• Lelahnya menjadi relevan di tengah arus zaman.

    Siang itu saya memesan sebuah taksi. Saya lihat sang pengemudi seorang ibu paruh baya. Jarang sekali saya menemukan seorang pengemudi taksi yang seorang perempuan usia 50-an. Rambutnya dipotong pendek, putihnya mulai merata, kulitnya kering karena AC mobil dan sinar matahari. Ia mengaku bukan berasal dari Jakarta.

    “Lalu tinggal di mana sebelumnya, bu?” Tanya saya menanggapi permintaan maafnya saat ia mengaku tak paham lokasi gedung yang saya tuju siang itu. Gedung yang saya tuju relatif populer di Jakarta jadi sangat kecil kemungkinan seorang pengendara taksi yang berpengalaman tidak tahu.

    Ternyata sang ibu pengemudi memang pengemudi baru. “Saya dari Bandung. Nekat mengadu nasib di Jakarta, mas,” tuturnya sambil menyetir penuh konsentrasi pada kondisi jalan Sudirman yang saat itu sangat sesak tapi lancar.

    Saya tak bertanya mengapa. In this economy, rasanya naif kalau orang melakukan hal-hal yang lazim kalau bukan untuk mengais rupiah di kolong langit.

    Umurnya 54 tahun. Belum setua ibu saya yang sudah pensiun dan menyibukkan diri dengan mengurus rumah dan bepergian ke tempat-tempat wisata bersama teman dan keluarga.

    Yang menarik menurut saya ialah karena logat Jawa Tengahnya yang sangat medhok. Itu agak berlawanan dengan pengakuannya yang katanya sudah tinggal di Parijs van Java selama 3 dekade. Di sana, ia pernah bekerja sebagai pekerja di bidang pemasaran, mirip saya juga. Kemudian ia memiliki 3 orang anak laki-laki. Anehnya saat menyebut anak laki-laki, ia tak mengatakan “putra”. Itu karena dalam bahasa Jawa, anak laki-laki disebut sebagai “putro”. Dan kata itu secara tak sadar dipakai juga oleh orang Jawa saat mereka berbahasa Indonesia. Namun, ibu ini tidak menggunakan istilah “putra”. Jadi menurut saya ia sudah kehilangan ke-Jawa-annya di situ.

    Namun, di aspek mentalitas dan kultur ia sangat Jawa. Ia bercerita sepanjang perjalanan soal bagaimana perjuangannya sebagai sopir taksi burung biru selama 3 bulan terakhir ini. Sebuah rentang waktu yang sungguh sebentar untuk ukuran pengemudi taksi yang berpengalaman.

    Komentarnya soal Jakarta panjang lebar tapi intinya begini: “Saya kaget dengan budaya taksi di sini (Jakarta). Ternyata saya boleh ya masuk ke parkiran gedung tanpa harus dipersilakan masuk oleh sekuritinya. Saya pikir kalau sekuriti memanggil, baru saya boleh masuk ke dalam ambil penumpang.”

    Ia ditertawakan oleh teman-teman sesama pengemudi taksi. “‘Mana bisa dapat penumpang kamu kalo mikirnya kayak gitu?‘ kata temen saya. Saya ketawa aja. Ya maklum anak baru. Hahaha.”

    Ia juga masih dalam fase belajar untuk menelusuri jalan-jalan protokol di ibu kota ini. Kalau harus bekerja tanpa Google Maps, terus terang ia tak sanggup. Ia bahkan mengaku heran kalau ada teman-teman pengemudi yang bisa menemukan ‘jalan-jalan tikus’.

    “Saya sering sudah berkali-kali melewati sebuah lokasi atau jalan dan kalau ditanya bagaimana caranya ke sana, saya masih tak bisa menjelaskan. Saya duga karena otak saya sudah full memory-nya,” ujarnya.

    Ia masih ingat dengan nomor telepon landline ibunya yang bahkan sekarang sudah tidak ada, nomor ponsel suaminya, nomor ponsel adik kandungnya, bahkan nomor telepon kantor yang sudah lama ia tinggalkan dahulu. Karena otaknya masih penuh dengan hal-hal itulah, ia mengaku susah memasukkan informasi baru ke dalam otaknya.

    Saya merespon: “Tapi setahu saya memang otak perempuan memiliki kemampuan spasial yang lebih rendah dari otak pria kok, bu. Jadi bisa dimaklumi mungkin.”

    Tapi ia tak mau memaklumi hal itu. Ia mengatakan pada saya sendiri bahwa dirinya menolak tua. Dan begitu ia menyebut kalimat itu, saya bisa menyimpulkan bahwa motivasinya mengambil pekerjaan sebagai pengemudi taksi burung biru ini di luar zona nyamannya adalah salah satunya karena keinginannya untuk tetap bisa muda dan relevan dan dibutuhkan oleh dunia bagaimanapun caranya. Inilah cara yang ia bisa temukan.

    “Awalnya saya syok dengan budaya kerja di Jakarta ini. Mungkin kalau di Jawa Tengah atau Bandung, budaya kerjanya lebih santai. Sebagai pekerja yang lebih tua, saya mungkin akan didahulukan oleh yang lebih muda. Tapi di sini, saya bahkan harus bersaing dengan pengemudi-pengemudi yang jauh lebih muda,” jelasnya.

    Namun, ia menerima konsekuensi itu. Ia tak mengeluh bahkan berkata: “Justru saya malah kadang bersyukur mereka (anak-anak muda) masih mau bersaing dengan saya. Itu tandanya saya masih dianggap kompetitor yang setara. Karena itu saya merasa jadi lebih muda. Hahaha!”

    Ia menyoroti kecenderungan kaum pekerja ibu kota yang tidak mengindahkan faktor umur. “Semua orang dianggap setara di sini. Meski umur saya wanita yang lebih tua, anak-anak muda yang jadi driver menganggap saya sebagai driver juga. Saya tidak harus didahulukan kalau datang lebih lambat. Saya tidak otomatis mendapatkan tempat parkir yang lebih dekat dengan pintu keluar fasilitas umum dan itu artinya saya yang sudah tua dan tak bisa membawa barang-barang bawaan berat penumpang ke mobil bakal lebih kerepotan.”

    Ia ada benarnya. Jika kita mau tetap terus belajar dan mengajak otak untuk tetap bekerja keras agar neuroplastisitas terjaga, Jakarta-lah tempat yang tepat. Ia mengajak kita terus aktif, bergelut dengan kondisi kehidupan yang makin hari tak makin melembut. Malah makin keras dan getas.

    Tapi saya pikir ada juga titik saat manusia ingin menyerah. Membuang semua ambisi dan menjalani hidup dengan apa adanya. Tanpa ngoyo. Dan orang-orang yang berpandangan seperti itu memang tidak cocok hidup di ibu kota. Si ibu mengambil contoh beberapa rekan pengemudinya yang ‘narik’ dengan mindset slow seperti itu dan akibatnya mereka kurang bersemangat dan akhirnya tergeser. Semangat juangnya nggak ada, katanya. Apa mau dikata, memang sudah saatnya mengerem dan berhenti.

    Saya sampai di gedung tujuan dan sang ibu pengemudi berpesan: “Apa ada barang yang ketinggalan? Apa saya harus bayar parkir nanti?”

