• How are the citizens of Indonesia doing today?

    Before you answer that, let me tell you about a friend.

    I called him the other day. He’d just been let go from his job. Now, he sells fresh chicken in his village. Nothing grand—just enough to get by. He still has mouths to feed.

    His days start before dawn and end at 10 a.m., when he finishes his round selling chicken door to door. The rest of the day is his: tending to his small grocery shop, waiting for neighbors to drop by now and then.

    I asked him about his revenue. He laughed and said, “Trillions.” I understood. It’s not much.

    Then I asked if he ever wanted to come back to Jakarta—to see me. He lives in West Java, right on the border with Central Java. Jakarta could be our meeting point. The last time he was there was during Ramadan, invited by his former boss—the same one who pushed him into early retirement—for a reunion and iftar together.

    I thought he’d hate the memory of that place. Toxic, I assumed. But he corrected me.

    He said he actually enjoyed working there. And if another company offered him a job, he’d take it. Toxic or not.

    Because right now, his priority is simple: support his youngest child still in school, and his wife. He was once offered a book-editing project, but the fee was only around three million rupiah—barely enough to last two months. In his position, I wouldn’t be picky either. You just do whatever it takes. Work as best you can. Don’t get fired early.

    That’s how bad the economy has become.

    We’re willing to be imprisoned in soul-crushing jobs, as long as we can still eat, sleep under a roof that doesn’t leak, and feel safe—undisturbed.

    But then, he told me something else. Something about the Merah Putih Cooperative—the one the president has been promoting.

    A local figure in his village started forming a village cooperative. My friend and others were recruited as administrators. But once they learned that the military controlled all the rules and performance metrics—and that they, as civilians, were just pawns with no real voice—the leadership disbanded.

    They felt used by the military. By the regime. By this increasingly militaristic government.

    Now, I’m not anti-military. My grandfather was a retired TNI officer. My own name carries a military connection. But something about the military’s growing involvement these days unsettles me—and many others.

    Strangely, despite the militarization, social media—especially Threads—is filled with complaints about declining security in Jakarta, BSD, and even my own hometown. More street robberies. Young people racing aimlessly at night, convoys with no clear purpose. Anxiety is rising.

    And it’s not just paranoia. In my housing complex, burglaries and vehicle thefts have increased. One happened in broad daylight on a Friday afternoon—right when most men were at the mosque for prayers. Even CCTV didn’t stop it.

    Then came the guilty verdict for Nadiem Makarim. Adding more gloom to a country already hit by flash floods in Sumatra and a rupiah sliding past 17,000 against the U.S. dollar.

    In the middle of all this, noise erupts over Amien Rais—the 1998 Reform icon—accusing Prabowo of being manipulated by Teddy, whom Amien claims is gay.

    Setting aside the allegation, Teddy was indeed close to Jokowi—the “sengkunyit” from Solo who still holds a firm grip on the palace.

    As if that’s not enough—a school in Pontianak refused a rematch in a quiz competition after a female student protested the judges’ unfair decision. Her score was docked unjustly. The two problematic judges—one with questionable articulation, the other with past corruption summons from the KPK—were doxxed by netizens.

    The student was later offered a scholarship to China. Influencer Bima warned her to be cautious: partial scholarship, strings attached, and a regime that tolerates no dissent. Bima called it a PR band-aid, meant to patch up the image of the MPR.

    Maybe the regime doesn’t want this case to trigger the unrest of August 2025—ignited by careless statements from public figures like Ahmad Sahroni and Nafa Urbach, striking raw nerves while the economy tightens its grip.

    Meanwhile, Bivitri Susanti published an article in The Economist, criticizing the Prabowo regime for draining state funds and dismantling what little democracy was left—already wrecked by Jokowi, the power-hungry man from Solo. His ambition to move the capital to IKN? Just struck down by the Constitutional Court.

    And we, the people—we can only curse these rulers who so recklessly spend the money we earn from working day and night.

    Indonesia might soon collapse—just as Prabowo once predicted. Let’s hope it comes quickly. Because maybe only then can this nation get a fresh start.

    We’re tired. So tired of the injustice. The savagery. Right in front of our eyes. (*/)

  • Subuh tadi saya sempat menyaksikan sebuah Instagram reel. Isinya seorang pemain biola yang mengatakan kurang lebih demikian: “Demi algoritmanya, akan kulakukan apapun….” Di tangannya sudah ada biola yang hendak digesek lalu sedetik kemudian ia mempereteli kancing kemeja flanel motif kotak-kotaknya. Dalam kondisi bertelanjang dada, sang pemain biola kemudian mulai memainkan musiknya.

    Sebenarnya saya merasa cringey alias bergidik dengan apa yang ia lakukan. Maksud saya, apa memang harus sampai sejauh itu atau itu cuma skit alias sarkas? Entahlah. Di videonya yang lain ia tak tampak mengumbar badan atasnya juga jadi saya pikir itu cuma gimmick sesekali.

    Tapi fenomena yang sama juga banyak sekali ditemui akhir-akhir ini. Para pemuda belasan atau 20-an yang berbadan kerempeng memulai mengunggah konten olahraga atau ngegym atau calisthenics atau jadi hybrid athletes lalu dengan cara yang entah bagaimana (entah itu natural atau memang punya bakat genetis atau berbekal peptida yang dikonsumsi sembarangan) menjadi lebih kekar, lebih berisi, lebih berotot, lebih memenuhi spesifikasi ‘gapura kabupaten’ (yang tinggi besar, gagah karena berdada dan berbahu bidang dengan pinggang kecil dan perut six packs), begitu istilah populernya.

    Begitu mereka mengunggah konten transformasi bentuk badan yang menunjukkan kondisi badan sebelum dan sesudah berolahraga, mereka pun kebanjiran komentar dan likes, dan tawaran endorsement dari beragam brand, dari susu whey, dada ayam instan, alat olahraga hingga baju olahraga.

    Tak cuma tawaran yang halal dan legal, anak-anak muda berbadan ‘jadi’ ini pun kebanjiran juga DM dari para pria penyuka pria. Ya, mereka ditawar untuk menemani ‘papa gula’ atau juga berpesta seks.

    Ada muscle gigolos, demikian sebutan saya untuk anak-anak muda (bisa juga om-om paruh baya) pengeksploitasi tubuh dan otot mereka sendiri itu, yang menanggapi DM seperti itu dengan pedas bahkan mengunggah para pengirim DM ke feed media sosial mereka untuk menunjukkan bahwa mereka punya harga diri dan integritas. Mereka seakan ingin menunjukkan bahwa meski konten mereka buka-bukaan, mereka melakukannya untuk tujuan edukasi olahraga dan memacu semangat gaya hidup sehat. Tak masalah sebetulnya tapi yang membingungkan ialah meski mereka menolak diajak ngeseks mereka ini juga ada yang terus mengunggah video sugestif, misalnya video dengan adegan mandi, atau adegan olahraga tanpa baju, memamerkan ketiak, otot bokong, paha atau dada dalam kondisi basah dengan keringat. Mereka seolah bermain pasif agresif, yang membuat target audience semakin penasaran dan mungkin juga berniat menggenjot rate card mereka.

    Dari tren ini, seolah kemudian banyak pihak yang menanamkan ide bahwa apapun pekerjaanmu, otot dan badan kekar adalah penjamin kesuksesan pria dalam jalan karier apapun. Jadilah ada pegiat gym yang berjualan makanan di pinggir jalan. Mereka menggunakan daya tarik visual dari badan yang tinggi, kulit bersih dan otot yang besar itu sebagai penarik pembeli. Kelezatan makanan bukan faktor utama. Yang penting viral di media sosial dan menarik banyak pembeli meski sebenarnya pembeli itu cuma mau menikmati suguhan visual berupa badan atletis si penjualnya.

    Apakah fenomena menjual otot dan tubuh kekar ini bisa dikatakan karena sempitnya lapangan kerja bagi anak muda sekarang? Bisa juga dikatakan demikian. Dengan gagalnya pemerintahan kita dalam memenuhi janji surga penyediaan lapangan kerja, rasanya saya tak berhak menghakimi para muscle gigolos ini.

    Saya tidak menyalahkan jika ada anak muda yang menempuh jalan berolahraga demi membentuk badan demi untuk menjualnya di media sosial dan memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu hak asasi setiap manusia yang memiliki badan. Anda bisa saja membentuk badan Anda seperti apa saja. Tapi jika itu membuat Anda terjangkit penyakit menular seksual, tentu akan merugikan diri dan pasangan sah nantinya dan masa depan Anda sendiri.

  • Saya hanya punya dua kucing tahun 2024. Yang pertama namanya Viktor, jantan dan sudah saya kebiri. Ia sudah bersama saya tahun 2021. Sebelum saya kebiri, dia hampir tiap hari pulang babak belur. Mirip anak cowok yang sekolah di STM, pekerjaannya cuma berkelahi dan tawuran sana-sini. Capek betul saya mengobati luka-lukanya. Yang paling besar adalah luka di kaki kirinya yang berbulan-bulan tak kunjung sembuh meski sudah dijahit beberapa kali. Harusnya ia dikurung di rumah tapi selalu saja bisa melarikan diri begitu pintu terbuka. Sampai saya mengomel padanya bahwa saya jengkel dan pada titik kulminasi saya pernah mengejarnya naik turun tangga di rumah demi mencekokinya pil supaya lukanya yang menganga cepat menutup. Karena tak berhasil jua, saya menangis di tangga dengan memegang sapu. Begini rasanya punya anak yang badungnya di luar batas nalar. Akhirnya semua plester, pil obat penyembuh luka itu mubazir. Tiada energi untuk membuatnya mau duduk manis diolesi salep, dicekoki obat, dan tidur agar lekas sembuh.

    Kini setelah ia disterilisasi, kebadungan Viktor mereda. Ia lebih rumahan daripada era sebelumnya. Saya bersyukur untuk itu. Pekerjaannya sekarang cuma tidur di rumah atau teras rumah tetangga yang tak berpenghuni di siang hari. Ia berangsur jadi lebih manis dan mudah diatur dan mudah diajak cuddle dan dielus. Saya minta maaf padanya karena untuk bisa semenyenangkan itu, ia harus kehilangan harga dirinya sebagai seorang kucing jantan. Ia mirip seorang kasim istana sekarang, tanpa skrotum dan penurut. Meski begitu, sisa-sisa hormon testosteron itu masih ada juga. Viktor kadang agak buas juga saat menghadapi kucing jantan yang lebih muda.

    Kucing satu lagi namanya Katya. Ia betina dan belum saya angkat rahimnya karena biaya sterilisasi betina lebih mahal dari kucing jantan. Dalam hati saya bertanya, “Apakah kucing betina juga kena pink taxes??” Masak iya itu nggak berlaku cuma di manusia perempuan? Kebangetan rasanya. Tapi apakah karena menjadi perempuan itu lebih rumit dan mahal? Entahlah, mungkin itu pertanyaan penelitian kaum feminis tersendiri.

    Dan karena Katya, saya boncos. Ia beranak pinak dengan jantan-jantan yang saya tak ketahui bentuknya. Ia berhubungan seks di luar rumah tanpa sepengetahuan saya. Saya pikir ia mengeong karena tak betah jadi saya lepaskan di luar. Eh ternyata itu dorongan mencari pejantan karena dia sudah tak sabar mau disetubuhi dan beranak.

    Pada gilirannya Katya memberi saya anak-anak kucing baru. Ia punya 3 anak lagi dan anak-anaknya itu sudah beranak juga. Begitu populasinya sudah meledak mencapai belasan dari dua ekor, saya merasa kewalahan. Rumah kerap kotor dan bau karena kelakuan mereka, jumlah makanan juga meningkat, dan itu artinya beban keuangan meningkat. Di kondisi ekonomi begini, saya pikir-pikir untuk jor-joran membeli pakan kucing kering yang mahal. Lalu saya mencoba memberi cakar ayam segar saja dengan harga 23 ribu per kantong yang bisa digunakan 2-3 hari. Alhamdulillah mereka tetap sehat dan bulunya bagus karena asupan nutrisi dan kolagen cakar yang melimpah ruah itu.

    Rupanya kucing-kucing saya tetap merasa tidak puas dengan jumlah makanan yang saya sediakan. Beberapa kali mereka saya pergoki merambah ke rumah tetangga yang dermawan mau memberi sisa makanan untuk mengganjal perut yang masih belum penuh. Pantas saja mereka tak kelihatan beberapa jam atau hari. Saya pikir karena telah merasa cukup kenyang saya beri itu semua.

    Saat saya tahu, saya membatin: “Gila ya zaman sekarang aja kucing pada nyari sampingan. Dasar kucing freelance!!!”

    Tak saya duga bahwa kucing-kucing saya pun punya mindset yang sama dengan saya: “Ngapain mendedikasikan diri ke satu employer secara penuh waktu, sementara mereka nggak kasih asuransi lagi di samping gaji pokok, BPJS dan Jamsostek juga bayar sendiri? Enakan kerja fleksibel gini supaya bisa freelance ke mana-mana, ya nggak cuyyy??!”

    Saya tersenyum. Benar juga kalau ada orang bilang: perilaku kucingmu mencerminkan perilaku majikannya (atau babunya?). (*/)

  • Ibu saya pernah berkata bahwa beliau selalu merasa badannya bergetar bila belum makan nasi. Saya merasa pernyataannya itu berlebihan. Saya generasi yang tidak percaya dengan superioritas nasi putih sebagai bahan makanan pokok harian. Apalagi dengan naiknya tren diabetes dalam beberapa dekade terakhir, nasi putih adalah sumber karbohidrat yang paling wajib dihindari menurut saya. Ini ditambah dengan pernyataan banyak pakar bahwa nasi menaikkan kadar gula darah.

    Saya pun berusaha mengurangi asupan nasi putih. Berharap bisa menekan risiko diabetes serendah mungkin. Saya memilih sarapan dengan oatmeal atau nasi merah atau susu atau telur. Apapun asal bukan nasi merah pokoknya.

    Tapi akhir-akhir ini saya agak goyah dalam pendirian saya sebagai pembenci nasi. Pertama bahwa nasi putih cuma salah satu dari banyak makanan di dunia yang menaikkan kadar gula darah. Dan itu memang bisa terjadi bila dimakan tanpa campuran protein sama sekali. Kalau nasi putih dicampur protein dan serat makanan yang banyak, konon menurut si dewi glukosa yang menulis buku soal gula darah dan beragam cara mengendalikannya, kenaikan kadar gula darahnya tidak bakal drastis. Jadi sebetulnya bukan masalah besar.

    Kedua ialah saya menemukan bahwa nasi putih itu lebih mudah dicerna dan lebih nyaman untuk pencernaan. Dan itu benar. Bahkan jika dibandingkan dengan beras merah, beras putih lebih mudah diterima perut. Kadang setelah makan nasi merah, rasanya perut menjadi begitu kosong dan melilit setelahnya. Tapi nasi putih tidak. Badan dan perut ini merasa nyaman dan tenang. Itulah alasan mengapa orang sakit selalu diberikan bubur nasi putih, bukan bubur nasi merah. Nasi merah meski kandungan seratnya lebih banyak berkat kulit arinya itu ternyata lebih sukar dicerna karena ada kandungan enzim tertentu. Serat memang banyak tapi bila terlalu banyak, perut juga jadi kewalahan. Begitu kira-kira pemahaman saya. Semua mesti sesuai porsi dan kemampuan badan dalam mengolahnya. Mesti pas. Tidak kekurangan atau kelebihan.

    Ketiga, nasi putih juga menjadi makanan buat para atlet yang butuh asupan makanan utuh sehat. Para atlet binaraga juga makan nasi putih bersama protein hewani dan sayur mereka jadi menurut saya nasi putih tidak seburuk itu. Ia memang bisa berakibat buruk jika kita makan dalam jumlah banyak, tanpa diimbangi protein dan serat yang cukup, dan tidak diikuti aktivitas fisik dan olahraga teratur.

    Jadi kini saya mulai kembali memeluk kepercayaan bahwa nasi putih adalah baik sebagaimana yang diyakini ibu saya asal saya masih mengonsumsinya secara wajar dan seimbang. (*/)

  • Suasana kabin bus Sahaalah

    Lebaran tahun ini menjadi pengalaman perdana menjajal naik armada bus Sahaalah. Saya tak berencana memesan kursi di armada bus ini sebenarnya tapi karena sudah kehabisan kursi sleeper bus, kereta dan pesawat yang murah, akhirnya saya memberanikan diri memesan tiketnya.

    Alasan saya memilih bus Sahaalah adalah karena rutenya yang membuat saya tak perlu naik taksi atau bus lagi untuk ke kota asal saya, Kudus. Saya memesan satu kursi dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan via platform EasyBook.com. Kemudian anehnya saya dioper ke titik keberangkatan di agen bus tersebut di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Saya awalnya enggan tapi setelah mensurvei lokasi yang sangat jauh dari rumah saya di Banten, akhirnya saya pasrah karena toh lokasi terminal di Jaktim itu bisa dijangkau dalam waktu kurang dari 2 jam jika saya naik Commuterline dari stasiun dekat rumah. Bismillah, ucap saya. Saya pun membayar. Untuk 1 tiket pulang pergi, saya merogoh kocek 1,2 juta. Lumayan murah mengingat 1 tiket kereta bisa lebih dari itu.

    Ternyata prosesnya tak semulus itu. Pihak EasyBook menghubungi via WhatsApp bahwa ada masalah tiket. Bus yang saya pesan sudah penuh. Saya diarahkan untuk berangkat dari Terminal Pulo Gebang Jaktim sana, alih-alih Lebak Bulus yang lebih dekat dengan rumah. Untungnya saya bisa.

