• Pelabelan kandungan gula di makanan kemasan baru akan diberlakukan. Sebuah langkah yang percuma? (Sumber gambar: Freepik)

    Saat mendengar kabar bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI akan memberlakukan aturan khusus untuk mendorong produsen makanan kemasan untuk mencantumkan label warna khusus kadar kandungan gula dalam produk minuman kemasan, banyak orang merasa gembira.

    Saya merasa skeptis terhadap efektivitas rencana tersebut dalam menanggulangi naiknya tren kasus diabetes di kaum dewasa muda dan anak-anak dan berpendapat bahwa upaya pelabelan semacam itu kurang efektif.

    Sebelumnya mari kita bahas makin gentingnya kondisi kesehatan bangsa ini akibat naiknya jumlah kasus diabetes. Dikutip dari laman fkm.unair.ac.id, diabetes di kelompok usia anak-anak di Indonesia menjadi masalah kesehatan yang semakin serius, yang artinya juga mengancam masa depan bangsa dan bisa membebani masyarakat di masa depan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi dari 0,04% (2007) menjadi 0,2% (2013), yang berarti sekitar 1 dari 500 anak Indonesia menderita diabetes. Diabetes melitus tipe 1, di mana tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang cukup, adalah jenis yang paling umum pada anak-anak.

    Faktor risiko utama meliputi obesitas, keturunan, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik. Kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan diabetes di kalangan anak dan keluarga juga dapat memperburuk kondisi.

    Kenapa saya bisa berpendapat demikian? Berikut adalah 3 alasan saya.

    Literasi Rendah

    Alasan pertama saya adalah tingkat literasi masyarakat Indonesia yang masih relatif rendah. Coba Anda tanya pada pembeli makanan kemasan di toko-toko kelontong atau convenient store yang merambah di daerah-daerah pelosok, pernahkah mereka membaca label kandungan gizi di kemasan makanan yang akan mereka makan atau berikan pada bayi atau anak-anak mereka? Kalaupun mereka sudah baca, apakah mereka paham dan bisa menakar dan mengetahui batasan konsumsinya? Saya sendiri ragu. Jangankan yang buta huruf, yang melek huruf belum tentu bisa paham dan peduli dengan informasi gizi makanan/ minuman kemasan. Apalagi ukuran huruf informasi gizi begitu mikroskopis, bak jasad renik sehingga mata orang dewasa umur 40-an ke atas sudah menyerah untuk membacanya tanpa kacamata. Pokoknya enak, kenyang, segar, murah, sudah itu saja. Taruhan, itulah yang ada di benak banyak konsumen Indonesia.

    Pengamalan Rendah

    Alasan kedua ialah tingkat pengamalan pengetahuan kesehatan masyarakat yang masih rendah. Kita semua sudah diajari menu sehat di sekolah sejak kecil dan pasti sudah pernah membaca informasi cara makan sehat di buku, majalah, atau internet kapan saja di mana saja dan gratis pula tapi toh banyak orang memilih untuk makan sesuai selera mereka dan mengabaikan prinsip makan dan minum yang sehat, bukan?

    Anda bisa melihat salah satu buktinya di video TikTok ibu Utti yang viral ini. Di sini ia dengan bangga menunjukkan anaknya yang membawa bekal nasi dan makanan olahan seperti mi instan dan nugget ayam dengan porsi ganda. Tanpa sayur dan buah. Anaknya terlihat suka dengan makanan instan tadi karena mungkin sudah dibiasakan sejak kecil untuk makan dengan menu seperti itu. Anak itu tampak gemuk, berisi. Tapi apakah jika diperiksa ia benar-benar sehat? Saya sungguh sangsi.

    @ibuk.utti Replying to @kodokatlantis75 katanya pake mi dabel bun,,,jadi deh bekal dan sarapan si adek #rekomendasisarapan DJ MASHA AND THE BEAR – DJ JEDAG JEDUG

    Di sini kita bisa melihat gagalnya pendidikan di sekolah kita untuk mengubah pola makan dan cara makan masyarakat agar lebih sehat. Mungkin kita hapal menu 4 sehat 5 sempurna, manfaat vitamin A sampai K dan jenis makanan yang mengandung vitamin itu semua, tapi faktanya di meja makan kita tersajinya makanan instan dan kalengan. Tidak ada makanan segar sedikitpun di kulkas.

    Ketidakmampuan Berpikir Jernih

    Alasan ketiga ialah orang Indonesia yang sudah paham pun masih akan tergoda untuk memilih makanan yang bergula tinggi jika produk itu tersedia. Dengan kata lain, keras kepala. Karena sekali mencandu makanan manis, seseorang akan terus menerus mengkonsumsinya. Jadi bisa saja label kandungan gula itu sudah ada dan orang sudah membaca tapi toh masih saja keras kepala memilih makanan tadi karena otak sudah tak bisa berpikir jernih dan tak bisa memikirkan efek jangka panjang. Ini fakta di lapangan, bukan omong kosong saya saja. Bahkan mereka yang sudah sakit diabetes, begitu divonis, masih curi-curi makan yang harus dijauhi dengan alasan tak bisa lagi menikmati hidup jika berpantang ‘semua’ makanan favoritnya tadi. Jadi saya pikir, sekali lidah seseorang sudah terbiasa dengan jenis makanan tertentu di masa kecilnya, maka akan susah sekali untuk mengubah preferensi makanan itu saat ia sudah terlanjur dewasa apalagi jika sudah lansia. 

    Lalu apa jalan keluarnya? Menurut saya, akan lebih efektif jika pemerintah mewajibkan semua produsen mengurangi kandungan gula di produk kemasan mereka yang dijual bebas. Ini adalah cara yang tercepat dan paling efektif jika mau mencegah bangsa ini loyo akibat diabetes di masa datang. 

    Bagaimana dengan upaya edukasi dan pencegahan? Tentu saja edukasi harus masih dilakukan tetapi kita harus realistis bahwa cara itu bakal memakan waktu lama untuk melihat hasilnya. Untuk mengubah perilaku masyarakat yang sudah ‘memfosil’ atau sulit untuk diubah begini, kampanye edukatif dan preventif terasa lamban dan malah membuat kita nanti akan makin terbelit wabah diabetes. Karena harus dipahami juga bahwa pencegahan diabetes tak cuma soal menjauhi makanan manis. Tak sesederhana itu. Sebab ada begitu banyak faktor lain. Jangan sampai kita melupakan olahraga, pengubahan pola dan bahan makanan serta minuman sehari-hari, dan sebagainya. (*/)

  • Buku “Clean” tulisan James Hamblin, seorang dokter yang mengingatkan pentingnya peran mikrobioma kulit untuk kesehatan. (Sumber gambar: goodreads)

    Siapa di antara Anda yang berpikir: “Mandi ya harus pakai sabun!”. Setelah membaca artikel ini, pemikiran Anda bisa jadi akan berubah 180 derajat. 

    Adalah James Hamblin, seorang pria yang mengklaim dirinya selama 5 tahun terakhir mandi tanpa sabun. Pernyataannya sangat kontroversial mengingat profesinya adalah seorang paramedis, mantan jurnalis The Atlantic, serta dosen kesehatan masyarakat. Tentu ia memiliki alasan kuat dan logis mengapa ia menghindari sabun dan segala produk yang mengandung sabun.

    Setiap ia mengaku tak pernah mandi pakai sabun, orang-orang penasaran apakah ia punya bau badan. Ternyata tidak. Ia tidak memiliki bau badan yang menyengat tetapi juga tidak wangi semerbak bak habis mandi dengan senyawa parfum (yang sebenarnya juga terkandung dalam sabun-sabun yang dijual bebas). Dan meski ia menyarankan mandi tanpa sabun, ia tetap mencuci tangan dengan sabun sebelum makan atau menjalankan prosedur medis.

    Menjaga Mikrobioma Alami Kulit

    Dalam buku berjudul Clean yang ia tulis, Hamblin menjelaskan betapa kita selama ini sudah dibodohi industri skincare dan personal care karena sejatinya mandi yang bersih itu sebenarnya tak perlu pakai sabun. Cukup dengan membasuh badan dengan air bersih dan menggosok kulit. Sesimpel itu mandi sebetulnya. Nenek moyang kita melakukannya sudah lama.

    Dan Hamblin kemudian menemukan dalam penelitiannya bahwa penggunaan sabun saat mandi apalagi secara berlebihan (saya pernah mendengar ada orang yang bangga mandi 3-4 kali sehari demi kebersihan dan tercium wangi) bisa memberangus keberadaan mikrobioma kulit yang berharga untuk kesehatan badan.

    Seperti kita ketahui, masyarakat modern dibombardir dengan pesan bahwa bakteri dan virus adalah musuh besar manusia. Tapi nyatanya, tak semua bakteri dan virus itu jahat alias merugikan kesehatan. Kita harus membuka mata dan menerima fakta bahwa ada juga jenis bakteri dan virus dalam tubuh dan permukaan kulit yang justru kalau mereka kita basmi, kita juga yang bakal merugi. 

    Hamblin meneliti bahwa pemikiran bahwa semua bakteri dan virus harus kita basmi itu berasal dari pesan marketing produsen-produsen sabun dan perawatan kulit yang mengklaim demikian dengan tujuan bisa menjual produk mereka sebanyak mungkin. Untuk membuktikannya, Hamblin meneliti iklan-iklan sabun yang disebarluaskan sejak abad ke-20 saat perusahaan besar seperti Procter and Gamble dan Unilever secara masif mengkampanyekan hidup sehat tanpa bakteri dengan penggunaan sabun setiap hari.

