• Mindaugas Trumpaitis yakin dengan business wisdom dan pentingnya mendengar lebih banyak. (Foto: kompas.com)

    Ia pernah bekerja di Slovenia, Latvia, Swiss, Finlandia, Meksiko dan bertanggung jawab untuk Ekuador dan Peru. Atasannya berkata cukup dengan Amerika Latin, Eropa, dan ia dikirimkan untuk bertugas ke Asia. Itulah bagaimana ia bisa sampai ke Indonesia. 

    Setiap pasar dan negara memiliki daya tarik dan tantangannya masing-masing. ia pergi ke Meksiko, tantangannya keamanan, masalah daya beli, aturan, dan sebagainya. ke Ekuador, ada kedikdatoran. Kanada memiliki aturan yang ketat bagi industri tembakau. setiap bagian perjalanan tersebut memberikan padanya pelajaran yang berbeda-beda. Sulit baginya memilih.

    Baginya, kepemimpinan ialah bagaimana menggali potensi terbaik dalam diri masing-masing orang dalam naungannya sebagai pimpinan bisnis. Tugas pemimpin ialah menemukan bakat itu dalam diri pegawai untuk memastikan bahwa potensi tadi bisa dimaksimalkan sebaik-baiknya.  

    Ia memiliki tujuan besar bagi perusahaan yang dikendalikannya. Sebagai pemimpin pasar (1/3 keseluruhan pangsa pasar di Indonesia), perusahaan ingin agar pangsa pasarnya makin besar. Artinya, pangsa pasar itu bisa dua kali lipat dari pencapaian saat ini. Secara umum, tujuannya ialah mempertahankan prestasi dan nama besar Sampoerna yang tahun ini merayakan dirgahayunya yang ke-104 kali. Ia ingin memastikan bahwa perusahaan akan tetap dapat tumbuh pesat dan bertumbuh kuat di masa kini dan masa datang.

    Tolok ukur yang dipakai dalam bekerja ada bermacam-macam. peningkatan pangsa pasar, profitabilitas, peningkatan kapabilitas SDM. Setiap pasar memiliki keunikannya masing-masing dan sulit untuk memilihnya. Saat ia memimpin Meksiko, hal yang paling membanggakan baginya ialah saat ia diangkat untuk posisi yang lebih tinggi, ia menyaksikan para bawahannya di tim manajemen dipromosikan juga ke posisi lain. Dan melihat orang berkembang lebih baik ialah suatu hal membanggakan baginya sebagai pemimpin bisnis. Dengan dikirimnya ia ke Asia, orang-orang di bawahnya juga mendapatkan ruang untuk bertumbuh kembang. Mereka bisa mencapai posisi yang lebih tinggi (promosi)  dan di sinilah kesempatan bagi mereka untuk berkembang.

    Dalam hal menahkodai bisnis, ia memiliki konsepnya sendiri. Lebih sedikit berbicara dan lebih banyak mendengar, itulah yang ia yakini mengenai business wisdom. Namun, ia memimpin dengan memegang teguh konsep mendengarkan lebih banyak. “Tiap manusia memiliki 2 telinga dan satu mulut,” tegasnya.

    Sebagai pemimpin, ia memiliki kerendahan hati untuk banyak belajar ke orang-orang di sekelilingnya. Saat ia masuk ke pasar baru misalnya, ia tidak berpura-pura untuk sok tahu. Ia menganjurkan untuk mendengar dan belajar, untuk kemudian hasilnya diolah dan diberikan perspektif dari pemikirannya. Yang terpenting ialah kita mau mendengarkan saran orang di pasar yang kita bidik. Sejarah dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat yang menjadi bagian dari pasar menjadi bagian mutlak.

    Karena ia bekerja di Sampoerna, filosofi kerja yang ia anut juga adalah yang diterapkan oleh Sampoerna. Ini semua soal konsumen yang membeli produk kami. Kewajiban kami ialah mempersembahkan produk terbaik bagi mereka yang ada di Indonesia. Para pegawai dan mitra bisnis juga menjadi prioritas utama dalam setiap langkah Sampoerna. Masyarakat umum juga tidak lupa menjadi prioritas perusahaan. Sampoerna sadar sepoenuhnya bahwa perusahaan bergerak dan menjadi bagian dari masyarakat pula.

