• PENGANTAR: Saya pernah bekerja sebagai jurnalis untuk sebuah website bertema entrepreneurship antara tahun 2010 hingga 2015. Saya berkesempatan menulis sejumlah startup dan mewawancarai sederet entrepreneur muda di era menjamurnya gagasan bahwa punya startup itu keren banget. Berikut adalah salah satu tulisan saya tentang sebuah startup yang kini sudah tidak ada kabarnya.

    Selasa, 15 Januari 2013 09:21

    Berawal dari sebuah komunitas di Yogyakarta, sebuah startup bernama “Capung” sanggup melanglang buana hingga ke negeri Paman Sam. “Sebenarnya kami bermula dari sebuah komunitas. Di dalamnya tidak hanya berisi orang teknik, tetapi juga dari berbagai bidang namun memiliki minat yang sama yakni elektronika, aeromodelling, dan robotika,” ungkap Dendy Pratama, salah satu sosok kunci dan pendiri Capung. 

    Setelah berkumpul dan berdiskusi, muncullah sebuah rencana pengembangan perangkat yang bisa menerbangkan kamera. Fungsinya untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan bisnis mereka yang merancang. “Yang punya bisnis percetakan menggunakannya untuk percetakan. Sementara untuk saya sendiri yang studi komunikasi menggunakannya untuk fotografi dan berbagai kebutuhan pembuatan film dokumenter,” ujarnya. Setelah beberapa waktu dan mengikuti kompetisi IEC 2011, ia baru dapat berkonsentrasi mengembangkan sisi robotikanya. Jadilah pesawat tanpa awak mikro, imbuhnya. Mulanya hanya berupa pesawat styrofoam yang digunakan untuk pengemasan barang. Sangat sederhana, tetapi sekarang sudah lebih berkembang. Perangkat yang dibuat oleh Capung berjenis 3: trikopter, helikopter, dan multikopter.

    Apa yang dilakukan kru Capung hampir sama dengan berbagai agen pemotretan yang kita kenal. Bedanya, mereka mengambil angle di sisi atas, bukan dari samping, depan atau yang sejajar dengan posisi objek foto. Inilah yang dinamakan “aerial photography”. Kata Dendy,”Kami memilih foto udara karena saingannya di darat sudah terlalu banyak dan saya tak terlalu hebat untuk fotografi darat.”  Pemikiran inovatif dan out-of-the-box , Dendy disambut senyum dari audiens acara Jumpa Pers ITB Entrepreneurship Challenge 2013 (IEC 2013) yang berlangsung di Pusat Kebudayaan AS “At America”, kawasan Sudirman Jakarta tadi malam (14/ 1/ 2013).

    “Kami tergerak untuk mengabadikan berbagai gambar dari tempat-tempat indah di seluruh nusantara dari atas seperti yang banyak kita saksikan di National Geographic, NHK dan sebagainya yang banyak menayangkan film dokumenter dengan angle di atas,” Dendy berkata. Capung tidak mau mengambil ange yang sudah digunakan banyak fotografer. “Kami pun memutuskan untuk berkeliling Indonesia untuk mengabadikan tempat-tempat yang indah dengan menggunakan angle-angle berbeda. Sejumlah tempat yang telah mereka potret dari atas ialah Pura Bedugul di Bali, Candi Prambanan di Jawa Tengah, bahkan jembatan Suramadu. Angle dari udara membuat tempat-tempat tujuan wisata ini terlihat lebih memukau. 

    Untuk memotret berbagai objek menarik tersebut sering kru Capung harus mengerahkan berbagai daya upaya dan trik untuk menyiasati keadaan dan medan yang sukar. Seperti saat memotret jembatan Suramadu, mereka harus mengendarai perahu di bawah jembatan tersebut dan kemudian menerbangkan pesawat tanpa awak yang telah dilengkapi kamera untuk memotret dari ketinggian yang pas. Pemotretan tempat-tempat wisata ini mereka lakukan sekadar memenuhi rasa ingin tahu, bukan karena keharusan pengerjaan sebuah proyek.

    Capung selama ini menangani proyek-proyek yang dibagi menjadi 2 kelompok besar: komersial dan non-komersial. Untuk jenis komersial, mereka mengenakan biaya yang bervariasi tergantung sejumlah faktor terutama durasi terbang. Sementara untuk non-komersial, mereka sering diikutsertakan dalam pemantauan dari udara pasca bencana untuk mengetahui tingkat keparahan bencana di suatu wilayah. 

    Secara umum, Capung menyediakan jasa fotografi dan videografi untuk berbagai tujuan. Di antaranya ialah pemetaan, dokumentasi, survey, film / sinetron dan berita. Dilengkapi dengan peralatan canggih dan laboratorium serta riset yang mendalam perangkat capung telah teruji di berbagai medan.

    Startup yang tahun ini direncanakan akan menjadi badan hukum tersebut harus menghadapi berbagai kendala, terutama mahalnya peralatan yang mayoritas masih impor. Namun, apa yang menjadi batasan bagi orang lain justru membuat kru Capung menjadi lebih kreatif. Mereka mampu mencari bahan-bahan di sekitar yang lebih murah dengan fungsi yang kurang lebih sama. Ini terjadi jika peralatan tiba-tiba rusak. “Dulu kami harus memulai dengan 1 baterai, dengan harga 20 dollar dan harus pesan di Hong Kong,” katanya. Keterbatasan dana itu membuat Capung harus lebih kreatif.

