• Akhir-akhir ini saya mencoba memulai menekuni Thread, jejaring sosial adik kandung Instagram dan Facebook itu. Dulu saat pertama lahir, Thread dicemooh sebab sangat mirip dengan X atau Twitter. Paling juga bentar lagi ilang, atau ditutup. Begitu cibir warganet.

    Saya sendiri sudah lama punya akun Thread. Saya buka akun itu begitu diumumkan ada. Tujuannya supaya mengamankan username saja. Nggak muluk-muluk. Karena saya paham bahwa itulah yang dilakukan para sesepuh media sosial dulu juga. Saya belajar itu dari orang-orang semacam alm. Nukman Luthfie dan Wicaksono atau Ndoro Kakung. Kalau ada media sosial baru, mereka langsung buru-buru mendaftar agar usernamenya bisa bebas pilih sesuka mereka. Patsinya agar usernamenya sama persis dengan akun-akun media sosial terdahulu sehingga orang tak akan kebingungan mencari mereka di media sosial baru.

    Belum Jenuh

    Nah, saya beberapa minggu lalu cukup terkejut karena saat saya iseng buka Thread, kok ternyata makin ramai. Ada banyak orang mencoba peruntungan baru di media sosial ini. Biasalah, saat mereka jenuh dan tak bisa lagi menengguk untung dari media sosial lain (TikTok, Instagram, X, Youtube) mereka pun merambah ke media sosial lain yang masih segar dan potensial. Thread adalah salah satu yang belum jenuh dengan persaingan meski ya orang-orang dengan tingkat popularitas tinggi di Instagram bisa dengan lebih mudah mendapatkan fanbase juga di Thread itu.

    Saya sendiri menduga bahwa X atau Twitter yang sekarang dikendalikan Elon Musk itu jadi kehilangan esensi dan keasyikannya sebagai media sosial. Fitur-fitur gratisnya terbatas, iklan makin banyak.

    Tapi sebenarnya tak cuma itu. Warga Twitter konon sangat toksik. Setidaknya itu yang saya ketahui dari salah satu dedengkotnya Twitter yang sudah nge-tweet dari 2009, sama seperti saya. Bedanya saya bukan selebtwit atau selebritas seperti Radit. Menurut Raditya, Twitter terlalu ramai dan penuh konflik.

    Ia mengatakan via grid.id, tanggal 18 Juni 2019 “Dulu seseru itu. Cuma, gue gak tahu kapan dan apa yang terjadi, lama-lama banyak orang berantem di situ. Ada bot lah, ada apa lah, dukung ini, dukung itu, bahkan itu terjadi sama orang-orang yang gue follow. Jadi ribut sendiri, dan menurut gue itu toxic banget sih.”

    Karena akun Twitternya nganggur, ternyata ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang membuat akun lain yang mengaku punya Raditya sehingga ia akhirnya konfirmasi ke akunnya dan hingga sekarang ia masih enggan nge-tweet lagi. Mungkin trauma sekali dengan nyinyirnya orang-orang Twitter yang sok cerdas dan intelek.

    Pola Berulang

    Sebagai orang yang sudah makan asam garam dunia media sosial sejak 2009 juga (ya saya juga anak pengguna MXit, MySpace dan Friendster sebelum era Facebook), pola yang sama terus berulang. Ada yang baru, jadi hype, lalu populer dan makin matang, lalu pengelolanya membuat perubahan dan jadi nggak asyik lagi lalu lama-lama bubar atau berubah bentuk.

    Saya sendiri sudah hampir kehabisan energi untuk bermedia sosial. Saya punya akun X, Instagram (tapi Facebook sudah saya hapus), Thread, YouTube, dan beberapa blog seperti WordPress dan Medium. Sudah, saya merasa tak sanggup lagi kalau harus aktif di media sosial atau platform lain. LinkedIn saja saya sudah tak melirik karena kalau saya ke sana cuma untuk melihat-lihat pasti bakal depressed sebab orang-orangnya juga pamer prestasi dan posisi dan kadang juga keluhan susahnya mencari kerja di zaman resesi ekonomi global dan geopolitik jelang perang Dunia 3 ini. Memang LinkedIn agak berbeda dari Instagram, yang orang-orangnya ‘dijual adalah’menjual’ fisik tapi ya intinya sama saja: pamer.

    Meski saya juga harus akui, kalau mau belajar dari media sosial juga bisa banget. Ada banyak juga orang-orang hebat mau berbagi ilmu dan pengalaman di sana saban hari. That’s good and a blessing tapi ya kalau Anda cuma mengikuti orang itu saja. Kalau Anda mengikuti orang lain yang tak seinspiratif itu, pastinya bakal merusak energi Anda juga saat membaca postingan mereka.

    But anyway, Thread menurut saya menawarkan kesegaran. Saat media sosial lain mulai stagnan, algoritmanya sudah mulai susah ditebak dan tak memihak pendatang baru yang mengais perhatian warganet, ya tiada cara lain selain menjajaki lahan baru. Enjoy while this freshness still lasts. (*/)

  • Di era AI, adalah sebuah kenaifan jika kita membaca apapun tanpa sebuah kecurigaan di dalam otak:” Apakah tulisan yang saya baca ini adalah hasil karya AI, atau sepenuhnya dibuat manusia? Atau 50-50, ada bagian yang digarap dengan AI dan ada bagian yang digarap manusia sendiri?”

    Begitulah peliknya menjadi manusia penulis sekaligus pembaca pada hari ini. Kita tak cuma harus berpikir mencerna isi tulisan tetapi juga mesti memutuskan apakah tulisan itu murni buatan manusia atau AI atau hasil kolaborasi AI dan manusia yang begitu apik dan mulus.

    Tetapi sebenarnya ini bukan tugas utama pembaca melainkan para penulis/ kreator untuk menjawab pertanyaan maha penting: “Apakah Anda berani sebagai penulis atau kreator konten menyatakan secara terbuka bahwa Anda memang pakai AI dalam berkarya atau Anda menjamin karya Anda 100% bersih dari intervensi AI?” Nah, itulah masalah moralitas dan etika yang sedang kita hadapi sekarang.

    Saya sendiri sempat berdialog soal moralitas dan etika serta kejujuran manusia di era AI dengan Wicaksono atau yang dikenal sebagai Ndoro Kakung, seorang praktisi dan ahli di bidang komunikasi yang dulu dikenal sebagai narablog dalam kesempatan acara Obrolan Hatipena dengan judul “Menjadi Penulis di Era AI”.

    Saya punya hipotesis begini: “Apakah ada kemungkinan seorang manusia penulis bisa menulis begitu ringkas, padat, apik dan sempurnanya hingga hasil karyanya dideteksi oleh software sebagai karya AI?”

    Wicaksono mengatakan hal itu bisa saja terjadi sebab sekali lagi teknologi apapun pada dasarnya pasti ada celah kesalahan.

    Checker-nya juga bisa tertipu. Namanya juga teknologi yang punya keterbatasan,” ujarnya.

    Ia pun menekankan pentingnya kejujuran para penulis dan kreator saat menayangkan karyanya ke publik.

    “Berani nggak penulis deklarasi ke pembaca? Misalnya ‘Ini lho karya asli saya tanpa AI’, atau kalau memang pakai bantuan AI, katakan, “Ini saya buat dengan AI’. Ini tidak mudah karena sudah masuk ranah moral, ” terang pria yang hadir sebagai pembicara utama di acara talkshow tersebut.

    Apalagi ia mengatakan saat ini masyarakat Indonesia terutama para pelaku bidang akademiknya sedang bergelut dengan masalah moralitas. Buktinya beberapa waktu lalu santer beredar berita jual beli gelar profesor. Tentunya ini sangat memprihatinkan sebab universitas sebagai soko gurunya kaum intelektual dan cendekiawan negara ini sudah tersangkut masalah-masalah moral dan etika.

    Kolom Tempo oleh Ubedillah Badrun membedah ‘borok’ kaum akademisi kampus kita, yang sebagian terseret kasus-kasus korupsi dan jual beli gelar doktor honoris causa/ doktor kehormatan yang terkesan begitu mudah diberikan pada tokoh-tokoh yang kurang layak menerimanya karena rekam jejak mereka yang minus di mata masyarakat. Misalnya kasus penganugerahan gelar doktor honoris causa dari Unnes pada Nurdin Halid yang mantan terpidana kasus korupsi sehingga ia sudah cacat secara moral untuk menerima gelar tersebut.

    Kata Wicaksono, cara lain agar kita bisa tahu apakah tulisan seseorang itu asli buatannya atau pakai bantuan AI adalah dengan dengan membaca banyak karya tulisannya dan jika kemudian ada hasil tulisannya yang memiliki perbedaan gaya yang tiba-tiba dan drastis, bisa dipastikan karyanya itu adalah hasil intervensi AI.

