• DUA PULUH TIGA tahun lalu, saat saya kuliah, rasanya sudah muncul keinginan untuk cari pekerjaan yang tidak perlu berangkat pagi-pagi buat ke luar rumah, naik kendaraan jauh saat hujan maupun matahari sedang bersinar terik.

    Satu jenis profesi yang bisa seperti itu ya menulis. Jadi penulis pun menjadi cita-cita dengan urutan teratas meski memang tidak bisa menghidupi. Yang menghidupi buat anak lulusan jurusan bahasa adalah mengajar les ke anak-anak sekolah. Mau apalagi? Ekosistem kepenulisan dan industri penerbitan di negara ini masih payah bahkan sampai detik ini. Akhirnya saat itu saya melakoni profesi mengajar paruh waktu. Bisa untuk jajan dan makan tapi untuk lebih kaya raya, jangan harap.

    Dan 6 tahun berselang saat saya sudah lulus kuliah dan menempuh S2, makin menjadi-jadi rasanya untuk bisa bekerja sebagai penulis dan blogger. Apalagi dengan iming-iming bayaran dalam dollar AS dari Google. Tak tahan rasanya tampil mengajar tiap hari di depan kelas. Menghadapi manusia tidak selalu menyenangkan. Apalagi jika mengurusi anak-anak yang bertingkah polah tak sesuai harapan tapi maunya IPK terdepan.

    Saat itu saya menemukan sebuah sosok yang sangat mengilhami diri ini untuk menjalani profesi blogger yang bisa bekerja di rumah atau di mana saja sesukanya. Bukan Anne Ahira, tapi ia seorang wanita asing bernama Deb Ng.

    Saat saya mencari-cari pekerjaan di platform Jobstreet dan tidak menemukan satupun yang menarik, saya sering berkunjung ke blog Deb Ng yang membantu saya menyelami dunia menulis lepas dalam bahasa Inggris. Saya pikir saya bisa mencoba pekerjaan ini karena saya lulusan bahasa dan sastra Inggris jadi profesi ini tak jauh dari penerapan ilmu yang sudah saya dapatkan di bangku kuliah.

    Dikatakan di artikel wawancara bersama Deb Ng di sini, bahwa blogger yang telah menjual blog populernya freelancewritinggigs.com itu saat itu masih menulis di kommein.com. Eh tak dinyana, alamat blog itu malah isinya cuma poker game. 

    Sedih…

    Tapi setidaknya ia masih meninggalkan beberapa tips yang bisa dicoba bagi kita yang mau menjajal peruntungan di dunia blogging di tengah maraknya konten video pendek.

    Mulai Bertahap

    Perjalanan Deb Ng dalam dunia blogging bermula di tahun 2000. Sebagai seorang perempuan yang berbakat menulis tapi masih bekerja di korporasi, ia tergerak untuk menjajal peruntungannya di bidang menulis. Ia berhasil mendapatkan sebuah tawaran kerja lepas menulis pertamanya sebagai seorang penulis kolom atau kolumnis humor. Dari pekerjaan lepas itu, perjalanannya bergulir.

    Dalam waktu dua tahun, Deb Ng memutuskan mengundurkan diri dan sepenuhnya bekerja sebagai penulis lepas. Di saat yang bersamaan, ia harus pindah ke negara bagian lain (ia tinggal di negeri Paman Sam) dan harus menghabiskan waktu sebagai ibu rumah tangga dengan satu anak. Pekerjaan menulis lepas ia pilih berkat fleksibilitas waktunya dan ketidakharusan pergi ke kantor setiap hari.

    Setelah sekitar 5 tahun bekerja sebagai freelance writer, Deb Ng pada tahun 2005  ia dan sejumlah penulis lepas lain menggagas sebuah wadah untuk memamerkan karya tulisan mereka dalam bentuk blog yang berisi artikel-artikel mereka sendiri. Wadah yang berupa website ini mereka sebut “Writer’s Row”.

    Di saat bersamaan mereka mencari tawaran kerja menulis lepas dan tercetus ide untuk memuat tawaran kerja yang mereka dapatkan ke website tersebut. Ia bergabung dengan komunitas WAHM.com yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga yang berbagi kiat untuk sukses di bidang freelance writing

    Karena masih kurang berpengalaman, ibu-ibu rumah tangga yang bekerja menulis lepas ini dibayar begitu rendah. Deb Ng yang mengetahui ini kemudian memutuskan untuk hanya memuat tawaran kerja menulis lepas yang bayarannya dianggap layak (menurutnya yang layak itu 10 dollar per jam).

    Dari situlah ia mulai memindahkan blog yang tadinya cuma subdomain di Writer’s Row lalu merintis FreelanceWritingGigs.com dan 5 tahun kemudian blog itu berkembang pesat. Blog ini berhasil membangun sebuah jejaring penulis lepas dari 8 blog berbeda yang digerakkan oleh sejumlah blogger aktif.

    Belajar Dari Sini

    Saya sendiri mulai mengunjungi blog Deb Ng ini pada tahun 2009, dan secara rutin membaca isinya yang informatif dan berkualitas tinggi. Jujur saya mulai belajar bagaimana cara menulis artikel blog yang baik dari tulisan-tulisan Deb Ng di blog freelancewritinggigs.com ini. Ada banyak tips menulis, nasihat dan pengalaman menjalani profesi penulis lepas dari beragam aspek baik teknis dan nontekni​s.​ Singkatnya, blog Deb NG ini menjadi salah satu blog terbaik untuk dibaca para penulis lepas.

    ​Sebagaimana pekerjaan lainnya, menjalani profesi blogger dan penulis lepas begini juga butuh konsistensi dan komitmen tinggi dalam jangka panjang. Pengorbanan waktu tidak sedikit meski terkesan cuma duduk kerja di rumah atau di kafe. Tidak ada rahasia yang rumit. Cuma dijalani dengan sebaik mungkin dan cerdas dalam mencari peluang monetisasi agar bisa terus eksis.

    Cuma untuk yang Sabar

    Blogging bukan cara cepat kaya yang instan. Deb Ng menekankan hal ini karena banyak orang tergiur dibayar dalam jumlah banyak cuma dengan duduk mengetik di rumah atau kafe. Sama sekali tidak semudah itu.

    Menulis blog yang sukses secara komersial membutuhkan banyak waktu dan tenaga intelektual. Tidak bisa dilakukan secara moody. Kalau ada mood, baru menulis. Kalau tidak mood, pasrah saja. Jelas itu tidak profesional sama sekali.

    Beberapa hal yang harus dilakukan seorang blogger setiap hari adalah merencanakan topik tulisan, menulis setiap hari, mengamati tren dan kata kunci yang sedang banyak dicari pembaca, menganalisis statistik blog, memoderasi dan menjawab komentar pembaca, dan sebagainya.

    Semua ini butuh tekad dan konsistensi. Jadi tidak semudah menulis satu dua kali lalu berharap pemasukan akan datang dengan sendirinya. Bahkan jika pembaca sudah cukup banyak, blogger harus terus memutar otak bagaimana ia bisa memonetisasi blognya yang sudah banyak dibaca itu agar pendapatannya terus naik.

    Jika motivasi menurun, akan lebih baik jika kita bisa menemukan komunitas blogger yang bisa menaikkan kembali semangat menulis blog yang mulai kembang kempis. Intinya, selalu pelihara dan kembangkan jejaring/ koneksi dengan sesama blogger atau penulis lepas lainnya karena inilah yang bakal membuka kita ke lebih banyak peluang baru yang tak disangka-sangka.

    Manfaat Blogging bagi Penulis Pemula

    Menurut Deb Ng, menulis blog sangat penting bagi penulis lepas di era digital. Menulis blog mengukuhkan level kepakaran (expertise) kita sebagai seorang penulis di bidang apapun dan juga menegaskan niche kita sendiri. 

    Blog bisa menjadi ajang pameran karya tulis kita, sekaligus menjaring pengikut dan menunjukkan penguasaan kita dalam topik-topik tertentu yang menjadi bidang kerja kita. 

    Saya sendiri mengamini hal ini. Saat saya baru merintis pekerjaan dan menginginkan pekerjaan di bidang menulis, blog bisa menjadi sebuah bagian portofolio yang nyata dan bisa diakses siapa saja sehingga memudahkan orang mengetahui keterampilan dan kepakaran kita. Blog menjadi sebuah alat pemasaran diri yang efisien dan efektif. Tak perlu mengiklankan diri dan membayar orang untuk meng-endorse diri kita.

    ​Dapat Duit dari Blog

    Salah satu cara mendapatkan uang dari blog ialah dengan menjualnya ke pihak lain yang berminat. Namun, di Indonesia sendiri hal ini memang kurang lazim.

    Namun, salah satu cara yang lebih lumrah ialah dengan memasang iklan di dalam blog. Syaratnya tentu blog kita harus sudah banyak dikunjungi dan dibaca banyak orang. Hal ini bisa tercapai jika akar komunitas sudah kuat.

    Selain menjual ruang beriklan, kita juga bisa menjual ebook dan skills yang ingin dipelajari orang lain dari kita. 

    ​Itu semua kita bisa lakukan jika kita tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan orang-orang yang menjadi bagian dari komunitas kita.

