• ISENG-ISENG beberapa waktu lalu saya menempuh UKBI atau yang dikenal sebagai uji kemahiran berbahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa.

    Keperluan saya sebetulnya adalah untuk mengukur kemampuan saya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat berkomunikasi dalam konteks profesional dan bisnis.

    Saya menjalani ujian ini sebagai juru bahasa sehingga bisa dikatakan passing grade-nya seharusnya lebih tinggi. Mana ada juru bahasa yang level penguasaan bahasanya payah?

    Sejauh ini saya memang bekerja lebih banyak di dunia kebahasaan. Saya pernah melakoni web content writer, copywriter, dan juga penyunting di sebuah website.

    Cara Mendaftar dan Biaya Mengikuti UKBI

    UKBI ini membutuhkan biaya dan bisa diikuti secara daring. Jika berminat mengikuti, Anda bisa mengunjungi tautan berikut ini: https://ukbi.kemdikbud.go.id.

    Di sana Anda bisa mendaftar, untuk kemudian mendapatkan nomor pendaftaran dan diharuskan membayar Rp300.000 sebelum menentukan jadwal tes yang sesuai dengan ketersediaan waktu luang Anda.

    Karena ujian ini daring, saya bisa mengikuti di rumah sehingga suasana tes bisa tenang dan terkendali. Tidak bising atau penuh gangguan. Ketenangan sangat penting karena bakal ada juga tes kemampuan mendengar. Jika fokus buyar, bisa turun skor perolehannya nanti.

    Untuk membayar, Anda cukup transfer melalui Tokopedia karena biaya partisipasi UKBI masuk ke penerimaan negara bukan pajak seperti uang STNK dan sebagainya.

    Setelah lunas, Anda akan dikirimi surel yang isinya tautan dan kata kunci untuk masuk ke akun dan menjalani tes daring pada jadwal yang sudah Anda pilih sendiri. Jika Anda lupa atau terlambat masuk ke ruang ujian daring, artinya yang rugi Anda sendiri.

    Kiat Mendapatkan Skor UKBI yang Baik

    Nah, setelah itu Anda bisa mengasah kemampuan berbahasa jika merasa kemampuan berbahasa Indonesia Anda agak tumpul dan berkarat akhir-akhir ini.

    Sebelum UKBI, pastikan laptop Anda memiliki peramban Mozilla Firefox atau Google Chrome karena UKBI menyarankannya untuk jalannya ujian dengan optimal. Jadi untuk Anda yang terbiasa memakai peramban Safari atau yang lain, unduh dulu jauh-jauh hari sebelum jadwal UKBI Anda agar tidak terburu-buru saat akan mulai UKBI.

    Hingga di tanggal pelaksanaan uji, Anda buka laptop di tempat yang tenang dan menyalakan kamera laptop agar pengawas dapat melihat wajah Anda saat mengerjakan soal-soal UKBI ini.

    Meksipun memang ini tidak 100% bisa mencegah tindak kecurangan sepanjang UKBI daring, setidaknya peserta akan lebih kesulitan mencurangi pengawas dan sistem yang sudah ada.

    5 Seksi dalam UKBI

    Sebagaimana tes kemampuan berbahasa lainnya seperti IELTS dan TOEFL di bahasa Inggris, UKBI juga terdiri dari beberapa bagian yang akan menguji level penguasaan sejumlah keterampilan kita dalam berbahasa.

    Ada 5 seksi yang saya ikuti dan Anda bisa pilih juga di awal pendaftaran. Karena semakin banyak seksi yang Anda ikuti, makin lama juga tesnya dan makin mahal pula biayanya.

    Saya ambil 5 seksi: mendengarkan, merespon kaidah, membaca, menulis, dan berbicara.

    Semua bisa Anda kerjakan dengan kecepatan masing-masing. Jika menurut Anda mudah, silakan langsung beralih ke seksi berikutnya tanpa harus meneliti ulang. Tapi jika dirasa kurang yakin dan perlu meneliti ulang jawaban, maka sah-sah saja untuk membaca soal lagi dan meyakinkan diri bahwa jawaban sudah benar.

    Di seksi mendengarkan, saya harus mendengarkan sejumlah dialog dan monolog serta menjawab sejumlah soal setelahnya. Di sini kemampuan fokus harus tinggi, dan saya harus mendengarkan mono/dialog sembari membaca soal juga agar tahu harus fokus di bagian yang mana. Karena kalau fokus ke semua bagian mono/dialog, sungguh tidak mungkin otak menyimpan sebanyak informasi itu dalam sekali waktu.

    Lalu seksi merespon kaidah mengharuskan saya memilih opsi yang salah dalam sebuah kalimat. Seksi ini bertujuan mengetahui pemahaman Anda soal tata bahasa dan hal-hal teknis sejenisnya.

    Di seksi membaca, saya harus membaca sebuah teks dan menjawab beberapa pertanyaan. Kalau saya punya trik untuk baca pertanyaan langsung dan baru membaca teks secara cepat dan menemukan mana yang menjadi fokus pertanyaan. Kalau membaca semua teks secara utuh baru menjawab pertanyaan, rasanya buang energi.

    Di seksi menulis, saya dihadapkan pada sejumlah soal yang relatif mudah karena dalam keseharian saya menulis dan menyunting tulisan orang lain. Dalam soal, saya diharuskan membuat tulisan pendek dengan batasan kata tertentu yang bisa menjelaskan secara runut dan sistematis sejumlah poin penting yang termuat dalam satu diagram atau foto atau gambar. Intinya, saya harus menjelaskan panjang lebar info visual itu jadi sebuah teks.

    Lalu di seksi berbicara yang menjadi bagian terakhir, saya harus menghidupkan mikrofon laptop dan merekam kata-kata saya sendiri. Di sini, saya harus menjelaskan secara lisan sebuah topik yang sudah dipilih dan Anda diberikan informasi dasarnya. Anda butuh kemampuan menerangkan poin-poin tersebut secara mulus, kronologis, masuk akal, logis. Bak seorang pembicara publik di panggung.

    Tanpa Bantuan Pengolah Kata dan Kamus

    Di sini Anda sebaiknya tidak menggunakan secarik kertas untuk mencatat atau menggunakan piranti lunak lain untuk menulis draft pidato Anda di seksi berbicara, karena semua itu harus berupa catatan mental alias rancangan di dalam otak saja. Begitu saya mencoba klik Microsoft Word, kamera akan otomatis mati dan jika terlalu lama, Anda bisa dianggap melakukan kecurangan. Karena bisa saja Anda beralih dari jendela UKBI ke jendela peramban lain untuk mencari jawaban atau menggunakan Kecerdasan Artifisial.