    Namun, mungkin ini berlaku untuk sosok-sosok penulis yang sudah memiliki pakem dalam menulis. Gaya mereka sudah punya DNA tertentu. Tetapi akan lebih susah untuk mendeteksi tulisan-tulisan penulis pemula yang masih mencari gaya menulis dan jatidirinya. (*/)

  • Hanya manusia picik yang selalu menyalahkan AI (atau teknologi lain) untuk problem moralitas dan etika yang mereka hadapi. Kenapa? Karena semua masalah moralitas dan etika itu kembali ke manusianya. Tampaknya kita lupa bahwa seperti gunting, motor, laptop, internet, dan microwave, AI juga cuma alat yang dikendalikan manusia dan dibuat dengan tujuan untuk kepentingan umat manusia juga. Jadi akar masalahnya terletak di dalam diri kita sendiri. Begitulah kesimpulan setelah saya menyimak dialog dan paparan Wicaksono atau yang dikenal sebagai blogger Ndoro Kakung dalam acara Obrolan Hatipena bertajuk “Menjadi Penulis di Era AI” kemarin malam (12/9).

    Wicaksono sendiri saya sudah kenal lama sejak zaman keemasan blogging tahun 2010-an karena ia kerap menulis hal-hal menarik di blognya ndorokakung.com. Ia juga tampil di banyak kesempatan seperti Pesta Blogger 2010 yang bergengsi saat itu karena mengumpulkan banyak penulis blog dari berbagai daerah di dalam negeri dan mengundang sejumlah sosok dari luar negeri.

    Selalu Ada Penawarnya

    Menanggapi soal perkembangan AI yang sudah berhasil mengeksekusi tugas menulis dengan piawai, Wicaksono menanggapi: “Jangan khawatir dengan perkembangan AI karena setiap teknologi ada antidotnya”. Ia mencontohkan misalnya dengan kemunculan berbagai AI chatbot seperti ChatGPT, kita bisa saksikan munculnya sejumlah software pendeteksi tulisan karya AI. Sehingga kita tidak mudah ditipu oleh pengguna AI yang tak mau mengakui bahwa mereka pakai AI dalam tugas dan tulisan akademik, sebuah masalah etika yang jelas adalah masalah dalam diri manusia. Bukan semata salah AI.

    Saya mengamini pendapat Wicaksono. Karena jika mengamati dan merenungi perkembangan peradaban dari waktu ke waktu, selalu saja ada kemunculan teknologi baru yang mulanya dikutuk sebagai pemicu kehancuran oleh mereka yang berpikiran kolot dan kuno. Ada protes di sana-sini, mengatakan perkembangan teknologi baru membuat hancur umat manusia. Tetapi karena teknologi baru itu bisa memudahkan hidup manusia, akhirnya lambat laun ia tak terbendung dan memasuki berbagai lini. Lalu ia dianggap normal dan wajar. Pola semacam ini bisa kita amati dari zaman kemunculan kapal uap, telegram, telepon, listrik, hingga internet yang dianggap biang keladi dari senjakala media cetak dunia. Tapi toh manusia tetap bisa hidup bahkan lebih nyaman sekarang ini, bukan?

    Tentukan Batas Etika dan Moral

    Kuncinya adalah kita mau berubah seiring dengan perkembangan zaman atau duduk diam mengamati sambil mengutuki perubahan itu sampai lelah sendiri dan mati. Yang tak kalah penting ialah manusia juga perlu belajar ilmu filsafat dan etika serta merenungkan soal moralitasnya sendiri agar ia bisa menentukan batas-batas dalam penggunaan AI dalam kehidupannya. Misalnya dalam konteks dunia kepenulisan, kita harus membicarakan jenis tulisan seperti apa yang boleh pakai AI dan jenis mana yang tidak seharusnya pakai AI.

    Dan jika kita memakai AI dalam proses kreatif menulis, jangan sampai lupa untuk mendeklarasikan secara jelas dan lantang bahwa Anda menggunakan AI dalam menulis. Hal ini sendiri sudah dilakukan oleh media arus utama dalam negeri seperti Kompas.com yang mencantumkan catatan di setiap berita yang dibuat dengan AI. Kejujuran ini harus ditegakkan agar nantinya kita bisa memudahkan mendeteksi tulisan mana yang dibuat dengan bantuan AI (tak peduli berapapun persentase kontribusi AI dalam tulisan itu) dan tulisan yang murni buatan otak manusia, tanpa bantuan AI sedikitpun. (*/)

  • Hari ini tanggal 9 September diperingati sebagai hari olahraga nasional. Tak banyak orang Indonesia yang tahu dan peduli karena hari ini bukan hari libur nasional. Mungkin juga karena kita sudah kebanyakan hari libur. 

    Ketidakpedulian orang Indonesia terhadap hari olahraga nasional ini membuat saya juga sangsi apakah kita juga tahu singkatan “SDI”.

    Kalau Anda belum tahu apa itu SDI, SDI adalah singkatan dari Sports Development Index. Meski istilah ini berbahasa Inggris, ternyata indeks ini dibuat oleh bangsa kita sendiri. Alasannya karena indeks yang khusus mengukur keberhasilan pembangunan di sektor olahraga belum ada. 

    Inggris, kata Suyadi Prawiro selaku asisten deputi di Kemenpora, punya indeks yang mirip. Namanya Sports Equity Index (SEI) yang cuma memakai 1 indikator: partisipasi masyarakat dalam olahraga. Selain itu, metode lain untuk mengukur kemajuan pembangunan olahraga di sebuah negara biasanya adalah jumlah medali yang berhasil diraup di Olimpiade. Namun, Kemenpora berkilah itu kurang akurat untuk mengukur kemajuan pembangunan olahraga. Baiklah…

    Pemerintah Indonesia pun ingin membuat ‘gebrakan’ dengan memunculkan SDI ini. Sebagian alasannya juga karena adanya kebijakan nasional berupa Dekrit Presiden 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang mewajibkan penggunaan SDI.

    Menurut website resmi Kemenpora, SDI adalah metode pengukuran keberhasilan pembangunan olahraga di nusantara. Indeks ini mulai diterapkan di lapangan pada tahun 2003 hingga 2007. Cakupan SDI ada 4 dimensi: ketersediaan SDM olahraga, ruang terbuka, partisipasi, dan kebugaran jasmani. Dalam perkembangannya kemudian, 4 dimensi SDI ini melebar menjadi 9. Lima dimensi tambahan lainnya yaitu literasi fisik, perkembangan personal, kesehatan, ekonomi, performa. 

    Melorot

    Saya pun mencari-cari laporan SDI terkini. Yang terbaru yang bisa diakses adalah versi tahun 2023 lalu. Yang terbaru tahun 2024 ternyata belum bisa saya temukan. Di situ ditemukan bahwa SDI tahun 2023 menurun sebanyak 0,327 dari skala 0-1.  Di tahun 2022, SDI ada di kisaran 0,335. Dengan demikian, terjadi penurunan 0,008 poin. Intinya, bangsa ini masih jauh dari angka 1 yang menjadi simbol kesempurnaan versi SDI ciptaannya sendiri.

    Ironisnya, kalau kita lihat di lapangan, prestasi olahraga elit dan partisipasi masyarakat kita dalam olahraga juga begini-begini saja dari rezim ke rezim. Tidak ada hal yang baru, mencengangkan, dan wow. Kalaupun ada perubahan, malah sedikit kemunduran. Cabor badminton yang jadi anak emas pemerintah dan pihak swasta selama ini ternyata keok di Olimpiade Paris 2024. 

    Kalaupun ada janji-janji surga untuk pelaku olahraga, biasanya cuma gimmick sebelum pemilihan umum. Lihat saja janji Prabowo dan Gibran tentang insentif pajak untuk klub olahraga. Mereka berjanji akan memberi kemudahan dan insentif bagi penyelenggara lomba olahraga dan kesenian, demikian dikutip dari katadata.co.id. Apakah ini akan terealisasi? Tak ada yang bisa menjamin.

    Kegemasan lainnya soal pembangunan olahraga di Indonesia ialah birokrasi kita yang masih rumit, korup,  dan sering tak bisa dicerna dengan akal sehat. Maka dari itu, saat Bea Cukai menyatakan medali emas Rizki Juniansyah dan Veddriq Leonardo bebas bea masuk atau pajak impor, sontak masyarakat bertanya: “Bukannya sudah seharusnya? Apa perlu itu diumumkan? Kalau memang Bea Cukai masih waras ya seharusnya memang tidak dikenai pajak apapun.” Mungkin itu karena Bea Cukai sudah jadi bulan-bulanan warganet akhir-akhir ini dalam banyak kasus. 

    Yang konyol adalah Rizki Juniansyah yang mengaku sudah dijanjikan bonus ratusan juta oleh pemprov Banten tetapi setelah ditunggu-tunggu pihak Pemprov Banten tak juga mengucurkan dana. Hingga Rizki angkat bicara di media 28 Agustus 2024 setelah pulang dari Paris, Penjabat Gubernur Banten Al Muktabar pun baru bereaksi. Kumparan kemudian mengabarkan Rizki akan mendapat 250 juta dari pemprovnya. Itupun nanti di HUT Banten bulan Oktober. Jadi tak langsung cair ya!

    Bangsa Ringkih 

    Tak cuma ketidakberesan di kalangan birokrasi soal kebijakan dan kepedulian terhadap pembinaan olahraga dan kesejahteraan atlet, di lapangan juga masih banyak orang Indonesia yang tak pernah atau hampir tak pernah menyempatkan diri berolahraga.