    Sebuah blog bisa berkembang dengan dukungan dari komunitas yang merasakan manfaat dari pengetahuan dan pengalaman yang kita bagikan di blog.

    ​Dari Budak Korporat ke Penulis Lepas

    Deb Ng menyarankan bagi mereka yang ingin menjalani profesi penulis lepas ini untuk tidak terjun ke profesi ini secara mendadak dan tanpa persiapan matang terutama buat mereka yang sudah terbiasa bekerja sebagai budak korporat’.

    Akan lebih baik jika kita sudah memiliki jejaring dan juga beberapa klien yang memberikan proyeknya untuk kamu kerjakan selama beberapa bulan ke depan. (*/)

  • JIKA kamu tipe orang yang tak betah membaca buku lama-lama, coba dengarkan sejumlah podcast/ siniar gratis yang ada di aplikasi Spotify. 

    Tapi di sini yang ada cuma podcast berbahasa Inggris. 

    Kenapa tidak ada konten podcast yang berbahasa Indonesia yang masuk list ini? 

    Jawabannya karena belum ada podcast bertema yoga dalam bahasa Indonesia yang selengkap dan sebanyak ini episodenya. 

    Guru-guru yoga kita mungkin belum punya waktu untuk membuat podcast dan masih sibuk dengan kelas, workshop, teacher training, festival, dan asana tutorial/challenge di akun media sosial mereka. Just kidding!

    YOGALAND 

    Podcast ini terfavorit karena lengkap dan punya tema yang bervariasi. Tak cuma membahas teknik asana, tapi juga ada cara dan pendekatan belajar mengajar yoga, dan filsafat yoga.

    Podcasternya adalah pasangan suami istri guru yoga Jason Crandell dan Andrea Ferretti yang getol berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui beragam medium di dunia maya.

    Kamu bisa klik langsung preview Yogaland di atas tulisan ini.

    YOGA MEETS MOVEMENT SCIENCE

    Podcast ini masuk sebagai kedua terfavorit. Podcasternya ialah Jenni Rawlings (guru yoga) dan Travis Pollen (seorang doktor Sains Rehab dan Kesehatan serta atlet paralympics).

    Mereka mengangkat dan membongkar mitos-mitos soal yoga asana. Dibahas juga sejumlah latihan penguatan yang diperlukan untuk para praktisi yoga karena yoga asana kebanyakan berfokus pada body weight training dan kelenturan. 

    Menurut keduanya, praktisi yoga juga perlu latihan penguatan otot dan sendi sebagai pelengkap latihan yoga asana mereka.

    KEEN ON YOGA

    Podcast ini diasuh oleh guru ashtanga yoga Adam Keen.

    Kebanyakan episode podcastnya membahas soal pengalamannya mengajar sebagai guru ashtanga yoga.

    Dia juga membahas filsafat yoga dan topik-topik selain asana/ fisik.

    J. BROWN YOGA TALKS

    Kalau kamu suka topik yang abstrak dan kompleks (baca: rumit), silakan dengarkan podcast milik J. Brown ini.

    Pendekatannya lebih halus dan kritis terhadap isu-isu yang berkembang di dunia yoga kontemporer di abad ke-21.

    Karena jenis yoga J. Brown ini bersifat terapeutik dan mengutamakan napas, jangan berharap kontennya membahas teknik asana jungkir balik yang wow.

    Topik-topik yang sering ia bahas adalah beragam masalah, perkembangan tren, dan fenomena yang ia temukan di dunia yoga Barat (baca: Amerika Serikat).

    YOGA INSPIRATION

    Podcasternya ialah Kino MacGregor, seorang guru ashtanga yoga yang populer tak cuma di Amerika Serikat tetapi juga dunia.

    Topik-topik yang ia angkat sangat bervariasi, dari asana, nilai-nilai dan konsep yoga, pengalaman belajar dan mengajar yoga, perkembangan yoga masa kini, penerapan filsafat yoga dalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.

    THE YOGA HISTORY PODCAST

    Direkomendasikan untuk kamu yang suka dengan sejarah yoga.

    Di sini kamu bisa menyimak topik-topik soal perjalanan guru-guru yoga yang berperan penting dalam perkembangan yoga hingga bisa berkembang seperti sekarang ini.

    Sayangnya podcast ini sudah tidak diperbarui lagi sejak tahun 2020.

    Tapi tidak masalah karena di dalamnya masih banyak yang bisa didengarkan.

    THE YIN YOGA PODCAST

     Buat kamu yang suka style Yin Yoga, coba dengarkan podcast satu ini untuk referensi dan pengayaan pengetahuan.

    Podcasternya ialah Mandy L. Ryle, seorang pelaku dan guru Yin Yoga di Amerika Serikat.

    Adakah podcast menarik lain yang belum masuk list ini? Silakan tambahkan di kotak komentar. (*/)

  • JAKARTA has been recently dubbed as one of the most polluted cities in the world.

    I couldn’t agree more. I’d had my fair share of living there for more than 10 years.

    Though I’m so thankful for every single thing that Jakarta has offered me so far, I know it still has room of improvement.

    But is it too late? I don’t know but the ecological problems that Jakarta has been facing for decades are not downsizing but it’s snowballing from time to time.

    So it was an anomaly to see Coldplay, a band that shows very deep concern about environmental issues, agreed to perform live here in this ecologically destroyed capital of Indonesia.

    https://www.instagram.com/p/CzoGx_UIlOU/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=ODhhZWM5NmIwOQ==
    Chris Martin walking down Jakartan landscape.

    Why Walking?

    On the band’s Instagram account feed, Chris Martin proudly announced that he walked down the brutal Jakartan landscape. Humid and sweaty in this November where rain is supposed to be falling but the heat of El Nino dry season is still looming.

    Of all ‘cool’ activities he could just choose to do in Jakarta, why walking barefoot?

    Other celebrities uploaded updates of their rehearsals, or how they like the local cuisines, or just snapped a photo or two on their hotel roof tagged with a location showing they have landed and ready to perform the next day. I could tell this from the Corrs’ official Instagram content or maybe anoy other foreign performers.

    Coldplay seemed to devise a plan before they created this Instagram post which has been liked by more than 1.5 million Insta users.

    In my view, they chose to critique the government’s failure of providing a pedestrian facility that is proper enough for Jakartans. Chris could have walked around Rasuna Epicentrum (just 5-10 minutes walk from Setiabudi Reservoir) where things looked better and more organized. Wider pavements and lovely city design and great landscape just like what you can find anywhere but Jakarta. But he knew exactly that is private area and doesn’t reflect the real Jakarta.

    On the second photo in the Instagram content above, Chris Martin tried walking barefoot around Setiabudi Reservoir.

    How did I know this place? Because I told you before that I’d been living in this place for more than 10 years and this area is so familiar to me.


    Subliminal Critique

    It seemed normal for them but I think they deliberately chose this brutal and uncomfortable area as the background of their photos.

    On the first photo where Chris crossed the bridge near Sudirman Park development, you can still see a line of trees, which is good and ‘green’.

    Through this photo, I guess their subliminal message is: “Way to go Jakarta! You’ve planted trees around the city but the cars and motorbikes are just way too many to handle for these trees. Probably you all should walk (or bike?) more and drive less!”

    This also a critique aimed at Jakartans who mostly rely on motorbikes and cars to travel around the city. They take public transportation of course but not the majority. Why? Because the public transportation like Jak Lingko is not efficient enough to get their destinations in the shortest time. It is unpredictable and unpunctual despite the low fare.

    On the second photo, you can see Chris voluntarily walked on a macadam road just beside Setiabudi Reservoir, an old water reservoir that was built by the Dutch.

    Here I tried to decipher the subliminal message: “This area should be better managed. It has trees around it and even a body of water that can cool the city down but people don’t want to walk around it or hang out around this place because they can’t found a proper pavement or some benches to just sit down or do pushups or situps after jogging or brisk walk session.”

    Why do I think this is a critique of Jakarta Government? Because it shows their ignorance of pedestrian rights.

    The city seemed to built exclusively for the convenience of motorbikers and car owners. It is no fun for pedestrian. Only fumes and heat. Trees are there but ridiculously humans must also compete with trees just to walk comfortably and safely. The government just doesn’t have that strong commitment to investing in pedestrian walk or pavement. It’s all lanes for buses, cars and motorbikes. Bikes to work campaign just won’t work massively because admit it, who is thoughtless enough and willing to put their health at stake to bike and inhale the polluted air?

    But of course this critique is too subtle for the ignorant bureaucrats and policy makers.

    Jakarta is for those who work, and work, and work. It is not meant for humans who want to live their lives to their fullest.

    The fact that they built a new capital simply shows the desperation of recovering the ailing Jakarta. And that is saddening. Because IKN in Borneo may have the same fate as Jakarta’s some time in the future if this nation never wants to learn and improve from past mistakes. (*/)

  • Latihan yoga di rumah wajib jika ingin ada perbaikan dalam kualitas hidup. Masalahnya bagaimana agar bisa terus berlatih konsisten di rumah tanpa dorongan orang lain? (Foto: Wikimedia Commons)

    TAHUN BARU, semangat baru. Itulah yang biasanya kita dengung-dengungkan.