    Saya pun menjawab dengan sopan semua pertanyaannya sembari menutup pintu mobil dan pergi ke dalam gedung.

    Setelah duduk beberapa saat di dalam, melalui WhatsApp seorang rekan kerja yang memesankan taksi tadi bertanya: “Apakah taksinya sudah dibayar?”

    Saya terkejut: “Lho, memangnya nggak dibayar dari aplikasi? Kupikir tadi kamu bayar via aplikasi…”

    Dan mungkin si ibu pengendara taksi tadi masih menunggu di bawah gedung, sambil mengutuk saya dan menatap aplikasi di layar gawainya: “Aku belum dibayarrr! Gimana ini…?”

    Aduh, maaf ya ibu. Aku tak bermaksud tak membayar. Ah ada -ada saja… (*/)

  • Kemarin saya iseng menanyai ChatGPT soal informasi yang ia ketahui soal saya. Ia menyebutkan bahwa saya adalah seorang penulis, editor, ghostwriter, sekaligus guru yoga bersertifikat 200 jam, yang aktif di berbagai platform seperti Kompasiana, Medium, LinkedIn, dan blog pribadi ini.

    Tak hanya itu, ia juga tahu latar belakang pendidikan, perjalanan karier saya, sampai perjalanan yoga saya. Tak heran karena ia mengumpulkan informasi dari sejumlah website yang pernah memuat tulisan saya dan tulisan orang lain soal saya.

    Saya sendiri memang masih aktif menulis tak cuma di sini tapi di Kompasiana, Medium, LinkedIn, dan Substack. Ternyata kebiasaan menulis blog itu ada gunanya juga bahkan saat SEO mulai kehilangan tajinya. Karena semua AI Bot itu ternyata butuh asupan informasi dari blog dan website.

    Lalu soal tulisan-tulisan orang lain mengenai saya, untungnya saya punya sejumlah kenalan wartawan di media-media besar seperti Kompas, Detik, Loker.com, dan RMOL yang membuat mereka dengan mudah bertanya pada saya saat ada isu soal yoga yang muncul dan viral di tengah perbincangan masyarakat kita. Di situ saya tampil sebagai pakar di media yang mapan. Maka tak heran ChatGPT memilih sumber itu.

    Setelah tahu begitu pentingnya menaruh informasi sebanyak mungkin ke internet, saya paham gunanya berada di sebanyak mungkin platform meski memang melelahkan. Istilahnya “spread myself too thin” karena saya menyebar sebanyak mungkin energi saya untuk membuat konten di sebanyak mungkin platform dan media baru. Tapi ternyata cara itulah yang membuat saya dipandang kredibel sebagai pakar di era digital ini.

    Bayangkan jika saya cuma fokus di satu platform, misalnya di Instagram saja atau di blog pribadi saja. Mungkin saya tak akan bisa dikenal lebih banyak orang dan membuat saya juga lebih kecil kemungkinan dianggap seseorang.

    Anehnya, saya juga memiliki blog di blogger.com dan wordpress.com dan tulisan saya di sana sudah lama terpajang sejak 2009 dan tidak disentuh oleh ChatGPT sama sekali. Jadi, apakah ada kesepakatan bahwa ChatGPT tidak boleh menggunakan AI crawler-nya sampai ke blog-blog milik Google dan WordPress? Mungkin saja. Namanya juga kompetisi bisnis.

    Media sosial yang dirambah AI ternyata cuma LinkedIn. ChatGPT entah kenapa tidak menampilkan konten-konten saya di Instagram (ya karena Meta juga punya AI-nya sendiri). Lalu saya pikir masuk akal karena LinkedIn dan Open AI/ ChatGPT masih berada di satu ekosistem Microsoft milik Bill Gates.

    Lalu saya coba bertanya siapa diri saya ke DeepSeek. Ia tak tahu saya sama sekali. Mungkin karena ia diblokir di mana-mana oleh platform-platform yang saya pakai sebagai media berkarya/ menulis/ membuat konten. Mungkin saya harus memakai platform konten di China jika mau dikenal di sana via DeepSeek.

    Lalu Gemini dari Google menampilkan saya sebagai blogger Kompasiana dan penulis buku meski saya punya banyak blog gratisan di blogger.com sejak lama. Saya duga karena ia menganggap buku sebagai tanda kredibilitas. Buku itu memang masuk Google Books. Lalu anehnya ia memasukkan info dari profil dan konten Quora saya.

    Lalu di Meta AI, saya malah dikatakan sebagai seorang aktor film dan sinetron. Haha. Saya sampai kaget. Bagaimana bisa? Apakah Meta AI ini tidak mengumpulkan info saya dari paltform media sosial yang memuat konten saya? Padahal akun Thread dan Instagram saya tidak dikunci sama sekali. Publik sepublik-publiknya karena saya memang pakai untuk tujuan edukasi, informasi serta promosi jasa kelas yoga saya.

    Tapi sekali lagi maksud saya adalah jika ingin membangun personal branding (entah apakah istilah itu masih relevan dengan era sekarang), ternyata menulis blog dan menulis di website masih relevan juga. Blog dan website terbukti masih relevan selamanya karena AI itu mau ambil informasi dari mana kalau bukan tulisan-tulisan dari blog dan website? (*/)

  • Seseorang menghubungi saya via Threads dan mengatakan: “Kak, apakah sertifikat workshop itu bisa dijadikan sertifikasi untuk mengajar yoga? Ada yang mengandalkan sertifikat mengikuti workshop beberapa jam terus berani menjadi guru yoga”.

    Sebagai guru yoga, saya pun terpanggil untuk menjawab secara gamblang agar lebih banyak orang tahu pentingnya memahami kualifikasi orang yang mengajari Anda yoga sebelum Anda memasuki kelas mereka.

    Mengapa ini penting? Karena taruhannya adalah keselamatan badan Anda sendiri. Anda bisa mengalami cedera seperti yang dialami orang tersebut di atas.

    Minimal 200 Jam

    Berdasarkan standar Yoga Alliance, seorang instruktur yoga harus menyelesaikan program RYT 200 (Registered Yoga Teacher 200-hour) untuk dapat mengajar yoga secara komersial bagi masyarakat umum. Saya berikan penekanan pada kata “komersial” dan “umum” karena di sini artinya muridnya instruktur ini bukan sebatas keluarga atau teman dekat atau tetangga yang mungkin kalau cedera atau kurang aman mereka cenderung tidak akan mempermasalahkan ke meja hukum.

    Kalau seseorang mengaku-ngaku instruktur yoga dan kemudian membuka kelas bagi kalangan umum dan menarik tarif tertentu untuk itu, sudah seharusnya ada pertanggungjawaban (accountability) jika terjadi sesuatu pada badan murid yang mengikuti. Itu karena sedikit banyak efek yang dirasakan oleh murid adalah cerminan dari keabsahan metode mengajar yoga si instruktur yang bersangkutan. Jika ia belajar di sekolah yoga yang diakui kurikulumnya dan credentials para pengajarnya juga diakui dan sepak terjangnya mereka terbukti baik di dunia yoga, maka pastinya kualitas mengajarnya juga bisa dijamin.