    Berdasarkan SDI tahun 2023, partisipasi olahraga masyarakat Indonesia secara umum juga menurun selama 2 tahun terakhir, dan ini juga ternyata berpengaruh pada tingkat kebugaran jasmani masyarakat.

    Dalam survei Indeks Pembangunan Olahraga, diterapkan tes kebugaran jasmani Multistage Fitness tes (MFT) atau yang sering disebut sebagai ‘beep test’. Hasil yang didapatkan ternyata sangat memprihatinkan. Kebugaran masyarakat Indonesia yang berusia 10-60 tahun (usia produktif) menurun cukup signifikan. Di tahun 2021, persentase warga Indonesian yang hasil beep test-nya termasuk baik atau lebih adalah 7,87%, tahun 2022 menurun lagi menjadi 5,75% dan 2023 makin menurun menjadi 4,18%. Duh!

    Lalu soal kebugaran jasmani para remaja (10-15 tahun) dan pemuda (16-30 tahun) yang kondisinya baik juga menurun. Tahun 2021 persentase remaja yang bugar 8,68% pemuda bugar 8,83%. Di 2022, turun jadi 7,03% dan 6,17%. Lalu di tahun 2023, malah turun lagi jadi 6,79% dan 5,04%. Sangat memprihatinkan.

    Sementara itu, secara spesifik lagi, tingkat kebugaran remaja-remaja 10-15 tahun kita sangat menyedihkan. Bagaimana tidak? Setelah Kemenpora mengukur tingkat kebugaran 1578 remaja Indonesia usia 10-15 tahun yang tersebar di 34 provinsi pada 2023 ditemukan fakta bahwa mayoritas (77,12%) remaja Indonesia tingkat kebugarannya kurang dan sangat kurang. Dengan kata lain, dari 10 remaja kita, cuma 2 yang badannya sehat dan fit. Yang lainnya ringkih, sakit-sakitan, dan lemah.

    Lalu untuk segmen pemuda (umur 16-30 tahun), kondisinya malah makin menyedihkan. Karena persentase pemuda ringkih mencapai 83,55%! Cuma 5,04% yang menunjukkan kondisi fisik yang baik.

    Tak heran jika data IDAI juga menyatakan bahwa jumlah kasus diabetes pada anak-anak muda di negara ini juga melambung tinggi. Dari tahun 2010 hingga 2023, jumlah kasus diabetes anak naik hingga 70 kali lipat. Jelas sudah bisa dikatakan kondisi genting. Ini tak cuma bakal jadi sandungan tetapi gunung penghalang tercapainya Generasi Emas 2045 nanti. Bagaimana bisa jadi bangsa besar kalau generasi mudanya sakit-sakitan dan lemah begini?

    Karena itulah, bangsa ini masih punya banyak pekerjaan rumah dalam bidang pemberdayaan olahraga. Setop ego sektoral di kalangan birokrat. Setop praktik korupsi di segala lini organisasi olahraga. Ciptakan lingkungan yang kondusif agar anak-anak muda mau berolahraga. Jangan bangun mall dan jalur kendaraan melulu. Bangunlah taman kota, jalur sepeda, jalur jogging. Berikan subsidi pada makanan sehat agar tidak semahal sekarang. Justru yang dimahalkan harusnya makanan sampah yang membuat badan sakit. (*/)

  • Denny JA saat menyampaikan materi di Writing Retreat Satupena 2024 di Bogor 30 Agustus-1 September 2024. (Foto: Dok. Satupena)

    Seminggu lalu saya mengikuti Writing Retreat bersama Komunitas Satupena yang dihelat di Puncak, Bogor selama 3 hari. Saya punya ‘oleh-oleh’ dari event itu bagi para pembaca setia blog ini. Karena event itu soal menulis, oleh-oleh yang akan saya berikan juga bentuknya tulisan.

    Salah satu pembahasan yang menarik untuk saya ‘bungkus’ menjadi ‘oleh-oleh’ dari sana ialah cara menyusun tulisan yang berdampak yang disampaikan oleh Denny JA selaku Ketum Satupena pada Jumat malam (30/8) di De Pointe Resort and Resto, Jl. Negalsari, Sukatani, Tugu Utara, Kec. Cisarua, Kab. Bogor, Jabar.

    Nonfiksi Berdampak

    Salah satu contoh tulisan yang berdampak positif bagi masyarakat menurut Denny ialah sebuah karya monumental dari penulis beraliran feminisme Betty Friedan yang berjudul The Feminine Mystique.

    Kisah di balik buku tersebut sangat menarik. Di tahun 1958, Friedan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan pendidikan yang lebih baik dari kebanyakan wanita saat itu menghadiri acara reuni kampusnya yang angkatan 1942. Sekolah tempatnya belajar dulu kini memintanya untuk mengajari wanita-wanita menulis dengan baik.

    Pertanyaan yang menjadi dasar tulisan mereka ialah “Apakah Anda merasa bahagia dengan kehidupan Anda sekarang?” Sebagai respon, para peserta yang semuanya wanita dipersilakan menulis sebuah tulisan yang menjawab pertanyaan tadi berdasarkan pengalaman dan sudut pandang mereka masing-masing.

    Sekilas, wanita-wanita seangkatannya yang mengikuti pelatihan menulis Friedan itu berhasil memenuhi ekspektasi masyarakat. Mereka adalah perempuan yang setelah lulus sekolah kemudian menikah dan melahirkan anak-anak dan mapan secara ekonomi sebagai kelas menengah tetapi merasa ada kekosongan dalam hidup mereka meski hidup sudah sesuai dengan standar masyarakat saat itu.

    Friedan lalu membaca tulisan-tulisan wanita tadi dan menyimpulkan bahwa kebahagiaan dari jenis kehidupan yang sudah ditetapkan masyarakat saat itu ternyata tak berhasil membuat wanita-wanita bahagia.

    Inilah yang kemudian mendorong Friedan menyusun buku The Feminine Mystique yang premis utamanya adalah menyatakan bahwa perempuan yang mengikuti jalur sesuai ekspektasi masyarakat tak sepenuhnya bahagia dalam menjalani kehidupan mereka. Ternyata waktu telah berubah dan cara berpikir wanita tak lagi sama. Mereka menghendaki perubahan. Mereka ingin lebih banyak ruang berkiprah di ranah publik sebagaimana laki-laki.

    The Feminine Mystique kemudian memantik api emansipasi perempuan gelombang kedua di bidang ekonomi di tahun 1960-an. Perempuan saat itu ingin berkarier dan memiliki pekerjaan di luar rumah.

    Gelombang pertama fenimisme sendiri telah muncul di tahun 1920-an di bidang politik. Saat itu kaum wanita berhasil meraih hak untuk bersuara atau mencoblos dalam pemilu seperti pria. Sebelumnya wanita dianggap sebagai warga negara kelas dua yang tak berhak mencoblos saat pesta demokrasi nasional.

    Karya tulis berpengaruh kedua lainnya yang menurut Denny JA patut diapresiasi ialah Silent Spring oleh Rachel Carson, seorang penulis perempuan yang menyoroti fenomena penggunaan pestisida yang marak di dekade 1960-an.

    Dalam buku nonfiksinya itu, ia mengemukakan sebuah keanehan di alam sekitarnya. Di saat musim semi, ia mengamati kondisi sepi mencekam yang seharusnya riuh rendah karena burung-burung yang bermigrasi. Satwa-satwa ini ternyata saat itu banyak yang mati mengenaskan sebab penyemprotan pestisida berbahan DDT yang mematikan. Buku Carson ini berhasil membangkitkan kesadaran orang terhadap isu pelestarian lingkungan hidup. Tak heran jika Silent Spring disebut sebagai buku paling berpengaruh dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup di tahun 1960-an.

    Fiksi Berdampak

    Jika tadi adalah karya-karya nonfiksi dengan dampak yang luas, ada juga karya fiksi yang berdampak masif terhadap peradaban manusia saat ini.

    Salah satunya yang dipilih oleh Danny JA ialah film The Strange Fruit (1937) yang menceritakan buruknya perlakuan masyarakat kulit putih Amerika Serikat kepada warga Afrika-Amerika di tahun 1930-an. Penganiayaan yang berujung maut kerap dialami warga kulit hitam di sana dan sudah dianggap jamak.

    Namun, sebagian orang yang merasa terusik nuraninya mencoba memberontak. Salah satu bentuk pemberontakan terhadap tradisi diskriminasi dan perbudakan kulit hitam terutama di negara-negara bagian di Selatan AS yang pro perbudakan itu ialah karya fiksi.

    Di sini digunakan pengandaian “buah yang aneh” untuk menggambarkan mayat-mayat orang kulit hitam yang digantung di pepohonan akibat tindak kekerasan orang kulit putih. Tak seharusnya manusia menganggap penggunaan kekerasan terhadap manusia lain sebagai hal yang wajar dan bisa dimaklumi.

    The Strange Fruit kemudian bisa mendorong perubahan mindset warga AS kulit putih untuk menghentikan perlakuan tak manusiawi mereka pada warga kulit hitam. Film ini sukses memicu perubahan sosial di AS dan mengobarkan gerakan anti diskriminasi yang masih terus relevan hingga sekarang era Black Lives Matter.

