• The digital landscape has witnessed a notable rise in content creators who are biologically male yet perform and present themselves as female online. This adopted feminine persona often becomes a central, if not defining, aspect of their public identity. While the origins of this trend are complex, its mainstream visibility can arguably be traced to pioneering figures like Mimi Peri, whose bold authenticity as a queer individual years ago captivated audiences and created a cultural moment. Her success demonstrated a powerful market for creators who defy traditional gender norms with audacity and charisma.

    However, this wave has since expanded to include individuals who do not identify as queer or transgender in their offline lives. A prominent example is Yoga Arizona, a creator who consistently performs an exaggerated feminine character across his platforms, despite maintaining a conventional heterosexual family life off-camera. His choice has predictably divided audiences, sparking debate about authenticity, performance, and motive.

    Following his success, a distinct niche has emerged, populated by creators who build entire channels around specific archetypal female characters. Sandy M.G.A parodies a delusional, wealthy socialite, while Santy MKS has gained traction portraying a carelessly dressed, lower-middle-class woman, noted for his character’s signature—and intentionally sloppy—way of wearing a headscarf. Another, Buhajat, leverages his heavy build and soft features to cultivate a distinctly feminine online aesthetic.

    The commercial engine behind this trend is clear. These personas generate significant engagement, capturing audience attention through often ridiculous, pathetic, or careless stunts. This virality translates directly into lucrative brand deals, endorsements, and product placements. For many, content creation has become a primary, high-income informal job—a fact that underscores a deeper societal critique. The proliferation of such roles can be viewed as a symptom of systemic failure, where a lack of formal employment opportunities drives individuals toward professions in the attention economy, regardless of the personal cost.

    That cost is significant. To maintain popularity and income, these creators often feel compelled to trade their private identities for a manufactured public one, risking mental health and personal integrity. The work demands a constant performance of likability, which can lead to a profound sense of inauthenticity, loss of self, and internal conflict. The pressure to accept every monetizable opportunity creates a fear of saying “no,” forcing difficult compromises where personal values are sacrificed for financial gain. Some, citing religious or moral boundaries, eventually exit the space, but not before experiencing its pressures.

    Ultimately, the phenomenon of male creators performing sustained feminine personas is not a simple matter of right or wrong. It is a multifaceted reflection of our current societal landscape—highlighting the convergence of gender performance, digital capitalism, economic precarity, and the human cost of monetized identity. It is less a standalone trend and more a telling side effect of broader social and economic failures.

  • Basah dan lembap, itulah nuansa bulan Desember dan Januari setiap tahun. Setidaknya itulah yang masih bisa dikatakan teratur menyambangi Indonesia terutama Pulau Jawa yang saya huni.

    Sebelum ini saya selalu berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang membuat saya tak perlu harus keluar rumah. Kalaupun keluar rumah juga yang dekat-dekat saja.

    Tapi siapa nyana malah sekarang saya harus bepergian lintas kabupaten dan provinsi. Untungnya kommuter membuatnya terasa lebih dekat.

    Suasana Tanah Abang di pagi 5 Januari 2026 yang sangat penuh sesak dengan manusia yang mengais rupiah dan kondisi sekeliling yang basah parah.

    Saya berangkat sekitar pukul 6.20 dari rumah dan sampai di Stasiun pada pukul 6.40. Semua dengan kerepotan memakai dan melepas jas hujan sambil tetap memakai jaket tebal ala musim dingin.

    Keputusan memakai jaket musim dingin itu saya sesali kemudian karena ternyata cocoknya di iklim bersalju. Iklim tropis dan basah tak cocok!

    Dalam gerbong, sebagaimana biasanya pria-pria di stasiun tengah perjalanan (bukan awal mula perjalanan), saya tak kebagian tempat duduk.

    Strategi saya adalah mencari spot berdiri dekat bangku prioritas dan dekat border atau pintu batas antara dua gerbong. Di situ saya bisa menaruh tas yang berat dan berdiri sambil bersandar di dinding dan menaruh bokong mungil saya di panel yang menonjol ke depan. Lumayan untuk mengurangi beban tubuh yang harus ditanggung oleh kedua kaki. Tangan menggelayut di gelang-gelang dan bisa menjadi sandaran jika ingin terkantuk-kantuk sedikit karena di jam sepagi itu dan udara sedingin itu, sungguh ingin tidur lagi saja. Tak mau bekerja.

    Sampai di Stasiun Tanah Abang pukul 8 lebih dan saya tak begitu terkejut dengan hujan yang makin deras bak badai dan antrean Gojek yang mengular anakonda. Sementara orang-orang mengantre, langit mengguyur mereka dengan air bah.

