• Skoliosis adalah salah satu jenis kelainan postur yang juga ditemui pada sebagian masyarakat Indonesia. Angka prevalensi skoliosis di Indonesia sendiri berdasarkan sejumlah penelitian di Indonesia mencapai 2-3% pada kelompok populasi remaja yang mayoritas perempuan dan warga perkotaan (sebab kesadaran dan akses ke perawatan kesehatan lebih baik). 

    Dengan kata lain, persentase tersebut cuma puncak dari gunung es yang lebih besar. Sejumlah besar kasus skoliosis di Indonesia terdeteksi saat usia sudah dewasa sehingga penanganannya sudah terlambat akibat rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dan kurangnya akses masyarakat menuju ke pelayanan medis agar mereka bisa menjalani pemeriksaan skoliosis, terutama di daerah pedesaan.

    Yang sering terjadi adalah skoliosis sering ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan sekolah atau saat kelengkungan tulang belakang sudah terlihat jelas pada remaja. 

    Ditambah lagi fakta bahwa masih tak terhitung banyaknya penderita skoliosis di Indonesia yang belum mau atau mampu untuk memeriksakan diri ke dokter. Mereka ini banyak yang melakukan self diagnose dan menangani kondisinya dengan berbekal media sosial. 

    Kesadaran Soal Postur Badan yang Ideal

    Sebagai kreator konten edukasi kesehatan, saya paham betul karena konten saya di media sosial soal edukasi penanganan skoliosis adalah salah satu jenis yang paling banyak disukai pengguna media sosial. 

    Mereka ini kebanyakan adalah anak-anak muda yang mulai sadar dengan postur badan mereka karena berencana ingin mendaftar pada pekerjaan-pekerjaan yang mewajibkan postur badan yang sempurna, tanpa cacat yang kentara. 

    Salah satunya ialah prajurit TNI maupun kepolisian. Sebagai informasi, calon prajurit TNI wajib menjalani pemeriksaan badan yang cermat. Mereka wajib memiliki tubuh yang tegap, tidak boleh bungkuk, dan tidak memiliki kelainan tulang belakang misalnya skoliosis, kifosis, dan lordosis. Dada calon prajurit TNI bidang dan bahu seimbang. Kaki juga harus sejajar dan seimbang. Tidak boleh ada kaki berbentuk huruf O dan X yang nantinya akan berpengaruh pada cara berjalan dan berlari.

    Apa Itu Skoliosis?

    Skoliosis dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu kondisi kelainan pada tulang belakang (spine) yang ditandai dengan lengkungan tidak wajar yang bisa membentuk huruf “C” atau “S”. 

    Menurut sumber ilmiah, skoliosis berarti kondisi tulang belakang yang menunjukkan derajat lengkungan yang melebihi 10 derajat ketika diukur menggunakan metode Cobb angle pada radiografi. Kelengkungan ini dapat terjadi di daerah dada (thorax), pinggang (lumbar), atau keduanya.

    Derajat Keparahan Skoliosis

    Keparahan skoliosis bisa dikategorikan dalam 3 level. Yang pertama ialah ringan, dengan sudut Cobb 10-25 derajat. Lalu level sedang dengan sudut Cobb 25-40 derajat. Terakhir level berat dengan sudut Cobb lebih dari 40 derajat.

    Dengan makin parahnya level skoliosis, seseorang harus semakin memperhatikan postur, rajin berolahraga untuk mencegah makin parahnya kondisi dan konsultasi teratur dengan dokter.

    Jenis-Jenis dan Faktor Penyebab Skoliosis

    Terdapat sejumlah jenis skolisis yang diketahui hingga kini dalam dunia medis. 

    Yang pertama ialah jenis idiopatik, yang penyebabnya misterius (diduga keras karena faktor genetis). Jenis inilah yang paling banyak ditemui di dunia (80-85 persen kasus yang ada). Skoliosis idiopatik ini bisa menimpa anak batita (0-3 tahun) hingga remaja usia 18 tahun. Mayoritas orang yang berisiko terkena skoliosis jenis ini adalah kaum perempuan.

    Kemudian jenis kedua ialah jenis skoliosis kongenital yang muncul sebagai suatu kelainan bentuk tulang belakang sejak lahir. Tulang belakang anak di kondisi ini biasanya sudah abnormal sejak dalam kandungan sehingga susah dicegah. Maka dari itu, jika Anda ibu dengan skoliosis, jika kelak memiliki anak, siapkan diri untuk menangani kondisi skoliosis pada anak Anda karena risiko anak Anda menderita skoliosis juga lebih tinggi daripada anak dengan ibu tanpa skoliosis.

    Jenis lainnya ialah skoliosis neuromuskular yang dikaitkan dengan kondisi cerebral palsy, distrofi otot, atau spina bifida. Penderita skoliosis jenis ini mengalami gangguan sistem syaraf dan ototnya sehingga tulang belakangnya ikut terkena dampak dan akhirnya melengkung. Untuk mereka dengan kondisi kelainan tulang bawaan memang harus ditangani medis secara kuratif. Tidak bisa dicegah dari dini.

    Kemudian ada juga tipe skoliosis degeneratif yang bisa terjadi karena degenerasi “diskus” (discs) atau bantalan tulang belakang dan ausnya sendi tulang belakang. Ini paling banyak terjadi pada manula seiring dengan proses penuaan, osteoporosis, dan kerusakan bantalan tulang belakang.

    Untuk Tangani Skoliosis, Ke Dokter Mana?

    Pertanyaan satu ini banyak ditemui karena masih kurangnya edukasi soal skoliosis di masyarakat kita. Itu karena penanganan skoliosis tidak bisa ke dokter umum saja.

    Untuk menangani skoliosis, kita bisa mendatangi tempat praktik dokter orthopedi. Dokter ini memiliki spesialisasi dalam hal tulang dan sendi di badan. 

    Selain dokter orthopedi, jika memang kondisi skoliosis berat, kita harus juga berkonsultasi ke dokter spesialis tulang belakang. Dokter ini memiliki spesialisasi bedah tulang belakang.

    Jika Anda memiliki skoliosis ringan, sangat disarankan juga untuk menemui dan berlatih fisik secara teratur dengan fisioterapis profesional di rumah sakit karena mereka bisa membantu Anda dalam menjalani terapi gerakan khusus untuk mencegah skoliosis makin parah atau kambuh (jika sudah menjalani operasi). Fisioterapis berfokus pada upaya terapi non bedah dan gerakan rehabilitasi otot dan sendi. Metode yang biasa dipakai fisioterapis untuk penderita skoliosis ialah metode Schroth yang membantu meluruskan kembali tulang belakang.

    Baru setelah Anda berkonsultasi ke dokter ortopedi, Anda bisa juga berlatih olahraga Pilates atau Yoga di bawah bimbingan instruktur profesional yang bersertifikasi.

    Dan yang patut dipahami dengan baik ialah bahwa proses penanganan ini bisa berlangsung selama seumur hidup Anda.

    Ragam Penanganan Skoliosis 

    Banyak orang Indonesia yang bertanya soal ini karena mereka takut dioperasi dan karena biaya operasi juga mahal. 

    Berita baiknya tidak semua kasus skoliosis harus ditangani dengan pembedahan besar yang menimbulkan trauma pada badan kita.

    Pada sebagian kasus, penanganan tanpa bedah juga bisa dilakukan dan sudah memadai. Anda bisa berkonsultasi ke dokter orthopedi dengan biaya sekali konsultasi Rp150 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara itu, untuk diagnosis Anda harus menjalani pemeriksaan radiologi seharga Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta.

