Claudio Marsello, mantan atlet aerobic gymnastics Indonesia kini menjadi pelatih. (Foto: Akhlis)
Mengawali latihan secara iseng di tingkat SD, Claudio Marsello pertama kali bertanding secara profesional di level junior di negeri sakura.
“Karena di Indonesia aerobic gymnastics kurang populer, saya disarankan pelatih ikut kejuaraan di Jepang,” ujarnya. Ia masuk ke dalam peringkat 10 besar dan hal itu membuatnya makin bersemangat menekuni dunia baru tersebut. Ia pun pulang dan dimasukkan ke dalam lapis ketiga tim gymnastics DKI Jakarta.
Serius Sejak Muda
Ini semua juga berkat dukungan orang tuanya. Dukungan itu juga disambut dengan keseriusan Sello dalam berlatih di usia 15 tahun. Ia tidak berlatih hanya untuk kumpul dengan teman-teman atau dengan tujuan bermain semata.
“Setiap saya datang ke tempat latihan, saya harus dapat 1 gerakan baru. Itu tujuan saya setiap latihan,” kisah pria 30-an itu. Ia juga tidak meributkan soal benefit yang didapat tapi memiliki keinginan untuk terus menyempurnakan keterampilannya sebagai pesenam muda kala itu.
Di usia 17 tahun, ia ikut kejuaraan lagi di Kalimantan Timur sebagai wakil DKI Jakarta dan berlaga dengan senior di PON dan mengantongi 2 emas. Ia terus berlaga di 2012 dan 2016 mempertahankan emas di nomor individual. Ia pun menggantikan seniornya.
“Saya suka aerobic gymnastics karena ia jenis olahraga yang gerakan-gerakannya tidak familiar, penuh tantangan, harus belajar tak cuma fleksibilitas tapi juga strength,” kenangnya.
Membungkam dengan Prestasi
Soal pilihan olahraga yang tak populer ini, Sello mengatakan dirinya pernah dicibir teman juga karena kebanyakan menekuni basket, sepakbola, badminton. Namun, para pencibir itu dibungkam begitu Sello mulai membuktikan prestasinya di kancah internasional.
“Bagi saya itu sesuatu yang wajar karena menguji mental kita juga agar mau terus semangat berlatih,” tutur Sello. Muncul kepuasan jika dirinya bisa membuktikan bahwa semua itu tidak sia-sia.
Kini Sello mendirikan sebuah klub atlet aerobic gymnastics setelah tak lagi berlatih untuk kejuaraan seperti PON.
“Setelah merasa ada kemandekan di sisi karier sebagai atlet, saya masih ingin menyebarkan ilmu dan pengalaman yang sudah saya dapatkan di dunia aerobic gymnastics,” ungkapnya.
Terus Belajar sebagai Pelatih
Ia tentu tak langsung mengajarkan gymnastics yang kompleks tapi mengajarkan keterampilan motorik pada anak-anak agar siap untuk dilatih dengan gerakan gymnastics nantinya.
Ia pun mulai memberanikan melatih anak-anak dan hingga sekarang ia mengakui telah ada 5-10 anak yang sedang dibina untuk ikut kejuaraan nasional.
“Saya juga belajar terus menjadi pelatih karena menjadi pelatih sangat berbeda dari menjadi atlet,” terangnya.
Namun, begitu pandemi 2020 melanda, Sello harus merelakan banyak anak asuhannya menghilang. Sebelum pandemi ia memiliki 50-an hingga 100-an anak dalam bimbingannya tapi setelah pandemi terjadi jumlahnya berkurang. (*/)
One day a few months ago I saw someone’s comment on YouTube. I thought it was a short clip showing a Chinese professor talking in fluent English about history of the world. And I traced back to his real YouTube channel, e.g. Predictive History.
Months later I found his Substack newsletter. To it I subscribed immediately. And today I checked his latest newsletter and found a clear and earth-shattering headline: “Why I Refuse to Get Rich”.
Amazing. I thought. This man is really a gem. In it, he explained why he did not monetize his extremely popular YouTube channel. Someone mentioned he could have gone rich. The channel might have generated thousands of dollars if he wants.
But Prof. Jiang Xueqin wrote in the newsletter:
That would be my dream, but that would destroy my vision.
What? Are you sure? I mean, he really knows what he goes after.
He later told his story with money and fame. He used to be in such a situation. Having lots of money and going abroad and all. But he emphasized that money made him “antsy and anxious”.
But he is not himself. It is his wife that encouraged him to stay consistent to his faith though at first she told him to upload his lectures on YouTube. But monetizing is a different story.
So by uploading his content on YouTube, he gained popularity which enables him to spread his messages and knwoledge even faster to more people around the world. But he is so intelligent and self aware of the dangers of too much money and fame.
If you have no idea who he really is, let us take a look at his short bio here courtesy of DeepSeek. LOL!
Professor Jiang Xueqin is a prominent Chinese-American journalist, author, and educator, best known for his work in critiquing and attempting to reform China’s education system. His career has evolved from journalism to on-the-ground educational projects. He holds a bachelor’s degree in history from Harvard University. Suprisingly, he has been a journalist for publications like the Wall Street Journal, The New York Times, and The New Yorker. He later moved into direct educational work as a teacher and administrator in China. Which explains why he talked about Gay Talese and literary journalism in the video above.
Jiang is a vocal critic of the Chinese “gaokao” (the national college entrance exam) system. He argues that its intense focus on rote memorization and high-stakes testing stifles creativity, critical thinking, and genuine student well-being. He believes this system produces excellent test-takers but fails to cultivate innovators and well-rounded individuals.
As a response to what he sees as the system’s failures, Jiang has been a leading advocate for project-based learning (PBL) and student-centered education in China. At the High School Affiliated to Peking University he served as the Deputy Principal and led a pioneering initiative to introduce a project-based learning curriculum alongside the traditional exam-focused one. This was documented in his book. At Tsinghua International School, he continued his work in implementing innovative educational models.
As a former journalist, he also keeps writing. His experiences at the High School Affiliated to Peking University were chronicled in his Chinese-language book, 《高考状元的”不成功”实验》 (The “Unsuccessful” Experiment with a Gaokao Top Scorer), which was later published in English as “The Wonder Years of Gao Yi.” The book details the challenges, resistance, and partial successes of trying to reform education from within a top Chinese school. The “unsuccessful” in the title reflects the immense difficulty of changing a deeply entrenched system.
