• 1. Fake it till you make it. Boleh saja di awal mengaku sebagai penulis asal sudah ada portofolio alias karya (sejelek apapun) untuk ditunjukkan ke orang lain.

    2. Hal seremeh dan sebiasa apapun dalam hidup bisa dikemas jadi tulisan menarik asal kita tahu caranya.

    3. Menemukan ‘suara’ itu perlu supaya tulisan punya karakter. Jangan pakai ghostwriter atau joki atau beli karya orang lain buat diakui jadi karya sendiri.

    4. Mencontek gaya menulis penulis terkenal sah-sah saja tapi jangan terus menerus begitu. Di satu titik kita harus menemukan gaya menulis khas kita sendiri.

    5. Idealisme boleh saja dipelihara asal kamu tidak kelaparan karenanya.

    6. Jika idealis dalam menulis, pastikan kamu punya pekerjaan lain yang bisa memenuhi kebutuhanmu.

    7. Menulis untuk kaya itu mungkin tapi sangat tipis kemungkinannya di Indonesia.

    8. Menulis bukan cuma duduk mengetik tapi ada banyak proses di baliknya.

    9. Terima fakta bahwa jadi penulis di Indonesia meski royaltinya tak seberapa tapi tetap harus dikenai pajak juga.

    10. Kritik dari editor mungkin pedas tapi diperlukan kalau karyamu mau lebih berkualitas.

    11. Menghasilkan karya bermutu perlu waktu.

    12. Satu kesalahan ketik bisa berakibat fatal karena menunjukkan kamu kurang profesional.

    13. Bahasa adalah senjata tempurmu jadi kuasai dengan sebaik mungkin.

    14. Menulis itu soal menunda kepuasan pembaca. Kecuali berita.

    15. Menulis itu kadang sangat menakutkan dan membuat ego rapuh seperti telanjang di depan umum.

    16. Perasaan penulis setipis tisu. Apalagi kalau soal kritik terhadao karyanya.

    17. Menulis memang tidak perlu sekolah dan pendidikan formal setinggi langit tapi jadi masalah juga kalau tidak ada modal pengetahuan dalam otak.

    18. Di dunia kerja, penulis sering dianggap remeh dan karena itu bayarannya kurang layak.

    19. Penulis harus punya fokus bidang yang ia kuasai dengan baik agar menjadi penulis spesialis di bidang itu.

    20. Menulis apa saja boleh tapi itu membuat pembaca bingung: “Ini orang sebenernya keahliannya apa?”

    21. Menulis bisa di mana saja kapan saja sekarang tapi masalahnya apakah otak bisa fokus dengan semua distraksi di sekeliling kita?

    22. Jangan sedih kalau dikritik pedas karena tulisan itu soal selera kadang.

    23. Tapi jangan terlalu santai juga karena tulisan juga soal teknik yang ada pakem-pakemnya.

    24. Jadi penulis tapi tak suka detail adalah suatu paradoks.

    25. Membaca tips menulis dari penulis-penulis sukses memang sah-sah saja tapi seringnya nasihat mereka kurang cocok untuk kasus kita.

    26. Boleh saja menulis soal kehidupan pribadi keluarga atau teman untuk bahan cerita tulisanmu baik itu cerpen atau novel tapi bayangkan saat mereka membacanya: apakah mereka akan marah atau senang?

    27. Jika kurang yakin, minta izin langsung untuk menggunakan sebagian kisah hidup orang di sekitar kita supaya aman.

    28. Jangan berasumsi bahwa orang pasti senang kehidupannya kita masukkan ke cerita kita.

    29. Menulis fiksi akan susah jika kamu terbiasa menulis nonfiksi seperti berita.

    30. Menulis berita juga akan susah pertama-tamanya apalagi jika kamu terbiasa menulis fiksi.

    31. Tapi menulis adalah soal pembiasaan jadi kamu tinggal terapkan disiplin.

    32. Punya mentor dalam menulis itu penting banget.

    33. Kalau menemukan penulis senior yang bisa dan bersedia dijadikan mentor, minta alamat surat elektroniknya. Minta whatsapp bakal percuma.

    34. Gabung di komunitas menulis bisa memompa semangat.

    35. Menulis itu bikin otak capek banget jadi mustahil kalau ada yang bilang bisa seharian siang malam menulis tanpa rehat.

    36. Menulis harus seperti seorang dermawan tapi menyunting harus seperti orang kikir.

    37. Soal duit, penulis harus kejam supaya tidak menjadi objek kekejaman.

    38. Akan lebih baik kalau sebelum menulis, pastikan ada kesepakatan tertulis.

    39. Pelajari isi kontrak dengan cermat sebelum menandatanganinya.

    40. Kadang menulis itu mirip melacur. Itu perlu supaya kamu bisa tetap berpakaian, kenyang, tidur nyenyak, dan punya tempat berteduh.

    41. Kalau bosan dengan pekerjaan ‘melacur’ menulismu, miliki atau buatlah dengan sengaja proyek menulis lain yang sesuai passionmu.

    42. Menulis nggak wajib begadang sampai pagi.

    43. Menulis sambil menenggak minuman berkafein bukan keharusan. Dan tak seharusnya jadi kebiasaan.

    44. Ritual sebelum menulis itu perlu untuk menyiapkan dan memanaskan otak.

    45. Tapi bukan berarti saat ritual pra menulis itu terlewati karena alasan tertentu, kamu jadi hilang arah atau mood menulis.

    46. Writer’s block memang ada dan nyata tapi tak perlu didramatisasi, diratapi, apalagi diromantisasi.

    47. Just do it. Kebanyakan teori menulis malah jadi bingung.

    48. Bekerjalah dengan itikad baik dan cara yang baik dengan kawan-kawan satu tim. Karena kalau pribadi kita buruk, satu industri lama-lama tahu.

    49. Plagiarisme itu haram karena itu artinya penulis sudah tidak bisa dipercaya.

    50. Biarkan draft menginap semalam di komputermu. Baru besok dibaca lagi.

    51. Hidup sebagai penulis tak selalu wah tapi jika bisa mengikuti perkembangan zaman, pasti tak bakal melarat juga.

    52. Film-film selalu mengangkat dua jenis citra penulis: yang sukses (dan kaya) banget lalu sebaliknya yang menderita dan idealis banget. Keduanya sering tidak mewakili kenyataan.

    53. Selalu belajar hal baru karena penulis yang cuma tahu itu-itu saja membuat tulisannya menjemukan.

    54. Penulis tidak melulu pekerjaan introver, atau 100% ekstrover. Ada kalanya butuh dua sisi kepribadian itu di momen-momen berbeda.

    55. Penulis yang punya ketenaran di media sosial atau di dunia nyata punya privilese. Bangun privilesemu sendiri jika kamu tidak diberi.

    56. Menulis di kafe atau di rumah atau di tempat eksotis nan estetik mungkin bisa membangkitkan ilham di dalam.

    57. Tapi tidak selalu demikian. Menulis di mana saja bisa seharusnya. Jangan sampai menjadi manja.

    58. Menulis dengan menggunakan kerangka membuat tulisan lebih terarah tapi mungkin jadi membosankan karena kurang kejutan.

    59. Ritual penulis lain boleh saja menginspirasi. Bisa efektif buat kamu. Atau juga bisa saja tidak sama sekali. Atau sedikit. Tidak ada jaminan.