    Pun setelah mengikuti pelatihan mengajar yoga sebanyak 200 jam itu, seseorang tidak otomatis lancar dan mulus dalam mengajar. Dari pengalaman saya sendiri, untuk bisa mengajar dengan profesional butuh jam terbang yang memadai. Berapa banyak? Tak ada jumlah khusus tapi itu akan terlihat dan terasa dalam setiap gerak gerik si instruktur di kelas. Bila murid cukup jeli, ia akan bisa merasakan level penguasaan teknik mengajar dalam menit-menit pertama kelas saja. Tak harus mengikutinya sampai akhir, bisa ditarik kesimpulan soal jam terbangnya. Maksud “jam terbang” di sini selain jumlah jam mengajar juga jumlah jam ia berlatih yoga sendiri, belajar teori yoga, menganalisis caranya mengajar lalu menyempurnakannya terus menerus.

    Secara detail, seseorang bisa dikatakan secara formal memenuhi syarat mengajar kelas yoga umum jika sudah mengikuti setidaknya 200 jam Yoga Teacher Training. Nah, bisa saja ia menyandang gelar “RYT 200” jika ia mendaftarkan dirinya ke organisasi Yoga Alliance tapi ada juga sebagian lulusan sekolah yoga yang sudah diakui Yoga Alliance yang memutuskan tidak mendaftarkan diri agar masuk ke database organisasi tersebut. Salah satunya karena iuran tahunannya yang cukup mahal. Begitu instruktur setop membayar, otomatis namanya akan hilang dari database Yoga Alliance.

    Sebagai pengetahuan saja, Yoga Alliance memang tidak punya otoritas untuk mengatur para praktisi yoga. Tidak semua praktisi dan pengajar yoga wajib bergabung ke dalamnya tetapi Yoga Alliance menyediakan kepastian dalam kurikulum yang diajarkan karena ia menetapkan standar dalam beragam aspek penting dalam pengelolaan kelas yoga termasuk tata laku, kode etik dan moral serta pemberian sanksi bagi guru-guru yoga yang ada di bawah naungannya jika mereka melanggar tata laku (code of conduct) dan kode etik serta moral yang disepakati bersama dalam industri yoga.

    Yoga Alliance mensyaratkan sebuah sekolah yoga untuk membuat kurikulum pengajaran agar lulusan mereka paham soal teknik, latihan dan asana/ pose fisik yoga (100 jam), filsafat yoga, etika, dan pola hidup yoga (30 jam), metodologi pengajaran (25 jam), anatomi dan fisiologi (20 jam), latihan mengajar kelas yoga (10 jam), dan 15 jam sisanya diisi dengan topik-topik lain yang masih relevan dengan industri yoga misalnya cara memasarkan kelas, workshop dan event yoga.

    Gelar Memang Bukan Jaminan Tapi …

    Bagi instruktur yang ingin meningkatkan kualifikasi mereka, tentu saja setelah menyelesaikan pendidikan 200 jam tersebut, mereka bisa melanjutkan ke jenjang RYT 300 sehingga total mengikuti pelatihan mencapai 500 jam. Dan ia berhak menyandang gelar RYT 500.

    Tapi apakah gelar bisa menjamin keberhasilan dalam mengajar? Tidak sesederhana itu karena tolok ukur atau indikator keberhasilan mengajar tidak cuma soal banyaknya jam belajar di sekolah yoga tertentu. Ada sebagian orang yang mengatakan kurang cocok dengan kelas yoga yang diajar lulusan RYT 500 jam. Tapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang punya sertifikasi dengan jumlah jam lebih sedikit tapi lebih disukai murid-muridnya karena bisa mengajar dengan lebih pas, cocok, nyaman dan aman. Masuk akal karena ada juga faktor soft skills, kemampuan bergaul/ bersosialisasi, kemampuan membangun personal branding, keterampilan memasarkan diri, aspek psikologis dan mental di luar faktor hard skills (banyaknya pengetahuan dan keterampilan teknis asana yang dikuasai seseorang) yang harus dikuasai.

    Dengan ada/tidaknya sertifikat mengajar dari Yoga Alliance, sebetulnya siapa saja masih bisa mengajar. Tapi apakah kelas yoga yang diajarkan bakal enak, nyaman, dan aman di badan Anda? Itu tidak bisa dijamin. Tapi logikanya, jika yang sudah diberi pendidikan yang sebanyak itu saja masih terasa kurang apalagi yang tidak? Jika ada pengajar yoga tanpa sertifikat tapi masih bisa mengajar dengan baik itu artinya ia cuma secuil pengecualian. Sebuah kasus langka yang tak bisa diovergeneralisasi. Jadi pesan saya, teliti dulu credentials atau sertifikasi guru yang Anda akan masuki kelasnya. Jika cuma berbekal sertifikat beberapa jam workshop yoga, lebih baik urungkan niat mengikuti kelas instruktur gadungan seperti itu. Jangan mudah percaya atau bersiaplah dengan risikonya.

    Saya tekankan lagi bahwa sertifikat workshop bukanlah sertifikat yang setara dan tidak bisa dianggap sebagai pengganti sertifikat yoga teacher training yang proper. Sertifikat workshop yoga bisa dipakai sebagai credentials pelengkap untuk seorang instruktur yoga. Katakanlah ia sudah ikut workshop arm balance, workshop anatomi yoga, dan sebagainya tetapi jika ia belum punya sertifikat belajar yoga sebanyak minimal 200 jam, artinya ia masih bisa dianggap amatir. Apalagi jika jam latihan yoga mandirinya (self practice) masih minim. Misal orang yang baru saja mulai yoga 2-3 bulan lalu ikut yoga teacher training dan mengajar. Jika sebuah sekolah yoga punya kredibilitas tinggi, ia akan mensyaratkan seseorang untuk setidaknya sudah latihan mandiri selama 2-3 tahun baru boleh mengikuti yoga teacher training. (*/)

  • Hari ini saya membaca newsletter salah satu penulis yang saya sukai, Elizabeth Gilbert. Saya berlangganan newsletternya yang bertajuk “Letters from Love”. Di sana ia secara rutin menulis newsletter seolah ia menulis surat kepada kami yang berlangganan. Salam pembukanya: “Dear Lovelets”. Seolah para pelanggan newsletternya adalah serpihan cinta di alam semesta ini. Cute language.

    Saya sebagai bagian dari generasi Millennial lebih menyukai gaya berkomunikasi seperti ini. Ya meski bisa juga sih menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi instan ala media sosial tapi takut lama-lama brain rotting saja kalau lama-lama di media sosial.

    Jujur akhir-akhir ini kalau bosan dengan media sosial (apalagi LinkedIn yang toksik), saya memilih membaca newsletter Substack gratis saja. Sama-sama konten gratisan tapi setidaknya konten di Substack lebih ‘niat’ dalam memproduksinya. Viralitas dan algoritma bukan faktor utama seorang pemilik newsletter bisa dikenal lebih luas. Sekali lagi Substack mengkurasi newsletter yang ia tampilkan sebagai featured newsletter. Saya sangat suka fitur itu. Lebih manusiawi saja. Good ol’ days.