    5 Poin Penting untuk Menghasilkan Tulisan Berdampak

    Menurut Danny JA, ada setidaknya lima poin yang ia kemukakan agar seorang penulis bisa menghasilkan sebuah karya yang menghasilkan dampak bagi masyarakat tempat kita berada.

    Poin yang pertama ialah kita harus rajin mengamati peristiwa sehari-hari yang mungkin terkesan remeh dan menemukan potensi besar terjadinya perubahan radikal di baliknya.

    Poin kedua ialah selalu tanyakan “kenapa” (why) sebelum kita menulis. Inilah nantinya premis yang akan bisa menggerakkan dan mengarahkan isi tulisan kita agar bisa menghasilkan dampak yang luas.

    Poin penting ketiga yakni dalam menimbulkan dampak, kita harus berani melawan sebuah otoritas/ tradisi yang sudah ada sejak lama. Dengan demikian, penulis harus bersiap jika ada tindak kekerasan baik yang bersifat verbal maupun fisik terhadapnya.

    Poin keempat yaitu bahwa buku hanyalah satu pintu pertama sebuah dampak sosial. Buku saja tidak cukup untuk memicu perubahan dan dampak. Setelah buku terbit, ia harus dibarengi dengan gerakan-gerakan nyata lainnya untuk memperbesar amplitudo gagasan di dalamnya.

    Poin kelima yang tak kalah penting yaitu jika kita ingin mendunia, jangan lupakan pentingnya membangun koneksi.

    Nah, setelah ini, upayakan untuk merenungkan poin-poin di atas sebelum menulis sesuatu agar tulisan kita ke depan bisa lebih berdampak. Tak cuma tulisan itu harus dirilis, tayang dan dibaca sebanyak mungkin orang di luar sana tetapi idealnya tulisan kita juga bisa mendorong perubahan cara pikir, berkata, dan berperilaku pada mereka yang membacanya. Barulah tulisan kita bisa dikatakan berdampak (impactful). (*/)

  • Okky Madasari sebagai mentor dalam Writing Retreat Satu Pena 2024 di Puncak, Bogor. (Foto: Dok. pribadi)

    Sebagai penulis, kita ingin tulisan kita tidak cuma dibaca hanya untuk dilupakan kemudian. Kita mau tulisan kita bisa membekas dan diingat para pembaca kita. Karena itulah, kalau saya ditanya soal definisi “tulisan yang berdampak”, saya akan mengatakan bahwa tulisan berdampak merupakan sebuah tulisan yang berhasil memantik diskusi dan dialog publik soal isu-isu tertentu yang penting bagi kemaslahatan masyarakat. Bukan ‘hanya’ sebuah tulisan yang mendeskripsikan sebuah isu atau kondisi yang faktual di lapangan. 

    Tuntutan untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berdampak ini dikemukakan oleh Okky Madasari selaku mentor dalam event “Writing Retreat Satu Pena 2024” yang dihelat tanggal 30, 31 Agustus dan 1 September 2024 lalu di De Pointe Resort, Puncak, Bogor. Sebanyak 25 penulis ikut serta dalam retreat menulis ini dan diharuskan menghasilkan tulisan yang berkualitas setelah sesi brainstorming, diskusi dan pemberian masukan/ kritik.

    Sebagai salah satu peserta, saya juga ikut menulis. Topik yang diberikan oleh mentor ialah “Sudahkah manusia Indonesia merdeka?“. Dan karena saya tinggal di Banten, saya ingin mengaitkan topik besar itu pada fenomena dinasti politik di Banten yang begitu kental kemudian disarankan Okky untuk meneropong fenomena ini dari teori mekanisme pelarian diri yang disusun oleh pemikir Erich Fromm pada tahun 1942. Saya pun mencoba untuk mempertajam pembahasan esai yang saya tulis lagi berdasarkan masukan Okky.

    Sebagai penulis, saya memang sudah sering membahas dan mengaplikasikan Kecerdasan Buatan (AI) dalam proses kreatif saya. Beberapa tulisan saya yang membahas soal AI ialah “Penting untuk Editor dan Pendidik! Inilah Cara Deteksi Tulisan AI“, “Kenapa Kita Harus Batasi Penggunaan AI Jika Masih Sayang Bumi“, “AI Sebagai Alat Membangkitkan Bisnis Media Lokal”, dan lain-lain yang Anda bisa baca di bawah profil Kompasiana saya. Satu artikel yang saya buat dengan bantuan AI bahkan berhasil menjadi headline di Kompasiana dan dibaca 1688 kali sampai tulisan ini ditayangkan: “Mengenang Joko Pinurbo: Pernah Bakar Puisi karena Ditolak Penerbit“.

    Okky Madasari memberikan masukan terhadap draft tulisan. (Sumber gambar: Dok. pribadi penulis)

    Dari Dinasti ke AI

    Kembali ke writing retreat, saat draft tulisan saya ditelaah Okky, ia terus terang menyukainya dan mengatakan bahwa perkembangan tulisan esai/ opini saya lebih baik dibandingkan draft paragraf pertama yang sebelumnya saya ajukan. 

    Di dalam esai ini saya mengkritik fenomena dinasti politik di Banten (dinasti Ratu Atut, Jayabaya, dan Natakusumah) dan bagaimana dinasti politik menghambat pertumbuhan ekonomi sebuah wilayah (dengan mengutip data penelitian World Bank) dan bahwa fenomena ini muncul tak lain karena masyarakat Banten sendiri memang masih kebingungan dan belum bisa mandiri sebab mereka masih belum berpendidikan dan didera kemiskinan ekstrem. 

    Solusi jangka pendeknya ialah dengan memilih bersandar pada seorang sosok pemimpin yang bisa melakukan segalanya untuk mereka sebab hidup rakyat Banten sudah sulit. Meski pada jangka panjang, kecenderungan semacam ini bakal membuat mereka sulit maju juga. 

    Saya berteori di esai tersebut bahwa fenomena dinasti politik ini bisa muncul karena keserakahan elit politik daerah yang menjelma sebagai kompeni pribumi sekaligus karena manjanya masyarakat menengah bawah yang enggan berubah untuk maju. Karena untuk maju, perlu perubahan radikal yang sangat tidak nyaman.

    Karena panitia dan mentor sebelumnya tidak menyebutkan larangan untuk memakai AI selama proses menulis, saya pun memakai AI di dalam proses menulis esai ini. Karena saya belum selesai membaca, saya menggunakan claude.ai untuk mendapatkan ringkasan novel Max Havelaar yang berlatar Banten masa lalu di tahun 1860-an dan kondisi mengenaskan masyarakatnya di bawah  sistem tanam paksa Belanda. Saya juga menggunakan claude.ai untuk meringkas teori Erich Fromm soal mekanisme pelarian diri yang ia tulis di seminal “Fear of Freedom” (1942).

    Seperti saya katakan tadi, Okky sebagai mentor memberikan pujian atas isi esai saya. Namun, sejurus kemudian muncul sebuah pertanyaan dari Wina Armada selaku salah satu anggota Dewan Pembina Satu Pena: “Apakah di sini Anda pakai AI?”

    Saya menjawab dengan jujur bahwa saya memang memakai AI untuk menulis esai ini lebih cepat dan efisien.

    Danny J.A. selaku Ketua Umum Satu Pena pun memberikan pledoi mengenai penggunaan AI dalam berkarya. Ia mengatakan bahwa penggunaan AI dalam menulis sebagaimana dalam bidang seni juga tak akan bisa terbendung sebab AI adalah perkembangan zaman yang tak terelakkan. Kita sebagai penulis mesti bersiap menyambutnya, entah itu mau atau tidak mau.

    Dari sini diskusi soal esai saya pun bergulir menjadi soal boleh tidaknya sebuah tulisan yang dibuat dengan AI masuk ke dalam buku dan bagaimana penerapan etika saat seorang penulis menghasilkan karya dengan AI. Haruskah ia menulis dengan gamblang bahwa ia memakai AI di dalam proses menulisnya? 

    ‘Pelatuk’ Diskusi

    Dari sesama rekan penulis, saya juga menuai reaksi beragam. Penulis-penulis muda mengatakan bahwa mereka juga menulis dengan AI meski memang mereka menggunakan software untuk memparafrase dan memoles tulisan agar tak terdeteksi oleh manusia dan mesin lain. Di sini saya tertawa dalam hati. Apa bedanya karena itu semua sama-sama pakai AI? Bedanya cuma mengaku atau tidak. Ketahuan atau tidak.

    Sementara itu, penulis-penulis yang lebih konservatif menolak penggunaan AI dalam tulisan dan proses kreatif. Salah seorang bahkan mengatakan,”Saya kagum dengan kejujuran Anda tetapi kecewa dengan perbuatan Anda”. Dengan kata lain, ia mengharamkan penggunaan AI dalam proses menulis.

    Butuh beberapa waktu untuk mencerna segala reaksi ini dan saya bisa berpikir lebih jernih menanggapinya setelah menyingkirkan ego saya sebagai penulis yang begitu besar namun rapuh sekali. Sudah bukan rahasia umum kalau kaum penulis itu peka sekali terhadap kritik. Dikritik sedikit bisa membakar harga diri, membuat geram dan marah. 

