• PENGANTAR: Artikel wawancara bersama Noudie ini saya tulis 2014 lalu dan saya tayangkan kembali di sini sebagai dokumentasi.

    14 Nov 2014 Hits : 4,460
    Noudie de Jong, entrepreneur pendiri agensi Ideaimaji. (Foto: Dok. Noudie)

    Makin banyak entrepreneur bermunculan dari generasi muda bangsa ini. Pastinya ini menjadi sebuah fenomena yang menggembirakan. Namun, tidak sedikit yang memulainya dengan hanya didasari niat menjadi tenar dan kaya secara finansial. Tak heran saat kekayaan dan kepopuleran tak kunjung didapat, semangat mereka pun memudar pula. 

    Hal ini menjadi satu keprihatinan tersendiri. Untungnya, ada pula sebagian entrepreneur muda yang telah berbisnis dengan pola pemikiran yang jauh berbeda. Salah satunya adalah Noudie de Jong yang kini menjalankan 3 bisnis sekaligus. Apa saja yang mengantarnya hingga dapat menjalankan bisnis sebanyak itu? Dan apa saja yang bisa Anda pelajari dari perjalanan dan pengalamannya selama berbisnis di dunia digital yang perkembangannya demikian pesat? Inilah wawancara Ciputraentrepreneurship dengan Noudie via email. 

    Bidang bisnis apa yang sedang digeluti saat ini di Ideaimaji, Tonehighway, dan Intuiticode?

    Idea Imaji adalah agensi digital communication, dan pusat perhatian saya untuk saat ini. Berdiri tahun tahun 2005 dan perusahaan pertama saya. Berawal sebagai studio multimedia, kemudian berkembang menjadi web development company, sebelum akhirnya memiliki core bisnis seperti sekarang.

    Tonehighway adalah start-up music streaming service yang saya dan 2 orang teman kembangkan di tahun 2009. Tonehighway didesain sebagai tempat showcase musisi indie sekaligus memasarkan karya-karyanya. Saat ini Tonehighway sedang dalam tahap perubahan model bisnis supaya dapat lebih kompetitif. 

    Intuiticode adalah start-up pengembang digital produk dan web-service yang saya co-founded di akhir tahun 2011 bersama rekan saya, Dwi Asharialdy. Produk pertama yang kami kembangkan adalah designosaurs.net, sebuah online store untuk e-commerce theme. Hingga saat ini, semua klien kami berasal dari luar negeri yang memang membutuhkan situs e-commerce sebagai bagian dari bisnis mereka. 

    Dari mana dan bagaimana ide bisnis itu datang dan merintisnya?

    Sekitar tahun 2002, saya sempat jadi freelancer di sebuah perusahaan penyedia solusi sistem ERP. Saat itu, owner perusahaannya memiliki project e-learning, dan berhubung SDM di perusahaannya terbatas, maka beliau mengumpulkan tim freelancer untuk pengerjaan project ini. Kebetulan dengan deskripsi pekerjaan sebagai Multimedia Designer, saya bisa menghabiskan waktu hingga 18 jam sehari di kantor.

    Seiring dengan banyaknya waktu yang saya habiskan di kantor, saya dan ownernya menjadi cukup dekat; beliau orang yang sangat terbuka dan enak buat diajak diskusi. Sayapun banyak belajar dari cara beliau menjalankan bisnisnya.

    Lama-kelamaan, proyek e-learning ini makin banyak, sedangkan ownernya tidak ingin perusahaannya terjun terlalu dalam ke bisnis ini. Alasan beliau adalah khawatir akan merusak fokusnya pada ERP solution. Maka beliau menyarankan saya untuk membuat perusahaan sendiri dengan bantuan beliau.

    Maka tahun 2005 lahirlah CV. Idea Imaji Persada. Bermodalkan tabungan gaji, saya beranikan untuk mengurus legalitas pendirian dari notaris dan membeli 1 unit komputer. Project pertama saya ketika itu adalah pembuatan modul e-learning untuk jurusan Arsitektur institut teknologi terkemuka di Bandung.

    Demi totalitas dalam mengurusi bisnis baru ini, saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah di Teknik Penerbangan ITB. Tentu orang tua semula sedikit khawatir dengan keputusan saya, berhubung ayah dan ibu saya adalah seorang karyawan. Namun seiring berjalannya waktu, ketika usaha saya sudah mulai berkembang, mereka mulai melunak dan akhirnya mendukung keputusan saya.

    Bagaimana kegiatan/rutinitas sehari-hari dalam bisnis atau di luar bisnis?

    Hidup saya adalah bisnis. Antara kehidupan pribadi dan bisnis kadang tak memiliki batas yang jelas. Saya bisa saja bekerja di akhir minggu atau hari libur. Saya sangat bersyukur saya dikaruniai dengan seorang istri yang sangat memahami aktivitas suaminya yang tidak terjadwal dengan pasti.

    Saya bukan tipe orang yang mengkotak-kotakkan waktu sedemikian rupa. Saya tidak mematok alokasi waktu sebanyak sekian jam untuk pekerjaan, dan sisanya benar-benar tak mau diganggu, tidak. Saya menjalani keduanya dengan seimbang. Yang penting buat saya adalah saya bisa tetap menikmati dan terus belajar hal baru setiap hari.

    Apa yang menjadi hobi di waktu senggang?

    Jika saya memiliki waktu yang senggang, dalam arti tidak ada urusan pribadi ataupun pekerjaan yang harus diselesaikan, saya memilih untuk bersantai di rumah. Biasanya saya melepas penat dengan nonton DVD atau membaca komik, atau menghabiskan buku yang lebih “serius” saat saya perlu mengupdate pengetahuan dan skill. Jika sedang ingin keluar, ya biasanya saya akan nonton film di bioskop bersama istri, atau makan di restoran sushi. Kebetulan kami berdua penggemar berat sushi!

    Menurut Anda, apa saja kunci sukses seorang entrepreneur?

    Saya selalu percaya dengan kekuatan kerja keras, baik kerja fisik maupun otak. Ditambah dengan mental yang kuat serta berpegang teguh dengan prinsip dan etika dalam berbisnis, akan membuat kita menjadi pebisnis yang hebat dan tidak cengeng, dalam pengertian mampu memaksakan diri hingga meksimal untuk mencapai goal dan mampu mengikuti perubahan. Karena saya percaya, siapa yang tidak bisa beradaptasi terhadap perubahan maka harus bersiap digilas jaman.

    Tantangan terbesar apa yang Anda hadapi sebagai entrepreneur?