    Namun, jika Anda tak mau dioperasi, syaratnya skoliosis yang Anda derita harus bukan level berat (sudut Cobb kurang dari 40 derajat). 

    Faktor pertimbangan operasi tidaknya juga adalah umur seseorang dan potensi pertumbuhan tulang. Jika Anda masih remaja, proses penyembuhan setelah operasi lebih cepat dari lansia. Potensi pertumbuhan tulang kembali normal juga masih lebih baik daripada orang yang usianya paruh baya maupun lanjut.

    Faktor penting dioperasi tidaknya ialah berat ringannya gejala skoliosis. Jika gejalanya sudah mengancam jiwa seperti nyeri di dada dan napas jadi terganggu akibat lengkungan tulang belakang yang makin mendesak paru-paru dan jantung, maka penanganan skoliosis dengan operasi tidak bisa dielakkan.

    Biaya operasi bisa bervariasi, dari yang termurah yakni sekitar Rp50 juta hingga Rp200 juta lebih. Biaya bergantung pada kerumitan kasus setiap pasien dan fasilitas rumah sakit. 

    Operasi memang bisa mengurangi derajat lengkungan secara signifikan tetapi tulang belakang Anda tidak akan sepenuhnya normal bak orang tanpa skoliosis. Hal itu karena ada fusi atau alat bantu yang dipakaikan pada tulang belakang agar ia bisa lebih tegak lurus.

    Untuk mencegah skoliosis kambuh, penderita skoliosis remaja juga harus memakai alat bernama brace yang harganya bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp 15 jutaan. Fungsi brace ialah untuk membantu menegakkan tulang belakang agar tetap dalam kondisi setegak lurus mungkin. Brace dianjurkan dipakai selama 16-23 jam sehari. Dengan begitu, derajat lengkungan bisa dicegah untuk tak makin parah.

    Apakah Skoliosis Bisa Sembuh?

    Jika derajat keparahan skoliosis yang Anda miliki masih pada level ringan hingga sedang, kabar baiknya adalah Anda cukup menjalani perawatan tanpa operasi. Tapi Anda wajib berolahraga secara rutin agar mencegah skoliosisnya makin parah. Jangan lupa untuk memperbaiki postur agar tetap tegak saat duduk, berdiri, berjalan dalam semua aktivitas sehari-hari. Semua olahraga dan perawatan non bedah ini tidak selalu bisa membantu meluruskan tulang belakang 100% seperti tulang belakang orang normal yang tak memiliki skoliosis.

    Klik link berikut ini jika Anda ingin menonton video tutorial pose yoga untuk skoliosis dan mempraktikkannya di rumah: YOGA UNTUK PENDERITA SKOLIOSIS.

    Jika Anda ingin berlatih yoga untuk skoliosis, Anda bisa menghubungi saya via email akhlispurnomo@gmail.com. (*/)

  • a shirtless man lying in bed in the bedroom in the morning
    Photo by Matteo Milan on Pexels.com

    Jika Anda mendapati ada seseorang (biasanya anak muda) yang kurang tidur dan tak bersemangat saat belajar atau kuliah, cobalah bertanya apakah ia memang insomnia atau sering secara sengaja terjaga di malam hari bahkan hingga subuh hanya karena ingin menikmati me time alias waktu sendirian dengan bebas.

    Kasus seperti ini makin marak dan saya menemukan sebuah konten video TikTok yang bisa memvalidasi hipotesis ini. Sebuah unggahan oleh akun bernama @cacing.besar.alaska menuai 4,9 juta views karena menyinggung kebiasaan banyak anak muda saat ini yang memilih terjaga di malam hari demi merengkuh kebebasan mereka.

    Tulisnya: “We listen (read actually) and we don’t judge. Walaupun udah ngantuk tapi sering males tidur karena ngerasa malem adalah satu-satunya waktu luang untuk leha-leha dan kalo dipake tidur rasanya sayang aja.”

    Konten itu langsung direspon ribuan akun. Rata-rata anak muda yang merasa hal yang sama. Ada yang mengunggah ulang ke akun TikTok mereka. Ada juga yang berkomentar dan menjelaskan apa yang mereka alami juga, ada juga yang menyukai unggahan tersebut dan menyimpannya karena dianggap sangat relatable.

    Anda bisa membaca konten itu beserta komentar-komentar anak muda di atas. Saya sendiri merasa sangat miris karena itu artinya banyak orang yang menjalani pola hidup seperti itu sekarang ini. Pertanyaannya: “Kenapa dan ada apa dengan masyarakat kita ini?”

    Tapi karena saya praktisi olahraga dan pola hidup sehat, saya tak akan membahas dengan fokus ke sistem masyarakat dan dunia kerja yang saat ini perlu banyak dikoreksi tetapi lebih pada penanganannya yang bisa dilakukan tiap individu yang saat ini merasa terjebak di perilaku berbahaya ini.

    Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita definisikan dahulu apa itu fenomena “revenge bedtime procrastination” (selanjutnya disingkat RBP) ini.

    Revenge Bedtime Procrastination Bukan Insomnia

    Secara sederhana, RBP adalah saat seseorang secara sengaja menunda waktu tidur meski sudah merasa sangat lelah dan mengantuk dengan tujuan untuk menikmati kebebasan atau mendapatkan kendali atas waktunya. Biasanya RBP ini muncul saat seseorang justru menjalani suatu hari yang melelahkan dan menyita banyak energi dan waktu. Di malam hari mereka malah sengaja melek.

    Istilah ini pertama muncul selama masa pandemi Covid-19 saat masyarakat dunia akrab dengan cara kerja di rumah (work from home). Saat itu banyak orang merasa ingin mengklaim waktu pribadi mereka dengan begadang semalaman. Mereka merasa waktu malam itulah mereka bisa bebas melakukan apapun, terlepas dari tanggung jawab sebagai pekerja dan pencari nafkah bagi keluarga.

    Namun, bukan berarti kebiasaan sejenis ini baru muncul selama pandemi karena jauh sebelum itu sudah ada juga studi ilmiah yang membahas soal serupa. Misalnya sebuah studi tahun 2014 di Belanda yang mengamati kebiasaan menunda waktu tidur. 

    Istilah ini makin populer begitu jurnalis Daphne K. Lee menggunakan istilah “revenge bedtime procrastination” dalam sebuah tweet pada bulan Juni 2020. Istilah RBP pun makin banyak dibahas dan dipakai di banyak negara terutama yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi utama mereka.

    RBP berbeda dari insomnia. Jika insomnia adalah ketidakmampuan seseorang untuk tertidur, maka RBP ialah karena orang tersebut memang secara sadar dan sengaja tidak mau tidur sesuai waktunya. Jadi dengan kata lain, orang yang melakukan RBP sebetulnya bisa tidur di waktu normal atau lebih awal namun memilih untuk tidak melakukannya.

    Ciri-ciri Revenge Bedtime Procrastination

    Ada sejumlah karakteristik yang bisa ditemui dalam individu yang memiliki keluhan RBP, yakni menunda tidur tanpa alasan yang kuat, mengurangi waktu tidur malam hari meskipun ia tahu hal itu akan membuatnya lelah saat beraktivitas di siang harinya, dan tujuannya untuk tetap melek adalah karena ingin bisa lebih leluasa menikmati waktu luang dan menggunakan waktu itu semau mereka tanpa adanya gangguan dan intervensi dari manusia lainnya.

