• Sejak 3 Juni 2025 lalu, saya mencoba menulis rangkuman dari isi kajian agama yang saya hadiri setiap Selasa di Jakarta. Saya melakukan itu demi merawat ingatan karena tergerak setelah mendengar seorang teman Kristiani yang diwajibkan oleh pendetanya untuk mencatat saat ada khotbah di gereja. Kata pendetanya, manusia bisa berbuat dosa kalau lupa mencatat.

    Dengan nada agak bercanda, sang pendeta mencontohkan bahwa pelanggaran yang dilakukan Nabi Adam dahulu mungkin akibat Nabi Adam lupa dan tidak mencatat sabda Tuhan sehingga ia malah terbujuk oleh bisikan Iblis. Karena itulah, mencatat sangat penting bagi manusia.

    Dengan menggoreskan pena ke kertas, diharapkan memori itu terpatri lebih abadi dalam hati.

    Selain itu, ternyata bikin otak saya tidak cepat mengantuk saat mendengarkan ceramah/ kajian agama. Kalau saya cuma bengong dan tangan menganggur, bisa dipastikan dalam 5-10 menit otak saya menjerit bosan dan minta hiburan. Karena itu saya bisa tetap melek saat hadirin yang lain terkantuk-kantuk dan terpaku pada layar ponsel, yang justru mencederai tujuan menghadiri kajian.

    Begini hasil rangkuman saya: Tiap manusia adalah telanjang, kecuali jika Allah menganugerahkan pada mereka pakaian. Allah tidak menerima atau menanggung keuntungan maupun kerugian dari ibadah yang manusia lakukan.

    Itu karena Allah bisa berdiri sendiri, tidak tergantung pada puja puji yang kita berikan setiap hari. Dosa dan amal apapun yang kita perbuat sejatinya hanya akan kembali pada diri kita sendiri.

    Tugas Allah hanya mencatat, mengumpulkan, kemudian menyempurnakan pembalasan atas setiap perbuatan kita di dunia ini.

    Tujuan penciptaan manusia dan alam ini ialah untuk menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Dengan demikian, manusia harus berbuat baik demi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain atau makhluk lain atau bahkan demi Allah.

    Dengan demikian, ibadah adalah bentuk self love yang paling tinggi (level ultimate).

  • Selain mengajar yoga, saya juga punya bidang pekerjaan lain sebetulnya: menulis. Kebetulan saya bulan ini menjalani sertifikasi penulisan buku nonfiksi. Dalam prosesnya, ada pemaparan oleh tutor soal menulis yang menceritakan bahwa tutor saya ini mengenal seorang penulis kawakan, sebut saja Ibu X, yang mengatakan dirinya tak mau menulis pendek (sekitar 200-300 kata) untuk sebuah ulasan buku. Alih-alih menulis pendek, ia memilih menulis berlembar-lembar kata pengantar yang bisa berjumlah lebih dari 1000 kata. 

    Pertama kali mendengar cerita itu, saya pikir Ibu X sangat arogan dengan keterampilannya menulis. Saya menyangka ia tukang pamer. 

    Tapi setelah beberapa pekan berlalu, saya renungkan kembali cerita tersebut dan saat saya mengangkat jemuran pakaian dan merawat tanaman di halaman rumah siang tadi, saya berpikir pelan-pelan. “Mungkin Ibu X benar. Menulis panjang lebar lebih mudah daripada menulis pendek. Apalagi menulis sependek utas di Thread atau media sosial lainnya,” batin saya.

    Saya teringat dengan sebuah utas saya beberapa waktu lalu. Cukup ramai ditanggapi orang. Mungkin karena topiknya sangat aktual dan orang menganggapnya menarik untuk dibaca. Ternyata yang merespon tak semuanya bernada positif. Syok juga akhirnya saya. Kenapa? Karena awal membuat konten pendek itu bukan untuk menyudutkan siapapun tetapi lebih untuk menarik orang memperbincangkannya. Istilah kekiniannya, konten clickbait. Betul sih jadi viral tapi terasa mengganjal. Karena saya menjadi sangat lelah secara psikis dan mental sebab harus menjelaskan kesalahpahaman pada tiap orang. Saya merasa tujuan saya di sini memberikan edukasi tetapi karena ada yang salah paham saya jadi terdorong untuk mengoreksi.

    Usut punya usut, saya tahu penyebabnya. Ternyata ada sebagian yang berkomentar miring karena tidak membaca utas saya sampai tuntas. Dengan kata lain, sudah terpantik emosinya saat cuma membaca di unggahan pertama. Karena sudah emosional, jempol pun lebih mudah bergerak. Padahal belum tuntas membaca. Itu dari sisi eksternal.

    Dari sisi internal alias saya sendiri, kesalahan saya adalah menggunakan kata-kata yang terlalu tendensius, memojokkan, memicu emosi, ambigu, yang jika dibaca sekilas tanpa membaca lebih lanjut apalagi memahami konteks lengkapnya bakal menyulut amarah pembacanya. 

    Lalu strategi saya pun saya ubah. Saya tak mau lagi menulis pendek dengan hook atau kalimat pembuka yang memancing emosi. Betul, emosi memang membantu konten cepat viral. Sebagai informasi, saya paham ampuhnya faktor permainan emosi sebab saya juga mantan copywriter. Namun, ternyata itu bisa jadi bumerang bagi diri saya sendiri apalagi profesi saya bukan content creator/ influencer 100%. Saya pengajar yoga yang kebetulan menggunakan media sosial sebagai alat berkomunikasi.

    Sisi copywriter dalam otak saya memprotes: “Kalau kamu menulis panjang-panjang, mana ada yang mau baca? Orang sekarang attention span-nya pendek lho!” Tapi saya sanggah sendiri juga: “Buktinya masih ada kok yang baca tulisan-tulisan yang agak panjang.”

    Bagi saya, menulis panjang di media sosial membantu saya menjelaskan konteks dengan lebih lengkap dan berimbang. Dengan begitu, saya tidak perlu menjelaskan lagi jika ada orang yang salah paham. Saya tinggal balas: “Sudah saya jelaskan/ sebutkan hal itu kok di atas. Belum baca sampai selesai ya?”

    Menulis panjang juga membantu saya menyaring pengikut dan audiens untuk konten saya. Jadi saya tidak perlu meladeni orang-orang yang berseberangan pemikiran karena konten panjang saya sudah melelahkan bagi otak mereka. Akhirnya mereka scroll dengan sendirinya dan risiko debat kusir di media sosial yang tak berujung jadi menurun drastis. It DOES save my energy at the end of the day! Jadi, menulis panjang itu sebenarnya sangat menghemat energi dan menulis pendek bisa jadi malah lebih susah dan berisiko membuang-buang energi. Setuju nggak? (*/)

  • Tangkapan layar suasana pertemuan sertifikasi. (Avif)

    Melakoni profesi apapun zaman sekarang tampaknya tak luput dari yang namanya “sertifikasi”. Saya masih ingat sekitar tahun 2010, saya bertanya-tanya saat ibu saya yang seorang guru sekolah dasar lulusan SPG tahun 1980-an diharuskan sekolah lagi oleh pemerintah dan kemudian menjalani proses sertifikasi guru. Dikatakan guru yang bersertifikasi diharapkan memiliki keterampilan yang lebih baik dari yang tidak dalam bidang profesinya. Dan tentu saja, sertifikasi memberikan iming-iming kenaikan pendapatan. Siapa yang tidak mau? Berbondong-bondonglah para guru kala itu untuk mengikuti proses sertifikasi ini.

