Kemarin saat saya menunggu murid yang belum masuk juga ke kelas yoga siang saya, saya sempat menonton video pendek (clip) soal Raditya Dika yang mengklaim dirinya yang introver itu merasa syok dan tak cocok saat diajak masuk ke sebuah lingkaran pergaulan baru oleh seorang selebritas asing yang ternyata juga mengajak sejumlah pesohor Indonesia.
Uniknya saat suasana garing, ia ditinggal tuan rumah untuk menyapa tamu lain, Raditya langsung meraih ponsel cerdas dan mengetikkan sesuatu di layar. Ternyata ia menyibukkan diri curhat dengan ChatGPT kesayangannya. Saat itu sang tuan rumah menyalami tamu dan terjepret kamera bersama dengan Raditya yang sibuk mengetik di layar ponsel. Publik pun bereaksi, katanya. Bagaimana bisa ia sedang berada di event sosial yang gaduh tapi malah memilih chat dengan AI?
Saya pun yang seumuran dengan Raditya juga tidak paham dengan jalan pikirannya. Meski di generasi yang sama, kami tak berpikir dan bersikap sama soal AI.
Saya sampai sekarang belum pernah tertarik menggunakan AI sebagai pelarian dari kekakuan hubungan sosial di depan mata. Mungkin karena saya tak mau berakhir seperti pria bernama Theodore Twombly di film “Her”. Tapi Raditya bukan pria yang sekesepian Twombly. Ia berumahtangga, punya anak, dan punya segudang kenalan. Tapi kok tetap saja ia memilih mengobrol dengan ChatGPT?
Saya mungkin khawatir soal privasi saja. Digital surveillance zaman sekarang sungguh mengerikan. Meski sekarang saya tak bisa mengelak dari penggunaan produk digital yang menggunakan data pribadi saya, setidaknya saya tak ingin secara sengaja menaruh isi hati dan pikiran terdalam saya pada memori AI, yang entah di masa depan akan disalahgunakan atau tidak. Mereka boleh saja tahu NIK, kata kunci akun-akun digital, tulisan saya di blog-blog terdahulu, kata-kata norak yang pernah saya tulis di tahun-tahun pertama bermedia sosial, tapi setidaknya mereka tak tahu perasaan, ingatan, pemikiran saya yang paling dalam dan ingin saya sembunyikan dari dunia luar. Kalau mau dibongkar pun, silakan saja, sebab saya bukan siapa-siapa. Diperas pun saya akan ikhlaskan rahasia saya terbongkar. Bahkan mungkin saya akan terkenal berkat pembongkaran data itu (doxing).
Karena itulah, saya merasa tak pernah bisa curhat dengan AI bot seperti Raditya. Saya pikir pemikiran dan emosi terdalam itu adalah aset pribadi saya yang seharusnya tak boleh saya serahkan secara cuma-cuma kepada pihak ketiga (pihak kedua ya cuma Tuhan).
Jadi apakah itu artinya saya Gen Millennial yang jauh lebih kolot daripada teman sepantaran saya sendiri? Tapi bukan berarti saya 100% tak pakai AI. Saya juga pakai AI tapi cuma saya batasi di ranah profesional. Saya ajak AI bekerja sebagai mitra diskusi dan pengumpul serta pengesktrak informasi. Sekali lagi bukan teman curhat.
Kemudian saya makin meyakini batasan saya ini sudah tepat karena menggunakan AI terlalu berlebihan juga menguras sumber daya berharga di bumi ini misalnya air bersih dan energi yang dihabiskan untuk sekadar menjawab curhatan saya yang remeh temeh soal orang-orang yang menarik atau menjengkelkan di sekeliling saya.
Alih-alih sebagai teman curhat, saya lebih menyukai ide untuk menggunakan AI sebagai alat untuk meningkatkan kualitas diri seperti yang dilakukan Mark Manson sebagaimana ia demonstrasikan di video YouTube di atas. Saya pun mencoba melakukannya dengan mengetikkan pertanyaan yang sama tapi eh ternyata dibalas AI bot bahwa ia tak begitu mengenal kepribadian saya. Saya memang cuma bertanya hal-hal edukasi dan informasi umum padanya, bukan soal emosi dan pemikiran terdalam soal diri saya.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah Anda menganggap AI sebagai teman curhat yang setia? (*/)
Leave a Reply to Ester Pandiangan Cancel reply