    60. Menulis dengan kertas dan pena memang memuaskan dan minim distraksi tapi susah diedit.

    61. Menulis dengan layar membuat mata lelah lebih cepat.

    62. Menulis bagus tanpa kemampuan berbicara persuasif ternyata memperlambat perkembangan karier sebagai penulis.

    63. Punya kesadaran akan kelemahanmu sehingga bisa belajar untuk menutupinya atau malah memperbaikinya.

    64. Karyamu sebelumnya mungkin terlihat lebih buruk daripada saat dulu kamu membacanya.

    65. Masih soal poin 64. Tapi tidak usah sampai membakarnya atau malu untuk mengakuinya karena itu bagian dari proses.

    66. Sehebat-hebatnya kamu sebagai penulis ternyata masih butuh editor.

    67. Pelajari sebanyak mungkin aturan dan teori menulis sebagai pemula.

    68. Tabraklah aturan dan teori itu jika kamu punya alasan yang sangat amat kuat sekali.

    69. Kamu bisa ternyata bisa kok jadi penulis yang tidak eksentrik atau aneh di mata orang lain.

    70. Meski memang setidaknya untuk jadi penulis, harus punya keanehan dalam hidupmu.

    71. Penulis profesional adalah penulis amatir yang terus belajar hingga mati.

    72. Pastikan kamu memiliki tabungan di masa genting dan masa tua.

    73. Miliki sumber penghasilan lain agar kamu bisa tetap menulis.

    74. Selalu simpan cadangan file tulisanmu di cloud storage seperti google drive atau sejenisnya.

    75. Menyimpan file tulisan cuma di laptop Windows bajakan yang rentan virus adalah kedunguan yang akan kamu bayar dengan air mata darah.

    76. Jika bekerja sebagai penulis lepas, hiduplah dengan sederhana.

    77. Jika bekerja sebagai penulis di perusahaan, hiduplah juga dengan sederhana.

    78. Berinvestasilah sebanyak mungkin pada keterampilan baru.

    79. AI bukan musuh kalau kamu bisa gunakan dengan baik.

    80. Tapi jangan jadi penulis yang manja karena sudah ada AI.

    81. Jangan minder dengan AI karena AI tak bisa menggantikan akumulasi pengalamanmu sebagai manusia.

    82. Emosi adalah senjata ampuh bagi penulis.

    83. Jadi tulisan yang tidak membangkitkan emosi akan susah menarik perhatian dan jika dibaca pun jadi gampang terlupakan.

    84. Lebih baik menulis satu karya bagus daripada menulis seribu satu karya yang medioker dan asal-asalan.

    85. Semua orang memang bisa menulis tapi tidak semua orang bisa menulis dengan baik.

    86. Tetapi semua orang bisa menjadi penulis yang baik jika mau belajar.

    87. Kemampuan menulis dengan runut dan mudah dipahami membuatmu unggul dalam berkomunikasi, setidaknya di dunia kerja modern.

    88. Deadline molor bukan masalah.

    89. Deadline ditepati tapi mutu hasil kerjamu bobrok, itu baru masalah besar.

    90. Tapi jika deadline menentukan penghidupanmu, tepatilah.

    91. Jangan terlalu kaku. Jadi penulis yang fleksibel lebih menguntungkan dirimu.

    92. Asal tidak menggadaikan integritas, prinsip, dan nilai utamamu, fleksibilitas seharusnya bukan masalah.

    93. Selalu ada celah dan cacat dalam karyamu. Maklumilah itu. Kamu bukan Tuhan.

    94. Namun, bukan berarti kamu bekerja santai.

    95. Fact checking memang penting tapi ada kalanya manusia juga alpa.

    96. Saat itu terjadi, jangan malu minta maaf dan meralatnya.

    97. Jangan menulis dengan perasaan marah terhadap seseorang.

    98. Perlu ada pemisahan ruang dan waktu kerja agar otakmu bisa membedakan kapan otakmu harus menulis dan kapan harus menjalani aktivitas sehari-hari.

    99. Lakukan sesuatu aktivitas untuk menetralkan kembali tumpukan emosimu setelah menulis.

    100. Jangan percaya semua poin di atas begitu saja.

  • Belajar yoga dengan scroll medsos influencer saja? Apa boleh? (Foto: Wikimedia Commons)

    DULU saat saya pertama belajar yoga, saya belajar yoga sedikit-sedikit lewat buku.

    Saat itu tahun 2010-an dan rasanya belum banyak guru yoga di luar dan Indonesia yang gemar mengunggah konten ke Instagram atau Facebook, yang menjadi platform paling top saat itu.

    Pengguna Facebook memang sudah menjamur tetapi masih didominasi penggunaan untuk bersosialisasi atau just for fun semata. Tidak ada konten edukatif soal yoga.

    Begitu juga di Instagram. Hanya foto-foto panoramik yang indah tapi ya sudah, berhenti di situ saja.

    YouTube juga masih sepi dengan konten yoga yang berupa full class yang bisa diikuti secara gratis.

    Naik Berkat Pandemi

    Hal ini berbeda dengan 10 tahun setelahnya. Begitu pandemi melanda, YouTube menjadi salah satu kanal favorit bagi orang yang ingin mencoba beryoga di rumah karena terkendala larangan ke tempat umum yang bisa menyebarkan virus Covid-19 yang mematikan saat itu.

    Satu kanal YouTube yang jadi primadona ialah Yoga with Adrienne. Tahun 2020 kanal yoga itu dikunjungi jutaan orang. Dan makin banyak juga guru yoga yang akhirnya terpaksa keadaan, mau juga merambah dunia digital setelah sekian lama berusaha keras bersikap anti dan resisten terhadapnya.

    Kembali ke saya, setelah belajar yoga lewat buku, saya masih merasa kurang afdol.

    Lalu saya putuskan bergabung dengan sebuah komunitas yoga yang kebetulan melakukan kegiatan mingguan di taman yang berdekatan dengan tempat tinggal selama di Jakarta tahun 2010 itu.

    Di sana, beruntung saya bisa mendapatkan bimbingan guru-guru yang lebih berpengalaman dalam setting komunitas yang hangat dan akrab. Tidak mengintimidasi layaknya di gym atau studio eksklusif. Karena setahu saya gym dan studio kadang memiliki circle pergaulan masing-masing.

    Tergantung Tujuan Belajar

    Dari pengalaman saya itu, jika saya ditanya apakah seseorang bisa belajar yoga lewat media sosial saja, saya akan jawab: bisa dan tidak, TERGANTUNG TUJUAN BELAJAR orang yang bersangkutan.

    Berikut penjelasan saya. Belajar yoga lewat media sosial apapun itu mungkin bisa saja, asal tujuan belajanya sekadar untuk mengenal secara sekilas.

    Di platform media sosial mana saja, Anda sudah bisa menemukan kreator-kreator yoga yang membagikan ilmu mereka. Di YouTube, sejumlah guru yoga Indonesia sudah membuat kanal-kanal yang bisa dikunjungi jika Anda ingin panduan beryoga di rumah.

    Begitu juga di TikTok. Saya sendiri mencoba membangun kanal di TikTok selama 1 tahun belakangan ini dan karena tujuan saya mengedukasi, jadi tak begitu masalah jika konten saya tidak tertampil di For You Page (FYP) atau tidak jadi viral.

    Itu karena saya paham bahwa popularitas kita di media sosial tidak selalu juga membawa kesejahteraan baik dalam hal material maupun aspek lainnya. Karena buktinya ya banyak kreator yang jumlah pengikutnya jutaan atau kontennya viral tetapi belum bisa sejahtera dan pensiun dini. Karena saya sadar popularitas dan kesejahteraan adalah dua hal yang berbeda dan kadang bisa satu paket datangnya tetapi juga bisa tidak. So, it is okay.

    Dengan kata lain, belajar yoga via media sosial BISA saja tapi cuma bisa untuk mengenal yoga secara sepintas lalu. Belum bisa mengantar ke lapisan yang lebih dalam.

    Apakah lalu dengan demikian, belajar yoga via media sosial tidak boleh? Tidak demikian juga. Silakan saja belajar yoga hanya dari media sosial tetapi hasil belajarnya tentu tidak akan bisa setara dengan mereka yang belajar yoga secara langsung dengan guru yoga yang berpengalaman lebih banyak.