    Bentuk kegiatan RBP ini bisa bervariasi bergantung pada masing-masing orang. Ada orang yang lebih suka menghabiskan waktu tidur mereka untuk main games. Ada pula mereka yang memilih untuk mengulir (scrolling) sepuasnya selama berjam-jam di media sosial TikTok atau Instagram.

    Pemicu Revenge Bedtime Procrastination 

    Menurut studi, ada sejumlah faktor pemicu perilaku RBP ini. Yang paling lazim ditemui masa sekarang ialah karena seseorang memiliki pekerjaan yang tingkat tekanannya sangat tinggi atau jadwal kerjanya sangat ketat. Satu-satunya waktu tidur mereka malah dihabiskan untuk aktivitas yang kurang berfaedah.

    Selain itu, seseorang bisa melakukan RBP karena dirinya mereka waktu untuk sendiri di waktu siang sangat terbatas. Di malam harilah mereka bisa memuaskan keinginan mereka untuk melakukan apapun sendirian.

    Kemudian yang tak kalah banyak ditemui ialah buruknya keseimbangan kerja dan hidup. Kebanyakan orang yang mengalami RBP adalah kaum pekerja yang tidak bisa secara baik mengelola beban kerja mereka atau karena mereka memang terbebani dengan pekerjaan yang terlalu banyak.

    Apakah Anda juga merasakan hal yang sama? Hati-hati karena RBP ini bisa merusak kesehatan fisik dan mental Anda perlahan-lahan jika terus dibiarkan terus-menerus terjadi dalam jangka waktu yang lama.

    Bayangkan Anda kurang tidur selama berbulan-bulan. Pastinya akan ada banyak penyakit yang hinggap di badan. Dan kesehatan mental juga bisa terdampak signifikan dengan kurangnya waktu tidur sebab fungsi otak akan menurun, suasana hati atau mood makin mudah berubah-ubah serta sistem pertahanan tubuh melemah lebih cepat.

    Efek Buruk Revenge Bedtime Procrastination

    Ditemukan sejumlah efek negatif dari kebiasaan menunda waktu tidur ini. Tingkatan dampaknya bisa serius dan bervariasi. 

    Terhadap kesehatan fisik, kebiasan menunda waktu tidur bisa memperlemah sistem kekebalan badan sehingga mudah sakit. Kemudian akan ada kenaikan risiko obesitas, gangguan hormonal, kelelahan yang kronis, tekanan darah tinggi, penyakit akibat gangguan metabolik serta penyakit jantung. Semuanya bisa bermuara pada kematian dini.

    Jangan lupakan juga dampak negatifnya pada kesehatan mental. Kita akan merasakan kecemasan yang makin meningkat dan gejala depresi yang menjadi-jadi. Akibat menunda waktu tidur, kita mudah marah dan emosional. Kurang tidur juga membuat lebih lemah dalam menghadapi stres. Mood juga mudah berubah. Jika Anda bekerja atau belajar siangnya, dipastikan bakal ada gangguan dalam berkonsentrasi jika kurang tidur. Dalam jangka waktu lama juga akan dirasakan adanya gangguan dalam fungsi otak untuk membentuk ingatan dan memanggil kembali ingatan yang sudah disimpan dalam sel otak. Dengan kata lain, makin susah belajar dan mengingat apa yang sudah dipelajari.

    RBP juga memberi pengaruh buruk bagi kemampuan kita berkegiatan sehari-hari. Misalnya kita akan mengalami penurunan produktivitas dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan akademik dan sekolah. Jika beraktivitas fisik, waktu tubuh untuk bereaksi juga bakal melambat sehingga mempertinggi risiko mengalami cedera olahraga dan kecelakaan di jalan raya. Dalam membuat keputusan juga kita akan lebih lambat. Otak orang yang kurang tidur juga lebih susah dalam memecahkan masalah. Saat kurang tidur, kita lebih sering membuat kesalahan dalam bekerja. Untuk Anda pekerja kreatif, kurang tidur juga membuat tingkat kreativitas menurun. Jadi jangan berharap bakal bisa membuat gebrakan atau inovasi dengan badan dan otak yang kurang tidur berkepanjangan.

    Jika dibiarkan berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun, jangan heran jika Anda akan mengalami gangguan irama sirkadian yang membuat badan makin sakit karena ia putus asa akibat kebingungan mencari waktu istirahat. RBP bisa secara langsung atau tidak langsung memicu masalah sosial, perceraian, kasus bunuh diri, kegagalan dalam pekerjaan dan karier, dan beragam gangguan mental.

    Mengingat begitu luasnya dampak buruk RBP ini, mari tingkatkan kesadaran terhadap bahaya RBP. Jika Anda merasa mengidap RBP, segera lakukan langkah perbaikan dengan menyadari akar masalah dan memecahkannya. Jika perlu minta bantuan psikolog atau psikiater profesional. 

    Jika Anda merasa ada keluarga atau teman yang menderita RBP apalagi yang sudah parah, jangan abaikan dan segera cari pertolongan professional karena perlahan-lahan RBP akan bisa merusak dan membunuh keluarga dan teman yang Anda sayangi. 

    Strategi Mengatasi Revenge Bedtime Procrastination

    Pendekatan untuk memecahkan masalah RBP ini idealnya bersifat menyeluruh, tidak cuma sepotong-sepotong yang bisa membuat penanganannya kurang tuntas.

    Langkah pertama yang harus dilakukan ialah kita harus memahami akar masalah yang membuat kita melakukan RBP setiap malam saat kita seharusnya tidur. Bisa jadi akar masalahnya adalah karena perasaan kurang punya waktu pribadi (me time) saat pagi hingga sore, atau ingin mendapatkan kendali lebih banyak atas waktu pribadi, dan naiknya tekanan saat kerja atau dari keluarga.

    Kebanyakan alasannya bisa jadi adalah karena alasan pekerjaan. Entah itu atasan yang terlalu kasar dan sangat menekan secara mental dan psikologis, jenis pekerjaan yang jam kerjanya panjang dan tak manusiawi, atau beban kerja yang di luar kewajaran, atau bisa juga karena politik kantor yang sangat menguras energi. Jika itu semua akar masalahnya, solusinya tidak lain adalah dengan mencari lingkungan kerja baru yang lebih ramah untuk kesehatan fisik dan mental kita.

    Langkah kedua yakni menetapkan downtime alias waktu santai yang bertujuan untuk menyiapkan kita menuju waktu tidur. Kenapa ini perlu? Karena bagi banyak orang, mustahil untuk kita bisa tidur begitu saja sehabis bekerja keras. Kita perlu menurunkan ritme jantung, menyejukkan udara sekitar dan membuat lingkungan sekitar lebih gelap dan nyaman agar badan merasa nyaman dan aman sehingga ia akan bisa rileks dan tertidur pulas. Downtime ini bisa ditetapkan 30 menit atau 1 jam sebelum waktu tidur sebenarnya. Selama downtime, Anda bisa melakukan ‘ritual’ khusus untuk merilekskan pikiran dan badan. Misalnya dengan memijat badan, mandi air hangat, membaca buku di tempat tidur, membuat kamar tidur nyaman (tanpa TV, tablet, laptop, komputer, dan ponsel), mematikan lampu LED biru, mematikan atau mensenyapkan ponsel, stretching, dan sebagainya.