He is the co-founder and International Program Director of the Global Citizen Foundation. Through this organization, he works to promote project-based learning and foster “glocal” (global and local) perspectives among students and teachers, not only in China but also in other countries like Bangladesh and the United States.
Jiang’s core argument is that the traditional East Asian model of education, while effective in achieving baseline literacy and high test scores, is inadequate for preparing students for the complexities of the 21st century. He emphasizes the need for education that develops:
Critical Thinking: The ability to analyze, question, and synthesize information.
Creativity: The capacity to generate new ideas and solutions.
Collaboration: Skills to work effectively in teams.
Character and Empathy: Moral development and an understanding of global issues.
His work is not without controversy. Some people in China (including parents, teachers, and officials) believe the gaokao system, for all its flaws, is a fair and meritocratic path to social mobility. They see reforms as risky experiments that could jeopardize their children’s future.
He is also accused of elitism. His models are often implemented in well-resourced or international schools, leading to criticisms that his ideas are not scalable or practical for the vast majority of Chinese students in the public system.
Jiang has also to face systemic resistance. As his book title suggests, he has faced significant institutional inertia and resistance from a system built entirely around exam preparation.
Prof. Jiang Xueqin is a pivotal figure at the intersection of education, journalism, and social change in China. He is best understood as a pragmatic idealist—someone who deeply understands the Chinese system but is tirelessly working to inject elements of innovation and whole-person development into it, despite the formidable challenges. At least that is what DeepSeek told me. (*/)
Salah satu pemengaruh pikiran yang saya sukai dan berpengaruh bagi diri saya adalah Fahruddin Faiz. Dosen filsafat ini kerap membagikan mutiara pemikir-pemikir dunia lewat kanal lapak_mjs di platform YouTube dan Spotify.
Ia sanggup mengurai pemikiran kompleks untuk bisa dicerna dengan lebih baik oleh masyarakat awam seperti saya dan khalayak ramai penikmat konten.
Konten terkininya sangat mencerminkan keresahan saya beberapa waktu terakhir. Soal tak cuma kekisruhan di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini tapi juga semua kekacauan skala global. Dari genosida Palestina oleh Israel, hingga runtuhnya demokrasi dan pemerintahan Trump di Amerika Serikat, rasanya dunia memang sedang tidak baik-baik saja karena ia sedang berada di fase transformasi. Entah itu menuju ke yang lebih baik atau buruk. Intinya semua berubah. Fondasi-fondasi dunia lama rontok dan fondasi-fondasi dunia baru belum ditegakkan. Jadinya kacau balau begini.
Kalau Anda menyaksikan video penjelasan Faiz di atas, ia menjelaskan ada 6 tahap krisis nilai dan spiritual yang sedang terjadi dalam diri manusia zaman sekarang: pra-krisis, pemicu krisis, disorientasi dan kekosongan, pencarian intensif, pertemuan dengan kebenaran baru, dan integrasi dan transformasi.
Saya sendiri merasa bahwa saya tengah berada di fase ketiga (disorientasi dan kekosongan). Sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat sebuah negara dan planet, terjadi sebuah kehilangan arah dan kekosongan jiwa. Dengan begitu tak terbendungnya kekejian Israel, rasanya tergoda untuk mengatakan bahwa Allah tak menghiraukan penderitaan mereka rakyat sipil Palestina yang tak bersalah. Saya jadi beranggapan apakah penderitaan mereka adalah jalan penyucian jiwa? Saya sendiri merasa tak kuat lagi menyaksikan konflik. Di dalam negeri, masyarakat adat berseteru dengan rezim yang gila-gilaan soal ekstraksi. Di luar negeri juga banyak ketidakadilan. Mau menghindari media sosial, kok rasanya bakal ketinggalan banyak hal. Tapi mau terus memantau dari detik ke detik, kok lelahnya luar biasa. Secapek itu ya Tuhan. Dan akhirnya malah kesehatan pribadi yang jadi korban karena saraf ini kelelahan dalam kondisi alert/ waspada melulu.
Sebagian orang berhenti di fase disorientasi dan mengakhiri hidup mereka dengan jalan beragam, dari menghilangkan nyawa mereka sendiri atau menjerumuskan diri ke hal baru yang ternyata makin menyesatkan jiwa mereka.
Faiz mengatakan kita yang ada di fase disorientasi ini jangan putus asa. Teruslah berjalan ke depan untuk mencari cahaya. Caranya bisa bermacam-macam, dari membaca buku, berguru ke guru spiritual, atau mencoba melakoni meditasi, zikir atau pengalaman mistis. Cuma ya memang harus di jalur yang aman dan tepat. Kalau salah ilmu dan guru, kata teman saya bukannya dapat ilmu spiritual tapi malah dapat ‘cepiritual’. Ada teman saya yang mengalami penipuan dan perisakan oleh guru spiritualnya dahulu. Karena ia tahu si guru spiritual ini ternyata meniduri murid-murid perempuannya. Saat ada korban membuka mulut, ia meradang dan teman saya kena getahnya. Si guru spiritual itu terus beroperasi hingga sekarang. Tak bisa dijerat pasal tindak kriminal apapun karena ya, begitulah kejamnya dunia spiritual. Begitu logika sudah tersandera, habislah akal sehat. Seperti orang tua santri di pondok yang rela tak menuntut pimpinan pondok pesantren hanya demi ‘ngalap berkah’ meski di luar sana ada tuntutan deras mengalir agar si pimpinan pondok mau bertanggung jawab atas keteledorannya.
Tapi terlepas dari semua kekacauan tadi, saya mengambil kesempatan ini sebagai momen untuk terus ingat pada Allah dan waspada terhadap apa yang terjadi di dunia ini. Apapun yang terjadi semua bisa diatasi dengan terus ‘eling lan waspodo’. (*/)
Me teaching on stage in Palembang. (Photo credit: Okami Fitness)
My recent journey to Palembang, the capital of South Sumatra, offered a powerful glimpse into a future not dominated by algorithms, but defined by human connection.
I had been invited to teach a yoga class, an opportunity that arose not from a corporate booking, but from a simple, human interaction on social media.
A follower’s question in my TikTok live stream blossomed into a direct message, which led to a phone call from a local yoga teacher, and culminated in my visit to Okami Fitness.