    Fenomena yang sama juga ternyata terjadi beberapa tahun kemudian di bidang profesi saya: menulis. Namun, berbeda dari ibu saya yang diinstruksikan dan tanpa memiliki pilihan, saya memilih dengan sadar untuk menjalani proses sertifikasi penulisan buku nonfiksi. Saya juga harus membiayai sertifikasi ini dari kantong sendiri. Bukan disponsori instansi atau kantor atau pihak manapun. Murni ini kesadaran saya sendiri untuk meningkatkan kualitas diri sebagai penulis di tahun 2025 yang tak cuma harus bersaing dengan sesama manusia penulis, tetapi juga Kecerdasan Buatan (AI) yang kadang bisa jadi alat bantu tapi juga bisa menjadi bumerang bagi diri saya sendiri.  

    Jujur menulis buku nonfiksi sudah saya lakoni sejak tahun 2016. Tapi memang setelah proyek buku kedua saya Indonesia’s Foreign CEOs (2018) bersama Warta Ekonomi rampung di tahun 2018, saya vakum tak menulis sampai 2025 karena sibuk berkarya di ranah daring dengan menjadi penulis dan penyunting di media daring.

    Dalam waktu vakum itu sebenarnya saya berusaha menulis lagi. Yang pertama saya mencoba menulis draft buku soal sejarah yoga di tanah air tapi karena kurang sumber daya, saya terpaksa berhenti. Kemudian saya terdorong menulis buku soal yoga wheel bersama seorang teman, tetapi masalahnya ia kemudian pindah kerja ke luar negeri. Proses penulisan buku pun mandek dan draftnya terbengkalai meski masih saya simpan dalam folder laptop.

    Lokakarya Insaf

    Karena merasa harus meningkatkan keterampilan menulis nonfiksi yang sudah berkarat inilah kemudian saya tergerak mengikuti lokakarya yang diadakan Tinta Langit pada Mei 2025. Sejak awal bulan saya mengikuti pemaparan terhadap materi yang membuka mata saya terhadap proses kreatif menulis buku nonfiksi yang baik dan benar. 

    Dalam lokakarya Sertifikasi Menulis Buku Nonfiksi tersebut saya dibimbing oleh Bambang Trimansyah, yang dulu juga saya pernah ikuti lokakaryanya. Beliau mungkin adalah salah satu tokoh yang paling terkemuka di Indonesia sekarang karena sudah malang melintang di industri penerbitan sejak tahun 1990-an. 

    Bambang sering berceletuk “insaf” saat kelas. Menurutnya, sertifikasi ini ia jadikan sebagai alat untuk menyadarkan para calon penulis nonfiksi bersertifikat untuk tidak menghasilkan buku nonfiksi yang tidak layak disebut sebagai buku. Buku yang bukan buku, katanya. Maksudnya adalah buku-buku yang jika ditilik lagi ternyata kualitas isinya tidak memenuhi standar penulisan buku.

    Satu ciri buku yang kurang kayak disebut buku itu adalah buku yang menyuguhkan kata pengantar yang ternyata ditulis oleh si penulis buku sendiri, bukan oleh pakar atau tokoh selain penulisnya sendiri. Menurut Bambang, kesalahan ini sangat banyak ditemui di dalam buku-buku dan karya tulis orang Indonesia di kampus-kampus. Sangat miris.

    Ciri lain buku yang kurang kayak ialah cara mengutip yang serampangan dalam buku. Bambang menunjukkan pada kami semua yang mengikuti sertifikasi ini bahwa masih banyak penulis buku yang kurang memahami cara dan teknik mengutip yang baik dan benar. Misalnya ada yang saking hati-hatinya, setiap paragraf saja ada kutipannya padahal kutipan itu termasuk pengetahuan umum (common sense), tidak ada unsur spesial dan baru di dalam kutipan. Jadi malah membuat pembaca jengah karena dicekoki kutipan demi kutipan di tiap lembar tanpa ada tujuan yang kuat. Semata-mata demi tampak ilmiah dan terpelajar karena sudah pernah membaca buku ini dan itu.

    Di sisi kutub yang berlawan, juga ada penulis-penulis yang masih kurang terampil dan teliti dalam mengutip sehingga mereka terjerumus dalam jebakan-jebakan plagiarisme yang ternyata tidak cuma 1 jenis tapi banyak. Jenis plagiarisme yang paling ringan ialah inadvertent plagiarism yang dilakukan penulis tanpa sengaja. Ini bisa terjadi karena salah ketik nama penulis. Bisa juga sudah memparafrase tetapi tidak menyertakan sumber aslinya. Bahkan ada juga self plagiarism yang tampaknya tidak bermasalah karena menjiplak karya kita sendiri yang sebelumnya sudah terbit tapi diakui sebagai karya baru. Nah hal seperti ini ternyata juga melanggar etika penulisan buku meski itu menjiplak karya pribadi. 

    Kemudian yang menarik bagi saya adalah pernyataan Bambang bahwa penulis harus mampu memberikan kebaruan dalam bukunya yang berbeda dari informasi yang bisa ditemukan dengan mudah di internet. Saya pikir itu poin yang sangat kuat dan belum dipahami oleh banyak penulis di Indonesia. Saya juga kerap menemukan buku-buku yang terkesan asal ditulis dan sembrono karena cuma berbekal sumber-sumber di internet dan media sosial yang bisa diakses siapa saja. Lalu apa istimewanya buku Anda? Di era AI, saat informasi sangat mudah didapat, rasanya akan sangat konyol jika menulis buku masih hanya dengan berbekal sumber publik di internet.

    Lalu bagaimana sikap penulis terhadap AI? Apakah hal semacam ini haram sama sekali bagi penulis? Tidak juga. Kalau penulis mau menggunakan AI sebagai sumber dan alat bantu, Bambang mengatakan boleh saja tetapi tentu saja ada tata caranya. Kita bisa memasukkan jenis AI yang dipakai ke dalam daftar pustaka. Begini penulisannya: “OpenAI. DALL·E: Text-to-Image Generator. Versi 3.0. San Francisco: OpenAI, 2024.

    Proses Persiapan Ujian

    Setelah menjalani lima kali pertemuan, saya pun mengikuti bimbingan teknis bersama LSP Penulis dan Editor Profesional yang kantornya ada di Depok. Di dalamnya dijelaskan bagaimana tata cara mengikuti proses sertifikasi penulisan buku nonfiksi yang akan diadakan seminggu kemudian. Bagi yang sudah pernah menulis minimal 3 buku nonfiksi dalam 5 tahun terakhir, bisa diunggah dan akan dipertimbangkan untuk menjalani metode ujian portofolio. Bagi yang belum punya portofolio sebanyak itu, harus menjalani ujian jenis kompetensi. 

    Ujian sertifikasi pun digelar setelah sebelumnya saya mendaftar dan memenuhi syarat-syarat adminstrasi seperti KTP, data diri, latar belakang akademis dan buku yang pernah ditulis. Saya sendiri hanya menyertakan satu buku nonfiksi meski memang ada satu buku yang saya pernah tulis tetapi sebagai penulis bayangan sehingga saya tak tercantum sebagai penulis di sampulnya. Untuk itu, solusinya memang harus menyediakan surat pernyataan bermaterai yang menyatakan saya adalah penulis sebenarnya buku tersebut tapi karena rasanya seperti buang energi sebab buku itu sudah terlalu lama terbitnya, saya pun tidak melakukannya. 

    Proses menjalani ujian sertifikasi ini relatif mulus. Saya hanya perlu menggunakan laptop dan internet serta kamera ponsel sebagai CCTV/ kamera pengawas. Dengan demikian, mutu hasil ujian bisa dipertanggungjawabkan. Setelah saya bersama seorang asesor dalam ruangan Zoom, saya pun dipersilakan mengerjakan 30 soal pilihan ganda soal penulisan buku nonfiksi. Jika sudah belajar materi yang disampaikan Bambang sebelumnya, rasanya tidak masalah….

