dengan bersikap sejujur mungkin, tidak menutup-nutupi, kita akan memberikan badan dan pikiran serta jiwa ini untuk pulih seperti sediakala dalam jangka pendek maupun panjang. (*/)

  • KALAU Anda bekerja sebagai penulis, pasti Anda sudah khawatir soal perkembangan AI yang begitu pesat belakangan ini, bukan?

    Jika Anda menjawab tidak, ada dua kemungkinan: Anda berbohong atau Anda denial.

    Kecemasan para penulis bahwa mereka akan digantikan oleh AI bisa jadi beralasan. Atau tidak. Tergantung perspektifnya.

    Nah, untuk bisa mengamati fenomena bangkitnya AI dan dampaknya pada dunia kepenulisan, mari kita coba bahas beberapa hal yang sebagai penulis kita harus ketahui supaya tidak ketinggalan zaman.

    Sebagai informasi, tulisan ini saya buat setelah mendengarkan satu episode podcast menarik dari kanal The Artificial Intelligence Show yang digawangi oleh duo Paul Roetzer dan Mike Kaput. Judulnya “AI Writing Mega Episode”. Anda bisa klik untuk mendengarkan podcastnya langsung.

    Tapi kalau Anda tak punya banyak waktu dan mau membaca highlight-nya saja, silakan teruskan baca artikel ini.

    Dan sebagai disclosure, saya juga gunakan AI dalam proses menulis artikel ini.

    Nah sebagai pembuka, mari kita akui bersama-sama bahwa sejak kemunculan kecerdasan buatan (AI), industri dan karier menulis telah mengalami perubahan mendasar yang sungguh drastis sekaligus membuat kita yang bekerja sebagai penulis, editor, dan sejenisnya tak bisa tidur nyenyak.

    Menulis, sebagai salah satu keterampilan paling fundamental dalam berbagai industri dan bidang, kini bisa dilakukan oleh AI sehingga manusia yang mengaiz rezeki di bidang kepenulisan atau pembuata konten teks menjadi kalang kabut.

    Tak berlebihan karena memang dampak AI tidak hanya sekadar mengubah cara menulis, melainkan juga merambah strategi konten, susunan tim konten, dan paradigma dalam industri kreatif.

    Memecat Manusia Penulis Bukan Langkah Tepat

    Perusahaan dan organisasi kini memiliki akses ke AI yang mampu menghasilkan tulisan dengan cepat dan efisien.

    Para pemimpin bisnis selintas kini berpikir untuk memecat para penulis di tim mereka dan menggantikannya dengan AI. Tapi benarkah itu keputusan yang tepat?

    Memang kemajuan AI mendorong industri untuk menuntut para penulis, editor, pemimpin tim konten, brand, agensi, dan perusahaan media untuk memahami penerapan AI dalam menulis dan produksi konten agar bisa bekerja lebih cepat dan mencari untung lebih banyak.

    Sayangnya perkembangan AI ini masih kurang diimbangi dengan minimnya percakapan atau dialog antarpraktisi/pelaku industri, yang membuat ketakutan yang kurang beralasan semakin merajalela.

    Sebenarnya kita tidak harus takut terhadap AI, karena penggunaannya akan terus berkembang meski kita memboikot atau membendungnya sekalipun. AI sudah mirip virus Covid yang suatu saat pasti akan menular ke kita juga. Tinggal menunggu waktu.

    Masalahnya, kita sudah siap mengantisipasinya atau belum??

    Cara mengantisipasi kedatangan AI di industri kepenulisan ada banyak tapi yang paling konkret bagi para penulis sendiri ialah dengan menyusun strategi untuk mengintegrasikan AI dalam work flow atau cara kerja sehari-hari sebagai penulis.

    Penulis harus mulai membiasakan diri menggunakan AI agar pekerjaan menjadi lebih efisien dan berkualitas.

    Selain itu, penulis di era AI harus rajin belajar tentang cara memanfaatkan AI untuk membuat pekerjaan lebih efisien dan berkualitas.

    Beberapa ide penggunaan AI bagi penulis antara lain ialah untuk mendapatkan ide sebanyak mungkin, meringkas gagasan dalam tulisan yang panjang lebar, menulis transkripsi wawancara atau dialog penting yang memakan banyak waktu, dan bereksperimen dengan lebih banyak kemungkinan baru dalam penulisan/produksi konten. Intinya, para penulis dapat menggunakan AI untuk pekerjaan monoton dan memakan banyak energi dan waktu. Dengan demikian, para penulis bisa lebih fokus pada aspek strategis yang membutuhkan kreativitas manusia dalam pekerjaannya.

    AI dan Dampaknya ke Industri Media

    Meskipun AI telah menjadi bagian penting dari industri penulisan dan konten, penulis harus tetap melakukan riset dan belajar mengenai topik yang akan mereka tulis agar kualitasnya tetap terjaga.

    Dalam hal ini, penulis harus tetap membuka diri untuk berani mengeksplorasi berbagai platform AI yang dapat membantu mereka menulis dengan lebih cepat dan efisien.

    Dalam konteks perusahaan media, penggunaan AI juga memiliki dampak yang signifikan. Contohnya adalah CNET dan BuzzFeed.

    CNET mengalami dampak negatif ketika tidak transparan dalam penggunaan AI. CNET terkesan menutup-nutupi penggunaan AI dan menayangkan artikel hasil buatan AI untuk menggenjot traffic websitenya.

    Sementara itu, BuzzFeed berhasil memanfaatkan AI dengan baik dan mendapat respons positif dari pembaca dan masyarakat dengan menyatakan bahwa mereka menggunakan AI untuk membuat kuis-kuis populernya. Nilai saham mereka naik setelahnya.

    AI sebagai Personal Writing Assistant

    Dampak AI pada karier seorang penulis, jurnalis, editor, dan pemimpin tim konten ialah munculnya tuntutan yang makin tinggi untuk belajar menggunakan AI dalam bidang pekerjaan mereka agar tetap relevan dengan industri yang ada.

    Para penulis harus mulai mengasah keterampilan memakai AI sebagai personal writing assistant-nya, dengan mengajari AI gaya unik mereka menulis agar produktivitasnya meningkat pesat.

    Suara dan Gaya Unik dan Kuat

    Brand juga dituntut untuk memiliki perspektif, suara, dan POV yang unik agar berbeda dari konten-konten generik yang dapat dihasilkan dengan mudah oleh AI.

    Karena itu, penting bagi kreator, termasuk penulis, untuk bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan pikirkan, sehingga konten yang dihasilkan bisa membangun koneksi dan relevansi dengan pembaca.

    Dalam menghadapi transformasi ini, para penulis harus mempelajari cara kerja language model dan AI sebagai bekal untuk menghadapi inovasi AI dan dampaknya di industri kepenulisan dan konten. Dengan demikian, mereka dapat terus berkembang dan tetap relevan di era AI. (*/)

  • ◦ Ada 3 hal yang berkaitan dengan kelenturan (flexibility) badan seseorang: syaraf, otot, dan jaringan ikat (connective tissues/ fascia).

    ◦ Jaringan ikat (fascia) menyatukan semua jaringan syaraf dan otot dan memungkinkan fleksibilitas bisa tercapai.

    ◦ Sistem syaraf yang mencakup sel sel syaraf di otot, tulang belakang dan otak sebagai pusat yang mengendalikan otot dan berpengaruh pada fleksibilitas.

    ◦ Asetokolin adalah zat yang memungkinkan otot-otot berkontraksi sehingga memungkinkan pergerakan dan fleksibilitas badan secara keseluruhan.

    ◦ Ada neuron sensorik dan spindle di otot yang membantu pengiriman informasi mengenai apa yang terjadi dalam setiap otot kita.

    ◦ Saat sebuah otot diregangkan secara berlebihan, neuron sensorik dan spindle di otot akan aktif dan mengirimkan sinyal ke tulang belakang dan sampai otak lalu memastikan neuron motorik berkontraksi untuk memastikan tubuh dalam kondisi aman saat ia dipaksa untuk meregang di luar batas amannya.

    ◦ Tubuh mengenali batas aman peregangan berdasarkan: apa yang terjadi di otot, dan apa yang kita pikirkan (persepsi kita terhadap gerakan peregangan itu apakah baik atau buruk, apakah itu disengaja atau tidak), dan mekanisme alami tubuh yang menentukan sebuah peregangan aman bagi badan atau tidak.