    Langkah ketiga ialah dengan berdisiplin soal waktu tidur. Jagalah waktu tidur Anda dengan ketat karena tidur adalah fondasi utama untuk menjaga kesehatan. Percuma kita menjaga pola makan dan berolahraga jika tidur masih acak-acakan. Bahkan jika Anda harus memilih mana yang harus diprioritaskan dulu saat ingin mengubah pola hidup agar lebih sehat, prioritaskan menata jam tidur agar lebih baik dahulu. Sestrategis itulah tidur dalam pola hidup sehat. (*/)

  • Bahaya brilliant jerk. (Pexel.com)

    Pagi ini saya membaca instagram story Ndoro Kakung yang mengarah ke akun facebook beliau yang isinya adalah soal brilliant jerk. Intinya adalah bahayanya orang-orang cerdas berkarakter pongah dan kejam serta culas.

    Mending merekrut anggota tim atau pemimpin yang bisa merangkul semua orang dan bekerja dengan semua orang secara baik-baik. Bukan orang yang secara IQ memang luar biasa tapi EQ di bawah rata-rata. Ia mengatakan orang tipe brillian jerk begitu berbahaya karena bisa merusak budaya perusahaan. 

    Saya sepakat dengan sepenuh hati. Saya pernah menjadi saksi kehadiran orang seperti ini di tempat kerja dulu. Seorang pemimpin muda. Usia cuma selisih beberapa tahun dari saya yang cuma karyawan kontrak saat itu. Tapi ia sudah menjabat sebagai CEO. Mencengangkan, bukan? Betul sekali ia berbakat dan cemerlang. Tapi attitude sangat jauh dari menyenangkan. Kata-katanya pedas. Seolah mengatakan, “Kamu ini apa? Plankton aja. Saya nih, paus!”

    Lalu saya juga teringat dengan instagram story Mufti Menk Official yang berkata bahwa keterampilan karier yang paling banyak diremehkan adalah mudah untuk diajak kerja bareng.

    Ya Allah kok relatable banget! 

    Memang begitulah adanya. Bekerja dengan seseorang yang angkuh tak peduli secerdas apapun, secemerlang apapun ide-idenya, bakal susah dan bikin lelah. 

    Saya makin menyadari itu tatkala bekerja di agensi. Dengan tuntutan dan beban kerja yang sudah seabrek dalam tenggat waktu yang ketat, jika ada satu oknum brilliant jerk di tim saya atau di tim klien, pasti rasanya beban kerja bertambah. Dan siapa yang betah bekerja dengan beban psikologis tambahan begitu? Mungkin iya tetap dikerjakan tapi di belakang, semua mengeluh. Itu saja kalau termasuk brilliant, apalagi kalau cuma average jerk atau brainless jerk, wah makin tidak respect dengan si oknum kan? 

    Makanya saya juga dulu saat saya memutuskan untuk merekrut anggota tim, saya juga paling perhatikan, selain hard skills mereka adalah soft skill untuk bisa melebur dan bekerja sama dengan rekan-rekan kerja mereka. Please, dunia kerja sudah begitu menyesakkan sekarang. Kalau ditambah ada orang berkarakter jerk di tim baik di level bawah apalagi atas, rasanya pekerjaan kita jadi neraka dunia. 

    Dan ingatlah kalian para brilliant jerk, bahwa orang-orang yang angkuh itu diharamkan masuk surga (kalau kalian masih percaya agama ya) karena kesombongan itu tidak pantas ditunjukkan manusia yang begitu lemah seperti kita ini. Manusia yang tidak makan dua hingga tiga hari saja bakal menurun kemampuan fisik dan kognitifnya. Manusia yang kalau dihantam cuaca buruk sebentar saja bisa masuk angin, meriang dan demam. Yang pantas untuk sombong cuma Tuhan. Kalian tidak.

    Dan kalau kalian berargumen bahwa attitude buruk kalian ke orang lain itu karena orang lain sulit paham hal-hal yang mudah dipahami bagi otak kalian, ingatlah bahwa jika memang itu benar pun hal itu tidak bisa menjadi alasan justifikasi yang valid. 

    So please be kind to whomever you meet at work. You will never know what they have been going through. 

  • Pilates olahraga cewek saja? (Foto: Pexels.com)

    Meskipun kita sekarang hidup di era modern yang konon sudah mengenal konsep kesetaraan gender, toh dalam dunia olahraga masih saja ada stigma soal gender yang dilekatkan pada olahraga tertentu.

    Sebut saja adalah Pilates. Olahraga yang pertama digagas dan dirancang oleh seorang pria asal Jerman bernama Joseph Pilates ini malah saat ini dikenal sebagai “senamnya para cewek”, begitu kata seorang influencer.

    Langkanya Pria

    Memang ada pelaku Pilates yang laki-laki tetapi itu bisa dihitung dengan jari.

    Saya sendiri benar-benar memvalidasi asumsi ini di lapangan saat mulai intensif mengikuti kelas Pilates tahun 2023 dan mengikuti pelatihan/ kursus mengajarnya tahun 2024 lalu.

    Memang jumlah peminat Pilates yang berjenis kelamin pria bisa dihitung dengan jari. Saat saya mengikuti kursus Pilates juga saya adalah satu-satunya peserta pria. Selangka itulah pria di dunia Pilates.

    Ada sejumlah alasan mengapa Pilates pasca era Joseph Pilates berkembang menjadi sebuah olahraga dengan citra feminin yang sangat kental.

    Berkelindan dengan Ballet

    Alasan pertama ialah penerus Joseph Pilates begitu ia meninggal dunia ialah Romana Kryzanowska, salah satu murid andalannya yang kemudian juga memimpin studio yang dikelola Joseph Pilates sebelumnya.

    Dan Romana ini memiliki latar belakang sebagai penari ballet profesional. Ia berlatih di bawah bimbingan George Balanchine, seorang koreografer berdarah Rusia yang terkenal di New York.

    Begitu Romana cedera pergelangan kaki, ia direkomendasikan untuk ikut kelas Pilates. Dan tak cuma Romana, penari-penari ballet juga memang banyak yang ikut kelas Pilates dengan tujuan untuk latihan rehabilitasi pasca cedera yang mereka alami saat berlatih atau tampil di panggung.

    Pilates sebagai Rehab Ballet

    Alasan kedua ialah kedekatan jarak studio Joseph Pilates yang pertama dengan gedung tempat New York City Ballet berada. Otomatis kedekatan jarak ini membuat banyak penari ballet di organisasi tari termasyhur itu untuk mengikuti Pilates. Dan karena itulah bisa dipahami budaya tari ballet sangat dalam merasuk ke latihan Pilates.

    Karena inilah, kita melihat Pilates sebagai olahraga yang memiliki citra anggun dan feminin sehingga para pria menjadi terintimidasi untuk masuk ke dalam kelas Pilates.

    Estetika Visual VS Fungsional

    Kita bisa melihat pengaruh budaya ballet di kelas Pilates dengan melihat busana yang dikenakan oleh para praktisi Pilates dahulu. Busana yang mereka kenakan memiliki kemiripan dengan busana yang dipakai para penari ballet saat berlatih, seperti tights, leotards, dan sebagainya.

    Kemudian soal gaya gerakan, kita bisa melihat ballet hands yang didemonstrasikan oleh praktisi-praktisi era Romana. Misal posisi tangan dan lengan saat melakukan teaser.

    Pointed feet (plantar flexion) juga ciri khas ballet yang bisa kita temui di kelas-kelas Pilates. Meski kadang memang flexed feet (dorsiflexion) dipakai, tapi porsi pointed feet harus diakui sangat mendominasi.

    Meski memang tidak diharuskan untuk melakukannya secara visually pleasing atau memenuhi aspek estetika visual dalam setiap gerakan Pilates, tetapi ada semacam idealisme bahwa gerakan Pilates semestinya smooth dan estetik dengan body line yang lurus dan panjang.