    [Baca selengkapnya di tautan berikut: https://lynk.id/akhlisp/lopw9kvw110g]

  • Plaza Festival Swimming Pool in daylight. (Photo: Google Maps)

    It might sound silly, but at the age of 40, I’ve just conquered my fear of swimming in a 2-meter-deep pool!

    I know this story might seem trivial, but if you’re like me—unable to swim as an adult—you’ll probably relate to what I’m feeling right now.

    Hydrophobia

    Here’s how it happened. After the recent Eid al-Fitr holiday, I became interested in teaching myself to swim again, having been haunted since childhood by a fear of water deeper than my height. Plus, not many people around me knew how to swim.

    Back in school, I had a weekly swimming extracurricular. On those days, I’d feel paralyzed—constantly wanting to skip but running out of excuses to give my PE teacher. As a result, my PE grade was terrible—just a 6. Had I actually participated in the swimming sessions at the district pool, maybe my grade could’ve been bumped up to a 7 or 8.

    Aside from my inability to swim, I was also shy about undressing in front of others. My body was skinny back then. Even now, I’m still slim, but more toned thanks to my consistent yoga practice since 2010. I’d say I’m pretty dedicated—since 2010, I’ve never taken a long break. Even a 1-2 week hiatus feels too long. I get so restless that I sometimes do light movements at night—call it a “movement snack”—just to lower my blood sugar after dinner, which supposedly can be managed with minimal exercise. Even walking or doing bodyweight squats helps.

    Self-Taught

    Before, I wasn’t interested in swimming because it was expensive, the nearest pool was far, and nothing really sparked my interest. But that changed when I watched artistic swimming and diving competitions in 2020. Wow, the movements were stunning, and the choreography was incredible. I became intrigued but, lacking commitment at the time, it ended with just watching clips of artistic swimming and diving. I especially admired Russian artistic swimmers and Chinese divers, whose dedication kept their countries dominant in those sports.

    Later, I started consistently teaching myself to swim at a pool near my home—one for kids and teens, only 130 cm deep. Safe enough that I wouldn’t drown. I practiced floating and tried strokes I’d learned from YouTube—freestyle, breaststroke, backstroke—but not butterfly yet.

    Trauma

    Then I committed to training in a deeper pool—150 cm—at KYZN BSD. It was far from home and pricey per session (around IDR 250k, excluding transportation). The place was premium, with imported coaches. But when Ramadan came last year, I stopped.

    Still, I kept practicing in my neighborhood’s 130 cm pool. Better than nothing, though it didn’t challenge my fear of deep water.

    Back in 2016, I’d tried swimming at a hotel pool in Ubud during a two-week stay. Unfortunately, I panicked and nearly drowned. As an overconfident beginner, once my feet couldn’t touch the bottom, my brain shut down. Instead of paddling, I froze—too embarrassed to even scream for help.

    Plaza Festival Pool

    Eventually, I visited Plaza Festival Pool (formerly Pasar Festival) during work hours in Jakarta. Going at off-peak times meant I could enjoy the pool more freely. The midday sun wasn’t too harsh either, since it shifted by 1-2 PM.

    Cleanliness

    At first, I was skeptical about the water’s cleanliness. But surprisingly, it was crystal clear during my last two visits—maybe cleaned after the long holiday. I even spotted a large chlorine barrel by the pool.

    If you plan to swim here, pick the right timing for clear water. Haha. Some Google Maps reviews complained about green, murky water, but thankfully, that wasn’t my experience. Or maybe I just got lucky?

    Security

    If you bring valuables like laptops or wallets, don’t worry—lockers are available for IDR 5,000 each (payable at the entrance guard, not the ticket counter). The keys work well and can be reused (unlike my local pool’s one-time-use lockers, which are annoying but keep you focused on swimming instead of phone distractions).

    The changing rooms and showers are also better now—wooden doors instead of the flimsy tarp curtains from my 2017 visit. No unauthorized peeking possible.

    As for safety from predators, this pool has long been rumored as a spot for men seeking same-sex encounters. While I’ve never been a victim, during my recent visits, one guy seemed suspicious—wearing a tight cotton singlet and underwear-like trunks (clearly not swimwear) while dry and just lurking near the showers. Could he have been signaling? I don’t know, but it was unsettling. Still, with security cameras and staff monitoring exits, any misconduct (theft or harassment) would likely be caught.

    Entry Fees & Insurance

    Prices vary by time:

    • Weekdays (Mon-Fri):
    • 6-8 AM & 1-7 PM: IDR 30,500
    • 8-11 AM: IDR 10,500 (cheap!)
    • Weekends:
    • Peak hours (morning/evening): IDR 35,500
    • Off-peak (noon): IDR 12,500

    No wonder I used to see kids flocking here at noon—imagine swimming for just IDR 10,500! Sunburn be damned. But on national holidays and Sundays, it’s flat IDR 35,500. Ouch.

    For accidents, ticket holders get compensation from Raharja Putera Insurance:

    • Death: IDR 2.5 million
    • Permanent disability: IDR 5 million
    • Medical treatment: Up to IDR 500,000

    During Eid 2025 holidays (March 28-29 & April 2-4, 7), entry peaked at IDR 35,000 per person.

    How I Conquered the 2-Meter Pool

    I’m no professional coach, but I managed to teach myself not to fear 2-meter-deep water. Here’s how:

    1. Start Safe: I began in the 1.5-meter section—close enough to the edge in case of cramps or exhaustion.
    2. Strategy: After warming up, I’d walk to the deep end and use the ladder to descend slowly, letting my brain process the depth.
    3. Grip the Ladder: Holding the rails kept me secure as I lowered myself to the 1.5-meter step, then finally touched the 2-meter bottom. First time ever!
    4. Familiarize: Feeling the bottom helped my brain register, “Oh, this is how deep it is.”
    5. Float Test: I’d climb back up, then release the ladder and practice floating—kicking as I’d seen in YouTube tutorials.

    I discovered I panic less floating on my back (like a starfish) than facing downward—probably a reflex to avoid breathlessness. Now, if panicked, I flip onto my back to breathe freely. This is actually the recommended survival tactic if you fall into water and can’t swim.

    I’m also better at backstroke than freestyle (which feels breath-challenging). I even swam 50 meters of breaststroke without panic, realizing: If I can float in 1.5 meters, I can in 2 meters too. The only barrier was mental.

    The Science of Floating

    Not everyone floats easily. According to Brent S. Rushall’s article on flotation in swimming, buoyancy depends on:

    • Body composition (fat, muscle, bone, lung volume)
    • Water density
    • Gender (women float easier)
    • Age
    • Water salinity

    People with higher fat or lung volume float better, while muscular/lean individuals (like bodybuilders) sink more. Physical changes (growth or strength training) can alter buoyancy, requiring technique adjustments.

    Luckily, I float easily on my back—my lifeline in deep water.

    Final Victory

    With God’s grace and my own effort, I finally swam across the 2-meter section.

    What about you? Still can’t swim despite your age? Maybe it’s time to try—who knows, it might save you if sea levels rise and we all end up living like the Bajau tribe. (*/)

  • I think it’s a very difficult option uh whether you have to choose to be or to stay bald and fertile or do you want to have more hair on your head, but you are infertile. You have no morning wood and you cannot have a good erection in the morning.

    What will you do?

    What will you choose?

    Which one you’re going to choose?

    This is a very hard question for any men out there because a TikTok influencer, an academician named Felix who is bald saying that he refuses to be undergoing hair transplant because he doesn’t want to lose his ability to have morning wood or the, you know, early morning hard erection which means that you are having the best or the peak moment of your male sexual health.

    And, it’s an earth shattering statement because he is an academician and he knows the side effect of the hair transplant treatment using a substance called a finesteride or something like that, and then correct me if I’m wrong.