    Jadi proses membuat rancangan paparan singkat itu mesti bisa dilakukan dalam otak saja. Tidak harus mencorat-coret. Untuk Anda yang merasa tidak bisa merancang tanpa corat-coret, biasakan saja dulu untuk membuat ‘mental notes’ yang saya sarankan.

    Untuk berbicara Anda akan diberikan batasan waktu 3 menit. Paparan singkat Anda mengenai topik yang sudah dipilih harus sudah selesai di hitungan menit ketiga. Tiada ampun jika melebihi durasi waktu tersebut.

    Skor Akhir

    Nah, skor UKBI ini baru saya dapatkan hari ini. Skor total saya 647, yang dikategorikan “sangat unggul”.

    Tidak istimewa karena saya memang sudah bergelut di bidang kebahasaan selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Jadi alangkah aneh jika justru saya meraup skot di bawah standar tersebut.

    Saya juga akan dikirimi sertifikat keikutsertaan dalam waktu dekat ini.

    Bagaimana dengan Anda? Sudah pernahkah mengikuti UKBI ini? Bagaimana pengalaman Anda sendiri mengikutinya? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. (*/)

  • THERE are similarities in the characters of Howard Wolowitz in the series “The Big Bang Theory” and Motti in “The Awakening of Motti Wolkenbruch”: a young Jewish man whose life is controlled by his mother.

    It’s a bit ironic because the lives of young people in the West are synonymous with freedom. We in the East always hear that the young generation in the West always travels before us in the East. They have lived separately from their parents since they were teenagers and even had sex in their teens.

    But the dominance of mothers in Jewish families in the West does not seem to be diminished by Western culture which is completely liberal and free.

    Howard is told as the only son of his mother whose husband abandoned her. Howard was 11 years old when his father abandoned his new family. What is the reason? It’s not explained, but it became a lasting emotional wound for Howard.

    Different from Howard, the father figure in the Motti family is still there and loyally accompanies the family but in the film is depicted as having a less strong level of dominance. The father may be dominant at the dinner table which seems to be the arena for enforcing patriarchal values and principles in Judaism, but in the everyday household, the mother is more dominant, especially in her relationship with her child, Motti.

    Howard and Motti both struggle with the inner conflict of only sons: should they always obey their mother’s wishes and give up their freedom throughout their lives (or at least until their mother dies)?

    At the end of the film, Motti is said to still choose to rebel by dating Laura, a non-Jewish German girl chosen by his mother. And because of that, his mother was extremely annoyed.

    Meanwhile, Howard was luckier because he chose to have a relationship with Bernadette, who was Catholic but was approved by her mother, who, although very dominant, also loved him very much. (*/)

  • SUDAH berita lama dan rahasia umum bahwa media sosial memiliki risiko membahayakan kesehatan mental anak-anak dan remaja kita.

    Dari perisakan siber (cyber bullying) hingga penipuan dan penculikan, media sosial yang bisa diakses dengan mudah saat ini dengan menggunakan ponsel cerdas memberikan dampak yang luar biasa besar bagi masyarakat dunia terutama generasi mudanya.

    Dikutip dari The New York Times, para senator di Amerika Serikat tanggal 31 Januari 2024 lalu memanggil secara resmi sejumlah pemimpin perusahaan media sosial yakni Meta (dahulu Facebook), TikTok, Snap, Discord, dan X (dahulu Twitter).

    Secara singkat, orang-orang penting di industri teknologi ini didamprat habis-habisan oleh para senator alias wakil rakyat AS karena dianggap tidak melakukan upaya pencegahan pelecehan seksual terhadap pengguna anak yang memadai. AS saat ini memang mengalami kecemasan akibat beragam dampak negatif penggunaan media sosial di kalangan anak dan remaja.

    Menurut pendapat entrepreneur AS di bidang kreasi konten Eric Wei, terdapat 3 hal yang patut kita ketahui dari dipanggilnya para pucuk pimpinan media sosial ini ke hadapan Kongres AS dan para senator.

    Dua Tunjukkan Itikad Baik

    Cuma Meta dan TikTok yang menunjukkan itikad baik dengan hadir di undangan tersebut tanpa paksaan. 

    Mark Zuckerberg yang mewakili Meta dan Shou Zi Chew sebagai CEO TikTok hadir dengan sukarela.

    Sementara itu, para pemimpin Snap, Discord, dan X (Twitter) harus dipaksa oleh pihak Kongres untuk datang langsung ke pertemuan tersebut. Perwakilan YouTube juga menghindar dari undangan tersebut. Secara tidak langsung, ini tidak menunjukkan itikad baik dari perusahaan yang bersangkutan.

    Di pertemuan tersebut, baik Zuckerberg (Meta) dan Evan Spiegel (Snap) dicecar dan didesak untuk meminta maaf kepada masyarakat AS yang terkena dampak negatif penggunaan platform mereka.

    Zuckerberg kemudian meminta maaf secara publik di hadapan Kongres kepada keluarga para anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual lewat Facebook dan Instagram yang menjadi platform milik Meta.

    Sedangkan Evan Spiegel juga dipaksa meminta maaf kepada para keluarga anak korban overdosis zat fentanyl yang mereka peroleh dari platform Snap. Spiegel sebagai pimpinan dianggap lalai dalam mengupayakan pencegahan agar jual beli narkoba seperti itu tidak terjadi di platform Snap miliknya.

    Bagaimana Tanggung Jawab Ortu? 

    Terlepas dari kenyataan bahwa Komite Judisial Senat AS sukses menghukum para pucuk pimpinan perusahaan besar teknologi media sosial ini, muncul pertanyaan yang tak kalah pentingnya: “Apakah seharusnya anak dan remaja kita memang tak boleh menggunakan media sosial sama sekali agar mereka tidak terjerumus ke hal-hal negatif?”

    CEO Meta Mark Zuckerberg dengan lihai kemudian mengatasnamakan hak para remaja untuk bisa memiliki akun media sosial dalam bentuk akun yang bisa diakses siapa saja (termasuk para kriminal dan pedofil?). Memiliki akun media sosial bisa membuka pintu peluang bagi para remaja dalam “menciptakan hal-hal cemerlang”, ucap Zuckerberg.

    Sang CEO juga sudah menyatakan pihaknya tidak memperbolehkan anak-anak di bawah usia 13 tahun untuk memiliki akun di platformnya tapi hal itu langsung disanggah Kongres sebab pada kenyataannya jutaan anak ternyata masih bisa membuat akun sendiri. Jadi larangan itu tidak efektif.