    Saya masih tak habis pikir, kok ada saja orang yang memakai pakaian ala kadarnya. Maksud saya cuma kemeja tipis dan jaket kain biasa, tak memakai jas hujan atau jaket yang tebal dan anti air. Payung saja mungil sekali, hampir tak sanggup mencegah lutut kering. Sungguh tak siap bencana mereka ini, batin saya.

    Sementara itu, saya berpakaian seolah saya akan menghadapi Badai Katarina. Sangat serius saya menyiapkan jas hujan dan jaket begitu saya cek prakiraan cuaca BMKG.

    Sementara itu, kaki saya mulai lembap dan kemudian basah. Sederas itulah curah hujan pagi itu. Saya saat itu memakai celana hujan yang menjuntai sampai ke telapak kaki, yang seharusnya sudah bisa mempertahankan kaki agar kering. Tapi ternyata tembus juga karena di lantai, air mengalir bak sungai.

    Supaya mengantre lebih cepat dan dapat kendaraan segera, saya harus membayar 27 ribu, lebih mahal dari Gojek yang reguler yang cuma 15 ribu. Sungguh mengesalkan tapi mau bagaimana lagi. Ini pasti di mana-mana juga macet. Mau naik bus TransJakarta juga percuma. Kering tapi sampainya besok. Payah. Nggak efisien.

    Sampai di tempat kerja, saya agak kuyup karena hujan yang sungguh luar biasa sepanjang 2 km rute yang saya tempuh. Bayangkan kalau jaraknya lebih jauh.

    Yang saya lakukan pertama ialah ke kamar mandi dan menggunakan pengering tangan di toilet untuk mengeringkan semua permukaan jaket yang lembap dan basah. Saya pakai berulang kali. Sampai mesin itu kadang mogok kerja karena mungkin saya terlalu lama menyodorinya objek untuk ditiup. Kalau biasanya disodori tangan dan bisa berhenti setelah 5-10 detik, kini ia harus terus meniup sampai 1 menit. Dan itu cuma satu titik saja. Saya sengaja buat lama karena ingin memastikan semuanya kering dan nyaman untuk dipakai pulang kembali.

    Saat saya pulang, untungnya cuaca lebih bersahabat. Hujan sudah agak mereda. Lalu lintas sudah lebih sepi karena orang-orang sudah masuk ke tempat kerjanya masing-masing.

    Saya sendiri masih bertanya-tanya: “Sampai kapan saya akan begini?” Meski saya tahu itu pertanyaan bodoh. Suatu hari keharusan mencari nafkah ke Jakarta ini bakal berhenti. Mungkin jika saya bisa mendapatkan sumber duit di dekat rumah. Jujur saya juga capek commute begini terus. Maunya cari duit di dekat rumah saja. Bulan Februari insyaAllah harapan itu akan tercapai juga. Bismillah. (*/)

  • Dia yang dikomentari, saya yang ikut ‘naik darah’. Haha. Lho kok bisa?

    Ceritanya saya mengulir layar ponsel pagi ini dan menemukan konten si bapak satu ini.

    Rupanya dia seorang househusband. Ia pria beranak istri dengan istri yang bekerja di luar rumah dan dirinya menulis dan memburu peluang kerja daring di rumah.

    Sebuah komentar pedas mendarat di konten instagramnya. Warganet berpikiran kolot pun mencerca dengan nada kurang lebih: “Kamu laki-laki kok diem aja di rumah sementara istri kerja di luar rumah?! Laki pemalas, nggak pantas jadi pengayom dan pemberi nafkah keluarga.”

    Di situlah ego saya juga tersentil. Ya karena saya bisa memahami posisi si pria itu. Bekerja di rumah dengan merangkai kata, ketik-ketik, dan berbekal koneksi internet.

    Apa salahnya sih? Sering ingin kupatahkan jempol-jempol netizen 62 yang jahil sembarangan berkomentar.

    Kemudian tentu saja si bapak itu menerangkan dalam konten barunya bahwa dirinya bukan berpangku tangan juga di rumah. Ia juga berupaya menghasilkan karya untuk dijual menyambung hidup. Saya pikir itu sudah bisa mematahkan argumen “diam di rumah berarti menganggur”.

    Mindset “di dalam rumah nggak bisa menghasilkan uang” dalam masyarakat Indonesia memang sudah begitu mendarah daging. Entah kenapa sulit untuk membuat masyarakat kita paham bahwa bisa lho kaya dengan jalan halal dengan bekerja di rumah.