    And then he knows that it’s going to make him less of a man. Because he may think that being a man means being able to you know, to wake up in the morning with a hard, erect penis. That’s that’s one of the definitions of being a man to Felix.

    Is that wrong? I don’t know.

    And to another man or other males on earth, maybe our ability to to have that solid rock morning wood is nothing compared to their pride of having a great full bush of hair that they can show off or they can flaunt to the world. The sensation of being able to comb your own hair with fingers.

    It made me question as to why Prince William of England doesn’t really seem to be interested in hair transplant, even though he has been going bald for, like, years.

    Tragically for your information, he is only in his early 40, I think, 42 or 43. That means he’s not actually that old. He doesn’t deserve to be bald.

    But my question remains like this: as to why he doesn’t seem to be interested in having a hair transplant in Turkey or somewhere else. Because I know that the hair transplant technology and the United Kingdom is very, very advanced.

    I think many experts right there they are very cutting edge in terms of technology.

    Why didn’t they do that?

    My hunch is there must be some concerns that the royal family might have.

    So if you ask me whether I would have my hair transplant or not that, that would be maybe I will.

    Here is my strategy: I will take, freeze and save my most fertile sperm first, and then I’m going to undergo that hair transplant procedure.

    So I will not sacrifice my offspring in case I want to have one or two.

    I don’t know, I can’t say anything for sure now.

    Anyway, I don’t really have the money, so I’d better spend that much money for something else, right? For surviving in this recession era, for example, ha ha.

  • Saya baru saja menyelesaikan sebuah novel berjudul “Episode Hujan” (2022) yang ditulis oleh Lucia Priandarini, seorang mantan jurnalis Femina dan penulis nonfiksi. Dan saya terdorong untuk menulis sebuah ulasan yang lugas, tidak ‘ndakik-ndakik’ (bahasa Jawa: memakai istilah-istilah yang memukau pembaca saking ‘canggihnya’). 

    Mungkin karena ini sebuah aktivitas pengisi waktu ngabuburit, saat glukosa darah saya lebih rendah dan otak saya dalam modus penghematan energi.

    Kesan pertama saya saat membaca novel satu ini adalah betapa ‘relatable’ narasi soal kehidupan sehari-hari wartawan/ jurnalis. Ada banyak kejadian dan detil yang saya juga rasakan saat saya bekerja sebagai jurnalis ‘ala-ala’ dahulu. Ya, saya juga sempat mencicipi kehidupan begitu dan sekarang masih menggunakan keterampilan dan pengalaman yang saya punyai itu untuk mencari nafkah sekarang ini.

    Idealis VS Pragmatis

    Saya sebut saja dikotomi atau kategorisasi antara jurnalis investigasi yang idealis, punya citra macho bak Superman yang dalam novel diwakili sosok Banyu Mili yang bekerja di Majalah Barometer dan jurnalis berhaluan gaya hidup dan PR yang lingkungannya lebih pragmatis, superficial, dan materialistis yang diwakili sosok Katya yang menjadi sosok sentral kisah dalam novel ini. 

    jujur kalau saya sendiri juga memiliki pemahaman bahwa saya bukan jenis jurnalis macho seperti Tempo. Rasanya susah membayangkan untuk bekerja di institusi sekeren Tempo. Mungkin karena mental dan latar belakang jurnalistik saya tidak kuat di situ. Saya kuliah di jurusan Sastra Inggris dan saya punya pengalaman bekerja sebagai content writer di media daring perusahaan properti. Saya tak punya pengalaman dan pengetahuan soal jurnalisme investigasi kecuali saat saya hanya menjadi notulen dalam workshop yang diadakan Tempo Institute saat saya berkesempatan menjadi notulennya. Cuma sebatas teori. Sayangnya jika ditanya portofolio, saya tidak bisa memberikan karya jurnalistik investigatif seperti itu. Lain dari Katya yang sebenarnya bisa dan akhirnya masuk ke media investigasi yang meghasilkan karya jurnalistik nyata dan berdampak, saya belum punya kemewahan tersebut.

    Karya-karya saya lebih soal pesanan pemberi kerja karena saya pada dasarnya menulis untuk pesanan pemilik modal. Terkesan kasar tapi begitulah faktanya. Apa yang dilakukan dan bisa menambah baik citra bos saya, akan saya tuliskan. Saya mirip copywriter saja, sebuah profesi yang saya lakoni hingga sekarang juga. Dan itu tentu jauh dari profesi wartawan yang sejati.

    Dan karena tidak bisa bergabung dengan organisasi jurnalistik idealis begitu, saya memutuskan melakukan apa yang saya bisa untuk menyalurkan idealisme saya sendiri. Saya membuat website berita kawasan sendiri, dengan suntikan dana pribadi, menggunakan otak sendiri untuk menyusun strategi, dan menolak intervensi eksternal manapun. Untuk urusan iklan, tentu saja saya menerima dan saya pisahkan tulisan itu di bagian advertorial, bukan berita reguler. Karena setahu saya, memang begitulah etika jurnalistiknya. Tentu tidak haram menerima dana dari pengiklan tapi harus dipisah supaya pembaca paham bahwa teks yang mereka baca itu pesanan orang, bukan hasil karya jurnalistik yang objektif, netral, tidak berpihak, dan minim bias.

    Mewah Tapi Miskin

    Di novel “Episode Hujan” ini saya juga bisa merasakan kejengkelan saya soal kesejahteraan jurnalis dan pekerja media. Citra pekerja media yang tampak selalu bisa berfoya-foya dengan gaji yang sebatas UMR atau sedikit di atas UMR, sangatlah nyata bagi saya.

    Saya masih ingat bahwa saya dulu sempat merasa menjadi bagian elit hanya karena bisa mendapatkan akses menuju event-event mewah, dengan audiens yang terdiri dari orang terkenal baik itu pejabat atau pengusaha kaya raya atau pengusaha yang akhirnya jadi pejabat seperti Ridwan Kamil. Untuk bisa percaya diri masuk ke dalam ballroom hotel dan auditorium megah, saya sampai menyisihkan gaji yang tak seberapa itu untuk membuat setelan jas sendiri, membeli sepatu formal sendiri. Dan saya berterima kasih karena bos besar saya bermurah hati pernah memberi angpaw yang jumlahnya fantastis betul buat saya kala itu. 

    Tapi itu peristiwa langka. Kebanyakan momen saya harus lalui dengan berjuang sendiri. Lembur meliput event kehumasan sampai hampir tengah malam. Meski pulang naik taksi bluebird dengan voucher dari kantor, tetap saja rasanya sedih sebab tak ada uang lembur dan kebebasan pribadi terenggut. Saya bisa melakukan hal lain jika saya tak lembur untuk perkembangan pribadi saya tapi saya selalu menjustifikasi lembur-lembur itu dengan berkata pada diri sendiri: “Hitung-hitung kamu memperluas koneksi dan wawasan. Bayangkan berapa banyak orang yang kamu bisa kenal dari sana.” 

    Ada benarnya juga karena setidaknya ada satu dua orang yang saya ajak bertukar kartu nama dari event-event yang saya hadiri itu. Ada yang masih ingat dengan saya bertahun-tahun kemudian dan ada juga yang entah ke mana tak ingat lagi.

    Semi Autobiografi

    Soal isi novel itu sendiri, saya pikir sudah tidak perlu banyak dikritisi. Mungkin karena sudah lama saya diajari menulis makalah kritik sastra yang terlalu ketat dan teoretis di zaman kuliah dulu jadi saya menghindari menulis seperti itu lagi sekarang. Jadi terkesan tak bebas. Toh tidak ada upah jika mematuhi norma akademik itu. 

    Secara umum, plotnya bagus, penyajian karakternya oke, cara membangun momen dan konfliknya juga patut diacungi jempol. 