    Masalah kedua ialah karena ada perubahan harga tiket, saya perlu bayar ekstra 80 ribu tapi setelahnya agen EasyBook berkata bahwa ada potongan 80 ribu karena titik tujuan berubah. Saya agak kesal sebab saya sudah transfer 80 ribu seperti yang diminta admin lalu ternyata diberitahu ada diskon 80 ribu juga dan refund itu bakal ditransfer beberapa hari kerja lagi. Untungnya saat itu saya puasa. Kalau tidak, ya saya masih bisa menjawab sopan juga sih. Please dikonfirmasi dulu sana sini sebelum menyatakan ke konsumen bahwa dia harus transfer sejumlah uang untuk kompensasi. Untung jumlah uangnya tak begitu besar. Namun, kerepotannya itu. Bagaimana jika kursi yang saya order 5 atau lebih? Bayangkan kerumitannya. Tapi kritik ini ditujukan ke admin EasyBook ya, bukan ke pihak Sahaalah.

    Keberangkatan Molor

    Kemudian pada hari H jelang jadwal keberangkatan tanggal 18 Maret 2026 pukul 16.30 WIB, saya sudah sampai di Terminal Pulo Gebang, Jaktim. Saya disambut dengan informasi dari pihak agen bus Sahalaah bahwa bus masih tertahan dan baru bisa berangkat pukul 8 malam.

    Reaksi saya: “Hahhh? Saya harus menunggu sampai malam??” Ini sangat disayangkan, karena ternyata saya tidak diberitahu via WhatsApp oleh pihak agen bus Sahalaah di Terminal Pulo Gebang soal waktu keberangkatan yang mundur beberapa 3,5 jam dari waktu yang tertera di tiket yang saya sudah beli itu. Beberapa penumpang diberitahu via WhatsApp sehingga mereka masih di rumah. Tapi meski demikian, saya tak begitu bersungut-sungut karena dengan tiba lebih awal saya tak perlu panik dan buru-buru. Bayangkan jika saya masih di jalan dan baru berangkat maghrib. Malah repot. Saatnya berbuka, salat dan macam-macam. Lebih baik memang siang tadi.

    Lalu saya menunggu saja dengan sabar di depan agen bus. Ternyata kabar baiknya bus sudah datang tepat waktu. Saya pun segera menukarkan tanda booking dari EasyBook ke loket yang diawaki relawan dari Pramuka dan sejenisnya dan bergegas ke lobi terminal tempat banyak bus bercokol. Saya bertanya ke beberapa kondoktur tapi ternyata bus saya belum ada. Saya bingung. Saya pun duduk di selasar yang penuh orang. Eh, malah kemudian katanya ada yang mencari-cari penumpang. Ternyata bus saya sudah tiba tapi masih di sisi lain terminal.

    Sekitar pukul 17.20 WIB lebih saya masuk dan duduk di kursi yang nomornya sesuai tiket. Lalu saya duduk menunggu keberangkatan. Sejam, dua jam, tiga jam. Eh ternyata jam berangkatnya memang jam 20.00. Dan saya masih bertanya kenapa jam keberangkatan di tiket kok tertera jam 16.30? Itu yang saya sesalkan. Apakah salah saya karena tidak tahu aturan tidak tertulis bahwa mengharapkan keberangkatan yang tepat jika naik bus adalah berlebihan? Apakah memang hal itu cuma berlaku untuk kereta dan pesawat?

    Suasana kabin bus Sahaalah di Terminal Kudus

    2 Kelebihan Bus

    Satu kelebihan bus Sahalaah ini ialah dari awal hingga akhir, suhu AC-nya manusiawi. Iya, saya bersyukur bahwa suhu pendingin kabinnya tidak sampai menusuk ke tulang. Saya pikir suhu itu cuma di awal dan bakal turun saat kami sudah melaju tapi bahkan sampai tengah malam pun suhu masih cukup bersahabat. Saya tak sampai menggigil dan tersiksa semalaman karena kedinginan. Pihak bus sudah menyediakan selimut tebal tapi bahkan selimut itu tak begitu perlu. Saya paling suka suhu bus begini. Antara 24-25 derajat celcius.

    Kemudian yang bagus juga adalah adanya dudukan berpermukaan empuk di depan kursi penumpang. Anehnya ada tulisan yang melarang kami memakainya untuk meluruskan kaki. Tapi secara naluriah, siapa saja mau menyelonjorkan kaki di atas dudukan yang mungkin untuk tempat tas atau barang bawaan (handcarry) itu. Menurut saya, desainnya sudah bagus dan manusiawi tapi salah instruksi. Biarkan saja itu buat menopang kaki penumpang. Di bagian bawah dudukan ternyata ada foot rest atau pijakan kaki. Terlepas dari itu, pengalaman duduk selonjor ini membuat sensasinya mirip naik sleeper bus yang lebih mahal. Cuma, saya harus mengorbankan privasi sebab saya masih bisa melihat dan dilihat penumpang sebelah kanan dan kiri. Kalau di sleeper bus, saya seorang diri dalam sebuah kabin yang bertirai meski tak bisa ditutup rapat sempurna. Tapi setidaknya saya bisa sendiri dan menjadi penguasa.

    Bus saya melaju ke arah timur dan sekitar pukul 22.10 saya menemukan diri saya di Batusari, Jalan Tol Cikopo-Palimanan. Saya dipersilakan makan malam. Menu yang tersedia bervariasi, dari soto ayam hingga nasi rames. Saya pilih soto ayam. Setelahnya saya ke toilet umum yang lumayan bersih dan bayar 2000. Lalu salat isya. Di sana juga ada musholla bersih. Kemudian saya ke bus dan pukul 11 kurang kami kembali melaju kencang ke arah Karesidenan Pati.