    Nama “Capung” belum banyak dikenal tetapi hasil karya mereka telah banyak beredar. Seperti foto-foto yang dipublikasikan oleh berbagai stasiun televisi di Indonesia beberapa waktu lalu tentang fenomena Crop Circle di Yogyakarta. “Inilah proyek pertama kami: memotret crop circle di sana.Saat itu banyak stasiun TV bingun cara mengambil gambar. Dan kamilah yang satu-satunya dapat mengambil gambar dari ketinggian,” kata Dendy. Dan hebatnya, hal itu dilakukan tanpa harus menyewa helikopter yang mahal. Dari hasil jerih payah menjual dokumentasi crop circle ke stasiun TV itulah Capung makin menjulang.

    Satu kiat untuk mengumpulkan modal awal berbisnis dari Dendy ialah kelihaian dalam memanfaatkan kompetisi-kompetisi entrepreneurship. “Karena biasanya lomba-lomba ini menawarkan banyak hadiah berupa uang,” kata Dendy yang telah diundang ke AS untuk memperdalam pengetahuan tentang penerbangan pesawat awak tanpa mikro yang berhubungan erat dengan Capung. Uang hadiah itu bisa dialokasikan ke berbagai pos untuk mendanai startup agar lebih berkembang. “Itulah yang memotivasi kami untuk menang,”tambahnya mantap. (*/Akhlis)

  • The year of 2023 has given me and taken from me so much.

    But given all the ups and downs, I think I can manage this way better than before because I am now more stable in every possible aspect particularly financially.

    Recently it seems I felt drawn back to the period of 2017-2018 when I hustled a lot like any other young man at my age with an aspiration of some economic success.

    I may not be the richest man on earth but I know really well that where I am now is better that where I used to be. And I thank God for that.

    So if you ask me what is that one piece of advice that makes it possible for me to go through 2023, I’d say: “Don’t grieve. Anything you lose comes round in another form.

    Rumi the philosopher said the line aeons ago.

    I truly believe that. So much I didn’t cry when I was let go this year.

    For some others, it might be soul crushing news. But as for me, I think I have saved enough to go on living for several years ahead if I’m not making any cents.

    So I’m now taking some time to enjoy life which I also have been doing for the last several years. Boy, am I so skillful at it.

    Stable finance, slow living in the suburbia, some remote work to pay my bills, and yoga gigs that bring money are what I am so thankful for this year.

    Rumi’s thought also goes in line with this Quranic verse:

    There is no god but He; to Him is the final goal. (Qur’an, Surah al-Mu’min, 40:3).

    That’s how I know what should be my beacon in this journey.

    That way, I will never ever feel lost.

    How about you? What’s your favorite piece of advice that enables you to keep going despite a tough 2023? For real, I want to know that.

    Regardless, let’s stay clear headed despite whatever coming on our way in 2024…. (*/)

  • The Beatles juga pernah belajar yoga di India. (Foto: Wikimedia Commons)

    SEKITAR 45 tahun lalu, band legendaris The Beatles yang beranggotakan Paul McCartney, John Lennon, George Harrison, dan Ringo Starr ini pernah bersentuhan dan bahkan mempelajari secara intensif yoga dan spiritualitas.

    Dalam buku terbaru karya jurnalis Inggris Mick Brown yang berjudul “The Nirvana Express” , terbitan Penguin Random House, dibahas perjalanan sejarah orang-orang Barat yang mencari pencerahan dari pemimpin spiritual India.

    Dalam bukunya, Brown mengupas secara mendalam ‘kegilaan’ orang-orang Barat terhadap beragam filsafat keagamaan India.

    Uniknya salah satu ikon pemberontakan dan perlawanan anak muda saat itu, The Beatles, tertarik dengan yoga.

    Menurut Brown, The Beatles pernah belajar yoga secara langsung dengan Maharishi Mahesh Yogi—yang kemudian menyebut dirinya sebagai guru spiritual band tersebut.

    Pertemuan The Beatles dengan Maharishi Mahesh Yogi

    Semua berawal saat John Lennon mendengar istilah “meditasi transendental” dari teman modelnya Pattie Boyd. Istilah itu membuat Lennon penasaran setengah mati.

    Dalam bab “Love Is All You Need” dalam bukunya, Brown mengungkapkan bahwa pada tanggal 25 Agustus 1967 pertemuan pertama antara The Beatles dan Maharishi Mahesh Yogi terjadi di Hotel Hilton. Kemudian mereka menghadiri kursus 10 hari yang diadakan sang guru, “Panduan Spiritual”, di kota Bangor, North Wales.

    Pertemuan ini menandai titik balik bagi The Beatles, yang setelah bertahun-tahun menjalani banyak tur dan meraih popularitas di seluruh dunia, tetapi secara spiritual mereka mengalami kekosongan sehingga terdorong untuk mencari ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan melalui meditasi transendental.

    Maharishi, yang mengakui potensi pengaruh The Beatles, mendorong mereka untuk menggunakan “keajaiban” mereka untuk memengaruhi generasi muda secara positif.

    Kursus di Bangor tersebut ini bertujuan menginisiasi band ini ke dalam meditasi transendental, menyiapkan mereka untuk retret yang lebih panjang di Rishikesh, India pada tahun berikutnya.

