Saya memiliki sebuah kelas yoga yang secara rutin saya ajar secara daring/ remote tiap akhir pekan. Kelas ini sudah terbentuk sejak pandemi 2020 lalu secara organik. Mulanya saya mengajar satu orang lalu ia mengajak teman-temannya yang juga mencandu yoga.
Grup yoga satu ini terbilang konstan dan konsisten dalam berlatih. Itu karena si pentolan grupnya memang punya sifat konsisten. Jadi yang lain juga turut terpacu. Biasanya kalau si pentolan mengalami perlemahan semangat, grupnya akan bubar sendiri. Untungnya di sini tidak. Sebagai guru, saya sesungguhnya terbantu dengan adanya si pentolan ini sebab sebagai guru saya tak bisa memaksa murid untuk berlatih. Ia harus mau dari dalam. Tidak ada perasaan terpaksa.
Uniknya, lokasi kami tersebar di sejumlah negara. Si pentolan, sebut saja A, ini sebetulnya berdomisili di tanah air tapi kebetulan sedang berlibur di salah satu negara Eropa sana untuk mengunjungi mertuanya. Lalu seorang lainnya, B, baru saja pindah negara setelah sebelumnya bekerja di Jakarta. Dan satu orang lainnya, C, berdomisili di Amerika Serikat sana.
Untuk bisa menentukan jam latihan yoga, kami cukup pusing dalam berkompromi. Harus ada yang berkorban. Entah itu jamnya di zona waktu mereka terlalu pagi atau terlalu malam sedikit.
Benar saja. Kami akhirnya menetapkan waktu latihan yang agak kurang ideal sebetulnya. Di Eropa masih pukul 6 pagi. Lalu di Jakarta sudah pukul 10 pagi. Di Sydney sudah pukul 1 siang. Di San Fransisco sudah pukul 8 malam.
Singkat cerita kami kemarin pagi entah kenapa sehabis yoga, tidak langsung menutup laptop. Itu karena kami juga ingin mengucapkan belasungkawa untuk A yang kehilangan papa mertuanya.
Ia membeberkan betapa repotnya mengurus kematian di Bulgaria, yang notabene termasuk negara dunia pertama sebab secara de facto dan de jure Bulgaria masuk Uni Eropa.
Saya menyimak penjelasan dan keluhannya. A mengatakan administrasi dan birokrasi Bulgaria juga sama ribetnya dengan Indonesia. Petugas-petugasnya tak teliti dan seenaknya mencatat papa mertuanya sudah bercerai dari mamanya. Kekeliruan pencatatan sipil ini baru diketahui saat pihak keluarga ke kantor pemerintah setempat. Tentu saja dikatakan sudah bercerai padahal tak ada bukti dokumen resminya, mama mertua A mencak-mencak protes ke petugas catatan sipil yang dianggap tidak teliti.
Upaya pembetulan tak berjalan mulus sebab ternyata Bulgarian masuk puncak liburan musim panas. Dan di sana warga beramai-ramai ke pantai termasuk para PNS-nya. Termasuk para pegawai di kantor catatan sipil tersebut.
Kontan A makin jengkel karena kelancaran pengurusan kematian papa mertuanya menjadi tertunda padahal idealnya begitu seorang warga meninggal, harus segera diurus surat kematiannya untuk menutup rekening bank dan mengurusan nomor telepon landline yang dibuat atas nama si orang yang bersangkutan agar tidak ditutup negara. Mirip rasanya dengan kejengkelan saat petugas dukcapil sedang cuti haji di sini dan tidak ada petugas lain yang menggantikan/ menjadi cadangan. Sangat mengesalkan.
Kemudian saya juga menyimak keluhan B yang sedang kedinginan karena di Australia sedang mencapai puncak musim dingin. Ini berkebalikan dari Bulgaria yang sedang panas-panasnya. Saking dinginnya, B terus mengenakan hoodie meski beryoga di dalam ruangan. Dan tetap tak berkeringat. Ia mengenang hangatnya Jakarta dan enaknya berpakaian tipis meski Jakarta sedang ‘dingin-dinginnya’…..
Seorang anak muda di TikTok mengeluhkan sulitnya mencari kerja. Di usianya yang ‘sudah’ di pertengahan 20-an, ia mengatakan sekarang makin lama waktu yang dihabiskan untuk mencari kerja. Ia menunjukkan ratusan atau mungkin puluhan email lamaran kerja yang ia kirimkan.
Saya pikir ia menganggur 1-2 tahun. Eh di akhir video dia berkata: “Akhirnya punya kerjaan lagi setelah 3,5 bulan nganggur…”
Tampaknya ia membuat video TikTok tadi untuk memberi semangat pada anak muda lainnya yang masih menunggu kesempatan kerja bahwa kesempatan dan harapan itu masih ada, asal kita masih berusaha. Di kolom komentar, ia merespon para komentator dengan kata-kata yang membesarkan hati.
Saya pun mengapresiasi konten itu. Setidaknya ia tak menyebut besaran kompensasi gaji yang ia dapatkan di pekerjaan barunya, yang bisa berpotensi memicu kecemburuan dan mendorong orang tak puas dengan pekerjaan yang mereka miliki sekarang. Karena sering orang lupa dengan niat awal yang cuma memotivasi, eh lama-lama kok jadi ajang pamer pencapaian diri. Akhirnya malah ‘dirujak’ warganet.
Tanpa bermaksud mengecilkan besarnya penderitaan anak-anak muda Gen Z akibat kesulitan mencari kerja di tengah resesi ekonomi seperti saat ini, saya juga menemukan kelompok lain yang tak kalah menderitanya: pencari kerja kelompok menengah usia 40-an.
Kebetulan pagi ini saya menonton sebuah konten YouTube yang membahas soal fenomena “Chillean Paradox” yang merujuk pada fenomena di salah satu negara Amerika Selatan, Chile.
Di sana, pertumbuhan ekonominya relatif tinggi dan stabilitas makroekonomi membaik. Sayangnya semua pencapaian positif di atas kertas itu juga dibarengi dengan ketimpangan sosial dan ekonomi yang makin nyata di pelupuk mata. Ternyata di lapangan, meskipun Chile mengalami kemajuan ekonomi pesat sejak era 1970-an, perbedaan antara kaya dan miskin tetap mencolok.
Faktor-faktor penyebab paradoks ini tak cuma satu. Setidaknya ada 4 faktor yang berperan dalam terjadinya Chillean Paradox ini, yakni kebijakan ekonomi neoliberalisme yang menciptakan kesenjangan akses terhadap sumber daya, pasar tenaga kerja yang kurang memberikan perlindungan memadai bagi pekerja, sistem pendidikan yang bergantung pada kemampuan finansial dan membatasi mobilitas sosial, dan struktur pajak yang cenderung regresif.
Dampak paradoks ini adalah terjadinya ketidakstabilan sosial, kesenjangan kesehatan dan kesejahteraan, terhambatnya peluang ekonomi, serta menurunnya kepercayaan terhadap institusi.