    Karakter protagonisnya sendiri saya pikir mirip dengan versi diri si penulis tapi di usia yang lebih muda. Mungkin saja ini sebuah semo autobiografinya. Saya berani memvonis begini karena saya mengenal si penulis Lucia Priandarini sebagai seorang tetangga dekat. Mungkin kebetulan-kebetulan ini juga mirip dengan kebetulan yang dipilihnya untuk ditampilkan dalam novelnya. Kalau saya membayangkan kebetulan adanya hubungan darah antara protagonis, anak perempuan itu dan bapaknya itu sebagai kebetulan yang sangat ‘sinetron’. Saya malah agak berharap bahwa plotnya dibuat agak tidak ‘sinetron’ begitu. Supaya agak riil. Kalau perlu dibuat open ending atau bad ending supaya lebih ambigu, atau sekalian saja muram alias gloomy. Hehe. 

    Kalau ada saran dan masukan dari saya untuk novel ini, mungkin adalah kurang panjang dan mendalam. Saya pikir 200-an halaman masih kurang sekali untuk mengurai kompleksitas hubungan orang tua dan anak, hubungan antarsaudara kandung, masalah perdagangan manusia, masalah-masalah yang membelit industri media dan jurnalistik masa kini, pelanggaran hak anak dan kekerasan serta eksploitasi pada anak-anak, kemiskinan struktural yang membelit banyak orang Indonesia, dan harapan untuk mendapatkan keadilan yang setimpal bagi para korban pelanggaran HAM di Indonesia yang sejarahnya sangat panjang dan kalau diikuti sangat melelahkan.

    Di tengah merebaknya pemberitaan bangkitnya dwifungsi TNI dari kubur, lalu ada pengiriman kepala babi dan bangkai tikus tanpa kepala ke kantor Tempo sebagai media yang vokal mengkritisi pemerintahan Prabowo-Gibran, dan kasus pembunuhan wartawan  perempuan Juwita di Banjarbaru oleh J, seorang kelasi kelas 1 TNI Angkatan Laut, rasanya Anda sangat perlu membaca novel ini untuk paham bahwa isu-isu ini sudah diperjuangkan sejak lama dan perjuangannya tidak akan pernah berhenti di tempat sebab ia akan terus dirongrong oleh pihak-pihak yang tak senang dan merasa dirugikan. 

    Saya harap ia akan menulis novel berikutnya yang lebih mencengangkan, lebih kolossal, lebih sinematik, atau sejenisnya. Karena saya dengar ia sedang ‘gatal’ ingin melahirkan novel baru. Semoga saja proses pembuahan jabang bayi baru ini lancar. (*/)

  • Let’s face it.

    We know dozens of people who wouldn’t step onto a yoga mat for all the tea in China.

    We don’t blame these skeptics, not one bit.

    As a matter of fact, many of us used to be the same way.

    Our prejudice against yoga dated back to our first encounter with it—perhaps a clumsy attempt at a downward dog or a failed headstand.

    It felt awkward, even a bit ridiculous.

    But then, I met my first yoga teacher, Yuddhi Widdyantoro.

    He is a yoga instructor with a passion that’s as deep as his stretches, has a way of making even the most rigid skeptic bend—literally and metaphorically.

    His journey into yoga wasn’t about chasing trends or shedding pounds.

    It was about finding comfort in his own skin, a journey that began with a simple desire to be at ease with himself.

    The Turning Point

    That was my introduction to yoga came in December 2010, when I joined the Yoga Gembira community, founded by Yuddhi Widdyantoto, at Taman Suropati.

    It was there, under the guidance of him that I discovered the transformative power of yoga.

    I felt more focused, my immunity improved, and my mind became calmer, I recalled.

    What started as a casual interest on weekend soon turned into a lifelong passion. That simple.

    The Yoga Philosopher

    What sets Yudhi apart is his philosophical approach to yoga.

    He doesn’t just teach poses; he teaches a way of life.

    Yoga is like a tree that grows endlessly, he says. Some people enjoy its fruits, others use its wood, and some burn its branches for warmth.

    There’s no wrong way to benefit from yoga, as long as you don’t claim your way is the only right one.

    His teaching style is as diverse as his philosophy.

    He doesn’t stick to one type of yoga. Instead, he adapts his practice to suit his needs and those of his students.

    To relax and meditate, choose Yin Yoga. For strength and endurance, go for Ashtanga or Power Yoga. And if tired? Just rest.

    All of my teacher’s ways of thinking and stances shaped my attitude towards yoga as well.

    The Community Builder

    In 2021, I took my passion a step further by founding a yoga community in Maja, Banten.

    Inspired by the spirit of Yoga Gembira that my teacher founded, this new community welcomes everyone, regardless of their experience level.

    Yoga is for everyone. It’s not about perfection; it’s about progress and self-discovery.

    This inclusivity spirit is what makes yoga special in many ways for me.

    Sharing My Passion onward

    Now I’m a certified instructor with over 200 hours of training from a Registered Yoga School (RYS), Indonesia Yoga School (Jakarta), and additional certifications from Nirvikalpa Yoga School (Bandung, Indonesia).

    What I learned from all this is how to build my ability to connect with my students.

    Whether I’m teaching a gentle yoga class for beginners or a dynamic Vinyasa flow for seasoned practitioners, I always try to bring a sense of joy and authenticity to every session.

    My Other Passion

    Beyond the mat, I am also a professional writer, copywriter, editor, and translator.

    He has contributed to blogs and co-authored a book titled “Menemukan Makna, Merayakan Cinta” (Finding Meaning, Celebrating Love), which explores the deeper aspects of yoga.

    A portion of the book’s proceeds goes to social causes, reflecting Akhlis’s belief in giving back to the community.

    Recently, he has shared some of insights and tips on yoga practice and all related things via his lynk.id page: www.lynk.id/akhlisp.

    Simply click the link on my Instagram bio @akhlis to find out more about my insights and tips.

    Now It’s Your Decision …

    So, if you’ve ever doubted the power of yoga, let me change your mind.

    One session with him, and you’ll understand why so many have traded their skepticism for a yoga mat.

    As I would say: Don’t be a dope—get on the mat and experience the magic of yoga.

    Contact me via email akhlispurnomo@gmail.com for a yoga class that will suit your personal needs and goals.

    See you on the mat… (*/)

  • man working out
    Photo by Li Sun on Pexels.com

    Tren olahraga semakin populer dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Fenomena ini tentu membanggakan, mengingat tingkat kebugaran masyarakat Indonesia secara umum masih tergolong rendah.

    Menurut Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) yang dirilis oleh Kemenpora, pada tahun 2024, Indonesia mencatat peningkatan sebesar 0,007 poin dibandingkan tahun sebelumnya, dari 0,327 di tahun 2023 menjadi 0,334.

    Meski demikian, angka ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menyadari pentingnya berolahraga (baca: journo.id).

    Hal ini berdampak signifikan pada prestasi olahraga Indonesia di tingkat internasional. Buktinya, di Olimpiade, prestasi kita terbilang kurang memuaskan, padahal Indonesia menempati peringkat ke-4 negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.

    Di satu sisi, masih banyak orang Indonesia yang malas berolahraga, namun di sisi lain, ada pula kelompok anak muda dan paruh baya yang justru terobsesi dengan olahraga ekstrem seperti CrossFit, lari marathon, bodybuilding kompetitif, bersepeda jarak jauh, dan sejenisnya.

    Tujuan mereka berolahraga dengan intensitas tinggi biasanya dipicu oleh tren gaya hidup, pencarian jati diri, validasi eksternal, mengisi waktu luang, mencapai target fisik tertentu, atau sekadar ingin lebih bugar, sehat, dan panjang umur dengan menua secara sehat.

    Namun, sayangnya, sebagian orang lupa bahwa semakin keras berolahraga, belum tentu membuat usia lebih panjang. Bahkan, olahraga yang berlebihan justru berpotensi memperpendek usia.