    ◦ Siklus peregangan otot: neuron motorik memendekkan otot, neuron sensorik/ spindle di otot mengenali peregangan di otot tertentu, otot akan memanjang berkat jangkauan gerak yang bertambah, neuron motorik memendekkan otot tertentu lalu mengembalikannya ke jangkauan gerak yang aman.

    ◦ Organ tendon golgi: neuron yang ada di ujung tendon, bisa mendeteksi beban (load) di tiap otot. Ia akan mengirim sinyal untuk menutup neuron motorik dan mencegah kontraksi otot. Jika sebuah beban terlalu berat untuk badan, organ ini akan otomatis aktif.

    ◦ Berlatih peregangan secara teratur secara ilmiah terbukti bisa menambah jangkauan gerak (range of motion) sendi-sendinya.

    ◦ Badan mengalami penurunan fleksibilitas dari umur 20 hingga 49 dan 10% persen penurunan kelenturan ini akan terjadi setiap 10 tahun.

    ◦ Namun penurunan fleksibilitas fisik itu tidak selalu terjadi secara linier. Bisa bervariasi tergantung banyak faktor, misal ada kecelakaan, pola hidup dan pola gerak.

    ◦ Memelihara fleksibilitas dan menambah jangkauan gerak dalam batas normal dan sehat bagi seseorang bisa memberikan manfaat pencegahan cedera jika dilakukan secara proporsional, tidak berlebihan.

    ◦ Ada titik saat kita memutuskan untuk meneruskan atau berhenti saat latihan peregangan. Rileks (menahan) atau meneruskan (lanjut ke stretching yang lebih intens).

    ◦ Ada neuron yang bisa mengetahui apa yang terjadi di dunia luar (exteroception) dan apa yang terjadi di dalam badan sendiri (interoception).

    ◦ Insula adalah area otak yang bertugas untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam tubuh sendiri.

    ◦ Bagian depan insula bertugas untuk penciuman, penglihatan dan stimuli eksternal. Lalu ia akan menggabungkannya dengan hasil pengamatan dari dalam badan. Dari sana otak bisa membuat sebuah keputusan: menghindari atau menyambut.

    ◦ Neuron von economo bertugas untuk membimbing badan saat latihan peregangan. Manusia memilki sebanyak kira-kira 80.000 neuron ini di otak, lebih banyak dibandingkan mamalia lain.

    ◦ Neuron von economo ini unik karena memiliki kemampuan mengumpulkan kemampuan gerakan badan kita, bagaimana sensasi sakit dan tak nyaman dan memungkinkan muncul tidaknya motivasi untuk meneruskan atau berhenti saat menjalani latihan peregangan untuk mencapai tujuan tertenti atau dengan alasan peregangan ini baik untuk kita.

    ◦ Neuron von economo bertugas juga untuk menghubungkan sejumlah area di otak yang bisa mengubah kondisi internal badan dari kondisi yang alert dan stressful, panik menuju ke kondisi relaksasi.

    ◦ Saat peregangan, neuron von economo bisa membantu menurunkan level stres atau alertness ini agar badan bisa meregang lebih intens dari sebelumnya. Dengan demikian, bisa mengalahkan mekanisme spindle yang membatasi peregangan.

    ◦ Alasan kenapa jika kita bisa lebih berhasil dalam peregangan saat kita bersikap lebih rileks ialah karena otak memiliki neuron von economo.

    ◦ Latihan peregangan sebenarnya ialah latihan pengubahan pola syaraf dan otot.

    ◦ Untuk meningkatkan fleksibilitas satu otot, kencangkan/ pendekkan otot antagonisnya. Misal kencangkan quadriceps jika ingin meregangkan hamstring.

    ◦ Latihan rutin peregangan bisa mengubah otot tapi tidak memanjangkannya karena panjang pendeknya otot lebih ditentukan oleh faktor genetik.

    ◦ Protokol stretching yang disarankan: aktifkan/ kencangkan otot antagonis dari otot yang hendak diregangkan, berlatih push dan pull exercise type secara bergantian dalam satu sesi.

    ◦ 4 jenis stretching untuk memperbaiki jangkauan gerak (ROM): dynamic, ballistic, static dan PNF (proprioceptive neuromuscular facilitation).

    ◦ Stretching jenis dynamic: terkendali gerakannya, memakai momentum, tapi menggunakan lebih sedikit momentum dibanding ballistic

    ◦ Stretching jenis ballistic: menggunakan lebih banyak momentum daripada jenis dynamic, sifatnya mengayun hingga jangkauan gerak maksimal.

    ◦ Stretching jenis dynamic dan ballistic memiliki kesamaan dalam hal penggunaan momentum. Bedanya cuma level momentumnya. Keduanya lebih berisiko karena menggunakan force/ kekuatan lebih banyak namun berguna untuk atlet saat pemanasan sebagai aktivasi syaraf (neural activation) sebelum latihan inti.

    ◦ Stretching jenis pasif diakui sebagai yang paling efisien untuk menambah jangkauan gerak (ROM) dalam jangka panjang. Dilakukan dengan menahan di jangkauan gerak maksimal lebih lama (30 detik lebih).

    ◦ Stretching jenis pasif ini dibagi dua: jenis aktif (menggunakan kekuatan untuk menahannya) dan pasif (rileks saat menahan di jangkauan gerak maksimal).

    ◦ Stretching jenis PNF (proprioceptive neuromuscular facilitation): saat stretching, kita harus mengetahui dan menyadari penuh posisi anggota badan yang digerakkan.

    ◦ Stretching jenis PNF ini bisa dilakukan sendiri, pakai alat seperti strap/ tali, bersama guru/ teman, dengan mesin di gym atau beban.

    ◦ Jenis stretching yang terbaik untuk meningkatkan jangkauan gerak (range of motion/ ROM) ialah jenis passive stretching.

    ◦ Manfaat stretching: memperbaiki jangkauan gerak, keseimbangan badan, postur, performa olahraga, salah satu kunci hidup sehat lebih lama (selain massa otot, kekuatan otot dan kapasitas kardiovaskuler), dan memudahkan mengelola rasa sakit.

    ◦ Autogenic inhibition: kontraksi sebuah kelompok otot tertentu yang memungkinkan kelompok otot lain (yang menjadi antagonisnya) bisa lebih rileks.

    ◦ Protokol Anderson: Meregangkan otot sampai ‘mentok’ (ROM maksimal) lalu merasakan sensasinya secara sadar.

    ◦ Microstretching: program stretching selama 6 minggu yang melibatkan peregangan intensitas rendah (tidak terasa sakit/ nyeri, cuma 30-40% dari 100% dalam rentang skala rasa sakit minimal hingga maksimal).

    ◦ Cara latihan stretching (protokol stretching): menahan satu gerakan stretching di jangkauan gerak (ROM) maksimal selama minimal 30 detik untuk hasil maksimal. Rileks saat menahan pose.

    ◦ Lakukan stretching untuk tiap kelompok otot setidaknya 5 menit per minggu (akumulasi) yang bisa dibagi menjadi 5 hari per minggu untuk tiap kelompok otot.

    ◦ Hanya butuh 3 minggu latihan peregangan rutin setiap hari untuk bisa menyaksikan kemajuan (progress) nyata.

    ◦ Ada baiknya sebelum stretching jenis pasif untuk menghangatkan badan dulu 10-15 menit dengan jalan kaki cepat atau jogging.

    ◦ Boleh saja stretching statis sebelum olahraga lari atau angkat beban tapi akan ada penurunan performa latihan.

    ◦ Stretching statis tidak berarti buruk, tapi boleh saja dilakukan sebelum latihan angkat beban atau lari dengan tujuan untuk mencegah cedera atau merilis ketegangan di otot tertentu yang nantinya jika dibiarkan tidak teregang malah akan memicu cedera. Jadi kompromi terhadap performa dan manfaat anti cedera dari stretching pasif harus disadari sebelumnya. Jadi jangan menyalahkan stretching pasif atas penurunan performa. Lakukan dengan kesadaran atas pilihan tersebut.

