Sampai Kapan Begini?

Basah dan lembap, itulah nuansa bulan Desember dan Januari setiap tahun. Setidaknya itulah yang masih bisa dikatakan teratur menyambangi Indonesia terutama Pulau Jawa yang saya huni.

Sebelum ini saya selalu berdoa untuk mendapatkan pekerjaan yang membuat saya tak perlu harus keluar rumah. Kalaupun keluar rumah juga yang dekat-dekat saja.

Tapi siapa nyana malah sekarang saya harus bepergian lintas kabupaten dan provinsi. Untungnya kommuter membuatnya terasa lebih dekat.

Suasana Tanah Abang di pagi 5 Januari 2026 yang sangat penuh sesak dengan manusia yang mengais rupiah dan kondisi sekeliling yang basah parah.

Saya berangkat sekitar pukul 6.20 dari rumah dan sampai di Stasiun pada pukul 6.40. Semua dengan kerepotan memakai dan melepas jas hujan sambil tetap memakai jaket tebal ala musim dingin.

Keputusan memakai jaket musim dingin itu saya sesali kemudian karena ternyata cocoknya di iklim bersalju. Iklim tropis dan basah tak cocok!

Dalam gerbong, sebagaimana biasanya pria-pria di stasiun tengah perjalanan (bukan awal mula perjalanan), saya tak kebagian tempat duduk.

Strategi saya adalah mencari spot berdiri dekat bangku prioritas dan dekat border atau pintu batas antara dua gerbong. Di situ saya bisa menaruh tas yang berat dan berdiri sambil bersandar di dinding dan menaruh bokong mungil saya di panel yang menonjol ke depan. Lumayan untuk mengurangi beban tubuh yang harus ditanggung oleh kedua kaki. Tangan menggelayut di gelang-gelang dan bisa menjadi sandaran jika ingin terkantuk-kantuk sedikit karena di jam sepagi itu dan udara sedingin itu, sungguh ingin tidur lagi saja. Tak mau bekerja.

Sampai di Stasiun Tanah Abang pukul 8 lebih dan saya tak begitu terkejut dengan hujan yang makin deras bak badai dan antrean Gojek yang mengular anakonda. Sementara orang-orang mengantre, langit mengguyur mereka dengan air bah.

Saya masih tak habis pikir, kok ada saja orang yang memakai pakaian ala kadarnya. Maksud saya cuma kemeja tipis dan jaket kain biasa, tak memakai jas hujan atau jaket yang tebal dan anti air. Payung saja mungil sekali, hampir tak sanggup mencegah lutut kering. Sungguh tak siap bencana mereka ini, batin saya.

Sementara itu, saya berpakaian seolah saya akan menghadapi Badai Katarina. Sangat serius saya menyiapkan jas hujan dan jaket begitu saya cek prakiraan cuaca BMKG.

Sementara itu, kaki saya mulai lembap dan kemudian basah. Sederas itulah curah hujan pagi itu. Saya saat itu memakai celana hujan yang menjuntai sampai ke telapak kaki, yang seharusnya sudah bisa mempertahankan kaki agar kering. Tapi ternyata tembus juga karena di lantai, air mengalir bak sungai.

Supaya mengantre lebih cepat dan dapat kendaraan segera, saya harus membayar 27 ribu, lebih mahal dari Gojek yang reguler yang cuma 15 ribu. Sungguh mengesalkan tapi mau bagaimana lagi. Ini pasti di mana-mana juga macet. Mau naik bus TransJakarta juga percuma. Kering tapi sampainya besok. Payah. Nggak efisien.

Sampai di tempat kerja, saya agak kuyup karena hujan yang sungguh luar biasa sepanjang 2 km rute yang saya tempuh. Bayangkan kalau jaraknya lebih jauh.

Yang saya lakukan pertama ialah ke kamar mandi dan menggunakan pengering tangan di toilet untuk mengeringkan semua permukaan jaket yang lembap dan basah. Saya pakai berulang kali. Sampai mesin itu kadang mogok kerja karena mungkin saya terlalu lama menyodorinya objek untuk ditiup. Kalau biasanya disodori tangan dan bisa berhenti setelah 5-10 detik, kini ia harus terus meniup sampai 1 menit. Dan itu cuma satu titik saja. Saya sengaja buat lama karena ingin memastikan semuanya kering dan nyaman untuk dipakai pulang kembali.

Saat saya pulang, untungnya cuaca lebih bersahabat. Hujan sudah agak mereda. Lalu lintas sudah lebih sepi karena orang-orang sudah masuk ke tempat kerjanya masing-masing.

Saya sendiri masih bertanya-tanya: “Sampai kapan saya akan begini?” Meski saya tahu itu pertanyaan bodoh. Suatu hari keharusan mencari nafkah ke Jakarta ini bakal berhenti. Mungkin jika saya bisa mendapatkan sumber duit di dekat rumah. Jujur saya juga capek commute begini terus. Maunya cari duit di dekat rumah saja. Bulan Februari insyaAllah harapan itu akan tercapai juga. Bismillah. (*/)

One response

Leave a Reply to Ester Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights