• An exciting read. (Image: Amazon Japan)

    So, President Jokowi recently said he wants more people to get fancy degrees like master’s and doctorates here.

    Right now, though, only a tiny fraction of our population has those degrees—like 0.45%, not even close to 1%. That’s from tempo.co.

    But here’s the thing: What if there are too many brainiacs? Like, what happens if we have way more highly educated folks than we actually need?

    Let’s Talk Cliodynamics

    Okay, so this might sound kinda out there for Indonesia, but let’s chat about this cool book by an American dude named Peter Turchin.

    His book, “End Times,” came out in 2023, and it’s all about this new science called “cliodynamics.” Basically, it’s a mix of history and Big Data—using tons of old data to predict how societies rise and fall.

    Now, since the U.S. is a big deal globally, Turchin’s ideas are pretty relevant to us. ‘Cause whatever happens there affects us too, especially since we’re pretty tight with the U.S.

    What Happens When There Are Too Many Brainy People?

    So, Turchin thinks if there are too many brainy elites in a country and not enough top jobs for them, a “counter-elite” forms. These are the sneaky folks who cheat to get ahead.

    Imagine busting your butt to get a degree, playing by the rules, and then getting shafted by some cheat who found a loophole. You’d be mad, right? That anger can mess up a whole society.

    Real-Life Examples

    Turchin talks about three big figures: Donald Trump, Abraham Lincoln, and Hong Xiuqian. They all clawed their way to the top, but their downfalls led to some serious chaos.

    Like, Hong led the bloodiest civil war in history! And after Lincoln got assassinated, America went through a crazy civil war too. And then there’s Trump, whose time in office saw a pandemic and a riot at the Capitol. Wild, right?

    So, yeah, Turchin’s book is pretty eye-opening if you’re into history and stuff. You can grab it at Periplus bookstores for Rp345,000. Definitely worth a read if you wanna fresh perspective on things. (*/)

  • EKSPLORASI budaya fisik dan olahraga terasa amat menyenangkan. Setidaknya bagi saya.

    Saat ini saya menjalani rutinitas fisik hasil kombinasi yoga, pilates, senam artistik, balet, dan  juga angkat beban. 

    Semua saya jalani untuk memberikan menu gerakan yang bervariasi bagi tubuh, mental, psikis dan spiritual.

    Satu jenis olahraga lain yang belum pernah saya jamah adalah olahraga akuatik alias air.

    Jujur saya belum bisa berenang di kedalaman. Ada semacam kepanikan saat harus masuk ke perairan yang dasarnya tak terjangkau oleh kaki ini. 

    Sempat sih mau belajar renang tapi coba deh nanti pas ada waktu luangnya karena di dekat rumah cuma ada kolam renang ‘mainan’. Dalamnya cuma 1,5 meter sehingga kurang dalam jika mau dibuat latihan renang yang serius. 

    Berenang sebenarnya bukan cuma olahraga pengisi waktu luang tapi juga bisa saya gunakan langsung di situasi genting semacam banjir atau terjatuh di laut (semoga tidak pernah terjadi kengerian seperti itu pada saya). 

    Bila sudah bisa berenang rasanya juga tertarik mendalami renang indah (artistic swimming) dan lompat indah (diving). 

    Rasanya sangat menantang untuk terjun dari ketinggian 10 meter ke dalam kolam renang yang sangat dalam.  Butuh nyali besar sekali untuk itu. 😅

    Berenang sambil memeragakan koreografi tertentu yang diiringi musik layaknya sedang menari juga sangat menantang. Karena kadang ada gerakan yang mengharuskan kepala di bawah air sehingga saya bakal harus menahan napas cukup lama sembari terus menggerakkan kaki di atas permukaan air. Sangat mengasyikkan sekaligua menakutkan. Haha. 

    Satu kabar yang menggembirakan ialah olahraga renang indah ini makin inklusif bagi pria. Dikabarkan renang indah akan membolehkan pria untuk bertanding secara profesional dan setara dengan para atlet perempuan yang sudah lama memonopoli cabang olahraga ini.

    Dikenal pertama kali sebagai koreografi di dalam air pada adegan film Hollywood di tahun 1930-an hingga dekade 1950-an, renang indah dinyatakan terbuka untuk para peserta pria oleh organisasi olahraga air dunia FINA. Sebelumnya di tahun 2015 FINA telah mengizinkan atlet pria berkompetisi di ajang kejuaraan dunia renang indah (artistic swimming world championship). Hanya saja Olimpiade belum. Baru tahun ini ‘lampu hijau itu diberikan oleh FINA. 

    Keputusan FINA ini membuat senam ritmik sebagai satu-satunya cabang olahraga di Olimpiade yang tertutup aama sekali untuk kaum Adam meski saat ini juga sudah ada upaya dan lobi-lobi untuk membuka ‘gerbang yang telah lama dikunci’ ini. (*/)

  • [Previously published on my LinkedIn account]

    In which position and field of work do writers get paid the highest? 

    SALARY is one of the hottest topics of discussion and will not go out of style at work.

    That’s why the salary question is among the most important questions in a job interview.

    All questions can be answered smoothly and correctly, but if the salary is not pleasing to our hearts, it feels like accepting a job offer in a place as luxurious or as bona fide as anything will make us think again.

    Recently HRD Bacot released a report regarding salaries among formal sector workers in the Jakarta area and its surroundings.

    Here I focus on discussing the writing profession because that is my first and main job.

    I also scoured the HRD Bacot salary report and found several job positions related to writing.

    The ranking order is based on the upper quartile number which in my opinion can indicate the maximum salary (in Indonesian Rupiah/ IDR) a person can achieve if they work ‘all out’ from various aspects of that job position.

    Rank 1: UX WRITER

    Field: IT
    Position: UX writer
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 12,500,000
    Median: 8,000,000
    Lower Quartile: 6,665,000

    Rank 2: CREATIVE COPYWRITER

    Field: Art and Creative
    Position: Copywriter
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 10,125,000
    Median: 8,750,000
    Lower Quartile: 6,450,000

    Rank 3: MARKETING COPYWRITER

    Field: Business Development, Sales & Marketing
    Position: Copywriter
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 8,930,500
    Median: 5,800,000
    Lower Quartile: 4,750,000

    Rank 4: CREATIVE CONTENT WRITER

    Field: Art and Creative
    Position: Content writer
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 7,000,000
    Median: 6,135,000
    Lower Quartile: 5,002,747

    Rank 5: TECHNICAL WRITER

    Field: IT
    Position: Technical writer
    Level: staff/ officer/ analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 6,492,000
    Median: 6,000,000
    Lower Quartile: 4,409,750

    Rank 6: CREATIVE COPYWRITER (IN WEST JAVA)

    Field: Art & Creative
    Position: Copywriter
    Level: staff/Officer/Analyst
    Location: West Java
    Upper Quartile: 6,250,000
    Median: 6,200,000
    Lower Quartile: 3,750,000

    Rank 7: CREATIVE WRITER- EDITOR

    Field: Art & Creative
    Position: Writer – Editor
    Level: Staff/Officer/Analyst
    Location: DKI Jakarta
    Upper Quartile: 5,650,000
    Median: 5,200,000
    Lower Quartile: 3,919,000

    We know well that to learn our peers’ salary is higher than ours can be detrimental to our work performance.