    Untuk saya, tantangan terbesar adalah menaklukkan diri sendiri. Kebetulan saya seorang yang cenderung introvert, jadi saya perlu usaha lebih saat harus berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sebagai pemiliki bisnis, saya selalu perlu untuk memperluas networking dan berdiskusi dengan para stakeholder di industri ini. Selain itu, ada juga rasa malas, ragu, takut, dan khawatir berlebihan yang juga harus ditaklukkan.

    Selain diri sendiri, tantangan terbesar lainnya adalah harus terus mengikuti perubahan industri yang menjadi core bisnisnya. 

    Kebetulan dalam kasus saya, bisnis digital dan online, kecepatan perubahannya sangat tinggi. Dalam tempo beberapa tahun saja, orang sudah berpindah dari trend ke trend lainnya. Begitulah juga yang terjadi pada bisnis saya. Saya harus terus mengikuti terus perkembangan industri, mempelajari dan menguasai platform dan teknologi baru yang sesuai kebutuhan bisnis saya.

    Motivasi apa yang tetap mendorong di saat krisis?

    Saya adalah seorang yang sering menempatkan diri saya sendiri dalam resiko. Resiko yang masih masuk akal tentunya. Dengan sebelumnya mengukur kemampuan diri saya sendiri, saya seringkali dengan sengaja menempatkan diri saya dalam posisi “terdesak”, di mana saya menjadi harus belajar dan bekerja sebaik dan secepat mungkin.

    Dengan seringnya menampatkan diri sendiri dalam kondisi “krisis”, saya melatih diri untuk tetap optimis dan dapat mencari peluang dalam setiap situasi.

    Bagaimana proyeksi bisnis Anda selama 5 tahun ke depan? Apa strateginya?

    Bisnis digital sangat ganas. Perkembangannya sangat “menakutkan”. Sejak boom-nya sekitar 3-4 tahun lalu, sudah banyak start-up digital yang muncul dan tenggelam, baik perusahaan lokal maupun asing.

    Untuk menghadapi iklim industri ini, selain harus memiliki kecerdasan dalam membaca tren pasar, membangun strategi jangka panjang menjadi hal yang penting. Untuk strategi jangka panjang, saya memfokuskan untuk menguatkan budaya perusahaan. Targetnya adalah untuk retaining talent terbaik dan mengembangkan kepemimpian di dalam perusahaan.

    Saya juga optimis dapat kembali mengembangkan Tonehighway jika infrastruktur internet dan budaya online di Indonesia sudah lebih matang. Ke depannya saya juga memprediksi bahwa e-commerce akan tumbuh dengan baik di Indonesia, yang menjadi pasar yang bagus untuk pengembangan produk-produk berikutnya dari Intuiticode.

    Pendapat tentang entrepreneurship di Indonesia?

    Dalam beberapa tahun ke belakang, menurut saya entrepreneurship sudah mulai populer dan berhasil menjadi aspirasi bagi banyak anak muda di Indonesia. 

    Namun, ada satu hal yang cukup mengkhawatirkan, yaitu terdapat kesan bahwa entrepreneurship merupakan jalan pintas untuk menjadi kaya. Bagi saya, hal ini jauh berbeda dengan yang sudah saya jalani dan rasakan. Memang akan ada outliers yang bisa memperoleh hasil dalam waktu singkat, tapi sekali lagi perlu diingat bahwa mereka adalah outliers. Dari setiap 1 orang yang menjadi seorang entrepreneur yang sukses dalam waktu singkat, bisa jadi ada puluhan atau bahkan ratusan lainnya yang gagal karena memiliki pola pikir “kaya instan”. Satu orang itupun biasanya sukses dengan cepat bukan karena niat mereka untuk menjadi kaya secara instan, tapi karena memang bisnisnyalah yang menjadi passionnya, sehingga ia berjuang dengan segala daya upayanya.

    Memang bukan maksudnya setiap orang tidak perlu mencoba untuk menjadi entrepreneur. Saya malah menyarankan at least once in everyone’s life cobalah untuk menjadi seorang entrepreneur. Karena menjalani profesi entrepreneur akan memberikan pola pikir baru yang jauh dari pola pikir “kaya instan” (yang menurut saya mirip dengan orang berjudi) yang mungkin pernah terbersit di benak beberapa orang. Memberikan sense of responsiblity, maturity dan wisdom yang biasanya baru kita dapatkan setelah bekerja tahunan sebagai karyawan. Juga memberikan dorongan untuk terus belajar dan memperhatikan hal-hal kecil dalam melakukan pekerjaan kita, karena seperti kata orang “devil lurks in the details”.

    Pesan untuk mereka yang mau jadi entreprenur?

    Percaya apa yang kamu lakukan, dan selesaikan apa yang sudah dimulai. Di perjalanannya semua pengusaha akan membuat keputusan-keputusan sulit, dan jangan ragu untuk mengambil keputusan itu hanya karena ingin menyenangkan semua pihak. Kalau waktunya kerja ngotot, ya harus ngotot. Intinya, jangan manja.

    Tapi hal yang tidak kalah pentingnya adalah tetap berpedoman pada nilai-nilai moral dan etika saat berhubungan dengan karyawan, rekan bisnis, klien atau orang lainnya. Ingat hal ini: what goes up, will go down. Yakinlah bahwa Anda akan sampai pada puncak kejayaan suatu saat, namunakan ada saatnya Anda akan mengalami krisis atau bahkan kejatuhan. Dan ketika hal itu terjadi, hanya orang-orang yang dulu kita perlakukan dengan baik, etis dan profesional lah yang dapat meredam jatuh kita dan membantu kita untuk kembali naik.(*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Artikel ini saya tulis 2014 lalu dan saya tayangkan di sini kembali untuk dokumentasi.

    21 Nov 2014 Hits : 1,134
    Press conference GEW 2014 yang dihadiri Harun Hajadi (paling kiri) sebagai perwakilan dari Ciputra Group. (Foto: Dokumentasi Akhlis Purnomo)

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Global Entrepreneurship Week Summit Indonesia 2014 diselenggarakan hari ini di Ciputra Teater, Ciputra World 1 Jakarta.  Event ini menjadi puncak dari serangkaian event entrepreneurship sebelumnya yang bertujuan ingin menyebarkan kesadaran untuk berentrepreneurship di Indonesia. Sejumlah entrepreneur, startup, investor dan wakil pemerintah dihadirkan untuk berdialog mengenai isu entrepreneurship.

    Di Indonesia, GEWSI diadakan oleh Grup Ciputra yang dikenal memiliki perhatian tinggi pada entrepreneurship. Hal ihwal keterlibatan Grup Ciputra bermula saat Ir Ciputra menerima penghargaan dari Enst & Young tahun 2007 lalu. Saat itu ia tanpa sengaja bertemu dengan perwakilan Kauffman Foundation yang berpengalaman dalam bidang entrepreneurship di AS. Perbincangan berlanjut menjadi sebuah kerjasama pelatihan entrepreneurship bagi guru dan dosen. Ciputra tidak ingin melatih entrepreneur tetapi para guru dan dosen dengan alasan bahwa mereka ini akan bisa menyebarkan semangat entrepreneurship ke anak didik mereka. Dari sana, diharapkan ada peningkatan kesadaran berentrepreneurship di masyarakat luas.