    Perjalanan terasa mulus. Pukul 2 pagi saya sampai di Brebes dan sejam kemudian sampai Kendal. Artinya sudah dekat tujuan akhir. Pukul 5 lebih bus sudah menyentuh Terminal Kudus yang untungnya tidak tenggelam akibat banjir. Ada tenda BNPB di pintu keluar terminal.

    Soto ayam, salah satu menu yang disediakan di rest area saat arus mudik.

    Perjalanan Pulang

    Pada tanggal kepulangan yakni 24 Maret 2026 saya tiba di Terminal Kudus lagi dengan tiket bernomor duduk. Jam keberangkatan menurut pesan WhatsApp agen adalah 18.30 WIB tetapi saya sampai sana pun ternyata masih adem ayem. Malah dikatakan bus yang harusnya saya tumpangi belum sampai. Nanti dipanggil, kata agen.

    Sampai akhirnya saya harus mondar-mandir keliling area itu untuk memastikan bus saya sudah tiba atau belum. Ternyata baru jam 19.12 saya bisa menemukan dan naik ke bus.

    Untuk makan malam, pihak Sahaalah menyediakan di Kutosari Jalan Raya Batang-Weleri. Bus saya tiba di sana pukul 21.30. Dan saya langsung makan malam dan bergegas ke toilet dan kembali ke bus. Saya tak mau jadi orang lelet yang membikin seisi bus susah dan menggerutu karena terlambat.

    Cuaca kadang hujan di beberapa titik namun sopir bisa mengemudia dengan nyaman dan aman. Artinya ngebut tapi penumpang masih bisa tidur nyenyak. Jelang tengah malam bus sampai Tegal dan dalam waktu 4,5 jam bus sampai di BSD.

    Saya turun di BSD sebab di Lebak Bulus ternyata malah lebih jauh dari Stasiun Jurangmangu. Dan perjalanan pulang pun berakhir.

    Soto ayam yang disajikan di rest area Batang saat arus balik.

    Simpulan

    Menurut saya, perjalanan mudik bersama Sahaalah kali ini cukup worth the money. Nyaman dan yang penting aman. Tidak ada insiden pencurian atau sejenisnya. Para pegawainya dan supirnya juga sopan.

    Jika ada kritik ialah please sopir Sahaalah saat sudah sampai di Jakarta dan mengantar penumpang ke titik-titik drop, usahakan menahan diri dulu dari merokok. Ini karena mereka sudah mau santai dan tak paham bahwa asap masih bisa masuk ke bus dan mengganggu pernapasan penumpang yang meski sudah berkurang tapi belum sepenuhnya meninggalkan bus. (*/)

  • Mudik yang baru saja berlalu membuat saya makin paham bahwa kota asal saya makin banyak berubah. Sekarang mungkin beberapa sudut wajahnya masih bisa saya kenali tetapi mungkin sebentar lagi laju pembangunannya sudah tak terkendali dan saya kehilangan memori zaman dahulu.

    Sebut saja pusat perbelanjaan Matahari Department Store tempat dahulu saya menonton film “Titanic” yang legendaris itu pertama kalinya tak jauh dari rumah saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Itu salah satu core memory saya yang saksi matinya sudah diluluhlantakkan oleh buldoser. Saya melewati pusat perbelanjaan itu saat mudik dan saya memandanginya dengan kosong. Sambil merekam dengan ponsel, seolah saya ingin mengabadikannya sebelum ia berubah lagi. Kini area pusat perbelanjaan itu memprihatinkan, penuh dengan puing bangunan mall lawas tanpa ada kelanjutan mau dibangun apa lagi. 

    Di sisi lain, kota asal saya ini makin menambah aset tempat tujuan wisata estetik untuk keluarga-keluarga muda. Maklum kota ini masih punya laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Lain dengan kota -kota besar yang penduduknya sudah malas beranak-pinak, orang-orang di sini masih hobi kawin. Tidak ada masalah tentu saja dengan fenomena itu sebab bagaimanapun juga sebuah populasi perlu regenerasi. Dan bayangkan jika nanti penduduk tuanya makin banyak, siapa yang akan membiayai pengobatan lansia yang sakit-sakitan dan berumur panjang  itu semuanya? Pastinya anak-anak muda yang masih bisa diandalkan sebagai lokomotif penggerak pertumbuhan ekonomi.

    Saat saya bertanya ke saudara di mana saya bisa berenang, saya tak cuma disodori dengan beberapa nama tempat yang sudah familiar tetapi nama-nama tempat lainnya yang terdengar asing dan lokasinya saya tak pernah tahu sebelumnya. Kebanyakan dibangun di area persawahan di kampung yang kemudian disulap sebagai waterboom atau kolam renang keluarga yang ditandai dengan kolam-kolam dangkal untuk anak-anak yang mau bermain air. Bukan kolam renang serius yang bisa dibuat sebagai arena belajar berenang dengan kedalaman lebih dari 1,5 meter.

    Saya iseng berkomentar, “Wah, ternyata kota ini banyak juga ya buat lokasi money laundry.” Saudara saya mengiyakan. Ekonomi riil kota asal saya digerakkan oleh pabrik-pabrik rokok. Jika di novel Gadis Keretek kota M adalah kota keretek, maka kota asal saya ini lebih keretek dari kota M itu. Jika di Yogyakarta disesaki dengan kafe-kafe estetik yang sepi, di sini fenomenanya juga mirip. Saya juga menemukan beberapa tempat makan mewah yang sebelumnya belum pernah saya temui dahulu saat kecil. Apalagi di kota asal saya ini, makin banyak institusi pendidikan baik negeri dan swasta yang diminati orang di Karesidenan Pati. Sebuah universitas swasta yang dulu saya pernah jadikan tempat mengabdi juga kata teman saya makin moncer sebagai tujuan pendidikan tinggi di area karesidenan. 