    Bukan untuk Jadi Guru

    Nah, saya jawab TIDAK BISA belajar yoga via media sosial jika Anda ingin belajar yoga secara mendalam dan ingin menjadi instruktur yoga ke depan. Jika itu tujuan Anda, haruslah belajar langsung dengan guru yang berpengalaman lebih banyak di bidang yoga.

    Kenapa demikian?

    Karena belajar itu perlu struktur dan sistem yang tertata. Jika Anda cuma belajar di media sosial, konten pendek di yang tersedia di dalamnya biasanya bersifat acak dan cukilan-cukilan mini dari bongkahan pengetahuan yang jauh lebih besar.

    Lain dari belajar yoga dengan guru-guru yoga secara tatap muka langsung di sekolah yoga resmi dan diakui. Di dalamnya pasti sudah ditetapkan sebuah kurikulum yang menerapkan pola dan sistem belajar yang runut dan urut. Tidak acak, tidak sembarangan, tidak

    Durasi konten di media sosial juga relatif pendek dan jika panjang pun, biasanya Anda tidak bisa berinteraksi/ tanya jawab dengan si guru secara langsung sebagaimana dalam kelas atau kuliah.

    Maka dari itu, saya katakan bahwa boleh-boleh saja belajar yoga dari media sosial untuk permulaan dengan tujuan mengenal yoga secara sepintas tetapi untuk belajar lebih mendalam, kita harus belajar langsung dan dibimbing seorang guru yoga yang lebih berpengalaman. (*/)

  • Bayu, kenapa sih kamu kok gitu? (Foto: Kompas.com)

    ADALAH Bayu, seorang penulis di era pasca kemerdekaan. Diperankan oleh Adipati Dolken, tokoh Bayu ini pada hakikatnya seorang pria yang baik budi dan sopan perilakunya. Pemikirannya juga lurus-lurus saja.

    Tapi karena terlalu lurus itulah pernikahannya dengan seorang biduanita bernama Lastri menjadi goyah. Terutama saat rumah kos besar yang mereka huni kedatangan sepasang penghuni baru.

    Mereka ini adalah Sena dan Danti. Si pria adala seorang anggota partai. Partai mana itu, tak disebutkan secara jelas di film. Hanya saja dijelaskan dalam bentuk siaran radio bahwa latar belakang film ini ialah tahun 1955 saat Indonesia menghelat Pemilu pertamanya.

    Karier kepenulisan Bayu kurang bagus karena terhalang selera editor yang kurang suka gaya tulisannya di kolom opini surat kabar yang dikelola si editor.

    Disindirlah oleh si editor bahwa Bayu seharusnya menulis fiksi saja. Daripada sok menulis opini yang berdasarkan fakta tapi toh kelihatan mengarang saja, katanya.

    Kebetulan di saat yang sama, Bayu mendapatkan sumber inspirasi: Danti.

    Diam-diam karena keduanya sering ditinggal kerja pasangan masing-masing di rumah kos besar tadi, mereka pun sering berbincang akrab.

    Ditambah dengan rasa keingintahuan masing-masing soal kondisi rumah tangga tetangganya. Danti penasaran dengan rumah tangga Bayu. Bayu pun juga sering pasang telinga di dinding demi menemukan fakta soal hubungan Sena dan Danti terkini.

    Kedekatan tadi makin menjadi-jadi karena Bayu dan Danti juga ternyata kerap bertemu di perpustakaan yang sama. Danti adalah penjaga perpustakaan dan Bayu pengunjung rutinnya. Klop!

    Namun, jalan cerita tidak membuat mereka menjadi pasangan yang berselingkuh meskipun mereka sebenarnya bisa saja melakukannya. Danti dan Bayu menolak untuk berselingkuh (walaupun mereka juga menginap di kamar hotel yang sama).

    Danti sendiri sudha tahu bahwa Bayu menaruh hati padanya karena sekarang Bayu menulis sebuah cerita di surat kabar mengenai kisah romantis dan narasi seorang perempuan yang sang penulis kagumi. Danti menduga dia-lah yang menjadi objek tulisan cerita Bayu itu, lalu ia marah pada Bayu karena dianggapnya bahwa perasaan semacam itu pada istri orang lain kuranglah pantas. Tapi Bayu tetap menulis cerita tadi karena ia justru mendapatkan peningkatan karier sebagai penulis setelah berhasil menyenangkan hati editornya berkat cerita asmara tadi.

    Anehnya Lastri dari awal terlihat sangat membenci tetangga barunya. Saat Sena dan Danti berpesta mengundang teman-temannya, Lastri begitu geram. Bayu sendiri adem ayem saja melihat tetangganya berpesta.

    Ternyata rasa benci itu cuma palsu belaka. Faktanya, Lastri dan Sena pergi ke Surabaya bersama-sama. Kedua tiket kereta ke kota buaya milik dua orang itu ditemukan oleh masing-masing pasangannya dan dicocokkan tanggal keberangkatannya. Dan memang benar mereka segerbong.

    Menemukan kenyataan suaminya selingkuh dengan istri pria yang menaruh hati padanya membuat Danti goyah.

    Di saat genting itu, Lastri menginginkan perceraian dan akhirnya Bayu pun bercerai secara resmi dari istrinya.

    Tapi kemudian di saat yang bersamaan, Sena mengurungkan niatnya untuk menceraikan Danti. Perempuan yang sudah mengendus gelagat buruk itu pun menuntut kejujuran dari si suami yang makin sibuk dengan urusan partainya.

    Yang aneh, saat dilabrak Danti, eh Sena malah kena serangan jantung.

    Akhir kisah ini kurang menyenangkan penonton memang tetapi saya bisa katakan bahwa kualitas akting Adipati dan lawan mainnya masih biasa.

    Dan penampilan dan fashion serta gaya rambut juga masih kurang jadul alias tempo dulu menurut saya. Entahlah, baju-bajunya kurang meyakinkan. Terutama fashion Danti.

    Gaya rambut dan perawakan Adipati juga kurang 50s dan 60s. Coba dia punya cambang atau kumis dan rambutnya lebih gondrong dan pipinya lebih cekung. Matanya sudah berkantong jadi menurut saya sudah meyakinkan untuk memerankan seorang penulis yang kurang tidur dan suka begadang sambil merokok.

    Yang paling kurang sreg menurut saya adalah panggilan “Tuan” dan “Nyonya” yang masih terus dipakai saat Danti dan Bayu sudah kenal sekian lama. Terasa kaku sekali. Agak berlebihan. Saya paham keduanya saling menghormati dan menjaga jarak tapi apa alami jika panggilan itu masih dipakai tatkala tidak ada orang lain di sekitar mereka? (*/)

  • EMPAT PULUH adalah usia saat Nabi Muhammad SAW ditahbiskan menjadi utusan Allah yang terakhir di muka bumi ini.

    Usia 40 juga dianggap sebagai usia yang sudah matang. Usia paruh baya, mengingat angka harapan hidup sekarang ini biasanya 80-an. 

    Anda yang memasuki usia ini tidak bisa menolak jika dipanggil “om” atau “tante” oleh anak-anak kelahiran tahun 2000 dan setelahnya.

    Usia 40 membawa orang kembali ke krisis kedua dalam fase hidup mereka: krisis paruh baya.

    Orang-orang di usia ini memang tidak terlalu tua tetapi juga naif rasanya untuk memanggil mereka anak muda. Mereka terperangkap di tengah-tengah, antara para pemuda dan lansia. 

    Demikian juga apa yang dirasakan oleh Radha (diperankan oleh Radha Blank) dalam film “The Firty-Year-Old Version”.

    Dikisahkan di sini Radha yang telah bekerja sekian lama sebagai seorang penulis naskah drama berpengalaman di Broadway harus menghadapi periode suram dalam kehidupan keluarganya dan juga kariernya.