    Sayangnya, semangat baru itu bagi sebagian orang lumayan susah dipelihara. Ibarat api, ada yang baranya cepat padam. Tapi ada juga yang tidak. Tugas kita adalah bagaimana bara semangat yang cepat padam itu tetap bertahan, dan bagi yang tetap menyala, intensitas nyalanya tetap konstan. Atau malah harusnya lebih baik kalau semangat itu bisa lebih besar sehingga tidak hanya menghangatkan diri sendiri tetapi juga orang lain yang ada di sekitarnya.

    Dari pengalaman saya sendiri setelah mengenal yoga sejak akhir 2010, latihan yoga saya memang didorong oleh keinginan untuk berolahraga tanpa harus terikat waktu dan tempat. Sewaktu-waktu, jika saya ingin dan butuh, saya bisa melakukannya.

    Yoga kala itu saya anggap sebagai solusi karena saya tidak perlu tempat yang luas untuk melakukannya. Di kamar tidur saya pun bisa jika terpaksa berlatih di dalam ruangan karena cuaca tidak mengizinkan. Di kantor pun saya bisa berlatih yoga asal saya bisa menemukan tempat yang lapang dan tenang dengan sirkulasi udara yang lancar dan lantai yang rata serta alas yang bersih dan nyaman. Cuma itu saja. Tidak ‘neko-neko’.

    Bagaimana dengan mat? Kalau mau tahu, saya pertama kali berlatih yoga hanya dengan bermodal sebuah spanduk pemberian teman yang saya pakai sebagai alas untuk beryoga di Taman Suropati. Mengingat saat itu, saya memang heran, bagaimana saya mau saja berlatih dengan spanduk sebagai alas? Padahal kan tipis sekali dan kurang elok dipandang. Tapi mungkin karena saya saat itu tidak berpikir yang lain selain hanya ingin berlatih yoga agar kualitas hidup saya lebih baik (baca: badan lebih sehat, pikiran dan jiwa lebih seimbang), saya sisihkan saja rasa risih itu.

    Pokoknya, ‘Just do it’!

    Saya menegaskan ini karena saya menyaksikan sebagian orang yang mengatakan dirinya ingin mencoba yoga dan sudah tahu manfaat yoga tapi saat ditawari mencoba malah mencari alasan untuk menunda.

    Bisa saja alasan itu berupa ketidakpunyaan mat/ alas yang empuk, waktu yang kurang pas dengan jadwal, badan yang masih kaku (kalau untuk alasan ini, saya sangat tidak paham, karena bukannya karena badan Anda kaku makanya butuh yoga lebih dari yang lentur?), dan sebagainya.

    Lalu saya pikir, mungkin itu memang mencerminkan besar kecilnya tekad seseorang.

    Karena saya yakin, jika kita sudah ada kemauan, bagaimanapun kita akan menemukan jalannya.

    Dan sebaliknya, kalau sudah tidak ada kemauan atau kemauan itu kecil dan tidak menjadi prioritas utama dalam hidup, ia hanya akan menjadi cita-cita kosong belaka.

    Pentingnya Home Practice

    Kembali ke topik home practice atau latihan rutin di rumah sebagai pelaku yoga, saya menganggap latihan rutin ialah suatu kewajiban. Itu karena manusia adalah apa yang ia rutin lakukan (humans are what they repeatedly do).

    Saya mungkin bisa mengibaratkannya dengan salat bagi umat muslim. Bisa saja seseorang mengaku muslim tetapi tidak ingat terakhir kali ia salat atau ke masjid. Mungkin Anda berkilah, “Tapi kan itu bisa saja cuma formalitas. Tidak mencerminkan di dalamnya…”

    Bisa jadi saya salah. Tetapi menurut saya, rutinitas yang formal dan terkesan membosankan dan cuma ‘permukaan’ itu juga sebenarnya adalah anak tangga untuk bisa melangkah ke tahapan yang selanjutnya, yang lebih tinggi atau lebih dalam.

    Jadi, apa yang terlihat sepele dan remeh itu sebetulnya adalah batu bata kecil yang jika disusun bisa membangun sebuah rumah megah atau bahkan benteng yang kokoh. Dan semua itu kuncinya ada di KONSISTENSI. Dan konsistensi yang juga berkaitan erat dengan disiplin ini salah satunya bisa dicapai dengan home practice yang teratur.

    Bagaimana dengan guru/ pengajar yoga? Apakah mereka juga masih butuh home practice?

    Jangan salah, bahkan seorang guru yang paling senior pun seperti B.K.S. Iyengar juga masih berlatih setiap hari di usia lanjutnya (sumber di sini). Dari apa yang saya pernah baca, almarhum Iyengar sendiri pernah berkata dirinya berlatih yoga selama 6 hari dalam sepekan. Jadi, ia hanya menyisakan satu hari untuk istirahat. Mirip rutinitas kerja lah.

    Justru guru-guru yang terlalu sibuk sampai mereka tidak bisa berlatih setiap hari itulah yang lebih butuh yoga daripada murid-murid mereka sendiri.
    Guru-guru yang terlalu sibuk sampai mereka tidak bisa menemukan waktu untuk berlatih sendiri sebenarnya melewatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam mengajar karena dalam latihan pribadi itu sering kita bisa menemukan ide-ide yang cemerlang.

    Dan jangan mengira mengajar yoga itu sama saja dengan mengikuti kelas yoga. Sensasinya berbeda sekali. Dengan menjadi murid di sebuah kelas atau berlatih sendiri, Anda dipersilakan untuk ‘menyelam ke dalam” lebih leluasa.

    Kalau Anda pribadi yang cenderung introverted, latihan sendiri di rumah atau di ruang pribadi Anda, justru seolah memberikan kebebasan dan keleluasaan yang tidak bisa ditemukan di kelas-kelas yoga di studio atau di pusat kebugaran.

    Bagaimana dengan waktu?

    Bagi Anda yang sangat sibuk misalnya pebisnis atau ibu rumah tangga yang bahkan merasa tidak memiliki waktu bersantai barang sejenak untuk bersantai, Anda bisa menyelipkan latihan di sela-sela kegiatan. Tidak perlu harus secara kaku menetapkan jadwal latihan rutin. Kalau memang anak Anda sudah bangun pukul 6 pagi, cobalah bangun dan latihan sejam sebelumnya selama 15-30 menit. Atau kalau tidak di pagi hari, cobalah di malam hari jika sudah lebih santai. Intinya, cicil saja latihan Anda di sepanjang hari. Tidak perlu satu slot waktu tersendiri. Dibagi-bagi saja.

    Bagaimana dengan durasinya?

    Tidak semua orang punya kemewahan berlatih yoga selama 60 atau 90 menit. Maka dari itu, saya sarankan tidak perlu mewajibkan diri sendiri untuk latihan selama itu bak sedang latihan di kelas-kelas studio yoga atau pusat kebugaran. Kalau bisanya cuma 60 menit, silakan. Bisanya 30 menit, silakan juga. Kalau bisanya memang cuma 15 menit, juga silakan. Kalau bisanya 15 menit di pagi dan malam, silakan juga. Ini latihan Anda, sesuaikan latihan yoga dengan kondisi dan gaya hidup Anda.

    Dan kalau memang sudah dicari-cari tapi tidak bisa juga, coba cermati: Apakah Anda menikmati kondisi, pekerjaan dan gaya hidup itu? Kalau membuat Anda mudah jatuh sakit, stres dan tidak bahagia, saatnya Anda merombaknya.

    Kalau masih tidak bisa merombak bagaimana? Siasatilah agar efek negatifnya bisa ditekan seminimal mungkin.

    Poin-poin Penting dalam Home Practice

    Dalam yoga kita mengenal adanya prinsip tapas yang artinya disiplin. Dan untuk mewujudkan disiplin itu dalam diri kita, caranya ialah dengan berlatih secara teratur. Dengan berlatih teratur itulah kita bisa menunjukkan seberapa besar komitmen kita pada praktik yoga kita.

    Dan jika Anda sudah bisa menemukan waktu dan tempat yang pas untuk berlatih tiap hari, Anda relatif lebih stabil di tengah deraan stres atau perubahan dalam kehidupan (tidak perlu mencari pelarian yang tidak sehat seperti alkohol, narkoba, tembakau, dan sejenisnya). Tapi syaratnya, sekali lagi adalah jangan memandang latihan yoga Anda sebagai beban apalagi kewajiban, tetapi anggaplah sebagai kebutuhan. Kebutuhan tubuh, pikiran dan jiwa agar tetap waras dan selaras.

    Kuncinya agar kita bisa berlatih yoga secara rutin ialah mengubah latihan harian kita sebagai sesi/ slot waktu yang khusus untuk ‘memanjakan diri’. Dalam artian, Anda bisa memfokuskan secara penuh pada kondisi jiwa dan raga Anda sendiri. Tidak perlu mencemaskan hal-hal lain dulu sepanjang latihan yoga Anda. Ini bukan egois tetapi memang diperlukan agar Anda bisa terus menjalani kehidupan dengan semestinya.

    Poin lain yang perlu kita sadari dalam latihan rutin ialah jangan berharap sensasinya seperti saat mengikuti kelas di studio atau pusat kebugaran yang dipandu oleh guru berpengalaman. Ibaratnya, Anda tentu tidak mungkin menyamakan cita rasa dan sensasi bersantap masakan restoran di tempat yang ‘wah’ dengan cita rasa dan sensasi makan masakan rumahan yang dimasak Anda sendiri dengan bahan-bahan yang saat itu tersedia di kulkas Anda. Dengan kata lain, jangan muluk-muluk!