    ◦ Stretching memudahkan relaksasi secara sistemik.

    ◦ Stretching 10 menit tiap hari bisa mengurangi peradangan atau inflamasi dan fibrosis (penebalan dan luka di jaringan ikat).

    ◦ Stretching bisa membantu menurunkan volume sel tumor sebanyak 52% (studi pada tikus lab). Diduga stretching bisa memberikan manfaat anti tumor ini karena membantu merilekskan pikiran, mengurangi stres, dan berkurangnya stres akan membantu menguatkan imunitas badan secara umum.

    ◦ Tubuh memiliki mekanisme cerdas yang bisa mengenali rasa sakit yang baik dan yang kurang baik untuknya.

    ◦ Mereka yang rutin latihan yoga memiliki tingkat toleransi terhadap rasa sakit yang lebih tinggi sebanyak 2 kali lipat bahkan lebih daripada orang yang tak pernah yoga/ latihan stretching.

    ◦ Toleransi sakit ini diukur dengan suhu panas dan dingin bergantian.

    ◦ Toleransi rasa sakit yang lebih tinggi dalam tubuh para praktisi yoga ini dimungkinkan dengan membesarnya volume sel otak di area insula. Area ini bertanggung jawab untuk interoceptive awareness, yang menilai, menggunakan dan mengatasi rasa sakit yang dialami.

    ◦ Makin lama seseorang berlatih yoga, area insula mereka semakin besar, yang menunjukkan ketahanan mereka terhadap ketidaknyamanan dan rasa sakit.

    ◦ Bisa dikatakan pose-pose yoga membantu manusia mengendalikan gerakan dan sistem syaraf yang membentuk kembali hubungan mereka dengan rasa sakit.

    ◦ Cara yogi untuk memperbesar toleransi rasa sakit: penggunaan imajeri/ visualisasi yang positif, kemampuan untuk rileks dan menerima kondisi kurang nyaman, dan mengatur napas dalam kesadaran penuh.

    ◦ Dengan demikian, yoga tak cuma mengasah fleksibilitas fisik tapi juga meningkatkan ketangguhan mental dan membantu mengelola stres dengan lebih bijak.

    Sumber: Andrew Huberman Podcast “Improve Flexibility with Research-Supported Stretching Protocols”

  • 1. Fake it till you make it. Boleh saja di awal mengaku sebagai penulis asal sudah ada portofolio alias karya (sejelek apapun) untuk ditunjukkan ke orang lain.

    2. Hal seremeh dan sebiasa apapun dalam hidup bisa dikemas jadi tulisan menarik asal kita tahu caranya.

    3. Menemukan ‘suara’ itu perlu supaya tulisan punya karakter. Jangan pakai ghostwriter atau joki atau beli karya orang lain buat diakui jadi karya sendiri.

    4. Mencontek gaya menulis penulis terkenal sah-sah saja tapi jangan terus menerus begitu. Di satu titik kita harus menemukan gaya menulis khas kita sendiri.

    5. Idealisme boleh saja dipelihara asal kamu tidak kelaparan karenanya.

    6. Jika idealis dalam menulis, pastikan kamu punya pekerjaan lain yang bisa memenuhi kebutuhanmu.

    7. Menulis untuk kaya itu mungkin tapi sangat tipis kemungkinannya di Indonesia.

    8. Menulis bukan cuma duduk mengetik tapi ada banyak proses di baliknya.

    9. Terima fakta bahwa jadi penulis di Indonesia meski royaltinya tak seberapa tapi tetap harus dikenai pajak juga.

    10. Kritik dari editor mungkin pedas tapi diperlukan kalau karyamu mau lebih berkualitas.

    11. Menghasilkan karya bermutu perlu waktu.

    12. Satu kesalahan ketik bisa berakibat fatal karena menunjukkan kamu kurang profesional.

    13. Bahasa adalah senjata tempurmu jadi kuasai dengan sebaik mungkin.

    14. Menulis itu soal menunda kepuasan pembaca. Kecuali berita.

    15. Menulis itu kadang sangat menakutkan dan membuat ego rapuh seperti telanjang di depan umum.

    16. Perasaan penulis setipis tisu. Apalagi kalau soal kritik terhadao karyanya.

    17. Menulis memang tidak perlu sekolah dan pendidikan formal setinggi langit tapi jadi masalah juga kalau tidak ada modal pengetahuan dalam otak.

    18. Di dunia kerja, penulis sering dianggap remeh dan karena itu bayarannya kurang layak.

    19. Penulis harus punya fokus bidang yang ia kuasai dengan baik agar menjadi penulis spesialis di bidang itu.

    20. Menulis apa saja boleh tapi itu membuat pembaca bingung: “Ini orang sebenernya keahliannya apa?”

    21. Menulis bisa di mana saja kapan saja sekarang tapi masalahnya apakah otak bisa fokus dengan semua distraksi di sekeliling kita?

    22. Jangan sedih kalau dikritik pedas karena tulisan itu soal selera kadang.

    23. Tapi jangan terlalu santai juga karena tulisan juga soal teknik yang ada pakem-pakemnya.

    24. Jadi penulis tapi tak suka detail adalah suatu paradoks.

    25. Membaca tips menulis dari penulis-penulis sukses memang sah-sah saja tapi seringnya nasihat mereka kurang cocok untuk kasus kita.

    26. Boleh saja menulis soal kehidupan pribadi keluarga atau teman untuk bahan cerita tulisanmu baik itu cerpen atau novel tapi bayangkan saat mereka membacanya: apakah mereka akan marah atau senang?

    27. Jika kurang yakin, minta izin langsung untuk menggunakan sebagian kisah hidup orang di sekitar kita supaya aman.

    28. Jangan berasumsi bahwa orang pasti senang kehidupannya kita masukkan ke cerita kita.

    29. Menulis fiksi akan susah jika kamu terbiasa menulis nonfiksi seperti berita.

    30. Menulis berita juga akan susah pertama-tamanya apalagi jika kamu terbiasa menulis fiksi.

    31. Tapi menulis adalah soal pembiasaan jadi kamu tinggal terapkan disiplin.

    32. Punya mentor dalam menulis itu penting banget.

    33. Kalau menemukan penulis senior yang bisa dan bersedia dijadikan mentor, minta alamat surat elektroniknya. Minta whatsapp bakal percuma.

    34. Gabung di komunitas menulis bisa memompa semangat.

    35. Menulis itu bikin otak capek banget jadi mustahil kalau ada yang bilang bisa seharian siang malam menulis tanpa rehat.

    36. Menulis harus seperti seorang dermawan tapi menyunting harus seperti orang kikir.

    37. Soal duit, penulis harus kejam supaya tidak menjadi objek kekejaman.

    38. Akan lebih baik kalau sebelum menulis, pastikan ada kesepakatan tertulis.

    39. Pelajari isi kontrak dengan cermat sebelum menandatanganinya.

    40. Kadang menulis itu mirip melacur. Itu perlu supaya kamu bisa tetap berpakaian, kenyang, tidur nyenyak, dan punya tempat berteduh.

    41. Kalau bosan dengan pekerjaan ‘melacur’ menulismu, miliki atau buatlah dengan sengaja proyek menulis lain yang sesuai passionmu.

    42. Menulis nggak wajib begadang sampai pagi.

    43. Menulis sambil menenggak minuman berkafein bukan keharusan. Dan tak seharusnya jadi kebiasaan.

    44. Ritual sebelum menulis itu perlu untuk menyiapkan dan memanaskan otak.

    45. Tapi bukan berarti saat ritual pra menulis itu terlewati karena alasan tertentu, kamu jadi hilang arah atau mood menulis.

    46. Writer’s block memang ada dan nyata tapi tak perlu didramatisasi, diratapi, apalagi diromantisasi.

    47. Just do it. Kebanyakan teori menulis malah jadi bingung.

    48. Bekerjalah dengan itikad baik dan cara yang baik dengan kawan-kawan satu tim. Karena kalau pribadi kita buruk, satu industri lama-lama tahu.