    Namun, di tengah pengalaman transformatif ini, tragedi melanda dengan tiba-tiba meninggalnya manajer The Beatles, Brian Epstein, hanya dua hari setelah memulai kursus.

    Kehilangan yang mendadak ini membuat band ini merasa seperti tanpa arah, tetapi praktik meditasi menawarkan mereka ‘obat penenang’.

    Penyalahgunaan Nama The Beatles oleh Maharishi

    Maharishi, melihat meditasi transendental sebagai produk untuk disebarkan secara massal, menyamakannya dengan es krim dan memanfaatkan kesempatan untuk mempromosikannya dengan menggunakan nama The Beatles.

    The Beatles di tengah perjalanan harus menghadapi tantangan dalam hubungan mereka dengan Maharishi begitu mereka menyadari bahwa hubungan guru-murid itu rawan disalahgunakan demi keuntungan sang guru.

    Dikutip dari Wikipedia, awalnya The Beatles tertarik membuat film tentang guru mereka tapi tak disangka-sangka saat sang guru ditawari, beliau langsung meminta bagi hasil dari keuntungan film itu nantinya.

    The Beatles syok karena mereka tak menyangka seorang guru spiritual tertarik dengan hal-hal berbau keduniawian.

    Kenyataan itu membuat The Beatles sampai menuduh bahwa Maharishi adalah seorang penipu semata.

    Ditambah lagi mereka mendengar bahwa sang Maharishi dikabarkan merayu Mia Farrow (aktris Amerika , anak sutradara John Farrow, dan aktivis HAM) untuk berhubungan seksual (sumber: thecurrent.org).

    Bahkan John Lennon membuat lagu yang terinspirasi dengan kasus ini. Liriknya: “Sexy Sadie (pengganti nama Maharishi agar mereka tidak dituntut secara hukum), what have you done? You made a fool of everyone.”

    Bertahun-tahun kemudian mereka menyadari bahwa tuduhan itu tak sepenuhnya benar. Paul McCartney and Harrison mulai menyatakan dukungan mereka untuk sang guru kembali.

    Sementara itu, Lennon masih kecewa pada Maharishi dan memutuskan untuk tidak lagi menganggapnya sebagai panutan meskipun ia masih mempraktikkan meditasi yang sang guru ajarkan.

    Buku ini menyoroti hubungan guru dan murid yang rumit antara The Beatles dan Maharishi Mahesh Yogi. Sang penulis juga menyoroti tumpang tindihnya spiritualitas, pengaruh selebriti, dan komodifikasi praktik kuno.

    “The Nirvana Express” memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang perjalanan spiritual band ini dan konteks lebih luas dari ketertarikan Barat pada filsafat Timur selama masa itu. (*/)

  • TIKTOK is not always about cheesy short videos or silly pranks or ridiculous human behaviors caught on camera.

    If you do it right, scrolling on TikTok may serve as your source of mental health resilience.

    When you have no one to lighten up your day, TikTok might do the trick.

    Go to Lawrence Choto’s TikTok feed (@chotosocial) and you can there find videos of him handing a lot of strangers motivational and heart-warming notes that someone might need to lift their mood after a bad day at work, home, or school.

    I like that Choto himself handwrote all of the notes on colorful pieces of paper to strangers in public setting. So every note seems very personal and it doesn’t scare people out because it’s just notes anyway.

    Some followers may shed tears after every video just because they find the messages on these notes touching to their hearts.

    What is even better is when we wait for everyone’s reaction to the message inside those notes.

    Some may be laughing, or crying deep inside, or just smiling, or just reading and keeping the note in their pocket or backpack.

    Some messages hit hard to the core of our being.

    Some just miss but that’s okay because not everyone is in the right mood to accept the messages in those notes.

    But in fact those messages are so amazingly universal, does it not only hit the receiver but also the heart of every follower or viewer on TikTok.

    Some commenters admit they cried after watching the TikTok videos and easily can relate to the emotions evoked by the messages.

    They can also let out the emotions so long buried deep down inside.

    My favorite is shown below.

    It’s infectious to see people happy and optimistic so you start adopt those feelings as well.

    And this is what we increasingly need after what we have witnessed in Palestine.

    The humanity still offers some hope because some people are still filled with love. (*/)

  • Apakah yoga membuat orang bertubuh langsing atau memang orang langsing yang lebih mudah melakukan yoga? (Foto: Mr Yoga di Wikimedia Commons)

    MUNGKIN salah satu dari kita banyak yang mengikuti yoga hanya karena ingin memiliki badan yang ‘ideal’ sebagaimana yang dimiliki oleh guru yoga idola kita.

    Mereka kurus, fleksibel tapi juga kuat.

    Guru idola ini mungkin kita temui secara langsung atau juga melalui media sosial.

    Bentuk badan atau keterampilan fisik atau akrobatik mereka mungkin membuat kita terpukau dan tiba-tiba kita merasa tergerak untuk mengikuti setiap gerakan mereka.

    Apapun yang mereka lakukan rasanya kita juga ingin lakukan demi mendapatkan bentuk badan yang serupa.

    Swimmer’s Body Illusion

    Fenomena ini memiliki kemiripan dengan “swimmer’s body illusion”.

    Istilah tersebut digagas pertama kali oleh akademisi Nassim Nicholas Taleb dari Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai penulis buku Black Swan.