    Kalau Anda memang belum bisa pose-pose menantang, sebaiknya tahan dulu ambisi Anda berlatih pose-pose itu saat latihan rutin harian di rumah. Pose-pose menantang disarankan hanya dipraktikkan jika Anda berlatih di bawah pengawasan pengajar yang profesional karena risiko cederanya lebih tinggi daripada pose-pose atau asana yang bersifat simpel dan dasar (meskipun definisi ‘simpel dan dasar’ ini juga sebenarnya berbeda-beda setiap orang). Namun, jika Anda memang sudah di tahapan mahir (advanced), silakan saja latihan harian Anda diisi pose-pose menantang. Intinya, ketahui kemampuan kita sendiri.

    Poin penting lainnya yang patut diperhatikan dalam latihan rutin harian Anda ialah lakukan latihan pernapasan, postur-postur dan meditasi yang menurut Anda paling nyaman dan mudah dilakukan. Jika memang Anda kurang suka dengan sebuah pose, Anda boleh saja mengurangi intensitasnya tetapi tidak serta merta meninggalkannya (kecuali jika postur tersebut memicu cedera di bagian tubuh Anda yang sudah diketahui rentan).

    Di bawah ini saya jelaskan secara mendetail tentang FORMULA 644 yang bisa Anda terapkan dalam latihan harian asana yoga Anda.

    Formula 644 untuk Latihan Yoga Sendiri

    Sebetulnya istilah ini saya buat sendiri setelah saya membaca sebuah artikel soal home practice yang menyebutkan seorang pengajar yoga yang bernama Sage Roundtree. Ia memperkenalkan rumusan 642 dalam latihan hariannya. Ia menyebutkan bahwa idealnya di latihan harian itu kita mesti memasukkan:
    * 6 gerakan tulang belakang (spinal movements)
    * 4 gerakan untuk 4 bagian pinggul (pelvic movements)
    * 2 latihan otot batang tubuh (core muscles)

    Nah, dari rumusan Roundtree itu kemudian saya menambahkan 2 latihan otot batang tubuh (core muscles). Biasanya kita hanya melatih bagian depan (otot perut, karena kita banyak yang terobsesi dengan six pack) dan otot pinggang tapi otot perut samping (oblique) terlupakan. Padahal otot-otot perut samping ini juga perlu sekali dilatih kekuatan dan kelenturannya.

    Karena itu, saya modifikasi rumusan Roundtree di atas menjadi FORMULA 644 yang saya bisa rinci sebagai berikut:
    * 6 gerakan tulang belakang (spinal movements): menekuk ke depan (forward fold poses), menekuk ke belakang (back bend poses), menekuk ke samping (side bend poses) baik ke kanan dan kiri, lalu ditambahkan memuntir ke kanan dan ke kiri (twisting poses).
    * 4 gerakan untuk 4 bagian pinggul dan kaki (pelvic movements): ke depan, belakang, ke dalam dan luar.
    * 4 latihan otot batang tubuh (core muscles): perut (depan), pinggang (belakang), pinggang sisi kanan dan kiri.

    Berikut ini adalah beberapa contoh pose-pose yoga dari masing-masing kategori gerakan. Anda bisa melakukannya secara berurutan atau acak atau memilihnya sesuai kebutuhan dan kondisi. Sekali lagi, ini latihan pribadi Anda. Anda memiliki otoritas sepenuhnya untuk menentukan.
    Latihan bisa diawali dengan fase ‘centering’, artinya memusatkan badan, pikiran dan jiwa hanya pada latihan saat itu. Ini cukup dilakukan dengan mengambil napas dengan tenang dan dalam serta membuang napas dengan panjang. Seberapa tenang, dalam dan panjang? Pokoknya lebih dari napas biasanya. Bisa dihitung dengan ketukan atau cukup dirasakan saja.

    Untuk membuat badan lebih hangat, Anda bisa gunakan teknik pernapasan kapalabathi. Lakukan ini layaknya membuang ingus saat pilek. Dengusan hidung bisa dilakukan sembari menarik perut masuk ke arah pusar sehingga udara di paru-paru terdesak keluar. Berapa kali? Jika Anda sudah terbiasa, silakan lakukan 2-3 set, dengan satu set diulangi sebanyak 10 kali napas. Bagi yang belum pernah atau belum terbiasa atau memiliki kendala misalnya pusing, tekanan darah tinggi, dan sebagainya, tidak perlu lakukan dengan intensitas penuh atau ’ngoyo’. Semampunya saja.

    Tulang Belakang

    Untuk bagian tulang belakang, Anda bisa memulai dengan sekuen Cat and Cow (5-10 set napas). Gerakan ini menyiapkan tulang belakang secara menyeluruh (dari ujung tulang ekor sampai leher) sehingga sesuai untuk mempersiapkan tubuh beraktivitas di pagi hari. Berikut video Cat and Cow.

    https://www.youtube.com/watch?v=OAGO8Ybeawg

    Forward Fold

    Head to knee pose (Paschimottanasana)

    Standing big toe pose

    Butterfly pose

    Child’s pose

    Downward facing dog pose

    Extended puppy pose

    Janu sirsasana

    Standing intense side stretch

    Back Bend

     Sphinx pose

    Cobra pose (bhujangasana)

    Bow pose (dhanurasana)

    Bridge pose

    Camel pose

    Fish pose

    Royal pigeon pose

    Wheel pose (kayang)

    Side Bend

    Banana pose

    Gate pose (Parighasana)

    Extended triangle pose

    Reverse warrior

    Twisting Postures

    Half lord of the fish pose

    Marichi’s Pose, dan sejumlah variasinya (Marichyasana variations)

    Revolved head to knee pose

    Revolved side angle

    Revolved triangle

    Pinggul dan Kaki

    Paha Depan dan Belakang

    Chair pose (Utkatasana)

    Warrior pose (variasi 1 dan 2)

    Crescent pose (Anjaneyasana)

    Half split (ardha hanumanasana)

    Paha Dalam dan Luar

    Skandasana

    Kurmasana (cukup letakkan tangan di depan di antara dua kaki, dan jika kaki masih kaku, tekuk lutut sedikit sambil tegakkan badan)

    Standing balance variation (tree pose, utthita hasta padhangustasana)

    Core Muscles

    Abdomen (Depan)

    Lower plank

    Regular plank (palakhasana)

    Four limbed staff pose (Chatturanga Dandasana)

    Warrior pose, variation 3 (Virabhadrasana 3)

    Boat pose (Navasana) dan variasinya

    Pinggang (Belakang)

    Locust pose (Salabhasana)

    Bridge pose (Setu Bandha Sarvangasana)

    Pinggang Kanan dan Kiri

    Side boat pose

    Untuk menutup latihan, Anda bisa menambahkan sedikit pose inversi sederhana. Tidak seintens headstand, handstand atau pincha mayurasana tetapi ini setidaknya memberikan efek yang sama, namun risikonya lebih minimal bagi pelaku pemula. Dan tentu saja bagi Anda yang sudah bisa ketiga pose inversi tadi, silakan saja melakukannya beserta beragam variasinya.

    Karena itulah saya memilih melakukan pose-pose ini jika masih merasa di level pemula:
    * Dolphin pose
    * 3-legged dog

    [youtube https://www.youtube.com/watch?v=W9qEcTjmA78]

    Latihan Anda kemudian bisa ditutup dengan pose mayat atau Savasana. Berbaringlah dengan nyaman, kedua telapak tangan di samping pinggang dan dibuka ke atas (jangan menggenggam atau menelungkup, supaya bahu lebih rileks), dan buka kedua kaki dengan jarak sejauh pinggul. Jangan lupa lepaskan ikatan rambut atau jam tangan jika ada atau aksesori lain seperti gelang atau topi yang melekat di badan dan membuat badan terasa kencang dan tegang.

    Untuk penutup setelah savasana, Anda bisa juga melakukan pernapasan yang bersifat menenangkan dan merilekskan tubuh dan pikiran seperti Alternate Nostril Breathing, Sitkari atau Sithali. Dan jika masih ada waktu, jangan lupa untuk bermeditasi dalam hening sejenak. Silakan cari di YouTube untuk lebih detail.

    [youtube https://www.youtube.com/watch?v=8VwufJrUhic]

    Saya harap tulisan ini bisa membantu Anda yang ingin mulai beryoga di rumah atau ingin mulai kembali berdisiplin berlatih secara rutin setelah libur panjang dari yoga.

    Jika ada pertanyaan atau masukan, silakan tuliskan komentar di bawah tulisan ini. Salam yoga! Namaste. (*/)

  • Writer and Choo Sin Fook. (Photo: Personal doc.)

    Sebagai salah satu tokoh asuransi global, Choo Sin Fook memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan industri asuransi jiwa di Asia, termasuk Indonesia. Bersama FWD Life, Choo hendak mewujudkan visi besar perusahaan untuk “mengubah cara pandang masyarakat Indonesia tentang asuransi”. Dengan berbagai terobosan baru, ia berjuang mendobrak pasar asuransi agar bisa menjangkau lebih banyak orang.