This chain of events, sparked by genuine engagement, set the stage for a profound lesson in resilience.
During my time there, the gym owner who invited me shared an insightful perspective on the local fitness landscape.
He explained how homegrown brands like his were successfully carving out a space alongside international franchises.
His success, however, was not rooted in undercutting prices or flashy marketing.
The cornerstone of his business was a deliberate and authentic focus on building a strong community.
The gym was more than a place for physical exercise; it was a social hub.
Members greeted each other like family, creating an atmosphere of mutual support and belonging.
This loyalty, he understood, was his most valuable and non-negotiable asset, built on ethical practices and positive relationships with both clients and staff.
As one of his employees drove me to the airport, I asked how long he had been working at Okami Fitness. He said, “Been working there for 3 years…” That means he has been working there since the opening of the gym.
I asked further what made him stay that long. “It’s the owner. He’s very understanding and nice,” the employee told me. He handed me several kilos of pempek, which I can never eat on my own.
This experience in Palembang resonated deeply as I considered the global anxieties surrounding artificial intelligence.
In an era preoccupied with job scarcity and automation, the fitness industry—and more importantly, the community it fosters—stands as a compelling bastion of humanity.
While AI can optimize workout plans or analyze form through a camera, it cannot replicate the empathetic encouragement of a human trainer, the shared struggle of a group class, or the spontaneous camaraderie that turns acquaintances into friends.
The fear that AI will render us obsolete is, at its core, a fear of becoming dispensable to one another.
The true end of humanity would not be a robotic takeover, but a world where we no longer need each other.
Our innate longing for connection, for the exchange of feelings, thoughts, and encouragement, is our fundamental defense against such a hollow future.
The lesson from Palembang is a blueprint for thriving in this new age. It is not enough to simply possess a skill; one must weave that skill into the fabric of a community.
I manage several communities myself—across social media platforms, a book club, and a local website. These networks may not generate instant wealth, but they generate something more critical: trust, interaction, and mutual support.
By focusing on how we can help our community thrive, we shift from a transactional mindset (“selling a service”) to a relational one (“growing together”). In this model, success is collective.
Ultimately, surviving the “AI storm” requires a humility that technology lacks. It demands that we keep our egos in check and prioritize the trust and well-being of the people within our circles.
We are not solitary figures standing against the tide, but integral elements of a larger whole.
The key is to treat others with the respect and kindness we seek for ourselves.
The more genuine connections we nurture, the more resilient we become, creating a network of support capable of weathering any crisis.
At the end of the day, the most promising technology we have is not artificial intelligence, but the enduring, unautomated power of the human heart, beating in concert with others.
How about you? Do you have a community or are you part of a community? (*/)
P.S.: I wrote the draft and AI helped me sharpen my argument.
Di TikTok, rakyat yang semula geram terhadap AS berbalik menjadi mengolok-oloknya. Konon ada flash disk yang ikut dijarah dari kediaman dia dan begitu dibuka, ada foto-foto ia sedang di lapangan golf dengan celana berwarna menyolok mata, yang memicu sebuah tagar di TikTok: “Apakah AS itu boti?”
Boti sendiri istilah slang untuk menyebut seorang homoseksual/ gay dengan preferensi sebagai bottom saat berhubungan seksual dengan sesama pria. Dugaan itu makin dipertajam dengan adanya dildo berwarna hitam pekat yang disebut orang-orang sebagai black mamba. Mirip penis para pria Afrika yang ukurannya biasanya raksasa, jauh melebihi milik para pria Kaukasia dan Asia.
Ternyata spekulasi soal orientasi seksual itu juga beredar di ring 1 kekuasaan negara. Misalnya sejumlah sosok penting. Kita mulai dari X yang diperkirakan gay karena kerap dalam agenda kerjanya di luar negeri selama 1-2 hari tidak bisa dilacak oleh pers. Tentu ini menimbulkan kecurigaan besar. Apakah ia sedang pesta seks sesama jenis?
X ini juga sempat diduga sudah tak punya penis atau mengalami cacat di penis akibat kecelakaan granat di saat ia menjalani latihan keras dengan salah satu negara di Eropa. Tak sengaja granat meledak dan pecahan granat melukai area vitalnya. Seorang wartawan mencoba menanyakan ke kakak kandungnya tapi tentu saja kakak kandungnya menolak menjawab dengan alasan tak tahu menahu.
Lalu ada lagi Y yang secara hukum sudah menjadi mantan suami seorang wanita. Ia menikah dalam waktu yang singkat. Seorang pengacara yang juga LSL (laki suka laki) mengatakan: “Radar saya kuat jadi saya tahu dia orientasinya begitu.” Hal itu diperkuat dengan video-video yang beredar di media sosial yang menampakkan ia bermesraan dengan sesama pria.
Kemudian ada pula Z yang tak punya jabatan publik tapi ada hubungan darah dengan sosok penting di negara ini. Saat aparat-aparatnya gencar merazia grup-grup WhatsApp yang mengadakan pesta seks atau sekadar kumpul bareng sesama gay, ia malah sudah sejak kecil suka berpakaian wanita. Pernah ia tertangkap basah berpakaian daster saat tetamu datang ke rumahnya.
Begitu sang bapak tahu anaknya bukan pria tulen, ia langsung geram apalagi ia bekerja di lingkungan yang maskulinnya ekstrem. Gay yang gemulai bisa dijadikan bulan-bulan di dalam circle-nya. Konon hal ini juga yang memicu perpisahan dengan istrinya di kemudian hari.
Tapi meski si bapak juga diisukan gay, ia tak mau menerima kondisi anak kandungnya itu. Seseorang yang gay tidak serta merta bisa menerima kenyataan bahwa anak kandungnya adalah gay karena merasa homofobik. Bisa juga seseorang menerima orientasi seksual dirinya yang menyimpang tapi justru tak bisa menerima hal serupa dalam diri anak kandungnya. Di sisi lain, ada juga orang tua yang heteroseksual tapi menerima anaknya.
Sementara itu, sosok anak penguasa rezim sebelumnya juga diisukan pernah ada yang menjalin hubungan lesbian dengan P, istri seorang aktor termasyhur di Indonesia era 90-an. Namun, untungnya mungkin tak ada media yang bisa memberitakannya saking ketatnya sensor kala rezim itu berkuasa. Sekarang isu itu tak berhembus lagi seiring berjalannya waktu dan menuanya kedua sosok tadi.