Indonesia menurut laman moneynesia.com juga berpotensi mengalami paradoks serupa jika hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan distribusi kesejahteraan.
Chilean Paradox menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Diperlukan kebijakan yang berfokus pada redistribusi kekayaan dan peningkatan akses terhadap layanan dasar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Sebuah komentar di bawah video YouTube yang saya saksikan itu menarik perhatian saya karena sungguh mencerminkan nestapa kelompok ekonomi dan usia menengah (middle class, middle age) di negara kita.
Di Indonesia saat ini, tak cuma orang-orang yang berada di kelompok ekonomi menengah alias middle class yang menderita sebab diperlakukan sebagai ‘sapi perah’ dan ‘lokomotif’ penggerak ekonomi bangsa di tengah kelesuan ekonomi dan kondisi geopolitik dunia yang jauh dari kata stabil.
Mereka yang berada di rentang middle age alias paruh baya atau umur 40-an juga kena dampak parah karena sebagian dari mereka kena layoff tapi mereka juga menghadapi tantangan lebih besar untuk masuk kembali ke dunia kerja karena adanya diskriminasi usia dan kecenderungan para pemberi kerja untuk merekrut anak-anak muda lajang usia 20-an saja yang gajinya lebih rendah. Mungkin sebagai junior officer/ staff berstatus pegawai kontrak atau bahkan intern bergaji mepet UMR.
Yang mau lebih efisien lagi bahkan tak mau lagi merekrut manusia dari berbagai rentang usia. Cukup sisihkan anggaran untuk pakai layanan AI berbayar atau menyewa freelancers/ pekerja lepas berpengalaman untuk menghemat pengeluaran bisnis.
Bisa dikatakan susah untuk bersikap optimistis saat ini dengan melihat semua kondisi ini. Dan untuk membangkitkan optimisme itu, cobalah membaca kutipan berikut ini:
“Tanpa kerja, semua hidup membusuk. Tapi ketika kerja tanpa jiwa, hidup tercekik dan mati.” – Albert Camus
Kemarin sebuah buku berjudul Ghostwriting and the Ethics of Authenticity dari John C. Knapp dan Azalea M. Hulbert terbitan Palgrave Macmillan tahun 2017 menarik perhatian saya. Buku itu memang bukan genre fiksi tetapi toh benak saya diseret oleh buku ini ke masa lalu.
Di dalam bagian pembukanya, penulis memberikan batasan soal apa yang bisa disebut sebagai ghostwriting dan tidak. Menurut Knapp dan Hulbert, ghostwriting ialah proses penyusunan sebuah tulisan yang dilakukan oleh seseorang (si penulis) yang kemudian digunakan untuk orang lain (si klien) yang akan mendapatkan sebutan/ pengakuan sebagai penulis, dan di sini kedua belah pihak tersebut sepakat bahwa peran si penulis dirahasiakan dari pihak-pihak lain. Dari sanalah bisa dipahami mengapa istilah “ghost” (di sini diterjemahkan sebagai “bayangan”, bukan “hantu”) dipakai. Jika bisa dilihat, lalu mengapa harus disebut “ghost”?
Lalu bagaimana membedakan tulisan hasil ghostwriting dari yang tidak?
Pertama, tulisan ghostwriting bukan plagiarisme (pencurian gagasan dan mengakui gagasan orang lain sebagai hasil kerja seseorang). Ghostwriting mengharuskan adanya kesepakatan di awal sebelum bekerja antara pihak penulis dan klien.
Kedua, tulisan hasil ghostwriting juga bukan hasil proses penyuntingan dan revisi biasa sebagaimana yang dikerjakan editor pada naskah seorang penulis di bisnis penerbitan.
Ketiga, sebuah tulisan ghostwriting tidak mencantumkan secara terang-terangan nama ghostwriter-nya di sampul atau bagian manapun di buku.
Terakhir, tulisan hasil ghostwriting juga tak boleh mengandung penyebutan nama sang ghostwriter sesamar apapun.
Di situlah saya berpikir: “Wow, saya ternyata ghostwriter!”
Aneh memang pola induktif yang saya jalani ini. Saya menjalani detail-detailnya dulu baru bisa menemukan teori-teori di balik praktik yang saya lakukan. Seolah saya ingin berteriak setelah membaca buku ini: “Oh kemarin itu yang saya kerjakan itu job description-nya ghostwriter toh!”
Setelah saya ingat lagi, ternyata saya punya 3 episode pengalaman bekerja sebagai ghostwriter selama karier 14 tahun saya di industri media baru ini. Memang belum sehebat Tom Lembong yang jadi ghostwriter bayangan presiden tapi setidaknya ada juga banyak pengalaman yang bisa saya kemukakan di sini.
Ghostwriter Twitter
Kalau saya ingat lagi, awal karier korporat saya adalah content writer untuk sebuah website di tahun 2010. Sudah lama memang. Maklum saya pekerja angkatan Geriatric Millennial (Millennial ‘Tua’, haha).
Saat itu ramai berseliweran artikel-artikel yang membahas soal karakter pekerja Millennial yang mendewakan pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka.
Saya sendiri merasa stigma itu cocok untuk kasus karier saya. Saya termasuk orang yang kuliah dan bekerja di jalur yang relatif selaras. Tidak melenceng jauh. Jadi bisa dikatakan saya cukup beruntung karena ilmu selama kuliah banyak yang terpakai bahkan menjadi core skills yang berguna saat saya bekerja sebagai kaum profesional.
Namun, seiring perkembangan dan dinamika di tempat kerja, tim saya dituntut untuk bisa mendatangkan pembaca ke website kami dan cara yang kami bisa lakukan secara murah hampir tanpa biaya adalah rajin update di akun Twitter yang saat itu masih sesuatu yang keren dan canggih. Semua orang keranjingan Twitter. Apalagi kalau tweet mereka punya label “Twitter for Blackberry” atau “Twitter for iPhone”, duh rasanya si pemilik akun seolah-olah sudah bertengger di strata atas masyarakat ibukota. Saya tidak berlebihan sebab era itu memang era keemasannya perangkat Blackberry. Pokoknya para pemilik perangkat Android cuma bisa gigit jari dan dianggap warganet jelata saja.
Akun Twitter kami memang sudah menghasilkan banyak pengikut dan traffic ke website saat itu. Tapi namanya manajer, kurang afdol jika tidak memberikan target yang menantang bawahan tentu saja agar tidak dicap atasan gampangan.
Tim saya pun didesak untuk terus menarik traffic yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi. Di titik tersebut, saya punya ide gila: “Bagaimana jika kita pakai foto founder dan owner perusahaan ini sebagai persona untuk akun Twitter kita ini?”
Kebetulan pendiri dan pemilik perusahaan tempat saya bekerja adalah sosok yang dikenal masyarakat luas. Ia juga tak segan membagikan pandangan dan pemikirannya soal isu-isu yang menurutnya penting bagi kebaikan masyarakat Indonesia secara umum.