    Secara tersirat, Zuckerberg ingin melimpahkan tanggung jawab itu ke pundak para orang tua agar mau lebih tegas melarang anak-anak mereka yang di bawah umur untuk tidak memiliki akun media sosial.

    Tapi sayangnya, kesadaran ortu soal bahaya media sosial juga bervariasi. Jadi pihak ortu dan pemerintah juga seolah ingin melimpahkan kesalahan pada pihak pemilik platform yang bersangkutan.

    Namun, menurut hemat saya, tidak bakal ada solusi dalam lingkaran setan ini karena semua pihak (ortu, anak, pemerintah dan bisnis) juga harus sama-sama melakukan tugasnya masing-masing. Tidak bisa menyalahkan pihak lain dan bebas begitu saja dari tanggung jawab.

    Upaya Pembungkaman Kebebasan Berpendapat?

    Kongres AS memang sedang mewujudkan perlindungan lebih baik pada anak-anak dari bahaya media sosial melalui UU Keamanan Daring Anak-anak (Kids Online Safety Act). 

    UU ini mewajibkan penyelenggara platform media sosial untuk bekerja lebih keras dalam merealisasikan perlindungan anak dari bahaya perisakan, pelecehan, upaya marketing/ iklan yang bisa membahayakan anak/ remaja.

    Tapi kemudian ada yang mencemaskan bahwa aturan yang makin ketat ini malah bisa mengekang kebebasan berpendapat dan mempertinggi kemungkinan sensor terhadap konten yang nanti akan beredar di platform-platform media sosial.

    Bentuk-bentuk sensor ini misalnya adalah tidak bisanya mengunggah konten yang mengandung frasa atau kata kunci terlarang yang sudah disepakati bersama oleh pihak penyelenggara platform dan pemerintah.

    Menurut saya, upaya perbaikan ekosistem media sosial agar lebih kondusif untuk para pengguna anak dan remaja memang sudah sangat mendesak sebab akibat buruknya bisa terus meluas serta bisa memengaruhi masa depan bangsa ke depan.

    Soal sensor dan kebebasan berpendapat, dalam pandangan saya terlalu mengada-ada dan berlebihan karena inilah upaya pencegahan yang harus ditempuh agar kebebasan itu juga diberi batas agar tidak membahayakan orang lain. (*/)

  • An exciting read. (Image: Amazon Japan)

    So, President Jokowi recently said he wants more people to get fancy degrees like master’s and doctorates here.

    Right now, though, only a tiny fraction of our population has those degrees—like 0.45%, not even close to 1%. That’s from tempo.co.

    But here’s the thing: What if there are too many brainiacs? Like, what happens if we have way more highly educated folks than we actually need?

    Let’s Talk Cliodynamics

    Okay, so this might sound kinda out there for Indonesia, but let’s chat about this cool book by an American dude named Peter Turchin.

    His book, “End Times,” came out in 2023, and it’s all about this new science called “cliodynamics.” Basically, it’s a mix of history and Big Data—using tons of old data to predict how societies rise and fall.

    Now, since the U.S. is a big deal globally, Turchin’s ideas are pretty relevant to us. ‘Cause whatever happens there affects us too, especially since we’re pretty tight with the U.S.

    What Happens When There Are Too Many Brainy People?

    So, Turchin thinks if there are too many brainy elites in a country and not enough top jobs for them, a “counter-elite” forms. These are the sneaky folks who cheat to get ahead.

    Imagine busting your butt to get a degree, playing by the rules, and then getting shafted by some cheat who found a loophole. You’d be mad, right? That anger can mess up a whole society.

    Real-Life Examples

    Turchin talks about three big figures: Donald Trump, Abraham Lincoln, and Hong Xiuqian. They all clawed their way to the top, but their downfalls led to some serious chaos.

    Like, Hong led the bloodiest civil war in history! And after Lincoln got assassinated, America went through a crazy civil war too. And then there’s Trump, whose time in office saw a pandemic and a riot at the Capitol. Wild, right?

    So, yeah, Turchin’s book is pretty eye-opening if you’re into history and stuff. You can grab it at Periplus bookstores for Rp345,000. Definitely worth a read if you wanna fresh perspective on things. (*/)

  • EKSPLORASI budaya fisik dan olahraga terasa amat menyenangkan. Setidaknya bagi saya.

    Saat ini saya menjalani rutinitas fisik hasil kombinasi yoga, pilates, senam artistik, balet, dan  juga angkat beban. 

    Semua saya jalani untuk memberikan menu gerakan yang bervariasi bagi tubuh, mental, psikis dan spiritual.

    Satu jenis olahraga lain yang belum pernah saya jamah adalah olahraga akuatik alias air.

    Jujur saya belum bisa berenang di kedalaman. Ada semacam kepanikan saat harus masuk ke perairan yang dasarnya tak terjangkau oleh kaki ini. 

    Sempat sih mau belajar renang tapi coba deh nanti pas ada waktu luangnya karena di dekat rumah cuma ada kolam renang ‘mainan’. Dalamnya cuma 1,5 meter sehingga kurang dalam jika mau dibuat latihan renang yang serius. 

    Berenang sebenarnya bukan cuma olahraga pengisi waktu luang tapi juga bisa saya gunakan langsung di situasi genting semacam banjir atau terjatuh di laut (semoga tidak pernah terjadi kengerian seperti itu pada saya). 

    Bila sudah bisa berenang rasanya juga tertarik mendalami renang indah (artistic swimming) dan lompat indah (diving). 

    Rasanya sangat menantang untuk terjun dari ketinggian 10 meter ke dalam kolam renang yang sangat dalam.  Butuh nyali besar sekali untuk itu. 😅

    Berenang sambil memeragakan koreografi tertentu yang diiringi musik layaknya sedang menari juga sangat menantang. Karena kadang ada gerakan yang mengharuskan kepala di bawah air sehingga saya bakal harus menahan napas cukup lama sembari terus menggerakkan kaki di atas permukaan air. Sangat mengasyikkan sekaligua menakutkan. Haha. 

    Satu kabar yang menggembirakan ialah olahraga renang indah ini makin inklusif bagi pria. Dikabarkan renang indah akan membolehkan pria untuk bertanding secara profesional dan setara dengan para atlet perempuan yang sudah lama memonopoli cabang olahraga ini.

    Dikenal pertama kali sebagai koreografi di dalam air pada adegan film Hollywood di tahun 1930-an hingga dekade 1950-an, renang indah dinyatakan terbuka untuk para peserta pria oleh organisasi olahraga air dunia FINA. Sebelumnya di tahun 2015 FINA telah mengizinkan atlet pria berkompetisi di ajang kejuaraan dunia renang indah (artistic swimming world championship). Hanya saja Olimpiade belum. Baru tahun ini ‘lampu hijau itu diberikan oleh FINA. 