    Pemikiran semacam inilah yang kemudian juga mendorong sebagian orang untuk menganggap bahwa agar bisa Pilates kita harus punya badan kurus dan langsing bak para penari ballet.

    Sekali lagi, tentu kita tidak wajib memiliki badan yang kurus dan fleksibel bak ballerina untuk bisa mengikuti kelas Pilates. Siapa saja bisa ikut.

    Meski tentu saja kita tidak menampik bahwa dengan tingkat body awareness dan kelenturan serta kekuatan kaki dan core para penari ballet itu, gerakan-gerakan Pilates yang sulit dilakukan oleh orang awam bakal lebih mulus lagi untuk dieksekusi di matras atau alat apapun. (*/)

  • (Foto: Pexels.com)

    Apakah Anda seseorang yang saat ini sedang berencana untuk menjalani satu jenis atau beberapa jenis olahraga sekaligus tapi masih merasa bingung soal jenis olahraga yang tepat untuk Anda?

    Jika Anda pemula dalam dunia olahraga, simak tulisan ini karena saya akan membahas sejumlah faktor yang penting yang perlu kita pertimbangkan sebelum menjalani sebuah olahraga.

    Tujuan mengetahui dan memahami faktor-faktor ini adalah agar Anda sebagai pemula bisa mendapatkan manfaat optimal dari olahraga untuk kesehatan Anda tanpa harus mengalami cedera.

    Mengapa cedera harus dihindari oleh para pemula dalam olahraga? Sebab cedera adalah hal yang tidak diinginkan dalam olahraga. Ia bisa menghambat Anda untuk bisa lebih bugar, sehat, dan produktif hingga usia tua.

    Bila tidak tertangani dengan baik, cedera bahkan bisa menjadi permanen dan menghambat kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Tentu kita tidak mau hal itu terjadi.

    Terdapat 6 faktor utama yang harus dipertimbangkan sebelum kita menjalani sebuah olahraga:

    • Karakteristik olahraga yang akan dijalani
    • Komposisi badan kita
    • Tingkat kebugaran badan kita
    • Teknik olahraga
    • Kondisi kesehatan kita
    • Asupan nutrisi/ gizi

    Di bawah ini adalah penjelasan untuk masing-masing poin tersebut.

    Karakteristik Olahraga

    Dalam poin ini, kita harus mengetahui dengan baik karakteristik jenis olahraga yang akan ditekuni.

    Misalnya jika kita ingin menekuni yoga. Ketahui jenis yoga yang ingin Anda lakukan sebab jenis yoga juga bervariasi. Ada vinyasa yoga yang ritme dan intensitasnya tidak lagi termasuk ringan tetapi bisa moderat hingga berat sehingga lebih pas bagi Anda yang sudah aktif berolahraga sebelumnya. Bukan untuk yang pemula dalam olahraga. Ada juga kelas hatha yoga yang lebih lambat ritmenya sehingga lebih direkomendasikan untuk para pemula yang belum pernah berolahraga sama sekali.

    Demikian juga misalnya dengan lari. Kita harus pahami bahwa lari memiliki karakteristiknya sendiri, yakni melibatkan banyak otot dan sendi di tubuh bagian bawah serta pola gerakan kakinya sama dan berulang terus-menerus. Dengan mengetahui ini, Anda kemudian bisa pastikan apakah badan Anda memang siap untuk lari atau belum.

    Komposisi Badan

    Dua orang bisa saja memiliki berat badan yang sama persis misalnya 70 kg. Tapi sangat mungkin bahwa komposisi badan mereka berbeda. Orang pertama yang karena rajin angkat beban bisa jadi massa otot dan tulangnya lebih tinggi daripada massa lemaknya. Orang kedua bisa sebaliknya, lebih tinggi massa lemaknya karena tak pernah berolahraga.

    Jadi sebelum berolahraga, ketahuilah komposisi badan Anda dengan baik. Ini bisa membantu Anda dalam mencegah cedera nantinya.

    Tingkat Kebugaran

    Fitness level atau istilahnya tingkat kebugaran seseorang bisa berbeda dari orang lain yang mungkin terlihat sama perawakannya.

    Bahkan satu orang yang sama juga bisa memiliki tingkat kebugaran yang berfluktuasi seiring dengan waktu dan pertambahan usia atau perubahan prioritas hidup.

    Katakanlah seorang mantan atlet profesional yang kemudian disibukkan dengan aktivitas lain sehingga tidak ada lagi waktu berolahraga. Jika ia tak pernah berolahraga lagi, tentu badannya kembali ke titik nol. Kemungkinan besar ia sama tidak bugarnya dengan para pekerja kantoran dan mereka yang melakoni pola hidup sedentari.

    Begitu Anda paham tingkat kebugaran Anda sendiri saat ini, Anda bisa melakukan penyesuaian melalui penyusunan program. Misalnya jika Anda sedentari dan berencana ingin ikut lari, setidaknya 2-3 bulan sebelumnya harus mengikuti sebuah program latihan yang membantu badan menjadi lebih kuat dan tahan terhadap stres yang dialami selama menjalani olahraga lari tersebut. Jangan langsung lari!

    Untuk Anda yang badannya masih termasuk kategori obesitas tapi ingin lari, bijaklah untuk memulai. Pilih program penyesuaian dulu yang bertahap misalnya lakukan olahraga low impact dulu seperti jalan kaki selama 60 menit sebanyak 3 kali seminggu sepanjang 2 minggu hingga 1 bulan. Begitu berat badan menurun, Anda boleh menaikkan level ke jalan cepat. Jika sudah nyaman dan berat badan mulai masuk kategori ideal, boleh pelan-pelan pindah ke jogging.

    Intinya dengan memahami tingkat kebugaran kita saat ini, kita akan bisa menyusun program latihan yang terukur dan teratur. Tentunya akan lebih baik jika Anda didampingi pelatih profesional atau dokter ilmu keolahragaan selama periode persiapan tersebut apalagi jika ada faktor-faktor risiko yang kita juga akan bahas selanjutnya.

    Kenapa lebih baik berkonsultasi ke profesional? Sebab profesional lebih paham dalam menyusun program olahraga sesuai dengan kondisi pemula. Dokter maupun pelatih bisa membantu pemula mengenali batas kemampuan fisik mereka. Jadi tidak sembarangan ‘hajar’ badan.

    Teknik Berolahraga

    Selalu berlatih dengan pengawasan dan panduan dari pelatih atau instruktur yang profesional dan berpengalaman di bidangnya.

    Kenapa itu penting? Sebab hal ini juga akan berpengaruh pada teknik Anda sebagai pemula dalam menjalani olahraga pilihan.

    Jika teknik kurang tepat, bukannya semakin sehat dan bugar, badan malah bisa cedera. Tentu tidak ada orang yang mau olahraga dan kena cedera apalagi sampai permanen dan menghambat aktivitas sehari-hari.

    Teknik berolahraga juga berkaitan dengan alur sesi olahraga. Idealnya dalam satu sesi ada pemanasan, bagian inti dan pendinginan.

    Bagian pemanasan dan pendinginan bisa berlangsung selama 5 hingga 10 menit. Untuk pemanasan Anda bisa melakukan peregangan aktif (stretching dengan menggerakkan otot dan sendi) dan untuk pendinginan lakukan peregangan pasif (ditahan di satu posisi lebih lama).

    Jangan lupa kenakan pakaian yang sesuai dengan jenis olahraga. Misalnya jika Anda lari, pakai pakaian yang menyerap keringat atau dari bahan dry fit yang lekas kering. Juga hindari jaket tebal saat lari apalagi di siang hari yang terik karena bisa memicu heat stroke.