    Sabun bisa membunuh mikrobioma yang bermanfaat. Salah satu contoh jenis mikrobioma atau bakteri baik itu adalah Staphylococcus epidermis, yang menurut sebuah studi oleh tim University of California, San Diego, yang dipimpin dermatolog Richard Gallo, secara alami sudah berkembang biak di kulit manusia. Tanpa bakteri ini, kita bakal lebih rentan kena kanker kulit sebab bakteri tersebut mengeluarkan senyawa yang disebut 6-N-hydroxyaminopurine yang membidik sel tumor dan mencegah DNA kita melakukan replikasi, demikian tulis Hamblin di bab pertama bukunya.

    James Hamblin menguak pentingnya mikrobioma alami kulit yang bermanfaat dan bagaimana pembatasan penggunaan sabun bisa mempertahankan mikrobioma tadi./BBC

    Mengenal Mikrobioma Kulit

    Nah, di permukaan kulit kita ini (sebagaimana di dalam usus dan beberapa bagian badan lain) juga ada sebuah ekosistem yang halus dan rapuh, yang terdiri dari bakteri, jamur, kutu dan bahkan virus yang membantu kita bisa tetap sehat.

    Makhluk-makhluk jasad renik ini menumpang hidup di atas dan dalam kulit kita tanpa merugikan kesehatan kita. Mereka makan dan bertahan hidup dari keringat yang keluar dari pori-pori kita. Mereka juga melahap minyak alami yang dikeluarkan badan sepanjang hari. Dan mekanisme ini sudah berlangsung sejak zaman dulu kala. Sangat alami, cuma kita saja yang tak pernah ketahui.

    Hebatnya, meski ada sebagian mikroba ini yang cuma menumpang tanpa memberikan efek buruk bagi kesehatan, ada juga sebagian kelompok mikroba tadi yang justru berperan penting untuk mencegah datangnya masalah kesehatan. Ini bisa dipahami sebab kulitlah organ pertama yang menjadi perisai tubuh terhadap serangan bibit penyakit.

    Dan penggunaan sabun yang terlalu banyak di sekujur tubuh saat mandi bisa memberangus populasi mikroba baik di kulit ini hingga kemudian muncul beragam masalah kesehatan. Masalah kulit seperti jerawat, eksim, psoriasis menurut Hamblin adalah sejumlah masalah yang bisa jadi terjadi akibat musnahnya mikrobioma kulit ini. Saya mengamini karena saya juga menemui beberapa orang yang mengaku sering coba-coba eksperimen skincare ini itu, sabun ini itu, lalu jerawatnya malah makin parah. Begitu berhenti pakai produk apapun, malah lebih bagus kondisi kulitnya. 

    Hasil Eksperimen Saya

    Saya sendiri pernah mencoba untuk mandi tanpa sabun dan shampo (sebagai gantinya saya pakai air lemon/ jeruk nipis untuk hilangnya minyak di rambut yang lepek) selama beberapa waktu dan memang tidak ada orang yang mengeluh saya makin bau. Semua orang masih mendekat saat bertemu, memeluk, dan berinteraksi seperti biasa. 

    Memang harus diakui bahwa ada kalanya saya harus menggunakan sabun sebab badan berkeringat dan mengeluarkan minyak dan ditempeli debu jalanan secara kolosal. Mandi dengan air bersih saja dan menggosok terasa kurang. Maka saya putuskan untuk menggunakan sedikit sabun saja di area-area yang rawan bau badan yakni ketiak, leher belakang, dada, selakangan dan bokong. Saya gosok-gosok berulang kali dan bilas. Jadi tidak melumuri sabun ke sekujur badan. 

    Saya baru mandi dengan sabun di sekujur badan jika dan hanya jika merasa sangat kotor misal sehabis melakukan perjalanan antarkota yang panjang dan lama yang membuka risiko adanya bakteri atau virus parasit atau patogen yang membahayakan. Tapi ini adalah sebuah ritual yang saya anggap istimewa, bukan sehari-hari. 

    Selain menjaga mikrobioma alami kulit, mandi tanpa atau dengan menggunakan sedikit sabun saja juga ternyata membantu saya menghemat anggaran pembelian sabun dan produk perawatan diri. Kenapa? Karena begitu saya mengurangi penggunaan sabun, saya juga bisa mengurangi anggaran pembelian lotion atau produk pelembap kulit. Sebab kulit akan terasa sangat kering (ditambah jenis kulit saya yang begitu kering) selesai mandi. 

    Saya dulu sering merasa kering dan kesatnya kulit itu sebagai tanda kulit yang bersih tetapi seiring dengan berjalannya waktu, saya paham bahwa itu pemikiran yang sesat. Justru kelembapan kulit saya yang berkurang drastis dan tak seharusnya itu terjadi. Kulit saya malah makin keriput lebih cepat kalau minyak sebum dan kelembapan alami kulit terangkat begitu banyak oleh penggunaan sabun yang terlalu liberal di kulit.

    Jadi, bagaimana? Apakah Anda juga berminat mengurangi penggunaan sabun? (*/)

  • Penyakit diabetes mellitus dianggap menjadi wabah yang meresahkan masyarakat Indonesia saat ini. Makanan dan minuman manis pun disalahkan karena dianggap memicu penyakit ini pada anak-anak dan anak muda. Sampai pemerintah mewacanakan rencana pelabelan kandungan  gula pada  makanan kemasan yang dijual bebas.

    Tapi banyak orang lupa bahwa pemicu diabetes melitus bukan cuma pola makan dan pola hidup yang kurang sehat, yang disebut diabetes melitus tipe 2. Karena ada juga orang yang terkena diabetes melitus tipe 1. Diabetes tipe 1 ini termasuk dari sekian banyak penyakit yang berkaitan dengan sistem endokrin manusia. 

    Sistem endokrin sendiri adalah sistem yang tersusun dari sejumlah jaringan kelenjar yang menghasilkan dan melepaskan hormon pengontrol sejumlah fungsi tubuh. Sistem endokrin terdiri atas kelenjar adrenal, hipotalamus, ovarium, pankreas, paratiroid, kelenjar pineal, kelenjar hipofisis, testis, timus, dan tiroid. Sistem endokrin memungkinkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang, mengatur metabolisme, mengatur fungsi seksual, sampai suasana hati.

    Picu Banyak Penyakit

    Berdasarkan sebuah laporan berjudul “Endocrine Disrupting Chemicals: Threats to Human Health“, diketahui bahwa ancaman terhadap kesehatan sistem endokrin manusia  makin meluas dengan penggunaan beragam bahan kimia yang diketahui memicu gangguan sistem endokrin jika manusia terpapar pada zat-zat tersebut. Inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya jumlah kasus penyakit-penyakit yang berkaitan dengan sistem endokrin seperti diabetes mellitus tipe 1, yang sedang terjadi saat ini di banyak negara di dunia.

    Menurut data yang dihimpun Endocrine Society dan International Pollutants Elimination Network (IPEN), dinyatakan bahwa paparan bahan kimia pengganggu endokrin bisa berasal dari empat sumber yakni penggunaan bahan plastik, pestisida, produk konsumen (termasuk produk anak-anak), dan zat per- dan polifluoroalkil (PFAS).

    Peneliti dan ilmuwan Andrea C. Gore, PhD, dari University of Texas di Austin yang fokus meriset soal isu ini juga menjelaskan bahwa bahan kimia pengganggu endokrin yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari kita membuat kita lebih rentan terhadap gangguan reproduksi, kanker, diabetes, obesitas, penyakit jantung, dan kondisi kesehatan serius lainnya. Gore juga merupakan anggota Dewan Direksi Endocrine Society. 

    Ia menambahkan bahwa paparan bahan-bahan kimia ini bisa menimbulkan risiko yang sangat serius bagi para ibu hamil dan anak-anak. 

    Kesadaran terhadap bahaya paparan zat-zat kimia pengganggu kinerja endokrin ini sayangnya masih sangat rendah di tengah masyarakat Indonesia.

    Kesadaran yang rendah itu masih ditambah dengan pesatnya laju produksi global plastik dan pestisida meskipun para ilmuwan sudah memperingatkan bahwa polusi kimia dan plastik akan memicu krisis kesehatan yang makin meluas dan meningkat di muka bumi. 

    Jenis-jenis Bahan Kimia Pengganggu Endokrin

    Tercatat ada sejumlah bahan kimia yang memiliki kaitan erat dengan gangguan endokrin. Berikut adalah beberapa di antaranya.

    Yang pertama ialah glyphosate, zat herbisida yang paling banyak digunakan di dunia. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa glyphosate memiliki delapan dari sepuluh karakteristik utama bahan kimia pengganggu sistem endokrin. Studi lain menemukan adanya hubungan antara glyphosate dan gangguan terhadap sistem reproduksi. 

    Kedua ialah bisphenol A (BPA) yang relatif populer akibat pemberitaan media. BPA ini dapat ditemukan pada berbagai kemasan makanan dan minuman masa kini yang terbuat dari bahan plastik polikarbonat dan resin epoksi.

    Ketiga yakni zat phthalates, yang berfungsi membuat plastik lebih fleksibel dan tahan lama. Anda bisa terpapar zat satu ini dari penggunaan produk mainan anak, kemasan makanan sehari-hari, kemasan skincare dan shampo serta cat kuku.

    Keempat yakni dioksin, yang terbentuk dari proses pembakaran sampah dan produksi pestisida. Semua ini bisa didapatkan akibat pembakaran sembarangan maupun pembakaran proses industri.

    Kelima ialah paraben, yang terkandung dalam beragam produk kosmetik dan perawatan kulit seperti lotion dan deodoran.

