
Beberapa pekan lalu saya menulis sebuah tulisan pendek di akun Instagram dan TikTok saya yang bertajuk “Emosi dan Pinggul”. Sempat agak viral karena pengalaman tiap orang bisa bervariasi.
Pengalaman saya sendiri hampir tak pernah menangis saat latihan hip opening sebab mungkin di situ area yang saya tak pernah rasakan kekakuan yang berarti. Justru saya pernah menangis sehabis savasana atau pose mayat sebab hari itu Minggu pagi tapi saya malah teringat dengan keharusan bekerja esok paginya dan bertemu rekan kerja yang toksik. Tapi saya tak pernah menangis saat front splits dan middle splits atau bahkan pigeon pose.
Intinya dalam tulisan tersebut saya membahas pandangan bahwa emosi tersimpan di area pinggul (hips). Saya mengutip pendapat pakar sports science dalam sebuah siniar yang mengatakan bahwa emosi yang tersimpan dalam pinggul itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah jadi saat kita melakukan pose-pose yoga yang berfokus pada kelenturan sendi pinggul (hip joints) lalu kita menangis bisa jadi itu karena faktor lain misalnya karena rasa kurang nyaman akibat begitu kakunya sendi pinggul kita. Bukan karena tumpukan emosi masa lalu itu meluruh dan keluar dari badan.
Lalu ada beberapa teman dan pengikut yang merespon. Ada yang mengiyakan, sepakat dengan saya dan pendapat pakar tersebut bahwa emosi tidak bisa tersimpan dalam badan termasuk area pinggul.
Namun, ada juga teman-teman saya (yang bekerja sebagai guru yoga dan juga murid yoga) yang beranggapan lain. Mereka meyakini bahwa dalam pinggul memang ada akumulasi emosi yang tersimpan. Buktinya para wanita mengalami menstruasi dan kehamilan di area tersebut, kata seorang teman. Tapi saya berkata, mungkin itu maksudnya panggul (pelvic floor), bukan pinggul (hips). Keduanya memang berkaitan tapi bagian yang berbeda. Saya berkata yang saya bahas adalah pinggul, bukan panggul. Ia kemudian enggan berdiskusi lebih lanjut sebab sudah memvonis saya yang pria ini sebagai pihak yang tidak bisa merasakan emosi serupa di panggul sebagaimana para wanita.
Saya menghormati pendapatnya karena saya tahu ini pengalaman yang unik dan subjektif. Pengalaman kita tentu valid tanpa harus berusaha menunjukkan bukti konkretnya sampai berbusa-busa pada orang lain di luar sana. Cukup dirasakan. Tapi tentu saja tidak bisa diovergeneralisasi begitu saja.
Yang menarik ialah setelah saya panjang lebar menjelaskan bahwa area pinggul belum terbukti sebagai area tersimpannya emosi manusia itu, saya malah menemukan berita Bloomberg.com yang membahas soal makin banyaknya kaum profesional pria yang bekerja bursa saham Wall Street yang mengalami gangguan kandung kemih dan disfungsi ereksi dan memutuskan menjalani terapi otot dasar panggul (pelvic floor therapy).
Lebih lanjut dilaporkan bahwa para terapis di New York mengatakan adanya tren kenaikan pasien pria muda yang mengeluhkan masalah otot dasar panggul yang sampai berimbas pada ‘kejantanan’ mereka.
Seorang pasien bernama samaran Landon (26) mengatakan ia mengeluhkan sensasi kaku dan panas membakar yang membuat seks tak lagi menyenangkan bagi pria muda itu. Ia tak nyaman saat duduk bekerja sehingga ia memilih berdiri seharian saat bekerja di kantornya yang sebuah bank investasi. Seorang teman Landon juga mengeluhkan dirinya mengalami sakit punggung bawah (lower back pain) yang menyiksa. Namun, anehnya baik Landon dan temannya ini dinyatakan sehat-sehat saja saat berkonsultasi ke dokter. Para pria ini pun merasa kebingungan karena seolah penderitaan mereka tidak diakui secara medis dan ilmiah.
Ternyata Landon dan temannya ini tak sendiri karena ada sejumlah pasien pria muda lain di rentang usia 20-40 tahun yang mengatakan mereka sulit ereksi, kerap buang air kecil dan sulit buang air besar. Penyebabnya menurut dokter terapi fisik William Klein bisa jadi kurang tidur, pekerjaan yang mengharuskan orang duduk lama, kurang minum air putih, dan jarang melakukan peregangan. Masalah otot dasar panggul yang terjadi pada pria biasanya karena tingkat stres yang sangat tinggi dan membuat semua otot di panggul mengencang di atas kewajaran.
Meski saya tahu bahwa pinggul (hip joints) dan panggul (pelvis) berbeda tetapi saya paham keduanya berkaitan erat bak anak kembar yang tinggal berdekatan di satu rumah, dan ini menunjukkan bahwa tak cuma wanita, para pria bisa juga mengalami stres yang pada gilirannya berdampak pada kesehatannya secara umum termasuk keperkasaannya di ranjang.
Nah, dalam yoga sendiri ada beberapa pose yang bisa Anda lakukan di rumah yang fungsinya mengencangkan otot-otot dasar panggul (jika Anda perempuan yang ingin mengembalikan kekencangan di area genitalia) dan merilekskannya (jika Anda pria yang merasa sangat stres dan mengalami gangguan ereksi dan buang air akibat kekakuan otot di area panggul)
Pose-pose yang bisa mengencangkan otot dasar panggul dan di sekitarnya adalah navasana (boat pose), palakhasana (plank dan variasinya), dan sebagainya.
Pose-pose yang bisa meregangkan otot dasar panggul misalnya hanumanasana (front splits), anjayneyasana (low lunge/ crescent pose), middle splits, ekapada rajakapotasana (king of pigeon pose), dan sebagainya.
Namun, tentu saja melakukan cuma pose-pose ini tidak secara instan meredakan keluhan. Anda harus mengadopsi pola hidup yang lebih seimbang dan manajemen stres yang lebih baik ke depan. Ini karena masalah yang dihadapi bersifat multilayered sehingga membutuhkan solusi yang juga holistik dan multifacet.
Jika Anda ingin berlatih yoga sebagai cara untuk mengelola stres dan mencapai keseimbangan hidup, silakan hubungi saya via email akhlispurnomo@gmail.com. Saya menyediakan jasa kelas yoga online dan offline privat maupun grup. Tersedia juga kelas yoga korporat. (*/)
Leave a Reply