    Mindaugas memiliki apresiasi tinggi terhadap nilai-nilai masyarakat Indonesia yang selarasa dengan nilai-nilai perusahaan dan bisnis, terutama persatuan dalam kemajemukan (bhineka tunggal ika). Kami semua berbeda dalam banyak hal. Setiap orang memiliki perbedaan tapi tetap bersatu padu. Nilai lain yang ia sangat sukai ialah solidaritas. Dengan melangkah bersama, ia yakin kita akan mencapai dan merealisasikan lebih banyak hal. Ia selalu memegang teguh peribahasa “jika Anda ingin sampai dengan cepat, pergilah sendiri. Jika Anda ingin berjalan jauh, pergilah bersama-sama.” Inilah nilai yang ia yakini juga bisa diterapkan di Sampoerna karena perusahaan juga sebuah organisasi yang tersusun dari banyak individu berbeda.

    Orang dan budaya Indonesia memukau Mindaugas. Sejak menginjakkan kaki di negeri ini sekitar enam bulan lalu, ia sudah banyak menjelajahi berbagai wilayah Indonesia dari utara ke selatan, barat ke timur. Papua, Lampung, Palembang, Padang, Bali, Yogyakarta, Surabaya, ialah beberapa kota yang ia pernah sambangi. Setiap tempat itu memiliki keunikan sendiri. Pulau Sumba memiliki tempat tersendiri dalam hatinya. “Sumba tempat terindah dalam hal lingkungan dan masyarakatnya.

    Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki talenta tersendiri. Sebagai pemimpin, ia merasa harus membantu orang-orang di bawah naungannya untuk bisa menemukan dan menggali talenta itu secara maksimal sehingga perusahaan dapat memberikan posisi yang sesuai bagi setiap orang di dalamnya agar pada gilirannya mereka dapat memberikan hasil yang lebih maksimal. Sebanyak 9.200 orang lebih yang bekerja di Sampoerna adalah pekerja bertalenta, demikian ia yakini. 

    Saat masih kecil, Mindaugas tidak pernah membayangkan dirinya sebagai seorang pemimpin bisnis di sebuah korporasi global seperti sekarang. Namun, ia sudah dari dulu menyukai tantangan. Ia bercita-cita sebagai guru saat dewasa. Seperti anak-anak lain, ia juga sempat tertarik ke beragam cita-cita misalnya menjadi pemadam kebakaran yang heroik dan atlet yang dikagumi banyak orang. Menjadi pebisnis jauh dari imajinasi masa kecilnya. Dan memang sebelum ia bergabung di Philip Morris, Mindaugas mengajar dan ia melakukannya dengan sepenuh hati. Sebagai pengajar, ia juga bisa belajar banyak dari mahasiswa. Baginya, gelar atau jabatan bukan segala-galanya. Tantangan dan peluang, dua sisi dalam sekeping mata uang, adalah hal yang ia percaya memiliki nilai yang jauh lebih tinggi.

    Ia lahir di Lithuania, sebuah wilayah yang dahulu diduduki oleh Uni Soviet. Di masa mudanya, Lithuania bukanlah wilayah yang merdeka sehingga mobilitas rakyatnya sangat terbatas. Warganya hanya bisa bepergian di wilayah Uni Soviet. Mindaugas muda harus menunggu hingga usia remaja untuk bisa menyaksikan runtuhnya Uni Soviet dan terbebasnya negerinya itu dari cengkeraman negara besar tadi.

    Dengan melihat terbukanya jalur untuk keluar, Mindaugas pun tergerak untuk mengadu nasib dan belajar di tanah asing, meninggalkan negeri asalnya. Sekali lagi, ia pergi karena terdorong oleh tantangan. 

    Ia menemukan keasyikan dalam menjadi seorang pebisnis. “Mirip dengan bermain catur. Anda memiliki tantangan bisnis dan harus menyusun strategi dengan selalu memperhatikan lawan yang juga kuat. Anda harus berpikir jauh lebih ke depan daripada dia agar menang.” Itulah yang ada dalam pikirannya di pasar yang makin kompetitif saat ini.

    Mindaugas selalu menganggap manusia sebagai elemen penting kesuksesan sebuah bisnis. Ia selalu tergerak untuk mencari cara memberikan inspirasi pada orang-orang yang ia pimpin. Hal ini memang tidak pernah mudah karena di Sampoerna ia harus menghadapi ribuan orang yang memiliki berbagai macam tujuan dan pandangan dalam hidup. Bagaimana bisa memotivasi dan menggerakkan mereka menuju ke satu tujuan? Inilah yang menjadi konsentrasinya dalam memimpin Sampoerna.