    Vice President Global Entrepreneurship Network Buke Chuhadar, Vice President Ewing Marion Kauffman Foundation Dane Stangler, dan Jeff Hoffman (pendiri Pricline dan ColorJar) berkesempatan memberikan presentasi mereka mengenai entrepreneurship dan scaling-up (cara membesarkan usaha).

    Pokok bahasan scaling-up dipilih karena mayoritas UMKM di Indonesia mengalami kemadekan atau gagal berkembang untuk menjadi skala medium atau bahkan menjadi bisnis berskala lebih besar lagi di tahun-tahun berikutnya sebagian karena  pendirinya karena kurang  kreativitas dan inovasi. Masalah ini telah menginspirasi Pak Ci untuk mempromosikan entrepreneurship di Indonesia. Hal ini termasuk dukungan terhadap acara-acara seperti Global Entrepreneurship Week di Indonesia.

    Ia menyoroti perlunya sinergi yang lebih baik antara 4 elemen: pemerintah, akademisi, bisnis dan organisasi sosial. “Kita masih kurang koordinasi yang mampu mempersatukan seluruh pemegang kepentingan entrepreneurship untuk bersama-sama mengupayakan terciptanya ekosistem startup yang lebih matang di Indonesia,” kata pendiri Grup Ciputra itu.

    Event yang diadakan sepanjang pagi hingga petang ini juga diramaikan oleh gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menyempatkan diri memberikan sambutan berjudul “Peran Entrepreneurship dalam Membentuk Masa Depan”. Ahok berpesan pada para anak muda yang hadir untuk turut menciptakan lapangan kerja.

    Dalam kesempatan itu, Ir Ciputra dan Giuseppe Nicolosi juga hadir untuk meresmikan Ciputra-GEPI Incubator dan Startup Indonesia. Nicolosi adalah Regional Managing Partner Ernst & Young.

    Dihadirkan pula sejumlah narasumber dalam talkshow “Developing Entrepreneurship Ecosystem in Indonesia” siang harinya. Perwakilan dari berbagai elemen memberikan pandangan mereka mengenai bagaimana Indonesia mesti membangun ekosistem entrepreneurship mereka. Salah satu pembicara, Shinta Khamdani dari Angel Investor Indonesia (ANGIN) mengatakan perlunya keterpaduan dalam membangun ekosistem tersebut. “Karena selama ini kita terkesan berjalan sendiri-sendiri,”tukasnya.

    Dalam GEWSI ini, para entrepreneur dan startup juga diberikan kesempatan untuk unjuk diri. Sejumlah entrepreneur Indonesia dan manca naik panggung dalam acara “Talkathon” yang isinya memberikan kisah dan kiat entrepreneurship mereka di hadapan entrepreneur lain dan para mahasiswa. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Saya menulis artikel ini 2015 lalu dan menayangkannya kembali di sini untuk dokumentasi.

    14 Jan 2015 Hits : 1,039

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Bertempat di Ciputra Marketing Gallery Jakarta pagi ini (14/ 1/ 2015), Ciputra Foundation menyelenggarakan sebuah pelatihan entrepreneurship bagi para lulusan kampus di Jerman yang kembali ke Indonesia. Pelatihan tersebut direncanakan akan berlangsung selama 3 hari dan bertujuan untuk memantapkan mindset entrepreneurship dengan menggunakan pendekatan Ciputra Way.

    Dikatakan oleh Presiden Direktur Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) Antonius Tanan yang menjadi pembicara dalam hari pertama pelatihan ini bahwa pelatihan akan mencakup pembelajaran entrepreneurship sebagai refleksi dari Ir. Ciputra dan riset akademis mengenai entrepreneurship. “Lebih lanjut, kita juga akan membahas mengenai peluang (opportunity) dalam entrepreneurship dan workshop dan observasi ke lapangan sehingga tidak hanya kajian teoretis saja,” tutur Antonius.

    Salah satu alasan diadakannya pelatihan bagi para lulusan Indonesia dari berbagai universitas di Jerman itu adalah ingin mendorong peningkatan jumlah entrepreneur di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama, sebuah negara akan niscaya lebih makmur jika memiliki lebih banyak entrepreneur. Para entrepreneur mampu memberikan lapangan pekerjaan baru bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya sehingga problem pengangguran bisa teratasi.

    Selain itu, Antonius juga mengatakan keprihatinannya mengenai rendahnya jumlah usaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia yang mampu melakukan scaling-up (membesarkan skala usaha).  Jumlah pengusaha UMKM kita memang sudah banyak tetapi mayoritas masih stagnan, tidak mampu membesarkan bisnisnya meski sudah bertahun-tahun berjalan. Antonius menandaskan jika pengusaha-pengusaha ini diajari caranya berinovasi, peluang mereka untuk membesarkan usaha akan lebih tinggi. Pada gilirannya, jika skala usaha lebih tinggi, serapan tenaga kerja juga akan lebih luas dan dampak positifnya terhadap perekonomian bangsa juga lebih baik.

    Pernyataan Antonius diamini oleh Direktur Hubungan Internasional Ciputra Foundation Ivan Sandjaja yang mengutip hasil sebuah survei global oleh Global Entrepreneurship Week. Setelah sekitar 5000 orang entrepreneur disurvei, diketahui bahwa peringkat Indonesia dalam hal entrepreneurship masih rendah. Hal ini karena aspek mindset, inovasi dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk berinovasi yang masih kurang. Tidak heran survei tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi ke-120.

    “Rendahnya peringkat entrepreneurship Indonesia lebih disebabkan oleh rendahnya kemampuan untuk scaling-up yang dimiliki para pengusaha Indonesia yang ditandai dengan sukses tidaknya menggandakan omset dalam waktu 5 tahun,” tukas Ivan.

    Menurut Ivan, kelemahan bisnis-bisnis yang didirikan pengusaha Indonesia ialah kurang fokusnya pada pasar dunia. “Pengusaha kita lebih banyak membuat produk yang fokus pada pasar dalam negeri. Fokus pada pasar dunia kurang, sehingga akibatnya saat hendak go international kesulitan.”

    Rakyat Indonesia juga harus memanfaatkan pasar dalam negeri sebagai peluang untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia sebagai produsen, bukan konsumen semata. Untuk itulah dibutuhkan lebih banyak entrepreneur di tanah air, yaitu agar Indonesia tidak cuma menjadi pasar bagi pengusaha dari negara-negara lain, Anton berkata lagi pada para peserta.