    But if we are in such a position right now (that we think we deserve a higher compensation), don’t quit abruptly.

    Remember this rule of thumbs:
    ✅ good salary, good experience (keep it)
    ❓good salary, bad experience (keep it while finding solutions)
    ❓ bad salary, good experience (keep it while looking for a better one)
    ❌bad salary, bad experience (totally not worth your time and energy)

  • PENGANTAR: Artikel ini telah saya tayangkan 2015 lalu dan saya kembali tayangkan di sini sebagai dokumentasi.

    26 Feb 2015 Hits : 509

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta –Untuk pertama kalinya pertunjukan Beauty and the Beast dari Disney AS akan ditampilkan di Indonesia. Acara akan mengambil tempat di Ciputra Artpreneur Theater, Ciputra World 1 Jakarta pada bulan Mei 2015. Demikian dinyatakan oleh Presdir Ciputra Artpreneur Center Rina Ciputra Sastrawinata tadi siang (26/2) dalam jumpa pers di Ciputra Theater.

    Pertunjukan berdurasi kira-kira 120 menit tersebut menjadi bagian dari tur dunia Disney yang direncanakan akan menyambangi beberapa negara di Asia. Negara-negara yang dimaksud ialah Turki, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Filipina, Thailand dan Singapura. Pertunjukan klasik dari Disney ini dikenal apik karena kepiawaian mereka menyajikan karakter-karakter animasi dari komik-komik tersohor Disney dalam wujud nyata di panggung dengan koreografi dan nyanyian yang memukau penonton.

    Menurut Rina, langkah ini sekaligus menandai dimulainya kiprah Ciputra Artpreneur sebagai promotor acara-acara pertunjukan kaliber dunia. Hal ini selaras dengan misi pendirinya Ir Ciputra yang ingin Indonesia memiliki pusat seni budaya yang representatif di ruas jalan Satrio yang nantinya akan terus dibangun layaknya Orchard Road di negeri jiran Singapura. 

    Untuk pertunjukan di Jakarta Mei nanti, sutradara yang dilibatkan ialah Rob Roth. Sementara koreografer Matt West akan menata gerak para penampil. Ann Hould-Ward yang menjuarai Tony Award didaulat menjadi desainer kostum. Unsur musik dalam pertunjukan ditangani oleh Michael Kosarin.

    Ciputra Artpreneur sendiri dibangun dengan misi untuk memberikan ruang, khususnya bagi karya-karya maestro lukis Hendra Gunawan, dan umumnya bagi para seniman Indonesia. “Misi kami adalah untuk mewadahi perkembangan para seniman dan penampil seni dan menjadi tempat mereka berkarir. Apalagi orang Indonesia sebenarnya berbakat karena itu kita menyediakan tempat untuk memamerkan potensi dan bakat itu,” terangnya. 

    Direktur CA Sri Muliani dan GM CA Bernard Grover turut hadir dalam jumpa pers siang tadi untuk memberikan penjelasan terkait teater dan pertunjukan. Menurut Grover, semuanya sama tetapi dengan daftar pemain yang berbeda, karena ada dua kelompok yang melakukan tur di AS dan belahan dunia lainnya. “Menurut standar dunia, semua infrastruktur harus siap dan memadai. CA Theater telah didesain sedemikian rupa untuk menjadi tempat penyelenggaraan acara pertunjukan kelas dunia.”

    Sebelumnya CA menjadi lokasi untuk drama musikal Slank di penghujung tahun lalu yang sukses meraup pengunjung. Pihak Disney mengatakan CA Theater adalah yang terbaik di Asia dan sudah memenuhi standar dunia, jelas Rina. “Karena ingin menyuguhkan pertunjukan kelas dunia, CA akan dijalankan sebagai sebuah pusat seni komersial,” imbuhnya.

    Sistem suara CA baik dan berkualitas, demikian kata Grover. Bentuk dome atau kubah dalam teater ini juga membuat tata suara pertunjukan menjadi begitu memukau layaknya teater-teater besar dunia di negara-negara lain. Teater dan galeri ini menjadi yang tertinggi ke dua di dunia di lantai 13 Ciputra World 1 Jakarta. Dome ini begitu besar di ketinggian sehingga memberikan tantangan bagi pembangunnya. Teater-teater lainnya yang sudah ada di Indonesia belum selengkap dan sebesar CA Theater.

    Pertunjukan Broadway Productions sendiri belum pernah ke Indonesia karena belum ada teater yang memenuhi standar mereka. “Inilah gebrakan kami Ciputra Group untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ini juga menjadi pemecut semangat bagi para seniman lokal untuk belajar dari mereka,” putri sulung begawan properti Ir Ciputra itu menerangkan.

    Perhelatan musikal Beauty and the Beast tersebut terselenggara berkat kerjasama Ciputra Artpreneur (CA), Disney Theatrical Productions, NETworks dan Broadway Entertainment Group.

    Tiket dimulai dari harga Rp650 ribu hingga Rp2,5 juta. Dan akan diberlakukan harga khusus untuk musim liburan. Penjualan tiket dilakukan secara daring di situs Kiostix.com. Diperkirakan pertengahan Maret nanti akan dimulai penjualan tiketnya, kata Rina pada awak media.

    Grover menandaskan pihaknya selalu ingin memberikan hiburan seni berkualitas tertinggi ke Indonesia. Ongkos produksi dan standar dari Disney begitu tinggi menjadi tantang terbesar dalam penyelenggaraan.

    “Bila penyelenggaraan pertunjukan ini akan terlaksana dengan baik dan sukses, untuk berikutnya akan menjadi lebih mudah,” pungkas Rina yang menutup jumpa pers dengan tur museum dan galeri Ciputra Artpreneur bagi para jurnalis yang hadir. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Tulisan ini saya buat di tahun 2015 dan saya tayangkan kembali di sini sebagai dokumentasi.

    13 Feb 2015 Hits : 1,037

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Jika Anda berkesempatan melewati jalan Wijaya di Jakarta Selatan, mungkin Anda pernah melirik karena tertarik dengan sebuah bangunan kokoh berlantai tiga yang berkesan lapang dan terang. Desainnya berbeda dari bangunan-bangunan lain di sekelilingnya. Di depannya tidak dijumpai pagar pembatas yang mengungkung. Begitu juga bagian facade (muka bangunan), yang tampak begitu transparan karena hanya dibatasi material kaca bening. Desain bergaya industrial ini terkesan tangguh dan ‘raw’.  Dinding-dindingnya dibiarkan diplester dengan warna abu-abu khas semen yang tidak dilapisi cat, telanjang begitu saja tanpa dibungkus dengan kertas dinding (wallpaper). Langit-langitnya juga tidak dibatasi dengan tripleks atau plafon yang membuat kesan lega dan tinggi makin terasa. Suasana hangat bisa ditemui di lantai dua karena ruangannya didominasi warna coklat kayu. Ini menjadi salah satu upaya untuk menggugah ‘New Yorker feel’ untuk mendongkrak produktivitas bagi mereka yang bekerja di dalamnya.