    Keputusan FINA ini membuat senam ritmik sebagai satu-satunya cabang olahraga di Olimpiade yang tertutup aama sekali untuk kaum Adam meski saat ini juga sudah ada upaya dan lobi-lobi untuk membuka ‘gerbang yang telah lama dikunci’ ini. (*/)

  • [Previously published on my LinkedIn account]

    In which position and field of work do writers get paid the highest? 

    SALARY is one of the hottest topics of discussion and will not go out of style at work.

    That’s why the salary question is among the most important questions in a job interview.

    All questions can be answered smoothly and correctly, but if the salary is not pleasing to our hearts, it feels like accepting a job offer in a place as luxurious or as bona fide as anything will make us think again.

    Recently HRD Bacot released a report regarding salaries among formal sector workers in the Jakarta area and its surroundings.

    Here I focus on discussing the writing profession because that is my first and main job.

    I also scoured the HRD Bacot salary report and found several job positions related to writing.

    The ranking order is based on the upper quartile number which in my opinion can indicate the maximum salary (in Indonesian Rupiah/ IDR) a person can achieve if they work ‘all out’ from various aspects of that job position.

    Rank 1: UX WRITER

    Field: IT
    Position: UX writer
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 12,500,000
    Median: 8,000,000
    Lower Quartile: 6,665,000

    Rank 2: CREATIVE COPYWRITER

    Field: Art and Creative
    Position: Copywriter
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 10,125,000
    Median: 8,750,000
    Lower Quartile: 6,450,000

    Rank 3: MARKETING COPYWRITER

    Field: Business Development, Sales & Marketing
    Position: Copywriter
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 8,930,500
    Median: 5,800,000
    Lower Quartile: 4,750,000

    Rank 4: CREATIVE CONTENT WRITER

    Field: Art and Creative
    Position: Content writer
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 7,000,000
    Median: 6,135,000
    Lower Quartile: 5,002,747

    Rank 5: TECHNICAL WRITER

    Field: IT
    Position: Technical writer
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 6,492,000
    Median: 6,000,000
    Lower Quartile: 4,409,750

    Rank 6: CREATIVE COPYWRITER (IN WEST JAVA)

    Field: Art & Creative
    Position: Copywriter
    Level: staff/Officer/Analyst
    Location: West Java
    Upper Quartile: 6,250,000
    Median: 6,200,000
    Lower Quartile: 3,750,000

    Rank 7: CREATIVE WRITER- EDITOR

    Field: Art & Creative
    Position: Writer – Editor
    Level: Staff/Officer/Analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 5,650,000
    Median: 5,200,000
    Lower Quartile: 3,919,000

    We know well that to learn our peers’ salary is higher than ours can be detrimental to our work performance.

    But if we are in such a position right now (that we think we deserve a higher compensation), don’t quit abruptly.

    Remember this rule of thumbs:
    ✅ good salary, good experience (keep it)
    ❓good salary, bad experience (keep it while finding solutions)
    ❓ bad salary, good experience (keep it while looking for a better one)
    ❌bad salary, bad experience (totally not worth your time and energy)

  • PENGANTAR: Artikel ini telah saya tayangkan 2015 lalu dan saya kembali tayangkan di sini sebagai dokumentasi.

    26 Feb 2015 Hits : 509

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta –Untuk pertama kalinya pertunjukan Beauty and the Beast dari Disney AS akan ditampilkan di Indonesia. Acara akan mengambil tempat di Ciputra Artpreneur Theater, Ciputra World 1 Jakarta pada bulan Mei 2015. Demikian dinyatakan oleh Presdir Ciputra Artpreneur Center Rina Ciputra Sastrawinata tadi siang (26/2) dalam jumpa pers di Ciputra Theater.

    Pertunjukan berdurasi kira-kira 120 menit tersebut menjadi bagian dari tur dunia Disney yang direncanakan akan menyambangi beberapa negara di Asia. Negara-negara yang dimaksud ialah Turki, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Filipina, Thailand dan Singapura. Pertunjukan klasik dari Disney ini dikenal apik karena kepiawaian mereka menyajikan karakter-karakter animasi dari komik-komik tersohor Disney dalam wujud nyata di panggung dengan koreografi dan nyanyian yang memukau penonton.

    Menurut Rina, langkah ini sekaligus menandai dimulainya kiprah Ciputra Artpreneur sebagai promotor acara-acara pertunjukan kaliber dunia. Hal ini selaras dengan misi pendirinya Ir Ciputra yang ingin Indonesia memiliki pusat seni budaya yang representatif di ruas jalan Satrio yang nantinya akan terus dibangun layaknya Orchard Road di negeri jiran Singapura. 

    Untuk pertunjukan di Jakarta Mei nanti, sutradara yang dilibatkan ialah Rob Roth. Sementara koreografer Matt West akan menata gerak para penampil. Ann Hould-Ward yang menjuarai Tony Award didaulat menjadi desainer kostum. Unsur musik dalam pertunjukan ditangani oleh Michael Kosarin.

    Ciputra Artpreneur sendiri dibangun dengan misi untuk memberikan ruang, khususnya bagi karya-karya maestro lukis Hendra Gunawan, dan umumnya bagi para seniman Indonesia. “Misi kami adalah untuk mewadahi perkembangan para seniman dan penampil seni dan menjadi tempat mereka berkarir. Apalagi orang Indonesia sebenarnya berbakat karena itu kita menyediakan tempat untuk memamerkan potensi dan bakat itu,” terangnya. 

    Direktur CA Sri Muliani dan GM CA Bernard Grover turut hadir dalam jumpa pers siang tadi untuk memberikan penjelasan terkait teater dan pertunjukan. Menurut Grover, semuanya sama tetapi dengan daftar pemain yang berbeda, karena ada dua kelompok yang melakukan tur di AS dan belahan dunia lainnya. “Menurut standar dunia, semua infrastruktur harus siap dan memadai. CA Theater telah didesain sedemikian rupa untuk menjadi tempat penyelenggaraan acara pertunjukan kelas dunia.”

    Sebelumnya CA menjadi lokasi untuk drama musikal Slank di penghujung tahun lalu yang sukses meraup pengunjung. Pihak Disney mengatakan CA Theater adalah yang terbaik di Asia dan sudah memenuhi standar dunia, jelas Rina. “Karena ingin menyuguhkan pertunjukan kelas dunia, CA akan dijalankan sebagai sebuah pusat seni komersial,” imbuhnya.