    Keenam yakni polychlorinated biphenyls (PCBs) yang luas dipakai di bidang industri dan perdagangan. Sudah ada negara-negara yang melarang penggunaan bahan kimia ini tetapi tampaknya Indonesia belum. 

    Ketujuh ialah polybrominated diphenyl ethers (PBDEs). Zat kimia satu ini digunakan sebagai bahan pencegah api dalam produk elektronik, pakaian, dan furnitur. (*/)

  • Pada tanggal 17 Juli 2024 lalu, dirilis sebuah pengumuman mengenai ditutupnya penerbit majalah berita mingguan Gatra yang dianggap sebagai salah satu media cetak terkemuka di Indonesia. Mereka secara terbuka telah mengumumkan penutupan operasionalnya per akhir Juli ini.

    Tutupnya Gatra makin menambah panjang deretan bisnis media cetak yang rontok dengan merebaknya media online. Tercatat sudah ada 20-an lebih media bisnis cetak yang kolaps. Sebut saja Tabloid BOLA dan Bola Vaganza, Tabloid Cek & Ricek, Rolling Stone Indonesia, Majalah HAI, Majalah Kawanku, Majalah GoGirl, Cosmo Girl Indonesia, Esquire Indonesia, For Him Magazine Indonesia (FHM), Maxim Indonesia, NYLON Indonesia, Majalah Commando, High End Teen Magazine, Grazia Indonesia, Sinar Harapan, Tabloid Soccer, Harian Bola, Jakarta Globe, Indonesia Finance Today, Majalah Chip, Majalah Tech Life, Reader’s Digest Indonesia, National Geographic Traveler Indonesia, Majalah Motor, Koran Tempo Minggu, Majalah Trax, Jurnal Nasional, Majalah Penthouse, hingga Slam Indonesia.

    Senjakala media cetak ini sebenarnya terjadi sudah cukup lama. Mungkin sepuluh tahunan terakhir atau malah lebih.

    Dari maraknya situs berita online semacam detik.com yang berdiri 9 Juli 1998, kemudian ditambah munculnya media sosial semacam Facebook, Twitter, dan kawan-kawannya yang marak mulai akhir dekade 2010-an, media cetak semakin tersingkir saja dari hari ke hari. Siapa yang mau beli koran dan majalah dengan harga yang tak murah sementara membaca berita di ponsel saja gratis dan lebih aktual? Begitu pikir kebanyakan orang sekarang.

    Menurut konsultan komunikasi krisis Jojo S. Nugroho, penutupan bisnis media cetak yang makin banyak ditemui di Indonesia ini mencerminkan sejumlah tantangan akbar yang tengah menghadang para pelaku industri media.

    Beberapa faktor tantangan tersebut misalnya perubahan pola konsumsi media dalam masyarakat, penurunan pendapatan iklan, dan tingginya biaya operasional. 

    Soal pola konsumsi masyarakat, kemunculan situs berita online membuat mereka berpikir bahwa berita seharusnya gratis dan cepat. Padahal aktivitas memproduksi berita tak murah. Sama sekali tidak! Bahkan mahal dan lama jika kita mau menetapkan standar jurnalistik yang ketat. Tapi apa boleh buat, dari sana kemudian pelaku industri media mencoba menuruti kemauan masyarakat dengan menghadirkan berita secepat mungkin dengan mengorbankan akurasi dan kualitas. Akibatnya, hoaks, misinformasi, dan disinformasi marak bermunculan. 

    Soal pendapatan iklan yang menurun dalam bisnis media cetak, hal itu memang tak bisa dihindari lagi. Pembaca tak mau menghabiskan uang untuk membaca konten yang sudah basi. Padahal ongkos memproduksi media cetak makin mahal. News cycle makin cepat. Sebuah berita bahkan bisa basi dalam hitungan 24 jam. Dan wartawan harus bekerja 24 jam sehari dan 7 jam seminggu. Semua untuk menuruti kemauan masyarakat agar bisa menikmati konten berita yang cepat, akurat, dan murah bahkan gratis. Dari penurunan pembaca (readership) dan oplah, otomatis berdampak juga pada pemasang iklan. Siapa yang mau pasang iklan mahal di koran atau majalah yang jangkauan pembacanya makin sempit? Rugi dong, kalau pakai celetukan khas Prabowo semasa kampanye dulu.

    Lalu faktor biaya operasional yang tinggi juga jadi persoalan. Para manusia jurnalis butuh gaji yang harus bisa mengimbangi laju kebutuhan mereka yang makin naik dari tahun ke tahun. Belum harus berkompetisi dengan laju inflasi. Lalu mesin-mesin cetak juga perlu dirawat, diganti jika rusak, dan semua onderdilnya kemungkinan besar impor dan makin mahal dengan melorotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Dan para jurnalis butuh tunjangan kesehatan dan dana pensiun yang layak juga. Ongkosnya tinggi, bos! Pakai AI bisa gratis tak perlu memikirkan tetek bengek begini.

    Namun, ironisnya saat mereka beralih ke media online, para pelaku bisnis media ini juga menghadapi tantangan baru yang tak kalah masif. Semuanya bermuara pada: bagaimana memonetisasi website dan semua konten digital yang mereka miliki agar bisnis tetap bisa jalan dan ada laba yang bisa dihasilkan.

    Dan itu tak mudah. Sama sekali tidak. Karena dunia maya ini punya aturan-aturan sendiri yang jauh berbeda dari dunia cetak. Jurnalis-jurnalis kawakan gagap begitu dihadapkan pada teknik SEO copywriting. Dari aspek pengalaman jurnalistik, mereka mungkin kampiun tapi begitu terjun ke lapangan, mereka lamban dan kurang efisien.

    Dunia media dan jurnalistik yang dulunya begitu stabil kini begitu labil dan bisa berubah seiring dengan algoritma mesin pencari, perubahan selera pembaca, dan kepentingan pemilik modal. Sterilnya ruang redaksi dari intervensi pemilik bisnis dan pemilik saham makin langka saja.

    Jadi tugas jurnalis tak cuma menjadi pewarta yang objektif dan berimbang tetapi juga bagaimana menarik pembaca dengan konten yang berkualitas. Beruntung jika tugas jurnalis ini dibedakan dari pebisnis tapi di banyak kasus tugas jurnalis juga disamakan dengan pebisnis. Harus bisa mencari klien yang mau pasang iklan atau mau kerjasama membuat artikel advertorial atau menjadi sponsor. 

    Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen berita juga kini makin tak mampu lagi menyokong keberlangsungan industri media dan jurnalistik sebab mereka terlilit kebutuhan yang makin mencekik di tengah resesi ekonomi global. Jika mereka bisa mendukung pun, dana yang bisa dikeluarkan hanya dengan ala kadarnya. Harga berlangganan media online juga menjadi sangat amat murah. Hal ini membuat bisnis media online tak bisa cepat mapan dan balik modal padahal semua teknologi ini juga butuh biaya pemeliharaan tinggi. 

    Itulah peliknya kondisi industri sekarang ini. Jadi harap maklum jika kinerja media kita kerap jadi sorotan. Karena orang-orangnya sedang kebingungan mencari arah dan ‘pegangan’. (*/)

  • Hobi juga punya kastanya sendiri. (Sumber gambar: Freepik)Hobi menurut catatan sejarah sudah berkembang sejak adanya manusia di muka bumi ini. Hobi pada hakikatnya ialah hal-hal remeh temeh dan menyenangkan yang dilakukan manusia untuk mengisi waktu di sela kegiatan bertahan hidup mereka yang menyedot energi. Saat melakukan hobi, manusia justru bisa mendapatkan kembali energi mereka. 

    Karena itulah, musykil kalau ada yang berkata manusia bisa hidup tanpa hobi. Takdir atau fitrah manusia itu memiliki hobi meski tipenya berbeda-beda. Bahkan hobi-hobi di dunia ini bisa digolongkan ke dalam 4 kasta berbeda. Kita akan kupas selanjutnya di dalam tulisan ini.Namun, sebelum itu mari kita bahas soal konsep hobi yang terus berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan peradaban manusia.

    Hobi Dari Zaman ke Zaman

    Membayangkan hobi manusia di zaman prasejarah rasanya pasti membosankan tapi nyatanya tidak. Banyak sekali jenis hobi yang ditekuni oleh manusia prasejarah di waktu senggang mereka. Dilansir dari history.com, hobi manusia prasejarah mencakup ekspresi seni yang hasilnya kita masih bisa temukan sekarang seperti lukisan di gua, pahatan dan ukiran kuno yang menggambarkan sosok-sosok mini bak mainan dari bahan batu, tulang belulang dan material alami lainnya yang bernilai artistik. Manusia prasejarah juga sudah mengenal instrumen musik dan tarian, mulai menekuni hasta karya dan keterampilan pembuatan alat-alat rumah tangga, keterampilan bercerita yang berkembang hingga sekarang, permainan dan perlombaan sederhana, kebiasaan mengkoleksi barang/ objek yang dianggap menarik/ unik/ lucu, dan masih banyak lainnya. Intinya, hobi itu sangat lekat dengan eksistensi manusia dari dulu kala.

    Kemudian di abad modern, hobi berkembang menjadi lebih kompleks. Di abad ke-16 istilah “hobby” aslinya merujuk pada seekor kuda poni atau kuda berukuran mini. Hingga abad ke-17 kata tersebut digunakan untuk menggambarkan sebuah kuda mainan dan kemudian barulah ia digunakan untuk menggambarkan aktivitas pengisi waktu luang.