    Omong-omong karena cuaca dan kondisi pencernaan yang agak kurang mengenakkan beberapa hari belakangan, saya mengirim pesan WhatsApp pada terapis langganan saya. Ia bekerja di sebuah tempat potong rambut, plus kafe dan tempat pijat keluarga. Di perumahan saya yang masih sepi begini, kehadiran tempat semacam itu memang sebuah angin surgawi.

    Saya katakan saya akan datang 10 menit lagi dan ia membalas segera. Ketiknya begini: “Maaf bang, saya lagi sakit.” Di bawah teks itu, ia mengirimkan juga sebuah foto yang menampilkan sejumlah kantong obat berisi pil dan tablet yang ia katakan ditebus dari apotek Puskesmas terdekat. Saya bersimpati, mengatakan lekas sembuh dan ia membalas kontan: “AMIINNN”.

    Ya saya paham ia ingin sekali lekas sembuh karena ia menjadi penopang ekonomi keluarga. Bisnis tempatnya bekerja sedang terseok-seok pula. Sempat THR tak terbayar tapi untungnya si pemilik bisnis mengusahakan pembayaran THR meski agak mepet hari raya. Dan karena itu si abang terapis merasa berutang budi pada si pemilik bisnis. Ia bekerja rajin sekali dengan jam kerja yang panjang tanpa dipaksa atasan agar omset selepas Idulfitri pulih. Maklum omset drop tajam begitu orang pulang kampung. Ia sadar jika bisnis itu kolaps, ia bakal kehilangan periuk nasi.

    Karena sakitnya abang terapis itulah, saya yang mengharap diringankan keluhan lelahnya ini kecewa. Padahal ia sandaran saya untuk pemulihan. Eh ternyata ikut roboh juga.

    Kembali ke newsletter Liz Gilbert yang saya baca pagi tadi, ternyata Gilbert juga mengangkat tema kekecewaan di newsletter barunya itu. Dan untuk memberikan ilustrasi bagaimana seorang manusia bisa menghadapi dan bangkit dari kekecewaan itu, Gilbert menyinggung kisah hidup Joseph Kibler, seorang pria yang dibuang orang tua biologisnya dan menderita HIV sejak lahir plus memiliki cacat bawaan sehingga ia harus duduk di kursi roda. Namun, kisah pahit dibuang orang tua dan keterbatasan fisik itu tak menghalanginya berkeluarga dan baru-baru ini untuk memiliki anak kandung. Kibler baru saja merayakan kelahiran jabang bayinya. Dan menurut Gilbert, kemampuan Kibler untuk memaafkan orang tua yang membuangnya dulu dan kemudian bangkit untuk membangun keluarga yang hangat miliknya sendiri sangatlah menyentuh hati. Gilbert mengaku dirinya menangis membaca kisah Kibler.

    Dan karena itu saya juga tersentuh. Saya jadi bisa memaklumi kekecewaan saya barusan akibat abang terapis langganan yang tak bisa memberikan pijatan yang saya butuhkan. Saya paham ia manusia yang butuh pijatan dan istirahat juga. Abang terapis bukan mesin pemijat yang ada di emperan stasiun-stasiun di Jabodetabek. Seketika kekecewaan saya itu tiada artinya jika dibanding kekecewaan seumur hidup Kibler. (*/)

  • Panggul dan pinggul. (Foto: Magda Ehlers via Pexels)

    Beberapa pekan lalu saya menulis sebuah tulisan pendek di akun Instagram dan TikTok saya yang bertajuk “Emosi dan Pinggul”. Sempat agak viral karena pengalaman tiap orang bisa bervariasi.

    Pengalaman saya sendiri hampir tak pernah menangis saat latihan hip opening sebab mungkin di situ area yang saya tak pernah rasakan kekakuan yang berarti. Justru saya pernah menangis sehabis savasana atau pose mayat sebab hari itu Minggu pagi tapi saya malah teringat dengan keharusan bekerja esok paginya dan bertemu rekan kerja yang toksik. Tapi saya tak pernah menangis saat front splits dan middle splits atau bahkan pigeon pose.

    Intinya dalam tulisan tersebut saya membahas pandangan bahwa emosi tersimpan di area pinggul (hips). Saya mengutip pendapat pakar sports science dalam sebuah siniar yang mengatakan bahwa emosi yang tersimpan dalam pinggul itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah jadi saat kita melakukan pose-pose yoga yang berfokus pada kelenturan sendi pinggul (hip joints) lalu kita menangis bisa jadi itu karena faktor lain misalnya karena rasa kurang nyaman akibat begitu kakunya sendi pinggul kita. Bukan karena tumpukan emosi masa lalu itu meluruh dan keluar dari badan.

    Lalu ada beberapa teman dan pengikut yang merespon. Ada yang mengiyakan, sepakat dengan saya dan pendapat pakar tersebut bahwa emosi tidak bisa tersimpan dalam badan termasuk area pinggul.

    Namun, ada juga teman-teman saya (yang bekerja sebagai guru yoga dan juga murid yoga) yang beranggapan lain. Mereka meyakini bahwa dalam pinggul memang ada akumulasi emosi yang tersimpan. Buktinya para wanita mengalami menstruasi dan kehamilan di area tersebut, kata seorang teman. Tapi saya berkata, mungkin itu maksudnya panggul (pelvic floor), bukan pinggul (hips). Keduanya memang berkaitan tapi bagian yang berbeda. Saya berkata yang saya bahas adalah pinggul, bukan panggul. Ia kemudian enggan berdiskusi lebih lanjut sebab sudah memvonis saya yang pria ini sebagai pihak yang tidak bisa merasakan emosi serupa di panggul sebagaimana para wanita.

    Saya menghormati pendapatnya karena saya tahu ini pengalaman yang unik dan subjektif. Pengalaman kita tentu valid tanpa harus berusaha menunjukkan bukti konkretnya sampai berbusa-busa pada orang lain di luar sana. Cukup dirasakan. Tapi tentu saja tidak bisa diovergeneralisasi begitu saja.

    Yang menarik ialah setelah saya panjang lebar menjelaskan bahwa area pinggul belum terbukti sebagai area tersimpannya emosi manusia itu, saya malah menemukan berita Bloomberg.com yang membahas soal makin banyaknya kaum profesional pria yang bekerja bursa saham Wall Street yang mengalami gangguan kandung kemih dan disfungsi ereksi dan memutuskan menjalani terapi otot dasar panggul (pelvic floor therapy).

    Lebih lanjut dilaporkan bahwa para terapis di New York mengatakan adanya tren kenaikan pasien pria muda yang mengeluhkan masalah otot dasar panggul yang sampai berimbas pada ‘kejantanan’ mereka.

    Seorang pasien bernama samaran Landon (26) mengatakan ia mengeluhkan sensasi kaku dan panas membakar yang membuat seks tak lagi menyenangkan bagi pria muda itu. Ia tak nyaman saat duduk bekerja sehingga ia memilih berdiri seharian saat bekerja di kantornya yang sebuah bank investasi. Seorang teman Landon juga mengeluhkan dirinya mengalami sakit punggung bawah (lower back pain) yang menyiksa. Namun, anehnya baik Landon dan temannya ini dinyatakan sehat-sehat saja saat berkonsultasi ke dokter. Para pria ini pun merasa kebingungan karena seolah penderitaan mereka tidak diakui secara medis dan ilmiah.