    49. Plagiarisme itu haram karena itu artinya penulis sudah tidak bisa dipercaya.

    50. Biarkan draft menginap semalam di komputermu. Baru besok dibaca lagi.

    51. Hidup sebagai penulis tak selalu wah tapi jika bisa mengikuti perkembangan zaman, pasti tak bakal melarat juga.

    52. Film-film selalu mengangkat dua jenis citra penulis: yang sukses (dan kaya) banget lalu sebaliknya yang menderita dan idealis banget. Keduanya sering tidak mewakili kenyataan.

    53. Selalu belajar hal baru karena penulis yang cuma tahu itu-itu saja membuat tulisannya menjemukan.

    54. Penulis tidak melulu pekerjaan introver, atau 100% ekstrover. Ada kalanya butuh dua sisi kepribadian itu di momen-momen berbeda.

    55. Penulis yang punya ketenaran di media sosial atau di dunia nyata punya privilese. Bangun privilesemu sendiri jika kamu tidak diberi.

    56. Menulis di kafe atau di rumah atau di tempat eksotis nan estetik mungkin bisa membangkitkan ilham di dalam.

    57. Tapi tidak selalu demikian. Menulis di mana saja bisa seharusnya. Jangan sampai menjadi manja.

    58. Menulis dengan menggunakan kerangka membuat tulisan lebih terarah tapi mungkin jadi membosankan karena kurang kejutan.

    59. Ritual penulis lain boleh saja menginspirasi. Bisa efektif buat kamu. Atau juga bisa saja tidak sama sekali. Atau sedikit. Tidak ada jaminan.

    60. Menulis dengan kertas dan pena memang memuaskan dan minim distraksi tapi susah diedit.

    61. Menulis dengan layar membuat mata lelah lebih cepat.

    62. Menulis bagus tanpa kemampuan berbicara persuasif ternyata memperlambat perkembangan karier sebagai penulis.

    63. Punya kesadaran akan kelemahanmu sehingga bisa belajar untuk menutupinya atau malah memperbaikinya.

    64. Karyamu sebelumnya mungkin terlihat lebih buruk daripada saat dulu kamu membacanya.

    65. Masih soal poin 64. Tapi tidak usah sampai membakarnya atau malu untuk mengakuinya karena itu bagian dari proses.

    66. Sehebat-hebatnya kamu sebagai penulis ternyata masih butuh editor.

    67. Pelajari sebanyak mungkin aturan dan teori menulis sebagai pemula.

    68. Tabraklah aturan dan teori itu jika kamu punya alasan yang sangat amat kuat sekali.

    69. Kamu bisa ternyata bisa kok jadi penulis yang tidak eksentrik atau aneh di mata orang lain.

    70. Meski memang setidaknya untuk jadi penulis, harus punya keanehan dalam hidupmu.

    71. Penulis profesional adalah penulis amatir yang terus belajar hingga mati.

    72. Pastikan kamu memiliki tabungan di masa genting dan masa tua.

    73. Miliki sumber penghasilan lain agar kamu bisa tetap menulis.

    74. Selalu simpan cadangan file tulisanmu di cloud storage seperti google drive atau sejenisnya.

    75. Menyimpan file tulisan cuma di laptop Windows bajakan yang rentan virus adalah kedunguan yang akan kamu bayar dengan air mata darah.

    76. Jika bekerja sebagai penulis lepas, hiduplah dengan sederhana.

    77. Jika bekerja sebagai penulis di perusahaan, hiduplah juga dengan sederhana.

    78. Berinvestasilah sebanyak mungkin pada keterampilan baru.

    79. AI bukan musuh kalau kamu bisa gunakan dengan baik.

    80. Tapi jangan jadi penulis yang manja karena sudah ada AI.

    81. Jangan minder dengan AI karena AI tak bisa menggantikan akumulasi pengalamanmu sebagai manusia.

    82. Emosi adalah senjata ampuh bagi penulis.

    83. Jadi tulisan yang tidak membangkitkan emosi akan susah menarik perhatian dan jika dibaca pun jadi gampang terlupakan.

    84. Lebih baik menulis satu karya bagus daripada menulis seribu satu karya yang medioker dan asal-asalan.

    85. Semua orang memang bisa menulis tapi tidak semua orang bisa menulis dengan baik.

    86. Tetapi semua orang bisa menjadi penulis yang baik jika mau belajar.

    87. Kemampuan menulis dengan runut dan mudah dipahami membuatmu unggul dalam berkomunikasi, setidaknya di dunia kerja modern.

    88. Deadline molor bukan masalah.

    89. Deadline ditepati tapi mutu hasil kerjamu bobrok, itu baru masalah besar.

    90. Tapi jika deadline menentukan penghidupanmu, tepatilah.

    91. Jangan terlalu kaku. Jadi penulis yang fleksibel lebih menguntungkan dirimu.

    92. Asal tidak menggadaikan integritas, prinsip, dan nilai utamamu, fleksibilitas seharusnya bukan masalah.

    93. Selalu ada celah dan cacat dalam karyamu. Maklumilah itu. Kamu bukan Tuhan.

    94. Namun, bukan berarti kamu bekerja santai.

    95. Fact checking memang penting tapi ada kalanya manusia juga alpa.

    96. Saat itu terjadi, jangan malu minta maaf dan meralatnya.

    97. Jangan menulis dengan perasaan marah terhadap seseorang.

    98. Perlu ada pemisahan ruang dan waktu kerja agar otakmu bisa membedakan kapan otakmu harus menulis dan kapan harus menjalani aktivitas sehari-hari.

    99. Lakukan sesuatu aktivitas untuk menetralkan kembali tumpukan emosimu setelah menulis.

    100. Jangan percaya semua poin di atas begitu saja.

  • Belajar yoga dengan scroll medsos influencer saja? Apa boleh? (Foto: Wikimedia Commons)

    DULU saat saya pertama belajar yoga, saya belajar yoga sedikit-sedikit lewat buku.

    Saat itu tahun 2010-an dan rasanya belum banyak guru yoga di luar dan Indonesia yang gemar mengunggah konten ke Instagram atau Facebook, yang menjadi platform paling top saat itu.

    Pengguna Facebook memang sudah menjamur tetapi masih didominasi penggunaan untuk bersosialisasi atau just for fun semata. Tidak ada konten edukatif soal yoga.

    Begitu juga di Instagram. Hanya foto-foto panoramik yang indah tapi ya sudah, berhenti di situ saja.

    YouTube juga masih sepi dengan konten yoga yang berupa full class yang bisa diikuti secara gratis.

    Naik Berkat Pandemi

    Hal ini berbeda dengan 10 tahun setelahnya. Begitu pandemi melanda, YouTube menjadi salah satu kanal favorit bagi orang yang ingin mencoba beryoga di rumah karena terkendala larangan ke tempat umum yang bisa menyebarkan virus Covid-19 yang mematikan saat itu.

    Satu kanal YouTube yang jadi primadona ialah Yoga with Adrienne. Tahun 2020 kanal yoga itu dikunjungi jutaan orang. Dan makin banyak juga guru yoga yang akhirnya terpaksa keadaan, mau juga merambah dunia digital setelah sekian lama berusaha keras bersikap anti dan resisten terhadapnya.

    Kembali ke saya, setelah belajar yoga lewat buku, saya masih merasa kurang afdol.

    Lalu saya putuskan bergabung dengan sebuah komunitas yoga yang kebetulan melakukan kegiatan mingguan di taman yang berdekatan dengan tempat tinggal selama di Jakarta tahun 2010 itu.

    Di sana, beruntung saya bisa mendapatkan bimbingan guru-guru yang lebih berpengalaman dalam setting komunitas yang hangat dan akrab. Tidak mengintimidasi layaknya di gym atau studio eksklusif. Karena setahu saya gym dan studio kadang memiliki circle pergaulan masing-masing.

    Tergantung Tujuan Belajar

    Dari pengalaman saya itu, jika saya ditanya apakah seseorang bisa belajar yoga lewat media sosial saja, saya akan jawab: bisa dan tidak, TERGANTUNG TUJUAN BELAJAR orang yang bersangkutan.

    Berikut penjelasan saya. Belajar yoga lewat media sosial apapun itu mungkin bisa saja, asal tujuan belajanya sekadar untuk mengenal secara sekilas.

    Di platform media sosial mana saja, Anda sudah bisa menemukan kreator-kreator yoga yang membagikan ilmu mereka. Di YouTube, sejumlah guru yoga Indonesia sudah membuat kanal-kanal yang bisa dikunjungi jika Anda ingin panduan beryoga di rumah.