    Pelatihan tersebut terselenggara oleh kerjasama antara Ciputra Foundation dan badan Geselschaft fur Internationale Zusammerbeit (German Development Cooperation) yang berkedudukan di Jakarta. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Saya pernah bekerja sebagai jurnalis untuk sebuah website bertema entrepreneurship antara tahun 2010 hingga 2015. Saya berkesempatan menulis sejumlah startup dan mewawancarai sederet entrepreneur muda di era menjamurnya gagasan bahwa punya startup itu keren banget. Berikut adalah salah satu tulisan saya tentang sebuah startup yang kini sudah tidak ada kabarnya.

    Selasa, 15 Januari 2013 09:21

    Berawal dari sebuah komunitas di Yogyakarta, sebuah startup bernama “Capung” sanggup melanglang buana hingga ke negeri Paman Sam. “Sebenarnya kami bermula dari sebuah komunitas. Di dalamnya tidak hanya berisi orang teknik, tetapi juga dari berbagai bidang namun memiliki minat yang sama yakni elektronika, aeromodelling, dan robotika,” ungkap Dendy Pratama, salah satu sosok kunci dan pendiri Capung. 

    Setelah berkumpul dan berdiskusi, muncullah sebuah rencana pengembangan perangkat yang bisa menerbangkan kamera. Fungsinya untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan bisnis mereka yang merancang. “Yang punya bisnis percetakan menggunakannya untuk percetakan. Sementara untuk saya sendiri yang studi komunikasi menggunakannya untuk fotografi dan berbagai kebutuhan pembuatan film dokumenter,” ujarnya. Setelah beberapa waktu dan mengikuti kompetisi IEC 2011, ia baru dapat berkonsentrasi mengembangkan sisi robotikanya. Jadilah pesawat tanpa awak mikro, imbuhnya. Mulanya hanya berupa pesawat styrofoam yang digunakan untuk pengemasan barang. Sangat sederhana, tetapi sekarang sudah lebih berkembang. Perangkat yang dibuat oleh Capung berjenis 3: trikopter, helikopter, dan multikopter.

    Apa yang dilakukan kru Capung hampir sama dengan berbagai agen pemotretan yang kita kenal. Bedanya, mereka mengambil angle di sisi atas, bukan dari samping, depan atau yang sejajar dengan posisi objek foto. Inilah yang dinamakan “aerial photography”. Kata Dendy,”Kami memilih foto udara karena saingannya di darat sudah terlalu banyak dan saya tak terlalu hebat untuk fotografi darat.”  Pemikiran inovatif dan out-of-the-box , Dendy disambut senyum dari audiens acara Jumpa Pers ITB Entrepreneurship Challenge 2013 (IEC 2013) yang berlangsung di Pusat Kebudayaan AS “At America”, kawasan Sudirman Jakarta tadi malam (14/ 1/ 2013).

    “Kami tergerak untuk mengabadikan berbagai gambar dari tempat-tempat indah di seluruh nusantara dari atas seperti yang banyak kita saksikan di National Geographic, NHK dan sebagainya yang banyak menayangkan film dokumenter dengan angle di atas,” Dendy berkata. Capung tidak mau mengambil ange yang sudah digunakan banyak fotografer. “Kami pun memutuskan untuk berkeliling Indonesia untuk mengabadikan tempat-tempat yang indah dengan menggunakan angle-angle berbeda. Sejumlah tempat yang telah mereka potret dari atas ialah Pura Bedugul di Bali, Candi Prambanan di Jawa Tengah, bahkan jembatan Suramadu. Angle dari udara membuat tempat-tempat tujuan wisata ini terlihat lebih memukau. 

    Untuk memotret berbagai objek menarik tersebut sering kru Capung harus mengerahkan berbagai daya upaya dan trik untuk menyiasati keadaan dan medan yang sukar. Seperti saat memotret jembatan Suramadu, mereka harus mengendarai perahu di bawah jembatan tersebut dan kemudian menerbangkan pesawat tanpa awak yang telah dilengkapi kamera untuk memotret dari ketinggian yang pas. Pemotretan tempat-tempat wisata ini mereka lakukan sekadar memenuhi rasa ingin tahu, bukan karena keharusan pengerjaan sebuah proyek.

    Capung selama ini menangani proyek-proyek yang dibagi menjadi 2 kelompok besar: komersial dan non-komersial. Untuk jenis komersial, mereka mengenakan biaya yang bervariasi tergantung sejumlah faktor terutama durasi terbang. Sementara untuk non-komersial, mereka sering diikutsertakan dalam pemantauan dari udara pasca bencana untuk mengetahui tingkat keparahan bencana di suatu wilayah. 

    Secara umum, Capung menyediakan jasa fotografi dan videografi untuk berbagai tujuan. Di antaranya ialah pemetaan, dokumentasi, survey, film / sinetron dan berita. Dilengkapi dengan peralatan canggih dan laboratorium serta riset yang mendalam perangkat capung telah teruji di berbagai medan.

    Startup yang tahun ini direncanakan akan menjadi badan hukum tersebut harus menghadapi berbagai kendala, terutama mahalnya peralatan yang mayoritas masih impor. Namun, apa yang menjadi batasan bagi orang lain justru membuat kru Capung menjadi lebih kreatif. Mereka mampu mencari bahan-bahan di sekitar yang lebih murah dengan fungsi yang kurang lebih sama. Ini terjadi jika peralatan tiba-tiba rusak. “Dulu kami harus memulai dengan 1 baterai, dengan harga 20 dollar dan harus pesan di Hong Kong,” katanya. Keterbatasan dana itu membuat Capung harus lebih kreatif.

    Nama “Capung” belum banyak dikenal tetapi hasil karya mereka telah banyak beredar. Seperti foto-foto yang dipublikasikan oleh berbagai stasiun televisi di Indonesia beberapa waktu lalu tentang fenomena Crop Circle di Yogyakarta. “Inilah proyek pertama kami: memotret crop circle di sana.Saat itu banyak stasiun TV bingun cara mengambil gambar. Dan kamilah yang satu-satunya dapat mengambil gambar dari ketinggian,” kata Dendy. Dan hebatnya, hal itu dilakukan tanpa harus menyewa helikopter yang mahal. Dari hasil jerih payah menjual dokumentasi crop circle ke stasiun TV itulah Capung makin menjulang.

    Satu kiat untuk mengumpulkan modal awal berbisnis dari Dendy ialah kelihaian dalam memanfaatkan kompetisi-kompetisi entrepreneurship. “Karena biasanya lomba-lomba ini menawarkan banyak hadiah berupa uang,” kata Dendy yang telah diundang ke AS untuk memperdalam pengetahuan tentang penerbangan pesawat awak tanpa mikro yang berhubungan erat dengan Capung. Uang hadiah itu bisa dialokasikan ke berbagai pos untuk mendanai startup agar lebih berkembang. “Itulah yang memotivasi kami untuk menang,”tambahnya mantap. (*/Akhlis)

  • The year of 2023 has given me and taken from me so much.