    Ternyata Landon dan temannya ini tak sendiri karena ada sejumlah pasien pria muda lain di rentang usia 20-40 tahun yang mengatakan mereka sulit ereksi, kerap buang air kecil dan sulit buang air besar. Penyebabnya menurut dokter terapi fisik William Klein bisa jadi kurang tidur, pekerjaan yang mengharuskan orang duduk lama, kurang minum air putih, dan jarang melakukan peregangan. Masalah otot dasar panggul yang terjadi pada pria biasanya karena tingkat stres yang sangat tinggi dan membuat semua otot di panggul mengencang di atas kewajaran.

    Meski saya tahu bahwa pinggul (hip joints) dan panggul (pelvis) berbeda tetapi saya paham keduanya berkaitan erat bak anak kembar yang tinggal berdekatan di satu rumah, dan ini menunjukkan bahwa tak cuma wanita, para pria bisa juga mengalami stres yang pada gilirannya berdampak pada kesehatannya secara umum termasuk keperkasaannya di ranjang.

    Nah, dalam yoga sendiri ada beberapa pose yang bisa Anda lakukan di rumah yang fungsinya mengencangkan otot-otot dasar panggul (jika Anda perempuan yang ingin mengembalikan kekencangan di area genitalia) dan merilekskannya (jika Anda pria yang merasa sangat stres dan mengalami gangguan ereksi dan buang air akibat kekakuan otot di area panggul)

    Pose-pose yang bisa mengencangkan otot dasar panggul dan di sekitarnya adalah navasana (boat pose), palakhasana (plank dan variasinya), dan sebagainya.

    Pose-pose yang bisa meregangkan otot dasar panggul misalnya hanumanasana (front splits), anjayneyasana (low lunge/ crescent pose), middle splits, ekapada rajakapotasana (king of pigeon pose), dan sebagainya.

    Namun, tentu saja melakukan cuma pose-pose ini tidak secara instan meredakan keluhan. Anda harus mengadopsi pola hidup yang lebih seimbang dan manajemen stres yang lebih baik ke depan. Ini karena masalah yang dihadapi bersifat multilayered sehingga membutuhkan solusi yang juga holistik dan multifacet.

    Jika Anda ingin berlatih yoga sebagai cara untuk mengelola stres dan mencapai keseimbangan hidup, silakan hubungi saya via email akhlispurnomo@gmail.com. Saya menyediakan jasa kelas yoga online dan offline privat maupun grup. Tersedia juga kelas yoga korporat. (*/)

  • Sore tadi saya baru saja melihat sepasang suami istri. Saya kebetulan berbelanja. Mereka tidak. Berdua mereka tampak turun dari motor, menuju kios mereka di depan Indomaret yang saya masuki untuk berbelanja kebutuhan pokok.

    Kata seorang tetangga dan sekaligus teman, pasangan ini baru saja kena layoff juga. Saya kenal si pria. Ia pekerja profesional di bidang asuransi dan keuangan. Saya pernah menghadiri talkshow yang menghadirkannya sebagai pembicara. Bukan talkshow yang wow. Cuma acara kecil-kecilan di tengah perumahan kami yang baru berkembang. Sekadar untuk menggairahkan area yang digadang-gadang sebagai kota baru.

    Masih kata teman, si pria ini di-PHK lalu menyusul istrinya juga jadi mereka berdua mesti bertahan hidup dengan mengerjakan apapun yang mereka bisa. Entah kenapa mereka berdua kemudian memilih berjualan susu segar dari Boyolali. Cukup jauh dari daerah perumahan kami. Saya duga mungkin ada kenalan baik yang bisa dipercaya untuk bisnis itu.

    Tapi begitulah zaman sekarang. Tak perlu malu dan gengsi kalau sudah menganggur. Apa saja harus rela dijalani demi menyambung hidup.

    Kalau ‘banting stir’ pun tak masalah. Dari asuransi ke jualan susu, memang siapa yang bisa melarang? Tidak ada.

    Dari situ saya bergumam sebagai komentar terhadap nasib mereka (dan mungkin kita semua), “At least nggak nyusahin orang. At least nggak korupsi. At least nggak punya utang. At least….”

    Lalu otak saya mengarang sebuah frasa: “A list of at least-s”. Haha. Jadilah judul untuk tulisan refleksi ini.

    Sederet at least itu mungkin adalah sebagai berikut:

    1. At least nggak punya tanggungan utang pinjol. Saya baca tempo hari ada cukup banyak warga 62 bermasalah dengan pinjol. Bahkan ada yang sebagian sengaja membuat pinjamannya berstatus gagal bayar. Dan ada juga teman saya yang kena jeratannya. Sempat ia membuat geger grup whatsapp karena wanti-wanti kalau kami diteror debt collector. Dan ia lalu menghubungi kami teman-temannya seolah menjelaskan duduk perkaranya. Bak artis menggelar konferensi pers. Untungnya masalah itu tak berlarut-larut. Ia segera lunasi utang pinjol itu dan setidaknya saya tidak mendengar ada masalah serupa muncul lagi.
    2. At least badan dan jiwa masih sehat walafiat. Karena sakit di negara dan zaman ini sangat mahal, kesehatan adalah komoditas yang mahal dan sangat berharga. BPJS mencabut coverage untuk sejumlah penyakit, katanya. Lalu punya jiwa yang sakit juga bisa berdampak pada masa depan dan ekonomi diri. Bayangkan, mendapatkan pekerjaan saat ini dengan badan dan jiwa yang sehat saja masih bisa gagal apalagi jika kita ada catatan riwayat gangguan jiwa. Perusahaan mana yang mau menerima orang yang jelas-jelas dicap tidak waras oleh masyarakat umum Indonesia yang masih terbelakang soal kesehatan jiwa ini? Makanya kalau ada waktu luang, saya selalu berupaya menghabiskannya untuk merawat badan dan pikiran serta jiwa agar tetap seimbang di zaman yang serba labil sekarang.
    3. At least punya atap untuk berteduh dan tidur. Berucap syukur punya tempat bernaung yang sudah tak perlu dicicil lagi. Kecil tapi milik sendiri. Sudah sangat cukup. Tak perlu repot menyewa. Karena saya bukan Sophia Latjuba yang gemar pindah rumah kontrakan. Saya perlu rumah sebagai jangkar untuk berlabuh. Saya perlu kestabilan di tengah dunia yang terus berguncang dan terombang-ambing. Dunia boleh jungkir balik tapi asala saya masih bisa damai di rumah, setidaknya saya merasa aman dan nyaman.
    4. At least punya tabungan. Alhamdulillah saya bisa menghindarkan diri dari gaya hidup yang terlalu mewah dan bertujuan mengesankan orang lain. Mungkin karena ada internalisasi pola pikir dari orang tua bahwa gaya hidup boros adalah sumber penyesalan seumur hidup. Saya kenal seseorang yang hampir kehilangan seluruh keluarganya karena terkena utang kartu kredit. Entah untuk berbelanja apa saya tak tahu persis. Konon warga Korsel yang penampilannya wah dan good looking semua itu juga tak punya tabungan dan terus saja menumpuk utang. Duh, mendingan agak buluk tapi financially stable deh zaman sekarang. Tapi sekali lagi, itu pilihan hidup mungkin.
    5. At least masih bisa melihat langit. Saya entah kenapa terdorong untuk membangun sebuah balkon di rumah agar bisa beryoga di atasnya sembari menikmati langit dan saya tak menyesali keputusan itu. Melihat langit, menurut ulama Syaikh Ath-Tharifi dalam kitabnya At-Tafsir wal Bayan, juga menawarkan banyak manfaat, di antaranya menenangkan pikiran, menambah keimanan, menundukkan kesombongan dalam hati, dan sebagainya. Nabi Muhammad juga memerintahkan kita berdoa saat menatap langit. Doa tersebut artinya: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