    Conclave Coworking Space” – demikian nama bangunan tadi – merupakan buah kerjasama dua orang pemuda. Awalnya, Aditya Hadiputra dan Marshall Tegar Utoyo berteman semasa kuliah di jurusan SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen), Institut Teknologi Bandung.  Saat itu mereka menekuni bidang industri keuangan seperti jual beli saham, brokerage, investasi dan sebagainya. Setelah mengecap pengalaman di dunia kerja dan mengalami pergeseran minat, Aditya merasa kurang nyaman di industri keuangan karena jarang bertemu orang. “Mereka yang benar-benar bermain saham misalnya, pekerjaan sehari-harinya hanya berhadapan dengan laptop saja,” paparnya.

    Akhirnya dua tahun lalu, ia mendapatkan ide untuk mendirikan sebuah kantor bersama (coworking space) yang bisa disewa dengan tarif yang terjangkau bagi semua kalangan, terutama entrepreneur yang baru mendirikan startup. Mereka ini adalah kelompok yang masih belum dapat mendapatkan ruang kantor besar yang bertarif tinggi di titik sentral ibukota yang menjadi pusat kegiatan bisnis dan perniagaan negeri ini.

    Setelah pulang dari perjalanan mereka ke Sydney, Marshall dan Aditya mengunjungi banyak coworking space di sejumlah lokasi di berbagai negara, seperti Australia, Singapura, Hong Kong, Filipina, dan sebagainya. Setelah itu tercetus ide mendirikan Conclave.

    Dari pengamatannya terhadap semua coworking space tersebut, Aditya menyimpulkan masing-masing memiliki ciri khas. Dan bagi Aditya, ia menginginkan Conclave menjadi tempat yang akomodatif bagi berbagai komunitas di ibukota. “Karena ingin menjadi rumah dan tempat komunitas-komunitas beraktivitas, kami menyediakan ruang khusus yang dapat dipakai untuk menyelenggarakan acara-acara pertemuan (event) yang beragam. Mulai dari workshop, seminar, talk show, penghargaan (award), pesta ulang tahun, syuting video atau pemotretan.” Aditya yakin dengan memberikan ruang di Conclave bagi komunitas-komunitas ini, kreativitas mereka akan bisa terus ditingkatkan.

    Dua sahabat itu memiliki minat yang berbeda. Aditya mengaku dirinya lebih tertarik kepada dunia bisnis teknologi informasi. Sementara Marshall lebih ingin menekuni bidang desain.

    Arsitektur dan desain interior Conclave dikerjakan oleh mereka sendiri. “Kami menggabungkan kelebihan-kelebihan kami dan kami ingin memenuhi kebutuhan orang TI dan desain. Terciptalah coworking space Conclave,” ujar pria berkacamata itu.

    Dalam pembangunan Conclave yang berlokasi di jl. Wijaya Jakarta Selatan itu, Marshall lebih banyak menangani aspek desainnya, sesuai dengan passion-nya. Ia membuat Conclave sedemikian rupa sehingga bisa mengakomodasi kebutuhan kaum pekerja kreatif di dalamnya. Ada perpustakaan, ruang kerja yang tenang, ruang rapat yang nyaman dengan kapasitas 6-7 orang, kafe Typology di sebelahnya untuk bersantap di sela-sela kesibukan pekerjaan atau sekadar mengobrol melepas penat, dan sebagainya. Bahkan para anggota Conclave bisa mandi dan kemudian bekerja kembali setelah badan terasa segar.

    Menurut Aditya, Conclave menjadi solusi bagi entrepreneur-entrepreneur baru yang membutuhkan ruang kantor yang terjangkau. Ruang kerja bisa disewa per jam sehingga penyewaan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

    Aditya mengatakan keunggulan bekerja di sebuah coworking space dibandingkan jika menyewa atau mengkontrak sebuah bangunan rumah sebagai kantor sendiri adalah para entrepreneur atau pekerja lepas (freelancers) di industri kreatif ini tidak perlu lagi pusing tentang infrastruktur pendukung semacam koneksi Internet, listrik, dan sebagainya. “Lebih baik mereka ngantor di coworking space yang lebih memudahkan. Tinggal bayar dan tahu beres,” cetusnya.

    Conclave juga menjanjikan sambungan Internet yang lebih cepat. Sebagaimana diketahui, koneksi yang dapat diandalkan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kaum pekerja digital saat ini.

    Selain itu, Aditya yakin bahwa bekerja di coworking space juga bisa memperluas jejaring atau koneksi bisnis seorang entrepreneur. Bandingkan dengan bekerja di sebuah kantor atau ruko yang terpisah dari komunitas atau sesama pelaku industri yang sama. “Anda bisa bertemu dengan orang-orang baru di coworking space setiap hari meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda.”

    Walaupun ia mengakui ada sebagian orang yang merasa nyaman bekerja di kafe-kafe bergaya hipster di Jakarta, Aditya menegaskan ada kelebihan yang dipunyai coworking space, yaitu sambungan Internet yang lebih dapat diandalkan dan kenyamanan untuk bekerja selama yang dibutuhkan.  “Bekerja dua jam saja di kafe sudah terasa agak ‘gerah’ karena hilir mudik dan kebisingan orang yang ada di dalamnya,” ia beralasan. Belum lagi dari sudut pandang si pemilik kafe yang menganggap pelanggan yang duduk terlalu lama sebagai ‘gangguan’ karena mereka ingin juga menyediakan tempat bagi pengunjung lainnya yang ingin masuk, membeli makanan dan minuman dan menikmatinya di sana. Karena itulah, bisa dipahami kalau kafe-kafe itu memberikan fasilitas koneksi Internet yang tidak terlalu cepat. Padahal mereka yang ingin bekerja lebih efisien membutuhkan koneksi Internet yang berkualitas prima.

    Conclave baru saja melakukan soft launching Desember 2014 lalu. Aditya mengatakan grand launching akan digelar awal Maret tahun ini sehingga akan ada lebih banyak orang yang beraktivitas di dalamnya.

    Aditya berterus terang ada satu elemen penting yang belum ia hadirkan di Conclave. “Bau kopi! Biasanya orang kalau masuk ke tempat seperti ini dan ditambah dengan bau kopi akan bisa lebih berkonsentrasi,” ia berseloroh. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Artikel ini saya tulis 2014 lalu dan saya tayangkan kembali di sini sebagai dokumentasi.

    25 Oct 2014 Hits : 5,299

    Regenerasi adalah hal yang mutlak bagi sebuah perusahaan bila ingin senantiasa berkembang. Dengan banyaknya kasus perusahaan keluarga yang runtuh karena generasi ketiga yang kurang kompeten dalam meneruskan estafet kepemimpinan bisnis, rasanya tidak berlebihan jika para pimpinan Grup Ciputra menganggap isu regenerasi kepemimpinan sebagai isu yang serius dan perlu dilakukan sejak jauh-jauh hari.

    Persiapan transisi dari generasi ke generasi berikutnya bukan perkara mudah. Jika generasi pertama lekat dengan semangat pembangunan, Ir. Ciputra adalah teladan yang tepat. Kiprahnya yang sudah diakui di kancah nasional dan internasional membuat Grup Ciputra sudah dikenal di mana-mana. Saat kepemimpinan dialihkan ke generasi kedua (anak-anak dan menantu Ir. Ciputra), Grup Ciputra mencapai perkembangan yang pesat. Generasi kedua inilah yang memegang tongkat kepemimpinan saat ini. Mereka adalah keempat anak dan para menantu Ir. Ciputra, yaitu Rina Ciputra Sastrawinata-Budiarsa Sastrawinata, Junita Ciputra Hajadi-Harun Hajadi, Candra Ciputra-Sandra, dan Cakra Ciputra.