    Sistem suara CA baik dan berkualitas, demikian kata Grover. Bentuk dome atau kubah dalam teater ini juga membuat tata suara pertunjukan menjadi begitu memukau layaknya teater-teater besar dunia di negara-negara lain. Teater dan galeri ini menjadi yang tertinggi ke dua di dunia di lantai 13 Ciputra World 1 Jakarta. Dome ini begitu besar di ketinggian sehingga memberikan tantangan bagi pembangunnya. Teater-teater lainnya yang sudah ada di Indonesia belum selengkap dan sebesar CA Theater.

    Pertunjukan Broadway Productions sendiri belum pernah ke Indonesia karena belum ada teater yang memenuhi standar mereka. “Inilah gebrakan kami Ciputra Group untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ini juga menjadi pemecut semangat bagi para seniman lokal untuk belajar dari mereka,” putri sulung begawan properti Ir Ciputra itu menerangkan.

    Perhelatan musikal Beauty and the Beast tersebut terselenggara berkat kerjasama Ciputra Artpreneur (CA), Disney Theatrical Productions, NETworks dan Broadway Entertainment Group.

    Tiket dimulai dari harga Rp650 ribu hingga Rp2,5 juta. Dan akan diberlakukan harga khusus untuk musim liburan. Penjualan tiket dilakukan secara daring di situs Kiostix.com. Diperkirakan pertengahan Maret nanti akan dimulai penjualan tiketnya, kata Rina pada awak media.

    Grover menandaskan pihaknya selalu ingin memberikan hiburan seni berkualitas tertinggi ke Indonesia. Ongkos produksi dan standar dari Disney begitu tinggi menjadi tantang terbesar dalam penyelenggaraan.

    “Bila penyelenggaraan pertunjukan ini akan terlaksana dengan baik dan sukses, untuk berikutnya akan menjadi lebih mudah,” pungkas Rina yang menutup jumpa pers dengan tur museum dan galeri Ciputra Artpreneur bagi para jurnalis yang hadir. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Tulisan ini saya buat di tahun 2015 dan saya tayangkan kembali di sini sebagai dokumentasi.

    13 Feb 2015 Hits : 1,037

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Jika Anda berkesempatan melewati jalan Wijaya di Jakarta Selatan, mungkin Anda pernah melirik karena tertarik dengan sebuah bangunan kokoh berlantai tiga yang berkesan lapang dan terang. Desainnya berbeda dari bangunan-bangunan lain di sekelilingnya. Di depannya tidak dijumpai pagar pembatas yang mengungkung. Begitu juga bagian facade (muka bangunan), yang tampak begitu transparan karena hanya dibatasi material kaca bening. Desain bergaya industrial ini terkesan tangguh dan ‘raw’.  Dinding-dindingnya dibiarkan diplester dengan warna abu-abu khas semen yang tidak dilapisi cat, telanjang begitu saja tanpa dibungkus dengan kertas dinding (wallpaper). Langit-langitnya juga tidak dibatasi dengan tripleks atau plafon yang membuat kesan lega dan tinggi makin terasa. Suasana hangat bisa ditemui di lantai dua karena ruangannya didominasi warna coklat kayu. Ini menjadi salah satu upaya untuk menggugah ‘New Yorker feel’ untuk mendongkrak produktivitas bagi mereka yang bekerja di dalamnya.

    “Conclave Coworking Space” – demikian nama bangunan tadi – merupakan buah kerjasama dua orang pemuda. Awalnya, Aditya Hadiputra dan Marshall Tegar Utoyo berteman semasa kuliah di jurusan SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen), Institut Teknologi Bandung.  Saat itu mereka menekuni bidang industri keuangan seperti jual beli saham, brokerage, investasi dan sebagainya. Setelah mengecap pengalaman di dunia kerja dan mengalami pergeseran minat, Aditya merasa kurang nyaman di industri keuangan karena jarang bertemu orang. “Mereka yang benar-benar bermain saham misalnya, pekerjaan sehari-harinya hanya berhadapan dengan laptop saja,” paparnya.

    Akhirnya dua tahun lalu, ia mendapatkan ide untuk mendirikan sebuah kantor bersama (coworking space) yang bisa disewa dengan tarif yang terjangkau bagi semua kalangan, terutama entrepreneur yang baru mendirikan startup. Mereka ini adalah kelompok yang masih belum dapat mendapatkan ruang kantor besar yang bertarif tinggi di titik sentral ibukota yang menjadi pusat kegiatan bisnis dan perniagaan negeri ini.

    Setelah pulang dari perjalanan mereka ke Sydney, Marshall dan Aditya mengunjungi banyak coworking space di sejumlah lokasi di berbagai negara, seperti Australia, Singapura, Hong Kong, Filipina, dan sebagainya. Setelah itu tercetus ide mendirikan Conclave.

    Dari pengamatannya terhadap semua coworking space tersebut, Aditya menyimpulkan masing-masing memiliki ciri khas. Dan bagi Aditya, ia menginginkan Conclave menjadi tempat yang akomodatif bagi berbagai komunitas di ibukota. “Karena ingin menjadi rumah dan tempat komunitas-komunitas beraktivitas, kami menyediakan ruang khusus yang dapat dipakai untuk menyelenggarakan acara-acara pertemuan (event) yang beragam. Mulai dari workshop, seminar, talk show, penghargaan (award), pesta ulang tahun, syuting video atau pemotretan.” Aditya yakin dengan memberikan ruang di Conclave bagi komunitas-komunitas ini, kreativitas mereka akan bisa terus ditingkatkan.

    Dua sahabat itu memiliki minat yang berbeda. Aditya mengaku dirinya lebih tertarik kepada dunia bisnis teknologi informasi. Sementara Marshall lebih ingin menekuni bidang desain.

    Arsitektur dan desain interior Conclave dikerjakan oleh mereka sendiri. “Kami menggabungkan kelebihan-kelebihan kami dan kami ingin memenuhi kebutuhan orang TI dan desain. Terciptalah coworking space Conclave,” ujar pria berkacamata itu.

    Dalam pembangunan Conclave yang berlokasi di jl. Wijaya Jakarta Selatan itu, Marshall lebih banyak menangani aspek desainnya, sesuai dengan passion-nya. Ia membuat Conclave sedemikian rupa sehingga bisa mengakomodasi kebutuhan kaum pekerja kreatif di dalamnya. Ada perpustakaan, ruang kerja yang tenang, ruang rapat yang nyaman dengan kapasitas 6-7 orang, kafe Typology di sebelahnya untuk bersantap di sela-sela kesibukan pekerjaan atau sekadar mengobrol melepas penat, dan sebagainya. Bahkan para anggota Conclave bisa mandi dan kemudian bekerja kembali setelah badan terasa segar.