    Soal hidrasi, jangan lupa juga untuk selalu memenuhi kebutuhan air selama olahraga. Apalagi jika jenis olahraga Anda adalah intensitas tinggi di bawah cuaca terik seperti lari di luar ruangan.

    Kondisi Kesehatan

    Cek kesehatan Anda secara teratur untuk mencegah terjadinya cedera maupun hal-hal lain yang tidak dikehendaki.

    Kadang kita bisa temui kasus-kasus orang yang baru memulai olahraga kemudian jatuh sakit karena berbagai sebab. Bisa jadi karena sudah ada penyakit atau kondisi khusus sebelumnya yang tidak diketahui karena tidak pernah cek kondisi kesehatan melalui prosedur medical checkup yang dilakukan dokter di klinik atau rumah sakit.

    Karena itu, sangat penting untuk memeriksakan kondisi badan sebelum menjalani jenis olahraga baru. Jangan terlalu percaya diri atau merasa baik-baik saja meski terasa tidak ada keluhan. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.

    Asupan Nutrisi/ Gizi

    Selain tidur malam yang berkualitas dan cukup (7-9 jam), faktor penting lainnya ialah kecukupan gizi. Tentu saja akan sangat berisiko jika kita menjalani olahraga yang menuntut pemenuhan kebutuhan gizi yang lebih baik tetapi makan kita sehari-hari sembarangan dan jauh dari definisi “sehat dan seimbang”.

    Di sini, jika Anda kesulitan untuk mengatur asupan makanan dan pemenuhan gizi baik nutrisi makro (protein, karbohidrat, serat, air) maupun mikro (vitamin dan mineral), jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli gizi atau nutrisionis yang memiliki latar belakang pendidikan formal. Jangan sampai tertipu dengan ahli gizi abal-abal yang mengaku sudah bersertifikat. Selalu cek credentials orang tersebut. Apakah ia memang mengantongi sertifikasi di lembaga profesi tertentu yang sudah diakui pemerintah atau tidak?

    Semoga penjelasan ini bermanfaat. (*/)

  • Memiliki ibu adalah sebuah pengalaman yang sangat universal. Kecuali Anda adalah Adam dan Hawa, Anda pasti memiliki ingatan tak peduli baik atau buruk soal sosok ibu yang melahirkan dan (mungkin) membesarkan Anda hingga bisa dewasa dan matang seperti sekarang. Saya sisipkan kata “mungkin” karena saya paham tak semua manusia mengenal ibu mereka sebagai sosok yang selalu berada di samping mereka saat melalui tahun-tahun pertama kehidupan. Kehidupan memang tak selalu ideal, dan ada sebagian orang yang mungkin tidak akan pernah mengenal sosok ibu mereka. Bahkan mereka tak mau mengenal sosok ibu kandung mereka karena beragam sebab.

    Meski di dalam buku ini sang penulis Lucia Priandarini membagikan catatan-catatan singkat yang bersifat sangat personal dan privat mengenai sederet momen yang telah ia kurasi dari masa kecil dan masa mudanya saat tumbuh dan berkembang bersama ibu kandungnya yang seorang dosen di Malang, saya dan mungkin banyak dari Anda yang juga membaca juga masih tetap bisa menemukan relevansinya dengan ibu Anda sekalipun profesi dan kepribadian ibu Anda sama sekali berbeda dari almarhumah.

    Bagi saya sendiri yang tumbuh bersama sesosok ibu kandung yang turut berkecimpung dalam dunia mengajar dan mendidik, catatan-catatan Lucia di Hal-hal yang Tinggal dan Tak Akan Tanggal ini sangat menyentuh hati dan membuat ulu hati ngilu. Bahkan saya tak seberani itu membaca buku ini di tempat umum sebab takut larut dan membuat mata sembap, yang bakal membuat saya jadi bahan kasak kusuk meski ya mungkin itu cuma pikiran saya saja yang sok terlalu peka dan self aware. Karena itulah saya membaca buku bersampul hitam dan berjudul keemasan ini di rumah saja.

    Seperti di halaman 15, saat Lucia menuliskan soal punggung ibunya:

    Dalam sebagian besar waktu di rumah, aku lebih sering melihat punggung, dan bukan wajah Mama. Beliau hampir selalu tampak sedang mengerjakan sesuatu: mengoreksi lembar ujian mahasiswa, menumis bumbu di penggorengan, atau sedang menyetrika seragam sekolahku.

    Memori itu juga saya punyai dalam benak ini meski tak sama persis. Ibu saya memunggungi saya hanya saat memasak di rumah, yang kadang kala saja ia lakukan sebab sudah kecapekan setelah mengajar di sekolah dasar di dekat rumah. Saya pikir mengajar tak susah dan menguras energi tapi ternyata setelah menjajalnya sekali, saya kapok juga. Capek berteriak saat mengajar kalau murid tak paham-paham juga, capek mengulang-ulangi pesan yang sama ke murid-murid yang berbeda, dan rutinitas mengajar itu berjalan dari tahun ke tahun, sampai pensiun. Saya yang pembosan tentu tak mau mengikuti jejak karier itu. Adik saya ada yang sukarela menjadi penerusnya.

    Saya sendiri memilih menjadi pengajar partikelir. Tak mau menginduk di bawah komando pemerintah, Kemendikbud, pempus dan pemda apapun yang sering membikin sakit hati karena mereka memperlakukan guru seperti pekerja sosial yang tak butuh duit. Lebih nyaman bekerja di bawah swasta. Bisa negosiasi. Tak cocok soal gaji, bisa tinggal pergi. Pilih yang lebih menyejahterakan dan tak menjadikan saya budak atas nama upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan generasi mudanya.

    Tapi terlepas dari sisi universal pengalaman memiliki ibu tersebut, buku ini memang pantas dibuat khusus untuk mengenang seorang sosok yang unik: alm. Bernadetta Maria Suryati yang juga ibu kandung si penulis. Mendiang adalah seorang wanita yang baru menikah di usia 35 tahun di tahun 1978. Saya bisa bayangkan bagaimana reaksi masyarakat saat itu soal seorang gadis yang baru menikah di pertengahan umur 30-an. Di tahun 2025 saja gadis-gadis gen Z kerap mengeluh saat didesak menikah di umur 25-an karena dianggap sudah matang dan bakal jadi perawan tua segera. Apalagi menjadi lajang begitu lama bagi seorang gadis di tahun 1970-an. Karena itulah, saya pikir pengalaman inilah yang juga membentuk almarhumah ini menjadi sosok yang tak banyak omong, tapi kuat dalam berpendirian dan bijak dalam menyikapi berbagai situasi hidup yang tak terduga. Lain dari orang awam yang reaktif, sering menghakimi, kepo atau banyak cing cong soal kehidupan orang lain.

    Buku terbitan Pelangi Sastra Maret 2023 ini cukup ringan, mungil, dan tipis tetapi sungguh berat, akbar, dan tebal dalam makna. Untuk harga belinya, saya sendiri tidak tahu karena Lucia, si penulis, yang memberi secara cuma-cuma karena status saya sebagai tetangga yang ia tahu juga suka membaca. Matur nuwun. (*/)

  • Ada sebuah pertanyaan soal headstand dari seseorang di media sosial. Kira-kira begini inti pertanyaannya: “Apakah kunci yang terpenting dalam handstand? Karena saya sudah mencoba tapi saat mengangkat kaki ke atas, selalu tidak bisa.”

    Lalu seseorang yang lain menjawab. Menurutnya, itu berarti kekuatan otot inti (core muscles) si pelaku headstand masih lemah.