    But given all the ups and downs, I think I can manage this way better than before because I am now more stable in every possible aspect particularly financially.

    Recently it seems I felt drawn back to the period of 2017-2018 when I hustled a lot like any other young man at my age with an aspiration of some economic success.

    I may not be the richest man on earth but I know really well that where I am now is better that where I used to be. And I thank God for that.

    So if you ask me what is that one piece of advice that makes it possible for me to go through 2023, I’d say: “Don’t grieve. Anything you lose comes round in another form.“

    Rumi the philosopher said the line aeons ago.

    I truly believe that. So much I didn’t cry when I was let go this year.

    For some others, it might be soul crushing news. But as for me, I think I have saved enough to go on living for several years ahead if I’m not making any cents.

    So I’m now taking some time to enjoy life which I also have been doing for the last several years. Boy, am I so skillful at it.

    Stable finance, slow living in the suburbia, some remote work to pay my bills, and yoga gigs that bring money are what I am so thankful for this year.

    Rumi’s thought also goes in line with this Quranic verse:

    There is no god but He; to Him is the final goal. (Qur’an, Surah al-Mu’min, 40:3).

    That’s how I know what should be my beacon in this journey.

    That way, I will never ever feel lost.

    How about you? What’s your favorite piece of advice that enables you to keep going despite a tough 2023? For real, I want to know that.

    Regardless, let’s stay clear headed despite whatever coming on our way in 2024…. (*/)

  • The Beatles juga pernah belajar yoga di India. (Foto: Wikimedia Commons)

    SEKITAR 45 tahun lalu, band legendaris The Beatles yang beranggotakan Paul McCartney, John Lennon, George Harrison, dan Ringo Starr ini pernah bersentuhan dan bahkan mempelajari secara intensif yoga dan spiritualitas.

    Dalam buku terbaru karya jurnalis Inggris Mick Brown yang berjudul “The Nirvana Express” , terbitan Penguin Random House, dibahas perjalanan sejarah orang-orang Barat yang mencari pencerahan dari pemimpin spiritual India.

    Dalam bukunya, Brown mengupas secara mendalam ‘kegilaan’ orang-orang Barat terhadap beragam filsafat keagamaan India.

    Uniknya salah satu ikon pemberontakan dan perlawanan anak muda saat itu, The Beatles, tertarik dengan yoga.

    Menurut Brown, The Beatles pernah belajar yoga secara langsung dengan Maharishi Mahesh Yogi—yang kemudian menyebut dirinya sebagai guru spiritual band tersebut.

    Pertemuan The Beatles dengan Maharishi Mahesh Yogi

    Semua berawal saat John Lennon mendengar istilah “meditasi transendental” dari teman modelnya Pattie Boyd. Istilah itu membuat Lennon penasaran setengah mati.

    Dalam bab “Love Is All You Need” dalam bukunya, Brown mengungkapkan bahwa pada tanggal 25 Agustus 1967 pertemuan pertama antara The Beatles dan Maharishi Mahesh Yogi terjadi di Hotel Hilton. Kemudian mereka menghadiri kursus 10 hari yang diadakan sang guru, “Panduan Spiritual”, di kota Bangor, North Wales.

    Pertemuan ini menandai titik balik bagi The Beatles, yang setelah bertahun-tahun menjalani banyak tur dan meraih popularitas di seluruh dunia, tetapi secara spiritual mereka mengalami kekosongan sehingga terdorong untuk mencari ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan melalui meditasi transendental.

    Maharishi, yang mengakui potensi pengaruh The Beatles, mendorong mereka untuk menggunakan “keajaiban” mereka untuk memengaruhi generasi muda secara positif.

    Kursus di Bangor tersebut ini bertujuan menginisiasi band ini ke dalam meditasi transendental, menyiapkan mereka untuk retret yang lebih panjang di Rishikesh, India pada tahun berikutnya.

    Namun, di tengah pengalaman transformatif ini, tragedi melanda dengan tiba-tiba meninggalnya manajer The Beatles, Brian Epstein, hanya dua hari setelah memulai kursus.

    Kehilangan yang mendadak ini membuat band ini merasa seperti tanpa arah, tetapi praktik meditasi menawarkan mereka ‘obat penenang’.

    Penyalahgunaan Nama The Beatles oleh Maharishi

    Maharishi, melihat meditasi transendental sebagai produk untuk disebarkan secara massal, menyamakannya dengan es krim dan memanfaatkan kesempatan untuk mempromosikannya dengan menggunakan nama The Beatles.

    The Beatles di tengah perjalanan harus menghadapi tantangan dalam hubungan mereka dengan Maharishi begitu mereka menyadari bahwa hubungan guru-murid itu rawan disalahgunakan demi keuntungan sang guru.

    Dikutip dari Wikipedia, awalnya The Beatles tertarik membuat film tentang guru mereka tapi tak disangka-sangka saat sang guru ditawari, beliau langsung meminta bagi hasil dari keuntungan film itu nantinya.

    The Beatles syok karena mereka tak menyangka seorang guru spiritual tertarik dengan hal-hal berbau keduniawian.

    Kenyataan itu membuat The Beatles sampai menuduh bahwa Maharishi adalah seorang penipu semata.

    Ditambah lagi mereka mendengar bahwa sang Maharishi dikabarkan merayu Mia Farrow (aktris Amerika , anak sutradara John Farrow, dan aktivis HAM) untuk berhubungan seksual (sumber: thecurrent.org).

    Bahkan John Lennon membuat lagu yang terinspirasi dengan kasus ini. Liriknya: “Sexy Sadie (pengganti nama Maharishi agar mereka tidak dituntut secara hukum), what have you done? You made a fool of everyone.”

    Bertahun-tahun kemudian mereka menyadari bahwa tuduhan itu tak sepenuhnya benar. Paul McCartney and Harrison mulai menyatakan dukungan mereka untuk sang guru kembali.

    Sementara itu, Lennon masih kecewa pada Maharishi dan memutuskan untuk tidak lagi menganggapnya sebagai panutan meskipun ia masih mempraktikkan meditasi yang sang guru ajarkan.

    Buku ini menyoroti hubungan guru dan murid yang rumit antara The Beatles dan Maharishi Mahesh Yogi. Sang penulis juga menyoroti tumpang tindihnya spiritualitas, pengaruh selebriti, dan komodifikasi praktik kuno.