    Kesulitan ini juga saya hadapi dengan orang tua yang memang mindsetnya masih sekolot itu. Dikira kalau tidak ngantor, tidak bakal makan karena tidak ada gaji bulanan, masa depan suram karena nggak ada naik pangkat dan uang pensiunan.

    Padahal stabilitas dan kemapanan ala zaman mereka sudah menguap dibakar nyala api perubahan zaman. AI sudah muncul, tatanan geopolitik dan ekonomi dunia sudah morat-marit dan mereka berharap kita harus memegang teguh standar kerja era 1980-an. Musykil!

    Untuk Anda yang punya orang tua seperti itu, bersabarlah. Mungkin akan datang saatnya mereka paham jika Anda sudah berlimpah uang dan materi. Atau tidak, ya namanya juga hidup. Tidak ada yang bisa dipastikan sekarang.

    Dan buat Anda yang juga bekerja di rumah, baik yang lajang maupun terlebih lagi yang househusband, sabar juga dan tambahi lagi jumlahnya sampai kadar ekstra sebab sebagian masyarakat kita memang masih sebuta itu soal dunia digital. Maklumlah, pemimpinnya saja pola pikirnya masih secetek jualan minyak sawit. Kalau punya kreativitas dan intelektualitas, mungkin bangsa kita ini sudah maju dari dulu. (*/)

  • photography of opened book
    Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

    Iseng saya telepon seorang sahabat yang kini tinggal di daerah asalnya. Sebelumnya ia sudah bekerja dan mengais rupiah di Jakarta sebagai penulis wara (copywriter). Dulu ia berkelana ke mana-mana. Ditraktir perusahaan dan klien menginap di hotel, menghadiri acara-acara elit, dengan kenyamanan dan logistik yang melimpah ruah. Bisa tidur nyenyak dan makan kenyang tanpa mengeluarkan sepeserpun dari rekening sendiri. 

    Kini roda takdir berbalik radikal. Ia diputus hubungan kerja oleh perusahaan tempatnya bekerja tanpa ada pilihan. Usianya sudah mendekati kepala enam dan tiada ijazah sarjana. Otomatis ia terdepak di era AI dan tenaga kerja muda yang murah meriah. Meski gajinya juga secuil selisihnya dari UMR Jakarta. Kalau istilah sekarang, ia melakukan ‘job hugging‘. Tak suka dengan budaya kerja perusahaan, tak suka dengan pilihan politik pemilik perusahaan, punya cara pandang dan sikap politik berbeda tapi toh demikian ia bertahan selama yang ia bisa demi perut. Ia masih menanggung satu orang anak dan istri dan saudara ipar yang lemah mental.

    Kini teman saya dipaksa keadaan untuk membuka warung di rumah. Warung jajanan anak, menyewakan wifi secara harian untuk anak-anak dan remaja yang sedang nge-push rank online games, dan berjualan ayam potong. Untuk yang terakhir, ia mesti bangun subuh, bersepeda ke kampung tetangga tempat rumah jagal berada dan memotong ayam utuh menjadi bongkahan-bongkahan yang lebih kecil untuk dijual eceran. Sebelumnya jari-jarinya yang kering dan kapalan karena benturan ke papan ketik laptop, sekarang basah dan amis kena daging ayam segar yang berlumuran darah. Tak masalah karena toh masih halal kan?

    Di sela kesibukannya itu, ia ternyata masih membuka diri untuk pekerjaan yang berbau literasi. Baru-baru ini ia ditawari pekerjaan menyunting sebuah buku yang ditulis tokoh petinggi negara. Saya bertaruh, itu juga bukan si petinggi sendiri yang menulis. Paling juga ajudan atau jongosnya, atau suruhan jongosnya. Ya apa sih yang tidak bisa dibeli dengan uang di zaman sekarang? Atau mungkin saja ditulis pakai AI. Entahlah. 

    Dengan beban pekerjaan menyunting draft buku itu, ia diberi ganjaran dua juta rupiah saja. Saya terkekeh, “Harusnya lebih tuh!” Bukan untuk menyakiti hati teman saya tapi semata karena kesal dengan kondisi yang makin mengenaskan bagi seluruh pekerja jurnalistik dan pekerja kata. Inflasi keahlian dan keterampilan kaum seperti kami sangat tajam menukik ke bawah. Sedih.