Sosok satu lagi ialah P yang juga memiliki hubungan darah dengan salah satu sosok kunci di negeri ini. Ia generasi ketiganya. Menurut keterangan seorang pegiat komunitas gay, ia memang sudah terang-terangan ikut komunitas gay di kota S.
Yang sudah jelas ialah H yang seorang generasi kedua dari keluarga petinggi negara. Ia dikabarkan menjadi seorang duda sekarang setelah bercerai dari seorang wanita asing.
Rata-rata mereka ini ada yang menikah demi memenuhi tekanan sosial dan tuntutan keluarga yang terpandang. (*/)
Tahun 1998 saat krisis multidimensi menerpa Indonesia, memori saya yang masih tertancap adalah saat Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) kala itu mengumumkan Gerakan Cinta Rupiah. Melalui televisi milik anak sulung Presiden Suharto itu, pemerintah mengimbau masyarakat Indonesia untuk menggunakan rupiah dalam bertransaksi apapun. Saya yang masih duduk di bangku SMA kelas 1 merasa itu aneh karena ya saya memakai rupiah saban bertransaksi. Beli tempe mendoan, soto, nasi kucing di kantin sekolah, saya lakukan dengan rupiah. Ternyata itu imbauan bukan untuk saya. Lalu yang tak kalah aneh adalah imbauan pemerintah bagi masyarakat yang memiliki emas untuk mendonasikan emas sebagai cadangan devisa negara. Ternyata negara bangkrut saat itu. Dan saat saya naik kelas 3 SMA, saya pilih jurusan IPS dan mempelajari Tata Negara yang ternyata rumitnya, alamak. Di situlah saya mulai mendengar istilah “reformasi” dan “otonomi daerah”. Banyak aturan baru pasca Reformasi 1998 dan saya sebagai siswa SMA harus mempelajari aturan-aturan negara yang baru lahir itu. Saya ingat guru Tata Negara saya saat itu Ibu Suketji. ia bercerita panjang lebar yang bagi murid lain tentu membosankan. Saya menyimak karena saya di barisan depan.
Sekarang saya bukan anak SMA lagi. Saya sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan dan tahu secuil dua cuil soal politik di negara ini. Tentu saja kebanyakan fakta itu sangat pahit dan getir.
Akhir Agustus 2025 lalu menjadi saksi bagaimana negara ini kembali tersulut kemarahan lagi terhadap penguasa yang tak memahami aspirasi rakyatnya. Gara-gara ada video viral di TikTok yang menunjukkan sejumlah anggota dewan perwakilan rakyat yang berjoget ria dan berita kenaikan tunjangan mereka, akhirnya kemarahan rakyat tersulut sejak 25 Agustus 2025. Untungnya saya sudah kerja di rumah sejak awal Agustus 2025. Frekuensi saya ke Jakarta sudah sangat jauh berkurang. Dan itu ternyata adalah berkah tersendiri. Kegeraman makin menjadi-jadi setelah seorang sopir ojek daring bernama Affan Kurniawan meninggal akibat dilindas kendaraan milik Brimob di ruas jalan Pejompongan yang saya kerap lewati jika saya akan mengajar yoga di Jakarta.
Lalu 31 Agustus 2025 saya hadiri sesi tukar kabar secara daring dengan sejumlah pewarta dari Project Multatuli bersama Andreas Harsono, seorang aktivis hak asasi manusia dan pewarta kampiun. Mereka mengabarkan kondisi tempat tinggal masing-masing. Ada yang di Depok, Yogyakarta, Bekasi, dan sebagainya. Ada yang dekat dengan titik kerusuhan dan insiden, ada juga yang tinggal jauh dari hingar bingar itu.
Kemarahan terhadap DPR ini memang skalanya besar dan luas. Andreas berkata 37 gedung/ bangunan DPRD di Indonesia dirusak dengan level keparahan bervariasi. Bangunan MPR/ DPR di Palmerah tentu saja tak tersentuh karena tingkat pengamanan yang prima. Tapi gedung-gedung DPRD dengan pengamanan lebih minimalis praktis jadi korban.
Fokus masalah adalah reformasi sistem politik negara ini yang sudah bobrok dan tuntutan perubahan Polri agar lebih bersih dan tidak semena-mena dalam bekerja. Karena itulah, polisi dan DPR menjadi bulan-bulanan massa demonstrasi di mana-mana. Pos dan kantor polisi jadi sasaran kemarahan masyarakat. Banyak yang dibumihanguskan. DI TikTok bahkan ada wanita yang mengatakan dirinya diperas oleh polisi dan begitu ia tahu bahwa kantor polisi yang menjadi tempatnya diperas sudah rata dengan tanah jadi abu dan puing, ia tersenyum puas dan tak sengaja ada polisi yang memerasnya lewat lalu si wanita itu pun mengata-ngatainya sampai puas. Begitulah gambaran kepuasan masyarakat yang saat ini sudah mendendam kesumat pada polisi yang korup.
Di tengah kekacauan ini, Andreas menengarai adanya konflik antara TNI lawan Polri. Saya agak kaget karena saya pikir ini antara masyarakat/ rakyat Indonesia melawan negara (Presiden, DPR, TNI, dan Polri sebagai satu gelondong masalah raksasa yang harus dirombak, dipecahkan, dikoyak). “Oh, bahkan antara aparat sendiri ada clash juga ya kayak divisi dan departemen di sebuah perusahaan,” gumam saya.
Andreas menyoroti isu penerapan darurat militer yang bisa membahayakan rakyat dan demokrasi kita. Bila terlaksana, praktis kebebasan berekspresi rakyat yang sudah menurun bakal makin tertekan dan sama sekali tidak tersisa bak China atau Korea Utara. Tapi mungkin kita lebih mirip Korea Utara mengingat inkompetensi dan tingkat korupsi birokrat yang gila-gilaan.
Nama Adrian Napitupulu disebut sebab ia dianggap dekat dengan kelompok pengemudi ojek daring. Ia sendiri dari PDIP dan karena itulah kader PDIP tidak ada yang rumahnya menjadi sasaran kemarahan massa. Sementara itu, rumah-rumah pejabat dari Sri Mulyani (karena ucapannya soal target peningkatan penerimaan pajak yang membuat hati rakyat sakit), Ahmad Sahroni (karena ucapannya yang membodohkan rakyat yang ingin membubarkan DPR), Nafa Urbach (karena keluhannya yang terjebak macet kalau harus berangkat kerja dari Bintaro ke Palmerah), dan sebagainya.