    Nilai kemajemukan penting tetapi yang tidak kalah penting ialah inklusi. Ia selalu memikirkan bagaimana semua elemen dalam perusahaan bisa diajak berdiskusi bersama. Di sinilah ia menganggap penting nilai dan budaya perusahaan, yang dapat digunakan untuk menjadi pijakan bagi dialog yang lebih hangat. Mengajak perwakilan staf dalam rapat memang mudah tetapi selanjutnya tugas besarnya ialah bagaimana mengajak mereka terlibat dalam diskusi secara aktif dan berbobot. Mencari solusi bersama-sama dengan mereka, sehingga solusi bukan hanya dilontarkan dari jajaran top management tetapi juga bisa dari bawah. 

    Ia bukan orang yang mudah puas dengan pencapaian yang sudah ada. Mindaugas terus memacu perusahaan untuk lebih maju dalam berbagi aspek. Jika sesuatu bisa dilakukan dengan baik dengan cara tertentu, bukan berarti harus dilaksanakan seperti itu selamanya. Perubahan dan perbaikan terus senantiasa dilakukan. Selalu tantang asumsi-asumsi kita dan ubah cara-cara konvensional dalam melakukan berbagai hal saat ini. “Karena dengan demikian, Anda bisa mencapai kemajuan,” tegasnya.

    Di waktu senggangnya, Mindaugas berolahraga. Saat muda, ia terlibat dalam banyak jenis olahraga dan bahkan bercita-cita sebagai atlet.  Ia  berenang, bersepeda, badminton, squash, lari, dan sebagainya. “Kini saya juga belajar bermain golf karena banyak lapangan golf di sini .”

    Ia mengisi rasa hausnya akan inspirasi bisnis dengan membaca banyak buku tentang kepemimpinan dan bisnis.  Dengan membaca, ia mengaku banyak sudut pandang baru yang bisa ia dapatkan mengenai banyak hal sebagai entrepreneur sebuah korporasi besar .

    Hal lain yang ia nikmati lakukan di luar waktu kerja ialah berinteraksi dengan keluarga dan teman, menonton film.

    Mindaugas mengakui keberhasilannya seperti sekarang tidak luput dari kontribusi keluarganya. Keluarganya berjasa karena telah mengizinkannya pergi ke luar tempat kelahirannya untuk belajar dan mengadu untung. “Jika mereka tidak mengizinkan saya dulu ke luar untuk belajar, mungkin saya akan terus terkungkung di negeri itu. Keluarga saya juga membolehkan saya untuk bekerja lama di kantor bahkan jika di rumah saya masih bekerja,” ujarnya. Karena itu, ia tidak akan melupakan jasa keluarganya dalam mendukung dirinya dalam mencapai posisinya seperti sekarang. 

    Sampoerna yang akan merayakan ulang tahunnya ke -104 Agustus tahun ini beruntung memiliki panutan dalam perusahaan yang tidak lelah memberikan apresiasi pada kerja keras semua pekerja di dalamnya dan optimisme mengenai masa depan perusahaan. (*/)

    P.S.: Artikel ini adalah bagian dari “PORTRAITS OF INDONESIA MOST ADMIRED CEOs 2017”. Untuk informasi lebih lanjut mengenai buku ini, silakan kunjungi laman ini.

  • Michaela Anselmini, seorang restorer karya seni dari Italia. (Foto: tribunnews)

    Sebuah kebanggaan yang tidak terukur bagi Michaela Anselmini untuk mengembalikan karya seni menjadi seperti sediakala. Ia masih ingat dengan pengalamannya merestorasi sebuah patung Bunda Maria di suatu kapel gereja di perdesaan Italia, negeri asalnya. Dengan susah payah, ia mengerjakan pemulihan kondisi patung yang berlapis emas 23 karat. Di tangan restorer sebelumnya, patung itu tampak makin suram. Begitu Michaela merampungkan restorasinya dan memberikan patung itu kembali ke tempatnya di gereja, ibu-ibu itu mendatangi Anselmini dan berterima kasih sembari menitikkan air mata. Itulah salah satu pengalaman paling memuaskan sebagai seorang restorer, kenangnya di sela seminar bertema restorasi karya seni “Remembering the Future: Urgent Issues on Art Conservation in Indonesia” di Istituto Italiano di Cultura. 