    Ia masih berduka setelah kematian ibunya. Meski ia dihubungi oleh adiknya terus menerus, Radha tak kunjung bisa membujuk dirinya untuk membenahi apartemen mendiang ibunya.

    Saking dalam luka emosional atas kepergian sang ibunda, Radha tak sanggup meski cuma untuk menelepon kembali sang adik yang mengajaknya bertemu. Meski ia penulis, ia mengaku kehabisan kata saat harus bertemu adik laki-lakinya karena pasti mereka harus membahas kenangan masa lalu ibunya, yang bagi Radha seperti mengorek luka lama.

    Sebagai seorang lajang di umur nyaris kepala 4 dengan masalah berat badan yang membuatnya terdorong minum minuma rendah kalori sepanjang hari, Radha beruntung memiliki hubungan dekat dengan Archie (Peter Kim) yang sudah ia kenal sejak SMA. Archie bekerja juga sebagai perantara baginya dengan para produser yang tertarik mementaskan naskah-naskah yang dianggap bagus.

    Dan untuk bisa mendapatkan persetujuan untuk mementaskan naskah Radha, bahkan Archie harus mengalami pelecehan seksual. J. Whitman, seorang sutradara tua nakal, menyuruh Archie menyentuh alat vitalnya. Dan Archie, demi sang sahabat, mau saja.

    Radha yang mengira kariernya sudah mandek dan kesal dengan tidak adanya produser yang mau mendanai naskahnya kemudian melampiaskan kegundahan itu secara impulsif dengan mencoba menelurkan lagu dan album rap.

    Mulanya Archie menganggap ide banting stir karier itu gila di usia Radha yang sudah hampir 40.

    Akan tetapi Radha bersikukuh apalagi setelah ia melihat dua bokong tebal pria klulit putih yang kemudian ia jadikan ide lirik lagu dan ia anggap pertanda untuk meneruskan karier barunya di dunia musik rap.

    Radha kemudian menemukan D (Oswin Benjamin) , seorang DJ dan arranger lagu rap lepas yang berusia 26 tahun, di Instagram. Radha menemuinya di apartemen D dan membayarnya dengan sejumput ganja dengan asumsi anak muda penyanyi rap usia 20-an pasti sudah senang dengan bayaran sesederhana itu. Dan memang ia benar.

    D awalnya memang dingin dan tak menanggapi semangat Radha yang menggebu-gebu untuk membuat album rap.

    D bahkan meninggalkan Radha saat pukul 2 malam sendirian di apartemennya sampai ketiduran. 

    Kesal karena diremehkan D, ia pun pulang naik kereta sendirian.

    Besoknya ia kembali dihubungi D, dan setelah D memperdengarkan beat yang sudah ia buat untuk lagu rap yang liriknya dibuat Radha,  D paham bahwa Radha memiliki sesuatu untuk diceritakan melalui rap. Jadi bukan sekadar lirik tanpa jiwa. Ada pesan dan kisah yang perlu didengarkan orang di dalam lirik radha.

    Kembali ke dunia pertunjukan, akhirnya memang naskah Radha disetujui untuk dipentaskan tetapi mengetahui bahwa pementasan itu didapatkan dengan cara yang tak elok (dengan pengorbanan sang teman dekat Archie), idealismenya memberontak.

    Radha kesal pada Archie. Ia tak mau bekerja atas dasar hal lain selain pengakuan atas kualitas naskahnya yang bertema gentrifikasi, suatu tema yang menurut Whitman saat pertama bertemu Radha adalah suatu hal yang sudah banyak dibicarakan dan tidak orisinal. Karena berkata demikian, bahkan Radha mencekik leher J. Whitman. Untung Whitman tidak menuntut secara hukum.

    D yang merasa bahwa Radha punya storytelling skills yang bagus pun dengan gigih meyakinkan perempuan itu untuk tampil membawakan lagu pertamanya di event konser skala kecil di komunitasnya. 

    Sayangnya karena grogi luar biasa dan ketakutan, Radha malah bak kerupuk kena air. Melempem. Tak bisa bersuara di panggung meski sudah didukung oleh murid-murid dari sekolah drama tempatnya mengajar.

    Karena kegugupan itu, Radha cuma bisa berkata “yoyoyoyo” tanpa henti di panggung. Kegagalan itu menggugurkan rasa kepercayaan dirinya selama beberapa waktu. Archie pun berusaha menghiburnya.

    Dengan kegagalan mencicipi dunia rap, Radha kembali menyibukkan diri dengan menerima tawaran J. Whitman dengan dorongan Archie.

    Radha pun mengatakan dirinya ingin sutradara kulit hitam tetapi sayangnya sutradara-sutradara kulit hitam sudah sibuk dengan jadwal mereka masing-masing. Yang bisa diajak bekerja sama hanyalah seorang sutradar perempuan kulit putih, Julie (Welker White).

    Kecewa, Radha pun kesal tapi berhasil dibujuk Archie kembali untuk meneruskan proses latihan dan produksi yang sudah akan berjalan.

    Yang tak disangka-sangka, D malah jatuh hati dengan Radha padahal usia mereka terpaut jauh. Mereka pun bercinta dan bisa dikatakan Radha cukup menikmati performa sang berondong ini.

    Tapi ternyata itu bukan semata soal seks sebab D dan Radha juga memiliki kerinduan yang sama terhadap ibu mereka. Setelah seks, mereka sempat mendengungkan beat dan lirik bersama soal lagu bertema ibu dan kerinduan terhadap ibu masing-masing.

    Untuk akhir cerita, Anda bisa menontonnya sendiri di Netflix.

    Tapi saya pikir pesan yang bisa saya petik dari sini ialah jangan berhenti untuk terus merombak ulang jati diri kita meski kita sudah berada di fase usia yang konon menurut masyarakat sudah seharusnya mapan dan tidak lagi berubah pikiran.

    Dan pahami bahwa jati diri kita terlalu luas untuk dibelenggu oleh pekerjaan yang kita lakoni. Alih-alih menganggap kita seorang pecundang saat gagal di satu jalur karier, kita bisa banting stir ke jalur lain dan kembali melaju dalam jalan kehidupan ini.

    Film ini pantas untuk mendapatkan penghargaan dan ditonton le bih banyak kaum millennials yang sekarang saya yakin juga sudah berusia 40-an seperti saya. (*/)

  • DALAM sebuah kesempatan saya pernah bertukar pengalaman dengan seorang tetangga yang baru saja pulang dari negeri sakura. 

    Di sana katanya ia bisa melancong santai bersama keluarga dengan leluasa dan bebas tanpa menggunakan jasa agen travel.

    “Dan biayanya bisa murah banget!” Ungkapnya antusias pada saya sore itu.

    Kisarannya bisa setengah dari biaya melancong dengan menggunakan jasa agen travel profesional. Demikian pengakuannya.

    Maklum ia bisa memeroleh tiket terbang pergi pulang dengan diskon di travel fair yang relatif murah meriah untuk kantong middle class Indonesia.

    Setelah berceloteh, ia balik bertanya pada saya karena ia tahu tahun kemarin saya juga baru menunaikan ibadah umrah.

    “Kalau umrah sendiri gimana, mas? Apakah enak pengalamannya kemarin sama agen travel yang mas pake?” Tanyanya lagi.

    Tampaknya tetangga saya tertarik untuk umrah dengan biaya lebih murah dan menerapkan rencana perjalanannya sendiri tanpa dibantu agen travel.

    Umrah Mandiri Sah-sah Saja

    Pemerintah Saudi Arabia beberapa waktu lalu dikabarkan telah secara resmi memperbolehkan warga negara Indonesia yang ingin menunaikan umroh mandiri (tanpa jasa agensi travel) untuk berkunjung ke tanah suci dengan menggunakan Personal Visit Visa atau Visa Kunjungan Pribadi, demikian dikutip dari laman berikut. 