    Tapi saya mencoba memisahkan ego saya dan karya. Yang mereka anggap menjijikkan itu adalah karya saya yang menggunakan AI. Mereka tidak jijik dan kontra terhadap saya sebagai pribadi. Sesederhana itu. Dengan demikian saya bisa berpikir dan berdiskusi lebih rileks dan terbuka bahkan dengan mereka yang berseberangan soal AI dalam menulis.

    Tetapi kembali pada pertanyaan definisi tulisan yang berdampak, jika saya bertanya pada diri saya sendiri:”Apakah esai kamu itu sudah berdampak?”, saya pikir saya akan menjawab: “Iya. Setidaknya ia sudah bisa memantik diskusi soal etika penggunaan AI dalam proses menulis”.. Hahaha. 

    Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda pro atau anti AI dalam menulis? Dan jika Anda anti AI, apakah itu karena Anda tidak tahu caranya atau karena Anda tahu cara penggunaannya tetapi menganggap itu sebagai sebuah kecurangan? Karena saya harus katakan, jangan sampai kita membenci sesuatu karena hanya kita belum memahami atau masih asing terhadapnya. (*/)

    P.S.: Tulisan ini murni dihasilkan penulis tanpa bantuan AI.

  • As writers, we always want our writing to not just be read and forgotten. We think and write hard to leave an impression and be remembered by our readers. That’s why, if I’m asked about the definition of “impactful writing”, I will say that impactful writing is writing that successfully sparks public discussion and dialogue on certain issues that are important for the welfare of society. Not just ‘merely’ writing that describes an issue or factual condition in the field.

    This demand to produce impactful writing was expressed by Okky Madasari as the mentor in the “Writing Retreat Satu Pena 2024” event held on August 30, 31 and September 1, 2024 at De Pointe Resort, Puncak, Bogor. 25 writers participated in this writing retreat and were required to produce quality writing after brainstorming sessions, discussions, and receiving feedback/criticism.

    As one of the participants, I also wrote. The topic given by the mentor was “Has the Indonesian people achieved independence?”. And since I live in Banten, I wanted to relate this major topic to the phenomenon of political dynasties in Banten, which is quite strong, and Okky then suggested that I examine this phenomenon from the theory of escape mechanisms developed by thinker Erich Fromm in 1942. I then tried to further sharpen the discussion in the essay I wrote based on Okky’s input.

    As a writer, I have indeed often discussed and applied Artificial Intelligence (AI) in my creative process. Some of my writings that discuss AI are “Important for Editors and Educators! This is How to Detect AI Writing”, “Why We Must Limit the Use of AI If We Still Love the Earth”, “AI as a Tool to Revive Local Media Businesses”, and others that you can read in my profile. One article I made with the help of AI even became a headline on Kompasiana and was read 1688 times until this writing was published: “Remembering Joko Pinurbo: He Once Burned Poems Because They Were Rejected by Publishers”.

    From Dynasty to AI

    Back to the writing retreat, when Okky reviewed the draft of my writing, she frankly said she liked it and that the development of my essay/opinion writing was better than the first draft paragraph I had previously submitted.

    In this essay, I criticized the phenomenon of political dynasties in Banten (the dynasties of Ratu Atut, Jayabaya, and Natakusumah) and how political dynasties hinder the economic growth of a region (citing World Bank research data) and that this phenomenon arises because the people of Banten are still confused and unable to be independent because they are still uneducated and plagued by extreme poverty.

    The short-term solution is to rely on a leader figure who can do everything for them because the lives of the Banten people are already difficult. Although in the long run, this kind of tendency will make it difficult for them to progress.

    I theorized in the essay that the phenomenon of political dynasties can arise due to the greed of the regional political elite who have become indigenous comprador as well as the pampering of the lower middle class who are reluctant to change to progress. Because to progress, radical changes that are very uncomfortable are needed.

    Since the committee and mentor previously did not mention a prohibition on using AI during the writing process, I used AI in the process of writing this essay. Because I haven’t finished reading, I used claude.ai to get a summary of the novel Max Havelaar which is set in Banten in the 1860s and the deplorable condition of the people under the Dutch forced cultivation system. I also used claude.ai to summarize Erich Fromm’s theory of escape mechanisms, which he wrote in the seminal “Fear of Freedom” (1942).

    As I mentioned earlier, Okky as the mentor praised the content of my essay. However, shortly thereafter, a question arose from Wina Armada, one of the members of the Satu Pena Board of Trustees: “Did you use AI here?”

    I honestly answered that I did use AI to write this essay more quickly and efficiently.

    Danny J.A., the General Chairperson of Satu Pena, also gave a plea about the use of AI in creative works. He said that the use of AI in writing, as in the field of art, will be unstoppable because AI is an inevitable development of the times. As writers, we must be ready to welcome it, whether we like it or not.

    From here, the discussion about my essay shifted to the question of whether writing made with AI should be included in books and how to apply ethics when a writer produces work with AI. Should they write openly that they used AI in their writing process?

    A Discussion Trigger

    From fellow writers, I also received various reactions. Young writers said they also write with AI, although they use software to paraphrase and polish the writing so that it is not detected by humans and other machines. Here I laugh inwardly. What’s the difference, since they’re all using AI? The difference is just admitting it or not, being caught or not.

    Meanwhile, more conservative writers reject the use of AI in writing and the creative process. One even said, “I admire your honesty but I am disappointed in your actions.” In other words, he forbids the use of AI in the writing process.

    It took some time to digest all these reactions, and I was able to think more clearly in responding to them after setting aside my enormous but fragile ego as a writer. It’s no secret that writers are very sensitive to criticism. Criticized a little can burn their self-esteem, make them angry and furious.

    But I tried to separate my ego and my work. What they consider disgusting is my work that uses AI, not me as a person. That’s it. Thus, I can think and discuss more relaxed and open, even with those who disagree on the use of AI in writing.

    But returning to the question of the definition of impactful writing, if I ask myself: “Has my essay had an impact?”, I think I will answer: “Yes. At least it has sparked a discussion about the ethics of using AI in the writing process.” Haha.

    What about you? Are you pro or anti AI in writing? And if you’re anti-AI, is it because you don’t know how to use it or because you know how to use it but consider it cheating? Because I have to say, let’s not hate something just because we don’t understand it or are still unfamiliar with it. (*/)

    P.S.: This writeup is not written from scratch with AI but translated from Indonesian with AI.

  • Wirter and Madhusudan Gopalan of P&G Indonesia. (Foito: Dok. pribadi)

    Berbekal etos kerja dan tim yang tepat, Madhusudan Gopalan sukses membangun fondasi pertumbuhan bisnis Procter & Gamble di Indonesia.

    TUMBUH di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pentingnya kerja keras, Madhusudan Gopalan menyaksikan orang tua dan pamannya membanting tulang mengelola pabrik. Nilai itu meresap ke dalam benak pria kelahiran India ini dan menjadi bekal baginya dalam menahkodai P&G di tanah air. 

    “Tiada jalan pintas. Mau sukses? Harus kerja keras,” tegasnya pada tim Warta Ekonomi di kantor P&G, Sentral Senayan III, Jakarta pada Rabu siang, 14 Maret 2018. 

    Rekam jejaknya di industri FMCG meyakinkan. Ia berkarier sejak 1999 di P&G, melanglangbuana dari India, AS hingga kawasan Asean. Di bawah kepemimpinannya, laju bisnis P&G di segmen consumer goods terus melesat.

    PERSEPSI SUKSES

    Nilai lainnya yang ia pelajari saat kecil ialah pentingnya pertumbuhan bersama dalam sebuah kelompok. ”Prestasi pribadi penting tetapi tidak berarti apa-apa bila tidak memberikan faedah bagi orang lain,” tuturnya. 

    Hal ini jugalah yang ia temukan pada masyarakat Indonesia tempatnya berkarya. Selama sewindu di nusantara, ia belajar mengenai solidaritas dari para rekan lokalnya. “Bagi orang Indonesia, sukses berarti keberhasilan individual dan komunal,” ucapnya. Karena itu, dirinya bangga bila dapat menyaksikan anggota timnya berkembang dari bawah hingga mencapai puncak potensi mereka.

    TIM TEPAT

    Indonesia ialah salah satu pasar yang penting dalam karier sang CEO. Ia bangga dengan pemberdayaan timnya yang berbekal SDM lokal. Dan mereka juga diberikan kesempatan berkarier di luar negeri. Raihan lain ialah kesetaraan gender. “Sebagai buktinya,” ucap Madhu, “50% manajer disini dan hampir 40% teknisi di P&G Indonesia ialah perempuan.” 

    Prestasinya itu berkat gaya kepemimpinannya yang menekankan pentingnya tim yang tepat. “Dengan adanya tim yang tepat, bersemangat tinggi dan kompeten, bekerja terasa lebih mudah,” ungkapnya. Agar tim bekerja maksimal, P&G membuat kebijakan yang mengedepankan kesetaraan, keterbukaan dan fleksibilitas. Kebijakan bekerja di rumah, misalnya, ternyata membuat karyawan lebih produktif.

    Berkat tim yang tepat, Madhu sukses dirikan pabrik manufaktur bernilai investasi jutaan dollar AS. “Ini sumbangsih kami pada Indonesia,” ujar alumni Indian Institute of Management, Calcutta, itu.