    CHOO Sin Fook muda tak pernah membayangkan dirinya untuk menjadi seorang pebisnis andal. Ia bahkan belum tahu dirinya memiliki bakat kepemimpinan hingga suatu hari ditugasi oleh pembina Pramukanya untuk tampil di depan banyak orang. 

    “Saya harus berdiri membaca pidato sambutan di depan 700-an orang,” kenang pria ramah asal Malaysia ini saat ditemui tim Warta Ekonomi di Pacific Century Place, Jakarta, 22 Maret 2018 . Dari pengalaman itu ia tahu dirinya bisa berbicara untuk menggerakkan orang lain. “Sejak itu, saya lebih percaya diri untuk memimpin.”

    Inovasi

    Bergabung dengan bisnis asuransi jiwa dari bawah sejak 1986 sebagai sales trainer, Choo telah banyak makan asam garam dan memiliki kompetensi mumpuni untuk menjabat sebagai Dirut. Lulusan Simon Fraser University ini mengenyam pengalaman di banyak pasar asuransi Asia, dari Tiongkok hingga Indonesia. 

    Kehadirannya di FWD Life menjadi motor penggerak dalam memberikan pendekatan anyar di industri. Ia yakin bisnis asuransi harus berubah untuk menjawab tantangan zaman. “Belum ada perubahan signifikan sejak awal saya terjun,” ujar Choo. 

    Ia pun mempersembahkan perubahan inovatif di asuransi. “Karena saat Anda tidak membuat perubahan, bisnis akan stagnan,” tegas pemimpin yang rendah hati ini.

    Strategi 

    Dengan tingkat penetrasi asuransi yang masih di angka 2,9%, Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan sekaligus penuh tantangan. Ini karena dalam benak masyarakat, asuransi masih dianggap mahal dengan proses yang rumit. 

    Untuk mendobrak pasar, Choo terapkan strategi pendekatan bisnis berbeda. “Proses bisnis yang memakan banyak biaya dan ketidakpahaman akan manfaat asuransi membuat banyak orang enggan berasuransi. Asuransi perlu dibuat lebih terjangkau bagi masyarakat luas,” ucapnya. Sarannya yakni efisiensi biaya akuisisi nasabah baru dengan teknologi digital dan manfaat yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran nasabah.

    Teknologi digital dipandang Choo sebagai senjata pamungkas dalam upaya penetrasi pasar. Namun, diperlukan kesabaran untuk menuai hasilnya. “Perlu waktu agar nasabah terbiasa,” tandas pria dengan pengalaman 32 tahun di dunia asuransi ini.

    Keteladanan

    Sadar dirinya ialah pusat energi dalam perusahaan, Choo memberi keteladanan tentang kerendahan hati pada keluarga besar FWD Life. “Jika Anda rendah hati, staf Anda akan bersikap dan berperilaku sama,” terangnya. Ini akan terpancar saat mereka berhadapan dengan para nasabah.

    Resep keberhasilan kepemimpinan Choo ialah ramuan yang pas antara komunikasi, keberanian dan kemanusiaan. Pemimpin ideal bagi Choo harus bisa berkomunikasi dengan jelas, berani tetapi juga tetap sopan dan memperhatikan sisi manusiawi dalam mengambil keputusan penting.

    “Kalau Anda tidak bisa memimpin keluarga dengan baik, sulit bagi Anda untuk memimpin orang lain dengan baik.”

    CHOO yakin keluarga adalah satuan terkecil dalam masyarakat sehingga saat seseorang berhasil memimpin keluarganya dengan baik, peluang untuk menjadi pemimpin yang lebih baik di luar rumah juga makin tinggi. Pemahaman itu bisa dirunut dari teladan yang diberikan kedua orang tuanya yang mencari nafkah sebagai kontraktor listrik dan pekerja di pemerintahan.

    Agar tetap bersama keluarganya, saat harus pindah lokasi kerja, Choo memboyong mereka ikut serta. Namun, sekarang anak-anaknya tak lagi tinggal bersamanya di Jakarta atau di Kuala Lumpur. Kini kedua anaknya telah dewasa dan lulus dari perguruan tinggi. “Yang satu di jurusan Ilmu Politik, dan yang kedua di Bisnis.” 

    Choo merasa beruntung ditempatkan di Indonesia tempat ia dapat beradaptasi tanpa kesulitan berarti. Semua itu berkat pengalamannya tinggal di berbagai negara dan lingkungan multikultural.

    Saat tidak disibukkan dengan urusan kantor, Choo lebih suka duduk membaca buku. “Saya suka buku-buku bertema politik dan agama, sehingga saya bisa memahami bagaimana agama memengaruhi masyarakat,” tutur pria yang pernah menuntut ilmu di Vancouver, Kanada, itu panjang lebar. (*/)

    VERSI BAHASA INGGRIS

    CHOO SIN FOOK: THE INSURANCE STRATEGY INNOVATOR

    As one of global insurance figures, Choo Sin Fook has long experience in developing life insurance in Asia, including Indonesia. Along with FWD Life, Choo aspires to realize its vision of “changing Indonesians’ perspective towards insurance”. He is poised make breakthroughs in order to reach more people.

    YOUNG Choo Sin Fook never dreamed of becoming a top businessman. He was  unaware of his leadership aptitude until one day he was assigned by his scoutmaster to speak publicly.

    “I had to stand up in front of around 700 people,” recalled the friendly man from Malaysia when interviewed by Warta Ekonomi team at Pacific Century Place, Jakarta, March 22, 2018. He gradually learned that he could speak to influence others. “From that day on my confidence improved.”

    Innovation

    Having joined the life insurance business from the bottom rank since 1986 as a sales trainer, Choo has an extensive range of experience and thus proves competent as commander. The alumnus of Simon Fraser University has roamed many Asian markets, from China to Indonesia.

    At FWD Life, the headman serves as a driving force in giving a new approach in the industry. He is positive the insurance business is to adapt to answer any recent challenges. “There’s no significant change from the early days of my career,” Choo remarked.

    He also presents innovative changes in insurance. “Because when you make no changes, business will turn sluggish,” stated the humble leader.

    Strategies

    Given that insurance penetration rate is still at 2.9%, the country is a promising yet arduous market. It is because most people still asume insurance is unaffordable and involves a complex process.

    To create breakthrough in the market, Choo applies a distinct delivery strategy. “A costly business process and lack of insurance benefits understanding render people reluctant. Insurance must be made more affordable,” he quipped. He advised that new customer acquisition costs be curtailed with digital technology and benefits are customized based on needs and budget of each customer.

    Choo regarded digital technology as another ultimate weapon in the market penetration. However, it needs patience to reap results. “It takes time to make customers used to new changes,” said the man with 32-year experience in the industry.

    Models

    Cognizant of the fact that he is the center of the company, Choo serves as an example of humility at FWD Life. “If you’re humble, your staff would show same attitudes and behaviors,” he described. This would show when they deal with customers.

    Choo’s leadership success key is the apt combination of communication, courage and humanity. An ideal leader, to Choo, should be able to communicate clearly, be brave yet courteous and pay attention to humane aspects in taking key decisions.

    “If you can’t lead your family well, it’s hard for you to lead anyone else.”

    CHOO has faith in a family as the smallest of society so when one succeeds to lead his/ her family well, chances are s/he can lead better outside. Such a thesis can be rooted in examples shown by his parents who earned a living by working as an electrical engineer and government civil servant.

    To be with his family, when he has to move, Choo also takes his family with him. However, now his children no longer live with him either in Jakarta or Kuala Lumpur. They are adult and already graduated from universities. “The elder majored in Politics and the second Business.”

    He feels lucky to be positioned in Indonesia, where he can adapt without substantial issues. It is thanks to his experience of living in many countries and multicutural environments.

    Whenever he is off duty, Choo prefers cuddling up with a book. “I love politics and religion books, so I can comprehend how religions affect people,” elaborated Choo who once studied in Vancouver, Canada, on his preference. (*/)

  • Morten Vaupel, CEO Novo Nordisk Indonesia. (Foto: mexicobusinessnews.com)

    Di bawah komando Morten Vaupel, Novo Nordisk Indonesia bertransformasi dari perusahaan farmasi menjadi korporasi perawatan kesehatan. Simak bagaimana ia membantu Indonesia atasi epidemi diabetes. 

    BERKARYA selama 22 tahun di Novo Nordisk, Morten Vaupel ialah contoh nyata bagaimana kerja keras dalam memelihara kepercayaan berbuah manis. Tak pernah terbersit dalam benaknya menjadi CEO. Ia cuma fokus melakukan yang terbaik.  

    “Saya bahagia menjadi bagian dari perusahaan yang berguna bagi orang banyak,” kata pria Denmark itu saat ditemui tim Warta Ekonomi, 24 September 2018, di kantor pusat Novo Nordisk Indonesia (NNI), Jaksel.

    Menjaga Kepercayaan

    Menjadi pemimpin di negeri asing bukan masalah baginya. “Setelah berkarier 22 tahun di industri ini, Anda tahu apa yang Anda lakukan dalam bisnis sehingga bisa berfokus pada cara melakukannya dengan benar bersama orang-orang yang memahami budaya mereka,” tegas Vaupel yang merintis karier sebagai business analyst ini.