    Hanya saja pemerintah kita malah kontra dengan kebijakan Arab Saudi tersebut. Masih dari sumber yang sama, DPR sebagai lembaga legislator berargumen bahwa umroh berbeda dari sekadar perjalanan atau melancong biasa.

    Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menyatakan bahwa pada hakikatnya ibadah umrah ialah perjalanan wisata yang istimewa sehingga membutuhkan bimbingan dari orang-orang yang sudah memiliki pengalaman dalam menjalankan umrah dengan baik dan benar sesuai syariat Islam.

    Plusnya Pakai Jasa Agen Travel

    Berdasarkan pengalaman tersebut, saya bisa katakan bahwa menggunakan jasa agen travel saat menunaikan ibadah umrah ada plus minusnya.

    Plusnya ialah saat Anda menunaikan ibadah umrah, Anda akan selalu dibantu untuk mengingat rukun dan wajib dalam ibadah umrah. 

    Tentu saja ini sangat penting sebab tujuan utama Anda ke Tanah Suci adalah umrah. Kalau ibadah umrah tak terlaksanakan dengan baik dan ternyata ada yang kurang rukunnya atau terlupa sesuatu yang seharusnya dibawa, maka Anda akan sama saja membuang uang dan tak mencapai tujuan.

    Dari pengalaman saya, sebelum umrah kami sebagai jemaah dipersiapkan mental dan spiritualnya oleh agen travel tersebut.

    Mereka memberikan seminar dan penyuluhan kepada jemaah mengenai tata cara umrah yang baik dan benar sesuai syariat tepat sebelum terbang ke Tanah Suci. 

    Kemudian juga mereka mengingatkan kita untuk selalu menata hati dan niat. Tentu saja ini pengingat yang sangat penting. Jangan sampai kita ke Tanah Suci hanya demi mendapatkan pujian dari sesama manusia atau untuk tujuan-tujuan duniawi jangka pendek.

    Para petugas agen travel juga akan membantu kita jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, misal kesalahpahaman dengan petugas-petugas di Tanah Suci nanti. Tak semua orang Indonesia seperti saya fasih berbahasa Arab, bukan? Dan penggunaan bahasa Inggris tak sepopuler di sini.

    Satu momen saat saya bersyukur didampingi petugas agen travel ialah saat harus mengenakan pakaian ihram khusus pria yang cukup rumit.

    Sebelum umroh, para pria memang harus ganti pakaian dengan dua lembar kain ihram putih bersih dan menanggalkan segala pakaian berjahit termasuk kaos dalam dan tentu saja celana dalam. Kami terus saja diingatkan untuk itu karena jika lupa, ibadah umrah tak sah jadinya dan harus mengulang lagi.

    Mengenakan ihram ini perlu trik khusus. Jika Anda baru pertama kali mengenakan dan ternyata cara mengikatkannya kurang nyaman dan mudah lepas, Anda bisa kena malu dibuatnya. 

    Skenario terburuk bagi kita yang kurang piawai mengenakan kain ihram adalah kain ihram Anda bisa lepas dan Anda bakal membuat aurat Anda terlihat oleh banyak orang di tempat umum yang suci. 

    Ada cerita jemaah umrah yang saking antusiasnya jalan kaki sampai ihramnya terinjak di kerumunan dan ia harus rela telanjang bulat karena ihramnya tertarik orang tanpa sengaja dan terseret jauh. Tentu tidak ada yang mau hal itu terjadi, bukan?

    Saya sendiri sudah berupaya mengenakan ihram ini dengan sebaik mungkin tetapi ternyata kurang nyaman dan si petugas membantu saya mengendakan kembali ihram agar tetap nyaman tapi tak mudah lepas. Ini membuat saya tidak was-was saat menunaikan umrah setelahnya. Lebih khusyuk pokoknya. Tak harus capek membetulkan posisi kain ihram agar tidak tersingkap.

    Minusnya Pakai Jasa Agen Travel

    Jika saya harus jujur, dari 10 bintang yang ada, saya akan berikan 7 bintang untuk kualitas pengalaman umrah yang saya alami dengan agen travel yang tahun lalu saya gunakan jasanya.

    Kenapa tidak 10? Mungkin Anda bertanya-tanya.

    Alasan utamanya ialah karena jadwal istirahat saya jadi kacau balau saat umrah. Itu karena menurut saya, pihak agen travel luput dalam memprioritaskan kenyamanan tidur jamaah umrahnya.

    Misalnya saja saat berangkat, kami harus melek hingga lewat tengah malam dan tidur di kabin pesawat. 

    Untuk mereka yang baru pertama kali naik pesawat, tentu tidur di kabin ialah pengalaman yang kurang nyaman.

    Belum lagi harus deg-degan menunggu lepas landas (takeoff) dan jika ada turbulensi, dan saat pendaratan (landing) yang menjadi momen-momen krusial bagi penumpang untuk bisa terjaga. Itu karena bisa saja ada insiden atau kecelakaan sehingga butuh tindakan segera dari penumpang untuk bisa menyelamatkan diri.

    Alhamdulillah perjalanan relatif aman dan mulus ke bandara King Abdul Aziz di kota Jeddah sana.

    Pelaksanaan umrah juga habis tengah malam padahal seharusnya kami bisa istirahat dulu di hotel begitu sampai Mekkah. 

    Begitu juga saat kami pulang ke tanah air, istirahat malam lagi-lagi harus di kendaraan bus. Badan tak bisa direbahkan dan punggung tak bisa rileks maksimal. Jadinya agak kesal.

    Bisa jadi ini karena paket yang saya ikuti adalah paket yang lebih murah (30 jutaan) dan saya lihat para peserta paket yang lebih mahal bisa tidur dulu sebelum penerbangan berangkat dan pulang.

    Konsekuensi dari berantakannya jadwal tidur adalah stamina dan kesehatan yang rontok sehabis umrah.

    Saya sendiri tak bisa langsung beraktivitas seperti biasa setelah pulang karena kecapekan dan jatuh sakit. Tonsil saya membengkak karena kelelahan yang amat sangat dan tak cukup tidur. Kalau tidur pun di luar waktu yang semestinya sehingga badan saya kebingungan.

    Intinya adalah saat Anda menggunakan jasa agen travel, Anda harus bersiap untuk memasrahkan diri Anda pada rencana perjalanan mereka.

    Tentu bakal ada slot waktu saat Anda bisa bebas beraktivitas sendiri tetapi sebagian besar waktu yang Anda miliki di sana bakal direncanakan oleh si agen travel dengan tujuan membuat perjalanan umrah menjadi mabrur, efisien, dan berkesan dalam jiwa.

    Selain itu, jika Anda tipe orang yang suka berwisata kuliner di tempat asing, memilih berumrah dengan agen travel akan mengurangi kebebasan Anda untuk mencicipi makanan lokal.

    Dari pengalaman saya, pihak agen travel biasanya menyediakan katering di hotel yang sudah diajak bekerja sama. Jadi makanan sudah tersedia di hotel tiap kali Anda pulang selesai beribadah. Praktis memang dan cita rasa makanannya adalah khas Indonesia. Jadi lidah Anda yang mungkin tak cocok dengan makanan asing, akan tetap dimanja bak di rumah.

    Tapi kalau Anda justru mau bebas menentukan menu makanan dengan memilih hidangan khas Arab? Rasanya akan susah dan repot. Karena Anda di Tanah Suci tujuan utamanya adalah berumrah, bukan jalan santai makan-makan di sana sini bak food vloggers.

    Plus Minus Umrah Mandiri

    Saya sendiri memang belum pernah menunaikan umrah secara mandiri.

    Tetapi dari apa yang saya alami dari umrah tahun lalu itu, saya bisa katakan ada beberapa kelebihan dan kekurangan umrah mandiri tanpa agen travel.