Kami bereksperimen lalu meminta restu sang owner dan jadilah kami (tim tempat saya bekerja di dalamnya) menggunakan foto wajahnya sebagai avatar Twitter akun yang tim kami kelola.
Benar saja, ide saya sangat jitu menarik traffic. Secara naluriah, manusia memang lebih tertarik dan percaya tweet seorang pengusaha sukses daripada akun Twitter dengan logo website yang tak jelas (obscure).
Saat itu belum ada ide verified account berbayar jadi tim kami harus bekerja keras tiap hari membangun kredibilitas agar orang tahu ini benar-benar si pengusaha tenar yang menge-tweet setiap hari.
Karena ide untuk menggunakan persona owner perusahaan itu datang dari saya, saya pun ‘tertimpa’ tanggung jawab sebagai pengelola akun alias administrator akun Twitter tersebut. Saya cuma bisa menjalankan amanat dengan sebaik mungkin meski jujur saya juga saat itu buta sama sekali dan tidak dibekali pengetahuan dan keterampilan yang relevan sebelum memikul tanggung jawab. Pokoknya ‘learning by doing‘, meraba-raba, bereksperimen.
Dan dari situlah saya berinisiatif untuk membekali diri dengan soft skills bermedia sosial yang saya kebetulan bisa dapatkan di training yang diadakan oleh Virtual Academy tahun 2013 kalau tak salah. Saat itu juga saya bisa belajar pertama kalinya dengan alm. Nukman Luthfie dan Iim Fahima Jahja yang saat itu dikenal vokal soal hal-hal berbau digital.
Mulailah saya mencicipi rasanya menjadi penulis bayangan alias ghostwriter untuk akun Twitter ini dengan sebaik mungkin meski profesi ini tak terpikirkan untuk saya lakoni sebelum saya masuk tempat kerja ini.
Apa yang saya kerjakan sebagai ghostwriter di balik akun Twitter persona founder ini?
Tujuan besarnya adalah untuk memudahkan upaya kehumasan perusahaan tempat saya bekerja sebenarnya karena saat itu media sosial baru muncul sebagai kanal komunikasi baru yang menjadi bahan eksperimen masyarakat kita dalam banyak hal, termasuk para pelaku industri media dan kehumasan (public relations) serta bisnis media baru (online).
Saya beserta tim menjabarkannya dalam sejumlah strategi dan key performance index (KPI) yang terukur dan konkret. Tentu saja jumlah followers adalah salah satu indikator KPI yang utama (bahkan hingga kini).
Selain membuat tweet harian mengenai artikel berita terbaru yang menarik soal banyak isu, saya sendiri mengusulkan penggunaan kuis dan kultwit (‘kuliah’ dalam bentuk serangkaian tweet dengan tema edukatif dan insightful, yang sekarang populer disebut thread/ utas).
Saya mengatur penyelenggaraan kuis-kuis dengan materi soal detail perjalanan karier sang founder yang memang saat itu sudah menerbitkan buku. Jadi selain saya bisa meningkatkan engagement di akun Twitter tersebut, saya juga bisa memberikan nilai tambah bagi pengikut akun dan meraih pengikut baru sekaligus membangun impresi dan reputasi positif perusahaan dan sang founder di dunia maya, plus membangkitkan keingintahuan pengikut agar mau membeli buku si founder. Begitu argumentasi yang saya bangun untuk bisa menjustifikasi ide saya ini di depan manajer, dan ia merestui. Sounds good, katanya singkat.
Dan untuk menjadi ghostwriter si founder ini, saya punya keleluasaan untuk bertemu dan berkomunikasi dengannya untuk brainstorming ide-ide konten atau tweet. Pun jika ia memiliki pesan penting untuk disampaikan kepada para pengikut, saya mengemasnya sedemikian rupa agar bisa sesuai dengan platform Twitter yang kala itu cuma bisa menampung 144 karakter. Tak bisa panjang lebar padahal si founder ini Silent Generation yang terbiasa dengan komunikasi tatap muka.
Jika sang founder ada acara atau event offline yang bisa dijadikan materi konten atau publikasi yang memberikan sentimen positif bagi perusahaan, saya pun menghadiri sekaligus merangkai kata-kata sebagai tweet, sekaligus merekam atau mengabadikan momen tadi lalu mengunggahnya ke Twitter segera.
Bentuk singkatnya saya unggah di Twitter lalu detailnya saya suguhkan dalam bentuk artikel panjang dengan sudut pandang orang pertama sang founder di website sehingga dua-duanya makin menarik pembaca dari waktu ke waktu.
Saat ini akun tersebut masih ada namun terbengkalai begitu saja sebab sang founder yang saya maksud sudah meninggal dunia karena usia senja. RIP…
Ghostwriter Buku
Setelah pekerjaan sebagai ghostwriter di perusahaan tersebut berakhir, saya pun meniti episode perjalanan karier selanjutnya yang ternyata tak kalah mengasyikkan: menjadi ghostwriter untuk sebuah buku.
Seorang kenalan saya yang memiliki jejaring luas di industri perbukuan kebetulan mengajak untuk menjadi penyunting sekaligus ghostwriter untuk seorang ibu yang memiliki minta besar pada spesies hewan lokal yang ingin mendapatkan pengakuan secara internasional. Untuk itu, sebuah buku dalam bahasa Inggris mesti dibuat dan disebarluaskan sebagai bukti eksistensi spesies hewan lokal ini di area yang dimaksud bagi instansi Eropa yang berwenang memberikan pengakuan tadi.
Saya bekerja merampungkan proyek buku ini bersama dengan sang pemilik ide dan 2 orang lain yang menjadi anggota tim penerbitan buku ini.
Dalam kurun waktu 3-4 bulan, kami mengerjakan semuanya dari pengerjaan draft pertama, penyuntingan draft, wawancara narasumber-narasumber penting, transkripsi, fact checking, proofreading, hingga tahap finalisasi naskah.
Di sini, saya banyak bekerja menyusun draft pertama dengan menggunakan kerangka ide buku yang telah diberikan sebagai pedoman. Dengan kata lain, tugas saya mengembangkan ide-ide utama dalam buku menjadi serangkaian paragraf dan ternyata proses ini sangat menguras energi intektual sebab saya sangat asing dari topik yang dibahas dalam buku.
Saya masih ingat berhari-hari mencoba menuliskan sesuatu dengan dikelilingi buku di perpustakaan umum, sembari merasa putus asa karena draft mentah dari saya sudah ditunggu oleh tim tapi saya tak kunjung mengirim karena merasa stuck. Istilah kerennya sedang kena writer’s block. Saya merasa: “Apa lagi yang bisa diceritakan soal ini? Nggak ada. Gimana donggg??”