Di tengah kekacauan saat ini, Andreas mengingatkan agar para jurnalis tetap fokus pada pekerjaan mereka yakni merekam sebanyak mungkin fakta yang mereka temui di lapangan, memverifikasi apapun yang didengar dan dilihat, dan mendokumentasikan itu semua sedetail mungkin. Jangan terburu-buru menyimpulkan berdasarkan teori-teori dari benak sendiri atau dari pihak lain yang belum terbukti validitasnya mengenai adanya pihak ketiga yang mendorong ontran-ontran ini meletus dan meluas sedemikian rupa.
Kenapa Andreas menyarankan wartawan fokus pada dokumentasi, bukan konklusi? Karena fenomena kerusuhan apapun itu biasanya sangat kompleks dan butuh waktu puluhan tahun untuk menguraikan dan menjelaskan serta mencerna.
Sementara itu, menyoal probabilitas diterapkannya Darurat Militer (DM), Andreas mengatakan bahwa kemungkinannya masih 50-50. tapi pemerintahan Prabowo juga memperhitungkan risiko dengan adanya perseteruan antara TNI dan Polri yang seolah ingin menjatuhkan yang lain. Andreas beralasan bahwa teorinya soal konflik TNI-Polri itu ia dapatkan setelah mengamati adanya pernyataan-pernyataan petinggi TNI yang menginstruksikan pembebasan tahanan-tahanan dalam kerusuhan Agustus 2025 ini. Yang aneh justru petinggi TNI yang langsung merespon tuntutan pembebasan itu, seolah membuat citra Polri yang sudah buruk makin terpuruk dan Polri dituding sebagai pembuat masalah. Hal ini memicu kegeraman Polri. Menurut Andreas, citra TNI relatif lebih baik di mata masyarakat kita (kecuali di Papua).
Wacana DM pun memantik reaksi banyak pihak, termasuk Veronica Tan, mantan istri Ahok yang kini bekerja sebagai Wamen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Ia menghimpun sejumlah aktivis perempuan dan mendesak Prabowo untuk menghindari penerapan Darurat Militer sebab belajar dari sejarah, penerapan DM akan membuat kelompok anak dan wanita yang paling menderita.
“Penting untuk berseru untuk tidak merusak dan menghentikan kekerasan. Jangan ada main hakim sendiri,” ujar Andreas.
Satu faktor penting yang tak bisa diabaikan dalam kekacauan ini adalah ekonomi negara. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan soal ekonomi ini, yakni nilai tukar rupiah-dollar AS, harga beras, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dari data CNBC ini, kurs rupiah-dollar AS masih dalam ambang batas psikologis. Belum anjlok parah.
Jika dibandingkan dengan beberapa bulan belakangan, rupiah sudah pernah menyentuh beberapa kali titik saat ini.
“Jika beras harganya naik apalagi menghilang dari pasar, kondisi bisa lebih kacau,” ujar Andreas. Ini memang beralasan sebab kalangan warga keturunan Tionghoa di BSD saja dikabarkan membanjiri supermarket untuk memborong beras dan minyak goreng demi berjaga-jaga jika peristiwa 1998 meletus kembali. Trauma kolektif 1998 memang sempat dihembuskan oleh sejumlah akun media sosial yang pseudonim tapi ditepis oleh sejumlah akun besar. Dan pesan perdamaian dengan kelompok Chindo makin dikuatkan oleh sejumlah pemengaruh di media sosial.
Ditanya apakah kejadian ini merupakan sebuah skenario besar (grand design), Andreas menampik.
Ia mengatakan meski memang kenaikan tunjangan anggota DPR dan pernyataan-pernyataan mereka menyakitkan hati rakyat, tapi tidak serta merta hal itu membuat rakyat boleh menjarah harta benda mereka.
Kembali ke soal wacana penerapan Darurat Militer (DM), syarat-syaratnya belum terpenuhi setidaknya sejauh ini. Kondisi Agustus 2025 ini belum separah 1998.
“Dulu 1998, sekitar 90 ribu jiwa tewas. Saat ini (31 Agustus 2025) di jumlah korban masih di bawah 10 orang,” terangnya.
Untuk memahami hasil akhir dari tarik ulur kekuasaan antara masyarakat sipil dan pemerintah yang dibekingi aparat bersenjata ini, kita bisa sederhanakan menjadi 5 sebagaimana yang bisa Anda baca di atas. Prediksi ini disusun oleh para pemikir di kelompok Utan Kayu. Kata Andreas, kita harus fokus mencapai nomor 3 agar negara kembali stabil.
Ada teman bergurau di Instagram story-nya bahwa di ruang psikolog rekannya beralasan pikirannya kalut sebab memikirkan nasib Indonesia. Saya terkekeh. Saya tak mau seperti itu. Saya tak akan membebani diri saya yang cuma seorang manusia biasa tanpa banyak kekuasaan ini untuk memikirkan hal-hal yang di luar kendali dan kuasa saya. Saya bisa sakit lahir dan batin. Saya putuskan untuk lebih ketat menjaga tidur, aktivitas olahraga, menulis, dan melaksanakan ibadah harian agar saya tidak gila. Saya mewajibkan diri untuk punya jangkar agar tidak terombang-ambing. Kalau sakit, negara tak ada di samping saya, kan?
Sekian dari saya yang menuliskan ini. Tugas saya selesai untuk sekarang. Kini yang saya bisa lakukan ialah rehat sejenak dan membiarkan semesta bekerja menyelesaikan sisanya. Ah leganya… (*/)
Saya pernah membaca sebuah buku, sayang lupa judulnya. Intinya adalah agar sebuah masyarakat di permukiman baru bisa berkembang lalu menjelma sebagai masyarakat yang mandiri, diperlukan sebuah tempat ketiga. Bukan rumah kita. Bukan juga tempat kerja.
Tempat ketiga ini adalah kafe-kafe, toko-toko buku, taman-taman publik tempat orang bisa sedikit banyak terbebas dari kewajiban rumah tangga dan tanggung jawab profesional mereka. Di sini, mereka bisa mengobrol, bergosip, atau sekadar melamun, alias ‘gabut’.