    Kelebihan pertamanya ialah tentu jadwal perjalanan dan susunan aktivitas bisa Anda tentukan sesuai selera dan kebutuhan.

    Anda bisa menyesuaikan rencana perjalanan dan tingkat kenyamanan dengan anggaran yang tersedia.

    Mau pakai bus yang lebih murah? Bisa. Mau naik kereta cepat saja saat di Tanah Suci? Silakan. Mau tinggal di hotel bintang lima? Monggo. Mau menginap di hotel murah saja? Tidak ada yang melarang.

    Kelebihan umrah mandiri yang lain ialah Anda bisa berwisata kuliner lebih leluasa di luar waktu umrah sendiri. Dengan demikian, konsentrasi saat beribadah akan lebih terpelihara.

    Kekurangannya ialah karena Anda tidak didampingi seorang pemandu yang bisa mengingatkan hal-hal teknis umrah yang penting, Anda wajib konsentrasi penuh ke hal-hal detail pelaksanaan umrah dan harus terus memeriksa kesiapan dan alat-alat yang diperlukan. Ini tak mudah mengingat di Tanah Suci, kondisinya bisa sangat semrawut dan perhatian Anda bisa terpecah.

    Misalnya saat Anda harus menghitung putaran mengelilingi ka’bah atau saat berlari kecil dari Safa ke Marwah. Jika Anda sudah kelelahan, dan lupa hitungan, bisa kacau ibadah umrah Anda.

    Belum lagi beberapa bacaan yang perlu dibaca meski umrah memang bacaan wajibnya tak banyak. Hanya saja memang ada beberapa doa yang afdol untuk dilafalkan di saat umrah untuk menambah kekhusyukan. Bisa saja membaca buku saku yang isinya doa-doa tersebut tetapi akan lebih merepotkan. Jika Anda memiliki pemandu umrah berpengalaman yang disediakan oleh pihak agen travel, ia akan membacakan doa untuk Anda dan Anda tinggal mengikutinya. Mata Anda akan tetap fokus ke depan sehingga tidak bertabrakan dengan jamaah umrah lain atau merasa panik karena kelupaan doa.

    Jadi kesimpulannya umrah pakai jasa agen travel dan umrah mandiri ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

    Mana yang lebih baik? Tergantung pilihan dan kebutuhan serta anggaran Anda saja… (*/)

  • LEE TANG adalah pemuda yang sering dirisak dari kecil. Ia tidak memiliki kekuatan super atau semacamnya. Ia juga tidak kharismatik. Bahkan tubuhnya kurus dan mukanya pucat pasi.

    Jika ia memiliki satu keistimewaan, itu adalah instingnya dalam memilih penjahat untuk dibunuh. Penjahat-penjahat ini biasanya sudah diendus oleh pihak penegak hukum tetapi tidak bisa diberi hukuman setimpal karena kurangnya barang bukti atau kesaksian. Mereka pun bisa bebas berkeliaran seenaknya.

    Selain itu, Lee Tang memiliki keberuntungan untuk bisa membunuh korban-korbannya ini tanpa meninggalkan jejak dan bukti kuat sehingga aman dari jeratan hukum. Paling sial ia hanya bisa dicurigai atau jadi tersangka tetapi tidak bisa dijebloskan ke penjara atau divonis sebagai pesakitan karena tindakannya membalaskan dendam keluarga orang-orang yang dibunuh oleh para penjahat tersebut.

    Dalam kenyataannya, peran korban dan pelaku kejahatan memang sangat kompleks dan bisa berubah begitu drastis tatkala kita menggunakan sudut pandang yang sama sekali berbeda.

    Misalnya apa yang kita saksikan di Indonesia saja deh. Terjadi sejumlah kasus yang mencederai rasa keadilan karena mereka yang seharusnya mendapatkan keadilan justru malah dijadikan pesakitan. Korban yang melawan penjahat malah dijadikan tersangka. Ada juga korban kekerasan begal yang malah dijadikan tersangka kejahatan. Sontak publik mengecam polisi yang seolah tidak paham duduk perkara. Anda bisa membacanya di sini dan di sini.

    Spoiler alert saja, Lee Tang akhirnya bisa bebas menjalani kehidupannya kembali seperti dulu sebelum ia terjerat serentetan kasus pembunuhan. Saya sendiri lega karena saya tahu bahwa ia bukanlah seorang yang dari dalam hatinya memiliki itikad jahat. Ia hanya korban yang kemudian terpaksa mempertahankan dirinya dan upayanya mempertahankan diri itu dicap jahat oleh hukum yang berlaku.

    Di sini, saya yakin bahwa keadilan yang sempurna dan hakiki memang mustahil untuk dicapai di dunia fana ini. Pasti ada ketidaksempurnaan dalam menegakkan keadilan betapapun manusia penegak hukum berupaya. 

    Masalahnya sekarang ini kita menyaksikan banyaknya penegak hukum yang tidak berdaya mempertahankan keadilan. Sebagian malah terjun dalam berbagai hal yang pada akhirnya mencederai rasa keadilan dan ikut menjadi bagian dari kriminalitas tapi hampir selalu berhasil lolos dari jeratan hukum karena paham celah yang bisa mereka manfaatkan.  

    Lihat saja PBB yang tak berdaya di tengah genosida Palestina, Eropa dan AS yang konon membela HAM tapi toh mendukung genosida Palestina, dan carut marutnya kepolisian dan KPK di negara ini. Sejumlah petugas KPK yang seharusnya bersih malah tertangkap basah melakukan pungutan liar. Terus bagaimana pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme jika alat pembersihnya (KPK) saja kotor dan tak berfungsi sebagaimana mestinya?

    Tapi memang sungguh naif untuk mengharapkan keadilan sempurna di muka bumi ini.  Suatu saat nanti, entah kapan, mereka akan menemukan pembalasan setimpalnya juga. Tuhan tidak buta dan tuli. (*/)

  • JIKA Anda pernah menonton serial “The Big Bang Theory” yang populer di Amerika Serikat, Leonard Hofstadter digambarkan sebagai seorang pria dengan karakter yang lemah dan kurang asertif dalam mempertahankan keinginannya dan mengejar sesuatu yang ia inginkan.

    Tapi dalam sebuah episode, sahabat sang tokoh utama Sheldon Cooper ini mencoba untuk menjadi pribadi yang berbeda. Ia berupaya menjadi lebih decisive, lebih asertif dan lebih tegar dalam mengutarakan dan mempertahankan pendapat dan keinginannya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain termasuk orang-orang terdekatnya.

    Untuk membuktikan bahwa kepribadiannya sudah berubah menjadi lebih kuat, Leonard pun menyusun sebuah proposal yang menerangkan bahwa dirinya ingin menjadi seorang peneliti utama di sebuah proyek plasma di universitas tempatnya bekerja (Caltech).

    Tetapi tentu saja untuk meyakinkan atasannya, tidak semudah itu. Kemudian sang atasan memang menolak proposal tersebut dengan alasan kuat.

    Untungnya keberanian Leonard itu tidak membabi-buta. Ia masih sempat berpikir jernih dan tidak serta merta meninggalkan Caltech hanya karena tidak diizinkan memimpin proyek impiannya. 

    Kemudian Leonard mengatakan bahwa proposalnya memang ditolak tetapi sang atasan Direktur Siebert mengajukan proposal lain yang ternyata tidak kalah menarik bagi Leonard. Dan karena tawaran itu menarik, akhirnya Leonard tidak mengundurkan diri dari Caltech dan mendapatkan proyek lain yang juga membuatnya bersemangat untuk bekerja.