    Saya bertanya apa isi draft itu. Isinya ternyata menyanjung-nyanjung langkah pemerintah sekarang: dari intensifikasi penanaman kelapa sawit demi ambisi swasembada biofuel, sampai tambang-tambang ekstraksi mineral dan logam demi kemajuan ekonomi bangsa. Jujur ia makan hati sambil mengerjakan penyuntingannya. Teman saya suka menanam dan cinta lingkungan dan pepohonan dan hutan. Saya paham konflik moral yang ia alami. 

    Tapi itulah yang menjadi dilema kami kaum idealis miskin. Kami tidak pragmatis dan oportunis dalam hidup. Akibatnya kami harus hidup dalam belas kasihan penguasa dan pemilik modal yang cara pikir dan perilakunya jauh dari standar moralitas ideal kami. 

    Bisakah kaum idealis jadi kaya raya dan terlepas dari ketergantungan kaum kapitalistik? Susah karena dunia ini dicengkeram sistem kapitalisme yang mengakar sejak lama yang bermula dari pendirian VOC di Belanda. Dan anehnya Indonesia jadi salah satu pemicu utama berdirinya kapitalisme dengan adanya kutukan yang tersamar sebagai berkah yang bernama rempah-rempah. (*/)

  • Pagi ini saya enggan meninggalkan tempat tidur terlalu cepat dan memilih menonton sebuah film tentang penggalan kehidupan seorang remaja pria 16 tahun bernama Enzo.

    Enzo (Eloy Pohu) ini aneh. Ia anak pasangan yang kaya, setidaknya mereka punya rumah mewah tepi pantai meskipun gaji keduanya tak banyak. Tapi anak remaja ini malah tak mau meneruskan sekolah formalnya dan memilih menjadi tenaga magang di sebuah proyek konstruksi. Kata Enzo, meski ia punya bakat menggambar sketsa, ia justru tertarik dengan konstruksi bangunan sebab jika bencana alam melanda, hanya rumah yang ia bangunlah yang akan bertahan. Semua manusia yang menghuninya akan mati tersapu bencana tapi rumah akan tetap utuh meski berpeluang rusak.

    Enzo kerap dimarahi Vlad (Maksym Slivinskyi), seorang pekerja bangunan dari Ukraina yang tak mau pulang ke kampung karena alasan yang tak mau ia beberkan. Mungkin saja ia takut mati, atau tak mau bertemu ayahnya yang kasar dan ringan tangan, atau juga memberikan peluang hidup enak di Perancis secara cuma-cuma untuk menjadi tumbal perang Vladimir Putin.

    Karena dianggap tak becus oleh mandor, Enzo diomeli dan kemudian diantar ke rumah. Begitu paham Enzo dari keluarga berada, sang mandor bersikap manis dan memoles kata-katanya. Namun, itu tak mengubah pesan bahwa Enzo sebenarnya tak ada bakat bekerja di bidang konstruksi. Enzo tak punya ketajaman soal presisi. Memasang batubata saja miring, kata si mandor.

    Ayah Enzo sebenarnya pria yang baik. Ia tak pernah berkata kasar dan memukul Enzo karena ia orang terdidik. Hanya saja melihat anak laki-lakinya yang bungsu menjalani hidup yang eksperimental seperti itu, ia khawatir juga. Bagaimana kalau Enzo bakal jadi pecundang selama seumur hidupnya? Ia bandingkan Victor, anak sulungnya, yang sukses di bidang akademik dengan Enzo yang sangat sukar diatur.

    Kerumitan muncul saat Enzo mulai merasa ayahnya terlalu mengatur kehidupannya. Ia juga memarahinya saat terlalu sering dan lama bergaul dengan Vlad dan teman Ukrainanya yang lain. Mereka bertiga ke klub dan tentu saja Enzo yang di bawah umur ditolak masuk ke dalam. Enzo pulang dengan kecewa sementara Vlad bersenang-senang bersama seorang wanita yang ia akui sebagai pacarnya.

    Enzo juga bereksperimen dengan seorang gadis. Mungkin terdorong oleh perkataan teman kerjanya di proyek bahwa kalau ada pria yang umur 16 tahun saja belum pernah bersenggama dengan wanita, maka seterusnya ia tak akan pernah. Terbayang-bayang, Enzo mengajak seorang kenalan wanitanya ke rumah. Mereka berenang dengan syarat cuma pakai pakaian dalam dan sialnya kedua sejoli ini kepergok ibunya yang tiba-tiba masuk ke rumah untuk menaruh barang belanjaan. Gadis itu merasa kikuk dan risih lalu meninggalkan rumah segera meski ibu Enzo mempersilakan untuk makan malam bersama. Menurut gadis itu, ajakan tadi aneh.