    Lalu di abad ke-18, saat masyarakat Barat perlahan berubah menjadi masyarakat industrial, hobi menjadi aktivitas yang dianggap penting dan bahkan menyimbolkan gengsi sebab cuma kalangan atas saja yang bisa memiliki hobi. Orang menengah bawah menganggap hobi sebagai kemewahan sebab mereka ini tak punya waktu luang yang bisa digunakan secara bebas sesuai kehendak sendiri. Hidup orang menengah dan bawah cuma untuk kerja dan istirahat.  Sementara itu, para orang kaya dan bangsawan punya banyak waktu untuk dimanfaatkan dengan baca buku, menonton opera, berolahraga sejenis berkuda, dan sebagainya tanpa cemas soal bisa makan besok atau tidak.

    Begitu dunia memasuki abad ke-19 dan 20, perkembangan teknologi dan sains mendorong perubahan norma masyarakat dan perlahan hobi tak cuma bisa dinikmati orang kaya tapi juga kalangan menengah ke bawah. Makin banyak jenis hobi yang berkembang misalnya koleksi perangko atau filateli, membuat bangunan dari blok-blok mirip lego, dan sebagainya.

    Di abad ke-21, hobi makin beragam sesuai dengan perkembangan teknologi yang pesat. Orang tak cuma memiliki hobi olahraga, membaca, atau hobi konvensional lain tapi juga hobi jenis baru seperti e-sports, fotografi digital, dan lain-lain.

    4 Kasta Hobi

    Yang menarik dan mungkin belum tentu Anda ketahui, ada 4 kasta besar hobi. Kasta ini dibagi berdasarkan sejumlah kriteria yang menurut saya penting untuk mengukur level sebuah hobi yakni manfaat bagi diri sendiri, manfaat bagi orang lain, dan kemampuan hobi tersebut menghasilkan uang.

    Kasta pertama ialah kasta hobi terendah, yakni jenis hobi yang membahagiakan diri sendiri saja tapi tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, dan tidak menghasilkan uang. Kenapa saya berkata ada hobi yang menyenangkan tapi tidak bermanfaat bagi diri sendiri? Karena pada kenyataannya mayoritas manusia terjebak pada aktivitas tanpa faedah seperti judi, berzina, nongkrong di pinggir jalan hingga tengah malam, melakukan prank pada orang lain malam-malam, onani/ masturbasi, menonton film porno, dan sebagainya. Itu semua menyenangkan untuk dilakukan tetapi justru merugikan diri dan orang lain (keluarga kita), dan justru bikin kita makin miskin.

    Kasta kedua ialah kasta hobi yang lebih tinggi, yakni hobi yang bisa membahagiakan diri dan bermanfaat bagi diri sendiri tapi tidak ada faedahnya bagi orang lain dan tidak menghasilkan uang. Apa contohnya jenis hobi kasta kedua ini? Sebut saja aktivitas journalling atau membuat jurnal pribadi yang bisa memberikan kelegaan dan menjadi sarana yang bagus untuk memelihara kesehatan mental dan fisik. Orang lain tak bisa menuai manfaatnya dan Anda juga tak bisa dapat duit dari itu.

    Kasta ketiga yakni hobi yang membahagiakan diri dan berguna untuk orang lain, tapi tidak menghasilkan uang. Contoh hobi seperti ini adalah hobi memungut sampah di lingkungan sekitar. Kita tilik saja kreator konten Pandawara yang melakukan hobi ini. Saat membersihkan sungai, mereka bukannya dapat duit banyak tapi malah dipalak oknum dengan alasan untuk biaya TPA. Belum lagi ada sentimen negatif dari oknum birokrat yang tersinggung jika daerah mereka dijadikan target pembersihan. Masyarakat sekitarnya juga tak tahu diri, masih buang sampah terus. Sudah capek, menguntungkan orang lain tapi dimusuhi. Aneh tapi nyata memang. Tapi hobi kasta ketiga ini berpotensi bisa naik kasta jika mindset masyarakat mayoritas bisa diubah. Cuma berat dan lama!

    Kasta tertinggi atau yang keempat yaitu hobi yang tak cuma membahagiakan diri, tapi juga berguna untuk orang lain, dan bisa menghasilkan uang! Inilah jenis hobi idaman semua orang yang seharusnya ditekuni. Namun, untuk bisa mendapatkan jenis hobi seperti ini memang kita harus memahami panggilan jiwa/ passion dalam diri yang sebenarnya (bukan cuma ikut tren ini itu) sehingga jika ada halangan dan rintangan kita tak mudah menyerah dan cerdas dan jeli dalam mencermati kebutuhan masyarakat sekitar. Titik persilangan antara passion diri dan kebutuhan masyarakat luas inilah yang bakal menjadi area hobi yang berkasta tertinggi ini. Hanya saja tantangan yang bisa muncul jika punya hobi seperti ini adalah Anda bakal sampai di titik saat Anda merasa bahwa bisa membosankan karena terasa terlalu menuntut dan monoton. Karena begitu Anda berkomitmen untuk mengkomersialkan hobi, Anda bakal terikat dengan sejumlah kontrak ekonomi yang bisa mewajibkan Anda untuk menuruti kehendak pihak lain yang kurang sesuai dengan selera atau nurani Anda. Di sinilah pertarungan idealisme dan kebutuhan material bisa membuat Anda gamang. Jadi, adalah tak sepenuhnya benar jika Anda pikir menekuni sebuah pekerjaan yang juga hobi adalah 100% menyenangkan. Pasti nanti ada momen-momen pahitnya juga. Dan Anda harus siap untuk itu. (*/)

  • Adam Bellow membahas sejarah dan evolusi nepotisme di muka bumi. (Sumber gambar: Amazon.com)

    Nepotisme bisa dikatakan adalah salah satu cara manusia bisa bertahan hidup. Tak heran umur nepotisme sudah setua umur umat manusia juga.

    Nepotisme seperti juga produk sampingan peradaban manusia lainnya (sebut saja pelacuran, judi, dan sebagainya) juga kerap dicap buruk. Tapi anehnya, tetap saja ada banyak manusia yang melakukannya.

    Bila Anda belum tahu, ada sebuah buku menarik yang mengupas sejarah dan evolusi nepotisme dari zaman dulu hingga sekarang yang ditulis oleh Adam Bellow. Judulnya ialah In Praise of Nepotism yang diterbitkan tahun 2003 oleh Knopf Doubleday Publishing Group.

    Sebetulnya fokus pembahasan buku ini lebih pada fenomena nepotisme di Amerika Serikat masa modern sekarang namun ia juga menyinggung persepsi nepotisme secara global juga. Di sini Bellow juga menelaah kompleksitas nepotisme, baik dampak positif dan negatifnya. 

    Dianggap Biang Keladi Merebaknya Korupsi

    Layaknya di Indonesia, nepotisme juga dulu marak di Amerika Serikat. Kalau di tanah air kita, nepotisme identik dengan keberadaan kerajaan yang penguasanya bersifat turun-temurun, di Amerika Serikat juga ada fenomena nepotisme yang lekat di bisnis keluarga. Sebagaimana kita ketahui masyarakat Amerika Serikat terbentuk dari kumpulan imigran yang kemudian melakukan beragam aktivitas ekonomi di tanah Amerika Utara.

    Bellow menulis bahwa lama-lama nepotisme dianggap sebagai keburukan seiring dengan merebaknya paham globalisme ekonomi. Nepotisme dianggap sebagai biang keladi korupsi yang merajalela dan kapitalisme yang berakar pada kroni-kroni di negara-negara berkembang di benua Afrika, Asia, dan Amerika Latin (hal 14).

    Nepotisme dianggap membebani ekonomi, membuat sebuah pemerintahan rawan korupsi, mencap wanita dan anak sebagai sebuah aset saja, membuat diskriminasi pada kelompok minoritas makin menjadi-jadi, terhambatnya meritokrasi, keegoisan amoral yang meningkat, dan semakin mengukuhkan sistem kelas di sebuah masyarakat, terutama AS, demikian tulis Bellow.

    Cap negatif nepotisme juga makin diperkuat oleh pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama dalam bukunya Ethics for the New Millennium yang mengatakan bahwa kecenderungan manusia untuk memilih keluarga, komunitas, dan kelompok etniknya sendiri adalah suatu sifat buruk manusia yang harus diperangi, ungkap Bellow.

    Dua Gaya Nepotisme

    Menariknya Bellow membagi nepotisme menjadi dua jenis: nepotisme gaya lama dan gaya baru. Pembagian ini berdasarkan pada arah kemunculan nepotisme itu. Apakah itu dari atas ke bawah (top to bottom) atau bawah ke atas (bottom up).

    Maksudnya, nepotisme gaya lama biasanya dimulai dari pihak orang tua yang menekan atau memaksa anak-anak mereka untuk melestarikan kepentingan mereka di tengah masyarakat. Anak-anak menjadi objek paksaan ortu yang rakus kekuasaan, kekayaan dan ketenaran. Sering kita mendengar ada raja yang menikahkan anak mereka dengan kerajaan lain di masa lalu demi membina hubungan yang baik agar kedua kerajaan tidak berperang. Di keluarga pebisnis juga sudah biasa dilakukan pernikahan seorang anak pebisnis kaya raya dengan rekannya yang juga sama kayanya. Semua nantinya akan berkontribusi untuk semakin memperbesar kerajaan bisnisnya.

    Sementara itu, nepotisme gaya baru muncul justru dari pihak penerus/ anak-anak. Saat si orang tua yang sudah memiliki reputasi dan kekayaan akan lengser atau memasuki usia pensiun, anak-anaknya justru malah terdorong dengan sendirinya tanpa dipaksa untuk mengamankan kekuasaan, kekayaan dan semua aset orang tuanya dengan menggunakan jalan nepotisme atau menggunakan reputasi orang tuanya tadi sebagai pijakan untuk mempermulus jalan karier mereka atau membuka lebar pintu-pintu peluang lain. Intinya, anak-anak ini memyadari ada orang tua yang bisa mereka manfaatkan sebagai jalan memudahkan kehidupan mereka. Karena kenapa tidak?

    Nepotisme gaya baru ini memang sangat berbeda dari gaya lama tetapi tetap saja sama karena intinya keduanya sama-sama mengeksploitasi nama keluarga, koneksi dan kekayaan. Arahnya bisa berbeda tapi hasilnya sama.

    Versi Baru Lebih Bisa Ditolerir?

    Bellow menulis bahwa menurut pengamatannya masyarakat Amerika Serikat bisa memaklumi nepotisme gaya baru ini dengan syarat si anak atau penerus memang memiliki kualifikasi atau hal-hal yang disyaratkan sebelum memangku jabatan atau posisi tertentu entah itu di organisasi bisnis keluarga atau birokrasi pemerintahan. 

    Namun, masyarakat AS tetap tidak bisa menolerir nepotisme gaya lama, saat si penerus sama sekali tak becus dan tidak punya kemampuan yang memadai untuk memangku tanggung jawab sebagai pemimpin di posisi strategis.

    Uniknya perbedaan dasar hukum penolakan nepotisme di AS dan Indonesia juga cukup lama. Di AS penolakan nepotisme didasari oleh kemenangan gagasan ideal egalitarianisme (kesetaraan tanpa kecuali) yang kemudian tertuang di Konstitusi mereka dan Bill of Rights. Sementara itu, di Indonesia, dasar hukum penolakan nepotisme baru muncul di tahun 1999 dengan munculnya UU RI No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. 

    Mana yang lebih baik: nepotisme gaya lama atau baru? Menurut saya, kita harus telaah kasus per kasus dari kacamata moral dan etika. Tidak bisa kita overgeneralisasi. Jika sebuah praktik nepotisme bisa membawa sebuah masyarakat menjadi lebih maju (lihat saja kasus Singapura, nepotisme yang dilakukan alm. Lee Kuan Yew dan anaknya Lee Hsien Loong), tidak ada pihak yang haknya dicederai atau dicurangi, dan dilakukan sesuai aturan dan norma yang berlaku, mengapa tidak? (*/)

  • Mengajar yoga di kantor berbeda dari studio/ gym. (Foto: Freepik)

    Yoga tidak cuma bisa dilakukan di studio atau gym. Yoga bisa juga dilakukan di kantor. Yoga di Kantor atau yang disebut dengan “Office Yoga” sebenarnya juga bukan barang baru. Sudah cukup lama perusahan-perusahaan dan organisasi memberikan ruang dan waktu untuk instruktur yoga masuk dan mengajar yoga di lingkungan kerja.

    Saya sendiri sudah menjajal mengajar di perkantoran sejak tahun 2015. Dan mengajar di kantor-kantor begitu memang ada kelebihan dan kekurangannya sendiri jika dibandingkan mengajar di rumah untuk kelas privat, atau mengajar di kelas publik di studio yoga.

    Saya tergerak menuliskan pengalaman saya mengajar yoga di perkantoran setelah menyimak kanal siniar Yogaland berjudul Demystifying Office Yoga with Maryam Sharifzadeh yang dipandu oleh Andrea Feretti.

    Sebagai sesama instruktur yoga yang mengajar di perkantoran, saya mendapati ada beberapa aspek yang sama dan juga berbeda dalam pengalaman kami mengajar Office Yoga. Akan saya jelaskan lebih lanjut di tulisan ini.

    Sebagai pengantar, Sharifzadeh sendiri mendirikan bisnis kecil yang ia namai “Office Yoga” di AS yang membidik perusahaan dan organisasi yang ingin mengadakan kelas yoga di kantor mereka. Ia dulunya perenang yang kemudian tertarik dengan yoga setelah ia mencoba yoga saat kuliah. Kini ia tetap berenang dan menekuni yoga.

    Kemunculan kelas yoga di perkantoran menurut Sharifzadeh bisa dikaitkan dengan adanya pemikiran bahwa perusahaan haruslah memikirkan SDM yang ia punya. Jangan terlalu fokus ke laba, perhatikan juga manusia-manusia di dalam perusahaan itu sebab merekalah yang menggerakkan roda bisnis. Jika mereka sehat, maka bisnis pun akan sehat. Intinya demikian.

    Saat Sharifzadeh mendirikan Office Yoga di tahun 2014, cara berpikir berbisnis secara etis seperti ini sudah mulai meluas di berbagai perusahaan AS.

    Nah di Indonesia sendiri fenomena yang sama juga terjadi saat itu. Perusahaan-perusahaan dengan afiliasi mancanegara atau multinational companies mulai menyediakan beragam perks atau fasilitas khusus untuk karyawan di kantor.

    Di tahun 2015, kebetulan saya sempat mengajar beberapa kelas yoga di kantor sebuah bank internasional di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan, kemudian menyusul di perusahaan periklanan di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Lalu di perusahaan lain di sekitar Jl. HR Rasuna Said, perusahaan trading di Mega Kuningan, kantor perusahaan lain di TB Simatupang, dan sebagainya.

    Selama pandemi 2020-2021, kelas online yoga khusus korporat juga masih santer. Saya pernah beberapa kali didaulat sejumlah perusahaan untuk mengisi wellness and mindfulness session mereka yang kala itu dianggap penting agar mencegah Covid-19 dan memelihara kesehatan fisik dan mental para karyawan yang masih harus bekerja di tengah kondisi yang kurang kondusif.

    Menurut Sharifzadeh, Yoga Kantor belum pernah dibahas atau masuk dalam kurikulum yoga teacher training di sekolah-sekolah yoga internasional yang terdaftar di Yoga Alliance.

    Hal yang sama juga saya temukan di Indonesia. Belum ada sekolah yoga yang secara khusus membahas Yoga Kantor ini dalam modul mereka. Dulu saya ikut teacher training tahun 2013-2014 juga belum ada pembahasan soal ini sama sekali.

    Tantangan Pertama: Lingkungan Kantor

    Tantangan perdana yang Sharifzadeh sebutkan ialah lingkungan fisik kantor yang biasanya tidak dirancang untuk melakukan yoga.

    Ia menemukan banyak hal yang bisa mengganggu jalannya kelas yoga misalnya kondisi lantai yang keras atau tak rata, pencahayaan di ruangan kantor yang terlalu terang, atau bisa juga hiruk pikuk kantor yang mengganggu konsentrasi peserta kelas yoga.

    Saya sendiri sepakat dengan pendapat Sharifzadeh ini sebab saya mengalami sulitnya menyiapkan atmosfer kelas yang ideal sebagaimana di studio atau rumah yang relatif lebih tenang dan leluasa.

    Di kantor, saya sering harus berkompromi dengan peserta yoga yang untuk bersiap dan ganti pakaian saja mesti ke lantai lain, menggunakan kartu akses yang berbeda, lalu masuk kelas untuk menyiapkan matras dan memasang sound system/ pengeras suara dan pemutar lagu sebagai backsound.

    Tantangan Kedua: Sekuen Kelas

    Mayoritas para peserta yoga di kantor bukanlah asana junkies yang sudah pandai melakukan beragam asana dari yang sederhana sampai akrobatik.

    Mereka biasanya pemula dalam hal yoga sehingga mengajar di kantor seharusnya juga disesuaikan. Penyederhanaan format dan konten sangatlah diperlukan.

    Sekuen kelas juga tidak semestinya panjang dan kompleks. Malah seharusnya pilih saja sekuen simpel dan pendek tetapi efektif dalam mengatasi masalah nyata pada tubuh pekerja kantoran.

    Dari pengalaman saya sendiri, kebanyakan peserta bukan pembelajar yoga yang serius. Tujuan mereka ikut biasanya karena ada insentif dari kantornya atau karena iseng ingin mencoba atau karena untuk mengatasi keluhan-keluhan badan atau otot yang pegal setelah bekerja seharian di depan laptop.

    Dengan demikian, saya lebih memilih pose-pose yoga yang mudah tetapi efektif melepaskan ketegangan otot dan sendi serta teknik napas yang membantu mereka untuk melepas stres.

    Sekuen kelas juga bukan yang bersifat Yang atau enerjik sebab biasanya waktu latihan adalah setelah jam kerja yang berarti waktu sudah beranjak petang ke malam hari. Saya pun memilih pose-pose yoga dan pranayama yang lembut dan tak menyedot banyak tenaga.

    Tantangan Ketiga: Waktu Terbatas

    Menurut Sharifzadeh, kelas Yoga Kantor di AS biasanya cuma 15-30 menit dalam sekali pertemuan. Bahkan 45 menit saja sudah terbilang lama. Sangat jarang yang durasinya sampai 60 menit sekali sesi.

    Ini cukup berbeda dari Yoga Kantor di Indonesia yang menurut saya masih relatif panjang. Saya sendiri mengajar yoga di kantor minimal 60 menit jadi masih sama dengan durasi waktu mengajar di studio maupun gym. Dan ini masih di luar waktu untuk ganti pakaian, mengambil matras dan air minum, perkenalan, basa-basi karena menunggu jumlah peserta sampai agak lebih banyak, dan sebagainya.

    Tantangan Keempat: Aspek Legal

    Sebelum mengajar yoga di perkantoran menurut Sharifzadeh seorang instruktur yoga bakal diminta menyediakan sejumlah informasi dan bukti pendukung yang sah secara hukum mengenai kartu identitas, asuransi, sertifikasi sebagai pengajar yoga, dan detail lain.