    Masih banyak lagi at least yang bisa saya tambahkan tapi mungkin saya tak punya banyak waktu menuliskannya sebab saya masih harus menyusun materi special yoga class saya Sabtu akhir pekan ini di Bogor. Kalau Anda berada di Bogor dan sekitarnya, silakan bergabung dalam kelas spesial yang di dalamnya tak cuma akan ada yoga tapi juga sesi menulis ekspresif yang bersifat terapeutik alias bikin pikiran lebih lega dan plong. Sampai jumpa di matras! (*/)

  • Beberapa hari lalu saya menemukan video TikTok yang memperlihatkan seorang wanita yang tampak menangis dalam pose pigeon. Kemudian ia meyakinkan penonton bahwa pinggul dalam yoga dianggap sebagai area berakumulasinya emosi.

    Saya lalu membandingkan dengan pengalaman saya beryoga. Seingat saya, pose-pose yang meregangkan area pinggul belum pernah berhasil membuat saya menangis. Bahkan saat pernah cedera akibat hanumanasana pun saya tak menangis. Cuma sedikit panik. 

    Justru saya pernah menangis setelah savasana. Saya pernah menangis pun karena savasana terasa begitu damai, enak di Minggu pagi dan tiba-tiba teringat besok hari Senin yang mengharuskan saya berjibaku dengan office politics yang memuakkan dan memualkan.

    Di kelas maupun yoga teacher training juga pernah saya dengar narasi bahwa pinggul adalah area yang menyimpan emosi sehingga perlu rajin diregangkan agar bisa lega. Yang artinya – koreksi jika saya salah – makin lentur pinggul seseorang, semakin bebas ia dari akumulasi emosi negatif. Dan karena rata-rata wanita memiliki pinggul yang lebih lentur, apakah itu artinya wanita lebih sedikit memiliki beban emosi yang terkumpul di pinggul? Tapi kenapa yang lebih banyak bercerita pernah menangis saat kelas yoga adalah wanita? Itulah yang agak mengganggu pikiran saya.

    Untuk mendapatkan sudut pandang lain yang mungkin lebih valid dari dugaan-dugaan saya, saya menelaah penjelasan guru yoga Jenni Rawlings dan akademisi di bidang Exercise Science Travis Pollen, PhD yang mengasuh kanal siniar “Yoga Meets Movement Science”. 

    Menurut keduanya, klaim bahwa emosi tersimpan di pinggul terbangun berkat adanya era terapi pemulihan memori yang disebut “Memory Wars” di era 1980-1990-an yang mengklaim bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memicu ingatan palsu. Masalahnya sekarang ilmu psikologi menolak pendekatan Memory Wars ini karena penelitian yang lebih baru menunjukkan trauma justru menciptakan ingatan yang lebih jelas sebagaimana dialami penderita PTSD.

    Asumsi yang mendasari teori Memory Wars tadi didukung dengan anggapan yang kemudian banyak dianut guru yoga bahwa saat manusia merasa stres, tubuhnya akan cenderung bergerak menuju ke posisi fetus/ janin dan posisi ini memicu ketegangan di otot psoas dalam rongga perut.

    Dari asumsi ini kemudian otot psoas dipandang sebagai otot yang ‘ajaib’ karena dianggap bisa menyimpan emosi dan tekanan. Psoas kerap dikambinghitamkan tanpa ada bukti ilmiah yang meyakinkan. 

    Dalam kelas yoga, pigeon pose biasanya disarankan untuk meregangkan otot psoas ini. Namun, lanjut keduanya, masalahnya pigeon pose jika ditilik lagi juga tidak terlalu efektif meregangkan psoas. Ia lebih banyak meregangkan bagian luar pinggul, terang Rawlings dan Pollen.

    Lalu mereka menjelaskan bahwa dari sudut pandang ilmiah, bisa jadi ada sebagian orang yang merasa pose-pose jenis membuka pinggul (hip opening) karena mereka merasakan ada efek plasebo alias sugesti belaka. Mereka percaya dan yakin manfaatnya lalu mereka pun merasa lebih baik setelahnya.

    Asana jenis hip opening juga mungkin bisa mengurangi mengurangi rentang gerak (range of motion) karena ketegangan otot. Selain itu, peregangan statis (static stretching) terbukti secara ilmiah bisa membantu menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. Ditambah lagi, pose jenis hip opening bisa memberikan sensasi peregangan yang sangat intens bagi pinggul kebanyakan orang yang sangat kaku (kecuali ia sengaja berlatih kelenturan pinggul karena melakoni olahraga senam artistik, wushu, dsb) sehingga ini memicu rasa nyeri dan kurang nyaman yang dikaitkan dengan emosi yang terpendam.

    Simpulannya, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa emosi bisa tersimpan dalam pinggul (dan bagian tubuh manapun). Jika memang asana jenis hip opening bisa melegakan, itu karena peregangan statis bisa membantu merilekskan sistem saraf.

    Dan patut diperhatikan bahwa olahraga jenis apapun bisa memiliki komponen emosional yang kuat sebab olahraga dapat membantu otak mengeluarkan hormon endorfin yang berkaitan erat dengan manajemen stres dan rasa bahagia. (*/)

  • Sejak 3 Juni 2025 lalu, saya mencoba menulis rangkuman dari isi kajian agama yang saya hadiri setiap Selasa di Jakarta. Saya melakukan itu demi merawat ingatan karena tergerak setelah mendengar seorang teman Kristiani yang diwajibkan oleh pendetanya untuk mencatat saat ada khotbah di gereja. Kata pendetanya, manusia bisa berbuat dosa kalau lupa mencatat.

    Dengan nada agak bercanda, sang pendeta mencontohkan bahwa pelanggaran yang dilakukan Nabi Adam dahulu mungkin akibat Nabi Adam lupa dan tidak mencatat sabda Tuhan sehingga ia malah terbujuk oleh bisikan Iblis. Karena itulah, mencatat sangat penting bagi manusia.

    Dengan menggoreskan pena ke kertas, diharapkan memori itu terpatri lebih abadi dalam hati.

    Selain itu, ternyata bikin otak saya tidak cepat mengantuk saat mendengarkan ceramah/ kajian agama. Kalau saya cuma bengong dan tangan menganggur, bisa dipastikan dalam 5-10 menit otak saya menjerit bosan dan minta hiburan. Karena itu saya bisa tetap melek saat hadirin yang lain terkantuk-kantuk dan terpaku pada layar ponsel, yang justru mencederai tujuan menghadiri kajian.