    Dengan merenggangnya hubungannya dengan sang ayah, Enzo makin lama makin dekat dengan Vlad. Mereka saling bertukar cerita bahkan Enzo sampai menginap di apartemen sewaan Vlad dan temannya. Mereka berteman sangat akrab.

    Namun, yang aneh adalah saat kedekatan itu mulai mengarah ke arah seksual bagi Enzo. Vlad memang pria muda yang punya daya tarik seksual tinggi. Wajahnya rupawan, tubuhnya tinggi dan tegap, dadanya bidang dan berbulu lebat, bisep di lengannya begitu besar dan selalu tampak saat bekerja di proyek konstruksi bangunan tempatnya bekerja bersama Enzo. Di usia pertengahan 20-an, ia berkelana ke Perancis untuk mencari penghidupan yang lebih baik daripada Ukraina yang dilanda peperangan sejak 2022. Saking lamanya ia sudah menganggap dirinya sebagai warga Perancis dan menolak diajak pulang berperang di Ukraina.

    Sayangnya, gayung tak bersambut. Vlad menolak jamahan tangan Enzo di tengah malam saat ia tidur dan menyuruhnya berhenti. Di mobil, saat ingin mengantar Enzo pulang, Vlad berdebat. Ia masih tidak percaya Enzo menyukainya lebih dari sekadar teman kerja dan bergaul. Enzo masuk ke rumahnya dan tampak gundah karena cintanya ditampik Vlad. Sementara Vlad sendiri sebenarnya tak mau bermusuhan dan berjauhan tetapi secara seksual ia bukan penyuka sesama gender.

    Di sini mungkin saja Enzo berada di persimpangan di mana ia mendapati dirinya dengan banyak pilihan hidup untuk dijelajahi. Sayangnya , ia tak bisa menjalani semuanya. Ia harus memilih. Dan sayangnya lagi, pilihannya tak selalu selaras dengan pilihan pria-pria dewasa yang berharga baginya di sekitarnya yakni ayahnya dan pria yang disukainya Vlad. (*/)

  • Beberapa hari lalu saya diberitahu oleh seorang tetangga bahwa ia baru saja kembali dari Vietnam dengan sebuah cerita yang sangat menarik. Ia menyodorkan pada saya sebuah buku yang menceritakan kisah hidup seorang mata-mata terbaik di dunia dari Vietnam. Namanya Phạm Xuân Ẩn’s.

    Saya terpana mendengarkan lika-liku kerja Pham yang punya banyak pekerjaan dari jurnalis, hingga double agent. Meskipun diangkat sebagai pahlawan bagi Vietnam, ia sebenarnya juga melakukan banyak hal yang menguntungkan bagi Amerika Serikat, musuh Vietnam Utara saat Perang Vietnam dulu.

    Untuk detail selanjutnya, Anda bisa tanya saja AI. Ada rangkuman singkatnya di sana. Tapi yang saya ingin kemukakan di sini adalah begitu melelahkannya hidup sebagai seorang mata-mata seperti Pham.

    Saya sendiri tidak sanggup membayangkan betapa tidak enaknya tidur dengan dibayangi risiko kematian atau penyiksaan yang bisa dialami kapan saja jika membuat kesalahan sedikit saja, atau lengah dan sampai terkuak oleh musuh atau kawan karena di sini konteksnya ia bermain sebagai double agent.

    Konon Pham sampai harus ke mana-mana membawa pil untuk bunuh diri karena mending mati cepat daripada disiksa sedemikian rupa di luar perikemanusiaan oleh musuh.

    Mungkin ia bisa disiksa pelan-pelan seperti dicopoti kukunya satu persatu, atau dikuliti hidup-hidup, atau dipenggal kepalanya.

    Entahlah, tapi dari apa yang saya saksikan dahulu saat berkunjung di Museum Perang Vietnam, kemungkinan-kemungkinan keji seperti itu sangat memungkinkan. Setelah dari museum itu, saya seperti habis keluar dari Museum Lubang Buaya yang angker itu, saya makin membenci sesama manusia. Tiada makhluk yang sekeji manusia di muka bumi ini menurut saya.

    Lalu siang tadi saya menonton juga sebuah film bertema mata-mata lagi. Judulnya Boy from Heaven. Bedanya setting film satu ini ada di Universitas Al Azhar Mesir. Ceritanya bergulir dari Adam, seorang pemuda sederhana yang anak kandung seorang nelayan miskin. Ibunya sudah wafat dan ayahnya mendidik dengan keras.