    Taleb yang ingin mengurangi berat badan tertarik untuk berenang karena ia ingin memiliki bentuk badan seperti perenang. Otot yang kencang, terbentuk baik namun tidak sebesar otot-otot para binaragawan.

    Di sinilah ia menemukan adanya sebuah ilusi karena ternyata ia menemukan kenyataan bahwa para perenang yang berbadan ideal tersebut memiliki badan seperti itu BUKAN karena berenang setiap hari selama berjam-jam.

    Ternyata para perenang itu diseleksi secara ketat menurut bentuk badan oleh para pelatih yang menangani tim/ klub renang tempat mereka bernaung. 

    Dengan kata lain, badan yang ideal tersebut bukanlah akibat dari aktivitas berenang tetapi menjadi sdalah satu faktor agar bisa terpilih menjadi perenang kompetitif (bukan rekreasional).

    Swimmer’s body illusion menjadi ‘senjata’ banyak orang untuk menjual produk dan jasa mereka sudah sejak lama bahkan terus bertahan hingga detik ini. Dan orang-orang terus terjebak di dalamnya.

    Yogi’s Body Illusion

    Di dunia yoga, hal ini juga marak terjadi. Namun, apakah ini secara moral salah? Tidak juga karena ilusi ini sudah begitu mendarah daging dalam benak masyarakat luas sehingga bahkan jika kita ingin ‘menjual’ jasa sebagai guru yoga, akan sangat susah menarik perhatian tanpa menggunakan ilusi tubuh yogi (yogi’s body illusion).

    Tunggu, memang ada ya “yogi’s body illusion”?

    Meskipun ada sebagian guru dan praktisi yoga yang berpikir bahwa yoga adalah wadah yang inklusif dan anti diskriminasi bentuk badan (contohnya yang dijelaskan Dr. Laura McGuire di “All Yogi Bodies Are Good Bodies”), tidak bisa ditampik bahwa dalam benak dan alam bawah sadar kita masih ada pemikiran bahwa badan ideal seorang yogi atau yogini adalah tubuh yang langsing, kurus, berotot ‘kering’, fleksibel tapi juga cukup kuat untuk melakukan gerakan akrobatik seperti beragam asana jenis arm balance dan inversion. 

    Dan ini kita bisa saksikan di sejumlah demonstrasi publik yogasana dan media sosial dari YouTube hingga Instagram.

    Badan Ideal Yogi

    Saya melakukan observasi di sejumlah kanal YouTube dan menemukan bahwa stigma badan ideal yogi itu langsing dan berotot ‘lean’ (kering) terutama setelah menonton lomba asana yoga di USA Yoga Asana Championship di kanal USAYOGA.

    Beberapa nama yang dikenal dengan kemampuan yoga asana yang fenomenal melalui ajang USA Yoga ini adalah Jared McCann, yang begitu fleksibel tapi juga kuat dan solid. Natarajasana-nya sangat memukau berkat hamstring yang panjang dan punggung yang kuat. Mayurasana yang mengasah core strength juga sanggup ia lakukan dengan baik.

    Nama lain yang juga bisa dikatakan memenuhi kriteria badan ideal yogi ialah Kasper Van Den Wijngaard, juara di 2010 International Yoga Asana Championship di Los Angeles.

    Satu nama lagi yang tak bisa dilupakan ialah Josep Encinia yang memulai yoga saat usia remaja dan menjadi juara National USA Yoga Asana Men’s Championship. 

    Dan satu nama yang sangat patut diperhitungkan ialah Gokulacandra atau yang bernama asli Jani Jaatinen. Badannya sungguh luar biasa lentur bahkan jika dibandingkan dengan sesama yogi. Di Instagramnya @gokulacandra, kerap ia membagikan foto asana yang terasa musykil bisa dilakukan manusia modern dan cuma bisa dilakukan yogi zaman kuno.

    Semua persamaan bentuk badan mereka adalah bahwa mereka berbadan langsing, cenderung kurus, sangat minim lemak, bersendi longgar, dan tidak memiliki massa otot yang sangat banyak namun juga masih kuat mengangkat berat badan mereka sendiri.

    Tidak bisa disangkal bahwa untuk melakukan berbagai gerakan asana yoga yang mengandalkan kekuatan dan kelenturan, badan yang ramping dan otot yang panjang namun kuat bisa memudahkan kita melakukan beragam asana yoga.

    Saat kita tidak memiliki massa lemak yang berlebihan, peluang untuk menguasai asana yoga menjadi lebih terbuka lebar.

    Lalu kenapa bisa badan ideal seorang yogi/ yogini menurut masyarakat adalah badan yang ramping dan kuat serta lentur?

    Seleksi Alam ala Charles Darwin

    Menurut hipotesis saya, ini adalah bentuk “survival of the fittest” gagasan ilmuwan pencetus evolusi Charles Darwin tetapi terjadi di dunia yoga. Memang semua orang boleh saja melakukan yoga. Tidak ada orang yang melarang orang-orang berbadan gemuk untuk latihan pose yoga, tetapi secara alamiah tantangan mereka untuk melakukan berbagai gerakan juga lebih besar daripada rekan-rekan mereka yang lebih langsing.

    Saat latihan menjadi semakin sulit, sebagian orang akan terus melaju berkat badan mereka yang sudah sedari awal sudah mendukung: langsing, ototnya lentur dan kuat.