    Begitu juga di TikTok. Saya sendiri mencoba membangun kanal di TikTok selama 1 tahun belakangan ini dan karena tujuan saya mengedukasi, jadi tak begitu masalah jika konten saya tidak tertampil di For You Page (FYP) atau tidak jadi viral.

    Itu karena saya paham bahwa popularitas kita di media sosial tidak selalu juga membawa kesejahteraan baik dalam hal material maupun aspek lainnya. Karena buktinya ya banyak kreator yang jumlah pengikutnya jutaan atau kontennya viral tetapi belum bisa sejahtera dan pensiun dini. Karena saya sadar popularitas dan kesejahteraan adalah dua hal yang berbeda dan kadang bisa satu paket datangnya tetapi juga bisa tidak. So, it is okay.

    Dengan kata lain, belajar yoga via media sosial BISA saja tapi cuma bisa untuk mengenal yoga secara sepintas lalu. Belum bisa mengantar ke lapisan yang lebih dalam.

    Apakah lalu dengan demikian, belajar yoga via media sosial tidak boleh? Tidak demikian juga. Silakan saja belajar yoga hanya dari media sosial tetapi hasil belajarnya tentu tidak akan bisa setara dengan mereka yang belajar yoga secara langsung dengan guru yoga yang berpengalaman lebih banyak.

    Bukan untuk Jadi Guru

    Nah, saya jawab TIDAK BISA belajar yoga via media sosial jika Anda ingin belajar yoga secara mendalam dan ingin menjadi instruktur yoga ke depan. Jika itu tujuan Anda, haruslah belajar langsung dengan guru yang berpengalaman lebih banyak di bidang yoga.

    Kenapa demikian?

    Karena belajar itu perlu struktur dan sistem yang tertata. Jika Anda cuma belajar di media sosial, konten pendek di yang tersedia di dalamnya biasanya bersifat acak dan cukilan-cukilan mini dari bongkahan pengetahuan yang jauh lebih besar.

    Lain dari belajar yoga dengan guru-guru yoga secara tatap muka langsung di sekolah yoga resmi dan diakui. Di dalamnya pasti sudah ditetapkan sebuah kurikulum yang menerapkan pola dan sistem belajar yang runut dan urut. Tidak acak, tidak sembarangan, tidak

    Durasi konten di media sosial juga relatif pendek dan jika panjang pun, biasanya Anda tidak bisa berinteraksi/ tanya jawab dengan si guru secara langsung sebagaimana dalam kelas atau kuliah.

    Maka dari itu, saya katakan bahwa boleh-boleh saja belajar yoga dari media sosial untuk permulaan dengan tujuan mengenal yoga secara sepintas tetapi untuk belajar lebih mendalam, kita harus belajar langsung dan dibimbing seorang guru yoga yang lebih berpengalaman. (*/)

  • Bayu, kenapa sih kamu kok gitu? (Foto: Kompas.com)

    ADALAH Bayu, seorang penulis di era pasca kemerdekaan. Diperankan oleh Adipati Dolken, tokoh Bayu ini pada hakikatnya seorang pria yang baik budi dan sopan perilakunya. Pemikirannya juga lurus-lurus saja.

    Tapi karena terlalu lurus itulah pernikahannya dengan seorang biduanita bernama Lastri menjadi goyah. Terutama saat rumah kos besar yang mereka huni kedatangan sepasang penghuni baru.

    Mereka ini adalah Sena dan Danti. Si pria adala seorang anggota partai. Partai mana itu, tak disebutkan secara jelas di film. Hanya saja dijelaskan dalam bentuk siaran radio bahwa latar belakang film ini ialah tahun 1955 saat Indonesia menghelat Pemilu pertamanya.

    Karier kepenulisan Bayu kurang bagus karena terhalang selera editor yang kurang suka gaya tulisannya di kolom opini surat kabar yang dikelola si editor.

    Disindirlah oleh si editor bahwa Bayu seharusnya menulis fiksi saja. Daripada sok menulis opini yang berdasarkan fakta tapi toh kelihatan mengarang saja, katanya.

    Kebetulan di saat yang sama, Bayu mendapatkan sumber inspirasi: Danti.

    Diam-diam karena keduanya sering ditinggal kerja pasangan masing-masing di rumah kos besar tadi, mereka pun sering berbincang akrab.

    Ditambah dengan rasa keingintahuan masing-masing soal kondisi rumah tangga tetangganya. Danti penasaran dengan rumah tangga Bayu. Bayu pun juga sering pasang telinga di dinding demi menemukan fakta soal hubungan Sena dan Danti terkini.

    Kedekatan tadi makin menjadi-jadi karena Bayu dan Danti juga ternyata kerap bertemu di perpustakaan yang sama. Danti adalah penjaga perpustakaan dan Bayu pengunjung rutinnya. Klop!

    Namun, jalan cerita tidak membuat mereka menjadi pasangan yang berselingkuh meskipun mereka sebenarnya bisa saja melakukannya. Danti dan Bayu menolak untuk berselingkuh (walaupun mereka juga menginap di kamar hotel yang sama).

    Danti sendiri sudha tahu bahwa Bayu menaruh hati padanya karena sekarang Bayu menulis sebuah cerita di surat kabar mengenai kisah romantis dan narasi seorang perempuan yang sang penulis kagumi. Danti menduga dia-lah yang menjadi objek tulisan cerita Bayu itu, lalu ia marah pada Bayu karena dianggapnya bahwa perasaan semacam itu pada istri orang lain kuranglah pantas. Tapi Bayu tetap menulis cerita tadi karena ia justru mendapatkan peningkatan karier sebagai penulis setelah berhasil menyenangkan hati editornya berkat cerita asmara tadi.

    Anehnya Lastri dari awal terlihat sangat membenci tetangga barunya. Saat Sena dan Danti berpesta mengundang teman-temannya, Lastri begitu geram. Bayu sendiri adem ayem saja melihat tetangganya berpesta.

    Ternyata rasa benci itu cuma palsu belaka. Faktanya, Lastri dan Sena pergi ke Surabaya bersama-sama. Kedua tiket kereta ke kota buaya milik dua orang itu ditemukan oleh masing-masing pasangannya dan dicocokkan tanggal keberangkatannya. Dan memang benar mereka segerbong.

    Menemukan kenyataan suaminya selingkuh dengan istri pria yang menaruh hati padanya membuat Danti goyah.

    Di saat genting itu, Lastri menginginkan perceraian dan akhirnya Bayu pun bercerai secara resmi dari istrinya.

    Tapi kemudian di saat yang bersamaan, Sena mengurungkan niatnya untuk menceraikan Danti. Perempuan yang sudah mengendus gelagat buruk itu pun menuntut kejujuran dari si suami yang makin sibuk dengan urusan partainya.

    Yang aneh, saat dilabrak Danti, eh Sena malah kena serangan jantung.

    Akhir kisah ini kurang menyenangkan penonton memang tetapi saya bisa katakan bahwa kualitas akting Adipati dan lawan mainnya masih biasa.

    Dan penampilan dan fashion serta gaya rambut juga masih kurang jadul alias tempo dulu menurut saya. Entahlah, baju-bajunya kurang meyakinkan. Terutama fashion Danti.

    Gaya rambut dan perawakan Adipati juga kurang 50s dan 60s. Coba dia punya cambang atau kumis dan rambutnya lebih gondrong dan pipinya lebih cekung. Matanya sudah berkantong jadi menurut saya sudah meyakinkan untuk memerankan seorang penulis yang kurang tidur dan suka begadang sambil merokok.

    Yang paling kurang sreg menurut saya adalah panggilan “Tuan” dan “Nyonya” yang masih terus dipakai saat Danti dan Bayu sudah kenal sekian lama. Terasa kaku sekali. Agak berlebihan. Saya paham keduanya saling menghormati dan menjaga jarak tapi apa alami jika panggilan itu masih dipakai tatkala tidak ada orang lain di sekitar mereka? (*/)

  • EMPAT PULUH adalah usia saat Nabi Muhammad SAW ditahbiskan menjadi utusan Allah yang terakhir di muka bumi ini.