    Entah bagaimana, Adam terpilih untuk mendapatkan beasiswa mengenyam pendidikan agama di Universitas Al Azhar sana. Hatinya membuncah sebab ia akan bisa menyalurkan hasrat belajarnya yang tinggi. Selama ini ia ingin keluar meninggalkan dunianya yang kecil: rumah dan laut.

    Sialnya, Adam masuk ke universitas tersebut dan menyaksikan sebuah peristiwa pembunuhan yang menyeretnya ke sebuah pertikaian internal Badan Keamanan Negara Mesir dan konflik internal para ulama yang akan diangkat sebagai imam besar. Intrik-intrik di kedua organisasi ini membuat Adam yang tak tahu apa-apa menjadi korban.

    Sama seperti Pham, Adam pun menderita karena harus berpura-pura melakukan hal yang sebetulnya bertentangan dengan kata hatinya. Ia bahkan mengkhianati teman sekamarnya demi tugas yang tak bisa ia hindari.

    Jika saya berada di posisi Pham dan Adam, besar kemungkinan rasanya saya akan menolak matang-matang (tak cuma mentah-mentah) untuk menjadi mata-mata atau informan karena pekerjaan demikian memiliki tingkat stres yang sangat tinggi. Rasanya sangat tidak tenang baik lahir dan batin. Mending kalau taruhannya cuma gaji, kalau bekerja sebagai mata-mata, taruhannya bisa saja nyawa.

    Tapi buat kaum mental baja yang kalau menurut deskripsi HR zaman sekarang “mampu bekerja di bawah tekanan”, mungkin Anda cocok jadi James Bond yang suka mengglorifikasi kemampuan bekerja di situasi-situasi yang membikin saraf tegang terus-menerus. (*/)

  • Kalau mau ngomong soal impact, sebenarnya agak risih juga karena kata satu ini sering dilontarkan di tengah diskusi dan press conference soal bisnis dan startup founders yang temanya muluk-muluk, selangit pokoknya. Saya kurang suka dengan sesuatu yang tidak membumi.

    Tapi ada kalanya kata-kata yang muluk-muluk semacam itu bisa dipakai untuk menaikkan mood dan semangat yang sedang turun. Meski bisa berakibat delusional alias ‘delulu’ kata anak gen Z zaman sekarang. 

    Saya beberapa waktu lalu berbicara dengan seorang tetangga yang juga salah satu anggota aktif klub buku yang saya dan teman-teman saya inisiasi. Ia berkata bahwa saya sudah dikenal sebagai tokoh masyarakat di kawasan ini.

    Saya terkekeh. Ia pasti cuma bercanda saja. Saya tak akan mudah terkecoh dan rasa percaya diri ini tak akan melambung. 

    Tapi lebih lanjut ia menjelaskan kenapa ia sampai berkata demikian. Ucapnya, kepala desa sekitar sini tahu saya yang menggerakkan komunitas yoga setempat, lalu mencetuskan klub buku. Kedua aktivitas ini, ujar tetangga saya, adalah jenis-jenis aktivitas kelas menengah atas dan kaum terdidik. 

    Saya mesti akui ia benar. Di masyarakat rural tempat saya berada sekarang, yoga dan buku bukan aktivitas arus utama. Aktivitas arus utama masyarakat sekitar tempat saya tinggal adalah menggulir layar ponsel untuk menikmati video-video viral di platform YouTube dan TikTok dan Instagram. Buku juga tetap aktivitas elit, bukan akar rumput. Harga buku yang second sekalipun masih membuat kelompok ekonomi lemah berpikir 1000 kali. Lebih baik uang itu dipakai buat makan enak, beli pulsa internet, skin online games, rokok, atau uang sekolah anak. Saya tak bisa menampik fakta di lapangan tersebut.

    Di samping itu, saya juga berupaya membangun secara lebih konsisten dan serius kanal-kanal komunikasi digital saya seperti Instagram, TikTok dan Substack untuk meraih audiens yang lebih luas, yang memiliki ketertarikan pada skills dan pengetahuan yang saya miliki. 

    Pengakuan eksternal itu muncul dari sesama pengajar yoga. Tempo hari saat sebuah kasus viral soal adjustment bahu yang memicu cedera pada murid, teman saya meminta pendapat saya secara terbuka di Threads.com. Setengah bercanda, saya membalasnya: “Ada jutaan guru yoga di Threads.com dan kamu memanggil saya ke sini cuma untuk berkomentar.” Ia menjawab bahwa dirinya sudah menobatkan saya sebagai seorang ‘polisi yoga’.