Tapi tentu saya tak bisa menyerah begitu saja, saya mencoba memeras kreativitas dengan melihat bagaimana buku-buku sejenis membahas topik mereka dengan apik dan menarik. Saya juga lupa bahwa saat itu saya sedang bekerja sendiri dengan otak saya yang terbatas, begitu draft ini diserahkan, pasti bakal ada tambahan, masukan, revisi, dan pengayaan dari pihak lain di tim. Tak harus langsung sempurna, gumam saya ke otak ini. Jadi seharusnya saya tidak berpikiran bahwa beban itu semua ada di pundak saya saat itu juga. Saya bekerja dalam tim, bukan secara solo. Begitu saya mengubah sudut pandang itu, saya merasa bisa lebih leluasa menulis. Fiuh!
Dari draft pertama yang payah, kami terus memoles, menambal ‘lubang-lubang’ ide dengan informasi dan ide lain agar terlihat mulus dan enak dibaca, memeriksa dan menyulam untaian gagasan menjadi satu ‘kalung’ yang utuh.
Singkat cerita, buku itu pun berhasil dicetak dan dipamerkan di sebuah event pameran buku dan diajukan ke badan yang dimaksud. Lega rasanya!
Speechwriter Bayangan
Di kemudian hari, saya dihubungi oleh seorang mantan teman kerja. Tanyanya pada saya: “Kamu bisa kan membuat naskah pidato dalam bahasa Inggris?”
Sebelumnya memang kami bekerja dalam satu tim pemasaran yang sama dan saya bekerja sebagai senior copywriter di dalamnya.
Saya jawab ya. Saya sebelumnya pernah mengarang sejumlah artikel dengan menggunakan sudut pandang orang pertama untuk mewakili founder perusahaan, lalu ada juga kata beberapa sambutan pimpinan dalam newsletter semesteran yang saya juga buat untuk organisasi tempat saya bekerja lainnya, sehingga saya cukup percaya diri dengan pengalaman dan keterampilan menulis di genre seperti itu.
Langkah pertama begitu mendapatkan lead seperti ini ialah memberikan rate card yang bisa menggambarkan dengan jelas tarif dan jenis jasa apa saja yang saya tawarkan sebagai ghostwriter. Jadi ‘no tipu-tipu’ di sini. Jangan ada ketentuan atau informasi yang disembunyikan atau baru disampaikan di tengah atau akhir proses pengerjaan naskah.
Usut punya usut, saya duga keras klien saya yang kenalan mantan teman kerja ini adalah anggota tim PR dari seorang pucuk pimpinan (CEO) perusahaan dan ia diberi tugas menyusun draft pidato untuk sebuah event gathering perusahaan yang mengundang agen-agen dengan tujuan mengapresiasi kerja keras mereka.
Dari tujuan event tersebut, saya pun mencoba untuk menyusun draft pidato yang bisa menyampaikan pesan penting sang CEO. Tak lupa agar isi pidator makin meyakinkan, saya juga memberikan pertanyaan-pertanyaan penting dan fundamental sebagaimana dalam jurnalistik: 5W dan 1H. Siapa yang hadir agar saya bisa menerka ragam bahasa yang tepat, alasan mengapa event itu diadakan, kapan dan di mana event itu diadakan, apa yang akan dilakukan di event tersebut, dan bagaimana si CEO/ perusahaan akan merealisasikan janjinya terhadap agen-agennya?
Juga saya tak lupa menanyakan data dan angka penting pada klien, misalnya data terbaru capaian penjualan agen-agen terbaik yang hendak diberi penghargaan. Jika memang patut disebut, menurut saya harus disebut karena orang selalu terkesima dengan angka.
Dengan dipersenjatai semua informasi itu, barulah saya bisa menyusun draft pidato yang sesuai ekspektasi. Dan ekspektasi ini memang sangat subjektif sehingga saya pun memberi batasan bahwa revisi maksimal 3 kali, dan selebihnya akan saya kenakan biaya tambahan. Karena kalau revisinya terlalu banyak dan berubah terlalu cepat dan drastis lalu hanya untuk kembali menggunakan draft awal, rasanya terlalu membuang tenaga dan waktu saya sehingga biaya tambahan perlu dikenakan pada klien.
Ini harus tegas disampaikan di depan agar si klien tidak merasa diperdaya di tengah pengerjaan naskah. Saya selalu menghindari kesan memperdaya klien dengan mengeluarkan ketentuan di awal/ sebelum proses penulisan dan revisi tulisan dilakukan. Kalau bisa bayar down payment 50%, tentu lebih baik. Sisa 50%-nya menyusul begitu naskah kelar.
Proses bisnis tanpa perantara begini memang enak dan mulus sebab dilandasi kepercayaan berkat adanya rekomendasi dari kolega atau teman kerja atau kenalan kita di circle kerja sebelumnya. Maka dari itu, saya sangat percaya dengan pentingnya memupuk hubungan yang baik dengan semua orang di tempat kerja. Karena bisa jadi dari mereka inilah kesempatan-kesempatan yang tak terduga berdatangan menghampiri saya di masa datang. (*/)
Recently, a case of mob justice/vigilantism that resulted in a fatality went viral in Sukolilo, Pati Regency, Central Java Province. The incident of mob violence that killed a rental car business owner from Jakarta occurred in Sumbersoko Village, Sukolilo District, Pati Regency on Thursday, June 6, 2024.
This incident began with a misunderstanding where residents mistook the victim’s group for thieves. Three people have been named as suspects in this case.
Chronology of the Viral Car Rental Boss Case
According to detik.com, the chronology of events is as follows: The rental boss with the initials BH and three friends came to Pati to retrieve a lost car. They tracked the car’s location using GPS. On Thursday (6/6) around 1:00 PM, the group arrived in the Sukolilo area using a Sigra car.
The victim BH found the sought-after car parked in the yard of suspect AG. BH immediately opened the car using a spare key and drove it. His three companions followed in the Sigra car. This action aroused suspicion among local residents. One resident shouted “thief!”, which prompted other residents to chase the group. The victim’s group separated while fleeing, but residents continued to pursue them.
The four victims were eventually caught and assaulted by the mob. Police received a report of the incident and immediately went to the location to evacuate the victims. Unfortunately, victim BH died as a result of the assault.
Pati Police Chief, Senior Commissioner Andhika Bayu Adhittama, also explained that this incident stemmed from a misunderstanding. The victim’s group actually came to retrieve their lost car, but their hasty actions and failure to communicate with the homeowner aroused residents’ suspicions.
This case demonstrates the importance of communication and caution in situations that could potentially lead to misunderstandings. The act of mob justice by the masses is also a serious concern, given the fatal consequences it can cause.
The police have followed up on this case by naming three suspects. Further investigation is still being conducted to uncover the details of the incident and ensure the legal process proceeds according to procedure.
In response to the assault case resulting in the death of the car rental boss, public reactions continue to pour in. Most defend the late BH, who indeed had the right to reclaim his car.
It didn’t stop there; netizens again became busy retaliating against the cruelty in Sukolilo with the emergence of a viral announcement from a car rental owner with the Instagram account @erwin_commercial_driver from Yogyakarta, who explicitly forbids renting his cars to anyone with a Pati ID card and doesn’t serve the Pati area at all, even canceling orders serving Pati residents.
Netizens immediately responded positively, although there were indeed a handful of Pati residents who felt this was excessive and shouldn’t punish all Pati people in such a way.