Nah, atas dasar itulah saya membuat komunitas yoga. Sudah berjalan selama 4 tahun belakangan di area perumahan baru saya. Dibilang berkembang pesat ya tidak juga. Jumlah pesertanya tak ada 10 tiap kali saya menggelar latihan yoga bersama dengan skema donasi sukarela. Memang harus sabar, karena ini bukan Jakarta, batin saya.
Lalu komunitas kedua yang saya coba jalankan adalah klub buku, Maja Book Party. Saya memberanikan diri sebab saya tahu ada banyak pekerja intelektual kelas menengah yang tinggal di sini. Sayangnya kebanyakan masih berdiam di rumah saja jika libur dan ada waktu senggang. Mungkin karena lelah dengan rutinitas dan perjalanan commute yang tak bisa dibilang singkat. ke Tanah Abang saja dari sini makan waktu 1,5 jam.
Untungnya ide saya didukung sejumlah tetangga yang juga penulis novel, pengacara, wartawan, psikolog, dan sebagainya.
Dan pertemuan kedua komunitas ini diisi dengan topik diskusi yang cukup serius dari aktivis HAM dan jurnalis yang menjadi salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Andreas Harsono. Kebetulan beliau juga klien yoga saya.
Jumat siang pekan lalu, kami mengobrol di sebuah toko buku second di perumahan kami soal alasan mengapa jurnalisme masih diperlukan di tengah era tsunami informasi dan masa kebangkitan Kecerdasan Buatan (AI) sekarang ini. Andreas menggunakan buku terpopulernya “Agama Saya Adalah Jurnalisme” sebagai referensi diskusi. Katanya ia juga bakal merevisi isi buku itu sebentar lagi agar lebih relevan dengan tantangan yang dihadapi jurnalisme saat ini dengan kemunculan AI.
Mungkin bagi banyak orang, membuat community seperti ini adalah sesuatu yang ‘smilikity’ alias nggak jelas 😅 Tapi saya yakin setidaknya ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa orang yang belum tinggal di sini ingin pindah ke sini dan bagi yang sudah tinggal di sini, merasa sayang untuk meninggalkan kota baru ini. 😇
Anda bisa membaca ringkasan diskusi komunitas buku kami di newsletter Substack ini. Jangan lupa berlangganan untuk mendapatkan update terbaru dari diskusi kami. Salam. (*/)
Kemarin saya iseng saja menghubungi sebuah UMKM lokal dan mengatakan ingin menulis soal bisnis kecilnya. Si pemilik ternyata sedang di lokasi dan saya pun menyatakan niat saya berbincang sebentar setelah menyantap dan membayar makanan. Saya ke sana bukan dalam kapasitas sebagai kreator konten yang bakal mereviu produk kuliner mereka tapi cuma menulis saja untuk artikel website yang saya miliki.
Di sini ada juga beberapa kreator konten dan salah satunya saya kenal. Ia diundang oleh banyak UMKM demi untuk membuat video Instagram atau TikTok yang kemudian ditayangkan demi meningkatkan jangkauan agar produk makin dikenal di segmen konsumen yang tepat.
Kembali ke si pemilik UMKM, ia berkata anak-anaknya sedang sibuk kerja dan kuliah di luar negeri. Taiwan tepatnya. Saya katakan sedang alami puncak musim panas ya Taiwan karena anaknya tak sanggup kembali ke sana akibat mataharinya yang lebih gila daripada Jakarta. Justru Jakarta yang sekarang hujan melulu.
“Iya anak saya kemarin tuh mau saya suruh ke Amrik aja. Kerja di sana di resto apa gitu. Ada temen saya di sana. Di Seattle,” ceritanya pada saya.
Saya sepakat, wawancara visa AS memang sangat tak bisa ditebak hasilnya. Padahal dia etnis Chindo dan bukan Islam tapi karena sekarang Trump memang memusuhi siapa saja yang bukan warga Amerika jadinya wawancara itu gagal mengantarnya ke sana.
Saya bertanya apakah anaknya memang mau tinggal di sana selamanya untuk kemudian mendapatkan green card. Ia menjawab dengan meringis, ilegal kok.
Hah? Saya kaget. Ya karena saya dengar dan baca memang konsekuensinya bakal berat kalau ketahuan oleh Imigrasi sana. Bisa di-blacklist. Soal imigrasi begitu, saya tak berani main-mainlah sama Amrik. Indonesia mungkin bisa dianggap remeh karena masih lemah soal monitoring dan evaluasi tapi kalau sudah CIA dan FBI, bakal repot. Mereka saya yakini punya catatan dan dokumentasi perilaku kita tak cuma di dunia nyata tapi juga maya apalagi beberapa waktu lalu sudah ada perjanjian antara rezim sekarang dengan rezim Trump soal pengelolaan data pribadi WNI.
Ia berkata gaji sebulan di sana 60 jutaan kalau dirupiahkan. Sangat worth it daripada bekerja sama capeknya di Indonesia ini. Saya mengangguk sepakat dari dalam hati.
Semua orang tampaknya sedang ingin keluar negeri untuk mengadu nasib atau pindah ke sana tapi di saat yang sama saya juga menyaksikan aliran masuk warga asing ke Indonesia.
Beberapa hari lalu saya nongkrong di sebuah kafe baru di sekitar rumah dan di dalamnya sudah duduk seorang pria yang lebih paruh baya daripada saya. Ia duduk dengan laptop terbuka. Rautnya ada gen Asia Selatan atau Barat. Entah yang benar yang mana tapi begitu temannya yang orang Indonesia tiba, saya tahu ia orang Asia Barat. Aksen bahasa Inggrisnya sangat kental dengan intonasi Arab.
Dalam percakapan mereka soal bisnis kos-kosan di Jakarta, mereka bercakap-cakap soal pemandangan sebuah lansekap Semenanjung Arab yang menjadi tanah kelahiran si pria asing itu. Saya sempat tangkap kata “Palestina”, lalu “Masjidil Aqsa”. Apakah benar ia lahir di Palestina sana? Apakah ia pengungsi negara yang jadi bulan-bulanan oleh Israel itu?
Setelah cangkir americano saya tandas, saya meninggalkan kafe dan bergumam: “Kok bisa ya ada orang asing yang tertarik hidup dan tinggal di Indonesia?”