    Ia memulai pekerjaan ini sebagai profesional sejak 1993-1994 setelah ia menyelesaikan studi formalnya. Anselmini telah menangani banyak proyek restorasi karya seni dari berbagai belahan dunia. Salah satu yang ia tidak bisa lupakan ialah sebuah lukisan dengan foam sebagai medianya buatan tahun 1970-an yang ingin dijual pemiliknya. “[Medianya] sebuah lapisan tipis foam yang dilapisi cat akrilik dan ditempeli dengan lem di atasnya,” terang wanita yang sejak kecil sudah menyadari kesukaannya memperbaiki benda-benda apapun di sekelilingnya. Ia mengaku sangat tertantang karena belum ada restorer di dunia ini yang mencobanya. Ia harus berhubungan dengan banyak pihak di AS, mulai dari riset, bertanya dengan produsen bahan kimia hingga sesama praktisi restorasi seni. Proyek itu memakan waktu setahun penuh.

    Untuk proyek restorasinya di Indonesia, Anselmini menganggap restorasi karya pelukis legendaris Affandi sebagai yang paling menantang. “Terutama karena ia (Affandi) ialah pelukis pertama yang menggunakan teknik goresan warna yang tebal, memakai tangannya untuk memoles cat ke kanvas tanpa bantuan kuas,” ungkapnya. Kompleksitas teknik Affandi membuat Anselmini mesti bekerja ekstra keras dalam membersihkan permukaan lukisan dari kotoran. Terlebih lagi untuk warna yang berbeda, ia harus memakai bahan kimia yang berbeda pula. 

    Kebanyakan karya seni yang direstorasi Anselmini sudah terlampau parah kerusakannya. “Saat pemilik ingin menjual atau memamerkannya untuk acara penting, baru karya itu diserahkan untuk restorasi,” Anselmini menjelaskan. Padahal jika diserahkan jauh-jauh hari sebelumnya, karya itu bisa diselamatkan lebih baik lagi.

    Tantangan yang tidak kalah besar ialah sempitnya waktu yang ia miliki dalam restorasi. Anselmini kerap diburu oleh para pemilik benda seni untuk merampungkan restorasi selekas mungkin. Padahal proses restorasi sangat memakan waktu dan membutuhkan kesabaran serta ketelitian tinggi. 

    Menurut Anselmini, waktu rata-rata pengerjaan restorasi satu karya seni lukis biasanya 3-4 pekan. Dan ia bisa mengerjakan beberapa karya secara paralel, tidak hanya mengerjakan satu karya dalam satu rentang waktu tertentu.

    Dalam proses restorasi di negeri pizza, Anselmini biasa dibantu asisten yang ia percaya dan sudah terlatih. Namun, di Indonesia ia bekerja sendiri sebab masih sangat sedikit orang Indonesia yang menekuni bidang itu. Bagi publik Indonesia, istilah restorasi seni masih dianggap baru dan belum banyak yang tahu bahwa restorer ialah suatu profesi yang serius dan setara dengan profesi lainnya. 

    Dalam bekerja, Anselmini menuliskan prosedur dan seluk beluk pengerjaan dalam catatan khusus. Di Italia, terdapat badan khusus yang bertugas mengumpulkan catatan restorasi untuk disimpan dan dibagikan pada pihak yang berkepentingan untuk riset dan restorasi sekarang dan masa depan. Ia menyerahkan catatan pengerjaan restorasinya kepada badan tersebut. Di samping itu, ia juga menuliskan pengalamannya dalam catatan terpisah untuk pengembangan pengetahuannya. 

    Minat Anselmini pada restorasi telah muncul sejak usia belia. Keluarganya yang bergelut dalam bidang pertukangan kayu seolah menjadi pondasi yang ideal baginya. “Saat kecil saya sering melihat ayah membuat benda-benda dengan tangan,” terangnya. Michaela pun mengikuti jejak sang ayah dengan tidak segan berkarya. 