    Begini hasil rangkuman saya: Tiap manusia adalah telanjang, kecuali jika Allah menganugerahkan pada mereka pakaian. Allah tidak menerima atau menanggung keuntungan maupun kerugian dari ibadah yang manusia lakukan.

    Itu karena Allah bisa berdiri sendiri, tidak tergantung pada puja puji yang kita berikan setiap hari. Dosa dan amal apapun yang kita perbuat sejatinya hanya akan kembali pada diri kita sendiri.

    Tugas Allah hanya mencatat, mengumpulkan, kemudian menyempurnakan pembalasan atas setiap perbuatan kita di dunia ini.

    Tujuan penciptaan manusia dan alam ini ialah untuk menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Dengan demikian, manusia harus berbuat baik demi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain atau makhluk lain atau bahkan demi Allah.

    Dengan demikian, ibadah adalah bentuk self love yang paling tinggi (level ultimate).

  • Selain mengajar yoga, saya juga punya bidang pekerjaan lain sebetulnya: menulis. Kebetulan saya bulan ini menjalani sertifikasi penulisan buku nonfiksi. Dalam prosesnya, ada pemaparan oleh tutor soal menulis yang menceritakan bahwa tutor saya ini mengenal seorang penulis kawakan, sebut saja Ibu X, yang mengatakan dirinya tak mau menulis pendek (sekitar 200-300 kata) untuk sebuah ulasan buku. Alih-alih menulis pendek, ia memilih menulis berlembar-lembar kata pengantar yang bisa berjumlah lebih dari 1000 kata. 

    Pertama kali mendengar cerita itu, saya pikir Ibu X sangat arogan dengan keterampilannya menulis. Saya menyangka ia tukang pamer. 

    Tapi setelah beberapa pekan berlalu, saya renungkan kembali cerita tersebut dan saat saya mengangkat jemuran pakaian dan merawat tanaman di halaman rumah siang tadi, saya berpikir pelan-pelan. “Mungkin Ibu X benar. Menulis panjang lebar lebih mudah daripada menulis pendek. Apalagi menulis sependek utas di Thread atau media sosial lainnya,” batin saya.

    Saya teringat dengan sebuah utas saya beberapa waktu lalu. Cukup ramai ditanggapi orang. Mungkin karena topiknya sangat aktual dan orang menganggapnya menarik untuk dibaca. Ternyata yang merespon tak semuanya bernada positif. Syok juga akhirnya saya. Kenapa? Karena awal membuat konten pendek itu bukan untuk menyudutkan siapapun tetapi lebih untuk menarik orang memperbincangkannya. Istilah kekiniannya, konten clickbait. Betul sih jadi viral tapi terasa mengganjal. Karena saya menjadi sangat lelah secara psikis dan mental sebab harus menjelaskan kesalahpahaman pada tiap orang. Saya merasa tujuan saya di sini memberikan edukasi tetapi karena ada yang salah paham saya jadi terdorong untuk mengoreksi.

    Usut punya usut, saya tahu penyebabnya. Ternyata ada sebagian yang berkomentar miring karena tidak membaca utas saya sampai tuntas. Dengan kata lain, sudah terpantik emosinya saat cuma membaca di unggahan pertama. Karena sudah emosional, jempol pun lebih mudah bergerak. Padahal belum tuntas membaca. Itu dari sisi eksternal.

    Dari sisi internal alias saya sendiri, kesalahan saya adalah menggunakan kata-kata yang terlalu tendensius, memojokkan, memicu emosi, ambigu, yang jika dibaca sekilas tanpa membaca lebih lanjut apalagi memahami konteks lengkapnya bakal menyulut amarah pembacanya. 

    Lalu strategi saya pun saya ubah. Saya tak mau lagi menulis pendek dengan hook atau kalimat pembuka yang memancing emosi. Betul, emosi memang membantu konten cepat viral. Sebagai informasi, saya paham ampuhnya faktor permainan emosi sebab saya juga mantan copywriter. Namun, ternyata itu bisa jadi bumerang bagi diri saya sendiri apalagi profesi saya bukan content creator/ influencer 100%. Saya pengajar yoga yang kebetulan menggunakan media sosial sebagai alat berkomunikasi.

    Sisi copywriter dalam otak saya memprotes: “Kalau kamu menulis panjang-panjang, mana ada yang mau baca? Orang sekarang attention span-nya pendek lho!” Tapi saya sanggah sendiri juga: “Buktinya masih ada kok yang baca tulisan-tulisan yang agak panjang.”

    Bagi saya, menulis panjang di media sosial membantu saya menjelaskan konteks dengan lebih lengkap dan berimbang. Dengan begitu, saya tidak perlu menjelaskan lagi jika ada orang yang salah paham. Saya tinggal balas: “Sudah saya jelaskan/ sebutkan hal itu kok di atas. Belum baca sampai selesai ya?”

    Menulis panjang juga membantu saya menyaring pengikut dan audiens untuk konten saya. Jadi saya tidak perlu meladeni orang-orang yang berseberangan pemikiran karena konten panjang saya sudah melelahkan bagi otak mereka. Akhirnya mereka scroll dengan sendirinya dan risiko debat kusir di media sosial yang tak berujung jadi menurun drastis. It DOES save my energy at the end of the day! Jadi, menulis panjang itu sebenarnya sangat menghemat energi dan menulis pendek bisa jadi malah lebih susah dan berisiko membuang-buang energi. Setuju nggak? (*/)

  • Tangkapan layar suasana pertemuan sertifikasi. (Avif)

    Melakoni profesi apapun zaman sekarang tampaknya tak luput dari yang namanya “sertifikasi”. Saya masih ingat sekitar tahun 2010, saya bertanya-tanya saat ibu saya yang seorang guru sekolah dasar lulusan SPG tahun 1980-an diharuskan sekolah lagi oleh pemerintah dan kemudian menjalani proses sertifikasi guru. Dikatakan guru yang bersertifikasi diharapkan memiliki keterampilan yang lebih baik dari yang tidak dalam bidang profesinya. Dan tentu saja, sertifikasi memberikan iming-iming kenaikan pendapatan. Siapa yang tidak mau? Berbondong-bondonglah para guru kala itu untuk mengikuti proses sertifikasi ini.

    Fenomena yang sama juga ternyata terjadi beberapa tahun kemudian di bidang profesi saya: menulis. Namun, berbeda dari ibu saya yang diinstruksikan dan tanpa memiliki pilihan, saya memilih dengan sadar untuk menjalani proses sertifikasi penulisan buku nonfiksi. Saya juga harus membiayai sertifikasi ini dari kantong sendiri. Bukan disponsori instansi atau kantor atau pihak manapun. Murni ini kesadaran saya sendiri untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis di tahun 2025 yang tak cuma harus bersaing dengan sesama manusia penulis, tetapi juga Kecerdasan Buatan (AI) yang kadang bisa jadi alat bantu tapi juga bisa menjadi bumerang bagi diri saya sendiri.  