    Seperti itulah pendekatan yang kita perlukan saat ingin menjadi seorang yang baru ingin mengubah suatu dalam diri kita. Tidak perlu terlalu ‘ngoyo’ atau ngotot. Pelan-pelan. Bertahap saja. Tidak drastis apalagi memaksa secara radikal. Karena semua itu hanya akan melukai diri kita sendiri lagi dan membuat kita kembali ke gua zona nyaman dan aman sebelumnya. (*/)

  • ISENG-ISENG beberapa waktu lalu saya menempuh UKBI atau yang dikenal sebagai uji kemahiran berbahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa.

    Keperluan saya sebetulnya adalah untuk mengukur kemampuan saya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat berkomunikasi dalam konteks profesional dan bisnis.

    Saya menjalani ujian ini sebagai juru bahasa sehingga bisa dikatakan passing grade-nya seharusnya lebih tinggi. Mana ada juru bahasa yang level penguasaan bahasanya payah?

    Sejauh ini saya memang bekerja lebih banyak di dunia kebahasaan. Saya pernah melakoni web content writer, copywriter, dan juga penyunting di sebuah website.

    Cara Mendaftar dan Biaya Mengikuti UKBI

    UKBI ini membutuhkan biaya dan bisa diikuti secara daring. Jika berminat mengikuti, Anda bisa mengunjungi tautan berikut ini: https://ukbi.kemdikbud.go.id.

    Di sana Anda bisa mendaftar, untuk kemudian mendapatkan nomor pendaftaran dan diharuskan membayar Rp300.000 sebelum menentukan jadwal tes yang sesuai dengan ketersediaan waktu luang Anda.

    Karena ujian ini daring, saya bisa mengikuti di rumah sehingga suasana tes bisa tenang dan terkendali. Tidak bising atau penuh gangguan. Ketenangan sangat penting karena bakal ada juga tes kemampuan mendengar. Jika fokus buyar, bisa turun skor perolehannya nanti.

    Untuk membayar, Anda cukup transfer melalui Tokopedia karena biaya partisipasi UKBI masuk ke penerimaan negara bukan pajak seperti uang STNK dan sebagainya.

    Setelah lunas, Anda akan dikirimi surel yang isinya tautan dan kata kunci untuk masuk ke akun dan menjalani tes daring pada jadwal yang sudah Anda pilih sendiri. Jika Anda lupa atau terlambat masuk ke ruang ujian daring, artinya yang rugi Anda sendiri.

    Kiat Mendapatkan Skor UKBI yang Baik

    Nah, setelah itu Anda bisa mengasah kemampuan berbahasa jika merasa kemampuan berbahasa Indonesia Anda agak tumpul dan berkarat akhir-akhir ini.

    Sebelum UKBI, pastikan laptop Anda memiliki peramban Mozilla Firefox atau Google Chrome karena UKBI menyarankannya untuk jalannya ujian dengan optimal. Jadi untuk Anda yang terbiasa memakai peramban Safari atau yang lain, unduh dulu jauh-jauh hari sebelum jadwal UKBI Anda agar tidak terburu-buru saat akan mulai UKBI.

    Hingga di tanggal pelaksanaan uji, Anda buka laptop di tempat yang tenang dan menyalakan kamera laptop agar pengawas dapat melihat wajah Anda saat mengerjakan soal-soal UKBI ini.

    Meksipun memang ini tidak 100% bisa mencegah tindak kecurangan sepanjang UKBI daring, setidaknya peserta akan lebih kesulitan mencurangi pengawas dan sistem yang sudah ada.

    5 Seksi dalam UKBI

    Sebagaimana tes kemampuan berbahasa lainnya seperti IELTS dan TOEFL di bahasa Inggris, UKBI juga terdiri dari beberapa bagian yang akan menguji level penguasaan sejumlah keterampilan kita dalam berbahasa.

    Ada 5 seksi yang saya ikuti dan Anda bisa pilih juga di awal pendaftaran. Karena semakin banyak seksi yang Anda ikuti, makin lama juga tesnya dan makin mahal pula biayanya.

    Saya ambil 5 seksi: mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis, dan berbicara.

    Semua bisa Anda kerjakan dengan kecepatan masing-masing. Jika menurut Anda mudah, silakan langsung beralih ke seksi berikutnya tanpa harus meneliti ulang. Tapi jika dirasa kurang yakin dan perlu meneliti ulang jawaban, maka sah-sah saja untuk membaca soal lagi dan meyakinkan diri bahwa jawaban sudah benar.

    Di seksi mendengarkan, saya harus mendengarkan sejumlah dialog dan monolog serta menjawab sejumlah soal setelahnya. Di sini kemampuan fokus harus tinggi, dan saya harus mendengarkan mono/dialog sembari membaca soal juga agar tahu harus fokus di bagian yang mana. Karena kalau fokus ke semua bagian mono/dialog, sungguh tidak mungkin otak menyimpan sebanyak informasi itu dalam sekali waktu.

    Lalu seksi merespon kaidah mengharuskan saya memilih opsi yang salah dalam sebuah kalimat. Seksi ini bertujuan mengetahui pemahaman Anda soal tata bahasa dan hal-hal teknis sejenisnya.

    Di seksi membaca, saya harus membaca sebuah teks dan menjawab beberapa pertanyaan. Kalau saya punya trik untuk baca pertanyaan langsung dan baru membaca teks secara cepat dan menemukan mana yang menjadi fokus pertanyaan. Kalau membaca semua teks secara utuh baru menjawab pertanyaan, rasanya buang energi.

    Di seksi menulis, saya dihadapkan pada sejumlah soal yang relatif mudah karena dalam keseharian saya menulis dan menyunting tulisan orang lain. Dalam soal, saya diharuskan membuat tulisan pendek dengan batasan kata tertentu yang bisa menjelaskan secara runut dan sistematis sejumlah poin penting yang termuat dalam satu diagram atau foto atau gambar. Intinya, saya harus menjelaskan panjang lebar info visual itu jadi sebuah teks.

    Lalu di seksi berbicara yang menjadi bagian terakhir, saya harus menghidupkan mikrofon laptop dan merekam kata-kata saya sendiri. Di sini, saya harus menjelaskan secara lisan sebuah topik yang sudah dipilih dan Anda diberikan informasi dasarnya. Anda butuh kemampuan menerangkan poin-poin tersebut secara mulus, kronologis, masuk akal, logis. Bak seorang pembicara publik di panggung.

    Tanpa Bantuan Pengolah Kata dan Kamus

    Di sini Anda sebaiknya tidak menggunakan secarik kertas untuk mencatat atau menggunakan piranti lunak lain untuk menulis draft pidato Anda di seksi berbicara, karena semua itu harus berupa catatan mental alias rancangan di dalam otak saja. Begitu saya mencoba klik Microsoft Word, kamera akan otomatis mati dan jika terlalu lama, Anda bisa dianggap melakukan kecurangan. Karena bisa saja Anda beralih dari jendela UKBI ke jendela peramban lain untuk mencari jawaban atau menggunakan Kecerdasan Artifisial.

    Jadi proses membuat rancangan paparan singkat itu mesti bisa dilakukan dalam otak saja. Tidak harus mencorat-coret. Untuk Anda yang merasa tidak bisa merancang tanpa corat-coret, biasakan saja dulu untuk membuat ‘mental notes’ yang saya sarankan.

    Untuk berbicara Anda akan diberikan batasan waktu 3 menit. Paparan singkat Anda mengenai topik yang sudah dipilih harus sudah selesai di hitungan menit ketiga. Tiada ampun jika melebihi durasi waktu tersebut.

    Skor Akhir

    Nah, skor UKBI ini baru saya dapatkan hari ini. Skor total saya 647, yang dikategorikan “sangat unggul”.

    Tidak istimewa karena saya memang sudah bergelut di bidang kebahasaan selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Jadi alangkah aneh jika justru saya meraup skot di bawah standar tersebut.

    Saya juga akan dikirimi sertifikat keikutsertaan dalam waktu dekat ini.