    Bedanya, ia tidak ingin membuat benda baru seperti ayahnya. Ia ingin memperbaiki benda yang sudah ada tetapi rusak. Di usia 5-6 tahun, ia tertarik mengutak-atik benda-benda rusak di sekelilingnya hingga kembali ke kondisi semula. “Awalnya orang tua saya mengira ketertarikan ini tidak lazim,” ujar Anselmini yang sempat mendesak orang tuanya membeli sebuah bangunan yang hampir rubuh hanya karena ia ingin sekali memperbaikinya.

    Sejak itu, bakatnya dalam restorasi seni makin diakui orang-orang di sekitarnya. Buktinya, sejumlah orang mendatanginya untuk meminta bantuan memperbaiki benda seni yang rusak. “Saat masih 7-8 tahun, ada yang mendatangi saya untuk minta bantuan memperbaiki sebuah lukisan yang terjatuh dan rusak. Itulah restorasi yang pertama kali saya lakukan.” Ia merasakan kegembiraan membuncah begitu suatu karya seni yang rusak ia bisa perbaiki layaknya baru. “Restorasi sudah menjadi bagian dari diri saya,” tandas Michaela.

    Di Indonesia, tahun 2011 Michaela datang ke Bali atas undangan seorang teman dekat yang memiliki galeri. Ia membantu temannya untuk merawat lukisan koleksi galeri tersebut. Empat tahun kemudian, setelah kesibukan bolak balik Indonesia dan Eropa, ia bekerjasama dalam bidang restorasi dengan sejumlah pihak termasuk dosen dan kurator seni Rizki A. Zaelani dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk tujuan menggalakkan restorasi karya seni di tanah air, Anselmini datang ke Bandung, Yogyakarta dan Jakarta membagikan pengalamannya sebagai restorer.

    Untuk menumbuhkan kesadaran dan minat restorasi seni, ia menggelar seminar dan lokakarya (workshop). Menyaksikan masih sedikitnya restorer di Indonesia, Anselmini mengungkapkan adanya keinginan mendirikan sekolah restorasi di Indonesia tetapi tentu akan banyak tantangan yang harus dihadapi terutama karena ia warga negara asing. 

    Restorasi tidak selalu mahal karena bergantung pada banyak faktor. Faktor-faktor nonteknis seperti biaya transportasi, biaya cukai untuk mengirim benda-benda seni dan tetek bengeknya, cukup menguras tenaga dan pikiran. Jika bahan-bahan untuk restorasi bisa didapat di sekitar tentu akan lebih hemat biaya. Bahan-bahan restorasi juga tidak melulu mesti diimpor. Menurut Michaela, Indonesia sudah memiliki sebagian bahan yang diperlukan untuk merestorasi karya seni.  

    Tantangan merestorasi di tanah air yang utama di antaranya yaitu penggunaan material yang kurang berkualitas dan tidak memenuhi syarat. Yang tidak kalah penting ialah faktor cuaca dan iklim yang berbeda dari negara-negara empat musim. “Di Italia, saya masih bisa melakukan retouching tanpa buru-buru. Di Indonesia, bahan-bahan menjadi lebih cepat kering sehingga kadang harus mengulang lagi.” (*/)

  • (Foto: google)

    Dipertemukan oleh takdir, dua pelukis cum psikolog dari Italia berkolaborasi dalam seni.

    Bertemu dan jatuh cinta 9 tahun lalu, Alessandro Vignola dan Neva Epoque sama-sama mahasiswa psikologi yang berminat dalam seni lukis. Keduanya kemudian sepakat untuk menjalani hidup sebagai seniman begitu menuai respon positif dari penikmat karya mereka. Dengan mengusung nama “Delta NA”, mereka membuka studio seni di tengah kota Asti, Italia utara yang memiliki lansekap pegunungan yang permai. Kepada Art Republik, kedua seniman itu mendiskusikan perjalanan seni mereka hingga sekarang.

    AR: Bagaimana awalnya Anda berdua berkolaborasi?

    Kami belajar psikologi di kampus yang sama.  Saat kuliah tahun 2001 itulah kami bertemu pertama kali. Setelah lulus, kami tak bertemu lagi. Setelah tujuh tahun berselang, kami bertemu kembali di tempat yang sama saat kami terakhir bertemu. Kami  percaya dengan takdir (destiny) dan itulah kenapa kami memilih nama “delta” untuk kami berdua dalam berkesenian. 