    LITBANG SEBAGAI KUNCI

    Madhu bersuka cita dengan perkembangan iklim bisnis yang makin kondusif. Bila dulu regulasi kerap jadi sumber kecemasannya, dalam 3 tahun ini ia mengaku ada banyak kemajuan.

    Selain itu, ada banyak alasan bagi Madhu untuk optimis. Terutama karena Indonesia ialah jenis pasar langka; skalanya besar dan tingkat pertumbuhannya tinggi. “Karenanya Indonesia menjadi pasar fokus P&G,” tandasnya.

    Dengan Litbang yang kuat, Madhu meramu pengalaman globalnya dengan perspektif lokal untuk merebut pasar. Produk-produk P&G pun laris manis karena mampu memecahkan masalah khas konsumen Indonesia. 

    Kini ia berhasil membangun landasan kokoh untuk P&G di sini. “Inovasi akan terus muncul. Kami juga akan mengekspor ke pasar LN,” pungkasnya.

    Kepindahan ke Indonesia ialah momen yang bermakna besar bagi keluarga kecil kami.”

    DEMIKIAN tutur ayah dari dua anak laki-laki yang kini tinggal bersamanya di Jakarta.

    Saat itu menjadi istimewa karena bertepatan dengan ultah kedua anak sulungnya. “Di antara kata-kata yang anak saya bisa ucapkan saat itu ada juga kata-kata bahasa Indonesia,” terangnya bangga. Tak lama setelah itu, anak keduanya juga lahir di sini. Tak heran Indonesia baginya sudah mirip rumah kedua.

    Yang unik, Madhu waktu kecil tidak pernah bercita-cita menjadi CEO. Justru saat ia sudah dewasa dan banyak membaca majalah bisnis koleksi pamannya, ia baru berpikir ‘kerennya’ jabatan CEO. “Saya pikir para CEO yang memakai jas dan dasi di sampul majalah itu sungguh cerdas dan mengesankan. Merekalah orang-orang yang membuat dampak besar bagi hidup banyak orang.” Karenanya, begitu lulus dari Teknik Mesin, ia mendaftar kuliah MBA agar bisa bekerja di perusahaan multinasional dan meniti karier sebagai pebisnis top.
    Bila tak sedang berlari pagi dan bersama keluarga, saat senggang penggemar aktivitas melancong ini memilih melahap buku-buku bertema kepemimpinan bisnis dan peningkatan kualitas diri. “Satu buku yang saya selalu tidak bosan untuk baca lagi dan lagi yaitu ‘How to Win Friends and Influence People’ tulisan Dale Carnegie,” pungkasnya. (*/)

    VERSI BAHASA INGGRIS

    Madhusudan Gopalan: Maju Bersama di Pasar Istimewa

    Equipped with work ethics and an apt team, Madhusudan Gopalan succeeds to build the base of Procter & Gamble’s business growth in Indonesia.

    HAVING been raised in a family that prioritizes the significance of hard work, Madhusudan Gopalan witnessed his parents and uncle worked hard managing their factory. That seeped into the very soul of the 42-year-old Indian man, serving as his provision for leading P&G operations in Indonesia.

    “There’s no shortcut. If you want to succeed, work hard for it,” he told Warta Ekonomi team at the office of P&G, Sentral Senayan III, Jakarta in Wednesday afternoon, on March 14, 2018. 

    His track record in the FMCG industry is cogent. He has climbed up the career ladder at P&G since 1999, moving from India to the USA and Asean countries. Under his leadership, P&G accelerates its growth in the home products segment.

    SUCCESS PERCEPTION

    Another key value he learned during childhood is the importance of growing together in a group. “Individual achievements matter but it means nothing if it does not benefits others,” he asserted.

    The CEO also found this in Indonesian people where he works. For eight years, he has learned solidarity from his local coworkers. “To Indonesians, success encapsulates one of individual and community,” he said. Thus, he takes pride in seeing his team members growing from the base to the top of the career ladder.

    THE RIGHT TEAM

    Indonesia is one of the key markets in his career. He is proud of the local team empowerment. And they are also given overseas career opportunities. Another attainment is gender equality. “As evidence,” he said,”50% of the managers and close to 40% of our technicians are women.”

    These accomplishments came true thanks to his leadership style emphasizing on the significance of building a right team. “With a right, motivated and capable team, working is much easier,” he remarked. To get maximum results, P&G adopted policies encouraging equality, transparency and flexibility. The work-at-home policy, for instance, enables employees to enhance productivity.

    Kudos to his right team, Madhu succeeded to build manufacturing factories worth milllions of US dollars investment. “It’s our contribution to the nation,” the alumni from Indian Instute of Technology, Calcutta, explained.

    R&D AS KEY

    Madhu is pleased to learn the increasingly favorable business climate in the country. Three years ago regulations used to be his primary source of concern yet in these last few years he has seen much improvement.

    Besides that, there are many reasons why he is optimistic. One of them is because Indonesia is a rare type of market; its size is big and the growth rate is swift. “That’s why Indonesia is our focus market,” he claimed.

    To win local customers’ heart, he mixes global experience with local insights by means of strong R&D. P&G products sell very well as they manage to solve Indonesian consumers’ problems.

    Now his leadership has built a solid foundation of R&D here. “More innovations are expected to keep coming. We’ll also export our products to other markets,” he ended.

    “Moving to Indonesia was a big move for my family.”

    THAT is what the father of two sons stated. Both are now living with him in Jakarta.

    Their move to Jakarta marked a key life event as it was on his first-born son’s second birthday. “Among his first vocabulary was some Indonesian words,” he remembered proudly. Soon after that, his second son was born. It was no wonder Indonesia is like his second home.

    What is unique, in retrospect little Madhu never set his ambition of becoming a CEO. He realized how cool it would be to work as a CEO after being an adult, having read business magazines his uncle bought. “I thought those CEOs wearing suits and ties on magazine covers are smart and impressive. They are people making big impact on others’ lives.” Hence, once he graduated from the undergraduate program on Mechanical Engineering, he signed up for an MBA so he would qualify to work at a multinational company and work his way up to the top.

    If he is not running or having a good time with his family, Madhu who likes traveling prefers reading books on leadership and self-improvement. “One book I’ll never get bored reading again and again is ‘How to Win Friends and Influence People’ by Dale Carnegie,” he noted. (*/)

  • Umesh Phadke, CEO L’oreal Indonesia bersama penulis. (Foto: Dok. pribadi)

    Dengan pengalaman, keberanian dan passion, Umesh Phadke paham benar potensi dan tantangan di Indonesia. Optimismenya yang membuncah terus mendorong L’Oréal Indonesia ke puncak.

    BERPENDIDIKAN formal sebagai insinyur, tampak musykil bagi Umesh Phadke untuk tertarik pada industri kecantikan. Namun, pebisnis berkebangsaan India ini berhasil buktikan passion-nya yang tak lekang selama 23 tahun di salah satu perusahaan kosmetik terbesar dunia, L’Oréal.

    Apa yang membuatnya bersemangat? Pada suatu malam saat ia menyambangi kediaman seorang teman. Ia bawakan sejumlah produk L’Oréal untuk istri temannya dan terpukau dengan reaksi wanita itu. “Ia begitu gembira sampai menari-nari karena hadiah saya. Itu membuat saya bersemangat dalam bekerja,” ia mengenang.

    Ia sadar ini bukan sekadar menjual kosmetik. “Pekerjaan saya juga berkenaan dengan bagaimana membuat orang bahagia, merasa lebih cantik dan bergairah dalam menjalani hidup. Itulah tujuan paling utama saya dalam bekerja,” ungkapnya pada tim Warta Ekonomi di DBS Tower, Jakarta, 23 Maret 2018.

    Keberanian

    Dengan pengalaman 23 tahun di bisnis FMCG, Umesh berani mengambil keputusan yang berdampak besar. Dulu ia dengan berani beralih ke marketing setelah 7 tahun mendalami penjualan. Langkah itu memperkaya keterampilannya sebagai Presiden Direktur.

    Pribadi Umesh sesuai dengan Indonesia yang dinamis. “Indonesia memberikan banyak tantangan. Rantai suplai dan distribusi masih jadi salah satu kendala utama berusaha,” ucapnya.

    Namun, kecantikan berkaitan erat dengan optimisme. “Mau krisis atau tidak, perempuan selalu merawat diri,” Umesh berpendapat. Ia perhatikan pertumbuhan ekonomi negara ini bisa membantu pertumbuhan bisnis perusahaan. “Industri ini tumbuh 1,5 hingga 2 kali lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi. Indonesia punya banyak populasi muda, yang masuk pasar tenaga kerja dan berharap tampil menawan, dan untuk itu mereka butuh produk perawatan kecantikan.”

    Pemerintahan saat ini juga banyak membantu. Ia menekankan,”Pemerintahlah ‘resep rahasia’ yang membantu menggali semua potensi dengan visi dan kerja kerasnya.”

    Ia punya cara unik untuk optimalkan modal budaya lokal agar lebih berani. “Di kantor, kami gabungkan budaya asal, sosial dan perusahaan. Jadi sambil menjaga keselarasan, saya ingin orang menjadi makin berani juga.”