Tapi kalau saya pikir ya memang masuk akal kok kalau mereka menganggap Indonesia tempat tinggal yang ideal. Terlepas dari segala cacat dan aib segenap perangkat negara ini dan perilaku aneh bin ajaib para rakyatnya, Indonesia sebagai daratan punya lokasi yang strategis. Suhu dan cuacanya ideal, tak sering berubah drastis. Tidak ada musim yang ekstrem panasnya dan ekstrem dinginnya. Semua masih bisa ditolerir. Banjir dan kemarau masih bisa diatasi, tak sampai separah Afrika.
Masyarakatnya juga ramah dan terbuka. Siapa saja disambut, dari bandar narkoba sampai raja asing saking terbuka dan ramahnya.
Jadi, negara mana yang lebih baik untuk ditinggali? Entahlah. Saya tak bisa menjawab karena memang jawabannya tergantung masing-masing manusia. Untuk si pria Asia Barat di kafe tadi mungkin Indonesia bisa menawarkan kesempatan baru dalam hidupnya yang sudah sarat dengan konflik. Ia mau tempat yang damai dan kondusif untuk memulai bisnis dan hidupnya lagi. Saya sepakat bahwa Indonesia damai dan karenanya ideal untuk ditinggali tapi untuk berbisnis sepertinya agak susah kecuali tahu jenis bisnis yang cocok dan bisa mengakali taktik pemerintah yang makin tengil dengan segala strategi pengerukan pajaknya di segala lini kehidupan.
Untuk anak-anak si pemilik UMKM, mungkin memang cocoknya di negara-negara lain yang lebih egaliter dalam banyak hal terutama ketersediaan lapangan kerja dan kelayakan gaji sebagai pekerja. Di Indonesia, etnis Chindo memang sudah lama diberi jatah berbisnis saja. Itu sebuah stigma rasial dari zaman Kolonial Belanda yang masih setia kita pakai sampai abad AI.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah menurut Anda Indonesia ideal untuk Anda tinggali atau ada negara lain yang sudah lama Anda incar sebagai sebuah tempat tinggal baru selama sisa hidup Anda? (*/)
Malam ini saya menyadari bahwa jauh sebelum anak-anak muda Gen Z itu demam journaling seperti sekarang, saya juga sudah melakukannya sejak lama. Tentu saja, karena saya termasuk Generasi Geriatric Millennials yang lebih tua dari mereka. Tapi saya menggunakan medium yang berbeda: blog privat.
Entri blog itu untungnya saya kubur alih-alih jadi tweet atau artikel blog yang berisi uneg-uneg. Untungnya juga saya bukan orang yang temperamen sampai jadi tak waras dengan mengunggah kegembiraan dan keluhan soal pekerjaan di internet seperti sebagian orang sekarang. Gaji tinggi dipamerkan di media sosial, dipecat. Tertangkap basah berkomentar seronok via DM atau second account bisa di-doxing dan kena PHK tempat kerja.
Artefak itu adalah sebuah file catatan harian pribadi yang saya tulis 27 Januari 2012 yang saat makan malam tadi tak sengaja temukan. Isinya keluh-kesah saya soal komunikasi yang tak jelas antara saya dan manajer yang membuat saya frustrasi. Dan tiga tahun setelahnya, saya masih bekerja di sana. Kalau dibaca-baca lagi saya memang saat itu gila mau bertahan di sana. Tapi itu sudah jadi suratan takdir yang tak bisa diubah. Sudah berlalu dan seharusnya saya ‘tutup buku’.
Kebetulan siang hari tadi juga saya menerima paket buku tulis untuk menulis jurnal yang secara tampilan mirip dengan Moleskine yang mahalnya selangit itu. Tapi merek Joyko ini untungnya jauh lebih murah meriah (beli di sini buku jurnalnya). Cuma Rp43.600 per bukunya. Sementara itu, satu buku jurnal Moleskine bisa lebih dari 500 ribu. Becanda memang buat ukuran sebuah buku tulis in this economy. Ya kecuali kamu kreator Amerika yang tak harus pusing dengan masalah kurs dollar seperti Zurkie ini.
Meromantisasi hidup juga adalah sebuah mekanisme menghadapi hidup yang tak jelas sebagai WNI. Sementara para petinggi negara bisa berakrobat dengan pemblokiran rekening rakyat, reaksi rakyat akar rumput yang kesal, lalu abolisi dari Presiden untuk Tom Lembong dan Hasto dan segenap lobi-lobi politik yang licik dan picik, saya tak ada alasan harus mengikuti semua berita itu karena saya lelah. Toh tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali mengomentari di Instagram stories, yang sebetulnya juga membuang energi saja.
Lebih baik saya menulis sesuatu. Entah itu untuk mengais rupiah dengan menulis blog atau buku, atau juga dengan menulis catatan pribadi untuk bisa sekadar meromantisasi hidup yang biasa-biasa saja ini.
Mungkin saya akan bisa bangga suatu hari nanti jika tulisan saya dibeli orang dan dibaca untuk dikomentari dengan iringan decak kagum atau simpati atau rasa ngeri atau jijik mungkin.
Seperti diary-diary yang dibeli oleh si Joanna Borns ini. Saya menikmati sekali saat ia membeli diary jadul kemudian membacakannya untuk audiens. Ada rasa asyik yang tak tergambarkan dengan kata-kata saat bisa kembali ke masa saat si penulis diary masih bernapas dan bisa menulis. Ya karena kebanyakan diary jadul dijual sebagai ‘estate’ alias harta yang diwariskan orang mati. Diary-diary semacam itu kemudian dijual bebas di eBay. Dan ada juga kolektor dan orang iseng seperti Joanna yang membelinya. Semoga saja jurnal saya suatu hari bisa dijual nanti. Haha.
Meski saya sudah mulai menulis jurnal digital sejak tahun 2011-2012 tapi harus saya akui menulis jurnal fisik memiliki sensasi lain. Saya sangat menikmati menulis dengan tangan tapi saya cukup trauma jika ada orang lain yang membaca jika jurnal itu ketinggalan atau mungkin tak sengaja terbuka di tempat umum. Bisa kacau.