    Usia 40 juga dianggap sebagai usia yang sudah matang. Usia paruh baya, mengingat angka harapan hidup sekarang ini biasanya 80-an. 

    Anda yang memasuki usia ini tidak bisa menolak jika dipanggil “om” atau “tante” oleh anak-anak kelahiran tahun 2000 dan setelahnya.

    Usia 40 membawa orang kembali ke krisis kedua dalam fase hidup mereka: krisis paruh baya.

    Orang-orang di usia ini memang tidak terlalu tua tetapi juga naif rasanya untuk memanggil mereka anak muda. Mereka terperangkap di tengah-tengah, antara para pemuda dan lansia. 

    Demikian juga apa yang dirasakan oleh Radha (diperankan oleh Radha Blank) dalam film “The Firty-Year-Old Version”.

    Dikisahkan di sini Radha yang telah bekerja sekian lama sebagai seorang penulis naskah drama berpengalaman di Broadway harus menghadapi periode suram dalam kehidupan keluarganya dan juga kariernya.

    Ia masih berduka setelah kematian ibunya. Meski ia dihubungi oleh adiknya terus menerus, Radha tak kunjung bisa membujuk dirinya untuk membenahi apartemen mendiang ibunya.

    Saking dalam luka emosional atas kepergian sang ibunda, Radha tak sanggup meski cuma untuk menelepon kembali sang adik yang mengajaknya bertemu. Meski ia penulis, ia mengaku kehabisan kata saat harus bertemu adik laki-lakinya karena pasti mereka harus membahas kenangan masa lalu ibunya, yang bagi Radha seperti mengorek luka lama.

    Sebagai seorang lajang di umur nyaris kepala 4 dengan masalah berat badan yang membuatnya terdorong minum minuma rendah kalori sepanjang hari, Radha beruntung memiliki hubungan dekat dengan Archie (Peter Kim) yang sudah ia kenal sejak SMA. Archie bekerja juga sebagai perantara baginya dengan para produser yang tertarik mementaskan naskah-naskah yang dianggap bagus.

    Dan untuk bisa mendapatkan persetujuan untuk mementaskan naskah Radha, bahkan Archie harus mengalami pelecehan seksual. J. Whitman, seorang sutradara tua nakal, menyuruh Archie menyentuh alat vitalnya. Dan Archie, demi sang sahabat, mau saja.

    Radha yang mengira kariernya sudah mandek dan kesal dengan tidak adanya produser yang mau mendanai naskahnya kemudian melampiaskan kegundahan itu secara impulsif dengan mencoba menelurkan lagu dan album rap.

    Mulanya Archie menganggap ide banting stir karier itu gila di usia Radha yang sudah hampir 40.

    Akan tetapi Radha bersikukuh apalagi setelah ia melihat dua bokong tebal pria klulit putih yang kemudian ia jadikan ide lirik lagu dan ia anggap pertanda untuk meneruskan karier barunya di dunia musik rap.

    Radha kemudian menemukan D (Oswin Benjamin) , seorang DJ dan arranger lagu rap lepas yang berusia 26 tahun, di Instagram. Radha menemuinya di apartemen D dan membayarnya dengan sejumput ganja dengan asumsi anak muda penyanyi rap usia 20-an pasti sudah senang dengan bayaran sesederhana itu. Dan memang ia benar.

    D awalnya memang dingin dan tak menanggapi semangat Radha yang menggebu-gebu untuk membuat album rap.

    D bahkan meninggalkan Radha saat pukul 2 malam sendirian di apartemennya sampai ketiduran. 

    Kesal karena diremehkan D, ia pun pulang naik kereta sendirian.

    Besoknya ia kembali dihubungi D, dan setelah D memperdengarkan beat yang sudah ia buat untuk lagu rap yang liriknya dibuat Radha,  D paham bahwa Radha memiliki sesuatu untuk diceritakan melalui rap. Jadi bukan sekadar lirik tanpa jiwa. Ada pesan dan kisah yang perlu didengarkan orang di dalam lirik radha.

    Kembali ke dunia pertunjukan, akhirnya memang naskah Radha disetujui untuk dipentaskan tetapi mengetahui bahwa pementasan itu didapatkan dengan cara yang tak elok (dengan pengorbanan sang teman dekat Archie), idealismenya memberontak.

    Radha kesal pada Archie. Ia tak mau bekerja atas dasar hal lain selain pengakuan atas kualitas naskahnya yang bertema gentrifikasi, suatu tema yang menurut Whitman saat pertama bertemu Radha adalah suatu hal yang sudah banyak dibicarakan dan tidak orisinal. Karena berkata demikian, bahkan Radha mencekik leher J. Whitman. Untung Whitman tidak menuntut secara hukum.

    D yang merasa bahwa Radha punya storytelling skills yang bagus pun dengan gigih meyakinkan perempuan itu untuk tampil membawakan lagu pertamanya di event konser skala kecil di komunitasnya. 

    Sayangnya karena grogi luar biasa dan ketakutan, Radha malah bak kerupuk kena air. Melempem. Tak bisa bersuara di panggung meski sudah didukung oleh murid-murid dari sekolah drama tempatnya mengajar.

    Karena kegugupan itu, Radha cuma bisa berkata “yoyoyoyo” tanpa henti di panggung. Kegagalan itu menggugurkan rasa kepercayaan dirinya selama beberapa waktu. Archie pun berusaha menghiburnya.

    Dengan kegagalan mencicipi dunia rap, Radha kembali menyibukkan diri dengan menerima tawaran J. Whitman dengan dorongan Archie.

    Radha pun mengatakan dirinya ingin sutradara kulit hitam tetapi sayangnya sutradara-sutradara kulit hitam sudah sibuk dengan jadwal mereka masing-masing. Yang bisa diajak bekerja sama hanyalah seorang sutradar perempuan kulit putih, Julie (Welker White).

    Kecewa, Radha pun kesal tapi berhasil dibujuk Archie kembali untuk meneruskan proses latihan dan produksi yang sudah akan berjalan.

    Yang tak disangka-sangka, D malah jatuh hati dengan Radha padahal usia mereka terpaut jauh. Mereka pun bercinta dan bisa dikatakan Radha cukup menikmati performa sang berondong ini.

    Tapi ternyata itu bukan semata soal seks sebab D dan Radha juga memiliki kerinduan yang sama terhadap ibu mereka. Setelah seks, mereka sempat mendengungkan beat dan lirik bersama soal lagu bertema ibu dan kerinduan terhadap ibu masing-masing.

    Untuk akhir cerita, Anda bisa menontonnya sendiri di Netflix.

    Tapi saya pikir pesan yang bisa saya petik dari sini ialah jangan berhenti untuk terus merombak ulang jati diri kita meski kita sudah berada di fase usia yang konon menurut masyarakat sudah seharusnya mapan dan tidak lagi berubah pikiran.

    Dan pahami bahwa jati diri kita terlalu luas untuk dibelenggu oleh pekerjaan yang kita lakoni. Alih-alih menganggap kita seorang pecundang saat gagal di satu jalur karier, kita bisa banting stir ke jalur lain dan kembali melaju dalam jalan kehidupan ini.

    Film ini pantas untuk mendapatkan penghargaan dan ditonton le bih banyak kaum millennials yang sekarang saya yakin juga sudah berusia 40-an seperti saya. (*/)

  • DALAM sebuah kesempatan saya pernah bertukar pengalaman dengan seorang tetangga yang baru saja pulang dari negeri sakura. 

    Di sana katanya ia bisa melancong santai bersama keluarga dengan leluasa dan bebas tanpa menggunakan jasa agen travel.

    “Dan biayanya bisa murah banget!” Ungkapnya antusias pada saya sore itu.

    Kisarannya bisa setengah dari biaya melancong dengan menggunakan jasa agen travel profesional. Demikian pengakuannya.

    Maklum ia bisa memeroleh tiket terbang pergi pulang dengan diskon di travel fair yang relatif murah meriah untuk kantong middle class Indonesia.

    Setelah berceloteh, ia balik bertanya pada saya karena ia tahu tahun kemarin saya juga baru menunaikan ibadah umrah.

    “Kalau umrah sendiri gimana, mas? Apakah enak pengalamannya kemarin sama agen travel yang mas pake?” Tanyanya lagi.