    “The Nirvana Express” memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang perjalanan spiritual band ini dan konteks lebih luas dari ketertarikan Barat pada filsafat Timur selama masa itu. (*/)

  • TIKTOK is not always about cheesy short videos or silly pranks or ridiculous human behaviors caught on camera.

    If you do it right, scrolling on TikTok may serve as your source of mental health resilience.

    When you have no one to lighten up your day, TikTok might do the trick.

    Go to Lawrence Choto’s TikTok feed (@chotosocial) and you can there find videos of him handing a lot of strangers motivational and heart-warming notes that someone might need to lift their mood after a bad day at work, home, or school.

    I like that Choto himself handwrote all of the notes on colorful pieces of paper to strangers in public setting. So every note seems very personal and it doesn’t scare people out because it’s just notes anyway.

    Some followers may shed tears after every video just because they find the messages on these notes touching to their hearts.

    What is even better is when we wait for everyone’s reaction to the message inside those notes.

    Some may be laughing, or crying deep inside, or just smiling, or just reading and keeping the note in their pocket or backpack.

    Some messages hit hard to the core of our being.

    Some just miss but that’s okay because not everyone is in the right mood to accept the messages in those notes.

    But in fact those messages are so amazingly universal, does it not only hit the receiver but also the heart of every follower or viewer on TikTok.

    Some commenters admit they cried after watching the TikTok videos and easily can relate to the emotions evoked by the messages.

    They can also let out the emotions so long buried deep down inside.

    My favorite is shown below.

    It’s infectious to see people happy and optimistic so you start adopt those feelings as well.

    And this is what we increasingly need after what we have witnessed in Palestine.

    The humanity still offers some hope because some people are still filled with love. (*/)

  • Apakah yoga membuat orang bertubuh langsing atau memang orang langsing yang lebih mudah melakukan yoga? (Foto: Mr Yoga di Wikimedia Commons)

    MUNGKIN salah satu dari kita banyak yang mengikuti yoga hanya karena ingin memiliki badan yang ‘ideal’ sebagaimana yang dimiliki oleh guru yoga idola kita.

    Mereka kurus, fleksibel tapi juga kuat.

    Guru idola ini mungkin kita temui secara langsung atau juga melalui media sosial.

    Bentuk badan atau keterampilan fisik atau akrobatik mereka mungkin membuat kita terpukau dan tiba-tiba kita merasa tergerak untuk mengikuti setiap gerakan mereka.

    Apapun yang mereka lakukan rasanya kita juga ingin lakukan demi mendapatkan bentuk badan yang serupa.

    Swimmer’s Body Illusion

    Fenomena ini memiliki kemiripan dengan “swimmer’s body illusion”.

    Istilah tersebut digagas pertama kali oleh akademisi Nassim Nicholas Taleb dari Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai penulis buku Black Swan.

    Taleb yang ingin mengurangi berat badan tertarik untuk berenang karena ia ingin memiliki bentuk badan seperti perenang. Otot yang kencang, terbentuk baik namun tidak sebesar otot-otot para binaragawan.

    Di sinilah ia menemukan adanya sebuah ilusi karena ternyata ia menemukan kenyataan bahwa para perenang yang berbadan ideal tersebut memiliki badan seperti itu BUKAN karena berenang setiap hari selama berjam-jam.

    Ternyata para perenang itu diseleksi secara ketat menurut bentuk badan oleh para pelatih yang menangani tim/ klub renang tempat mereka bernaung. 

    Dengan kata lain, badan yang ideal tersebut bukanlah akibat dari aktivitas berenang tetapi menjadi sdalah satu faktor agar bisa terpilih menjadi perenang kompetitif (bukan rekreasional).

    Swimmer’s body illusion menjadi ‘senjata’ banyak orang untuk menjual produk dan jasa mereka sudah sejak lama bahkan terus bertahan hingga detik ini. Dan orang-orang terus terjebak di dalamnya.

    Yogi’s Body Illusion

    Di dunia yoga, hal ini juga marak terjadi. Namun, apakah ini secara moral salah? Tidak juga karena ilusi ini sudah begitu mendarah daging dalam benak masyarakat luas sehingga bahkan jika kita ingin ‘menjual’ jasa sebagai guru yoga, akan sangat susah menarik perhatian tanpa menggunakan ilusi tubuh yogi (yogi’s body illusion).

    Tunggu, memang ada ya “yogi’s body illusion”?

    Meskipun ada sebagian guru dan praktisi yoga yang berpikir bahwa yoga adalah wadah yang inklusif dan anti diskriminasi bentuk badan (contohnya yang dijelaskan Dr. Laura McGuire di “All Yogi Bodies Are Good Bodies”), tidak bisa ditampik bahwa dalam benak dan alam bawah sadar kita masih ada pemikiran bahwa badan ideal seorang yogi atau yogini adalah tubuh yang langsing, kurus, berotot ‘kering’, fleksibel tapi juga cukup kuat untuk melakukan gerakan akrobatik seperti beragam asana jenis arm balance dan inversion. 

    Dan ini kita bisa saksikan di sejumlah demonstrasi publik yogasana dan media sosial dari YouTube hingga Instagram.

    Badan Ideal Yogi

    Saya melakukan observasi di sejumlah kanal YouTube dan menemukan bahwa stigma badan ideal yogi itu langsing dan berotot ‘lean’ (kering) terutama setelah menonton lomba asana yoga di USA Yoga Asana Championship di kanal USAYOGA.

    Beberapa nama yang dikenal dengan kemampuan yoga asana yang fenomenal melalui ajang USA Yoga ini adalah Jared McCann, yang begitu fleksibel tapi juga kuat dan solid. Natarajasana-nya sangat memukau berkat hamstring yang panjang dan punggung yang kuat. Mayurasana yang mengasah core strength juga sanggup ia lakukan dengan baik.

    Nama lain yang juga bisa dikatakan memenuhi kriteria badan ideal yogi ialah Kasper Van Den Wijngaard, juara di 2010 International Yoga Asana Championship di Los Angeles.

    Satu nama lagi yang tak bisa dilupakan ialah Josep Encinia yang memulai yoga saat usia remaja dan menjadi juara National USA Yoga Asana Men’s Championship. 

    Dan satu nama yang sangat patut diperhitungkan ialah Gokulacandra atau yang bernama asli Jani Jaatinen. Badannya sungguh luar biasa lentur bahkan jika dibandingkan dengan sesama yogi. Di Instagramnya @gokulacandra, kerap ia membagikan foto asana yang terasa musykil bisa dilakukan manusia modern dan cuma bisa dilakukan yogi zaman kuno.

    Semua persamaan bentuk badan mereka adalah bahwa mereka berbadan langsing, cenderung kurus, sangat minim lemak, bersendi longgar, dan tidak memiliki massa otot yang sangat banyak namun juga masih kuat mengangkat berat badan mereka sendiri.