    Menurut Aditya, Conclave menjadi solusi bagi entrepreneur-entrepreneur baru yang membutuhkan ruang kantor yang terjangkau. Ruang kerja bisa disewa per jam sehingga penyewaan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

    Aditya mengatakan keunggulan bekerja di sebuah coworking space dibandingkan jika menyewa atau mengkontrak sebuah bangunan rumah sebagai kantor sendiri adalah para entrepreneur atau pekerja lepas (freelancers) di industri kreatif ini tidak perlu lagi pusing tentang infrastruktur pendukung semacam koneksi Internet, listrik, dan sebagainya. “Lebih baik mereka ngantor di coworking space yang lebih memudahkan. Tinggal bayar dan tahu beres,” cetusnya.

    Conclave juga menjanjikan sambungan Internet yang lebih cepat. Sebagaimana diketahui, koneksi yang dapat diandalkan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kaum pekerja digital saat ini.

    Selain itu, Aditya yakin bahwa bekerja di coworking space juga bisa memperluas jejaring atau koneksi bisnis seorang entrepreneur. Bandingkan dengan bekerja di sebuah kantor atau ruko yang terpisah dari komunitas atau sesama pelaku industri yang sama. “Anda bisa bertemu dengan orang-orang baru di coworking space setiap hari meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda.”

    Walaupun ia mengakui ada sebagian orang yang merasa nyaman bekerja di kafe-kafe bergaya hipster di Jakarta, Aditya menegaskan ada kelebihan yang dipunyai coworking space, yaitu sambungan Internet yang lebih dapat diandalkan dan kenyamanan untuk bekerja selama yang dibutuhkan.  “Bekerja dua jam saja di kafe sudah terasa agak ‘gerah’ karena hilir mudik dan kebisingan orang yang ada di dalamnya,” ia beralasan. Belum lagi dari sudut pandang si pemilik kafe yang menganggap pelanggan yang duduk terlalu lama sebagai ‘gangguan’ karena mereka ingin juga menyediakan tempat bagi pengunjung lainnya yang ingin masuk, membeli makanan dan minuman dan menikmatinya di sana. Karena itulah, bisa dipahami kalau kafe-kafe itu memberikan fasilitas koneksi Internet yang tidak terlalu cepat. Padahal mereka yang ingin bekerja lebih efisien membutuhkan koneksi Internet yang berkualitas prima.

    Conclave baru saja melakukan soft launching Desember 2014 lalu. Aditya mengatakan grand launching akan digelar awal Maret tahun ini sehingga akan ada lebih banyak orang yang beraktivitas di dalamnya.

    Aditya berterus terang ada satu elemen penting yang belum ia hadirkan di Conclave. “Bau kopi! Biasanya orang kalau masuk ke tempat seperti ini dan ditambah dengan bau kopi akan bisa lebih berkonsentrasi,” ia berseloroh. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Artikel ini saya tulis 2014 lalu dan saya tayangkan kembali di sini sebagai dokumentasi.

    25 Oct 2014 Hits : 5,299

    Regenerasi adalah hal yang mutlak bagi sebuah perusahaan bila ingin senantiasa berkembang. Dengan banyaknya kasus perusahaan keluarga yang runtuh karena generasi ketiga yang kurang kompeten dalam meneruskan estafet kepemimpinan bisnis, rasanya tidak berlebihan jika para pimpinan Grup Ciputra menganggap isu regenerasi kepemimpinan sebagai isu yang serius dan perlu dilakukan sejak jauh-jauh hari.

    Persiapan transisi dari generasi ke generasi berikutnya bukan perkara mudah. Jika generasi pertama lekat dengan semangat pembangunan, Ir. Ciputra adalah teladan yang tepat. Kiprahnya yang sudah diakui di kancah nasional dan internasional membuat Grup Ciputra sudah dikenal di mana-mana. Saat kepemimpinan dialihkan ke generasi kedua (anak-anak dan menantu Ir. Ciputra), Grup Ciputra mencapai perkembangan yang pesat. Generasi kedua inilah yang memegang tongkat kepemimpinan saat ini. Mereka adalah keempat anak dan para menantu Ir. Ciputra, yaitu Rina Ciputra Sastrawinata-Budiarsa Sastrawinata, Junita Ciputra Hajadi-Harun Hajadi, Candra Ciputra-Sandra, dan Cakra Ciputra.

    Konsistensi persiapan peralihan kepemimpinan antargenerasi ini dipandang vital demi kelanggengan Grup Ciputra di masa datang. Rina Ciputra menyatakan upaya tersebut telah dilakukan sejak tahun 2005 dengan menempatkan anak-anaknya dalam bagian business development. Di sini, mereka diharapkan belajar banyak mengenai analisis bisnis dan studi kelayakan bisnis (feasibility study) sebagai trainee.

    Sementara generasi kedua masih memegang kendali, generasi ketiga juga tengah disiapkan untuk menggantikan orang tua dan kakeknya suatu hari nanti. Dari generasi ketiga dalam keluarga Ciputra, sebagian sudah disiapkan untuk menjalankan peran pemimpin bisnis nantinya. Tiga di antaranya adalah Anindya, Lalitya dan Nararya Sastrawinata. Semuanya adalah anak dari pasangan Rina Ciputra Sastrawinata dan Budiarsa Sastrawinata. Rina Ciputra saat ini bertanggung jawab atas pengembangan Ciputra Artpreneur Center, sebuah pusat kegiatan seni Indonesia yang dibangun di tengah kawasan bisnis Mega Kuningan yang ramai ; sementara Budiarsa Sastrawinata menjadi salah satu pucuk pimpinan Grup Ciputra khususnya subholding 1.

    Anindya Sastrawinata, sang anak sulung perempuan Rina dan Budiarsa, mengelola bisnis Grup Ciputra di kota Palembang, Sumatera Selatan selama 5 tahun. Kemudian ia beralih ke proyek Citra Garden di Cengkareng, tempat ia bekerja yang melibatkan pemasaran bangunan perkantoran dan gedung pencakar langit (high rise). Ia menekankan pentingnya layanan purna jual (after-sales service) karena menurut Anindya para konsumen tentu mau mendapatkan pelayanan yang paripurna, yang tidak hanya diberikan sebelum tetapi juga setelah membeli produk properti Grup Ciputra. “Ini sangat krusial, karena bila beli langsung ‘diputus’ (tanpa layanan purna jual – pen), berat,”pungkasnya.