    Tim peneliti dari University of Jyväskylä, Finlandia, melakukan penelitian tentang hubungan antara aktivitas fisik dan risiko kematian dalam jangka panjang. Mereka juga meneliti apakah aktivitas fisik dapat mengurangi risiko kematian akibat kerentanan genetik terhadap berbagai penyakit. Studi ini melibatkan 2.750 orang Finlandia yang lahir sebelum tahun 1958.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas moderat (tidak terlalu ringan namun juga tidak terlalu berat) dalam jangka panjang memberikan manfaat terbesar untuk memperpanjang harapan hidup. Bahkan, para peneliti menyimpulkan bahwa aktivitas fisik yang terlalu ekstrem dan intens tidak memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan atau harapan hidup. Meski begitu, dalam jangka pendek, aktivitas fisik dengan intensitas tinggi memang dapat menurunkan risiko kematian seseorang.

    Lebih lanjut, peneliti menyatakan bahwa harapan hidup mereka yang berolahraga secara keras tidak jauh berbeda dengan mereka yang jarang berolahraga. Artinya, berolahraga terlalu keras justru bisa membuang waktu dan menghambat tujuan untuk menjaga kebugaran serta menua dengan sehat.

    Peneliti juga menjelaskan bahwa memenuhi rekomendasi olahraga intensitas moderat selama 150-300 menit per minggu atau olahraga intensitas tinggi selama 75-150 menit per minggu tidak sepenuhnya menjamin peningkatan harapan hidup. Dengan kata lain, olahraga saja tidak cukup.

    Diperlukan kombinasi dengan faktor lain seperti perubahan pola hidup, pola tidur, pola makan, kesehatan mental, dan pola pikir untuk benar-benar memperpanjang harapan hidup.

    Namun, tentu saja, berolahraga tetap lebih baik daripada tidak sama sekali, mengingat banyak manfaat lain yang bisa didapatkan.

    Poin pentingnya adalah jangan terjebak pada kuantitas atau durasi olahraga semata. Kesehatan dan umur panjang tidak hanya ditentukan oleh rajin atau tidaknya seseorang berolahraga.

    Peneliti menegaskan bahwa penuaan biologis, yang ditandai dengan munculnya berbagai penyakit, lebih sering terjadi pada dua kelompok ekstrem: mereka yang tidak pernah berolahraga dan mereka yang berolahraga terlalu keras setiap hari.

    Sementara itu, mereka yang berolahraga dengan intensitas moderat justru mendapatkan manfaat lebih besar dan cenderung memiliki harapan hidup lebih panjang. Tentu saja, semua itu terjadi atas izin Tuhan. (*/)

  • teach dice ornament on table
    (Photo by Pixabay on Pexels.com)

    Baru-baru ini saya menyimak pemaparan Omar Danishwara, seorang instruktur Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Saya tertarik dengan topik ini karena selama ini saya sudah akrab dengan pengajaran bahasa asing (Inggris) untuk penutur Indonesia. 

    Sebagai informasi, saya sudah pernah mengajar bahasa Inggris untuk level SD, SMP hingga SMA bahkan level universitas. Kemudian juga saya saat ini terlibat dalam pelatihan keterampilan berbahasa calon pekerja medis migran Indonesia yang disiapkan untuk bekerja di Saudi Arabia serta para pekerja korporat yang harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang memenuhi standar untuk bisa menangkap peluang bisnis dengan mitra asing di berbagai event internasional.

    Nah, apakah ada kesempatan juga untuk saya untuk mengajarkan bahasa Indonesia untuk penutur asing? Ternyata ada.

    Peluang Kerja Lulusan Bahasa dan Sastra

    Dari penjelasan Omar, saya mendapati bahwa memang ada kesamaan dalam pengajaran bahasa asing terutama Inggris dengan BIPA ini.

    Misalnya dalam aspek keterampilan berbahasa yang diajarkan. BIPA juga sama dengan kelas bahasa Inggris pada umumnya yang fokus pada pencapaian keterampilan berbicara (speaking), menyimak (listening), membaca (reading), dan menulis (writing).

    Layaknya bahasa Inggris juga, BIPA juga memiliki spesialisasi tergantung tujuan pembelajaran pesertanya. Misalnya jika ada English for Business, maka BIPA juga ada yang khusus dirancang bagi komunikasi bisnis. Begitu juga untuk ranah akademik, jurnalistik, dan bahkan jika pesertanya mau, BIPA khusus membahas bahasa slang Indonesia bisa diadakan.

    Tentu saja dalam belajar bahasa, kita tidak eksklusif membahas bahasa. Akan jauh lebih afdol bila proses pembelajaran juga melibatkan unsur sastra dan kebudayaan yang sangat erat kaitannya dengan bahasa sebuah kelompok masyarakat.

    Karenanya, sangat masuk akal jika ruang kelas dipindah ke pasar atau ke ruang publik lain tempat para peserta bisa melebur dengan lingkungan bahasa yang autentik, yang pada gilirannya mendorong mereka berbahasa dengan lebih lancar, adaptif, dan komunikatif. Jadi tidak cuma berbekal pengetahuan dari buku di ruang kelas.

    Sebagai orang asli Indonesia, kita memiliki kelebihan karena sudah bisa dianggap sebagai penutur asli (native speakers). Jalur mengajar BIPA juga tidak hanya terbatas di institusi formal (misal universitas, sekolah, lembaga kursus besar) tetapi juga bisa dilakukan sebagi peluang pekerjaan lepas (freelance job) dan juga bersifat insidentil dalam bentuk proyek yang berdurasi tertentu.

    Modal Dasar Pengajar BIPA

    Untuk menjadi pengajar BIPA tentu saja tergantung pada jalur yang kita tempuh. Jika kita ingin mengajar sebagai bagian dari institusi formal, tak bisa dihindari akan ada tuntutan memiliki sertifikat resmi pelatihan mengajar BIPA atau setidaknya pengalaman mengajar BIPA. Namun, kembali semuanya ke para peserta/ pihak penyelenggara kelas BIPA. Jika mereka hanya ingin mengikuti kelas dari instruktur yang bersertifikat resmi, maka kita sebagai pengajar harus bisa menunjukkan sertifikat yang diminta.

    Bagi Anda yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa, akan ada kelebihan khusus. Biasanya institusi formal mengutamakan para lulusan jurusan bahasa untuk menjadi pengajar BIPA. Namun, tidak menutup kemungkinan mereka yang bukan lulusan bahasa atau sastra bisa juga melamar atau mengajukan diri sebagai pengajar. 

    Saat melamar posisi pengajar BIPA, biasanya kita akan juga diminta sertifikat ujian kemampuan bahasa Indonesia (UKBI) yang mirip tes TOEFL/ IELTS dalam bahasa Inggris. Idealnya sebagai pengajar, kita harus ada di kategori Istimewa, Sangat Unggul atau minimal Unggul. Bila ada banyak saingan dengan hasil lebih bagus, Anda bisa tersingkir. Maka dari itu, kuasai bahasa Indonesia Anda dulu sebaik mungkin sebelum menjadi pengajar BIPA. Ini modal dasar yang penting sekali.

    Modal berikutnya ialah kemampuan berbahasa Inggris. Meski tidak selalu wajib, kemampuan berbahasa Inggris akan memudahkan kita saat mengajar orang asing dengan bahasa selain Inggris. Ini karena bahasa Inggris adalagh lingua franca yang umum dikuasai semua orang di seluruh dunia.