Interestingly, the context expanded. In the comments section of Erwin’s post, netizens shared unpleasant stories about the behavior of Pati residents who had been friends, neighbors, business partners, or customers. On average, they all complained about negative behavior, seemingly validating Erwin’s decision to boycott Pati and all its people.
Not only that, according to branding expert Yuswohady, it was stated that netizens also took revenge on Pati residents through various means on the Internet. What’s easily visible is marking several locations in Sukolilo Pati as “killer village” and “Sukolilo city of receivers”, “life-taking village”, “Sukokroyok”, “thieves’ village”, “Sukomaling haircut”, “Sukolilo land of fire hell on earth”, “Sukolilo Pertamina gas station receivers”, “red zone for car and motorcycle rentals” on Google Maps so that anyone using this application can see it.
Digital Vigilantism When Law Enforcement is Dysfunctional
What happened in Pati is closely related to digital vigilantism that has emerged as a unique local phenomenon.
Summarized from tandofline.com, this digital vigilantism involves the mobilization of netizens to monitor and harass individuals suspected of committing crimes through digital media. Although the late BH had reported the theft of his rental car to East Jakarta police, the National Police stated that “the speed of handling each case varies” and due to the lengthy handling, BH acted on his own.
What BH and netizens did could reflect the occurrence of “autonomization,” where citizen involvement is voluntary and spontaneous when law enforcement is slow to work. Digital vigilantism is defined as a process where citizens are collectively offended by the activities of other citizens and respond through coordinated retaliation on digital media platforms. In the Sukolilo case, netizens were generally moved to help provide social sanctions against all Sukolilo and Pati residents because they were considered to have allowed fencing to occur for many years.
Due to the accumulated frustration of netizens who felt they had been victims of crime in Sukolilo and Pati, they collectively shared bitter stories of dealing with Sukolilo and Pati residents in general.
This practice can often be categorized as “naming and shaming” or “weaponizing visibility” by publishing location data of the target’s place of origin.
Digital media like Google Maps and social media platforms have removed geographical barriers and blurred the line between online activities and offline consequences.
In the case of the beating of rental boss BH in Sukolilo Pati, we can witness the role of social media platforms like Instagram and TikTok in shaping netizens’ anger once this case went viral.
Digital vigilantism can also be used to create social justice and progressive goals such as fighting sexual violence, or for right-wing populist purposes such as attacking minorities and migrants. Public perception of legitimacy is often based on ideological context rather than legal principles. (*/)
Baru-baru ini kita saksikan badai layoff menerjang Tokopedia. Menurut ByteDance melalui beberapa sumber, setelah merger yang hingar bingar beberapa waktu lalu itu memang dipastikan bakal ada sejumlah pegawai yang di-PHK. Jumlahnya berpotensi mencapai 1000 orang. Tidak main-main.
LinkedIn pun menampilkan update beberapa orang yang terdampak dan rekan mereka yang bersimpati dan mempromosikan skills teman dan kenalan yang baru saja di-PHK itu secara cuma-cuma di LinkedIn feed mereka. Wow keren juga ya networking di LinkedIn ini, pikir saya.
Sedih memang tapi mood saya langsung berubah tatkala menemukan sebuah video TikTok yang dimiliki seorang korban layoff Tokopedia baru-baru ini. Isinya begini: “A day in my life. Episode layoff.” Penanda lokasinya adalah sebuah hotel mewah di ibu kota. Caption-nya bernada: Menangis di hotel mewah tersebut bersama teman-teman senasib lebih baik daripada menangis sendirian.
Si pemilik akun sendiri merekam dirinya sedang mengeringkan rambut setelah keramas dengan shampoo mahal yang disediakan pihak hotel tadi. Lalu merekam juga hidangan mahal yang terhampar di meja yang ia nikmati bersama kawan-kawannya yang sesama korban layoff. (*Untuk memahami konteks yang lebih lengkap di balik video itu, bisa baca di update yang saya tambahkan di bawah)
Agak ironis memang. Korban layoff tapi masih bisa hahahihi, masih terpikir untuk healing ‘tebal-tebal’ (nggak tipis-tipis lagi menurut saya itu).
Di situ saya sadar bahwa pengalaman layoff bisa sungguh berbeda bagi tiap orang. Ada yang di-PHK tetap bisa makan minum yang mereka inginkan dan membiayai kebutuhan ultra tersier seperti si pemilik akun TikTok tersebut.
Ada juga yang tak seberuntung itu. Begitu di-PHK, otomatis pikirannya terpaku pada upaya-upaya penghematan dan pencarian peluang kerja selanjutnya agar tetap bisa bertahan hidup. Saya pikir itu yang dialami sebagian dari 1170 karyawan pabrik ban yang ditutup di Cikarang. Mungkin mereka menjadi tulang punggung keluarga sehingga rasanya di-PHK sama dengan kiamat skala kecil bagi semesta mini kehidupan mereka. Terbayang susahnya cari kerja bagi orang dengan usia di atas 30 tahun di negara ini. Sungguh berat!
Pengalaman saya sendiri kena PHK dua kali sejauh ini berbeda dari kedua kutub ekstrim ini. Saya masih ada tabungan tapi tidak sampai seimpulsif mantan karyawan Tokopedia tadi, yang menghabiskan jutaan untuk menginap di hotel mahal hanya untuk ‘merayakan’ layoff.
Saya lebih terdorong untuk ‘belanja’ pengetahuan dan skills baru untuk upgrade diri agar siap untuk peluang selanjutnya atau jika saya memang harus self employed, membuat saya bisa mandiri menggarap peluang untuk mencari nafkah tanpa bergabung dengan organisasi/ korporasi apapun.
Untuk kebutuhan sehari-hari sendiri, saya masih beruntung memiliki pekerjaan sampingan: mengajar yoga. Jadi kalau bisa dikatakan, saya malah anggap masa pasca layoff sebagai suatu ‘sabbatical leave‘ yang agak melegakan dan menenangkan jiwa meski masih sedikit dihantui ketakutan akan masa depan. Tapi secara keseluruhan, saya masih bisa ‘mengapung’, tidak ‘tenggelam’ di gelombang tsunami layoff ini. So I consider myself lucky to some degree.
Di sini saya ingin menegaskan betapa luas spektrum pengalaman dan rasa menjadi korban layoff. Ada yang cukup diberikan simpati ala kadarnya karena mereka tanpa pekerjaan itu pun masih bisa membiayai gaya hidup yang wah entah karena gajinya dulu segunung dan investasinya segudang atau punya background keluarga yang mampu sekali dalam finansial.
Ada korban layoff kelas menengah yang seperti saya. Masih bisa makan, minum, tidur nyenyak di bawah atap dan menikmati hidup tapi kalau tabungan habis ya bakal masih bisa menangis darah juga.