    Universalisasi

    Umesh meyakini universalisasi: mendunia sekaligus menghormati hubungan, kebutuhan dan konsumen lokal. Oleh sebab itu, L’Oréal memasarkan produk berbeda untuk tiap pasar. Contohnya untuk pasar Indonesia, mereka menjual produk dalam sachet dengan harga terjangkau.

    Untuk merengkuh pasar, L’Oréal berupaya pahami konsumen lewat interaksi di banyak kota, mengumpulkan masukan dan menerjemahkannya sebagai penyempurnaan di lab litbang. Misalnya, dengan naiknya minat pada kosmetik halal, beberapa produk L’Oréal yang dijual di sini pun sudah bersertifikat halal.
    Pengembangan dari dalam dan luar menjadi rencananya untuk memimpin pasar. Di dalam ia melatih talenta lokal dengan pendekatan daring. Di luar ia fokus pada pemasaran digital dan ecommerce sebagai jawaban atas masalah distribusi.

    “Ibu berperan penting dalam menjadikan diri saya sebagaimana sekarang.”

    UMESH mengingat mendiang ibunya yang ia pandang sebagai panutan dalam mendidik anak. Ia senantiasa membawa foto sang ibu dan dengan bangga menceritakan hal-hal yang pernah ibunya ajarkan padanya.

    Sementara itu, ayahnya membantu Umesh sebagai pribadi yang terbuka pada hal-hal baru. “Saya boleh meminta ayah membelikan buku apa saja,” ia mengenang saat ayahnya membawa dirinya ke toko buku.

    Tak heran Umesh sangat menggemari buku. Ia membaca buku dari beragam genre, dari fiksi sampai buku perjalanan. Lain dari banyak orang yang membaca satu buku saja dalam sekali waktu, ia membaca banyak buku dalam waktu bersamaan. Tahun ini ia luncurkan klub bukunya sendiri untuk pegawai L’Oréal yang suka membaca juga.

    Sama beraninya dalam memilih buku, Umesh juga dikenal sebagai pelancong yang pemberani. Ia suka mengunjungi tempat-tempat yang paling jarang dikunjungi turis. “Desember lalu saya sempat ke Antartika,” imbuhnya.

    Sebagai fotografer yang antusias, Umesh sebelumnya telah menggelar pameran foto untuk tujuan pengumpulan dana amal saat masih bekerja selama 5 tahun sebagai Country Managing Director di Bangkok. Ia telah menerbitkan buku fotonya sendiri yang isinya foto-foto perjalanan di India. (*/)

    VERSI BAHASA INGGRIS

    UMESH PHADKE: THE BEAUTIFICATION CAPTAIN

    Armed with his experience, courage, and passion, Umesh Phadke fully grasps the potential and challenges of Indonesia. His teeming optimism keeps propeling L’Oréal Indonesia towards the peak.

    EDUCATED formally as an engineer, it seemed unlikely for Umesh Phadke to be interested in the beauty care industry. Yet, the Indian business leader has managed to prove his unwavering passion for the last 23 years at one of the world’s greatest beauty care companies, L’Oréal. 

    What makes him passionate? One night he visited a friend. He brought some L’Oréal products for his friend’s wife and was stunned by her response. “She couldn’t contain her joy and danced around the house because of my gifts. That reaction made me passionate about my job,” he remembered. 

    It dawned on him his work entails more than selling cosmetics. “It’s also about making others happy, feel more beautiful and excited about life. That’s the highest purpose of my work,” he told Warta Ekonomi team at DBS Tower, Jakarta, on March 23, 2018.

    Boldness

    The 23-year veteran of the FMCG business dares to make impactful decisions. Back then he boldly reinvented himself as a marketer after 7 years in sales. It enriched his skills as a country manager later on.

    His character suits the dynamic Indonesian market. “Indonesia gives many kinds of challenges. Supply chain and distribution are still major issues,” he stated.

    Beauty, however, is about optimism. “In good and bad times, women take care of their beauty,” Umesh argued. He noticed the country’s fast economic growth may aid the company’s business growth. “The beauty care industry grows 1.5 to 2 times of the economic growth. Indonesia has a young populace, too. They enter the job market hoping to look and feel good, and to do so they need beauty care products.”

    The current administration also lifts the morale. He emphasized, “It’s the ‘secret sauce’ that helps unlock all potentials with their vision and hard work.”

    He has a unique way to embolden local cultural capital. “At work we need to bring a nice blend of home, social and organizational cultures. So while keeping harmony, I want them to be more courageous too.”

    Universalization

    Umesh has faith in universalization: going global while respecting local relevance, needs and consumers. For that reason, L’Oréal sells different products in different markets. For example for the Indonesian market, it sells products in sachets at affordable prices.

    To capture the market, it makes continuous efforts to understand consumers by interacting with consumers in many Indonesian cities, gather insights, and translate them into improvement at R&D labs. For instance, as halal cosmetics gains traction, some of L’Oréal Indonesia’s products have been halal-certified. 

    Developing organization from inside and outside is his next plan to lead the market. Internally, he trains local talents using an online approach. Externally, he focuses on digital marketing and ecommerce as solutions to the country’s distribution drawback.

    “My mother played an important role in developing me into who I am today.”

    UMESH remembered his late mother whom he deems his best role model in parenting. He always keeps his mother’s photograph and proudly said to others what his mother had taught him.

    Meanwhile, his father shaped Umesh as an intellectually adventurous man. “There’s no book in the world that I couldn’t ask for,” he recalled times whenever his father took him to bookshops.

    It is no wonder Umesh has a penchant for books. He reads books of various genres, from fiction to travelogues. Unlike most readers focusing on a single book at a time, he reads several books simultaneously. This year he launched his own book club for employees sharing the same passion of soaking in ocean of words.

    As daring as he can be in selecting books, Umesh is also known for being a fearless traveler. He has been to least touristy places on earth. “Last December I just went to Antartica,” he added.

    Being an avid photographer as well, Umesh has previously staged some photo exhibitions for social cause fundraising during his 5-year stint as Country Managing Director in Bangkok. He has self-published a photo book containing photos taken along his trips in India. (*/)

  • Karakter manusia berkaitan erat dengan tampilan fisiknya. (Sumber gambar: Freepik)

    Orang Barat berfatwa: “Jangan nilai buku dari sampulnya” dan menurut saya itu adalah kebohongan publik terbesar sepanjang sejarah. Siapapun tahu penampilan selalu dianggap penting oleh manusia dari dulu zaman Nabi Adam sampai detik ini. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda: “Carilah kebutuhan dari orang-orang berwajah rupawan.” 

    Dengan berpegangan pada proposisi bahwa penampilan fisik/ raga manusia juga sama pentingnya dengan jiwa yang mengisi di dalamnya, saya pun tertarik untuk belajar sekilas ilmu firasat. Dari buku Kitab Firasat: Ilmu Membaca Sifat dan Karakter Orang dari Bentuk Tubuhnya yang berjudul asli Al-Firsah: Dalluka il Ma’rifah Akhlq an-Ns wa Thabi him wa ka annahum Kitbun Mafth karya Imam Fakhruddin ar-Razi, saya menemukan secuil pengetahuan yang bisa diaplikasikan tatkala bertemu dengan orang-orang baru.

    Dijelaskan oleh sang pemeriksa buku bernama Mushtafa ‘Asyur dalam pengantar buku ini bahwa ilmu firasat ini bukanlah kesyirikan. Dengan kata lain, ilmu firasat lain dari pembacaan khodam yang akhir-akhir ini ngetren di TikTok Live.

    Ia menyebutkan ada setidaknya ada 4 sosok dalam agama Islam yang konon memiliki ketajaman membaca karakter orang dari bagian badannya, yakni Al Aziz (ayah angkat Nabi Yusuf AS), putri Nabi Syuaib AS, dan Abu Bakar Shiddiq RA (sahabat Nabi Muhammad SAW), serta istri Firaun yang mengangkat Nabi Musa AS sebagai anaknya. Ilmu firasat mereka ini tak bisa dipelajari karena itu berasal dari ketajaman nurani yang dilimpahkan Allah SWT.

    Adapun Firasat Khalqiyyah yang akan dibahas sekelumit di tulisan ini adalah ilmu firasat yang bisa dipelajari oleh manusia awam seperti kita dengan pengamatan bentuk anggota badan.

    Percaya atau tidak, bentuk badan bisa menunjukkan sifat-sifat terpuji, tercela, tingkat kecerdasan/ kebodohan, emosi yang sering dipendam, kecenderungan-kecenderungan perilaku dan potensi penyakit yang ada dalam diri seorang manusia.

    Membaca Seluruh Wajah

    Kita mulai dari dahi dulu sebagai bagian terasa wajah manusia. Dahi yang berkerut dan rata menunjukkan karakter pemarah. Dahi yang sempit dan kecil menunjukkan kecerdasan yang rendah. Dahi besar bisa berarti pemalas dan pemarah (otak terlalu panas akibat sering marah). Dahi yang terlalu banyak kerutan berarti pertanda sombong. Dahi yang rata dan kencang tanpa kerutan menunjukkan watak pengacau. 

    Kemudian alis. Alis lebat menandakan seseorang kerap berduka dan sering berkata buruk. Sementara itu, alis miring dari hidung ke bawah dan dari pelipis ke atas berarti ada watak sombong dan bodoh. Bentuk alis yang melengkung menandakan watak penipu, pembohong. Mata yang indah dan cantik bagi pria dipandang sebagai cacat karena itu seharusnya dimiliki wanita, setidaknya menurut kepercayaan masyarakat Arab Kuno. 