    Lalu ada juga sebagian praktisi yoga lagi yang mungkin kesulitan saat memulai latihan asana yoga karena badan mereka tidak seideal harapan. Tapi kemudian entah bagaimana dengan cara yang bervariasi, badan itu berubah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan latihan yoga. 

    Dan ada juga orang yang meski berlatih sekeras apapun sejak awal hingga detik ini belum mengalami perubahan badan yang drastis hingga mendekati badan ideal seorang yogi. Mereka masih tampak lebih berisi dan lebih padat daripada badan orang kebanyakan padahal mereka sebetulnya relatif aktif secara fisik.

    Dan ada juga sebagian orang lain yang badannya kurang ideal dan BERHENTI di ‘tengah jalan’ dalam perjalanan yoga mereka karena putus asa tidak kunjung kurus/ lentur atau berbagai sebab lainnya yang biasanya dialami praktisi. Misalnya ditinggal guru yoga kesayangan, atau karena pindah tempat tinggal sehingga tidak lagi bisa latihan di studio langganan, atau sudah kehilangan semangat yoga karena teman-teman yoga sudah menghilang entah ke mana, atau bisa juga karena sudah menekuni olahraga lain sebagai pengganti yoga yang dianggap sudah membosankan, dan sebagainya.

    Jadi, yogi’s body illusion ini sebetulnya juga sebuah bias kognitif (kesalahan cara berpikir) sebagaimana swimmer’s body illusion yang mengacaukan pikiran seseorang dengan mengecohnya seolah ciri atau karakter fisik yang melekat tersebut (tubuh langsing, kuat, dan lentur) ialah hasil atau konsekuensi dari latihan yoga padahal kemungkinan tidak demikian faktanya.

    Dari sini tidak berlebihan jika dikatakan bukan cuma manusia yang bisa memilih jenis olahraga yang mereka ingin lakoni tetapi pada kenyataannya jenis olahraga itu juga bisa memilih dan menyeleksi manusia yang ingin melakukannya. Mereka yang tidak berbadan ideal sesuai kriteria akan tersingkir secara alami atau harus berlatih ekstra keras dan menyiasati kelemahan fisik mereka itu dengan berbagai cara. (*/)

  • Yoga sebagai cabang olahraga masih jadi perdebatan hangat. (Foto: Wikimedia Commons)

    PERDEBATAN mengenai bisa tidaknya yoga dianggap sebagai olahraga fisik memang tidak ada habisnya di kalangan praktisi yoga.

    Sebagian berpendapat bahwa yoga adalah “work-in” (olah rasa), bukan “work-out” (olah raga). Melakukan yoga yang utuh tidaklah cuma berhenti sampai di yogasana atau pose-pose fisik tapi juga sampai ke lapisan nonfisiknya.

    Sebagian lagi memandang yogasana sebagai sebuah alat untuk meningkatkan kebugaran fisik tanpa mempelajari filsafat dan aspek nonfisik lainnya (baca: aspek mental dan spiritual yoga) dan berargumen bahwa pendekatan itu sah-sah saja.

    Tapi terlepas dari itu, yoga memang perlahan mendapatkan posisi penting di panggung internasional. Kita bisa lihat wujud nyatanya dengan penyelenggaraan International Day of Yoga yang setiap tahun diperingati di banyak negara selain di India sebagai negara tempat kelahiran yoga. Indonesia menjadi salah satu negara yang turut merayakan IDoY.

    Sejarah Kontes Yogasana

    Yoga asana atau pose fisik yoga sudah diperlombakan sejak berabad-abad yang lalu, demikian menurut laman Olympics.com

    Bentuk modern lomba yoga asana ini digelar pertama kali di tahun 1989 saat Yogasana World Championship diadakan di Pondicherry, India. Di tahun 1989 pula di Montevideo Uruguay sudah dihelat World Yoga Championship yang pertama dengan di bawah kepemimpinan Swami Maitreyananda.

    Yogasana kemudian diakui secara formal sebagai sebuah cabang olahraga pada tahun 2020 saat National Yoga Sports Federation ditunjuk sebagai sebuah badan regulator resmi olahraga ini di India sana.

    Digadang-gadang oleh pemerintah India sebagai olahraga produk asli dalam negeri, yogasana kemudian dimasukkan sebagai salah satu cabang olahraga di Khelo India Youth Games 2021.

    Aturan Kontes Yogasana

    Sebagai cabor baru, tentu ada aturan yang harus dipatuhi oleh atlet-atletnya agar pertandingan berjalan adil dan hasil penilaiannya bisa lebih objektif.

    Ada tiga event utama di cabor yogasana ini: artistik, tradisional, dan ritmik.

    Yogasana artistik bisa dikatakan mirip dengan senam artistik putri (karena senam artistik putra tidak ada musik pengiringnya) yang kita saksikan selama ini. Saat berlaga, tiap atlet yoga artistik wajib mendemonstrasikan sejumlah pose yoga selama durasi waktu 3 menit tanpa henti sambil menyelaraskan demo asana tadi dengan irama musik.

    Dalam yogasana artistik, atlet harus memperagakan 10 asana dalam demo mereka yang mencakup keseimbangan satu kaki, pose yang bertumpu di tangan, pose menekuk badan ke belakang (back bend), pose menekuk badan ke depan (forward bend), pose memutar badan ke samping (twisting).