    Tampaknya tetangga saya tertarik untuk umrah dengan biaya lebih murah dan menerapkan rencana perjalanannya sendiri tanpa dibantu agen travel.

    Umrah Mandiri Sah-sah Saja

    Pemerintah Saudi Arabia beberapa waktu lalu dikabarkan telah secara resmi memperbolehkan warga negara Indonesia yang ingin menunaikan umroh mandiri (tanpa jasa agensi travel) untuk berkunjung ke tanah suci dengan menggunakan Personal Visit Visa atau Visa Kunjungan Pribadi, demikian dikutip dari laman berikut. 

    Hanya saja pemerintah kita malah kontra dengan kebijakan Arab Saudi tersebut. Masih dari sumber yang sama, DPR sebagai lembaga legislator berargumen bahwa umroh berbeda dari sekadar perjalanan atau melancong biasa.

    Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menyatakan bahwa pada hakikatnya ibadah umrah ialah perjalanan wisata yang istimewa sehingga membutuhkan bimbingan dari orang-orang yang sudah memiliki pengalaman dalam menjalankan umrah dengan baik dan benar sesuai syariat Islam.

    Plusnya Pakai Jasa Agen Travel

    Berdasarkan pengalaman tersebut, saya bisa katakan bahwa menggunakan jasa agen travel saat menunaikan ibadah umrah ada plus minusnya.

    Plusnya ialah saat Anda menunaikan ibadah umrah, Anda akan selalu dibantu untuk mengingat rukun dan wajib dalam ibadah umrah. 

    Tentu saja ini sangat penting sebab tujuan utama Anda ke Tanah Suci adalah umrah. Kalau ibadah umrah tak terlaksanakan dengan baik dan ternyata ada yang kurang rukunnya atau terlupa sesuatu yang seharusnya dibawa, maka Anda akan sama saja membuang uang dan tak mencapai tujuan.

    Dari pengalaman saya, sebelum umrah kami sebagai jemaah dipersiapkan mental dan spiritualnya oleh agen travel tersebut.

    Mereka memberikan seminar dan penyuluhan kepada jemaah mengenai tata cara umrah yang baik dan benar sesuai syariat tepat sebelum terbang ke Tanah Suci. 

    Kemudian juga mereka mengingatkan kita untuk selalu menata hati dan niat. Tentu saja ini pengingat yang sangat penting. Jangan sampai kita ke Tanah Suci hanya demi mendapatkan pujian dari sesama manusia atau untuk tujuan-tujuan duniawi jangka pendek.

    Para petugas agen travel juga akan membantu kita jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, misal kesalahpahaman dengan petugas-petugas di Tanah Suci nanti. Tak semua orang Indonesia seperti saya fasih berbahasa Arab, bukan? Dan penggunaan bahasa Inggris tak sepopuler di sini.

    Satu momen saat saya bersyukur didampingi petugas agen travel ialah saat harus mengenakan pakaian ihram khusus pria yang cukup rumit.

    Sebelum umroh, para pria memang harus ganti pakaian dengan dua lembar kain ihram putih bersih dan menanggalkan segala pakaian berjahit termasuk kaos dalam dan tentu saja celana dalam. Kami terus saja diingatkan untuk itu karena jika lupa, ibadah umrah tak sah jadinya dan harus mengulang lagi.

    Mengenakan ihram ini perlu trik khusus. Jika Anda baru pertama kali mengenakan dan ternyata cara mengikatkannya kurang nyaman dan mudah lepas, Anda bisa kena malu dibuatnya. 

    Skenario terburuk bagi kita yang kurang piawai mengenakan kain ihram adalah kain ihram Anda bisa lepas dan Anda bakal membuat aurat Anda terlihat oleh banyak orang di tempat umum yang suci. 

    Ada cerita jemaah umrah yang saking antusiasnya jalan kaki sampai ihramnya terinjak di kerumunan dan ia harus rela telanjang bulat karena ihramnya tertarik orang tanpa sengaja dan terseret jauh. Tentu tidak ada yang mau hal itu terjadi, bukan?

    Saya sendiri sudah berupaya mengenakan ihram ini dengan sebaik mungkin tetapi ternyata kurang nyaman dan si petugas membantu saya mengendakan kembali ihram agar tetap nyaman tapi tak mudah lepas. Ini membuat saya tidak was-was saat menunaikan umrah setelahnya. Lebih khusyuk pokoknya. Tak harus capek membetulkan posisi kain ihram agar tidak tersingkap.

    Minusnya Pakai Jasa Agen Travel

    Jika saya harus jujur, dari 10 bintang yang ada, saya akan berikan 7 bintang untuk kualitas pengalaman umrah yang saya alami dengan agen travel yang tahun lalu saya gunakan jasanya.

    Kenapa tidak 10? Mungkin Anda bertanya-tanya.

    Alasan utamanya ialah karena jadwal istirahat saya jadi kacau balau saat umrah. Itu karena menurut saya, pihak agen travel luput dalam memprioritaskan kenyamanan tidur jamaah umrahnya.

    Misalnya saja saat berangkat, kami harus melek hingga lewat tengah malam dan tidur di kabin pesawat. 

    Untuk mereka yang baru pertama kali naik pesawat, tentu tidur di kabin ialah pengalaman yang kurang nyaman.

    Belum lagi harus deg-degan menunggu lepas landas (takeoff) dan jika ada turbulensi, dan saat pendaratan (landing) yang menjadi momen-momen krusial bagi penumpang untuk bisa terjaga. Itu karena bisa saja ada insiden atau kecelakaan sehingga butuh tindakan segera dari penumpang untuk bisa menyelamatkan diri.

    Alhamdulillah perjalanan relatif aman dan mulus ke bandara King Abdul Aziz di kota Jeddah sana.

    Pelaksanaan umrah juga habis tengah malam padahal seharusnya kami bisa istirahat dulu di hotel begitu sampai Mekkah. 

    Begitu juga saat kami pulang ke tanah air, istirahat malam lagi-lagi harus di kendaraan bus. Badan tak bisa direbahkan dan punggung tak bisa rileks maksimal. Jadinya agak kesal.

    Bisa jadi ini karena paket yang saya ikuti adalah paket yang lebih murah (30 jutaan) dan saya lihat para peserta paket yang lebih mahal bisa tidur dulu sebelum penerbangan berangkat dan pulang.

    Konsekuensi dari berantakannya jadwal tidur adalah stamina dan kesehatan yang rontok sehabis umrah.

    Saya sendiri tak bisa langsung beraktivitas seperti biasa setelah pulang karena kecapekan dan jatuh sakit. Tonsil saya membengkak karena kelelahan yang amat sangat dan tak cukup tidur. Kalau tidur pun di luar waktu yang semestinya sehingga badan saya kebingungan.

    Intinya adalah saat Anda menggunakan jasa agen travel, Anda harus bersiap untuk memasrahkan diri Anda pada rencana perjalanan mereka.

    Tentu bakal ada slot waktu saat Anda bisa bebas beraktivitas sendiri tetapi sebagian besar waktu yang Anda miliki di sana bakal direncanakan oleh si agen travel dengan tujuan membuat perjalanan umrah menjadi mabrur, efisien, dan berkesan dalam jiwa.

    Selain itu, jika Anda tipe orang yang suka berwisata kuliner di tempat asing, memilih berumrah dengan agen travel akan mengurangi kebebasan Anda untuk mencicipi makanan lokal.

    Dari pengalaman saya, pihak agen travel biasanya menyediakan katering di hotel yang sudah diajak bekerja sama. Jadi makanan sudah tersedia di hotel tiap kali Anda pulang selesai beribadah. Praktis memang dan cita rasa makanannya adalah khas Indonesia. Jadi lidah Anda yang mungkin tak cocok dengan makanan asing, akan tetap dimanja bak di rumah.

    Tapi kalau Anda justru mau bebas menentukan menu makanan dengan memilih hidangan khas Arab? Rasanya akan susah dan repot. Karena Anda di Tanah Suci tujuan utamanya adalah berumrah, bukan jalan santai makan-makan di sana sini bak food vloggers.

    Plus Minus Umrah Mandiri

    Saya sendiri memang belum pernah menunaikan umrah secara mandiri.