    Ia memaknai betul budaya dan etos kerja bangsa Skandinavia. “Kami menaruh kepercayaan tinggi pada Anda tetapi kepercayaan itu akan hilang bila tak dijaga,“ tutur lulusan Business Programs, International Institute for Management Development di Lausanne ini. Bila dipupuk, kepercayaan akan membuat seseorang lebih dipercaya mengembang tanggung jawab lebih besar.

    Merawat Kesehatan

    Ia menggagas Cities Changing Diabetes (CCD), kampanye untuk memerangi diabetes tipe 2 di Mexico City, 4 tahun lalu dan kini sudah merambah 17 kota di dunia, termasuk Jakarta.

    Berfokus pada penanganan diabetes, NNI menggandeng Pemda DKI untuk atasi epidemi diabetes tipe 2 yang mengintai masyarakat. “Cara hidup kaum urban kurang sehat sebab kurang aktivitas fisik, pola makan berbeda dan kurangnya kesadaran hidup sehat. Angka penderita diabetes di perkotaan 50% lebih tinggi dari perdesaan.” Ia menyoroti ada sekitar 10-12 juta orang Indonesia terkena diabetes dan mayoritas tak mendapat penanganan memadai. Padahal jika ditangani dengan benar, mereka bisa tetap produktif dan hal ini baik bagi individu dan masyarakat. Yang tak kalah penting yakni berbagai upaya pencegahan.

    Vaupel mengapresiasi program Jaminan Kesehatan Nasional yang digulirkan Pemerintah. “Ini langkah yang sangat mengesankan. Tak pernah saya dengar ada negara lain yang membuka akses layanan kesehatan dan pengobatan bagi 250 juta jiwa dalam 5 tahun saja,“ puji mantan GM di Hungaria dan Meksiko itu.

    Dalam 3 tahun ke depan, ia ingin melipatgandakan penjualan di Indonesia. “Tahun lalu kami coba menggandakan skala perusahaan dan bisnisnya dalam 3 tahun. Kini kami sudah setengah jalan menuju ke target tersebut,” ujar Vaupel.Setelah 90 tahun beroperasi, NNI ingin berbuat lebih. “Kami tak lagi menyebut diri sebagai perusahaan farmasi, tetapi perusahaan perawat kesehatan. Karena tujuan kami sekarang untuk membuat orang-orang lebih sehat,” jelas Vaupel yang lancar dalam 3 bahasa ini. Ini terbukti dengan keterlibatan aktif NNI dalam pencegahan, edukasi masyarakat, akademisi dan praktisi kesehatan soal diabetes.

    “Bekerja di perusahaan yang sangat memperhatikan cara hidup sehat berpengaruh terhadap gaya hidup saya.”

    Vaupel mengaku sarapannya yogurt dan buah-buahan. Kantor Novo Nordisk di Jakarta menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan dan buah dan sayur segar sebagai bagian menu harian.

    Selain pola hidup sehat dan seimbang, musik selalu menjadi bagian dari hidupnya pria yang terlahir di keluarga pebisnis dan seniman itu. Ibunya seorang penyanyi opera tersohor dan adiknya seorang aktris yang cukup dikenal di negeri asalnya. Sang CEO di masa belianya  sangat menggemari penyanyi Prince dan Genesis. “Seiring bertambahnya usia, selera musik saya berubah ke jazz,” ungkap ayah dua orang putri ini. Di Indonesia, ia sengaja meluangkan waktu untuk menikmati event tahunan Java Jazz Festival. Ia memuji kualitas penyelenggaraan dan para penyanyi yang ditampilkan dalam acara tersebut.

    Selain musik, Vaupel menemukan ‘oasenya’ dengan berolahraga. Tiap pagi, ia sempatkan lari pagi 5 km. Dua kali seminggu ia berolahraga bersama pelatih pribadi dan bermain golf. Bersama keluarga, ia juga menekuni hobi menyelam. Bahkan ia dan sekeluarganya sudah mengambil sertifikasi menyelam di Bunaken. Bermodal sertifikat itu, ia siap menjelajahi banyak lokasi menyelam yang menarik. (*/)

    ENGLISH VERSION

    Morten Vaupel: The Chief Wellness Officer

    Under the leadership of Morten Vaupel, Novo Nordisk Indonesia transforms from a pharmaceutical company to a healthcare one. Read on to learn how he helps Indonesia tackle the diabetes epidemic.

    HAVING worked for 22 years for Novo Nordisk, Morten Vaupel is an exemplary figure of how working hard to maintain trust eventually bears the sweetest fruits. He never had a single thought of becoming a CEO. He only focuses on doing his best.

    “I’m glad to be part of a company offering strong values to others,” the Danish man told Warta Ekonomi team on September 24, 2018, at Novo Nordisk Indonesia (NNI) headquarters, South Jakarta.

    Taking Care of Trust

    As a leader in a foreign country is no big problem to him. “When you’ve had a 22-year career in the industry, you’ll know what to do in the business so you can focus on how to do it right with the people understanding their culture,” stated Vaupel who started his career as a business analyst.
     

    He truly reflects the culture and work ethos of Scandinavian people. “We have high trust in you but you may lose it unless you take care of it,” remarked the alumnus of International Institute for Management Development, Lausanne. If well maintained, he is certain that trust would let him handle bigger responsibility.

    Maintaining Health

    Four years ago, he initiated Cities Changing Diabetes (CCD), a campaign to overcome type 2 diabetes in Mexico City. By now, he campaign has reached 17 cities all over the globe, including Jakarta.

    Focusing on diabetes treatment, NNI collaborates with Jakarta City Province Government to tackle type 2 diabetes epidemic in the capital. “The unhealthy lifestyle of urban people is due to lack of physical activity, different eating habits and low awareness of healthy life need. The number of diabetes cases in urban areas is around 50% higher than one in countryside.” He underlined the fact that about 10-12 million Indonesians are diabetics and most are not aware and not properly treated. In fact, with proper treatment, they can stay productive, which is good for individuals and the society. What also matters is various preventive measures.

    Vaupel praised the National Healthcare Program (JKN) that the government has launched. “That’s very impressive! Never did I hear any other countries providing healthcare to 250 million citizens in just 5 years,” lauded the former general manager of Hungary and Mexico.

    In the next 3 years, Vaupel plans to boost the company’s sales in Indonesia. “Last year we agreed to create an ambition to double the scale of company and its business in 3 years. We’re now 1.5 years in, and half way to the target,” spoke Vaupel. 

    After more than 90 years of operation, NNI aspires more. “We do not call ourselves a pharmaceutical company, but a healthcare company, as we aim to improve people’s health,” explained Vaupel who speaks 3 languages fluently. The involvement of NNI in the prevention and education of public, academicians, and health practitioners on diabetes proves it.

    Working in a company that pays much attention to healthy lifestyles affects my lifestyle, too.”

    Vaupel said he has yogurt and fruits as his breakfast. Novo Nordisk’s office in Jakarta also provides a health check-up service. People there are also encouraged to consume fresh vegetables and fruits as daily menu.

    Besides the healthy and balanced lifestyle, Vaupel who was born in a family of businessmen and artists has always seen music as an essential part of his life. His mother is a celebrated opera singer; while his sister is quite a renowned actress in their homeland. In his younger days, the CEO was a huge fan of Prince and Genesis. “As I grow older, my taste of music turns to jazz,” the father of two daughters admitted. In Indonesia, he makes time to go to the annually held music festivity, Java Jazz Festival. He admires the quality and all of the singers performing on stage.

    Aside from music, he finds his ‘oases’ in sports. Every morning, he jogs for 5 kilometers. Twice a week, he works out with a personal trainer and plays golf. With the family, he also learns to dive as a hobbyist. They are now certified divers after taking the course in Bunaken. With the skills, he is set to explore many more attractive diving spots in Indonesia. (*/)

  • Writer and Jun de Dios. (Photo: Personal document)

    Behind the glory of AkzoNobel Decorative Paints Indonesia (PT ICI Paints Indonesia) in the paint market for these recent years is Jun de Dios. He desires to achieve more and keeps on expanding to ‘color’ the country. 

    PAINT for Jun de Dios is more than a mere coating to beautify buildings. “When people want to be inspired, they turn to colors,” said the commander in chief of AkzoNobel Decorative Paints Indonesia to Warta Ekonomi team in an interview at Titan Center, South Tangerang, March 27, 2018.

    Jun has a great deal of experience not only in the paint industry. Prior to this, he has vast experience in sales and marketing in the FMCG and nutrition industries. His career soared. “In my mid-thirties, I was designated as general manager,” he recalled.

    Responsiveness

    For 20 years, he had worked around Southeast Asia. In 2013, Jun was appointed by AkzoNobel to strengthen the brand’s position as the top-of-mind brand in Indonesia.

    Jun is impressed by Indonesians’ openness, hospitality, and perseverance. “They’re patient and strong-willed. Despite many challenges, they keep on striving.” Indonesia also surprises him in another way. “Back then I thought doing business here was slow. But I was wrong.”

    Indonesia holds enormous opportunities as a result of its size. Combined with the tendency of Indonesians to repaint their homes every 2-4 years, the future business growth of the company is bright.