    Lalu mata. Mata yang besar artinya pemalas karena banyak kelembapan dalam otak dan mirip dengan mata kerbau. Mata yang melotot berarti bodoh dan terlalu suka berbicara. Mata yang cekung artinya ada watak jahat. Mata yang terlalu menonjol keluar dianggap tercela. Orang yang berjiwa baik memiliki mata yang agak cekung ke dalam. Mata yang bergerak cepat dan tajam menandakan potensi berbuat makar, penipuan dan pencurian. Gerak mata yang lamban menunjukkan terlalu banyak berpikir. Mata yang banyak bergerak dan kecil berarti ada kecenderungan bertindak jahat. Mata yang banyak bergerak tapi besar menunjukkann potensi kebodohan. Mata yang tak bergerak menandakan adanya penyakit atau sifat penakut. Mata yang warnanya mirip mata kambing betina artinya bodoh. Pandangan mata pria yang mirip pandangan mata wanita menandakan nafus birahi yang tinggi. Orang dengan pandangan mata bak anak kecil yang banyak senyum dan gembira menandakan potensi panjang umur. Mata yang mirip sapi menunjukkan kebodohan.

    Masih soal mata. Warna mata yang sangat hitam berarti penakut. Warna merah artinya pemarah. Warna biru atau putih artinya penakut. Mata yang jernih artinya bodoh. Mata yang menonjol artinya tak tahu malu. Warna kuning menunjukkan sifat pengecut. Warna biru dan di tengahnya ada warna kuning menunjukkan akhlak buruk. Titik-titik yang banyak di sekitar pupil menandakan sifat jahat. Pupil hitam dengan garis seperti lingkaran menyiratkan watak jahat dan suka berbicara. Pupil hitam dengan bercak kuning menunjukkan kecenderungan membunuh dan melukai orang lain. Warna biru atau hijau menunjukkan watak hina. Dan pupil mata dengan bercak merah pertanda watak paling jahat dan buruk. Warna mata biru yang hijau berarti watak pengkhianat/ penjahat. Mata bersinar dan berkilap menandakan hobi bersenggama. Mata yang terbaik dan ideal ialah warna syahlah (kebiru-biruan) karena dianggap sebagai warna pertengahan antara hitam, biru dan hijau.

    Kita beralih ke hidung. Hidung dengan ujung lancip mirip anjing menunjukkan sifat suka bermusuhan, peragu, dan meremehkan apapun. Hidung yang atasnya tebal mirip babi menunjukkan kepekaan indrawi yang rendah. Hidung tebal dan terlihat berisi bak hidung kerbau menunjukkan kurang pengetahuan. Hidung pesek  bak unta menunjukkan tingginya birahi. Hidung dengan lubang besar berarti ada sifat pemarah. Hidung yang melengkung dari dahi mirip paruh gagak menunjukkan sifat tak tahu malu. Hidung melengkung bak paruh elang menunjukkan jiwa yang baik. Hidung yang dalam dan dahinya membulat menunjukkan nafsu seksual yang tinggi.

    Kemudian ke mulut. Mulut lebar artinya syahwatnya tinggi. Bibir tebal artinya bodoh dan keras kepala. Bibir yang pucat menandakan badan lemah dan sakit-sakitan. Bibir tipis dan lemas bak bibir harimau menunjukkan kebajikan. Bibir tipis di bagian gigi taring mendakan badan yang kuat. Bibir yang atasnya tebal menunjukkan kebodohan. Gigi yang mudah tanggal dan renggang menandakan badan yang lemah. Gigi taring yang panjang dan kuat menandakan ketamakan dan sifat jahat.

    Wajah juga memiliki artinya sendiri. Wajah gemuk menandakan malas dan bodoh mirip kerbau. Pipi gemuk menunjukakn keras kepala. Wajah kurus menunjukkan ketelitian pada segala hal (banyak berpikir sehingga badan kering). Wajah bulat menunjukkan bodoh dan berjiwa hina. Wajah besar menunjukkan rasa malas. Wajah kecil menunjukkan watak hina dan busuk serta suka merayu dan manja. Wajah buruk menandakan buruknya akhlak meski ada pengecualian pada sebagian kecil orang.  Wajah panjang tandanya tak tahu malu. Pelipis yang menonjol dan tenggorokannya seolah penuh menandakan sifat pemarah. 

    Cara seseorang tertawa juga bisa menandakan bagaimana wataknya. Terlalu banyak tertawa tandanya suka menganggap remeh urusan-urusan dan egois. Tak banyak tertawa artinya suka melanggar batasan dan aturan. Tertawa yang terlalu keras artinya tak tahu malu dan ucapannya sering menyakiti orang. Tertawa sampai batuk menandakan watak tak tahu malu dan suka membual/ besar mulut.

    Telinga juga menandakan sejumlah kecenderungan sifat manusia pemiliknya. Telinga yang besar bak keledai artinya bodoh tapi panjang usia.

    Leher juga menjukkan watak. Leher yang tebal dan berisi menunjukkan karakter yang kuat. Leher kurus menandakan badan yang lemah. Leher tebal dan penuh biasanya orangnya mudah marah. Leher yang terlihat pas dan seimbang menandakan jiwa yang baik. Lalu leher yang kecil dan panjang artinya penakut. Leher yang sangat pendek biasanya menunjukkan suka bertipu muslihat.

    Membaca Penampilan Badan

    Sekarang kita beralih ke tampilan badan secara keseluruhan alias perawakan. Orang dengan perawakan gemuk dan keras artinya sensitivitas dan pemahamannya kurang bagus. Sementara itu, mereka yang berbadan lembek malah menunjukkan bagusnya pemahaman dan sifat. Tubuh kurus dan tulang kuat menunjukkan terbiasa berburu bak anjing dan harimau. Perut bawah yang kecil menandakan kekuatan yang baik. Sebaliknya perut bawah yang menggembung artinya badan yang lemah.

    Kita beralih ke punggung. Tulang belakang/ punggung yang seimbang/ sedang menandakan jiwa yang kuat. Tulang punggung yang kecil dan lemah menandakan jiwa yang lebih. Tulang rusuk yang ukurannya sedang berarti jiwa yang kuat dan sebaliknya. Tubuh yang gemuk menunjukkan watak banyak berbicara. Area perut yang lebih besar menunjukkan kegemaran makan yang berlebihan dan kecerdasan yang kurang. Sendi yang kokoh dan dada tebal menandakan jiwa yang kuat dan sebaliknya.

    Perut juga penting. Perut yang gembur dan lunak menendakan akal yang baik. Perut yang besar menunjukkan nafsu seks yang tinggi. Tulang iga yang kecil menunjukkan hati yang lemah.

    Punggung juga menunjukkan kecenderungan watak. Jika menonjol, maka sifat orangnya kuat. Jika besar, orang itu suka marah. Jika cekung, orangnya bersifat buruk. Punggung rata dianggap menunjukkan sifat baik. Bahu yang kecil dikaitkan dengan kecerdasan yang rendah dan sebaliknya bahu lebar menjadi tanda kecerdasan tinggi. Pangkal bahu yang tinggi menjadi tanda kecerdasan rendah.

    Untuk lengan, kita akan bahas panjangnya. Jika panjang lengan mencapai lutut, artinya si pemilik badan berjiwa bagus. Tapi jika terlalu pendek, artinya orang itu suka hal jahat dan pengecut. Telapak tangan lembek menunjukkan seseorang lekas paham dan belajar mudah. Tapi telapak tangan yang terlalu pendek berarti bodoh. Telapak tangan yang sangat mungil artinya terlalu banyak bicara dan kecerdasannya kurang.

    Kita sampai ke telapak kaki, yang jika gemuk dan keras berarti kemampuan memahami rendah. Te lapak kaki kecil dan indah menunjukkan kesombongan. Mata kaki kecil tandanya pengecut. Mata kaki besar artinya orang itu kuat. Telapak kaki besar dan kokoh artinya jiwa orang itu kuat. 

    Untuk betis, betis yang tebal dan gemuk artinya bodoh dan tak tahu malu. Betis yang kekar berotot ialah jiwa yang kuat. 

    Kemudian kita bahas lengan. Jika lengan kekar, artinya jiwanya kuat. Lengan yang gemuk artinya jiwanya lemah. 

    Paha juga ada artinya. Bentuk paha gemuk dan penuh artinya jiwanya lemah. 

    Bagaimana dengan bokong? Pemilik bokong besar berarti kuat dan perkasa. Bokong yang gemuk berisi menunjukkan jiwa yang lemah. Bokong yang rata dan kempes menunjukkan buruknya akhlak. 

    Tentu ini semua tak berlaku secara absolut atau pasti 100% benar dan valid. Kita perlu membaca ini semua dengan mengingat bahwa ini hanya panduan kasar dan umum, tidak bisa menjelaskan secara akurat dan tepat. 

    Namun demikian, kita bisa anggap panduan ini sebagai rambu-rambu untuk mewaspadai saat bertemu dengan orang baru. Selamat membaca manusia! (*/)

Verified by MonsterInsights