    Tetapi dari apa yang saya alami dari umrah tahun lalu itu, saya bisa katakan ada beberapa kelebihan dan kekurangan umrah mandiri tanpa agen travel.

    Kelebihan pertamanya ialah tentu jadwal perjalanan dan susunan aktivitas bisa Anda tentukan sesuai selera dan kebutuhan.

    Anda bisa menyesuaikan rencana perjalanan dan tingkat kenyamanan dengan anggaran yang tersedia.

    Mau pakai bus yang lebih murah? Bisa. Mau naik kereta cepat saja saat di Tanah Suci? Silakan. Mau tinggal di hotel bintang lima? Monggo. Mau menginap di hotel murah saja? Tidak ada yang melarang.

    Kelebihan umrah mandiri yang lain ialah Anda bisa berwisata kuliner lebih leluasa di luar waktu umrah sendiri. Dengan demikian, konsentrasi saat beribadah akan lebih terpelihara.

    Kekurangannya ialah karena Anda tidak didampingi seorang pemandu yang bisa mengingatkan hal-hal teknis umrah yang penting, Anda wajib konsentrasi penuh ke hal-hal detail pelaksanaan umrah dan harus terus memeriksa kesiapan dan alat-alat yang diperlukan. Ini tak mudah mengingat di Tanah Suci, kondisinya bisa sangat semrawut dan perhatian Anda bisa terpecah.

    Misalnya saat Anda harus menghitung putaran mengelilingi ka’bah atau saat berlari kecil dari Safa ke Marwah. Jika Anda sudah kelelahan, dan lupa hitungan, bisa kacau ibadah umrah Anda.

    Belum lagi beberapa bacaan yang perlu dibaca meski umrah memang bacaan wajibnya tak banyak. Hanya saja memang ada beberapa doa yang afdol untuk dilafalkan di saat umrah untuk menambah kekhusyukan. Bisa saja membaca buku saku yang isinya doa-doa tersebut tetapi akan lebih merepotkan. Jika Anda memiliki pemandu umrah berpengalaman yang disediakan oleh pihak agen travel, ia akan membacakan doa untuk Anda dan Anda tinggal mengikutinya. Mata Anda akan tetap fokus ke depan sehingga tidak bertabrakan dengan jamaah umrah lain atau merasa panik karena kelupaan doa.

    Jadi kesimpulannya umrah pakai jasa agen travel dan umrah mandiri ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

    Mana yang lebih baik? Tergantung pilihan dan kebutuhan serta anggaran Anda saja… (*/)

  • LEE TANG adalah pemuda yang sering dirisak dari kecil. Ia tidak memiliki kekuatan super atau semacamnya. Ia juga tidak kharismatik. Bahkan tubuhnya kurus dan mukanya pucat pasi.

    Jika ia memiliki satu keistimewaan, itu adalah instingnya dalam memilih penjahat untuk dibunuh. Penjahat-penjahat ini biasanya sudah diendus oleh pihak penegak hukum tetapi tidak bisa diberi hukuman setimpal karena kurangnya barang bukti atau kesaksian. Mereka pun bisa bebas berkeliaran seenaknya.

    Selain itu, Lee Tang memiliki keberuntungan untuk bisa membunuh korban-korbannya ini tanpa meninggalkan jejak dan bukti kuat sehingga aman dari jeratan hukum. Paling sial ia hanya bisa dicurigai atau jadi tersangka tetapi tidak bisa dijebloskan ke penjara atau divonis sebagai pesakitan karena tindakannya membalaskan dendam keluarga orang-orang yang dibunuh oleh para penjahat tersebut.

    Dalam kenyataannya, peran korban dan pelaku kejahatan memang sangat kompleks dan bisa berubah begitu drastis tatkala kita menggunakan sudut pandang yang sama sekali berbeda.

    Misalnya apa yang kita saksikan di Indonesia saja deh. Terjadi sejumlah kasus yang mencederai rasa keadilan karena mereka yang seharusnya mendapatkan keadilan justru malah dijadikan pesakitan. Korban yang melawan penjahat malah dijadikan tersangka. Ada juga korban kekerasan begal yang malah dijadikan tersangka kejahatan. Sontak publik mengecam polisi yang seolah tidak paham duduk perkara. Anda bisa membacanya di sini dan di sini.

    Spoiler alert saja, Lee Tang akhirnya bisa bebas menjalani kehidupannya kembali seperti dulu sebelum ia terjerat serentetan kasus pembunuhan. Saya sendiri lega karena saya tahu bahwa ia bukanlah seorang yang dari dalam hatinya memiliki itikad jahat. Ia hanya korban yang kemudian terpaksa mempertahankan dirinya dan upayanya mempertahankan diri itu dicap jahat oleh hukum yang berlaku.

    Di sini, saya yakin bahwa keadilan yang sempurna dan hakiki memang mustahil untuk dicapai di dunia fana ini. Pasti ada ketidaksempurnaan dalam menegakkan keadilan betapapun manusia penegak hukum berupaya. 

    Masalahnya sekarang ini kita menyaksikan banyaknya penegak hukum yang tidak berdaya mempertahankan keadilan. Sebagian malah terjun dalam berbagai hal yang pada akhirnya mencederai rasa keadilan dan ikut menjadi bagian dari kriminalitas tapi hampir selalu berhasil lolos dari jeratan hukum karena paham celah yang bisa mereka manfaatkan.  

    Lihat saja PBB yang tak berdaya di tengah genosida Palestina, Eropa dan AS yang konon membela HAM tapi toh mendukung genosida Palestina, dan carut marutnya kepolisian dan KPK di negara ini. Sejumlah petugas KPK yang seharusnya bersih malah tertangkap basah melakukan pungutan liar. Terus bagaimana pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme jika alat pembersihnya (KPK) saja kotor dan tak berfungsi sebagaimana mestinya?

    Tapi memang sungguh naif untuk mengharapkan keadilan sempurna di muka bumi ini.  Suatu saat nanti, entah kapan, mereka akan menemukan pembalasan setimpalnya juga. Tuhan tidak buta dan tuli. (*/)

  • JIKA Anda pernah menonton serial “The Big Bang Theory” yang populer di Amerika Serikat, Leonard Hofstadter digambarkan sebagai seorang pria dengan karakter yang lemah dan kurang asertif dalam mempertahankan keinginannya dan mengejar sesuatu yang ia inginkan.

    Tapi dalam sebuah episode, sahabat sang tokoh utama Sheldon Cooper ini mencoba untuk menjadi pribadi yang berbeda. Ia berupaya menjadi lebih decisive, lebih asertif dan lebih tegar dalam mengutarakan dan mempertahankan pendapat dan keinginannya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain termasuk orang-orang terdekatnya.

    Untuk membuktikan bahwa kepribadiannya sudah berubah menjadi lebih kuat, Leonard pun menyusun sebuah proposal yang menerangkan bahwa dirinya ingin menjadi seorang peneliti utama di sebuah proyek plasma di universitas tempatnya bekerja (Caltech).

    Tetapi tentu saja untuk meyakinkan atasannya, tidak semudah itu. Kemudian sang atasan memang menolak proposal tersebut dengan alasan kuat.

    Untungnya keberanian Leonard itu tidak membabi-buta. Ia masih sempat berpikir jernih dan tidak serta merta meninggalkan Caltech hanya karena tidak diizinkan memimpin proyek impiannya. 

    Kemudian Leonard mengatakan bahwa proposalnya memang ditolak tetapi sang atasan Direktur Siebert mengajukan proposal lain yang ternyata tidak kalah menarik bagi Leonard. Dan karena tawaran itu menarik, akhirnya Leonard tidak mengundurkan diri dari Caltech dan mendapatkan proyek lain yang juga membuatnya bersemangat untuk bekerja.

    Seperti itulah pendekatan yang kita perlukan saat ingin menjadi seorang yang baru ingin mengubah suatu dalam diri kita. Tidak perlu terlalu ‘ngoyo’ atau ngotot. Pelan-pelan. Bertahap saja. Tidak drastis apalagi memaksa secara radikal. Karena semua itu hanya akan melukai diri kita sendiri lagi dan membuat kita kembali ke gua zona nyaman dan aman sebelumnya. (*/)

Verified by MonsterInsights