    Kalau bahasa Inggris kita kurang lancar bagaimana? Tak masalah sebenarnya asal murid yang Anda ajar nanti memang bahasa ibunya Anda sudah kuasai dengan baik. Misal Anda ingin mengajar bahasa Indonesia untuk orang Saudi Arabia. Maka Anda tak perlu menguasai bahasa Inggris, jika bahasa Arab Anda sudah lancar. Jadi tergantung siapa yang Anda akan ajari bahasa Indonesia nanti. 

    Kisaran Gaji Pengajar BIPA

    Berapa besaran gaji untuk pengajar BIPA? Omar sendiri mengaku bahwa dirinya pernah ditawari mengajar di luar Jawa untuk perusahaan tambang China yang memberikan gaji pokok sekitar Rp8 jutaan dan bonus. 

    Untuk bayaran per jam pengajar BIPA, bisa berkisar antara Rp100-300 ribu per pertemuan. Sehingga bisa ditotal penghasilan per bulan bisa lebih dari Rp10 jutaan di Indonesia. Di luar negeri tentu lebih tinggi lagi. Omar mengatakan saat mengajar di China, ia digaji Rp12-13 jutaan per bulan. Besaran gajinya bervariasi memang bergantung UMR per daerah di sana. Plus sudah ada tempat tinggal gratis dan asuransi dari institusi yang bersangkutan. Tentu saja jika mengajar di institusi akan terhindar dari upah di bawah standar.

    Untuk pengajar BIPA lepas, tarif bisa berdasarkan dollar AS dan tujuan belajarnya bervariasi. Untuk mengajar BIPA di Indonesia, tarifnya 10-35 dollar AS per pertemuan. Di luar negeri, bisa Rp300 ribu per pertemuan. Omar mengatakan ia pernah beruntung bisa mendapatkan 60 dollar Australia per pertemuan.

    Penentu Besaran Gaji Pengajar BIPA

    Ada beberapa faktor penentu besaran gaji pengajar BIPA, di antaranya lamanya pengalaman mengajar, level pendidikan, tempat kita mengajar, institusi kita pernah mengajar, personal branding di media sosial, dan sebagainya.

    Bila kita ingin mencoba peluang mengajar BIPA, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama ialah mengikuti pelatihan mengajar BIPA di kampus atau institusi bahasa yang menawarkan. Saya lihat universitas-universitas memiliki pusat bahasa yang menawarkan program ini. Sebagai gambaran pelatihan daring dari level 1-7 BIPA seharga Rp15 jutaan dengan jam belajar 110 jam. Harga ini ditawarkan oleh Pusat Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

    Tak Bisa Sembarangan

    Tantangan yang biasanya datang ialah penyesuaian materi dengan tujuan belajar murid karena masing-masing murid bisa berbeda tujuan. Misalnya ada orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia untuk percakapan bisnis jadi isi materi kursusnya dominan sesi percakapan, role play, dan sebagainya. Tak banyak porsi teoretis atau tata bahasa yang terlalu rinci. Banyak faktor yang bisa memainkan peran dalam penyesuaian materi ini yang kita bisa gali dengan menanyakan tujuan belajar murid tersebut (jika ia murid privat).

    Meskipun kita adalah penutur asli bahasa Indonesia, tetap perlu mengikuti pelatihan mengajar BIPA sebab mengajarkan bahasa Indonesia pada orang asing memerlukan teknik dan strategi khusus. Tak bisa sembarangan. Misalnya penggunaan imbuhan yang beragam macamnya. Bagi kita penutur asli, dalam menggunakan kita tak ada masalah dan terasa alami saja saat dilakukan. Namun, untuk orang asing, penggunaan imbuhan tidak bisa dipahami semudah itu.  (*/)

  • laptop with news on the screen
    Bahasa korporat ala anak muda industri tech, agensi dan kreatif di Jaksel memang berbeda. (Photo by Jane Trang Doan on Pexels.com)

    Baru-baru ini saya menemukan beberapa konten instagram reels yang menggelitik. Jika sebelumnya bahasa gaul Jaksel sudah diangkat oleh Oza Rangkuti, sekarang ada Lutfi Afansyah yang menggunakan topik bahasa harian anak muda.

    Tapi uniknya bahasa gaul ini cuma berlaku di kalangan anak muda pekerja tech startup, technology information, marketing, sales, advertisement, product and business development, agensi, dan digital marketing sebagai topik utama konten-konten terbarunya. Bahkan ada yang berkata bahasa ini juga masuk ke pekerja gen Z yang bergerak di industri jasa, perhotelan, dan korporasi besar.

    Saya kemudian menjadi ‘gatal’ untuk menuliskan sederet kosakata tersebut dan memberikan penjelasan mengenai makna tiap ujaran ini. Ada yang maknanya masih sesuai aslinya (dari bahasa Inggris tentunya) dan ada yang sudah dipuntir dan terdistorsi sehingga berubah dan beradaptasi sesuai konteks dan kebutuhan sosial anak-anak muda pekerja kreatif dan digital ini.

    Kalau dikatakan saya menjadi bagian dari circle atau lingkaran orang-orang yang berbicara lancar dengan lingo atau bahasa gaul jenis ini, tidak juga. Saya tidak secara aktif menggunakannya kecuali jika saya berada di lingkungan dan bersama orang-orang yang ada di industri tersebut.

    Konten soal bahasa corporate Jaksel ini menuai reaksi gemas dari warganet.

    Untuk Anda yang masih bertanya-tanya soal arti tiap ujaran yang terkesan alien tersebut tulisan ini saya dedikasikan.

     Berikut adalah daftar kata/istilah yang disebutkan dalam tulisan ini:

    1. 360 PR
    2. Achieve
    3. Acquisition
    4. Account executive
    5. Actually
    6. Added value
    7. Additional
    8. Adjust
    9. Again and again
    10. Agile
    11. Aim
    12. Align / alignment
    13. Approve / Approval
    14. As per our last email/discussion
    15. Aware
    16. Based on our (latest/last) feedback
    17. BAU (business as usual)
    18. BOD
    19. Break down
    20. Bisa dibantu…?
    21. Back to back
    22. Best effort
    23. Best practice
    24. Bola
    25. Bottleneck
    26. Blue ocean strategy
    27. By the end of the day (EOD)
    28. Cabut dulu ya
    29. Call to action (CTA)
    30. Can I have a say in this?
    31. Circulate
    32. Circle back
    33. Clash
    34. Compliance
    35. Concern
    36. Core values
    37. Cross functional team
    38. Dari aku cukup
    39. Deliverables
    40. Deep dive
    41. Digoyang
    42. Dikejar banget
    43. Dirimu
    44. Drill down
    45. DP (Display Picture)
    46. Elevator pitch
    47. End-year review
    48. Engagement
    49. Enhance
    50. First half of the day
    51. First thing tomorrow morning
    52. Forecast
    53. Geser
    54. Get back to you
    55. Get it
    56. Go extra miles
    57. Gong
    58. Growth hacking
    59. Hai kak / hi kak
    60. Hanupis
    61. Hands-on
    62. Huddle
    63. Hu’um
    64. Invite
    65. Ideation
    66. Initiate ideation
    67. Inquiries (enquiries)
    68. I see (IC)
    69. Ikigai
    70. Justification
    71. Kak
    72. Kindly check
    73. Kindly need your help
    74. Kindly reminder
    75. Last update by today
    76. Legal team
    77. Layoff
    78. Lookalike audience
    79. Mandatory
    80. Milestone
    81. Noted
    82. OOT (out of topic)
    83. Ongoing project
    84. PIC (Person in Charge)
    85. Pivot
    86. Procurement
    87. Public relations
    88. Push
    89. Pitch in
    90. On the same page
    91. On cloud
    92. OKR (objectives and key results)
    93. Owning
    94. Outing
    95. Pain point
    96. Parallel
    97. Punten / pun10
    98. Proof of concept
    99. Please double check
    100. Implementasi
    101. In progress
    102. Jump in
    103. Maximum effort
    104. MoM (minutes of meeting)
    105. Minor revision
    106. Move the needle
    107. Navigate concerns
    108. Escalate
    109. Sync up
    110. Follow up
    111. Possible
    112. Back down
    113. Cover all options
    114. PIP (Performance Improvement Plan)
    115. Pivot
    116. Reschedule
    117. Regroup
    118. Retargeting
    119. Role
    120. Scalability / scaleability
    121. Sick leave
    122. Silver lining
    123. Strategic decision
    124. Sundul
    125. On point
    126. On process
    127. Optimalization
    128. On call
    129. Make sure
    130. Q1 / Q2 / Q3 / Q4
    131. Raise issues
    132. Since
    133. Slate
    134. Standup
    135. Storyline
    136. Submit
    137. Summary
    138. Sundul
    139. Subordinate
    140. Seamless integration
    141. Take over
    142. Take down
    143. Tektokan
    144. Tight budget
    145. Tone down
    146. Touch base
    147. Townhall
    148. Turn out
    149. Tweak
    150. Understandable
    151. Unique selling point (USP)
    152. Well aware
    153. Well received
    154. Win-win solution