Jurnal digital lebih praktis karena saat saya rindu dengan momen tertentu, saya bisa melacaknya lagi dengan menggunakan fitur pencarian. Tinggal ketik, bisa muncul deh entri yang dicari. Kalau saya menulis jurnal tulisan tangan, sangat merepotkan penyimpanan dan pencariannya. Tapi ya sudahlah, saya mencoba menggabungkan sensasi menulis di kedua medium ini karena saya adalah generasi millennial yang fleksibel. Bisa beradaptasi dengan gaya hidup primitif sekaligus modern tanpa banyak kesulitan. Analog oke, digital ayo aja. Selentur itu otak kami ini.
Jadi bagaimana? Sudah siap meromantisasi kehidupan yang nelangsa dan membosankan ala plankton jelata di era yang penuh ketidakjelasan ini? (*/)
Buku ini rekomendasi bacaan yang tepat untuk Anda yang sedang gundah gulana dalam hidup. (Foto: Shopee.co.id)
“Mengungkap Rahasia Hari Kemudian” seakan ditulis Imam Ghazali untuk menyanggah semboyan hidup masa kini “You Only Live Once” alias YOLO. Pemikiran YOLO banyak diadopsi orang modern untuk menjustifikasi gaya hidup mereka yang mengedepankan hedonisme dan materialisme.
Tapi apakah memang pasti kita akan hidup sekali saja? Setelah saya melihat ketidakadilan merajalela di muka bumi ini, makin yakin bahwa semua ini bakal ada balasannya yang setimpal. Sistem peradilan manusia yang bobrok tak akan sanggup menegakkan keadilan seratus persen. Apalagi sistem peradilan 62. Kita bisa lihat kasus Tom Lembong baru-baru ini yang secara terbuka menunjukkan kebobrokan sistem ini.
Sebagai rakyat kecil, saya cuma bisa menghela napas. Bahkan untuk mengkritik di media sosial pun saya tak punya energi lagi. Lebih baik saya habiskan energi yang sangat terbatas ini untuk bertahan hidup. Biarkanlah mereka berpolah tingkah semau mereka tapi ingatlah bahwa kita tidak hidup cuma sekali lalu mati tanpa diadili. Semua akan ada balasannya.
Buku Imam Ghazali ini mengisahkan apa yang disebut oleh filsuf berdarah Yahudi Yuval Noah Harari sebagai “ciptaan terhebat manusia” sebab ia pernah berkata: “Agama adalah ciptaan terhebat manusia” (Religion is our greatest invention). Dengan demikian, ia menafikan bahwa agama bagi para pemeluknya adalah firman Tuhan. Tapi tentu saja ia mungkin sampai ke kesimpulan itu sebab dikecewakan dengan penerapan agama oleh banyak manusia di sekelilingnya yang tak sanggup mengejawantahkan ajaran agama yang konon baik semua itu menjadi nyata.
Ia juga berucap bahwa kemampuan bercerita ialah kekuatan super manusia sebagaimana ditulis Carmine Gallo dalam tulisannya “The Power of Storytellers to Shape Our World” di laman Forbes.com. Jika memang agama itu cerita rekaan manusia sekalipun, pemahaman agnostik Harari sebenarnya juga sebuah cerita semata. Jadi pernyataannya boleh saja tidak kita anggap serius sebagaimana dia tidak menganggap serius ajaran agama Anda dan saya.
Kembali ke buku “Mengungkap Rahasia Hari Kemudian”, di dalamnya Anda akan menemukan penjelasan runtut dan lengkap mengenai apa yang terjadi pada manusia setelah ajal menjemput. Dijelaskan bahwa kehidupan dan kematian manusia itu tidak cuma sekali tapi berkali-kali. Kehidupan kita yang pertama dan sudah kita lupa ialah saat kita masih berupa roh atau jiwa tanpa jasad/ raga. Saat itu kita ditanya oleh Allah atas kesaksikan kita bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam satu-satunya. Begitu selesai, kita dimasukkan Allah kembali dalam sulbi/ punggung Nabi Adam AS. Inilah kematian kita yang pertama. Lalu roh kita dimasukkan Allah dalam bejana di Arsy/ singgasana-Nya. Saat roh kita ditiupkan Allah ke dalam sebuah janin, inilah yang disebut sebagai awal kehidupan kita yang kedua. Jadi saat ini kita, Anda dan saya, sebenarnya sudah pernah merasakan kematian dan sekarang ini kita hidup kedua kalinya.
Namun, kematian pertama terasa lebih nyaman sebab di kematian kedua nanti, tak peduli Anda orang saleh atau tidak, rasanya konon akan tetap menyakitkan. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa sakaratul maut itu lebih dahsyat sakitnya dari tebasan 300 pedang. Deskripsi rasa kematian lainnya diungkap oleh Ka’ab pada Umar RA yang menyatakan bahwa kematian seperti pohon yang banyak durinya di rongga badan manusia dan tidak ada satu urat dan sendi pun yang luput dari rasa sakit bak ada duri di semua bagian tubuhnya (hal. 17).
Buku ini sangat saya sarankan bagi Anda pembaca muslim yang ingin menenangkan hati yang gundah di masa yang penuh cobaan ini. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Peperangan di sejumlah bagian dunia, genosida terhadap bangsa dan kelompok minoritas yang dilakukan secara terang benderang, rezim pemerintahan yang jauh dari kata adil dan mengayomi, dan berbagai tindak kebodohan, tindakan penindasan dan kekerasan yang masif. Penistaan tak cuma pada agama tapi juga pada ilmu pengetahuan juga terjadi di mana-mana dengan dinormalkannya mengangkat pejabat dan petinggi yang tak punya kompetensi dan kepakaran di bidang kerjanya. Dan orang-orang yang menggunakan agama sebagai tameng dan menistakan ilmu pengetahuan layaknya mereka orang yang terpelajar dan bijak. Sungguh mengerikan.
Jika Anda sanggup mematikan ponsel lalu menghabiskan waktu sejenak untuk melupakan dunia yang kacau balau dan fokus pada kehidupan akhirat nanti, saya pikir buku terjemahan bahasa Indonesia dari kitab ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah terbitan Penerbit Lentera inilah salah satu rekomendasi saya. Bisa dibaca di mana saja sebab ketebalannya cuma 100-an halaman, Kalau tanpa riwayat penulis dan catatan kaki, ketebalan buku ini cuma 109 halaman. Cekak dan berdampak. (*/)