    Konsistensi persiapan peralihan kepemimpinan antargenerasi ini dipandang vital demi kelanggengan Grup Ciputra di masa datang. Rina Ciputra menyatakan upaya tersebut telah dilakukan sejak tahun 2005 dengan menempatkan anak-anaknya dalam bagian business development. Di sini, mereka diharapkan belajar banyak mengenai analisis bisnis dan studi kelayakan bisnis (feasibility study) sebagai trainee.

    Sementara generasi kedua masih memegang kendali, generasi ketiga juga tengah disiapkan untuk menggantikan orang tua dan kakeknya suatu hari nanti. Dari generasi ketiga dalam keluarga Ciputra, sebagian sudah disiapkan untuk menjalankan peran pemimpin bisnis nantinya. Tiga di antaranya adalah Anindya, Lalitya dan Nararya Sastrawinata. Semuanya adalah anak dari pasangan Rina Ciputra Sastrawinata dan Budiarsa Sastrawinata. Rina Ciputra saat ini bertanggung jawab atas pengembangan Ciputra Artpreneur Center, sebuah pusat kegiatan seni Indonesia yang dibangun di tengah kawasan bisnis Mega Kuningan yang ramai ; sementara Budiarsa Sastrawinata menjadi salah satu pucuk pimpinan Grup Ciputra khususnya subholding 1.

    Anindya Sastrawinata, sang anak sulung perempuan Rina dan Budiarsa, mengelola bisnis Grup Ciputra di kota Palembang, Sumatera Selatan selama 5 tahun. Kemudian ia beralih ke proyek Citra Garden di Cengkareng, tempat ia bekerja yang melibatkan pemasaran bangunan perkantoran dan gedung pencakar langit (high rise). Ia menekankan pentingnya layanan purna jual (after-sales service) karena menurut Anindya para konsumen tentu mau mendapatkan pelayanan yang paripurna, yang tidak hanya diberikan sebelum tetapi juga setelah membeli produk properti Grup Ciputra. “Ini sangat krusial, karena bila beli langsung ‘diputus’ (tanpa layanan purna jual – pen), berat,”pungkasnya.

    Demi memahami pekerjaan dan mekanisme bisnis secara menyeluruh, Anindya yang alumni Glion Institute of Higher Education Swiss ini tidak segan bekerja dari jenjang bawah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai trainee di bagian front office di Hotel Sofitel di ibukota Swiss, Jenewa. Selain itu, ia pernah mengecap pengalaman bekerja di Mandarin Oriental, Hyde Park di Inggris. Pekerjaan barmaid di White Horse Pub, Swiss, juga pernah ia cicipi. Dalam proyek Citra Grand City Palembang dan Citra Garden City Jakarta, Anindya bertindak sebagai Marketing and Estate Manager.

    Lalitya Sastrawinata adalah putri kedua yang juga adik kandung Anindya, yang mengikuti jejak sang kakak dengan terjun dalam menjalankan roda bisnis Grup Ciputra. Lain dari Anindya, Lalitya mulai terjun ke dalam Grup Ciputra pada bulan Maret 2011. Lalitya pernah bekerja di Palladium dan Atlantic-ACM (keduanya perusahaan telekomunikasi dan teknologi informasi) pasca kelulusannya dari Wellesley College, Boston, AS. Ia belajar sebagai staf pengembangan bisnis di subholding 1 yang dibawahi sang ayah. Merasa harus perlu menimba pengalaman, Lalitya tidak segan bertanya dan meminta saran dari para karyawan yang lebih senior dan berpengalaman dalam menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari. Menekuni akuntansi, keuangan, cara menjual, survei lahan, penyusunan rencana bisnis hingga pelaksanaan studi kelayakan merupakan beberapa hal yang ia pelajari selama ini. Tahun 2012, Lalitya diangkat sebagai Manajer Pengembangan Bisnis dan Manajer Komunikasi Pemasaran di proyek Citra Raya. Perbaikan di beberapa aspek dilakukan di Citra Raya terutama dalam bidang pemasaran. Penggunaan perantara eksternal dan kampanye digital adalah dua dari beberapa pembaruan yang Citra Raya selama ia bergabung.

    Sementara Nararya Sastrawinata, sang anak ketiga, telah 3 tahun bekerja di proyek Grup Ciputra di negeri tirai bambu. Grup Ciputra mendirikan proyek Grand Shenyang seluas 300 ha di Tiongkok dn Nararya yang alumni United World College of South East Asia 2004 ini menjabat sebagai Associate Project Director di Grand Shenyang. Penyelesaian proyek tersebut direncanakan akan berlangsung selama 10-12 tahun. Untuk memperkaya pengalamannya dalam dunia bisnis, pemegang gelar Master of Engineering (M. Eng) itu bekerja di berbagai perusahaan sebelum masuk ke Grup Ciputra. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Saya menulis artikel ini 2015 lalu dan menayangkannya kembali di sini untuk dokumentasi. Berikut profil Christian Nugroho sebelum menjadi Senior Vice President di Traveloka.

    16 Mar 2015 Hits : 3,470
    Christian Nugroho tentang entrepreneurship. (Foto: LinkedIn Christian Nugroho)

    Christian Nugroho (27) merasa puas saat orang berterima kasih padanya. Insinyur lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung tahun 2009 itu sekarang tertarik dengan industri perhotelan. Ia saat ini masih bekerja untuk sebuah korporasi multinasional sembari menjalankan bisnis hotel orang tuanya di Yogyakarta, Hotel Gallery Prawirotaman. Christian mengakui beruntung dapat bekerja di posisinya sekarang. Di tempat kerjanya, ia diberikan akses ke berbagai bidang bisnis dalam perusahaan sehingga tidak terpaku dalam satu bidang saja sebagaimana yang dialami banyak orang. Baginya bekerja di perusahaan besar bukan untuk mengejar posisi atau jabatan, tetapi untuk mendapatkan kesempatan menimba ilmu dari para profesional yang lebih berpengalaman. Kelak ia yakin pengalaman itu akan berguna dalam mengembangkan hotelnya nanti.

    Demi meningkatkan kompetensinya sebagai pebisnis muda, Christian tidak membuang waktu yang ada. Begitu ia mendapatkan kesempatan studi lebih tinggi di tahun 2013, ia pun memutuskan kuliah di National University of Singapore (NUS). Dalam waktu kurang dari dua tahun saja, penggemar olahraga angkat beban ini sudah menggondol gelar Master of Business Administration (M.B.A.). Tak cuma memperkaya pengetahuan dari ranah akademis, Christian yang gemar membaca buku bertema sejarah, SDM, bisnis dan pemecahan masalah ini juga belajar langsung dari praktik-praktik bisnis yang lebih mapan dengan bekerja dalam divisi business development di sebuah perusahaan Jepang (2014) dan di Jakarta (2009-2013).