    Haha, saya merasa agak tercengang juga membaca jawabannya. Saya terkesan berdiri lebih tinggi daripada yang lain dan menjadi penegak hukum padahal saya cuma ingin membagikan opini dan hasil belajar dan bacaan saya pada orang lain agar kesimpangsiuran di tengah praktisi yoga bisa diminimalkan.

    Namun, di sinilah kemudian saya bisa menggunakan kata “impact” sebagai penghiburan dan sumber motivasi. Setidaknya saya sudah berusaha membuat impact, dampak di tengah kondisi faktual yang jauh dari ideal. At least, I have been trying. 

    Jadi kalau dikatakan saya sudah mencapai resolusi saya di tahun 2025 ini, saya tidak bisa menjawabnya. Karena saya juga tak pernah secara sengaja mencetuskan new year’s resolution yang muluk-muluk. Saya berprinsip mengalir seperti air. Terbentur saat ke depan, ya tak masalah karena masih bisa mengalir ke samping, atau ke bawah atau atas. Asal terus ke depan pelan-pelan yang pasti akhirnya meski tidak sampai tujuan pun setidaknya bisa lebih dekat ke sana. 

    Bagaimana dengan Anda? Impact apa yang sudah Anda coba buat di 2025? (*/)

  • Tadi pagi saya menonton sebuah film pendek berbahasa jawa timuran. Saya menontonnya dengan menggunakan platform klikfilm.com dan membayar 7000 dengan saldo GoPay. Sangat murah menurut saya. Dan itu berlaku sepuasnya untuk akses nonton film lain selama 7 hari tanpa jeda. Untuk film-film tahun lampau, aksesnya murah meriah tapi kalau yang terbaru dilabeli premium dan mesti bayar lagi ternyata.

    Jadi judul film yang saya tonton ini adalah nama seseorang: “Wahyu”. Isinya memang agak mengejutkan untuk ukuran film Indonesia masa kini apalagi masyarakatnya masih dalam fase ‘ketat beragama’.

    Salah satu adegan paling seronoknya saya pikir bukan saat adegan Wahyu dan santri-santri remaja pria itu mandi bersama di ‘jeding’ atau kamar mandi dengan bak raksasa karena para aktornya masih bersarung saat mandi. Tentu itu tidak natural tapi ya mau bagaimana lagi, setidaknya masih bisa ditolerir untuk ukuran masyarakat musim garis keras di Indonesia. Meski di situ digambarkan sarung Wahyu terinjak temannya dan Cholis yang entah bagaimana mencari sabun yang terjatuh di lantai melihat tubuh telanjang rekan santrinya itu dengan mulut menganga, adegan yang paling menegangkan justru saat Wahyu yang adalah santri baru pindahan dari ponpes lain itu menurunkan celana dan sarungnya sampai bokongnya terlihat jelas di layar. Bokong pria remaja yang normal saja. Tak kempes tapi juga tak tebal. Bokong itu dikontraskan dengan suasana sekeliling yang gelap karena latarnya kamar tidur santri di malam hari.

    Bocoran plotnya adalah Wahyu (Dafa Wahyu Lutfi Faqih) merupakan pelaku yang mencari mangsa baru di pondok baru itu. Tapi berkat keterampilan dan pengalaman yang terasah dari pengalaman sebelumnya, Wahyu malah bisa lolos dari hukuman sebab Cholis (Randa Achmad Surbakti) adalah tuna wicara dan saat berusaha diperkosa oleh Wahyu, ia malah melawan dan terpergok temannya sedang di atas badan Wahyu dalam kondisi celana sudah melorot. Otomatis ia terlihat sebagai penjahat kelaminnya. Cholis pun ditendang keluar dari pondok itu. Wahyu malah mendapat belas kasihan dari sesama santri di kamarnya. Padahal justru dialah sang pelaku upaya sodomi pada Cholis.

    Dan dari plot seperti itu saya paham bahwa sutradara ingin menyampaikan bahwa masalah ini memang tidak teratasi karena budaya pesantren yang tertutup dan tak membolehkan intervensi pihak luar dalam menegakkan hukum. Seolah pesantren adalah teritori dengan jurisprudensi tersendiri. Hal ini diperparah dengan budaya kultus individu yang luas di lingkungan tersebut. Mirip dengan kasus-kasus pelecehan seksual pastor-pastor gay katholik tapi ini dengan aroma kearifan lokal dan semesta agama yang berbeda.