    Dan dahsyatnya, sebuah sekolah menengah negeri berbasis agama dekat rumah ortu saya juga membangun reputasi mencengangkan sampai menumbangkan sekolah menengah saya dahulu yang konon adalah sekolah top di sini. Karena popularitas sekolah ini, jumlah siswanya membludak parah dan akibatnya selama jam masuk dan pulang sekolah, jalan di sekitar rumah ortu jadi penuh sesak tak bisa dilewati. Warga sekitar harus diam di rumah dan menahan keinginan keluar rumah jika tidak perlu. Begitu tutur ayah saya.

    Anehnya seorang teman memantau story instagram saya dan memprotes, “Story kamu itu yang satu-satunya kupantau buat tahu pemandangan desa. Eh malah nggak ada foto desa dan kampungnya.” Lho, apakah itu salah saya bahwa ia punya ekspektasi yang keliru soal tujuan mudik yang tak selalu menuju ke udik atau desa? Bukankah ada kemungkinan atau probabilitas bahwa rumah kita sekarang lebih udik daripada daerah asal kita dahulu? Saya sendiri sekarang merasa tinggal di kawasan yang secara ekonomi dan segalanya jauh lebih tertinggal daripada kota asal saya. Dan saya justru menikmatinya. 

    Perubahan yang paling saya sayangkan adalah berubahnya toko buku besar di pusat kota menjadi toko busana mahal. Saya pikir justru itu mencederai dan mengkhianati identitas kota ini. Di saat kota ini makin kuat jiwa pendidikannya, malah di sisi lain terjadi pergeseran prioritas ruang komersial. Tapi apalah artinya protes saya itu. Saya bukan bupati sini. Bahkan KTP saya saja sudah bukan daerah ini lagi. 

    Kepada teman itu, saya katakan bahwa kota asal saya sudah bukan desa sebagaimana di pikirannya itu. Kota asal saya itu sudah berubah wajah drastis dan radikal, bak anak kecil mungil yang kini dipanggil paksa oleh orang tua dan para tamunya untuk keluar dari kamarnya untuk sekadar menunjukkan diri agar semua orang bisa berkomentar seberapa besar dan tingginya ia sudah bertumbuh kembang hingga saat ini. (*/)

  • Seperti itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini terutama dengan ekskalasi Perang Iran-AS yang dikompori Israel akhir-akhir ini. Umat manusia sedang membakar rumahnya sendiri. Gila kan? Dan itu dilakukan oleh bangsa-bangsa yang katanya adidaya dan adikuasa seperti Amerika Serikat dan Israel. Kegilaan ini terpampang nyata di media sosial dan media massa sampai saya lelah mengikuti perkembangannya. Ada kalanya saya tertarik mengikuti. Ya namanya juga manusia, kalau dunia ini ada apa-apa, masak saya menutup mata? Wong ada kecelakaan di pinggir jalan saja insting saya menuntun untuk turut menonton bersama orang lain dan mengabadikannya.

    Keinginan untuk menjadikan bumi sebagai surga adalah keinginan Benjamin Netanyahu sehingga ia nekat membuat kondisi dunia ini kocar-kacir sejak genosida yang dimulai sejak lama bukan cuma dari 7 Oktober 2023 saat Israel melaporkan adanya serangan dari Hamas pada warganya. Ada dugaan bahwa laporan itu palsu dan laporan palsu itu dijustifikasi menjadi alasan untuk memberangus Jalur Gaza beserta manusia di dalamnya. Hidup tak pernah sama lagi sejak itu. Jika kejahatan kemanusiaan lain rasanya ditutup-tutupi tapi kejahatan kemanusiaan Israel ini dipamerkan pada dunia. Seolah Israel tak keberatan menjadi musuh masyarakat dunia dan memang itulah tujuannya. Orang Israel (zionis) ingin menjadi manusia yang paling dibenci di permukaan bumi ini dan tetap menjadi kesayangan Tuhan. Ini seperti anak emas kesayangan orang tua yang kemudian secara membabi buta menyiksa saudara kandungnya yang lain tanpa merasa bersalah dan membuktikan bahwa bagaimanapun busuk dan kejinya perlakuannya itu ia tetap akan disayang orang tuanya. Menurut saya itu pemikiran yang paling menjijikkan. Dan zaman sekarang, makin banyak manusia yang berpikiran demikian sepertinya. Merasa memiliki surga dan berhak mempersekusi manusia lain.

    Semua itu masih ditambah kacaunya kondisi dalam negeri. Rezim Prbw masih saja keras kepala dengan MBG-nya itu meski sudah diprotes sana-sini tak cuma oleh para pakar tapi juga rakyatnya sendiri. Lalu kontroversi bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace yang banyak orang nilai sebagai pengkhianatan terhadap pesan konstitusi kita yang sarat dengan nilai dan prinsip anti imperialisme. Pesan yang dikomunikasikan pejabat-pejabat itu tak sinkron. Menlu Sugiono punya sangkalan sendiri. Teddy si ajudan kesayangan punya argumen sendiri. Sebagai rakyat pusing jadinya.

    Lalu soal kondisi ekonomi dalam negeri kita. Menkeu Purbaya yang jadi media darling itu makin lama makin menjadi media enemy. Sejak awal saya kurang bersimpati dengan gaya kerjanya. Sesumbar sejak mulai menjabat posisi menkeu per 8 September 2025 lalu pasca kerusuhan berdarah Agustus 2025 bahwa jika ia nanti sudah bekerja, perekonomian bakal segera naik, pengangguran teratasi hinggda detik ini belum ada wujudnya juga. Dasar orang Indonesia yang gemar pejabat populis, tingkah polah Purbaya yang sering mencuri perhatian dan simpati publik malah diglorifikasi oleh media massa. Sudahlah kalian diam saja. Biarkan menteri bekerja dan tak usah ditanyai macam-macam hal lain selain kinerjanya saja.