    Dulu kami melukis sendiri-sendiri tetapi kemudian ada kolektor lukisan kami yang ingin agar kami melukis lukisan yang lebih besar. Karena salah satu dari kami tak punya banyak waktu untuk membuat lukisan sebesar itu, kami putuskan mengerjakan lukisan itu bersama-sama.  Lukisan kolaborasi pertama kami tak begitu memuaskan. Dari sana, kami sadar kolaborasi sangat menarik dan sejak itu kami selalu berkolaborasi dalam melukis. Dalam berkolaborasi kami membutuhkan waktu untuk menemukan gaya melukis kami yang baru karena ini berbeda dari melukis sendiri. Gaya ini baru dan lain dari gaya kami saat melukis solo.

    AR: Warna biru mendominasi karya-karya Anda. Apakah memang dibuat sengaja demikian?

    Kami bereksperimen dengan warna-warna yang merilekskan dan memberi nuansa harmoni. Kami tidak merencanakan dan proses itu terjadi begitu saja. Prosesnya menarik karena entah kenapa kami mengalir dari warna biru, hijau, pink, merah, seperti gelombang yang berulang. Kami tak tahu alasannya tetapi mungkin karena berkaitan dengan emosi dan perasaan kami. Bisa juga berkaitan dengan irama hidup, dari tidur, beraktivitas hingga tidur kembali.

    Kami harus cermat memilih warna untuk emosi tertentu. Meski kami tidak membatasi warna-warna yang dipakai, kami tidak bisa menggunakan sejumlah warna seperti kuning dan hitam. Untuk kuning, kami hanya memakai warna emas atau kuning yang pucat. Sementara warna hitam kami hindari karena menandakan ketiadaan cahaya dan merusak harmoni lukisan. Untuk tandatangan kami memilih memakai warna biru tua yang terasa lebih alami. 

    AR: Hingga saat ini, lukisan mana yang menurut Anda berdua yang paling Anda sukai?

    Sulit untuk memilih. Tetapi lukisan terbaru yang kami rampungkan biasanya kami lebih sukai dari yang lain karena memiliki koneksi yang lebih erat dengan diri kami.

    AR: Bagaimana proses kreatif Anda?

    Biasanya kami mulai dengan banyak menggambar. Baru setelah selesai, kami lanjutkan dengan memberikan cat. Saat memulai, biasanya kami tidak tahu apa yang akan kami hasilkan tetapi kami terus mengerjakannya. Kami bisa merasakan ada banyak yang bisa dikuak dari sana. Seperti ada sebongkah marmer di hadapan kami, dan kami yakin ada patung di dalamnya. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah terus memahatnya dengan seksama. 

    AR: Gaya atau aliran apa yang Anda adopsi dalam karya-karya Anda ini?

    Sulit untuk menentukan. Anda bisa menyebutnya abstrak tetapi tidak sepenuhnya demikian. Ada nuansa ekspresionisme, tetapi juga tidak sama persis dengan itu. Awalnya kami sebut “instinctive expressionism” karena kami pakai jari untuk melukis. Kami memilih menyebut ini sebagai “existential mechanics”, yang menjadi dasar bagi kami dalam berkarya kolaborasi. Kami menggabungkan gaya abstrak yang informal agar dalam proses melukis, kami tidak terlalu banyak berpikir sehingga kami bisa memberikan sensasi keterbukaan dan relaksasi pada mereka yang menyaksikan karya lukisan kami. Kami juga mempersilakan khalayak untuk menginterpretasikan karya-karya kami sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing. 

    AR: Dalam kolaborasi, selalu ada risiko satu pihak mendominasi yang lain. Apa yang harus dilakukan jika itu terjadi?

    Hal terpenting ialah memastikan kolaborasi terjadi secara seimbang dan bagaimana kita menemukan orang yang tepat dan membuat kita nyaman untuk diajak berkolaborasi. Prosesnya bisa memakan waktu lama agar bisa tercipta harmoni dan keselarasan.  Bila ada salah satu yang ternyata terlalu dominan, pihak lain harus mengimbanginya dengan lebih berupaya menghadirkan dan membuka diri dalam karya bersama itu. 

    AR: Adakah alasan tertentu mengapa Anda melukis dengan memakai kanvas yang amat kecil?