    Tidak heran dengan semua pencapaian itu, lajang kelahiran 13 Desember 1987 ini memiliki banyak pengalaman dalam bidang manajemen hotel, pengembangan bisnis, dan manajemen proyek. Tekad baja dalam mencapai impian tecermin dari wajah Christian (C) saat bercakap-cakap dalam sebuah wawancara dengan Ciputra News (CN) mengenai pekerjaannya dan bisnis hotelnya. 

    CN: “Apakah teman-teman di kampus juga banyak yang bekerja kemudian mendirikan bisnis sendiri?”

    C: “Ada sebagian teman di ITB yang bekerja untuk perusahaan multinasional dan ada juga yang membuka usaha sendiri. Teman-teman saya di Singapura lebih banyak yang bekerja untuk perusahaan besar. ”

    CN: “Lebih enak menjadi karyawan atau entrepreneur?”

    C: “Lebih enak jadi entrepreneur. Karena kita bisa lebih bebas dalam mewujudkan ide-ide kita, asal dibarengi kemampuan untuk merealisasikannya. Ide-ide kita tidak akan terbuang sia-sia jika menjadi entrepreneur. Menjadi entrepreneur itu harus mau bekerja selama 24 jam. Kalau kita sebagai karyawan, apakah mau bekerja sampai pukul 9 malam atau lebih? Kalau entrepreneur lain karena bisa terus bekerja tanpa merasa dipaksa. 
    Saya pulang kantor pukul 7 malam dan setelah itu saya masih menyempatkan untuk memeriksa email khusus bisnis hotel saya. Saya harus membagi waktu, karenanya saya tidak bawa pekerjaan kantor saat pulang. Tetapi jika memang harus lembur, saya tidak menolak juga agar kinerja tidak buruk.“

    CN:”Apa pendapat Christian tentang makin tingginya jumlah kelas menengah di Indonesia terkait dengan bisnis?”

    C:”Kelas menengah ini membutuhkan wisata. Akan membosankan jika hanya berlibur di tempat-tempat yang sudah biasa dikunjungi. Karena itu, kita harus merambah tempat-tempat baru, yang lebih unik. Kelas menengah ini kebanyakan anak-anak muda yang sudah tech-savvy (akrab dengan teknologi) sehingga membuat kita juga harus menyesuaikan metode marketing. Tidak bisa lagi mengandalkan marketing cara lama seperti brosur dan sejenisnya. Meski harus diakui cara konvensional seperti itu masih berlaku untuk B2B (business to business).
    Dulu sekitar tahun 1990-an, setahu saya hotel bintang 4 itu masih bagus sekali tetapi sekarang hotel yang sama ukurannya makin kecil dan layanannya makin berkurang. Hal ini juga terjadi di industri penerbangan. Dulu lebih bagus tetapi sekarang mulai dipangkas sana-sini supaya lebih murah. Saya melihat banyak orang yang merasa kurang nyaman. Saya ingin orang masih tetap nyaman sambil menjaga kualitas layanan.”

    CN:”Mengapa tidak tertarik dengan Internet startup seperti banyak anak muda sekarang yang ingin membuat Facebook atau Twitter berikutnya, dan memilih industri hotel?”

    C:”Saya tidak punya pengalaman di industri itu, pertama. Kedua, passion juga tidak ada. Meski awalnya yang membangun bisnis ini adalah orang tua, begitu ditekuni saya merasa service industry itu menyenangkan. Passion saya menyenangkan orang. Saat melihat orang senang, saya juga ikut senang.”

    CN:”Apa yang ditangani Christian di hotel?”

    C:”Banyak hal yang saya ikut tangani, dari penentuan target, menentukan anggaran (budget), rencana bisnis tiap bulan, pencapaian target itu, hingga masalah taktisnya. Misalnya sekarang kami banyak memberikan arahan bagi sales staff mengenai penawaran dan tender bisnis yang berkaitan dengan hotel kami. Yang tak kalah pentingnya adalah di lapangan kami harus melihat dengan sungguh-sungguh bagaimana interaksi tamu dan pihak staf hotel, supaya mencegah adanya masalah di lapangan yang tidak tertangani dengan baik. Ini penting untuk memastikan apa yang dirasakan customer dan apakah staf benar-benar bekerja dengan maksimal. Saya yakin bahwa sekarang zamannya sudah berorientasi konsumen, bukan berorientasi produk.”

    CN:”Apakah dulu di kampus pernah mengikuti mata kuliah entrepreneurship?”

    C:”Dulu pernah ada memang tetapi saya memilih tidak mengikutinya karena belum terpikir untuk menjadi entrepreneur. Saya lebih tertarik pada intrapreneurship, karena resource lebih banyak. Bukan cuma uang tetapi network, infrastruktur dan sebagainya.”

    CN:”Kalau teman-teman Christian lebih banyak terjun ke bidang bisnis apa?”

    C:”Karena kelas menengah makin banyak, biasanya teman-teman saya di Indonesia lebih tertarik menggarap bisnis consumer goods (barang konsumer) seperti garmen untuk pakaian muslim, dan sebagainya. Sementara teman-teman kuliah di Singapura lebih banyak berkecimpung di bidang bisnis Internet dan TI.”

    CN:”Siapa role model atau panutan Christian?”

    C:”Saya memiliki seorang direktur, CEO, yang memberikan inspirasi. Begitu saya masuk dalam perusahaan tersebut, ia membimbing saya. Saya mengaguminya karena ia memiliki kemampuan berbicara di depan publik yang baik, dan saya merasa bisa belajar banyak darinya. Ia juga percaya dengan keharusan mengembangkan talenta yang bagus.”

    CN:”Di bisnis hotel, bagaimanakah mendapatkan dan mempertahankan staf?”

    C:”Cukup sulit, karena tingkat turnover relatif tinggi. Sebentar pindah. Untuk mendapatkan orang yang tepat di posisi yang tepat juga susah. Jadi kami berupaya menggunakan sumber daya yang ada dan memberikan bimbingan pada mereka.
    Hal lain yang tak kalah penting ialah bagaimana mendapatkan orang yang bisa menempatkan diri dalam posisi konsumen. Karena harus melakukan hal yang sama terus menerus seperti memberitahukan hal-hal yang sudah lazim bagi mereka, mungkin staf bisa bosan dan menjadi kurang ramah dalam melayani tamu. Bila mereka bisa memahami posisi konsumen yang masih belum familiar dengan kondisi hotel, mereka akan dapat berempati dan bersikap lebih ramah saat berhadapan dengan mereka.”

    CN:”Bagaimana pengalaman berbisnis dengan orang tua? Apakah ayah masih sering memberikan mentoring?”

    C:”Papa masih aktif di operasional hotel. Beliau sudah berpengalaman di urusan perizinan, humas, barang, pembangunan hotel dan sebagainya. Tetapi untuk marketing dan service, saya lebih banyak menangani.”

    CN:”Bagaimana menghadapi tamu yang terlalu kritis?”