Lalu ada korban layoff yang lebih tragis dan perlu sekali tak cuma diberi simpati yang tulus tapi juga tindakan nyata dari kita semua agar mereka tidak makin terlilit utang pinjol, lintah darat, atau utang bank (KPR misalnya) sehingga mereka kehilangan rumah yang dijadikan tempat tinggal bersama keluarga.
Update 20 Juni 2024:
Ada beberapa orang yang menanggapi tulisan ini. Melisa Hartanto menanggapi dengan penjelasan konteks video tersebut:
“Kebetulan yang post itu temen saya dan memang kekurangan beberapa context sehingga misleading. Tapi, alangkah baiknya tidak spreading hateful speech ketika kita belum tau full informasinya yaa.
Apabila berkenan untuk anda baca dan FYI untuk meluruskan yes.
1. Saat itu kita sedang on campaign yang memang sudah terencana dari perusahaan, dan dicover perusahaan untuk penginapannya 🙂 2. Mana ada yang tau di tengah-tengah sibuknya ngerjain big event tiba-tiba kondisi perusahaan terpaksa ada restrukturisasi. 3. Makan-makan ini adalah salah satu bentuk traktiran dari lead kami (baik banget aslii) yang dimaksudkan untuk menghibur yang terdampak. 4. Inside joke “menangis di hotel better than nangis sendiri” – so sorry it’s our inside joke yang tanpa sadar tidak semua orang paham kondisi kita.”
Thank you!🍀”
Jadi saya minta maaf kepada pihak yang sudah kurang berkenan dengan tulisan karena sudah keliru memahami video tersebut.
Namun, saya tidak menghapus tulisan ini dengan tujuan untuk bisa dibaca sebagai pembelajaran bagi kita semua untuk:
tidak memberi respon terburu-buru mengenai sebuah konten yang terlihat kontroversial, kontraintuitif, dan sebagainya. Bisa dicek dulu ke pihak pemilik konten mengenai konteks dan maksudnya.
berhati-hati dalam mengunggah video pendek dengan konteks yang tidak lengkap yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang menonton. (*/)
“Tahu AI yang bagusan nggak dari Gr**mmrly?” tanya seorang teman baru saja sore ini.
Ia mengaku pusing setelah mendapati hasil kerja AI yang dipadukan dengan Google Translate. Ternyata malah ruwet, susah dipahami.
Kebetulan sekali tepat beberapa menit sebelumnya saya scroll TikTok dan menemukan video soal “The Wall Street Journal Great AI BOT Challenge“.
Wah menarik nih, batin saya.
Dan memang hasil pertarungan tersebut sangat relevan dan membantu pekerja profesional yang banyak bergulat dan berkutat dengan kata dan kalimat seperti saya.
Uniknya ada sejumlah kategori lomba di sini yang membandingkan performa 5 AI BOT yang dipakai masyarakat saat ini: Perplexity, ChatGPT, Gemini, Claude, dan Copilot.
Jujur saya sendiri lebih sering memakai ChatGPT dan Claude. Belum pernah saya menyentuh Perplexity dan Copilot.
Gemini sudah pernah saya coba tapi karena sekali saya pakai saya nilai agak janggal hasilnya, saya pun beralih.
Dalam kategori “KESELURUHAN” (Overall), Perplexity yang berwujud mesin pencari yang diluncurkan Agustus 2022 itu keluar sebagai jawara. Di peringkat kedua hingga kelima berturut-turut ialah ChatGPT, Gemini, Claude, dan Copilot.
Untuk kategori “KESEHATAN” (Health), ternyata ChatGPT yang paling unggul hasilnya. Di peringkat 2-5 ialah Gemini, Perplexity, Claude, dan Copilot.
Lalu untuk kategori “KEUANGAN” (Finance), Gemini terbukti paling memuaskan hasil kerjanya dibandingkan Claude (2), Perplexity (3), ChatGPT (4), dan Copilot (5).
Sementara itu, di kategori “MEMASAK” (Cooking), yang menang ialah ChatGPT. Baru disusul oleh Gemini (2), Perplexity (3), Claude (4), dan Copilot (5).
Di kategori yang saya anggap paling relevan dengan bidang saya, “MENULIS SECARA PROFESIONAL” (Work Writing), ternyata jawaranya adalah AI BOT yang sudah sering saya pakai: Claude. Baru disusul oleh Perplexity, Gemini, ChatGPT, dan terakhir Copilot.
Yang menarik ialah kategori “MENULIS KREATIF” (Creative Writing). Di sini Copilot yang keok di banyak kategori sebelumnya ternyata menunjukkan kekuatannya. Di peringkat kedua hingga terakhir berturut-turut ialah Claude, Perplexity, Gemini, dan ChatGPT.
Untuk urusan ringkas meringkas, Anda bisa bergantung pada Perplexity sebab Perplexity menang lagi di kategori “RINGKASAN” (Summarization). Di posisi kedua hingga terakhir ialah Copilot, ChatGPT, Claude, dan baru Gemini.
Soal kecepatan, ChatGPT jadi juara wahidnya. Baru disusul Gemini, Copilot, dan seterusnya.
Bagaimana dengan pengalaman Anda sendiri memakai beragam AI BOT?
Mana yang terbaik menurut Anda untuk pekerjaan Anda?
Apakah ada AI BOT lain yang belum dibahas dan patut diketahui?
Mental health has been a household term lately thanks to Generation Z that discuss this openly on every occasion and opportunity they have.
I am no part of Gen Z. I, however, feel the urge to check up on my mental health to especially after a string of horrible news from the government in Indonesia.
As we’re officially retreating back to the dark age of New Order (Orde Baru), I have been increasingly concerned with my mental health after being exposed to a lot of news and social media content.
I need a break…
So here’s a list of journal prompts I can use to guide me through my daily mental health check to prevent premature collapse of this fragile sanity state. Haha, I’m joking.
Mental Health Journal Prompts
Are you feeling nervous, anxious, or on edge? Can you control your anxiety?
Are you worrying too much about different things? Do you find it difficult to relax?
Are you feeling restless and getting easily angry?
Are you feeling afraid that something bad will happen? Do you have little interest in doing things?
Are you feeling down, depressed, or hopeless? Do you have any difficulty to sleep or sleep too much?
Do you feel tired or have little energy? Do you eat properly with great appetite or overeating?
Are you feeling bad about yourself (thinking you’re a failure or let others down)?
Do you have trouble to concentrate on things?
Are you moving or speaking so slowly that others can notice? Or are you fidgety or restless?
Are you thinking you’re better off dead or hurting yourself in some way?
Selama ini yoga kerap dianggap sebagai entitas/ hal yang terpisah dari aktivisme dan politik. Namun, jika diamati lebih seksama, kita bisa temukan fakta bahwa yoga juga sering di(salah)gunakan sebagai alat aktivisme sesuai agenda kelompok/ pihak tertentu.
Misalnya ada kelompok pro Palestina yang menggaungkan pesan “Free Palestine” melalui sesi meditasi dan kelas yoga asana yang mereka adakan dalam circle mereka.