    Dari pengalaman saya sendiri, aspek satu ini tidak seketat itu di Indonesia. Setahu saya, saya hanya berurusan dengan PIC atau individu yang mengatur kelas yoga tersebut. Bisa jadi si PIC ini adalah staf Personalia/ HRD atau bisa juga tidak tapi sudah diberi kuasa oleh pihak HRD untuk menyelenggarakan kelas tersebut. Intinya, cuma word of mouth. Biasanya si PIC sudah pernah atau kenal dengan satu guru yoga yang kemudian diajak mengajar di kantor si PIC atau si guru yoga ini karena tidak bisa mengajar lalu merekomendasikan guru yoga lain yang masih ia kenal baik.

    Tantangan Kelima: Pakaian

    Tak bisa disangkal alasan paling banyak yang sering saya dengar saat seeorang menampik ajakan yoga di kantor adalah saat ia berkata tidak membawa pakaian ganti.

    Saya sendiri saat mengajar tidak mengharuskan peserta masuk dengan pakaian yang sporty atau pakai legging atau celana pendek. Sebenarnya kalau pakaian kerjanya nyaman pun tak begitu masalah. Masih bisa ikut.

    Karena itulah Sharifzadeh mengatakan ia menyarankan agar guru yoga di kantor mengajar dengan menggunakan busana jenis business casual alias santai tapi masih pantas untuk suasana formal dan tidak membuat orang merasa harus membawa pakaian tertentu hanya untuk ikut kelas yoga kantor. Artinya Anda tidak memakai hotpants atau legging ketat atau tanktop yang terlalu identik dengan studio yoga outdoor atau gym. Guru juga memakai pakaian yang masih pantas untuk suasana perkantoran apalagi jika ia lalu lalang.

    Kalau saya, saat di lobi atau lift saya masih memakai pakaian formal tapi begitu saya mulai mengajar saya akan berganti dengan pakaian yang lebih nyaman untuk bergerak yakni kaos oblong dan celana jenis olahraga yang lebih longgar dan stretchy. Saya tak bisa mendemonstrasikan sejumlah pose dengan kemeja atau celana kain yang membatasi ruang gerak badan.

    Dan jika memang banyak peserta memakai busana yang formal sehingga membuat ruang gerak badan terbatas, lakukan penyesuaian dengan memilih pose yoga yang tak mengharuskan peserta bergerak secara ekstrim.

    Tantangan Keenam: Tujuan Kelas

    Guru yoga sebelum masuk ke kelas yoga kantor juga harus paham bagaimana caranya mengaitkan tujuan dan isi kelasnya agar bisa relevan dengan kebutuhan dan kondisi para peserta yoga di kantor tersebut.

    Dari pengalaman saya, kadang ada kelompok yang ingin memisahkan tujuan dan isi kelas yoga dari urusan kerja tapi jika Anda misalnya didault mengajar untuk event korporasi yang kebetulan dihadiri para petinggi perusahaan yang bersangkutan, mau tidak mau Anda harus berpikir agak keras untuk menemukan ‘benang merah’ agar yoga yang akan dilakukan bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh mereka.

    Tantangan Ketujuh: Distraksi

    Tak jarang peserta yoga di kantor masih harus berjibaku dengan berbagai urusan pekerjaan saat beryoga. Mereka membawa gawai masuk ke dalam kelas, bahkan memeriksa WhatsApp di tengah kelas. Pemandangan ini masih saya temui di kelas yoga kantor saya.

    Apakah saya seharusnya memberlakukan larangan membawa gawai masuk ke kelas? Saya rasa saya tak bisa memaksa mereka sebab peserta ini adalah orang dewasa yang seharusnya sudah bisa membuat pilihan sendiri dan tahu konsekuensi pilihan yang mereka buat.

    Tapi soal distraksi ini, Sharifzadeh menekankan bahwa dirinya mengimbau peserta untuk mengumpulkan gawai dan menjauhkannya dari peserta selama kelas berlangsung. Bisa dimaklumi sebab gawai bisa mengganggu konsentrasi dan membuat manfaat kelas menurun pula.

    Tantangan Kedelapan: Tanpa Matras

    Dari pengalaman Sharifzadeh, kelas yoga bisa dilakukan di kantor tanpa harus menggunakan matras. Ia bisa dilakukan dengan cukup menggunakan meja kerja dan kursi yang ada di kantor. jadi sekuen pose yoga yang ia lakukan juga disesuaikan.

    Saya sendiri belum pernah menggunakan meja dan kursi kerja sebagai alat bantu atau props dalam melakukan yoga kantor. Itu karena kebanyakan PIC menghendaki kelas yoga yang diberikan sebisa mungkin memberikan feel seperti kelas yoga ‘seharusnya’, yakni kelas yoga di studio atau gym. Bukan kelas yoga yang masih ada ‘bau’ kantornya.

    Namun, ini bisa dimaklumi sebab durasi kelas yoga Sharifzadeh memang lebih pendek. Pun budaya kerja mereka sangat kaku soal waktu.

    Di Indonesia kelas mulainya molor, bisa dimaklumi karena sudah membudaya. Tapi di AS, molor sedikit saja, peserta akan langsung malas dan keluar kelas. Karena mereka masih harus melakukan pekerjaannya. Lain dengan kelas yoga kantor di Indonesia yang mayoritas dilakukan sehabis jam kerja sehingga lebih santai. Kalaupun ada yang lembur, biasanya malah langsung absen saja. Tak masuk ke kelas yoga.

    Tantangan Kesembilan: Bahasa

    Durasi yang pendek membuat bahasa yang digunakan selama kelas yoga kantor juga semestinya tidak terlalu bertele-tele bak di kelas yoga di studio/ gym. Demikian kata Sharifzadeh.

    Kalau menurut saya, yoga kantor di Indonesia tidak begitu mempermasalahkan bahasa asal masih bisa dipahami dan jika memang ada kata dan istilah asing, harus disertai penjelasan singkat setelahnya. Jangan dibiarkan menggantung tak jelas. Atau sekalian saja guru yoga tak menggunakan istilah sansekerta dan menggunakan istilah bahasa Inggrisnya yang lebih mudah dipahami orang korporat.

    Di Indonesia, pasar kelas yoga kantor ini masih relatif menggiurkan dan potensi ekonominya tidak bisa diremehkan oleh para guru yoga.

    Namun, tentu saja Anda harus bertanya kepada diri sendiri: Siapkah Anda sebelum dan sesudah mengajar bergelut dengan kemacetan kota? Karena kantor-kantor ini biasanya ada di jantung kota besar yang sibuk dan hingar bingar. Sebuah suasana yang saya sebagai guru yoga tak betah untuk berlama-lama di dalamnya. (*/)

  • Kemarin siang saya bertemu dengan seorang teman yang berprofesi sebagai pemandu tur. Ia baru saja kembali dari Georgia, Azerbaijan, dan Armenia. Ia mengeluhkan soal suhu panas di sana. Sampai 40 derajat celcius! Melepuh nggak tuh?

    Kini ia kembali ke Indonesia dan melolong: “Aku kangen makanan Indonesia. Di sana makanannya hambar. Yuk nge-bakso!”

    Sampailah kami di sebuah warung bakso yang baru buka hari itu. Literally, warung itu baru buka dan beroperasi hari itu.

    Si pemilik mengundang saya sebagai reviewer atau endorser supaya bisnis kulinernya bisa dikenal orang. Untuk menghargai undangannya, saya datang sembari mengajak si teman pemandu tur ini juga sebab saya tahu ia lebih memenuhi kriteria foodie dibandingkan saya.

    Ia punya kriteria makanan lezat dan sederet rekomendasi makanan enak tapi saya rasa saya tidak seperti dia. Kriteria makanan saya cuma sehat dan tak terlalu bikin lidah getir.

    Kemudian kami pun duduk dan mengobrol. Kami membicarakan banyak hal. Dari ulah sejumlah tetangga yang aneh bin ajaib atau pengalaman jalan-jalan.

    Di tengah-tengah percakapan kami, ia berhenti untuk melihat layar ponsel. Sebuah pesan WhatsApp menyita perhatiannya sejenak dan mukanya kembali menatap saya: “Ih ni mau ke New Zealand. Liat deh kelas tiketnya!”

    Ia menunjukkan pada saya sederet e-ticket yang menunjukkan destinasi dan kelas bisnis yang mahal.

    Karena ia juga mengantongi paspor orang-orang itu, ia tahu usia mereka semua.

    “Gila, ini rombongan gue anak-anak muda tapi udah kaya raya tajir melintirrr,” tuturnya menjelaskan.

    Saya skeptis. Apa iya yang kaya anak mudanya? Bukan orang tuanya?

    Teman saya bertanya seolah menjadi Koes Hendratmo yang sedang melontarkan sebuah pertanyaan kuis: “Tebak mereka kaya dari apa?”

    Saya bilang dengan gamang: “Tambang…? Aset ortu?”

    Judi online,” kata teman saya berbinar.

    Saya pikir saya salah dengar tapi itu benar. Anak-anak muda umur 20-an yang sudah bisa menimbun aset sebanyak itu mana mungkin kaya dari menjadi pekerjaan sebagai intern atau pegawai perusahaan, budak korporat.

    Masuk akal jika mereka bisa kaya cepat dengan berbisnis di sektor yang ‘panas’ dan bisa dikatakan haram. Tentu mereka bukan bagian dari kelompok relijius yang meyakini keharaman judi dan segala jenisnya itu. Judi itu sah-sah saja bagi mereka.

    Teringat nasihat ini…

    Saya sendiri merasa tak begitu kagum dengan kekayaan yang seabrek sebetulnya. Sebagian karena paham bahwa kekayaan BUKAN kunci kebahagiaan meski memang betul bahwa kekayaan membebaskan kita dari sebagian besar derita fisik. Kita bebas dari kelaparan, keterbatasan material, memiliki lebih banyak pilihan hidup. Tapi selain itu, hidup kita sama bermasalahnya dengan orang yang pas-pasan dan miskin.