    Jawaban soal kekuatan otot inti (core strength) sebagai satu kunci utama keberhasilan inversion poses sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Namun, sayangnya juga kurang tepat.

    Di sinilah kita perlu memahami bahwa jawabannya bukan sesederhana YA atau TIDAK. Jika Anda cuma berharap jawabannya sesederhana itu, setop membaca di sini karena Anda akan bosan dengan tulisan ini.

    Core Penting Tapi Bukan Kunci Utama

    Sebenarnya penjelasan saya ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Jenni Rawlings, seorang guru yoga yang lebih mengutamakan pendekatan sains terhadap alignment dan teknik asana yoga daripada dogma-dogma yang ditandai dengan “kata guru”.

    Sebagai pembelajar kita memang susah untuk terlepas dari pengaruh guru kita tapi akan selalu lebih baik jika kita bisa bersikap skeptis dan kritis. “Apa iya benar begitu?” kira-kira pertanyaan itulah yang saya lontarkan dalam kepala. Terapkan dan rasakan dulu di badan kita saat latihan baru kemudian mengiyakan. Memang susah tapi perlu.

    Nah, kembali ke pembahasan soal kunci utama inversion. Dalam tulisannya yang berjudul “Do You Need a Strong Core for Handstand?”, Rawlings menyatakan bahwa meskipun banyak yang mengajarkan bahwa kekuatan core (otot inti) adalah kunci untuk handstand, Rawlings berpendapat kekuatan otot inti bukanlah kunci utama.

    Secara biomekanik, handstand membutuhkan aktivasi seluruh otot tubuh. Namun, core (otot perut bagian depan) sebenarnya tidak bekerja melawan resistensi yang besar karena torso berada dalam posisi vertikal terhadap gravitasi. Yang benar-benar bekerja keras melawan resistensi adalah bahu dan tubuh bagian atas, ungkap Rawlings.

    Namun demikian, core tetap memiliki peran penting. Saat handstand, tubuh cenderung membentuk lengkungan seperti pisang (banana shape). Supaya garis badan bisa lurus 100%, kita harus menggunakan kekuatan otot inti badan.

    Tergantung Teknik Entry

    Lain halnya jika seseorang melakukan teknik handstand press, yang memang mengharuskan gerakan yang terkendali dan kekuatan otot inti yang lebih baik dari rata-rata.

    Meski pose “banana” tidak berbahaya, kebanyakan orang lebih suka mempertahankan garis lurus. Untuk menahan agar tidak melengkung dan mempertahankan garis lurus, dibutuhkan kerja core. Jadi, diperlukan kekuatan core dasar untuk mencapai bentuk handstand yang ideal.

    Pengecualian berlaku untuk handstand press – variasi handstand tanpa momentum di mana seseorang melipat tubuh ke depan dan mengangkat kaki ke posisi handstand dengan gerakan terkontrol. Dalam gerakan ini, kekuatan core memang sangat penting dan bisa dianggap sebagai faktor kunci.

    Klik link berikut ini untuk membaca penjelasan selengkapnya mengenai FONDASI 3 POSE INVERSION. (*/)

    Otot-otot bagian badan atas, meliputi lengan, bahu dan punggung atas. (Foto: Pinterest.com)
  • man splitting on tree
    Photo by The Lazy Artist Gallery on Pexels.com

    Jika Anda sudah menekuni yoga dan mulai tertarik menggabungkan yoga dengan jenis olahraga lainnya, selalu ingat bahwa selalu ada kelebihan dan kekurangan dari penggabungan beberapa jenis olahraga yang Anda lakukan tersebut. Misalnya progress latihan asana yoga Anda bisa lebih lambat atau bahkan tak akan tercapai.

    Di sini saya ingin menegaskan bahwa dalam proporsi latihan yang seimbang, memang ada kemungkinan beberapa jenis olahraga ini saling melengkapi sehingga kesehatan dan kebugaran fisik kita lebih seimbang secara keseluruhan. Yoga misalnya bisa untuk menerapi postur yang kurang baik dan beragam cedera akibat lari. Lari juga bisa membantu meningkatkan kesehatan paru-paru kita.

    Tapi di satu titik, kita bisa juga harus sadar bahwa akan ada momen saat kita harus menggadaikan progress di satu jenis olahraga untuk progress di olahraga lainnya yang pada saat yang sama sedang kita lakoni juga.

    Setelah ini, harapannya kita tidak malah berhenti menekuni lebih dari satu jenis olahraga atau malah merasa cukup dengan satu olahraga saja tetapi justru kita harus menyadari adanya konsekuensi dan bisa bersikap dan bertindak lebih bijak. Kita bisa harus lebih memahami prioritas kesehatan dan kebugaran kita daripada sekadar cuma ambisi sesaat. Kita perlu untuk memahami bahwa bukan masalah besar jika progress di olahraga X tak kunjung tercapai karena kalau mau dipikir lagi ternyata ada hikmah atau manfaatnya juga jika dilihat secara lebih holistik.

    low angle photography man walking on asphalt road
    Photo by Alex Kinkate on Pexels.com

    Lari

    Menurut studi “Running Economy Is Negatively Related to Sit-and-Reach Test Performance in International-Standard Distance Runners” yang dipublikasikan di International Journal of Sports Medicine 23 Januari 2002, efisiensi lari (running economy) pelari pro berbanding terbalik dengan kelenturan badannya (dalam hal ini otot hamstrings).

    Nah, padahal di yoga, pose-posenya banyak yang jenis deep stretch untuk otot hamstrings. Jadi makin lentur otot hamstring, cenderungnya justru makin buruk efisiensi lari kita.

    Tentu saja ada pose-pose yoga lainnya yang tidak meregang hamstring secara berlebihan dan pelari bisa menuai manfaat dari sana. Namun, jika sudah harus melakukan pose-pose yang melibatkan kelenturan hamstring, Anda yang menekuni lari harus paham bahwa Anda harus rela dan ikhlas untuk tidak meregangkan hamstring terlalu sering dan berlebihan jika masih ingin efisiensi lari Anda terjaga.

    topless man exercising
    Photo by Victor Freitas on Pexels.com

    Calisthenics

    Tidak semua jenis gerakan calisthenics bisa mensabotase progress yoga Anda tentu. Tapi gerakan-gerakan yang fokus pada penguatan apalagi hipertrofi otot-otot badan atas seperti pushups, pullups, handstand, handstand pushups, planche, dan beragam variasinya akan sedikit banyak mengurangi kemampuan Anda dalam melakukan beragam pose jenis backbend.

    Saya belum bisa menemukan studi ilmiah untuk mendukung hipostesis ini tetapi setidaknya dari pengamatan terhadap badan dan performa fisik serta skills para pesenam artistik pria dan atlet kalistenik dengan kemampuan fisik dan ukuran otot yang di atas rata-rata, badan atas mereka yang mengagumkan itu justru bisa menghambat saat mereka harus melakukan wheel pose atau kayang (urdhva mukha dhanurasana) yang mewajibkan sendi bahu dan otot-otot punggung atas dan dada yang lentur dan tidak begitu besar (bulky).

    Bisa dikatakan bahwa gerakan-gerakan penguatan dada (pectoral), punggung (lats), bahu (deltoids) berpotensi menghambat fleksibilitas dan mobilitas bagian badan atas jika frekuensi dan volume latihan serta intensitasnya melebihi batas normal.

    man holding barbell
    Photo by Anush Gorak on Pexels.com

    Angkat Beban

    Di sini saya juga belum menemukan hasil studi untuk mendukung hipostesis ini tetapi dua anekdot atau cerita dari dua orang teman yang melakoni CrossFit dan weight lifting menjadi preseden awal bahwa ada kemungkinan bahwa angkat beban (resistance training) yang intens dan kerap bisa menghambat fleksibilitas dan mobilitas sendi bahu dan pinggul, yang sangat penting dalam yoga.