    Mari kita kupas satu persatu.

    ”360 PR”

    Sebenarnya ini adalah sebuah istilah/ terminologi dalam dunia kehumasan (public relations). Artinya satu jenis pendekatan kehumasan yang menggabungkan antara pemasaran (marketing) dan kehumasan dengan tujuan akhir untuk mempromosikan sebuah jenama atau brand di sebuah industri. 

    Dengan demikian, kalau Anda bukan profesional di bidang kehumasan, bisa dimaklumi jika Anda tidak paham definisi ini. 

    Tapi dalam bahasa sederhananya, makna konsep 360 PR adalah bahwa kampanye kehumasan apapun harus bisa menyampaikan pesan utama (key message) ke kelompok sasaran (target audience) melalui berbagai kanal informasi yang tersedia misalnya lewat media sosial, media cetak, publikasi dan media daring (online publication/ media).

    “Achieve”

    Dalam bahasa Indonesia, maknanya adalah mencapai atau meraih. Dalam bahasa korporat kekinian, maknanya kurang lebih masih sama.

    Contoh kalimatnya bisa berupa: “Kita harus achieve goal di Q1 ini ya guys yaaa.”

    ”Acquisition”

    Berdasarkan kamus, definisi acquisition adalah akuisisi atau pemerolehan. 

    “Account executive”

    Dalam dunia advertising, biasanya account executive adalah orang-orang yang ditugasi untuk menjadi jembatan komunikasi antara pihak klien/ korporasi yang lebih besar dan pihak tim internal agensi/ pihak ketiga.

    Mereka ini menjadi penjaga gawang jalur komunikasi agar tidak terjadi salah paham dan menjaga ketertiban alur pengerjaan atau workflow pelaksanaan sebuah proyek. 

    Account executive biasanya juga adalah kelompok orang yang gemar dan sering menggunakan ragam bahasa korporat Jaksel satu ini.

    ”Actually”

    Bisa digunakan untuk mengganti kata “sebenarnya” atau “pada kenyataannya” dalam pembicaraan. Tapi di sini kadang seseorang ingin terdengar lebih sophisticated dan lancar berbahasa Inggris jadi kata ini bisa diselipkan secara bebas saja meski tentu saja jika over dosis bisa membosankan orang yang mendengarkannya.

    ”Added value”

    Bisa diartikan secara literal ke dalam bahasa Indonesia menjadi “nilai tambah”. Maknanya secara spesifik ialah hal-hal yang sebenarnya tidak diharuskan ada tetapi pihak yang mengerjakan menambahkannya sebagai poin plus untuk memudahkan pihak lain yang memberi tugas. 

    ”Additional”

    Artinya hal-hal yang bersifat “tambahan” atau “ekstra”. Misalnya “additional request”.

    ”Adjust”

    Sinonim lainnya adalah “beradaptasi” tetapi di sini artinya sedikit bergeser menjadi “mengubah” atau “mengedit” atau “merevisi” hasil pekerjaan yang sudah dikirimkan.

    “Again and again”

    Ujaran ini lebih bersifat penekanan. Apalagi jika kita merasa bahwa pihak lain tidak kunjung memahami sebuah poin utama pembicaraan yang seharusnya ia pahami karena begitu vital bagi kelancaran jalannya sebuah proyek.

    ”Agile”

    Sebuah kata yang arti aslinya adalah “lincah/ gesit” tetapi di sini artinya agak sedikit bergeser menjadi “cepat, responsif, cekatan” alias “sat set”.

    ”Aim”

    Sebuah kata kerja sekaligus kata benda juga yang juga masih mempertahankan makna yang aslinya di bahasa Inggris. Artinya “tujuan”.

    ”Align” / “alignment”

    Tak cuma soal yoga, di bahasa korporat Jaksel juga ada istilah ini, yang artinya tentu saja agak berbeda yakni penyelarasan atau keselarasan pemikiran antara berbagai pihak yang terlibat dalam sebuah pekerjaan atau proyek. Misalnya “Kita coba align lagi nanti sama atasan aku ya, kak.”

    ”Approve” dan ”Approval”

    Keduanya masih berkaitan dalam hal makna. Yang pertama adalah kata kerjanya “menyetujui/ menyepakati/ meneken” dan yang kedua “persetujuan/ kesepakatan/ penandatanganan”. Contohnya “Kita tunggu approval dari bos dulu yahhh.” 

    ”Storyline”

    Artinya adalah rancangan alur sebuah konten. Bisa berupa konten video TikTok, YouTube atau reels Instagram. Alur ini harus direncanakan matang agar tujuan pembuatan konten tercapai dan tetap menarik orang sehingga mau menontonnya hingga selesai dan bahkan menyimpan dan menyebarkannya ke pengguna media sosial lain.

    “Townhall” 

    Kata ini mengacu pada jenis pertemuan besar yang biasanya melibatkan pejabat publik atau politisi yang ingin berdialog secara terbuka dengan masyarakat luas di sekitarnya. 

    Namun, di konteks komunikasi korporat Jaksel yang dominan startup dan agensi, ada pergeseran makna menjadi pertemuan besar yang wajib dihadiri semua orang termasuk jajaran chief officers di sebuah perusahaan yang biasanya membahas soal-soal penting yang harus diketahui semua orang dalam organisasi. Misalnya adanya perubahan kebijakan atau PHK (layoff) massal.

    ”Turn out”

    Artinya “berubah” atau “akhirnya”. Misalnya “Makasih ya kak partnership kontennya kemarin. Turns/turned out engagement rate-nya oke banget!”

    ”Tweak”

    Kata ini artinya “memperbaiki sesuatu dengan memberikan penyesuaian minor”. Jadi jika ada permohonan revisi apapun yang melibatkan kata ini, Anda bisa agak lega karena perubahannya cuma sedikit. Sifat revisinya tidak besar-besaran apalagi harus mengerjakan dari awal lagi. Bisa jadi cuma mengubah satu kata atau kalimat (jika itu pekerjaan copywriting) atau perubahan gradasi warna (jika itu pekerjaan desainer grafis).

    ”Understandable” (paham banget)

    Kata ini bisa dianggap persis dengan “well aware”. Ia menunjukkan bahwa si pembicara mengakui dan menyetujui hal yang disampaikan oleh si lawan bicara. 

    ”Unique selling point”

    Sering disingkat USP, istilah ini merujuk pada satu poin atau fitur dalam sesuatu yang mendorong orang untuk memilikinya (baca: membeli dan menggunakannya). 

    Baca versi lengkap mini glosarium bahasa korporat jaksel ini dengan mengklik link berikut ini: https://lynk.id/akhlisp/. (*/)

Verified by MonsterInsights