    Di event yogasana tradisional, atlet wajib melakukan setiap pose yoga selama 15 hingga 30 detik bergantung pada asananya. Aspek keseimbangan dan stabilitas jadi kriteria penilaian utama.

    Sementara itu, di event yogasana ritmik atlet memperagakan yogasana dalam kelompok 5 orang atau pasangan. Mereka melakukan tiap yogasana secara bersamaan dengan harmonis dan mempertahankan tiap yogasana selama 5-7 detik. Akan ada poin tambahan jika mereka bisa melakukan dengan transisi yang mulus, tidak jatuh atau terlihat tidak bisa menguasai tubuh.

    Hegemoni 2 Negara

    Dalam cabang olahraga baru ini, bisa dikatakan sudah ada dua negara yang muncul sebagai negara adidaya dan memperebutkan dominasinya: India dan Amerika Serikat.

    Jika India sendiri sudah menggelar kontes yogasana sejak lama dan baru tercatat tahun 1989 dalam bentuk Yoga Asanas Championship internasional pertama di bawah kepemimpinan Dr Swami Gitananda Giri, Amerika Serikat melalui organisasi USA Yoga (yang disponsori World Yoga Federation yang didirikan Swami Vidyanand) sudah merintis lomba yogasana sejak 2014 lalu.

    Aturan yang diberlakukan sudah sangat spesifik: dari jenis pose yang wajib diperagakan, kategori lomba berdasarkan umur, hingga tingkat kesulitan tiap pose.

    Di India meski lomba yogasana sudah berjalan lebih lama tapi institusi resmi yang mewadahinya baru dibentuk dan diurus secara serius beberapa tahun belakangan seiring dengan ambisi PM Narendra Modi untuk mengangkat yoga sebagai kekuatan dan komoditas budaya India, layaknya Korsel dengan industri K-pop, demikian dikutip dari yogasanasport.in.

    Sementara itu, di AS sejak 2003 sudah ada International Yoga Sport Federation yang didirikan oleh (mantan?) istri guru yoga kontroversial Bikram Choudury, Rajashree. 

    Indonesia sendiri sudah mulai merintis pembibitan atlet untuk cabor yogasana ini lewat Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia (PPYNI).

    Lomba yogasana yang pertama di Indonesia sendiri baru diadakan tahun ini di GOR Dimyati Kota Tangerang 25-26 November 2023.

    Tangerang dipilih sebagai tuan rumah karena pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VII Bandung 2023, tim Kota Tangerang yang mewakili Provinsi Banten sukses meraup titel juara umum, demikian dilansir dari satelitnews.com. (*/) 

  • MUNGKIN tidak banyak yang mengetahui bahwa di Palestina, yoga juga bisa berkembang berkat media sosial dan peran beberapa gerakan, inisiatif, dan komunitas yoga. 

    Yoga digunakan oleh sejumlah rakyat Palestina yang tinggal di kamp pengungsian, desa, dan kota untuk melepaskan tekanan hidup dalam penindasan Israel.

    Rakyat Palestina yang hidup di bawah penjajahan Israel harus menanggung tingkat stres yang begitu tinggi secara psikologis dan fisik.

    Stigma Haram

    Namun, penerimaan yoga tentu tidak semulus itu karena yoga begitu identik dengan agama-agama ardhi asal Hindustan (Buddha dan Hindu), stigma tersebut juga sempat singgah di benak orang-orang Palestina.

    Ada yang mengira yoga adalah ritual Buddhis yang cuma duduk-duduk manis dan mengharuskan orang melafalkan mantra “om”. Dan pemikiran kontra ini memang sempat muncul di benak kelompok yang lebih konservatif di Palestina.

    Padahal yoga yang diniatkan sebagai olahraga dan hanya melibatkan latihan fisik dan pernapasan dan tidak menggunakan mantra atau ritual agama lain tentunya hukumnya mubah atau boleh secara syariat, sebagaimana yang juga pernah difatwakan MUI pada tahun 2009.

    Dukungan Komunitas

    Perubahan terjadi pada tahun 2010 saat sebuah komunitas yoga nirlaba bernama Farashe diluncurkan di kota Ramallah.

    Di tahun 2012 dan 2013, organisasi nirlaba Anahata International yang bermarkas di Washington DC, AS, memberikan dukungan kepada komunitas Farashe dalam bentuk penyelenggaraan yoga teacher training di para perempuan Palestina yang bermukim di Tepi Barat. 

    Tujuan training ini ialah untuk memberikan bekal bagi masyarakat Palestina teknik-teknik untuk merawat kesehatan fisik dan mental diri mereka.

    Dalam periode 3 tahun, sekitar 80 orang pria dan wanita Palestina sudah lulus dari yoga teacher training yang diadakan oleh Farashe dan Anahata International.

    Para guru yoga Palestina ini menyatakan bahwa mereka menemukan beberapa persamaan dari gerakan yoga dan salat. Konsentrasi penuh saat yoga juga mirip dengan kekhusyukan yang dirasakan saat salat atau ibadah lain.

    Dengan kata lain, baik yoga dan ibadah sama-sama membantu bertahan melalui saat-saat sulit di tengah penindasan Israel dengan menjauhkan diri dari kebencian, mendengarkan hati nurani, pikiran dan jiwa agar mereka bisa istirahat sejenak. Tidak terus menerus terpaku pada rentetan tragedi dan konflik berdarah.