    Lalu muncul berita penurunan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia akibat kacaunya manajemen, kebijakan dan aturan yang diberlakukan bapak-bapak dan ibu-ibu birokrat di singgasana mereka itu. Jangankan orang asing, saya sebagai WNI saja tidak percaya dengan kompetensi mereka. Pengangkatan keponakan presiden jadi pejabat kunci Bank Indonesia misalnya, itu sudah mencederai kepercayaan publik. Meritokrasi hancur lebur sudah sejak era Jokowi dengan lemahnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Prabowo malah melestarikan serta menyuburkannya. Ya mau bagaimana lagi, wong dia juga bagian dari Orde Baru yang sarat dengan praktik semacam itu. Nggak kaget juga.

    Tapi yang kaget adalah kok ada ya masyarakat minoritas yang secara sejarah dahulu sudah dirugikan oleh Orba tapi secara sadar mendukung naiknya Prabowo ke tahtanya. Saya menemukan kesaksian seseorang yang secara etnis adalah Chindo (orang berdarah Tionghoa namun lahir di Indonesia) dengan jujurnya mengatakan bahwa sebagian orang di sekitarnya mendukung naiknya presiden sekarang ini karena beragam alasan. Lalu siapa yag harus disalahkan jika orang seperti itu mengangkat menteri semacam Fadli Zon yang mengingkari sejarah kelam peristiwa perkosaan massal di tahun 1998?

    Terbaru yang paling menyakitkan adalah potongan pajak untuk Tunjangan Hari Raya para karyawan swasta. Orang-orang pun bertanya: “Apakah semiskin itu pemerintah sekarang??” Mungkin iya. Sudah kehabisan akal untuk menambah pemasukan negara. Jadi semua cara dilakukan.

    Kemudian saya sampai pada pertanyaan: “Apakah memang kita pantas ya dapat semua cobaan ini?” Ya Tuhan, lindungilah kami dari akibat-akibat yang tak pernah terlintas dalam kepala ini dari kebodohan, kedunguan, dan ketidaktahuan kami ini. Cuma itu doa yang saya bisa panjatkan di hari ke-19 Ramadan 1447 Hijriyah ini. (*/)

  • Literature can never be as healing as pills or vaccines or as deadly as viruses or loneliness, but we all know it can be a tool to survive and pay the bills. J.K. Rowling might be one of the typical examples of these cases. Apart from her hard work, she is lucky indeed to enjoy such popularity even after her transexual discourse-related backlash.

    Living in a small house with her family in Kulonprogo, Deni Riyaningsih is just like Rowling in a sense that they are both fiction writers. But Riyaningsih might be different in terms of luck. The woman’s son, Ananda Yue Riastanto, was bitten by a malayan krait (bungarus candidus) in 2017. After a treatment at a local hospital, the son showed a hope of recovery but what happened was entirely the opposite. He was paralyzed even though he survived, which was even more psychologically and emotionally exhausting than instant death after the snake bite. For 9 years, Riyaningsih has no choice but to take care of her one and only 16-year old bed-ridden son every day without any rest day. The son is still alive but he cannot survive without his mother’s assistance. It’s a full-time job without any regular salary. And I guess there is nothing more heart shattering than witnessing your lovely child to live a miserable life like that. I am imagining her and the husband spend many days praying for miracles to happen.

    And somehow Riyaningsih finds solace and consolation and a source of income in the world of literature. She dedicates some time at home to type drafts of online novels on her phone (she has no decent laptop or PC to write novels with) and sends the drafts to an online novel platform goodnovel.com and gets paid for it.

    As she talked with a reporter of harianjogja.com, Wednesday February 11th, 2026 she said writing novels at home on her phone serves as a tool to stay sane while makin money for the family. She is not the breadwinner in the family, I assume, which is why she takes care of her son at home all day long, as her husband still works hard out there.

    Deni Riyaningsih and her paralyzed son and her daughter. (Photo credit: harianjogja.com)

    The hardest part is indeed accepting what her son has gone through. As a mother, she admitted that after the ill-fated incident, she spent much time weeping over her son’s current fate. She at times suddenly cries but in the recent 5 years she learned a lot on how to be more accepting and patient.

    What is interesting is they way she turns to literature to save herself as a caretaker. She found some online platform to publish her novel drafts. She publishes novels on Good Novel, Noveltoon, and Tivizo. As I checked three of them, they are specifically designed for online writers. Despite having a website, one cannot write and publish novels on the web but one has to download and write on the smartphone instead.

    She said, “I have done this side hustle of writing online novels on online platforms via app and websites for 5 years. I write to destress and let all my burden go away.”

    Riyaningsih is a natural storyteller. She started with full of punctuation errors. But despite that at the first attempt, she published her draft and generated 300,000 rupiahs. Her husband definitely approved of her side hustle at home especially after he has seen his income decreasing. Who doesn’t? The pastime can help with the family finance and save some money that can be otherwise spent for a therapy. Her life is hard and she could have used some therapy to ease her unseen pain.

    She said she is capable of writing a chapter every day. This chapter contains 800 up to 1,000 words. The word count might be reaching 2,500 words per chapter if she needs to write longer. Amazingly, she managed to finish a novel usually in 2-6 months. For the recent 5 years, Riyaningsih has published 32 novels on various platforms. To achieve this mastery, it took her 2 years to practice, seh acknowledged.

    Thanks to her grit and writing skills, the family now owns a second-hand motorbike. She plans to buy a laptop to help her with the writing process.

    It feels painful to live a life that is not going the way you plan. Literature and writing cannot give us a miracle but they can offer us a miraculous way to get by in the most dire life circumstances.(*/)

  • Baru saja siang ini saya mampir ke sebuah toko buku bekas di sekitar rumah. Saya beruntung meski tinggal di daerah yang terbilang jauh dari peradaban, kata orang-orang Jakarta, saya punya akses ke toko buku yang begitu dekat.

    Dan karena saya mulai mengajar Bahasa Inggris lagi beberapa tahun terakhir ini di sektor pendidikan informal (karena sektor pendidikan formal ‘dirampok’ habis-habisan demi MBG oleh negara), saya mulai akrab kembali dengan buku-buku ajar yang dulunya saya pakai untuk belajar.