Di sisi lain, juga ada para pegiat yoga di Israel yang menggunakan yoga untuk menjustifikasi Zionisme. Keduanya sama-sama yoga tetapi agenda yang diusungnya sangat bertentangan.
Di Indonesia sendiri, setahu saya beberapa event yoga yang dimuati pesan aktivisme entah itu yang bersifat politis maupun sosial, misalnya penggalangan dana untuk kelompok yang termarjinalkan atau underprivileged.
Katakanlah event-event yoga dengan tujuan penggalangan dana untuk pelestarian hutan, hewan langka, sumbangan untuk para korban bencana/ pengungsi konflik berdarah, dsb.
Jadi bisa dikatakan yoga di Indonesia juga cukup sarat dengan aktivisme yang dipilih sesuai selera dan kepentingan penyelenggaranya, yang tak cuma bersifat politis dan sosial tetapi bisa juga lebih berat ke sisi komersial.
Namun, guru dan praktisi yoga Savira Gupta dalam tulisannya berjudul “Yoga Is Not Political—Unless That’s Your Calling” di laman yogajournal.com baru-baru ini menggugat tren yoga yang diidentikkan dengan aktivisme politik dan sosial tertentu.
Ia menyatakan: “[S]aya berpendapat bahwa yoga bukanlah aktivisme politik maupun sosial melainkan sebuah jalur spiritual untuk menggapai pembebasan diri dari penderitaan.”
Gupta lebih lanjut membahas soal konsep swadharma dalam yoga. Swadharma merujuk pada tugas dan tanggung jawab individu sesuai dengan kodrat dan keunikan masing-masing.
Keputusan dan tindakan kita seharusnya didasari oleh swadharma, bukan motif politik atau aktivisme.
Dalam Bhagavad Gita, dikisahkan bahwa Arjuna berperang bukan karena motif politik, melainkan karena swadharma-nya sebagai kesatria yang harus membela kebenaran dan keadilan.
Yoga bertujuan menuntun kita untuk menjalani swadharma demi kebaikan masyarakat dan alam semesta, bukan untuk mencapai agenda pribadi.
Aktivisme cenderung mempersatukan kelompok tertentu, namun memisahkannya dari kelompok lain. Hal ini bertentangan dengan esensi yoga yang menyatukan kesadaran individu dengan kesadaran tertinggi.
Dengan demikian, Gupta menyimpulkan, ketika yoga disamakan dengan aktivisme politik atau sosial, sesungguhnya telah terjadi kesalahpahaman atas ajaran yoga yang sebenarnya.
Konsep dharma (hukum alam semesta) dan swadharma (tugas pribadi sesuai kodrat) sering diabaikan dalam pemaknaan yoga di Barat.
Padahal, tindakan kita baru dapat disebut yoga jika bersumber dari swadharma.
Yoga merupakan cara untuk menjernihkan pikiran agar kita dapat menjalani swadharma dengan tepat, bukan untuk mendorong agenda politik atau aktivisme tertentu, terang Gupta.
Oleh karena itu, praktik yoga seharusnya menuntun kita untuk menemukan dan menjalani swadharma masing-masing sesuai dengan tahap kehidupan yang sedang dijalani.
Dengan demikian, kita dapat berkontribusi untuk kebaikan masyarakat dan alam semesta sesuai dengan peran dan tanggung jawab kita masing-masing.
Inilah interpretasi Gupta mengenai yoga yang disangkutpautkan dengan aktivisme.
Terlepas dari penjelasan panjang lebar Gupta di atas, rasanya sangat mustahil untuk mencegah para praktisi yoga modern untuk memisahkan yoga dari semua bentuk aktivisme.
Ditambah dengan tidak adanya pihak yang menjadi otoritas dalam dunia yoga modern, interpretasi Gupta tadi hanya sebatas imbauan belaka pada akhirnya.
Karena ini semua kembali lagi ke pribadi masing-masing praktisi yoga.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah sepakat dengan gagasan Gupta untuk memisahkan yoga dari segala bentuk aktivisme atau tak keberatan dengan semua aktivisme dalam yoga yang Anda ikuti? (*/)
Di mata orang awam, yoga dan pilates kerap dianggap ‘beti’ alias beda tipis. Ada yang berkata pilates meminjam sejumlah pose yoga. Meski faktanya memang ada beberapa gerakan yang mirip, secara teknik terdapat perbedaan yang mendasar.
Perbedaan cara bernapas ialah yang paling mudah ditemukan. Teknik napas yoga menggunakan lubang hidung baik untuk ambil dan buang napas. Namun, di pilates untuk membuang napas, kita disarankan memakai mulut.
Riwayat Yoga
Dalam aspek sejarah, ‘akar’ yoga kuno memang jauh lebih tua daripada pilates. Yoga sudah disebut di teks Rig Veda yang sudah ada sejak 3500 tahun lalu. Juga sudah ada deskripsi teknik fisik mirip asana yoga yang dilakukan Buddha kurang lebih 2500 tahun lalu (The Truth of Yoga: Daniel Simpson, 2021).
Sementara itu, yoga modern (yang fokus ke asana/ pose fisik) juga sedikit lebih tua dari pilates. Menurut Mark Singleton dalam bukunya Yoga Body: The Origins of Modern Posture Practice (2010), yoga modern yang didominasi praktik asana mulai muncul tahun 1920-an, saat gerakan budaya fisik melanda Barat kemudian menular ke Timur. Sejumlah pose yoga dikatakan meminjam senam/ gymnastics Skandinavia.
Fokus yoga modern ialah menyehatkan dan menguatkan raga sehingga mau tak mau lebih mengesampingkan aspek spiritualnya. Masyarakat India membuat yoga menjadi lebih ‘fisik’ seiring dengan kebutuhan mereka untuk memerdekakan diri dari Inggris. Perjuangan kemerdekaan tak bisa dilakukan jika fisik orang India lemah. Di sini yoga dikemas sebagai bentuk olahraga untuk menempa jiwa dan raga mereka.
Riwayat Pilates
Pilates diciptakan oleh Joseph Pilates dari Jerman, sebuah negara yang juga menjadi pusat tren budaya fisik di abad 19 dan awal abad 20. Tren latihan menempa fisik untuk kesehatan muncul di Jerman, Inggris dan AS sejak abad 19 (Body Culture: Bryan Turner et al, 2009).
Joseph sendiri juga memiliki riwayat kesehatan yang memprihatinkan saat anak-anak, mirip dengan masa kecil guru yoga BKS Iyengar yang juga sakit-sakitan lalu diberi latihan fisik dan menemukan manfaat terapeutik olahraga dalam hidup mereka dan ingin menyebarkan manfaat itu ke orang lain sebanyak mungkin.
Joseph muda aktif latihan gymnastics, binaraga, olahraga klasik khas Romawi dan Yunani, tinju, akrobat, ski, diving, hingga disiplin dari Timur seperti yoga, taichi, seni beladiri dan meditasi Zen (pilatescentral.co.uk). lalu menjadi tahanan perang Inggris saat Perang Dunia I berkecamuk tahun 1912 (britannica.com). Dalam penjara, ia menggodok sistem olahraganya sendiri yang kelak menjadi Pilates yang kita kenal sekarang.