    Sebagian alasan lain ialah karena saya juga tahu bahwa dalam perspektif yang lebih luas, menumpuk kekayaan yang begitu ekstrim berarti ada kemungkinan kita menindas dan mengeksploitasi lebih banyak manusia dan alam. Karena agar kita bisa menjulang lebih tinggi, kita harus menginjak lebih banyak orang, bukan? Meski tentu ada pengecualian untuk itu. Tak semua orang kaya eksploitatif dan manipulatif – dan saya respek pada orang kaya yang tak eksploitatif dan manipulatif – tetapi faktanya banyak yang demikian.

    Selain itu, saya juga merasa kurang nyaman dan resah dengan segala ketimpangan di dunia ini. Di satu sisi ada yang hidup begitu berkelimpahan misalnya keluarga Mukesh Ambani dan anak-anak muda ini. Ada juga yang hidup terlunta-lunta dan sangat menyedihkan misalnya orang-orang Palestina yang saat ini menjadi pengungsi. Kebutuhan paling dasar mereka saja (kebutuhan untuk dimanusiakan) tak terpenuhi. Sementara itu, secara tak adil Yahudi Israel membabi-buta melampiaskan luka batin mereka seabad lalu akibat Hitler kepada Palestina.

    Tapi mungkin inilah cara Tuhan untuk membuka mata hati kita. Tuhan ingin kita tahu bahwa Tuhan bisa dengan sangat mudah membuat nasib manusia berbeda-beda dan kita tak bisa protes. Kita cuma bisa menjalaninya. Yang sedang punya nasib buruk, cuma bisa menanggung dengan sabar karena kalau mau menolak juga percuma. jiwa bakal lebih capek lagi. Untuk yang bernasib bagus, ingatlah bahwa ini cuma sementara. Bukan selama-lamanya. (*/)

  • Cek dulu apapun gelar akademik yang diklaim dimiliki seseorang. (Foto: Freepik.com)

    Sekarang ini terkesan lebih mudah orang mendapatkan gelar akademik untuk kemudian digunakan sebagai alat untuk menggenjot karier, keuangan, peruntungan di dunia bisnis, politik, dan sebagainya.

    Di kultur Asia sendiri, pendewaan gelar akademik masih sangat kental. Lain dari masyarakat Amerika Serikat yang menganggap orang putus kuliah dan bisa mendirikan startup sebagai indikator kesuksesan, masyarakat Asia pada umumnya mensyaratkan titel akademik sebagai syarat untuk bisa dianggap sukses. 

    Karena itulah, di Indonesia terjadi skandal guru besar yang berhasil dikuak Tempo baru-baru ini. Diketahui ada sejumlah oknum dosen di Universitas Lambung Mangkurat yang diduga merekayasa syarat permohonan guru besar dengan cara bekerja sama dengan tim penilai dan jurnal predator (jurnal yang memanfaatkan penulis dengan mengenakan tarif penayangan tanpa memberikan layanan tinjauan rekan sejawat atau editorial yang seharusnya). Dan Mendiknas Nadiem Makarim tak bisa berbuat apa-apa.

    Namun, Anda tak perlu rendah diri karena fenomena rendahnya moralitas dan etika ini juga ditemukan di negeri jiran Singapura. Bedanya, kebobrokan moral itu tidak melanda kaum akademisinya tetapi kaum pebisnisnya.

    Di Singapura, baru-baru ini tercatat sudah ada 4 kasus terkuaknya pemalsuan gelar akademik pendiri bisnis dan investor. Setidaknya ini yang terpantau oleh media Tech In Asia. 

    Anne Cheng mengaku tak genggam gelar Ph.D. setelah sekian lama mengklaim demikian. (Foto: Medium.com)

    Yang terkini adalah kasus Anne Cheng yang dikenal sebagai pendiri Start Up Nation sejak awal 2010-an. Setelah sekian lama mengklaim mengantongi gelar Ph.D. dari Stanford University Amerika Serikat dan mati-matian membela diri bahwa dirinya lulusan sah dari universitas bergengsi itu, ia baru-baru ini mengaku pada jurnalis Tech In Asia bahwa titel Ph.D. itu tidak pernah ia miliki dan ia mengatakan dirinya melakukan kesalahan dalam menjelaskan credential pendidikannnya pada publik. Demikian ungkap editor-in-chief laman Tech In Asia dalam akun LinkedIn-nya. Cheng memang pernah mengikuti program di Stanford University tetapi ia lulus bukan dengan credential Ph.D.

    Kontroversi semacam ini mengingatkan saya dengan kasus Wirda Mansur (anak ustadz Yusuf Mansur) yang menghebohkan publik karena mengklaim pernah kuliah di Oxford University. Sampai sekarang tak jelas jenis sertifikasi atau ijazah apa yang ia miliki dari Oxford University sehingga ia bisa mengklaim demikian.

    Karena itulah, kita harus paham betul perbedaan jenis-jenis program pendidikan yang tersedia dalam dunia akademik masa kini agar tidak mudah tertipu oleh pihak-pihak yang mengklaim ia lulusan universitas tertentu dan memanfaatkan klaim itu untuk kepentingan dan keuntungan pribadi.

    Perbedaan Microcredentials, Diploma, dan Short Course

    Microcredentials 

    Jenis pertama program pendidikan yang biasanya ditawarkan universitas ialah microcredentials. Seperti makna kata “micro“, program pembelajaran ini berlangsung relatif lebih singkat dibandingkan durasi kuliah reguler (4 tahun). Peserta bisa mendapatkan keterampilan dan kompetensi tertentu dalam waktu singkat. Jika ia ingin melamar pekerjaan tertentu, microcredentials bisa membantunya untuk menaikkan daya tawar di depan recruiters karena bisa mengukuhkan citra sebagai seorang spesialis.

    Program microcredentials bersifat workshop/ pelatihan dan fokusnya cuma pada topik tertentu, berbeda dari program kuliah reguler yang mata kuliahnya memiliki variasi topik yang banyak. Tak heran lamanya tak sampai hitungan tahun. Contoh microcredentials ini ialah sertifikat digital marketing, data analytics, dan manajemen proyek. 

    Microcredentials ini makin populer dan digemari orang karena menawarkan fleksibilitas dalam mempelajari keterampilan baru yang pasti diserap pasar tenaga kerja. Microcredentials ini juga relevan dengan kebutuhan industri tertentu dan tren industri yang sedang berkembang. Misalnya AI.

    Diploma

    Diploma adalah program pendidikan yang lazimnya berlangsung lebih lama (biasanya 1 hingga 3 tahun) dan bobotnya lebih kompleks dari microcredentials karena kurikulumnya jauh lebih luas dan mendalam. 

    Jika microcredentials bisa diperoleh dengan paruh waktu, kuliah untuk mendapatkan diploma biasanya harus penuh waktu karena beban akademiknya lumayan berat. 

    Diploma banyak dipakai sebagai syarat pekerjaan di dunia kerja dan menjadi langkah awal untuk mendapatkan gelar sarjana (S1) yang berlangsung 4 tahun.

    Short Course

    Lain dari dua jenis di atas, short course adalah program pelatihan singkat dengan fokus pada topik spesifik. Durasinya hanya beberapa minggu hingga bulan.

    Tujuan short course ialah untuk membantu pesertanya dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan tambahan (komplementer) dalam waktu yang relatif singkat.

    Contoh short course yang biasa kita temui ialah kursus bahasa asing, kursus pengembangan keterampilan profesional, dan pelatihan keterampilan menjahit.

    Dengan mengetahui perbedaan fundamental ini, harapannya kita terutama jurnalis bisa melakukan background check yang lebih komprehensif terhadap sumber-sumber yang kita wawancarai agar tidak terjebak dalam klaim-klaim palsu sepihak.

    Cara Cek Gelar Akademik Dalam Negeri

    Untuk memastikan gelar akademik seseorang, kita dapat menempuh langkah-langkah berikut.

    Cara pertama ialah dengan mengunjungi laman Forlap dan klik tombol “Pencarian Data” dan pilih “Profil Mahasiswa”. Jika sudah memasukkan nama perguruan tinggi dan program studi, jangan lupa pastikan PT dan prodi tersebut sudah terdaftar di Dikti. Jika ia mahasiswa dan alumni PT tersebut, namanya ada di sana.

    Cara kedua ialah dengan mengunjungi laman Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) di sini. Masukkan nama lengkap dan NIDN/NIDK dosen atau mahasiswa dan seharusnya muncul nama orang yang bersangkutan di database. Cek juga gelar-gelar akademik yang tertera di database tadi. Pastikan sesuai tidaknya dengan klaim yang diajukan pada Anda/ publik.

    Cara Cek Gelar Akademik Luar Negeri

    Untuk memeriksa gelar akademik di kampus luar negeri, berikut beberapa langkah yang dapat kita lakukan.

    Yang pertama ialah dengan menggunakan Layanan Evaluasi Kredensial seperti World Education Services (WES) dan International Qualifications Assessment Service (IQAS) di Amerika Utara serta Higher Education Degree Datacheck di Inggris memiliki basis data yang luas untuk memeriksa validitas gelar dan tingkat pendidikan yang diwakilinya.

    WES memiliki alat bernama Degree Equivalency Tool yang memperlihatkan seberapa setara gelar Anda dengan standar di Amerika Serikat. Meskipun ini bukan pengganti evaluasi resmi, alat ini memberikan gambaran setara gelar orang yang dimaksud di AS.