    Eh, tak disangka-sangka saya menemukan sebuah buku yang tampak familiar di mata saya. Sampulnya biru dan jenis typeface-nya itu sangat khas. Saya ingin menjerit: “Ih, buku ini gue tau deh!”

    Saya baca sampulnya, judulnya Developing Skills dan nama penulisnya “L. G. Alexander” juga saya tahu betul sebab buku yang sama saya pernah pakai saat masih duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris dulu tahun 2001-2005.

    Karena saya tahu buku itu cuma dalam bentuk fotokopian dulu, memori saya cuma menyimpan teks-teks bacaan di dalamnya yang khas Penerbit Longman. British English dengan typeface jenis Serif mirip Georgia yang membuat saya kangen dengan masa kuliah dulu. Mungkin karena itulah saya jadi suka typeface jenis Serif seperti Georgia dan keluarga besarnya yang mungkin telah diasosiasikan oleh otak saya dengan buku-buku terbitan Penerbit Yayasan Kanisius Yogyakarta ini.

    Sayangnya saat saya tanyakan seri pertamanya, toko buku itu tak memiliki stoknya. Maklumlah, buku-buku bekas ini memang seringnya dijual random. Kalau buku berseri, ada saja serinya yang tak tersedia. Kesal kadang tapi mau bagaimana lagi?

    Rasanya sangat rindu belajar dengan buku-buku jadul begini, tanpa bantuan AI karena ya memang sudah semuak itu saya dengan AI. Haha. Meski tak henti-hentinya diberondong iklan belajar bahasa dengan aplikasi dan AI yang lebih murah, saya bergeming dan merasa masih cocok dengan metode belajar mengajar jadul tapi sudah teruji kualitasnya oleh tempaan waktu. (*/)

  • Kemarin saat saya menunggu murid yang belum masuk juga ke kelas yoga siang saya, saya sempat menonton video pendek (clip) soal Raditya Dika yang mengklaim dirinya yang introver itu merasa syok dan tak cocok saat diajak masuk ke sebuah lingkaran pergaulan baru oleh seorang selebritas asing yang ternyata juga mengajak sejumlah pesohor Indonesia.

    Uniknya saat suasana garing, ia ditinggal tuan rumah untuk menyapa tamu lain, Raditya langsung meraih ponsel cerdas dan mengetikkan sesuatu di layar. Ternyata ia menyibukkan diri curhat dengan ChatGPT kesayangannya. Saat itu sang tuan rumah menyalami tamu dan terjepret kamera bersama dengan Raditya yang sibuk mengetik di layar ponsel. Publik pun bereaksi, katanya. Bagaimana bisa ia sedang berada di event sosial yang gaduh tapi malah memilih chat dengan AI?

    Saya pun yang seumuran dengan Raditya juga tidak paham dengan jalan pikirannya. Meski di generasi yang sama, kami tak berpikir dan bersikap sama soal AI.

    Saya sampai sekarang belum pernah tertarik menggunakan AI sebagai pelarian dari kekakuan hubungan sosial di depan mata. Mungkin karena saya tak mau berakhir seperti pria bernama Theodore Twombly di film “Her”. Tapi Raditya bukan pria yang sekesepian Twombly. Ia berumahtangga, punya anak, dan punya segudang kenalan. Tapi kok tetap saja ia memilih mengobrol dengan ChatGPT?

    Saya mungkin khawatir soal privasi saja. Digital surveillance zaman sekarang sungguh mengerikan. Meski sekarang saya tak bisa mengelak dari penggunaan produk digital yang menggunakan data pribadi saya, setidaknya saya tak ingin secara sengaja menaruh isi hati dan pikiran terdalam saya pada memori AI, yang entah di masa depan akan disalahgunakan atau tidak. Mereka boleh saja tahu NIK, kata kunci akun-akun digital, tulisan saya di blog-blog terdahulu, kata-kata norak yang pernah saya tulis di tahun-tahun pertama bermedia sosial, tapi setidaknya mereka tak tahu perasaan, ingatan, pemikiran saya yang paling dalam dan ingin saya sembunyikan dari dunia luar. Kalau mau dibongkar pun, silakan saja, sebab saya bukan siapa-siapa. Diperas pun saya akan ikhlaskan rahasia saya terbongkar. Bahkan mungkin saya akan terkenal berkat pembongkaran data itu (doxing).

    Karena itulah, saya merasa tak pernah bisa curhat dengan AI bot seperti Raditya. Saya pikir pemikiran dan emosi terdalam itu adalah aset pribadi saya yang seharusnya tak boleh saya serahkan secara cuma-cuma kepada pihak ketiga (pihak kedua ya cuma Tuhan).

    Jadi apakah itu artinya saya Gen Millennial yang jauh lebih kolot daripada teman sepantaran saya sendiri? Tapi bukan berarti saya 100% tak pakai AI. Saya juga pakai AI tapi cuma saya batasi di ranah profesional. Saya ajak AI bekerja sebagai mitra diskusi dan pengumpul serta pengesktrak informasi. Sekali lagi bukan teman curhat.

    Kemudian saya makin meyakini batasan saya ini sudah tepat karena menggunakan AI terlalu berlebihan juga menguras sumber daya berharga di bumi ini misalnya air bersih dan energi yang dihabiskan untuk sekadar menjawab curhatan saya yang remeh temeh soal orang-orang yang menarik atau menjengkelkan di sekeliling saya.

    Alih-alih sebagai teman curhat, saya lebih menyukai ide untuk menggunakan AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas diri seperti yang dilakukan Mark Manson sebagaimana ia demonstrasikan di video YouTube di atas. Saya pun mencoba melakukannya dengan mengetikkan pertanyaan yang sama tapi eh ternyata dibalas AI bot bahwa ia tak begitu mengenal kepribadian saya. Saya memang cuma bertanya hal-hal edukasi dan informasi umum padanya, bukan soal emosi dan pemikiran terdalam soal diri saya.

    Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda menganggap AI sebagai teman curhat yang setia? (*/)

Verified by MonsterInsights