    Dari Matras ke Dunia

    Bex Tyrer, seorang guru yoga yang sekarang mengajar di Yoga Barn Ubud sekaligus aktivis sosial Inggris, mendirikan Palestine Yoga Movement dengan tujuan membagikan manfaat yoga pada orang-orang yang mengalami beragam masalah akibat konflik politik, keuangan dan sosial di Palestina. 

    Saat masih bekerja sebagai jurnalis, Tyrer pertama kali ke Palestina tahun 2004 bersama The Peace Cycle, sebuah kelompok pesepeda internasional yang mengayuh sepeda dari London hingga Jerusalem demi menggalang semangat perdamaian di Palestina.

    Juni 2021, Tyrer bekerjasama dengan para kenalannya di Palestina dan berhasil mengadakan kelas-kelas yoga bagi mereka yang sedang hidup dalam suasana keprihatinan di kota Ramallah, Jenin, dan Bathlehem. PYM digerakkan 7 guru yoga dan seniman yang membantu menyebarkan pesan perdamaian.

    Abu Sway, salah seorang pionir yoga di Palestina, mengatakan bahwa yoga memang tidak bisa menyelesaikan konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan tetapi setidaknya yoga bisa membantu orang-orang Palestina tetap optimis saat harus menghadapi ancaman eksistensi bangsa mereka yang entah akan terjadi sampai kapan.

    [Sumber: The Guardian & Yoga Journal]

  • YESTERDAY marked my last day of serving as Froyonion.com‘s editor-in-chief.

    Founded in 2021, our media outlet is an alternative voice by nature. It is meant to accomodate Gen Z’s hidden voices that mainstream media outlets are less interested in.

    With this in mind, we gradually built a network of contributing writers from various cities and towns across Indonesia.


    Our Achievements

    At this moment, we are not even three years old but proudly announce that we have published 3,918 articles, written by 306 writers, and served all these to our readers in 15 categories that cater to Gen Z’s demand of lifestyle content, from movies to music.

    On top of that, we built an organic following on TikTok and Instagram, two platforms that Gen Z are now most religiously using.



    Mutual Understanding

    After having worked with them for almost 30 months, let me tell you how I honestly thought of Gen Z because so far I have always heard of Gen Z’s bad rap on social media.

    Even a certain TikTok influencer dedicates his entire content to let the public know how annoying Gen Z can be in real life.

    As the one and only geriatric millennial (read: old) in our workplace, I can tell you I have different experience of working with some of them.

    The Gen Z I know here are so diverse just like my generation. They don’t fit in one kind of stereotype.

    In my experience, they may be bold, outspoken, expressive, determined yet fragile, confused, moody at the same time.

    It is true that they are sometimes problematic but AREN’T we all in our own way?

    My point is this transgenerational gap should never be made even wider by despising each other because I am positive that the Gen Z with whatever their potential and issues are the reflection of how they are raised by adults (previous generations) around them and the world they are now living in.

    So I am proud that I have been a part of this platform, helped, and teamed up with them for more than 2 years, building a platform that can let their voices heard and can serve as a ‘bridge’ that anyone especially Baby Boomers, Gen X and Gen Y (Millennials) like myself use to understand Gen Z even better.

    Thank you, Froyonion!❤️

    [Also published on my LinkedIn feed]

  • Guru yoga tak jarang terjebak pada beberapa pose yang ia tak bisa lakukan tapi harus diajarkan ke murid. (Foto: Wikimedia Commons)

    SEBUAH pertanyaan yang tidak pernah dibahas dalam teacher training secara blak-blakan ialah: “Apakah seharusnya seorang guru yoga cuma mengajarkan pose-pose yoga yang bisa ia demonstrasikan dengan baik?”

    Banyak guru yoga baru yang cuma membahas dengan diam-diam bersama teman-temannya tapi belum berani menanyakan ke guru mereka.

    Jangan Mengajarkan Pose yang Belum Bisa Dilakukan dengan Teknik yang Tepat dan Aman

    Satu pendapat soal ini ialah dari Arundhati Baitmangalkar (sumber: blog.ahamyoga.com) yang mengatakan tentu saja seorang guru yoga harus mengajarkan pose-pose yang ia bisa lakukan dengan baik saja. 

    Alasannya ialah karena yoga merupakan latihan/ praktik yang didasarkan pada pengalaman seseorang. “Seorang guru bisa membimbing muridnya sejauh yang ia sudah tempuh sendiri. Di luar pengalamannya itu, maka tidak bisa dikatakan berdasarkan pada konsep Santosa (merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki) dan Satya (kebenaran). 

    Namun, bagaimana dengan guru yoga baru yang perbendaharaan asananya masih minim sehingga dalam mengajar jadinya terbatas?

    Baitmangalkar mengatakan guru yoga baru bisa belajar menerapkan konsep-konsep Niyama seperti Saucha ke dalam latihan asana mereka sehingga walaupun perbendaharaan asana mereka masih relatif sedikit tapi latihan menjadi lebih ‘kaya’ secara internal dan spiritual. Misalnya dengan menerapkan Saucha (membersihkan niat latihan yoga agar lebih murni), Santosha (berusaha menerima pencapaian saat ini tanpa menghakimi), Tapas (berdisiplin dalam latihan), dan sebagainya.