    Cara kedua ialah Anda juga bisa menghubungi UK National Academic Recognition Information Centre (NARIC). Anda dapat mengajukan permohonan Statement of Comparability dari NARIC Inggris. Pernyataan ini akan mengonfirmasi tingkat kesetaraan kualifikasi orang yang dimaksud, meskipun tidak membandingkan nilai yang diperoleh.

    Selamat menyelidiki! (*/)

  • Muda, lajang, rajin olahraga siang malam, dan punya anakbul adalah tren terkini. (Foto: Freepik)

    ADAKAH di kantor Anda, anak muda yang masih lajang dan rajin berolahraga apapun itu jenisnya (dari ngegym, marathon, yoga, atau pilates) dan memiliki setidaknya satu hewan peliharaan di rumah atau kosnya, terutama kucing? Atau jangan-jangan itu Anda sendiri?

    Generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z dan Millennials, sedang mengalami pergeseran gaya hidup yang signifikan. Pergeseran ini mencakup penurunan minat untuk menikah di usia muda di area perkotaan, meningkatnya antusiasme terhadap olahraga, dan kecenderungan untuk memelihara hewan peliharaan yang berupa kucing, anjing atau ikan.

    Fenomena ini sudah mulai terlihat sebelum pandemi COVID-19, namun semakin menguat selama masa isolasi dan terus berlanjut hingga saat ini. Mari kita telaah lebih dalam mengapa hal ini terjadi dan bagaimana ketiga aspek ini – melajang, berolahraga, dan memelihara hewan – semakin menjadi pilihan populer di kalangan anak muda.

    Tumbuh Tapi Timpang

    Sejak tahun 2007, Indonesia mengalami peningkatan jumlah pernikahan yang stabil. Namun, tren ini mulai berubah pada tahun 2012, yang menandai awal penurunan angka pernikahan secara berturut-turut. Meskipun ada sedikit kenaikan pada tahun 2017 dan 2018, jumlah pernikahan kembali menurun dari 2019 hingga 2023.

    Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikompilasi oleh Kompas.com menunjukkan fluktuasi ini dengan jelas. Pada periode 2007-2011, terjadi peningkatan konsisten dari 1.944.569 menjadi 2.319.821 pernikahan. Kemudian terjadi penurunan di periode 2012-2016, dari 2.289.648 menjadi 1.837.185. Meskipun ada sedikit kenaikan pada 2017-2018 (dari 1.936.934 ke 2.016.171), tren penurunan kembali terjadi pada 2019-2023, dengan angka terendah 1.577.255 pada tahun 2023 – yang merupakan rekor terendah dalam 17 tahun terakhir.

    Banyak yang beranggapan bahwa keengganan para pemuda untuk menikah disebabkan oleh kondisi ekonomi yang semakin sulit. Mencari pekerjaan dengan gaji yang layak dirasa semakin menantang, dan biaya hidup yang tinggi sering dikutip sebagai faktor utama yang menghambat pernikahan.

    Namun, benarkah kondisi ekonomi Indonesia memang mengalami penurunan? Data menunjukkan sebaliknya. Pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu berada di atas rata-rata global. Data PDB per kapita Indonesia sejak 2010 menunjukkan tren peningkatan, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2015. Menurut ceicdata.com, PDB per kapita Indonesia mencapai 4.783,269 USD pada tahun 2022, lebih tinggi dari 4.350,683 USD pada tahun 2021.

    Jika ekonomi terus tumbuh, mengapa anak-anak muda merasa semakin sulit untuk memenuhi biaya hidup dan menikah? Jawabannya terletak pada kesenjangan ekonomi yang masih tinggi. Data dari World Inequality Report 2022 menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk Indonesia hanya memiliki kurang dari 5% dari total kekayaan rumah tangga nasional, sementara 10% penduduk lainnya menguasai sekitar 60% kekayaan. Kondisi ini telah berlangsung selama dua dekade terakhir, sejak tahun 2001.

    Dengan kata lain, meskipun ekonomi Indonesia tumbuh, pertumbuhan ini belum merata dan hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat. Kesenjangan ekonomi yang tinggi ini juga mendorong keluarga-keluarga baru untuk membatasi jumlah anak. Banyak pasangan muda kini memilih untuk memiliki dua anak saja, bahkan ada yang merasa cukup dengan satu anak. Yang lebih ekstrem, beberapa pasangan memutuskan untuk tidak memiliki anak sama sekali (child-free), sebuah pilihan yang masih kontroversial dalam masyarakat Indonesia yang cenderung konservatif.

    Obsesi Awet Muda

    Tanpa membentuk keluarga baru, banyak anak muda lajang kini memilih untuk mengisi waktu luang mereka dengan berolahraga. Mereka menginvestasikan energi, uang, dan waktu mereka untuk meningkatkan performa fisik. Meskipun ada sebagian Gen Z dan Millennials yang kurang memperhatikan kesehatan mereka dan mengalami berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes dini, stroke, dan GERD, banyak juga yang semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental.

    Terutama di kalangan Gen Z dan Millennials yang memiliki kemampuan finansial yang cukup dan tinggal di daerah perkotaan, tren berolahraga ini semakin populer. Mereka memanfaatkan berbagai fasilitas olahraga seperti pusat kebugaran, studio yoga dan pilates, serta mengonsumsi makanan tinggi protein dan suplemen kebugaran.

    Selain kesadaran akan kesehatan, keinginan untuk tampil awet muda juga menjadi motivasi kuat. Banyak anak muda terinspirasi oleh selebritas lokal dan internasional yang masih terlihat bugar dan awet muda meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Setiap kali selebritas senior tampil, media sosial dipenuhi diskusi tentang rahasia perawatan kulit dan gaya hidup mereka, menunjukkan obsesi anak muda terhadap penampilan prima bahkan hingga usia lanjut.

    Ada juga anak-anak muda yang tertarik pada olahraga ekstrem seperti maraton, diving, Ironman, atau CrossFit. Mereka mengejar kepuasan pencapaian pribadi dan menikmati citra ‘keras’ dan ‘macho’ yang melekat pada olahraga-olahraga ini, meskipun biaya untuk peralatan dan perlengkapannya cukup mahal.

    Kucing, Substitusi Bayi

    Selain berolahraga, tren lain yang semakin populer di kalangan anak muda lajang adalah memelihara hewan, terutama kucing. Fenomena ini bisa dilihat sebagai mekanisme untuk mengatasi masalah kesepian yang sering dihadapi oleh mereka yang hidup sendiri.

    Tidak hanya anak muda lajang, orang tua atau lansia yang anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal terpisah juga mengalami kesepian serupa. Mereka sering kali memilih untuk melimpahkan kasih sayang mereka pada hewan peliharaan sebagai pengganti sementara ketika jauh dari anak-anak mereka.

    ‘Epidemi’ kesepian ini semakin parah selama puncak pandemi COVID-19 pada tahun 2020-2021, yang mendorong lebih banyak orang untuk memelihara hewan sebagai cara mengatasi isolasi dari keluarga dan teman-teman.

    Data dari Kompas.com menunjukkan bahwa kepemilikan kucing sebagai hewan peliharaan di Indonesia memang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Menurut survei yang dilakukan oleh Rakuten Insight pada Januari 2022 terhadap 10.442 responden, kucing menjadi hewan peliharaan paling populer di Indonesia (47%), diikuti oleh ikan (22%), burung (18%), dan anjing (10%).

    Kecenderungan untuk memilih memelihara hewan daripada memiliki anak bisa dipahami mengingat perbedaan biaya yang signifikan. Biaya melahirkan dan membesarkan anak jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya memelihara hewan.

    Sebagai ilustrasi, biaya persalinan normal pada tahun 2024 berkisar antara Rp4 juta hingga Rp20 juta, sementara untuk prosedur caesar bisa mencapai Rp30-70 juta. Biaya pendidikan dari TK hingga perguruan tinggi, bahkan untuk sekolah dengan biaya paling murah, bisa mencapai Rp200 juta. Untuk sekolah dengan kualitas lebih baik seperti sekolah internasional, biayanya bisa mencapai miliaran rupiah.

    Perlu diingat bahwa angka-angka tersebut belum termasuk pengeluaran untuk makanan, pakaian, perlengkapan sekolah, transportasi, hiburan, dan perawatan kesehatan. Dibandingkan dengan biaya memelihara hewan peliharaan, biaya memiliki anak jauh lebih tinggi.

    Fenomena-fenomena ini mencerminkan perubahan prioritas dan gaya hidup di kalangan generasi muda Indonesia. Mereka cenderung menunda atau menghindari pernikahan dan memiliki anak, sambil mencari alternatif untuk mengisi waktu dan memenuhi kebutuhan emosional mereka melalui olahraga dan memelihara hewan.

    Meskipun tren ini semakin umum, penting untuk diingat bahwa pengalaman ini mungkin lebih relevan bagi anak muda perkotaan yang memiliki akses ke fasilitas olahraga dan kemampuan finansial yang cukup. Kesenjangan ekonomi yang masih tinggi di Indonesia membuat pengalaman dan pilihan hidup berbeda-beda di antara kelompok masyarakat yang berbeda.

    Perubahan sosial dan ekonomi ini tentu berdampak signifikan pada dinamika masyarakat Indonesia. Penurunan angka pernikahan dan kelahiran dalam jangka panjang dapat mempengaruhi struktur demografi dan ekonomi negara. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan kebugaran dapat berdampak positif pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

    Fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah harus merespons perubahan ini. Apakah diperlukan kebijakan khusus untuk mendorong pernikahan dan kelahiran? Atau haruskah fokus diarahkan pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan generasi muda? (*/)

Verified by MonsterInsights