    Jadi jangan heran jika orang-orang yang lebih sering angkat beban, bisa mengalami kesulitan dalam pose-pose yoga yang meregangkan otot hamstring, berbagai gerakan sendi pinggul yang memerlukan Jangkauan Gerak atau Range of Motion yang lebih leluasa, lutut dan ankle/ pergelangan kaki.

    Lagi-lagi, ini tidak 100% pasti. Ada juga pasti orang-orang yang angkat beban tapi masih lentur, tapi tak banyak persentase orang yang demikian dalam populasi umum. Tapi sekali lagi, saya bukan ahli dan ilmuwan jadi saya bisa salah. Atau bisa saja hipotesis saya ini benar hanya saja belum ada bukti yang meyakinkan atas itu.

    Simpulannya, silakan saja Anda lakoni beberapa jenis olahraga sekaligus. Tapi ingat bahwa masing-masing olahraga tadi bisa memberikan dampak ke performa badan Anda dalam menjalankan olahraga-olahraga lainnya. Mana yang jadi prioritas Anda? Itu semua kembali berpulang ke kita dan kebutuhan kita masing-masing dalam berolahraga. Tidak ada yang benar dan salah. (*/)

  • Bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan, mengurangi lemak, mengecilkan lingkar pinggang, menurunkan kadar gula darah, dan meningkatkan massa otot, upayakan dari sekarang untuk melakukan jenis olahraga yang bervariasi (multi dimensi). 

    Jenis-jenis olahraga yang dimaksud di sini adalah latihan beban (resistance training), latihan interval (sprint), peregangan (stretching), dan ketahanan (endurance). Demikian dikutip dari hasil studi sebuah penelitian ilmiah yang dipublikasikan 30 Mei 2014 oleh Skidmore College yang berjudul “Quality, not quantity, counts most in exercise, diet.” 

    Peneliti yang terlibat dalam studi ini, Paul Arciero, membuktikan bahwa pendekatan multidimensional dalam berolahraga dan diet jauh lebih efektif dibandingkan sekadar melakukan satu jenis latihan saja dalam jumlah/ volume banyak. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Applied Physiology, Arciero menunjukkan manfaat nyata dari aktivitas olahraga yang mencakup latihan beban, sprint interval, peregangan (termasuk yoga atau pilates), dan latihan daya tahan.

    Ini artinya Anda yang suka yoga/ pilates dan ingin kondisi kesehatan dan kebugaran bisa makin baik, mungkin sekarang saatnya untuk juga menambahkan porsi latihan beban, interval, dan daya tahan ke dalam rutinitas Anda.

    Begitu juga Anda yang sudah menjalani olahraga beban (resistance training), imbangilah dengan peregangan, ketahanan dan latihan interval.

    Sebagai informasi, latihan beban ialah bentuk olahraga untuk meningkatkan kekuatan dan massa otot, misalnya latihan angkat beban dengan barbel, dumbell, resistance band, atau dengan berat badan sendiri. Latihan interval (interval training) ditujukan untuk membangun kekuatan dan ketahanan, misal lompat tali, lari menaiki tangga, burpees, sprint, pullups, pushup, v sit. Sementara itu, olahraga peregangan bertujuan meningkatkan elastisitas otot, misalnya yoga dan pilates. Latihan ketahanan bertujuan untuk meningkatkan ketahanan otot untuk bekerja dalam waktu yang lama, misal plank selama 1-2 menit, pushups 100 kali.

    Studi ilmiah oleh Arciero ini fokus pada 57 subjek penelitian yang berusia 35-57 tahun yang tidak aktif berolahraga. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing mengonsumsi 60 gram whey protein setiap hari, namun dengan pola latihan berbeda: kelompok pasif, kelompok latihan beban intensif, dan kelompok multidimensional.

    Hasilnya, dengan porsi asupan protein yang lebih banyak pun subjek yang tidak berolahraga sama sekali masih mendapatkan manfaat positif meski tidak sebesar grup lain yang latihan beban dan dan grup yang menjalani banyak jenis olahraga. Terkait ini, Arciero berargumen bahwa asupan protein yang lebih banyak bisa membantu menurunkan kadar lemak badan bahkan jika kita tak berolahraga.

    Temuan Arciero ini seakan membongkar ‘mitos’ bahwa kita cukup melakukan satu jenis olahraga saja untuk sehat. Menurutnya, kesehatan tidak bisa dicapai hanya dengan mengangkat beban atau sekadar berlari di treadmill. Olahraga harus mencakup berbagai aktivitas yang mengintegrasikan tubuh secara menyeluruh, tandas Arciero.

    Untuk memudahkan masyarakat memahami pendekatannya, Arciero menciptakan akronim “PRISE”:

    – P: Protein

    – R: Resistance (Latihan Beban)

    – I: Interval (Latihan Sprint)

    – S: Stretching (Peregangan)

    – E: Endurance (Daya Tahan)

    Nah, bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah setelah ini Anda akan menambahkan jenis olahraga lain di samping olahraga yang sudah jadi favorit selama ini? (*/)

  • Dalam kelas yoga dan pilates sering disebut istilah “pinggul” dan “panggul”. Sekilas mungkin kita paham bagian badan mana yang dimaksud oleh guru/ instruktur saat disebutkan istilah umum ini tetapi jika ditanya hingga detail soal perbedaan panggul dan pinggul, sebagian orang merasa bingung dan merasa bahwa keduanya sama saja. Padahal tidak demikian.

    Panggul dan pinggul memiliki perbedaan meski saling berkaitan. Tubuh kita memiliki satu panggul dan dua sendi pinggul. Mari kita telaah bersama-sama agar jelas persamaan dan perbedaan keduanya.

    Pertama-tama, persamaan keduanya adalah lokasinya berada di antara perut bawah dan tulang paha. 

    Bedanya, area panggul (atau yang disebut “pelvic” dalam bahasa Inggris) adalah struktur tulang yang berbentuk setengah lingkaran di bawah perut. 

    Panggul (pelvic) terdiri dari tiga tulang utama yakni ilium (tulang berbentuk sayap di sisi panggul), iskium (bagian tengah panggul), dan pubis (dasar struktur panggul).

    Sementara itu, pinggul (atau yang biasa disebut “sendi pinggul” atau “hip joints) adalah sambungan antara panggul dan tulang paha, berbentuk seperti bola dalam mangkuk (ball-and-socket).

    Lalu bagaimana dengan perbedaan fungsi panggul dan pinggul? 

    Panggul (pelvic) memiliki banyak fungsi penting di antaranya yakni untuk menghubungkan tulang belakang dan kaki, mendistribusikan berat badan bagian atas, melindungi organ dalam perut bagian bawah, dan memfasilitasi gerakan punggung dan kaki.

    Sebaliknya, sendi pinggul (hip joints) memiliki fungsi-fungsi yang berbeda, yaitu menghubungkan panggul dan tulang paha, mentransfer berat badan, memungkinkan gerakan badan yang lebih fleksibel, dan menjaga stabilitas tubuh.

    Ringkasnya, panggul adalah suatu struktur tulang keseluruhan tetapi sendi pinggul adalah sambungan antara panggul dan tulang paha. (*/)

Verified by MonsterInsights