    Jujur menulis buku nonfiksi sudah saya lakoni sejak tahun 2016. Tapi memang setelah proyek buku kedua saya Indonesia’s Foreign CEOs (2018) bersama Warta Ekonomi rampung di tahun 2018, saya vakum tak menulis sampai 2025 karena sibuk berkarya di ranah daring dengan menjadi penulis dan penyunting di media daring.

    Dalam waktu vakum itu sebenarnya saya berusaha menulis lagi. Yang pertama saya mencoba menulis draft buku soal sejarah yoga di tanah air tapi karena kurang sumber daya, saya terpaksa berhenti. Kemudian saya terdorong menulis buku soal yoga wheel bersama seorang teman, tetapi masalahnya ia kemudian pindah kerja ke luar negeri. Proses penulisan buku pun mandek dan draftnya terbengkalai meski masih saya simpan dalam folder laptop.

    Lokakarya Insaf

    Karena merasa harus meningkatkan keterampilan menulis nonfiksi yang sudah berkarat inilah kemudian saya tergerak mengikuti lokakarya yang diadakan Tinta Langit pada Mei 2025. Sejak awal bulan saya mengikuti pemaparan terhadap materi yang membuka mata saya terhadap proses kreatif menulis buku nonfiksi yang baik dan benar. 

    Dalam lokakarya Sertifikasi Menulis Buku Nonfiksi tersebut saya dibimbing oleh Bambang Trimansyah, yang dulu juga saya pernah ikuti lokakaryanya. Beliau mungkin adalah salah satu tokoh yang paling terkemuka di Indonesia sekarang karena sudah malang melintang di industri penerbitan sejak tahun 1990-an. 

    Bambang sering berceletuk “insaf” saat kelas. Menurutnya, sertifikasi ini ia jadikan sebagai alat untuk menyadarkan para calon penulis nonfiksi bersertifikat untuk tidak menghasilkan buku nonfiksi yang tidak layak disebut sebagai buku. Buku yang bukan buku, katanya. Maksudnya adalah buku-buku yang jika ditilik lagi ternyata kualitas isinya tidak memenuhi standar penulisan buku.

    Satu ciri buku yang kurang kayak disebut buku itu adalah buku yang menyuguhkan kata pengantar yang ternyata ditulis oleh si penulis buku sendiri, bukan oleh pakar atau tokoh selain penulisnya sendiri. Menurut Bambang, kesalahan ini sangat banyak ditemui di dalam buku-buku dan karya tulis orang Indonesia di kampus-kampus. Sangat miris.

    Ciri lain buku yang kurang kayak ialah cara mengutip yang serampangan dalam buku. Bambang menunjukkan pada kami semua yang mengikuti sertifikasi ini bahwa masih banyak penulis buku yang kurang memahami cara dan teknik mengutip yang baik dan benar. Misalnya ada yang saking hati-hatinya, setiap paragraf saja ada kutipannya padahal kutipan itu termasuk pengetahuan umum (common sense), tidak ada unsur spesial dan baru di dalam kutipan. Jadi malah membuat pembaca jengah karena dicekoki kutipan demi kutipan di tiap lembar tanpa ada tujuan yang kuat. Semata-mata demi tampak ilmiah dan terpelajar karena sudah pernah membaca buku ini dan itu.

    Di sisi kutub yang berlawan, juga ada penulis-penulis yang masih kurang terampil dan teliti dalam mengutip sehingga mereka terjerumus dalam jebakan-jebakan plagiarisme yang ternyata tidak cuma 1 jenis tapi banyak. Jenis plagiarisme yang paling ringan ialah inadvertent plagiarism yang dilakukan penulis tanpa sengaja. Ini bisa terjadi karena salah ketik nama penulis. Bisa juga sudah memparafrase tetapi tidak menyertakan sumber aslinya. Bahkan ada juga self plagiarism yang tampaknya tidak bermasalah karena menjiplak karya kita sendiri yang sebelumnya sudah terbit tapi diakui sebagai karya baru. Nah hal seperti ini ternyata juga melanggar etika penulisan buku meski itu menjiplak karya pribadi. 

    Kemudian yang menarik bagi saya adalah pernyataan Bambang bahwa penulis harus mampu memberikan kebaruan dalam bukunya yang berbeda dari informasi yang bisa ditemukan dengan mudah di internet. Saya pikir itu poin yang sangat kuat dan belum dipahami oleh banyak penulis di Indonesia. Saya juga kerap menemukan buku-buku yang terkesan asal ditulis dan sembrono karena cuma berbekal sumber-sumber di internet dan media sosial yang bisa diakses siapa saja. Lalu apa istimewanya buku Anda? Di era AI, saat informasi sangat mudah didapat, rasanya akan sangat konyol jika menulis buku masih hanya dengan berbekal sumber publik di internet.

    Lalu bagaimana sikap penulis terhadap AI? Apakah hal semacam ini haram sama sekali bagi penulis? Tidak juga. Kalau penulis mau menggunakan AI sebagai sumber dan alat bantu, Bambang mengatakan boleh saja tetapi tentu saja ada tata caranya. Kita bisa memasukkan jenis AI yang dipakai ke dalam daftar pustaka. Begini penulisannya: “OpenAI. DALL·E: Text-to-Image Generator. Versi 3.0. San Francisco: OpenAI, 2024.

    Proses Persiapan Ujian

    Setelah menjalani lima kali pertemuan, saya pun mengikuti bimbingan teknis bersama LSP Penulis dan Editor Profesional yang kantornya ada di Depok. Di dalamnya dijelaskan bagaimana tata cara mengikuti proses sertifikasi penulisan buku nonfiksi yang akan diadakan seminggu kemudian. Bagi yang sudah pernah menulis minimal 3 buku nonfiksi dalam 5 tahun terakhir, bisa diunggah dan akan dipertimbangkan untuk menjalani metode ujian portofolio. Bagi yang belum punya portofolio sebanyak itu, harus menjalani ujian jenis kompetensi. 

    Ujian sertifikasi pun digelar setelah sebelumnya saya mendaftar dan memenuhi syarat-syarat adminstrasi seperti KTP, data diri, latar belakang akademis dan buku yang pernah ditulis. Saya sendiri hanya menyertakan satu buku nonfiksi meski memang ada satu buku yang saya pernah tulis tetapi sebagai penulis bayangan sehingga saya tak tercantum sebagai penulis di sampulnya. Untuk itu, solusinya memang harus menyediakan surat pernyataan bermaterai yang menyatakan saya adalah penulis sebenarnya buku tersebut tapi karena rasanya seperti buang energi sebab buku itu sudah terlalu lama terbitnya, saya pun tidak melakukannya. 

    Proses menjalani ujian sertifikasi ini relatif mulus. Saya hanya perlu menggunakan laptop dan internet serta kamera ponsel sebagai CCTV/ kamera pengawas. Dengan demikian, mutu hasil ujian bisa dipertanggungjawabkan. Setelah saya bersama seorang asesor dalam ruangan Zoom, saya pun dipersilakan mengerjakan 30 soal pilihan ganda soal penulisan buku nonfiksi. Jika sudah belajar materi yang disampaikan Bambang sebelumnya, rasanya tidak masalah….

    [Baca selengkapnya di tautan berikut: https://lynk.id/akhlisp/lopw9kvw110g]

Verified by MonsterInsights