    The manufacturer of Dulux paints continues to succeed. They cooperate with experts; such as interior designers, architects and other stakeholders, to keep them updated on industry trends and ensure to be ahead of their customers’ needs. Aware that people are increasingly adept at technology, AkzoNobel adopts digital technology and social media in the strategy of winning the hearts of Indonesian customers.

    Domination

    Jun brings Dulux to the peak. Accolades such as Top Brand Award prove its products are preferred by the consumers, thanks to the strong brand campaigns, high quality and eco-certified products. He continues to expand in another two categories this year, which are waterproof and metal care. 

    Safety is one of his key priorities and prominent achievement, too. In fact, AkzoNobel recorded zero accident rate in the last 7 years.

    Environmental preservation is also another priority. With green certifications, AkzoNobel is one of the top companies on the Dow Jones Sustainability Indexes. With its commitment to Health, Safety, Environment and Security; and sustainable development, the Amsterdam-based company obtained ISO 9001, ISO 140001 and Singapore Green Label. It is also one of the founding members of Green Building Council Indonesia and Green Product Council Indonesia.

    All are courtesy to his visionary, participative and situational leadership. He involves all elements to develop strategies and leads flexibly based on situations and individuals.

    For Dulux to stay the best in the future, Jun continuously comes up with new strategies. “We see consumers as the center of our endeavors,” he ended.

    A Poet Inside

    “I had this idea of becoming CEO in 1988 after having read Stephen Covey’s ‘7 Habits of Highly Effective People’.” 

    JUN mentioned the inspirational book, claiming it has greatly affected his character and leadership at work. His ambition of working at a large multinational company and being able to travel overseas as CEO has now come true. All is thanks to the inspirational book.

    In addition to his incessant business workload, Jun has had a hobby that only very few people know. “Just recently I have begun writing poems again after a long hiatus.” He admitted that he often spends his spare time by writing poems whenever he has to wait for flights as he is now a businessman who is required to travel a lot for work.

    Apart from the poem writing, he found his obsession with words in books. “I love reading books, both paper and digital ones,” said the alumnus of Ateneo de Manila University, one of the most prestigious business universities in his country of origin. The leader who also likes playing golf is not picky when choosing the books. He reads a great variety, from fiction to business and everything in between. (*/)

  • Writer and Peter van Zyl (Photo: Personal doc)

    Allianz Utama Indonesia is in the course of transforming into a trusted insurance company in digital services in Indonesia. Peter van Zyl is committed to leading the company to the top in the highly potential retail sector.

    Having entered the Indonesian insurance market since 28 years ago, Allianz Utama Indonesia began as a representative office and has been thriving with 7 branch offices and 22 marketing offices throughout the archipelago. This year it starts aiming at the country’s retail sector and simultaneously strengthens  its hold over the commercial sector which is the largest contributor to its revenue.

    “Our business model is changing this year,” President Director Peter Van Zyl explained to Warta Ekonomi team at Allianz Tower, Jakarta, on February 23, 2018. He believes there is still a lot of untapped potential in the retail sector. Indonesia’s economic growth is the fourth fastest in the world with a 250-million population and a relatively low insurance penetration level. Now there are 55 million skilled workers having disposable incomes. To capture the opportunities, it teams up with the best players in diverse industries to provide solutions for customers.

    Digitalization

    The journey towards a digital-based insurance company is not easy and brings large impacts. “I realize in this transformation process we can’t please everyone. But to survive in the industry, courage to change is one of the keys to survival in the industry. We must show our ability and courage to achieve goals,” he elaborated on the significance of  transformation.

    To support the processes, the company’s human resources are provided with various technical and non-technical skills enhancement trainings. “They must be prepared to cope with the dynamics of insurance industry and the world,” he stressed.

    Big data is also crucial in the sustainable transformation agenda towards the goal of becoming the market leader in Indonesia and Asia. He predicted there will be a surge of demands in the retail sector in the next 1-2 years. “When that day comes, we’re ready to serve a wider range of customers as their satisfaction matters most to us.”

    Besides satisfaction, trust is of the essence. “We’re continuously striving to become an insurance company with a zero tolerance level against fraud and the best in customer protection.”

    Inclusivity

    Under his leadership, Allianz Utama has received a number of prestigious awards. “However, my highest personal achievement is when watching people work happily in the company,” he said.

    All this is achieved thanks to inclusivity. One of the inclusivity realizations is the open door policy that allows employees to discuss with him in person or to ask for direction anytime. 

    “What I like about Indonesian culture is a strong sense of kinship and good interpersonal relationships.” That is what he applies in his interactions with customers and business partners. “We need to listen to their feedbacks to know their needs and develop suitable products and services,” Peter concluded.

    PETER elaborated on how he creates an inclusive workplace for his staff, which he finds vital for the company’s sustainability.

    As a sport hobbyist, he takes part in various sports in which his employees also participate. “I used to play rugby and other athletic sports” said he. Unfortunately, due to injuries, Peter had to find another sport. “I play golf these days,” stated the man who passes on the passion of sport to his children as he supposes sports can hone one’s leadership.

    His biggest motivation to work is not for the sake of his own attainment. “The motivation to achieve the best at work every single day is my family,” he spoke while casting a fatherly glance at his sons’ photographs.

    In his spare time, this friendly man brings his family to private and corporate social events to remind his children of the fact that there are still many others in dire need of help.

    Prior to moving to Jakarta, his family had lived in Singapore for 11 years. “I love Indonesia because it enables us to learn a lot and fight for something,” he asserted. (*/)

    VERSI BAHASA INDONESIA

    Allianz Utama Indonesia dalam perjalanan bertransformasi menjadi perusahaan asuransi tepercaya dalam layanan digital di Indonesia. Peter van Zyl bertekad menjadikannya sebagai yang terdepan, terutama di sektor ritel.

    Memasuki  pasar Asuransi Indonesia sejak 28 tahun lalu, Allianz Utama Indonesia kini telah menjadi sebuah perusahaan persero terbatas yang menyediakan solusi asuransi umum komprehensif, mencakup asuransi kendaraan, properti,  perjalanan, tanggung jawab pihak ketiga, dan masih banyak lagi.  berawal dari kantor representatif dan berkembang pesat hingga kini telah memiliki 7 kantor cabang dan 22 kantor pemasaran  di seluruh Indonesia, dari pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali hingga Sulawesi. 

    Di tahun 2018, Allianz Utama Indonesia mulai membidik sektor ritel, dengan tetap memperkuat sektor komersial yang menjadi kontributor terbesar pendapatan.“Model bisnis kami berubah tahun ini,” ucap sang Presiden Direktur, Peter van Zyl, pada tim Warta Ekonomi di Allianz Tower, Jakarta, pada 23 Februari 2018. Menurut beliau, masih banyak potensi tersimpan di sektor ritel yang belum tersentuh, sehingga sektor ini cukup menjanjikan untuk bisnis asuransi umum.

    Digitalisasi

    Perjalanan Allianz Utama Indonesia untuk menjadi perusahaan asuransi yang berbasis digital tidaklah mudah. Proses transformasi yang harus dilewati tentunya menimbulkan efek yang beragam bagi setiap pemangku kepentingan.  

    Dalam upaya mewujudkan visi, misi dan proses transformasi perusahaan, pria kelahiran Afrika Selatan ini menyadari akan pro dan kontra dalam perjalanannya. Karena itu beliau sebagai pemimpin perusahaan, memberikan pengarahan dan penjelasan menyeluruh mengenai  mengapa Allianz Utama harus bertransformasi. 

    “Saya sadar bahwa, dalam proses transformasi ini  kita tidak dapat memuaskan semua pihak.  Namun Untuk bertahan di industri, berani berubah adalah salah satu kuncinya. Caranya dengan meyakinkan bahwa kami mampu dan berani mewujudkan tujuan,” ujarnya. 

    Untuk menunjang proses tersebut, SDM dibekali dengan beragam pelatihan dalam meningkatkan keahlian teknis dan non teknis. “SDM kami harus siap hadapi dinamika industri asuransi dan dunia,” tegasnya. 

    Penerapan big data juga bagian krusial dalam agenda transformasi berkelanjutan menuju perusahaan asuransi digital terdepan, baik di Indonesia dan Asia. Peter memprediksi akan ada permintaan tinggi di sektor ritel dalam 1-2 tahun ke depan. Dan bila saat itu tiba, kami telah siap melayani nasabah yang lebih luas lagi. Bagi kami yang terpenting adalah kepuasan dan kepercayaan nasabah karena itu adalah komitmen kami.”

    Inklusivitas

    Di bawah kepemimpinan Peter, Allianz Utama sukses meraih sejumlah penghargaan bergengsi. “Namun, prestasi pribadi tertinggi saya yaitu saat menyaksikan orang bekerja dengan perasaan bahagia di perusahaan ini,” tuturnya.

    Semua itu tercapai berkat inklusivitas yang ia terapkan. Salah satu wujud nyata inklusivitas tersebut yakni open door policy, yang memungkinkan karyawan datang ke ruangannya kapan pun untuk berdiskusi atau saat membutuhkan arahan.

    “Yang saya suka dengan budaya di Indonesia adalah rasa kekeluargaan yang kental dan hubungan interpersonal yang baik.” Semangat kekeluargaan ini pula yang Peter terapkan dalam berhubungan dengan nasabah atau mitra bisnis. “Kami perlu mendengar masukan agar tahu kebutuhan mereka dan mengembangkan produk dan layanan yang sesuai,” pungkas Peter.