    C:”Kami bisa pahami dulu mereka, meminta maaf juga. Tetapi kalau dirasa sudah melampaui batas, kami akan coba jelaskan situasinya dengan sabar. Seperti saat seorang tamu yang menuntut fasilitas tertentu yang memang dalam standar hotel bintang 4 tidak disediakan tetapi ia bersikukuh memintanya. Tentunya kami tak bisa memenuhi keinginannya. 
    Namun, secara pribadi saya belum pernah menemui tamu yang sangat menjengkelkan. Enaknya berbisnis hotel itu adalah kami lebih banyak bertemu dengan orang yang senang berkat atmosfer liburan. Saat liburan, orang biasanya akan lebih suka bersenang-senang dan bukan membuat keluhan. Mungkin nanti akan berbeda dengan jenis tamu bisnis yang menuntut kualitas pelayanan yang lebih baik. Tetapi di hotel kami lebih banyak tamu yang berlibur, bukan bekerja.”

    CN:”Di tahun ini, bagaimana target yang ingin dicapai oleh bisnis hotel Anda? Apakah ada rencana menjadikan bisnis hotel ini sebagai hotel chain?”

    C:”Kami masih baru jadi kami masih terus belajar dan memantapkan semua sistem. Untuk rencana menjadikan hotel chain, saya lebih menyukai untuk mengelola beberapa hotel saja tetapi kualitasnya terjaga dan terstandarisasi. Laba memang penting tetapi bukan segalanya.” (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Artikel wawancara bersama Noudie ini saya tulis 2014 lalu dan saya tayangkan kembali di sini sebagai dokumentasi.

    14 Nov 2014 Hits : 4,460
    Noudie de Jong, entrepreneur pendiri agensi Ideaimaji. (Foto: Dok. Noudie)

    Makin banyak entrepreneur bermunculan dari generasi muda bangsa ini. Pastinya ini menjadi sebuah fenomena yang menggembirakan. Namun, tidak sedikit yang memulainya dengan hanya didasari niat menjadi tenar dan kaya secara finansial. Tak heran saat kekayaan dan kepopuleran tak kunjung didapat, semangat mereka pun memudar pula. 

    Hal ini menjadi satu keprihatinan tersendiri. Untungnya, ada pula sebagian entrepreneur muda yang telah berbisnis dengan pola pemikiran yang jauh berbeda. Salah satunya adalah Noudie de Jong yang kini menjalankan 3 bisnis sekaligus. Apa saja yang mengantarnya hingga dapat menjalankan bisnis sebanyak itu? Dan apa saja yang bisa Anda pelajari dari perjalanan dan pengalamannya selama berbisnis di dunia digital yang perkembangannya demikian pesat? Inilah wawancara Ciputraentrepreneurship dengan Noudie via email. 

    Bidang bisnis apa yang sedang digeluti saat ini di IdeaimajiTonehighway, dan Intuiticode?

    Idea Imaji adalah agensi digital communication, dan pusat perhatian saya untuk saat ini. Berdiri tahun tahun 2005 dan perusahaan pertama saya. Berawal sebagai studio multimedia, kemudian berkembang menjadi web development company, sebelum akhirnya memiliki core bisnis seperti sekarang.

    Tonehighway adalah start-up music streaming service yang saya dan 2 orang teman kembangkan di tahun 2009. Tonehighway didesain sebagai tempat showcase musisi indie sekaligus memasarkan karya-karyanya. Saat ini Tonehighway sedang dalam tahap perubahan model bisnis supaya dapat lebih kompetitif. 

    Intuiticode adalah start-up pengembang digital produk dan web-service yang saya co-founded di akhir tahun 2011 bersama rekan saya, Dwi Asharialdy. Produk pertama yang kami kembangkan adalah designosaurs.net, sebuah online store untuk e-commerce theme. Hingga saat ini, semua klien kami berasal dari luar negeri yang memang membutuhkan situs e-commerce sebagai bagian dari bisnis mereka. 

    Dari mana dan bagaimana ide bisnis itu datang dan merintisnya?

    Sekitar tahun 2002, saya sempat jadi freelancer di sebuah perusahaan penyedia solusi sistem ERP. Saat itu, owner perusahaannya memiliki project e-learning, dan berhubung SDM di perusahaannya terbatas, maka beliau mengumpulkan tim freelancer untuk pengerjaan project ini. Kebetulan dengan deskripsi pekerjaan sebagai Multimedia Designer, saya bisa menghabiskan waktu hingga 18 jam sehari di kantor.

    Seiring dengan banyaknya waktu yang saya habiskan di kantor, saya dan ownernya menjadi cukup dekat; beliau orang yang sangat terbuka dan enak buat diajak diskusi. Sayapun banyak belajar dari cara beliau menjalankan bisnisnya.

    Lama-kelamaan, proyek e-learning ini makin banyak, sedangkan ownernya tidak ingin perusahaannya terjun terlalu dalam ke bisnis ini. Alasan beliau adalah khawatir akan merusak fokusnya pada ERP solution. Maka beliau menyarankan saya untuk membuat perusahaan sendiri dengan bantuan beliau.

    Maka tahun 2005 lahirlah CV. Idea Imaji Persada. Bermodalkan tabungan gaji, saya beranikan untuk mengurus legalitas pendirian dari notaris dan membeli 1 unit komputer. Project pertama saya ketika itu adalah pembuatan modul e-learning untuk jurusan Arsitektur institut teknologi terkemuka di Bandung.

    Demi totalitas dalam mengurusi bisnis baru ini, saya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah di Teknik Penerbangan ITB. Tentu orang tua semula sedikit khawatir dengan keputusan saya, berhubung ayah dan ibu saya adalah seorang karyawan. Namun seiring berjalannya waktu, ketika usaha saya sudah mulai berkembang, mereka mulai melunak dan akhirnya mendukung keputusan saya.

    Bagaimana kegiatan/rutinitas sehari-hari dalam bisnis atau di luar bisnis?

    Hidup saya adalah bisnis. Antara kehidupan pribadi dan bisnis kadang tak memiliki batas yang jelas. Saya bisa saja bekerja di akhir minggu atau hari libur. Saya sangat bersyukur saya dikaruniai dengan seorang istri yang sangat memahami aktivitas suaminya yang tidak terjadwal dengan pasti.

    Saya bukan tipe orang yang mengkotak-kotakkan waktu sedemikian rupa. Saya tidak mematok alokasi waktu sebanyak sekian jam untuk pekerjaan, dan sisanya benar-benar tak mau diganggu, tidak. Saya menjalani keduanya dengan seimbang. Yang penting buat saya adalah saya bisa tetap menikmati dan terus belajar hal baru setiap hari.

    Apa yang menjadi hobi di waktu senggang?

    Jika saya memiliki waktu yang senggang, dalam arti tidak ada urusan pribadi ataupun pekerjaan yang harus diselesaikan, saya memilih untuk bersantai di rumah. Biasanya saya melepas penat dengan nonton DVD atau membaca komik, atau menghabiskan buku yang lebih “serius” saat saya perlu mengupdate pengetahuan dan skill. Jika sedang ingin keluar, ya biasanya saya akan nonton film di bioskop bersama istri, atau makan di restoran sushi. Kebetulan kami berdua penggemar berat sushi!

    Menurut Anda, apa saja kunci sukses seorang entrepreneur?