    Demi memahami pekerjaan dan mekanisme bisnis secara menyeluruh, Anindya yang alumni Glion Institute of Higher Education Swiss ini tidak segan bekerja dari jenjang bawah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai trainee di bagian front office di Hotel Sofitel di ibukota Swiss, Jenewa. Selain itu, ia pernah mengecap pengalaman bekerja di Mandarin Oriental, Hyde Park di Inggris. Pekerjaan barmaid di White Horse Pub, Swiss, juga pernah ia cicipi. Dalam proyek Citra Grand City Palembang dan Citra Garden City Jakarta, Anindya bertindak sebagai Marketing and Estate Manager.

    Lalitya Sastrawinata adalah putri kedua yang juga adik kandung Anindya, yang mengikuti jejak sang kakak dengan terjun dalam menjalankan roda bisnis Grup Ciputra. Lain dari Anindya, Lalitya mulai terjun ke dalam Grup Ciputra pada bulan Maret 2011. Lalitya pernah bekerja di Palladium dan Atlantic-ACM (keduanya perusahaan telekomunikasi dan teknologi informasi) pasca kelulusannya dari Wellesley College, Boston, AS. Ia belajar sebagai staf pengembangan bisnis di subholding 1 yang dibawahi sang ayah. Merasa harus perlu menimba pengalaman, Lalitya tidak segan bertanya dan meminta saran dari para karyawan yang lebih senior dan berpengalaman dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari. Menekuni akuntansi, keuangan, cara menjual, survei lahan, penyusunan rencana bisnis hingga pelaksanaan studi kelayakan merupakan beberapa hal yang ia pelajari selama ini. Tahun 2012, Lalitya diangkat sebagai Manajer Pengembangan Bisnis dan Manajer Komunikasi Pemasaran di proyek Citra Raya. Perbaikan di beberapa aspek dilakukan di Citra Raya terutama dalam bidang pemasaran. Penggunaan perantara eksternal dan kampanye digital adalah dua dari beberapa pembaruan yang Citra Raya selama ia bergabung.

    Sementara Nararya Sastrawinata, sang anak ketiga, telah 3 tahun bekerja di proyek Grup Ciputra di negeri tirai bambu. Grup Ciputra mendirikan proyek Grand Shenyang seluas 300 ha di Tiongkok dn Nararya yang alumni United World College of South East Asia 2004 ini menjabat sebagai Associate Project Director di Grand Shenyang. Penyelesaian proyek tersebut direncanakan akan berlangsung selama 10-12 tahun. Untuk memperkaya pengalamannya dalam dunia bisnis, pemegang gelar Master of Engineering (M. Eng) itu bekerja di berbagai perusahaan sebelum masuk ke Grup Ciputra. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Saya menulis artikel ini 2015 lalu dan menayangkannya kembali di sini untuk dokumentasi. Berikut profil Christian Nugroho sebelum menjadi Senior Vice President di Traveloka.

    16 Mar 2015 Hits : 3,470
    Christian Nugroho tentang entrepreneurship. (Foto: LinkedIn Christian Nugroho)

    Christian Nugroho (27) merasa puas saat orang berterima kasih padanya. Insinyur lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung tahun 2009 itu sekarang tertarik dengan industri perhotelan. Ia saat ini masih bekerja untuk sebuah korporasi multinasional sembari menjalankan bisnis hotel orang tuanya di Yogyakarta, Hotel Gallery Prawirotaman. Christian mengakui beruntung dapat bekerja di posisinya sekarang. Di tempat kerjanya, ia diberikan akses ke berbagai bidang bisnis dalam perusahaan sehingga tidak terpaku dalam satu bidang saja sebagaimana yang dialami banyak orang. Baginya bekerja di perusahaan besar bukan untuk mengejar posisi atau jabatan, tetapi untuk mendapatkan kesempatan menimba ilmu dari para profesional yang lebih berpengalaman. Kelak ia yakin pengalaman itu akan berguna dalam mengembangkan hotelnya nanti.

    Demi meningkatkan kompetensinya sebagai pebisnis muda, Christian tidak membuang waktu yang ada. Begitu ia mendapatkan kesempatan studi lebih tinggi di tahun 2013, ia pun memutuskan kuliah di National University of Singapore (NUS). Dalam waktu kurang dari dua tahun saja, penggemar olahraga angkat beban ini sudah menggondol gelar Master of Business Administration (M.B.A.). Tak cuma memperkaya pengetahuan dari ranah akademis, Christian yang gemar membaca buku bertema sejarah, SDM, bisnis dan pemecahan masalah ini juga belajar langsung dari praktik-praktik bisnis yang lebih mapan dengan bekerja dalam divisi business development di sebuah perusahaan Jepang (2014) dan di Jakarta (2009-2013).

    Tidak heran dengan semua pencapaian itu, lajang kelahiran 13 Desember 1987 ini memiliki banyak pengalaman dalam bidang manajemen hotel, pengembangan bisnis, dan manajemen proyek. Tekad baja dalam mencapai impian tecermin dari wajah Christian (C) saat bercakap-cakap dalam sebuah wawancara dengan Ciputra News (CN) mengenai pekerjaannya dan bisnis hotelnya. 

    CN: “Apakah teman-teman di kampus juga banyak yang bekerja kemudian mendirikan bisnis sendiri?”

    C: “Ada sebagian teman di ITB yang bekerja untuk perusahaan multinasional dan ada juga yang membuka usaha sendiri. Teman-teman saya di Singapura lebih banyak yang bekerja untuk perusahaan besar. ”

    CN: “Lebih enak menjadi karyawan atau entrepreneur?”

    C: “Lebih enak jadi entrepreneur. Karena kita bisa lebih bebas dalam mewujudkan ide-ide kita, asal dibarengi kemampuan untuk merealisasikannya. Ide-ide kita tidak akan terbuang sia-sia jika menjadi entrepreneur. Menjadi entrepreneur itu harus mau bekerja selama 24 jam. Kalau kita sebagai karyawan, apakah mau bekerja sampai pukul 9 malam atau lebih? Kalau entrepreneur lain karena bisa terus bekerja tanpa merasa dipaksa. 
    Saya pulang kantor pukul 7 malam dan setelah itu saya masih menyempatkan untuk memeriksa email khusus bisnis hotel saya. Saya harus membagi waktu, karenanya saya tidak bawa pekerjaan kantor saat pulang. Tetapi jika memang harus lembur, saya tidak menolak juga agar kinerja tidak buruk.“

    CN:”Apa pendapat Christian tentang makin tingginya jumlah kelas menengah di Indonesia terkait dengan bisnis?”