    Tidak bisa disangkal bahwa untuk melakukan berbagai gerakan asana yoga yang mengandalkan kekuatan dan kelenturan, badan yang ramping dan otot yang panjang namun kuat bisa memudahkan kita melakukan beragam asana yoga.

    Saat kita tidak memiliki massa lemak yang berlebihan, peluang untuk menguasai asana yoga menjadi lebih terbuka lebar.

    Lalu kenapa bisa badan ideal seorang yogi/ yogini menurut masyarakat adalah badan yang ramping dan kuat serta lentur?

    Seleksi Alam ala Charles Darwin

    Menurut hipotesis saya, ini adalah bentuk “survival of the fittest” gagasan ilmuwan pencetus evolusi Charles Darwin tetapi terjadi di dunia yoga. Memang semua orang boleh saja melakukan yoga. Tidak ada orang yang melarang orang-orang berbadan gemuk untuk latihan pose yoga, tetapi secara alamiah tantangan mereka untuk melakukan berbagai gerakan juga lebih besar daripada rekan-rekan mereka yang lebih langsing.

    Saat latihan menjadi semakin sulit, sebagian orang akan terus melaju berkat badan mereka yang sudah sedari awal sudah mendukung: langsing, ototnya lentur dan kuat.

    Lalu ada juga sebagian praktisi yoga lagi yang mungkin kesulitan saat memulai latihan asana yoga karena badan mereka tidak seideal harapan. Tapi kemudian entah bagaimana dengan cara yang bervariasi, badan itu berubah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan latihan yoga. 

    Dan ada juga orang yang meski berlatih sekeras apapun sejak awal hingga detik ini belum mengalami perubahan badan yang drastis hingga mendekati badan ideal seorang yogi. Mereka masih tampak lebih berisi dan lebih padat daripada badan orang kebanyakan padahal mereka sebetulnya relatif aktif secara fisik.

    Dan ada juga sebagian orang lain yang badannya kurang ideal dan BERHENTI di ‘tengah jalan’ dalam perjalanan yoga mereka karena putus asa tidak kunjung kurus/ lentur atau berbagai sebab lainnya yang biasanya dialami praktisi. Misalnya ditinggal guru yoga kesayangan, atau karena pindah tempat tinggal sehingga tidak lagi bisa latihan di studio langganan, atau sudah kehilangan semangat yoga karena teman-teman yoga sudah menghilang entah ke mana, atau bisa juga karena sudah menekuni olahraga lain sebagai pengganti yoga yang dianggap sudah membosankan, dan sebagainya.

    Jadi, yogi’s body illusion ini sebetulnya juga sebuah bias kognitif (kesalahan cara berpikir) sebagaimana swimmer’s body illusion yang mengacaukan pikiran seseorang dengan mengecohnya seolah ciri atau karakter fisik yang melekat tersebut (tubuh langsing, kuat, dan lentur) ialah hasil atau konsekuensi dari latihan yoga padahal kemungkinan tidak demikian faktanya.

    Dari sini tidak berlebihan jika dikatakan bukan cuma manusia yang bisa memilih jenis olahraga yang mereka ingin lakoni tetapi pada kenyataannya jenis olahraga itu juga bisa memilih dan menyeleksi manusia yang ingin melakukannya. Mereka yang tidak berbadan ideal sesuai kriteria akan tersingkir secara alami atau harus berlatih ekstra keras dan menyiasati kelemahan fisik mereka itu dengan berbagai cara. (*/)

  • Yoga sebagai cabang olahraga masih jadi perdebatan hangat. (Foto: Wikimedia Commons)

    PERDEBATAN mengenai bisa tidaknya yoga dianggap sebagai olahraga fisik memang tidak ada habisnya di kalangan praktisi yoga.

    Sebagian berpendapat bahwa yoga adalah “work-in” (olah rasa), bukan “work-out” (olah raga). Melakukan yoga yang utuh tidaklah cuma berhenti sampai di yogasana atau pose-pose fisik tapi juga sampai ke lapisan nonfisiknya.

    Sebagian lagi memandang yogasana sebagai sebuah alat untuk meningkatkan kebugaran fisik tanpa mempelajari filsafat dan aspek nonfisik lainnya (baca: aspek mental dan spiritual yoga) dan berargumen bahwa pendekatan itu sah-sah saja.

    Tapi terlepas dari itu, yoga memang perlahan mendapatkan posisi penting di panggung internasional. Kita bisa lihat wujud nyatanya dengan penyelenggaraan International Day of Yoga yang setiap tahun diperingati di banyak negara selain di India sebagai negara tempat kelahiran yoga. Indonesia menjadi salah satu negara yang turut merayakan IDoY.

    Sejarah Kontes Yogasana

    Yoga asana atau pose fisik yoga sudah diperlombakan sejak berabad-abad yang lalu, demikian menurut laman Olympics.com. 

    Bentuk modern lomba yoga asana ini digelar pertama kali di tahun 1989 saat Yogasana World Championship diadakan di Pondicherry, India. Di tahun 1989 pula di Montevideo Uruguay sudah dihelat World Yoga Championship yang pertama dengan di bawah kepemimpinan Swami Maitreyananda.

    Yogasana kemudian diakui secara formal sebagai sebuah cabang olahraga pada tahun 2020 saat National Yoga Sports Federation ditunjuk sebagai sebuah badan regulator resmi olahraga ini di India sana.

    Digadang-gadang oleh pemerintah India sebagai olahraga produk asli dalam negeri, yogasana kemudian dimasukkan sebagai salah satu cabang olahraga di Khelo India Youth Games 2021.

    Aturan Kontes Yogasana

    Sebagai cabor baru, tentu ada aturan yang harus dipatuhi oleh atlet-atletnya agar pertandingan berjalan adil dan hasil penilaiannya bisa lebih objektif.

    Ada tiga event utama di cabor yogasana ini: artistik, tradisional, dan ritmik.

    Yogasana artistik bisa dikatakan mirip dengan senam artistik putri (karena senam artistik putra tidak ada musik pengiringnya) yang kita saksikan selama ini. Saat berlaga, tiap atlet yoga artistik wajib mendemonstrasikan sejumlah pose yoga selama durasi waktu 3 menit tanpa henti sambil menyelaraskan demo asana tadi dengan irama musik.

    Dalam yogasana artistik, atlet harus memperagakan 10 asana dalam demo mereka yang mencakup keseimbangan satu kaki, pose yang bertumpu di tangan, pose menekuk badan ke belakang (back bend), pose menekuk badan ke depan (forward bend), pose memutar badan ke samping (twisting).

    Di event yogasana tradisional, atlet wajib melakukan setiap pose yoga selama 15 hingga 30 detik bergantung pada asananya. Aspek keseimbangan dan stabilitas jadi kriteria penilaian utama.