    Saya selalu percaya dengan kekuatan kerja keras, baik kerja fisik maupun otak. Ditambah dengan mental yang kuat serta berpegang teguh dengan prinsip dan etika dalam berbisnis, akan membuat kita menjadi pebisnis yang hebat dan tidak cengeng, dalam pengertian mampu memaksakan diri hingga meksimal untuk mencapai goal dan mampu mengikuti perubahan. Karena saya percaya, siapa yang tidak bisa beradaptasi terhadap perubahan maka harus bersiap digilas jaman.

    Tantangan terbesar apa yang Anda hadapi sebagai entrepreneur?

    Untuk saya, tantangan terbesar adalah menaklukkan diri sendiri. Kebetulan saya seorang yang cenderung introvert, jadi saya perlu usaha lebih saat harus berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sebagai pemiliki bisnis, saya selalu perlu untuk memperluas networking dan berdiskusi dengan para stakeholder di industri ini. Selain itu, ada juga rasa malas, ragu, takut, dan khawatir berlebihan yang juga harus ditaklukkan.

    Selain diri sendiri, tantangan terbesar lainnya adalah harus terus mengikuti perubahan industri yang menjadi core bisnisnya. 

    Kebetulan dalam kasus saya, bisnis digital dan online, kecepatan perubahannya sangat tinggi. Dalam tempo beberapa tahun saja, orang sudah berpindah dari trend ke trend lainnya. Begitulah juga yang terjadi pada bisnis saya. Saya harus terus mengikuti terus perkembangan industri, mempelajari dan menguasai platform dan teknologi baru yang sesuai kebutuhan bisnis saya.

    Motivasi apa yang tetap mendorong di saat krisis?

    Saya adalah seorang yang sering menempatkan diri saya sendiri dalam resiko. Resiko yang masih masuk akal tentunya. Dengan sebelumnya mengukur kemampuan diri saya sendiri, saya seringkali dengan sengaja menempatkan diri saya dalam posisi “terdesak”, di mana saya menjadi harus belajar dan bekerja sebaik dan secepat mungkin.

    Dengan seringnya menampatkan diri sendiri dalam kondisi “krisis”, saya melatih diri untuk tetap optimis dan dapat mencari peluang dalam setiap situasi.

    Bagaimana proyeksi bisnis Anda selama 5 tahun ke depan? Apa strateginya?

    Bisnis digital sangat ganas. Perkembangannya sangat “menakutkan”. Sejak boom-nya sekitar 3-4 tahun lalu, sudah banyak start-up digital yang muncul dan tenggelam, baik perusahaan lokal maupun asing.

    Untuk menghadapi iklim industri ini, selain harus memiliki kecerdasan dalam membaca tren pasar, membangun strategi jangka panjang menjadi hal yang penting. Untuk strategi jangka panjang, saya memfokuskan untuk menguatkan budaya perusahaan. Targetnya adalah untuk retaining talent terbaik dan mengembangkan kepemimpian di dalam perusahaan.

    Saya juga optimis dapat kembali mengembangkan Tonehighway jika infrastruktur internet dan budaya online di Indonesia sudah lebih matang. Ke depannya saya juga memprediksi bahwa e-commerce akan tumbuh dengan baik di Indonesia, yang menjadi pasar yang bagus untuk pengembangan produk-produk berikutnya dari Intuiticode.

    Pendapat tentang entrepreneurship di Indonesia?

    Dalam beberapa tahun ke belakang, menurut saya entrepreneurship sudah mulai populer dan berhasil menjadi aspirasi bagi banyak anak muda di Indonesia. 

    Namun, ada satu hal yang cukup mengkhawatirkan, yaitu terdapat kesan bahwa entrepreneurship merupakan jalan pintas untuk menjadi kaya. Bagi saya, hal ini jauh berbeda dengan yang sudah saya jalani dan rasakan. Memang akan ada outliers yang bisa memperoleh hasil dalam waktu singkat, tapi sekali lagi perlu diingat bahwa mereka adalah outliers. Dari setiap 1 orang yang menjadi seorang entrepreneur yang sukses dalam waktu singkat, bisa jadi ada puluhan atau bahkan ratusan lainnya yang gagal karena memiliki pola pikir “kaya instan”. Satu orang itupun biasanya sukses dengan cepat bukan karena niat mereka untuk menjadi kaya secara instan, tapi karena memang bisnisnyalah yang menjadi passionnya, sehingga ia berjuang dengan segala daya upayanya.

    Memang bukan maksudnya setiap orang tidak perlu mencoba untuk menjadi entrepreneur. Saya malah menyarankan at least once in everyone’s life cobalah untuk menjadi seorang entrepreneur. Karena menjalani profesi entrepreneur akan memberikan pola pikir baru yang jauh dari pola pikir “kaya instan” (yang menurut saya mirip dengan orang berjudi) yang mungkin pernah terbersit di benak beberapa orang. Memberikan sense of responsiblity, maturity dan wisdom yang biasanya baru kita dapatkan setelah bekerja tahunan sebagai karyawan. Juga memberikan dorongan untuk terus belajar dan memperhatikan hal-hal kecil dalam melakukan pekerjaan kita, karena seperti kata orang “devil lurks in the details”.

    Pesan untuk mereka yang mau jadi entreprenur?

    Percaya apa yang kamu lakukan, dan selesaikan apa yang sudah dimulai. Di perjalanannya semua pengusaha akan membuat keputusan-keputusan sulit, dan jangan ragu untuk mengambil keputusan itu hanya karena ingin menyenangkan semua pihak. Kalau waktunya kerja ngotot, ya harus ngotot. Intinya, jangan manja.

    Tapi hal yang tidak kalah pentingnya adalah tetap berpedoman pada nilai-nilai moral dan etika saat berhubungan dengan karyawan, rekan bisnis, klien atau orang lainnya. Ingat hal ini: what goes up, will go down. Yakinlah bahwa Anda akan sampai pada puncak kejayaan suatu saat, namunakan ada saatnya Anda akan mengalami krisis atau bahkan kejatuhan. Dan ketika hal itu terjadi, hanya orang-orang yang dulu kita perlakukan dengan baik, etis dan profesional lah yang dapat meredam jatuh kita dan membantu kita untuk kembali naik.(*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Artikel ini saya tulis 2014 lalu dan saya tayangkan di sini kembali untuk dokumentasi.

    21 Nov 2014 Hits : 1,134
    Press conference GEW 2014 yang dihadiri Harun Hajadi (paling kiri) sebagai perwakilan dari Ciputra Group. (Foto: Dokumentasi Akhlis Purnomo)

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Global Entrepreneurship Week Summit Indonesia 2014 diselenggarakan hari ini di Ciputra Teater, Ciputra World 1 Jakarta.  Event ini menjadi puncak dari serangkaian event entrepreneurship sebelumnya yang bertujuan ingin menyebarkan kesadaran untuk berentrepreneurship di Indonesia. Sejumlah entrepreneur, startup, investor dan wakil pemerintah dihadirkan untuk berdialog mengenai isu entrepreneurship.