    Kami tidak menentukan ukuran kanvas. Saat kami akan bekerja, kami belum tahu apa yang akan keluar, kami merasakan adanya ketertarikan pada ukuran kanvas tertentu. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan kami secara sadar. Bisa dikatakan, kanvas itulah yang memilih kami. Jadi, tiap lukisan muncul dengan makna, ukuran, dan warna masing-masing. 

    AR: Adakah pesan yang Anda hendak sampaikan melalui karya-karya Anda?

    Kami memiliki banyak pesan dalam karya kami. Dalam beberapa tahun terakhir kami menerapkan teori existential mechanics, yang menyatakan bahwa seniman memiliki cara menangkap realita di balik dunia yang kasat mata ini. Realita bisa dimaknai sebagai serangkaian lapisan yang saling tumpang tindih, mirip dengan anyaman serat kain yang berpola dan berulang. Kami bermula dari bentuk geometrik dan statik untuk kemudian beralih ke semesta yang terbuat dari bentuk-bentuk geometrik tersebut.  Pesan kami ialah bahwa realita itu mirip mimpi. Dan realita bukan semata-mata hal yang kita bisa tangkap dengan netra tetapi sesuatu yang lebih besar.  Inilah cara kami memadukan kehidupan nyata dan energi spiritual.  Kami mendorong audiens untuk menikmati lukisan dengan cara yang bertahap, tidak sekali saja dan berpuas diri karena di balik lukisan tersembunyi banyak makna yang bisa digali setiap kali menikmatinya. Lukisan juga seperti kehidupan, yang selalu memberikan kejutan jika kita mau membuka pikiran kita terhadap berbagai kemungkinan baru.  (*/)

    (Ditulis dalam bahasa Indonesia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Akhlis Purnomo untuk Art Republik Indonesia Agustsu 2017)  

  • Ditilik dari latar belakang keluarga, tidak ada darah seni yang mengalir dalam tubuh Syaiful Gribaldi. Ayahnya bergelut di bidang swasta dan ibunya ibu rumah tangga. Dunia seni terdengar asing bagi mereka. Namun, ketertarikan Syaiful kepada seni sudah muncul secara alami sejak dini. Kepada Art Republik Indonesia, ia berbagi pandangannya mengenai banyak hal, dari perjalanannya ke titik saat ini hingga persepsinya mengenai dunia seni kotemporer di tanah air. Berikut adalah petikan wawancara dengan sang seniman muda di sela kesibukannya menyiapkan karya untuk sebuah pameran di Jakarta.

    Bagaimana Anda bisa tertarik ke dunia seni?

    Dari kecil saya sudah gemar menggambar. Saya tertarik menjadi arsitek awalnya. Begitu masuk SMA, saya berminat kuliah ke jurusan Seni. Karena di ITB ada jurusan yang sesuai minat, saya pun akhirnya memutuskan kuliah di jurusan Seni Murni, Program Studi Seni Grafis (2004-2010). Meskipun secara formal di bangku kuliah saya menekuni bidang Seni Grafis, setelah lulus hingga saat ini, saya tersebut justru lebih memilih berkarya dalam bentuk gambar (drawing), instalasi dan video. 

    Siapa yang menjadi inspirasi Anda dalam seni saat masih kecil?

    Saya masih ingat sosok Pak Raden. Saya sering ikut lomba gambar dan di satu kesempatan beliau pernah mendatangi lomba yang saya ikuti. Dari sana, saya makin tertarik dan kemudian baru tahu beliau juga dulu alumni kampus yang sama dengan saya.

    Apa tantangan yang pertama dihadapi dalam mewujudkan impian menjadi seniman?

    Dulu saat saya masih kecil, orang tua saya bangga saya memiliki bakat seni. Mereka sangat mendukung saya menekuninya. Namun, begitu sudah dewasa dan saya harus memilih studi secara formal, baru orang tua merasa keberatan. Sebagaimana tipikal orang tua di Indonesia, keduanya belum meyakini bahwa menjadi seniman bisa menjadi profesi yang layak dan sumber penghidupan juga seperti profesi lainnya. Untuk meyakinkan orang tua, saya berupaya mandiri selama kuliah, misalnya dengan mencari beasiswa dan tidak mengandalkan apalagi meminta uang saku dari keduanya. 

    Bagaimana kuliah membantu Anda tumbuh sebagai seniman?