    Sementara itu, di event yogasana ritmik atlet memperagakan yogasana dalam kelompok 5 orang atau pasangan. Mereka melakukan tiap yogasana secara bersamaan dengan harmonis dan mempertahankan tiap yogasana selama 5-7 detik. Akan ada poin tambahan jika mereka bisa melakukan dengan transisi yang mulus, tidak jatuh atau terlihat tidak bisa menguasai tubuh.

    Hegemoni 2 Negara

    Dalam cabang olahraga baru ini, bisa dikatakan sudah ada dua negara yang muncul sebagai negara adidaya dan memperebutkan dominasinya: India dan Amerika Serikat.

    Jika India sendiri sudah menggelar kontes yogasana sejak lama dan baru tercatat tahun 1989 dalam bentuk Yoga Asanas Championship internasional pertama di bawah kepemimpinan Dr Swami Gitananda Giri, Amerika Serikat melalui organisasi USA Yoga (yang disponsori World Yoga Federation yang didirikan Swami Vidyanand) sudah merintis lomba yogasana sejak 2014 lalu.

    Aturan yang diberlakukan sudah sangat spesifik: dari jenis pose yang wajib diperagakan, kategori lomba berdasarkan umur, hingga tingkat kesulitan tiap pose.

    Di India meski lomba yogasana sudah berjalan lebih lama tapi institusi resmi yang mewadahinya baru dibentuk dan diurus secara serius beberapa tahun belakangan seiring dengan ambisi PM Narendra Modi untuk mengangkat yoga sebagai kekuatan dan komoditas budaya India, layaknya Korsel dengan industri K-pop, demikian dikutip dari yogasanasport.in.

    Sementara itu, di AS sejak 2003 sudah ada International Yoga Sport Federation yang didirikan oleh (mantan?) istri guru yoga kontroversial Bikram Choudury, Rajashree. 

    Indonesia sendiri sudah mulai merintis pembibitan atlet untuk cabor yogasana ini lewat Perkumpulan Praktisi Yoga Nasional Indonesia (PPYNI).

    Lomba yogasana yang pertama di Indonesia sendiri baru diadakan tahun ini di GOR Dimyati Kota Tangerang 25-26 November 2023.

    Tangerang dipilih sebagai tuan rumah karena pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) VII Bandung 2023, tim Kota Tangerang yang mewakili Provinsi Banten sukses meraup titel juara umum, demikian dilansir dari satelitnews.com. (*/) 

  • MUNGKIN tidak banyak yang mengetahui bahwa di Palestina, yoga juga bisa berkembang berkat media sosial dan peran beberapa gerakan, inisiatif, dan komunitas yoga. 

    Yoga digunakan oleh sejumlah rakyat Palestina yang tinggal di kamp pengungsian, desa, dan kota untuk melepaskan tekanan hidup dalam penindasan Israel.

    Rakyat Palestina yang hidup di bawah penjajahan Israel harus menanggung tingkat stres yang begitu tinggi secara psikologis dan fisik.

    Stigma Haram

    Namun, penerimaan yoga tentu tidak semulus itu karena yoga begitu identik dengan agama-agama ardhi asal Hindustan (Buddha dan Hindu), stigma tersebut juga sempat singgah di benak orang-orang Palestina.

    Ada yang mengira yoga adalah ritual Buddhis yang cuma duduk-duduk manis dan mengharuskan orang melafalkan mantra “om”. Dan pemikiran kontra ini memang sempat muncul di benak kelompok yang lebih konservatif di Palestina.

    Padahal yoga yang diniatkan sebagai olahraga dan hanya melibatkan latihan fisik dan pernapasan dan tidak menggunakan mantra atau ritual agama lain tentunya hukumnya mubah atau boleh secara syariat, sebagaimana yang juga pernah difatwakan MUI pada tahun 2009.

    Dukungan Komunitas

    Perubahan terjadi pada tahun 2010 saat sebuah komunitas yoga nirlaba bernama Farashe diluncurkan di kota Ramallah.

    Di tahun 2012 dan 2013, organisasi nirlaba Anahata International yang bermarkas di Washington DC, AS, memberikan dukungan kepada komunitas Farashe dalam bentuk penyelenggaraan yoga teacher training di para perempuan Palestina yang bermukim di Tepi Barat. 

    Tujuan training ini ialah untuk memberikan bekal bagi masyarakat Palestina teknik-teknik untuk merawat kesehatan fisik dan mental diri mereka.

    Dalam periode 3 tahun, sekitar 80 orang pria dan wanita Palestina sudah lulus dari yoga teacher training yang diadakan oleh Farashe dan Anahata International.

    Para guru yoga Palestina ini menyatakan bahwa mereka menemukan beberapa persamaan dari gerakan yoga dan salat. Konsentrasi penuh saat yoga juga mirip dengan kekhusyukan yang dirasakan saat salat atau ibadah lain.

    Dengan kata lain, baik yoga dan ibadah sama-sama membantu bertahan melalui saat-saat sulit di tengah penindasan Israel dengan menjauhkan diri dari kebencian, mendengarkan hati nurani, pikiran dan jiwa agar mereka bisa istirahat sejenak. Tidak terus menerus terpaku pada rentetan tragedi dan konflik berdarah.

    Dari Matras ke Dunia

    Bex Tyrer, seorang guru yoga yang sekarang mengajar di Yoga Barn Ubud sekaligus aktivis sosial Inggris, mendirikan Palestine Yoga Movement dengan tujuan membagikan manfaat yoga pada orang-orang yang mengalami beragam masalah akibat konflik politik, keuangan dan sosial di Palestina. 

    Saat masih bekerja sebagai jurnalis, Tyrer pertama kali ke Palestina tahun 2004 bersama The Peace Cycle, sebuah kelompok pesepeda internasional yang mengayuh sepeda dari London hingga Jerusalem demi menggalang semangat perdamaian di Palestina.

    Juni 2021, Tyrer bekerjasama dengan para kenalannya di Palestina dan berhasil mengadakan kelas-kelas yoga bagi mereka yang sedang hidup dalam suasana keprihatinan di kota Ramallah, Jenin, dan Bathlehem. PYM digerakkan 7 guru yoga dan seniman yang membantu menyebarkan pesan perdamaian.

    Abu Sway, salah seorang pionir yoga di Palestina, mengatakan bahwa yoga memang tidak bisa menyelesaikan konflik Israel-Palestina yang berkepanjangan tetapi setidaknya yoga bisa membantu orang-orang Palestina tetap optimis saat harus menghadapi ancaman eksistensi bangsa mereka yang entah akan terjadi sampai kapan.

    [Sumber: The Guardian & Yoga Journal]

Verified by MonsterInsights