Jadi bisa dikatakan, yoga modern dan pilates muncul dalam pengaruh tren budaya fisik yang sama. Ada percampuran gymnastics Eropa dengan latihan angkat beban (bodybuilding) yang kemudian bersenyawa dengan unsur-unsur lainnya dan membentuk disiplin ‘baru’ yang unik.
Pada tahun 1923 Joseph Pilates pindah ke New York, tempatnya bersama Clara Zuener membuka studio pilates pertama yang segera populer di kalangan peballet profesional seperti George Balanchine dan Martha Graham. Di dekade yang sama, yoga juga sedang menjalani transformasi menjadi yoga yang lebih bersifat fisik.
3 Persamaan Yoga dan Pilates
Terlepas dari sederet perbedaan tersebut, yoga dan pilates juga memiliki sejumlah kemiripan.
Kemiripan-kemiripan tersebut disinggung oleh John Howard Steel, salah satu murid pertama yang diajar oleh Joseph Pilates. Dalam bukunya Caged Lion, Steel menjelaskan panjang lebar mengenai kualitas dan karakteristik yang mirip antara yoga dan pilates.
Menurut Steel, yoga dan pilates sama-sama memiliki daya tarik yang sangat besar sehingga tak heran jutaan orang menekuninya hingga hari ini di seluruh dunia.
“There is something to Pilates, like there is to yoga, that draws huge numbers of people to it,” tulis Steel dalam bab ke-10 di bukunya.
Persamaan kedua ialah bahwa baik yoga dan pilates menempatkan pikiran kita dalam sebuah zona mental istimewa. Di dalam zona ini, seseorang yang merasa susah payah akan mendapatkan rasa gembira.
Steel menuliskan: “Lain dari program olahraga serupa kecuali yoga, pilates menarik saya untuk masuk ke dalam isi pikiran ini.”
Ia meyakini bahwa ini bisa terjadi karena adanya kombinasi fokus mental dan kerja fisik yang dibutuhkan untuk melakukan semua gerakan yang diinstruksikan selama kelas pilates secara akurat.
Persamaan ketiga ialah bahwa baik yoga dan pilates sama-sama membuat pikiran manusia masuk ke dalam sebuah keadaan mental yang disebut “Flow”. Istilah ini dipakai oleh psikolog dan dosen Dr. Mihály Csíkszentmihályi dalam bukunya yang berjudul Flow, the Psychology of Optimal Experience tahun 1990.
Flow ini didefinisikan sebagai sebuah kondisi mental saat ego manusia runtuh, waktu berlalu lebih cepat, tiap gerakan dan pikiran bergerak beriringan tanpa putus. Seseorang dalam kondisi Flow merasakan semua aspek dalam dirinya terlibat dan ia menggunakan keterampilannya yang terbaik di dalamnya. Tapi syaratnya, seluruh perhatian orang tersebut harus fokus dan menikmati 100% pada apa yang dilakukan. Sensasi enjoyment ini dikatakan bisa melampaui kesenangan sesaat (pleasure). Enjoyment tersebut membuat hidup menjadi lebih bermakna dan kaya.
Csíkszentmihályi menyamakan kondisi Flow itu dengan yang terjadi saat seseorang latihan yoga. Dan Steel menyimpulkan bahwa simpulan tersebut juga bisa berlaku untuk pilates yang ia tekuni karena dalam pilates juga diperlukan kegigihan dalam menyatukan gerak, fokus, dan napas, membutuhkan motivasi diri yang tinggi dan kedisiplinan berlatih serta memberikan rasa nikmat yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. (*/)
As an English literature graduate, I was one of those people who frowned whenever someone said: “The future belongs to STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) graduates.”
I was annoyed. As if not only were my 6 years of study considered worthless, but also my passion for language was seen as having lower value.
And that had a significant impact in many ways. Especially on well-being. In crasser language, salary. The salaries of English literature graduates seem to lag behind those of STEM graduates who are more valued in the global job market.
But the tech winter and oversupply of STEM graduates from year to year eventually leveled the playing field again.
Given this bitter state of English literature graduates’ well-being, I felt extremely optimistic and delighted when Connor Grennan said in his TikTok video that appeared on my FYP that English/Literature graduates would become leaders in the era of Artificial Intelligence.
Of course, I didn’t believe it at first. Then I read in detail Connor Grennan’s writing, who turns out to be the Dean at New York University’s Stern School of Business, on this gregoryfca.com page, and understood why he dared to make such a bold claim.
Superior Storytelling Ability
According to Conor, English literature graduates and graduates of other creative fields have an advantage in using generative AI.
The plus point of English literature graduates is that their ability to construct an engaging story and communicate any story or idea in language that is easily absorbed by others becomes more valuable than technical skills like coding.
Generative AI is driven by prompts in natural human language, so the ability to translate business needs into clear prompts is crucial.
This makes writers, strategists, and creative directors potentially more valuable in the job market than software developers in the coming AI era.
Continuously Learn and Experiment
Although awareness and usage of generative AI is high, Conor estimates that truly transformative usage is only around 5% in most organizations/companies.
Most companies currently have tried basic AI applications like content creation, but few have strategically reinvented workflows, operations, or business models.
To reach that level requires a mindset and behavior shift driven by leadership.
In the AI era, a willingness to continuously learn and the ability to adapt are key.
An openness to experimentation, a readiness to accept failure as a learning opportunity, and the ability to think laterally are all crucial for transformative AI utilization.
With new AI industry achievements arriving almost every week, a commitment to continuous learning can help us identify new opportunities.
People who are more adaptive and not rigid about accepting all sorts of results from AI tools are less likely to feel threatened, and may even leverage the smallest of opportunities.
Super Content Creators = AI + Creative Humans
Connor also states that the future will belong to content creators capable of harnessing AI’s potential in creating premium quality content with a human creative touch.
As we know, the emergence of Sora and other text-to-video tools will almost certainly disrupt Hollywood and current production workflows.
Just like Uber uncovering latent transportation demand, Sora has the potential to reveal demand for personalized content that has been constrained by production bottlenecks.
We may witness an explosion of indie media from super creators who can realize their creative visions with the help of AI without being hindered by gatekeepers.
This is where outstanding content creators can stand out and outperform content industry giants like Hollywood.
The ability to write, empathize, build narratives, and engage emotionally allows writers, communicators, and creative designers to use AI to optimize their creative visions even if they lack technical expertise.
Implementing AI in a transformative way requires a mindset and behavior shift facilitated by leadership. And this leadership must not have an outdated mindset, be resistant to continuous learning and adapting to changing times.
The key to winning as a content creator in the AI era is a willingness to continuously learn, high stamina to constantly adapt, an open mind to experimentation, and the courage to face failure as an opportunity, Connor asserts.
If you are an English literature graduate like me, doesn’t Connor’s explanation above boost your confidence?
But of course, don’t forget to be willing to keep learning and be open to new things! (*/)