    Ide didapat dari luar ruang kuliah, tetapi begitu masuk ruang kuliah, ide tadi akan diuji. Saat kuliah saya bertemu dosen-dosen yang mendorong perkembangan saya. Salah satunya ialah Asmudjo J. Irianto, yang membebaskan saya dalam menghasilkan ide tetapi tidak lupa menekankan pentingnya kemampuan untuk mempertanggungjawabkan kebebasan tersebut. Beliau juga turut memberikan masukan yang terperinci jika ada yang perlu diperbaiki dalam karya para mahasiswa.

    Kali ini sedang kerjakan karya apa?

    Saya sedang mengerjakan karya bertema pangan. Tema ini dipilih karena ruang lingkupnya untuk eksplorasinya luas. Di pameran tersebut karya saya dipajang bersamaan dengan karya puluhan seniman lain dari dalam dan luar negeri.

    Apa hal yang menarik dari proyek Anda sekarang?

    Konsepnya ‘open lab‘ dan itu menarik karena memungkinkankan kami para seniman untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan para praktisi dan pakar di bidang selain seni. Misalnya, saya bisa belajar tentang dekomposisi pada ahli forensik, yang hasilnya dimasukkan dalam karya. 

    Waktu pengerjaan karya biasanya berapa lama?

    Tergantung pada jenis karya dan proyeknya. Bisa beberapa hari atau setahun. Yang paling mudah misalnya mural (lukisan di dinding). Yang paling sulit ialah karya yang sedang saya kerjakan karena berkaitan dengan proses dekomposisi jasad manusia sebagai bahan pangan, yang melibatkan jamur, bakteri, dan larva, serta makhluk pengurai lain. Prosesnya rumit karena harus melalui izin Kepolisian dan rumah sakit, riset dengan dokter forensik dan bedah,  agar tetap mematuhi prosedur yang berlaku agar tidak dianggap ilegal dan tindak kriminal.

    Jadi seniman juga harus bisa menangani urusan selain seni?

    Saya banyak belajar bahwa seniman juga harus bisa meyakinkan orang lain mengenai proyeknya. Itu karena belum ada pemahaman dalam masyarakat awam bahwa seni memiliki urgensi tersendiri. Jadi, apa yang terkesan iseng itu sebenarnya memiliki makna atau pesan penting yang ingin disampaikan. Saya ingin sebuah karya seni dapat memulai pembicaraan yang terbuka tentang isu penting. Untuk meyakinkan pihak lain yang asing dengan seni, saya biasanya menunjukkan portofolio karya. Dulu sebelum memiliki portofolio, saya bekerjasama dengan teman-teman. Jika tidak bisa membujuk orang untuk bekerjasama, saya lakukan sendiri dengan cara saya sepanjang tidak merugikan pihak lain dan tidak melanggar hukum.

    Apa arti profesionalisme dalam bekerja sebagai seniman?

    Sulit mengukur profesionalisme dalam seni karena ada elemen personal di dalamnya. Seniman sulit terus bekerja saat suasana hatinya kurang mendukung. Seniman bukan mesin. 

    Bagaimana proses kreatif Anda?

    Saya menjaring ide baru dari bacaan dan perjalanan ke tempat lain. Kemudian saya tangkap ide tersebut dengan ponsel cerdas. Untuk corat coret, saya pakai buku catatan. Dari situ, saya bisa tambahkan jika saya butuh bantuan teman atau pihak lain untuk mengerjakannya atau butuh studi lagi untuk dapat mengerjakan dengan maksimal. Jika mesti datang ke laboratorium atau tempat tertentu, saya lakukan demi hasil yang optimal. 

    Seperti apa Anda dalam beberapa tahun mendatang?

    Saya tidak ada bayangan. Saya berusaha yang terbaik dalam hal apapun yang saya kerjakan saat ini. Saya lebih suka menjalani tanpa banyak berekspektasi tetapi kemudian bisa menemukan kejutan-kejutan dalam perjalanan. Tetapi kini karakter impulsif saya itu lebih terkendali karena bekerja dalam sebuah manajemen yang mengarahkan saya dalam merampungkan proyek. 

    Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan seni kontemporer Indonesia?

    Perkembangannya positif dan menggembirakan, yang bisa dilihat dari makin ramainya aktivitas seni. Perhatian pemerintah terhadap kesenian juga makin baik. Saya optimis dunia seni kita akan lebih maju. (*)

Verified by MonsterInsights