    Saya berharap film pendek ini bisa dikembangkan menjadi karya yang lebih panjang dan kompleks untuk membuka mata dan memulai diskusi soal isu hubungan romantis dan seksual antar santri dengan gender yang serupa. Sangat berisiko diprotes memang karena masyarakat kita yang super kolot tapi sangat perlu karena toh ini adalah fakta. Tak bisa ditutupi selamanya layaknya sampah tak terangkut yang ditutup terpal dan disemprot parfum oleh Pemkot Tangsel. Karena harus diakui itulah hobi kita: enggan menyelesaikan masalah sampai akarnya dan memilih menguburnya dalam-dalam. (*/)

  • Tren olahraga lari hingga padel saat ini membawa optimisme bahwa masyarakat kita makin sehat dan aktif tetapi di baliknya ada bahaya cedera yang mengintai juga.

    Salah satu pemicu cedera bagi para pelaku olahraga amatir ini ialah abainya pendinginan setelah berolahraga (sport).

    “Saya banyak mengamati komunitas olahraga yang setelah mereka melakukan olahraga mereka langsung melakukan aktivitas lain tanpa ada pendinginan yang cukup,” ujar mantan pesenam aerobic gymnastics Claudio Marsello.

    “Mereka lupa bahwa otot-otot yang sudah dipakai selama latihan olahraga juga tak hanya butuh pemanasan tapi juga pendinginan yang cukup,” imbuhnya.

    Banyak yang setelah angkat beban, lari, atau padel mengeluh badan mereka seperti remuk, pegal, dan ternyata menurut Sello itu adalah karena otot-otot yang sudah dibuat banyak bekerja dan dikuatkan selama olahraga tidak diregangkan kembali.

    “Ibaratnya seperti karet yang ditarik lalu dilepas mendadak, pasti ia menjadi kusut,” terangnya.

    Dengan melakukan pendinginan, sirkulasi darah lebih lancar, risiko cedera diminimalkan dan saat berlatih esoknya rasa pegal tidak akan menghinggapi badan.

    “Setiap akan tidur, lakukan peregangan. Saya sendiri setiap hendak tidur pasti melakukan stretching,” tambah Sello. (*/)

  • Sebuah kendaraan bermotor memiliki kapasitas yang serupa dengan suku cadang dan onderdil yang beragam tapi semua itu akan percuma jika ban kempes.

    “Ban kempes itu mirip dengan otot yang kempes,” ujar Claudio Marsello, mantan atlet aerobic gymnastics yang kini menjadi pelatih soal pengalamannya menekuni strength training saat menjadi atlet dan hingga sekarang.

    Pesenam Butuh Penguatan

    Tanpa latihan penguatan otot, menurutnya, berpengaruh pada gerakan dan teknik saat seorang atlet bergerak.

    Jadi apapun olahraganya, strength training wajib dilakukan termasuk bagi atlet gymnastics, perenang, atau pelaku olahraga apapun itu.

    Namun, metode latihan penguatan untuk atlet non-bodybuilding tentunya berbeda. Jika cabang olahraganya bukan binaraga, besarnya kilogram beban bukan tujuan utama tapi repetisinya.

    Menurut Marsello, untuk atlet gymnastic seperti dirinya, fokus latihan penguatan ada pada jumlah repetisi.

    “Untuk latihan kekuatan di olahraga yang sifatnya high speed seperti gymnastics, kita bisa menggunakan berat beban yang lebih ringan tapi repetisi lebih banyak. Strength training yang tepat ini bisa menjaga kesegaran saat berlatih,” tuturnya.

    Pola Makan Pesenam

    Menurut Marsello, seorang pesenam bisa makan lebih dari 3 kali dalam sehari. Dari pengalamannya sendiri, ia bisa makan sebanyak 5-7 kali dalam satu hari, frekuensi yang tentu di luar kewajaran tetapi jika ditilik lagi dari kebutuhan energi hariannya sebagai orang yang masih aktif berolahraga, hal itu termasuk normal bahkan jauh dari definisi makan berlebihan atau “overeating“.

    Sello menceritakan bahwa sarapan paginya dari pukul 10-an, ia juga makan siang di tengah hari, jam 4 sore, jam 6 setelah mengajar, dan makan terakhir setelah latihan penguatan di gym.

    Jenis makanan yang ia makan pun tidak sembarangan. Meski ia sesekali masih makan makanan ringan yang bersifat kurang sehat, Sello dalam keseharian mengutamakan makanan yang sehat.

    “Sesimpel slogan ‘isi piringku’, protein, karbohidrat, sayur, buah, lemak,” terangnya. Namun, jumlahnya harus disesuaikan dengan aktivitas harian saat itu.

    Jadi, ia menekankan bahwa kita harus makan karena kebutuhan, bukan karena semata keinginan atau selera semata. (*/)

Verified by MonsterInsights