    C:”Kelas menengah ini membutuhkan wisata. Akan membosankan jika hanya berlibur di tempat-tempat yang sudah biasa dikunjungi. Karena itu, kita harus merambah tempat-tempat baru, yang lebih unik. Kelas menengah ini kebanyakan anak-anak muda yang sudah tech-savvy (akrab dengan teknologi) sehingga membuat kita juga harus menyesuaikan metode marketing. Tidak bisa lagi mengandalkan marketing cara lama seperti brosur dan sejenisnya. Meski harus diakui cara konvensional seperti itu masih berlaku untuk B2B (business to business).
    Dulu sekitar tahun 1990-an, setahu saya hotel bintang 4 itu masih bagus sekali tetapi sekarang hotel yang sama ukurannya makin kecil dan layanannya makin berkurang. Hal ini juga terjadi di industri penerbangan. Dulu lebih bagus tetapi sekarang mulai dipangkas sana-sini supaya lebih murah. Saya melihat banyak orang yang merasa kurang nyaman. Saya ingin orang masih tetap nyaman sambil menjaga kualitas layanan.”

    CN:”Mengapa tidak tertarik dengan Internet startup seperti banyak anak muda sekarang yang ingin membuat Facebook atau Twitter berikutnya, dan memilih industri hotel?”

    C:”Saya tidak punya pengalaman di industri itu, pertama. Kedua, passion juga tidak ada. Meski awalnya yang membangun bisnis ini adalah orang tua, begitu ditekuni saya merasa service industry itu menyenangkan. Passion saya menyenangkan orang. Saat melihat orang senang, saya juga ikut senang.”

    CN:”Apa yang ditangani Christian di hotel?”

    C:”Banyak hal yang saya ikut tangani, dari penentuan target, menentukan anggaran (budget), rencana bisnis tiap bulan, pencapaian target itu, hingga masalah taktisnya. Misalnya sekarang kami banyak memberikan arahan bagi sales staff mengenai penawaran dan tender bisnis yang berkaitan dengan hotel kami. Yang tak kalah pentingnya adalah di lapangan kami harus melihat dengan sungguh-sungguh bagaimana interaksi tamu dan pihak staf hotel, supaya mencegah adanya masalah di lapangan yang tidak tertangani dengan baik. Ini penting untuk memastikan apa yang dirasakan customer dan apakah staf benar-benar bekerja dengan maksimal. Saya yakin bahwa sekarang zamannya sudah berorientasi konsumen, bukan berorientasi produk.”

    CN:”Apakah dulu di kampus pernah mengikuti mata kuliah entrepreneurship?”

    C:”Dulu pernah ada memang tetapi saya memilih tidak mengikutinya karena belum terpikir untuk menjadi entrepreneur. Saya lebih tertarik pada intrapreneurship, karena resource lebih banyak. Bukan cuma uang tetapi network, infrastruktur dan sebagainya.”

    CN:”Kalau teman-teman Christian lebih banyak terjun ke bidang bisnis apa?”

    C:”Karena kelas menengah makin banyak, biasanya teman-teman saya di Indonesia lebih tertarik menggarap bisnis consumer goods (barang konsumer) seperti garmen untuk pakaian muslim, dan sebagainya. Sementara teman-teman kuliah di Singapura lebih banyak berkecimpung di bidang bisnis Internet dan TI.”

    CN:”Siapa role model atau panutan Christian?”

    C:”Saya memiliki seorang direktur, CEO, yang memberikan inspirasi. Begitu saya masuk dalam perusahaan tersebut, ia membimbing saya. Saya mengaguminya karena ia memiliki kemampuan berbicara di depan publik yang baik, dan saya merasa bisa belajar banyak darinya. Ia juga percaya dengan keharusan mengembangkan talenta yang bagus.”

    CN:”Di bisnis hotel, bagaimanakah mendapatkan dan mempertahankan staf?”

    C:”Cukup sulit, karena tingkat turnover relatif tinggi. Sebentar pindah. Untuk mendapatkan orang yang tepat di posisi yang tepat juga susah. Jadi kami berupaya menggunakan sumber daya yang ada dan memberikan bimbingan pada mereka.
    Hal lain yang tak kalah penting ialah bagaimana mendapatkan orang yang bisa menempatkan diri dalam posisi konsumen. Karena harus melakukan hal yang sama terus menerus seperti memberitahukan hal-hal yang sudah lazim bagi mereka, mungkin staf bisa bosan dan menjadi kurang ramah dalam melayani tamu. Bila mereka bisa memahami posisi konsumen yang masih belum familiar dengan kondisi hotel, mereka akan dapat berempati dan bersikap lebih ramah saat berhadapan dengan mereka.”

    CN:”Bagaimana pengalaman berbisnis dengan orang tua? Apakah ayah masih sering memberikan mentoring?”

    C:”Papa masih aktif di operasional hotel. Beliau sudah berpengalaman di urusan perizinan, humas, barang, pembangunan hotel dan sebagainya. Tetapi untuk marketing dan service, saya lebih banyak menangani.”

    CN:”Bagaimana menghadapi tamu yang terlalu kritis?”

    C:”Kami bisa pahami dulu mereka, meminta maaf juga. Tetapi kalau dirasa sudah melampaui batas, kami akan coba jelaskan situasinya dengan sabar. Seperti saat seorang tamu yang menuntut fasilitas tertentu yang memang dalam standar hotel bintang 4 tidak disediakan tetapi ia bersikukuh memintanya. Tentunya kami tak bisa memenuhi keinginannya. 
    Namun, secara pribadi saya belum pernah menemui tamu yang sangat menjengkelkan. Enaknya berbisnis hotel itu adalah kami lebih banyak bertemu dengan orang yang senang berkat atmosfer liburan. Saat liburan, orang biasanya akan lebih suka bersenang-senang dan bukan membuat keluhan. Mungkin nanti akan berbeda dengan jenis tamu bisnis yang menuntut kualitas pelayanan yang lebih baik. Tetapi di hotel kami lebih banyak tamu yang berlibur, bukan bekerja.”

    CN:”Di tahun ini, bagaimana target yang ingin dicapai oleh bisnis hotel Anda? Apakah ada rencana menjadikan bisnis hotel ini sebagai hotel chain?”

    C:”Kami masih baru jadi kami masih terus belajar dan memantapkan semua sistem. Untuk rencana menjadikan hotel chain, saya lebih menyukai untuk mengelola beberapa hotel saja tetapi kualitasnya terjaga dan terstandarisasi. Laba memang penting tetapi bukan segalanya.” (*/Akhlis)

Verified by MonsterInsights