    Bagi Anda yang meyakini demikian, tentu tidak ada jalan pintas selain berlatih rutin dan meningkatkan kemampuan diri sehingga perbendaharaan asana Anda bisa bertambah. Cara lain adalah dengan mengajar murid yang tingkat kemampuan asananya juga relatif setara dengan Anda untuk sementara waktu.

    Ajarkan Saja Pose yang Tidak Bisa Dilakukan Asal Paham Teknik dan Risikonya

    Terlepas dari anjuran untuk mengajarkan cuma asana yang kita bisa lakukan tadi, harus diakui bahwa murid pastinya akan bosan jika cuma diajari asana yang gurunya bisa. Tak jarang kita temui murid-murid yang kemampuan asananya jauh melebihi guru-guru mereka.

    Lalu bagaimana merespon fenomena ini dengan bijak jika terjadi di kelas Anda?

    Pendapat lainnya yang berbeda ialah dari almarhumah Maty Ezraty, seorang guru senior yang menekuni Ashtanga sekaligus Iyengar Yoga semasa hidupnya.

    Menurutnya, mengajar yoga merupakan sebuah seni yag membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan fisik melakukan banyak asana menantang. Asana cuma sebuah kendaraan, alat, kata Ezraty.

    Ia mengatakan sah-sah saja seorang guru yoga mengajarkan sebuah pose yang badannya sendiri tidak bisa lakukan dengan syarat ia memahami dengan sepenuhnya alignment yang benar dan risiko yang harus diperhatikan dalam eksekusi asana tadi. 

    Ezraty menandaskan sebuah kendala dalam badan guru tak seharusnya dijadikan penghalang untuk mengajarkan ke muridnya. Ia bisa meminta orang lain untuk mendemonstrasikan sementara ia membimbing. Misalnya jika seorang guru sedang sakit leher sehingga tidak bisa headstand sementara murid-muridnya siap secara fisik untuk melakukannya, tentu saja ia tidak boleh egois dengan menghindari pose tersebut.

    Lain lagi jika seorang guru memang belum pernah belajar sebuah pose dan belum paham alignment, teknik dan risikonya, maka sangat disarankan jika ia menghindari mengajarkan pose itu dengan sembarangan. (*/)

  • (Foto: Wikimedia Commons)

    DIABETES akhir-akhir ini sudah menjadi salah satu penyakit yang paling menakutkan bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

    Data statistik global menerangkan bahwa tercatat setidaknya ada 347 jiwa penduduk dunia yang menderita diabetes, menurut jurnal Lancet tahun 2011.

    Angka ini trus bertambah dengan gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik dan asupan yang kurang sehat.

    Tak cuma orang dewasa, anak-anak pun menjadi korban akibat pola hidup dan jenis makanan yang mereka konsumsi sekarang banyak mengandung gula dalam jumlah yang berlebihan bagi tubuh mereka.

    Lalu apakah yoga bisa menjadi salah satu solusi agar kita bisa terhindar atau setidaknya bisa mengendalikan diabetes ini?

    ‘Mainkan’ Intensitas

    Dari temuan sebuah studi yang dilakukan sejumlah ilmuwan India yang dimuat hasilnya di International Journal of Yoga (ijoy.org.in), diketahui yoga bisa membantu kita terhindar dari diabetes dengan syarat bahwa latihan asana yoga kita harus lebih lama dan intensitasnya lebih tinggi.

    Jadi latihan asana yang intensitas ringan seperti Yin Yoga atau Restorative Yoga atau Yoga Nidra jelas tidak bisa membantumu dalam mencegah diabetes karena intensitasnya rendah. 

    Jenis yoga yang bisa membantu mencegah diabetes ialah yang berintensitas sedang atau moderat ke atas, misalnya Hatha Yoga, Vinyasa Yoga yang durasi latihannya bukan sekadar 5-10 menit tapi 30 hingga 1 jam. Intinya pola hidup harus lebih aktif.

    Faktor-faktor Penentu

    Ini karena sebagian praktisi yoga dalam studi tersebut ditemukan masih terkena diabetes padahal mereka rajin beryoga.

    Lalu apa yang salah?

    Ternyata ada peran faktor keturunan. Mereka yang orang tua atau kakek neneknya memiliki diabetes berisiko lebih tinggi terkena penyakit yang sama.

    Ada juga faktor gender. Pria lebih berisiko terkena diabetes ini daripada wanita.

    Dan juga faktor lama latihan yoga. Makin lama seseorang sudah menjalani latihan yoga, risiko diabetes juga makin tinggi ternyata.

    Saya duga karena badan sudah beradaptasi dengan gerakan-gerakan yoga sehingga tidak lagi menguras energi tubuh.

    Maka dari itu, para praktisi yoga yang sudah sekian lama beryoga mesti menaikkan intensitas latihannya agar manfaat anti diabetes yoga bisa terasa.

    Faktor bekerja tidaknya seseorang juga berpengaruh. Mereka yang pengangguran berisiko leboh tinggi terkena diabetes dibandingkan yang bekerja.

    Jika ada kecanduan pun seseorang bisa mengalami peningkatan risiko diabetes. Mereka yang kecanduan narkoba, tembakau, alkohol bisa mengalami risiko diabetes lebih tinggi dari mereka yang tidak memiliki adiksi. (*/)

Verified by MonsterInsights