    Bagaimana dengan Anda? Sudah pernahkah mengikuti UKBI ini? Bagaimana pengalaman Anda sendiri mengikutinya? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. (*/)

  • THERE are similarities in the characters of Howard Wolowitz in the series “The Big Bang Theory” and Motti in “The Awakening of Motti Wolkenbruch”: a young Jewish man whose life is controlled by his mother.

    It’s a bit ironic because the lives of young people in the West are synonymous with freedom. We in the East always hear that the young generation in the West always travels before us in the East. They have lived separately from their parents since they were teenagers and even had sex in their teens.

    But the dominance of mothers in Jewish families in the West does not seem to be diminished by Western culture which is completely liberal and free.

    Howard is told as the only son of his mother whose husband abandoned her. Howard was 11 years old when his father abandoned his new family. What is the reason? It’s not explained, but it became a lasting emotional wound for Howard.

    Different from Howard, the father figure in the Motti family is still there and loyally accompanies the family but in the film is depicted as having a less strong level of dominance. The father may be dominant at the dinner table which seems to be the arena for enforcing patriarchal values and principles in Judaism, but in the everyday household, the mother is more dominant, especially in her relationship with her child, Motti.

    Howard and Motti both struggle with the inner conflict of only sons: should they always obey their mother’s wishes and give up their freedom throughout their lives (or at least until their mother dies)?

    At the end of the film, Motti is said to still choose to rebel by dating Laura, a non-Jewish German girl chosen by his mother. And because of that, his mother was extremely annoyed.

    Meanwhile, Howard was luckier because he chose to have a relationship with Bernadette, who was Catholic but was approved by her mother, who, although very dominant, also loved him very much. (*/)

  • SUDAH berita lama dan rahasia umum bahwa media sosial memiliki risiko membahayakan kesehatan mental anak-anak dan remaja kita.

    Dari perisakan siber (cyber bullying) hingga penipuan dan penculikan, media sosial yang bisa diakses dengan mudah saat ini dengan menggunakan ponsel cerdas memberikan dampak yang luar biasa besar bagi masyarakat dunia terutama generasi mudanya.

    Dikutip dari The New York Times, para senator di Amerika Serikat tanggal 31 Januari 2024 lalu memanggil secara resmi sejumlah pemimpin perusahaan media sosial yakni Meta (dahulu Facebook), TikTok, Snap, Discord, dan X (dahulu Twitter).

    Secara singkat, orang-orang penting di industri teknologi ini didamprat habis-habisan oleh para senator alias wakil rakyat AS karena dianggap tidak melakukan upaya pencegahan pelecehan seksual terhadap pengguna anak yang memadai. AS saat ini memang mengalami kecemasan akibat beragam dampak negatif penggunaan media sosial di kalangan anak dan remaja.

    Menurut pendapat entrepreneur AS di bidang kreasi konten Eric Wei, terdapat 3 hal yang patut kita ketahui dari dipanggilnya para pucuk pimpinan media sosial ini ke hadapan Kongres AS dan para senator.

    Dua Tunjukkan Itikad Baik

    Cuma Meta dan TikTok yang menunjukkan itikad baik dengan hadir di undangan tersebut tanpa paksaan. 

    Mark Zuckerberg yang mewakili Meta dan Shou Zi Chew sebagai CEO TikTok hadir dengan sukarela.

    Sementara itu, para pemimpin Snap, Discord, dan X (Twitter) harus dipaksa oleh pihak Kongres untuk datang langsung ke pertemuan tersebut. Perwakilan YouTube juga menghindar dari undangan tersebut. Secara tidak langsung, ini tidak menunjukkan itikad baik dari perusahaan yang bersangkutan.

    Di pertemuan tersebut, baik Zuckerberg (Meta) dan Evan Spiegel (Snap) dicecar dan didesak untuk meminta maaf kepada masyarakat AS yang terkena dampak negatif penggunaan platform mereka.

    Zuckerberg kemudian meminta maaf secara publik di hadapan Kongres kepada keluarga para anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual lewat Facebook dan Instagram yang menjadi platform milik Meta.

    Sedangkan Evan Spiegel juga dipaksa meminta maaf kepada para keluarga anak korban overdosis zat fentanyl yang mereka peroleh dari platform Snap. Spiegel sebagai pimpinan dianggap lalai dalam mengupayakan pencegahan agar jual beli narkoba seperti itu tidak terjadi di platform Snap miliknya.

    Bagaimana Tanggung Jawab Ortu? 

    Terlepas dari kenyataan bahwa Komite Judisial Senat AS sukses menghukum para pucuk pimpinan perusahaan besar teknologi media sosial ini, muncul pertanyaan yang tak kalah pentingnya: “Apakah seharusnya anak dan remaja kita memang tak boleh menggunakan media sosial sama sekali agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal negatif?”

    CEO Meta Mark Zuckerberg dengan lihai kemudian mengatasnamakan hak para remaja untuk bisa memiliki akun media sosial dalam bentuk akun yang bisa diakses siapa saja (termasuk para kriminal dan pedofil?). Memiliki akun media sosial bisa membuka pintu peluang bagi para remaja dalam “menciptakan hal-hal cemerlang”, ucap Zuckerberg.

    Sang CEO juga sudah menyatakan pihaknya tidak memperbolehkan anak-anak di bawah usia 13 tahun untuk memiliki akun di platformnya tapi hal itu langsung disanggah Kongres sebab pada kenyataannya jutaan anak ternyata masih bisa membuat akun sendiri. Jadi larangan itu tidak efektif.

    Secara tersirat, Zuckerberg ingin melimpahkan tanggung jawab itu ke pundak para orang tua agar mau lebih tegas melarang anak-anak mereka yang di bawah umur untuk tidak memiliki akun media sosial.

    Tapi sayangnya, kesadaran ortu soal bahaya media sosial juga bervariasi. Jadi pihak ortu dan pemerintah juga seolah ingin melimpahkan kesalahan pada pihak pemilik platform yang bersangkutan.

    Namun, menurut hemat saya, tidak bakal ada solusi dalam lingkaran setan ini karena semua pihak (ortu, anak, pemerintah dan bisnis) juga harus sama-sama melakukan tugasnya masing-masing. Tidak bisa menyalahkan pihak lain dan bebas begitu saja dari tanggung jawab.

    Upaya Pembungkaman Kebebasan Berpendapat?

    Kongres AS memang sedang mewujudkan perlindungan lebih baik pada anak-anak dari bahaya media sosial melalui UU Keamanan Daring Anak-anak (Kids Online Safety Act). 

    UU ini mewajibkan penyelenggara platform media sosial untuk bekerja lebih keras dalam merealisasikan perlindungan anak dari bahaya perisakan, pelecehan, upaya marketing/ iklan yang bisa membahayakan anak/ remaja.

    Tapi kemudian ada yang mencemaskan bahwa aturan yang makin ketat ini malah bisa mengekang kebebasan berpendapat dan mempertinggi kemungkinan sensor terhadap konten yang nanti akan beredar di platform-platform media sosial.

    Bentuk-bentuk sensor ini misalnya adalah tidak bisanya mengunggah konten yang mengandung frasa atau kata kunci terlarang yang sudah disepakati bersama oleh pihak penyelenggara platform dan pemerintah.

    Menurut saya, upaya perbaikan ekosistem media sosial agar lebih kondusif untuk para pengguna anak dan remaja memang sudah sangat mendesak sebab akibat buruknya bisa terus meluas serta bisa memengaruhi masa depan bangsa ke depan.

    Soal sensor dan kebebasan berpendapat, dalam pandangan saya terlalu mengada-ada dan berlebihan karena inilah upaya pencegahan yang harus ditempuh agar kebebasan itu juga diberi batas agar tidak membahayakan orang lain. (*/)

Verified by MonsterInsights