    “Kami bermain futsal, makan dan berkaraoke bersama agar mereka tahu pemimpin juga manusia.”

    PETER merinci bagaimana dirinya menciptakan lingkungan yang inklusif kepada jajarannya, yang menurutnya penting bagi keberlangsungan perusahaan.

    Sebagai orang yang hobi berolahraga, ia ikut serta dalam berbagai kegiatan olahraga karyawan. “Saya dulu bermain rugby dan olahraga atletik lain,” ujarnya. Sayangnya, akibat cedera yang dialaminya beberapa waktu lalu, Peter harus mengganti jenis olahraganya. “Saya pilih golf sekarang,” ungkap pria yang mewariskan kecintaan pada olahraga kepada buah.

    Motivasi terbesar Peter dalam berkarya bukanlah demi pencapaian pribadinya. “Motivasi saya untuk bekerja sebaik mungkin tiap hari ialah keluarga saya,” ujarnya sambil melirik foto anak-anaknya dengan tatapan hangat seorang ayah. 

     Bila ada waktu, beliau menyempatkan diri untuk mengajak keluarga ke acara-acara sosial, baik yang diadakan oleh perusahaan, maupun pribadi, untuk mengingatkan anak-anaknya bahwa masih banyak orang lain di luar sana yang membutuhkan bantuan. (*/)

  • Selama beberapa minggu terakhir, Anggaran Tenaris tahun 2018-2019 sudah dirampungkan dan telah didiskusikan dalam rapat TEC (Tenaris Executive Committee) di Buenos Aires tanggal 10 Juli lalu. Ini merupakan hasil kerja yang sempurna dari semua area, yang meski memuat banyak tuntutan dan bersifat mendesak, saya harap sasaran-sasaran kualitatif dan kuantitatif bisa diraih di tahun depan: di bidang sales, operasi di pabrik-pabrik, dan bidang supply chain. Kinerja sistem industrial dan rantai pasokan dianggap vital untuk meningkatkan indikator-indikator mengenai keselamatan, kepatuhan, dan layanan konsumen.

    Di tahun anggaran berikutnya, sedang direncanakan penambahan investasi untuk Research & Development (R&D) atau penelitian dan pengembangan berbagai produk dan proses, salah satu bidang terpenting dan menjadikan Tenaris berbeda dari pesaing-pesaingnya.

    Lebih dari 300 profesional andal bekerja di bagian R&D di seluruh dunia, berkomitmen untuk melahirkan inovasi. Dalam hal pengembangan produk, aktivitas-aktivitas yang dijalankan mencakup semua segmen yang relevan di pasar kita, mulai dari OCTG hingga Line Pipe, dari produk-produk untuk industri otomotif hingga pembangkit tenaga listrik, serta Sucker Rods dan Coiled Tubes. Sementara itu, terkait pengembangan proses, setiap tahapan pokok menjadi perhatian kita, mulai dari metallurgy hingga rolling, dari non-destructive controls hingga threading dan heat treatment. Anggaran yang ditetapkan untuk aktivitas-aktivitas tersebut di tahun ini akan melebihi 50 juta dolar AS.

    Berbagai capaian pun sudah diraih dalam beberapa tahun terakhir. Pengembangan teknologi Wedge, dengan diperkenalkannya sambungan Wedge XP® 2.0 untuk permintaan torsi besar di shales, sambungan Wedge 623® dan Wedge 623® RW untuk aplikasi di deep-water, pengembangan Blue® Series dan konektor Weld-On BlueDock®, kemajuan dalam teknologi Dopeless®, memungkinkan kita memenangkan kontrak-kontrak dengan sejumlah operator besar, termasuk Exxon (Liza), Chevron (Tengiz), BP (di Teluk Meksiko), Maersk (Culzean), dan ENI (Zohr).

    Setiap perkembangan yang dirancang untuk shales, produk-produk premium dan semi-premium dengan diameter hingga 7”, merupakan hasil kerja sama yang sangat efektif antara tim Technical Sales dan R&D, sehingga berhasil melengkapi perubahan-perubahan yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan minyak E&P (Eksplorasi & Produksi) dan berperan besar dalam positioning kita di Amerika Utara dan Argentina.

    Dalam hal R&D terkait proses-proses, saya ingin menyoroti kemajuan yang dicapai dalam teknologi kendali non-destructive. Pemeriksaan elektromagnetik menyeluruh, pemeriksaan visual baik internal dan eksternal, pemeriksaan otomatis atas coupling dan komponen-komponen: implementasi secara bertahap atas semua teknologi ini di semua pabrik akan membedakan kita dari para pesaing, menurunkan biaya, dan meningkatkan kualitas pekerjaan di setiap lini.

    Dalam hal teknologi rolling, kita memperkenalkan sistem cerdas untuk mengendalikan dan memberi respon dengan seketika ke dalam proses, dan menganalisi variabel-variabel kunci dengan Big Data. Tidak diragukan lagi, kita mempunyai peluang besar dalam penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence), tidak hanya dalam proses-proses di pabrik tapi juga dimungkinkan dalam proses-proses administratif, perencanaan, dan penjadwalan produksi.

    Kegiatan R&D membutuhkan pertahanan ketat atas hak atas kekayaan intelektual (HKI) milik kita: segala inovasi yang dibuat memiliki nilai besar dan harus dilindungi dengan prosedur-prosedur ketat, dijaga dengan keamanan informasi dan proses administratif dan perlindungan hukum yang semuanya menjadi unsur penting dalam investasi R&D.

    Fakta bahwa kita telah mempertahankan aliran investasi yang konstan dan relavan di proyek-proyek R&D dan sumber daya manusia, bahkan melalui krisis yang menimpa, telah membedakan kita dari para pesaing dan menempatkan kita sebagai mitra perusahaan-perusahaan yang memerlukan dukungan, kolaborasi, dan komitmen berinovasi.

    Hormat saya,

    Paolo Rocca

  • Pebisnis berpengalaman kelahiran Belgia ini memiliki bakat dalam mengubah pola pikir. Marc Louette mampu menyelaraskan sikap dan pola pemikiran dengan tujuan organisasinya. Ia membawa kita ke perjalanannya dari Aceh hingga Maluku, memperlebar sayap bisnis dengan tetap mengutamakan kualitas. 

    Sebelumnya didaulat sebagai Wakil Dirut Sampoerna Agro Tbk. sejak 2012, Marc Louette tak asing lagi dengan bisnis perkebunan. Ia pernah mengisi posisi Direktur Pelaksana Asian Agri Group dan Direktur Perkebunan Socfin Group sebelum bergabung ke Sampoerna Agro. 

    Sebagai pemimpin bisnis dengan pengalaman 25 tahun di bidangnya, ia memiliki banyak tugas untuk dirampungkan. “Saya memainkan peran mentor dalam merombak pola pikir SDM perusahaan. Saya singkirkan kebiasaan-kebiasaan yang kontraproduktif,” ungkapnya pada tim Warta Ekonomi pada 20 Februari 2018 di Gedung Sampoerna Strategic, Jakarta.

    Dorong Transparansi

    Ia ambil contoh budaya ‘asal bapak senang’. “Orang membuat laporan palsu pada atasan untuk membuat mereka senang. Kami harus rombak ini,” tegasnya. Dan ia menumbuhkan budaya transparansi dari dirinya sendiri dengan menerima masukan dari para pegawai. Ia juga menyambut baik bila pegawai mengkritisi atasan demi kemajuan perusahaan. Awalnya memang mengejutkan tetapi mereka kini sudah terbiasa.

     “Sangat penting bagi saya untuk belajar bahasa dan budaya karena dengan begitu saya lebih mudah tinggal dan berbisnis di sini.”

    Kata Louette yang meraih gelar Master dalam Ilmu Administrasi Bisnis (2004) dari University of Antwerp dan dalam Ilmu Pertanian (1988) dari KU Leuven. 

    Sebelum diangkat sebagai Dirut Sampoerna Agro Tbk. di tahun 2017, Louette telah banyak mengenal budaya dan masyarakat Indonesia. Ia datang ke sini 27 tahun lalu dan tidak menunda untuk ikut serta dalam kursus bahasa Indonesia intensif selama 6 pekan. 

    Gemar Bertualang

    Dengan penguasaan bahasanya yang baik, ia tidak menghadapi kendala besar dalam berkomunikasi saat harus menghadiri rapat dalam bahasa Indonesia. Louette dapat menjelajahi banyak kota di Indonesia dengan lebih bebas. “Saya telah berkunjung ke banyak kota dari Maluku sampai Aceh,” tuturnya sambil menggali ingatan. 

    Di luar kesibukan pekerjaan, ia menaruh perhatian besar pada masalah sosial. Saat banyak orang hanya tertarik pada Bali sebagai tujuan wisata yang terjangkau dan indah, ia tidak mengabaikan masalah sosial yang ada di pulau dewata tersebut. Pria ini mendukung Yayasan CIMD yang memberikan dukungan bagi anak-anak kurang beruntung untuk mendapatkan akses baik dalam bidang pendidikan yang lebih baik untuk masa depan mereka dan menciptakan kesempatan bagi mereka. (*/)

Verified by MonsterInsights