    Di Indonesia, GEWSI diadakan oleh Grup Ciputra yang dikenal memiliki perhatian tinggi pada entrepreneurship. Hal ihwal keterlibatan Grup Ciputra bermula saat Ir Ciputra menerima penghargaan dari Enst & Young tahun 2007 lalu. Saat itu ia tanpa sengaja bertemu dengan perwakilan Kauffman Foundation yang berpengalaman dalam bidang entrepreneurship di AS. Perbincangan berlanjut menjadi sebuah kerjasama pelatihan entrepreneurship bagi guru dan dosen. Ciputra tidak ingin melatih entrepreneur tetapi para guru dan dosen dengan alasan bahwa mereka ini akan bisa menyebarkan semangat entrepreneurship ke anak didik mereka. Dari sana, diharapkan ada peningkatan kesadaran berentrepreneurship di masyarakat luas.

    Vice President Global Entrepreneurship Network Buke Chuhadar, Vice President Ewing Marion Kauffman Foundation Dane Stangler, dan Jeff Hoffman (pendiri Pricline dan ColorJar) berkesempatan memberikan presentasi mereka mengenai entrepreneurship dan scaling-up (cara membesarkan usaha).

    Pokok bahasan scaling-up dipilih karena mayoritas UMKM di Indonesia mengalami kemadekan atau gagal berkembang untuk menjadi skala medium atau bahkan menjadi bisnis berskala lebih besar lagi di tahun-tahun berikutnya sebagian karena  pendirinya karena kurang  kreativitas dan inovasi. Masalah ini telah menginspirasi Pak Ci untuk mempromosikan entrepreneurship di Indonesia. Hal ini termasuk dukungan terhadap acara-acara seperti Global Entrepreneurship Week di Indonesia.

    Ia menyoroti perlunya sinergi yang lebih baik antara 4 elemen: pemerintah, akademisi, bisnis dan organisasi sosial. “Kita masih kurang koordinasi yang mampu mempersatukan seluruh pemegang kepentingan entrepreneurship untuk bersama-sama mengupayakan terciptanya ekosistem startup yang lebih matang di Indonesia,” kata pendiri Grup Ciputra itu.

    Event yang diadakan sepanjang pagi hingga petang ini juga diramaikan oleh gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menyempatkan diri memberikan sambutan berjudul “Peran Entrepreneurship dalam Membentuk Masa Depan”. Ahok berpesan pada para anak muda yang hadir untuk turut menciptakan lapangan kerja.

    Dalam kesempatan itu, Ir Ciputra dan Giuseppe Nicolosi juga hadir untuk meresmikan Ciputra-GEPI Incubator dan Startup Indonesia. Nicolosi adalah Regional Managing Partner Ernst & Young.

    Dihadirkan pula sejumlah narasumber dalam talkshow “Developing Entrepreneurship Ecosystem in Indonesia” siang harinya. Perwakilan dari berbagai elemen memberikan pandangan mereka mengenai bagaimana Indonesia mesti membangun ekosistem entrepreneurship mereka. Salah satu pembicara, Shinta Khamdani dari Angel Investor Indonesia (ANGIN) mengatakan perlunya keterpaduan dalam membangun ekosistem tersebut. “Karena selama ini kita terkesan berjalan sendiri-sendiri,”tukasnya.

    Dalam GEWSI ini, para entrepreneur dan startup juga diberikan kesempatan untuk unjuk diri. Sejumlah entrepreneur Indonesia dan manca naik panggung dalam acara “Talkathon” yang isinya memberikan kisah dan kiat entrepreneurship mereka di hadapan entrepreneur lain dan para mahasiswa. (*/Akhlis)

  • PENGANTAR: Saya menulis artikel ini 2015 lalu dan menayangkannya kembali di sini untuk dokumentasi.

    14 Jan 2015 Hits : 1,039

    Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Bertempat di Ciputra Marketing Gallery Jakarta pagi ini (14/ 1/ 2015), Ciputra Foundation menyelenggarakan sebuah pelatihan entrepreneurship bagi para lulusan kampus di Jerman yang kembali ke Indonesia. Pelatihan tersebut direncanakan akan berlangsung selama 3 hari dan bertujuan untuk memantapkan mindset entrepreneurship dengan menggunakan pendekatan Ciputra Way.

    Dikatakan oleh Presiden Direktur Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCECAntonius Tanan yang menjadi pembicara dalam hari pertama pelatihan ini bahwa pelatihan akan mencakup pembelajaran entrepreneurship sebagai refleksi dari Ir. Ciputra dan riset akademis mengenai entrepreneurship. “Lebih lanjut, kita juga akan membahas mengenai peluang (opportunity) dalam entrepreneurship dan workshop dan observasi ke lapangan sehingga tidak hanya kajian teoretis saja,” tutur Antonius.

    Salah satu alasan diadakannya pelatihan bagi para lulusan Indonesia dari berbagai universitas di Jerman itu adalah ingin mendorong peningkatan jumlah entrepreneur di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui bersama, sebuah negara akan niscaya lebih makmur jika memiliki lebih banyak entrepreneur. Para entrepreneur mampu memberikan lapangan pekerjaan baru bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya sehingga problem pengangguran bisa teratasi.

    Selain itu, Antonius juga mengatakan keprihatinannya mengenai rendahnya jumlah usaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia yang mampu melakukan scaling-up (membesarkan skala usaha).  Jumlah pengusaha UMKM kita memang sudah banyak tetapi mayoritas masih stagnan, tidak mampu membesarkan bisnisnya meski sudah bertahun-tahun berjalan. Antonius menandaskan jika pengusaha-pengusaha ini diajari caranya berinovasi, peluang mereka untuk membesarkan usaha akan lebih tinggi. Pada gilirannya, jika skala usaha lebih tinggi, serapan tenaga kerja juga akan lebih luas dan dampak positifnya terhadap perekonomian bangsa juga lebih baik.

    Pernyataan Antonius diamini oleh Direktur Hubungan Internasional Ciputra Foundation Ivan Sandjaja yang mengutip hasil sebuah survei global oleh Global Entrepreneurship Week. Setelah sekitar 5000 orang entrepreneur disurvei, diketahui bahwa peringkat Indonesia dalam hal entrepreneurship masih rendah. Hal ini karena aspek mindset, inovasi dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk berinovasi yang masih kurang. Tidak heran survei tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi ke-120.

    “Rendahnya peringkat entrepreneurship Indonesia lebih disebabkan oleh rendahnya kemampuan untuk scaling-up yang dimiliki para pengusaha Indonesia yang ditandai dengan sukses tidaknya menggandakan omset dalam waktu 5 tahun,” tukas Ivan.

    Menurut Ivan, kelemahan bisnis-bisnis yang didirikan pengusaha Indonesia ialah kurang fokusnya pada pasar dunia. “Pengusaha kita lebih banyak membuat produk yang fokus pada pasar dalam negeri. Fokus pada pasar dunia kurang, sehingga akibatnya saat hendak go international kesulitan.”

    Rakyat Indonesia juga harus memanfaatkan pasar dalam negeri sebagai peluang untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia sebagai produsen, bukan konsumen semata. Untuk itulah dibutuhkan lebih banyak entrepreneur di tanah air, yaitu agar Indonesia tidak cuma menjadi pasar bagi pengusaha dari negara-negara lain, Anton berkata lagi pada para peserta.

    Pelatihan tersebut terselenggara oleh kerjasama antara Ciputra Foundation dan badan Geselschaft fur Internationale Zusammerbeit (German Development Cooperation) yang berkedudukan di Jakarta. (*/Akhlis)

Verified by MonsterInsights