Hati-hati! Hindari Guru Yoga Gadungan Berbekal Sertifikat Workshop

Seseorang menghubungi saya via Threads dan mengatakan: “Kak, apakah sertifikat workshop itu bisa dijadikan sertifikasi untuk mengajar yoga? Ada yang mengandalkan sertifikat mengikuti workshop beberapa jam terus berani menjadi guru yoga”.

Sebagai guru yoga, saya pun terpanggil untuk menjawab secara gamblang agar lebih banyak orang tahu pentingnya memahami kualifikasi orang yang mengajari Anda yoga sebelum Anda memasuki kelas mereka.

Mengapa ini penting? Karena taruhannya adalah keselamatan badan Anda sendiri. Anda bisa mengalami cedera seperti yang dialami orang tersebut di atas.

Minimal 200 Jam

Berdasarkan standar Yoga Alliance, seorang instruktur yoga harus menyelesaikan program RYT 200 (Registered Yoga Teacher 200-hour) untuk dapat mengajar yoga secara komersial bagi masyarakat umum. Saya berikan penekanan pada kata “komersial” dan “umum” karena di sini artinya muridnya instruktur ini bukan sebatas keluarga atau teman dekat atau tetangga yang mungkin kalau cedera atau kurang aman mereka cenderung tidak akan mempermasalahkan ke meja hukum.

Kalau seseorang mengaku-ngaku instruktur yoga dan kemudian membuka kelas bagi kalangan umum dan menarik tarif tertentu untuk itu, sudah seharusnya ada pertanggungjawaban (accountability) jika terjadi sesuatu pada badan murid yang mengikuti. Itu karena sedikit banyak efek yang dirasakan oleh murid adalah cerminan dari keabsahan metode mengajar yoga si instruktur yang bersangkutan. Jika ia belajar di sekolah yoga yang diakui kurikulumnya dan credentials para pengajarnya juga diakui dan sepak terjangnya mereka terbukti baik di dunia yoga, maka pastinya kualitas mengajarnya juga bisa dijamin.

Pun setelah mengikuti pelatihan mengajar yoga sebanyak 200 jam itu, seseorang tidak otomatis lancar dan mulus dalam mengajar. Dari pengalaman saya sendiri, untuk bisa mengajar dengan profesional butuh jam terbang yang memadai. Berapa banyak? Tak ada jumlah khusus tapi itu akan terlihat dan terasa dalam setiap gerak gerik si instruktur di kelas. Bila murid cukup jeli, ia akan bisa merasakan level penguasaan teknik mengajar dalam menit-menit pertama kelas saja. Tak harus mengikutinya sampai akhir, bisa ditarik kesimpulan soal jam terbangnya. Maksud “jam terbang” di sini selain jumlah jam mengajar juga jumlah jam ia berlatih yoga sendiri, belajar teori yoga, menganalisis caranya mengajar lalu menyempurnakannya terus menerus.

Secara detail, seseorang bisa dikatakan secara formal memenuhi syarat mengajar kelas yoga umum jika sudah mengikuti setidaknya 200 jam Yoga Teacher Training. Nah, bisa saja ia menyandang gelar “RYT 200” jika ia mendaftarkan dirinya ke organisasi Yoga Alliance tapi ada juga sebagian lulusan sekolah yoga yang sudah diakui Yoga Alliance yang memutuskan tidak mendaftarkan diri agar masuk ke database organisasi tersebut. Salah satunya karena iuran tahunannya yang cukup mahal. Begitu instruktur setop membayar, otomatis namanya akan hilang dari database Yoga Alliance.

Sebagai pengetahuan saja, Yoga Alliance memang tidak punya otoritas untuk mengatur para praktisi yoga. Tidak semua praktisi dan pengajar yoga wajib bergabung ke dalamnya tetapi Yoga Alliance menyediakan kepastian dalam kurikulum yang diajarkan karena ia menetapkan standar dalam beragam aspek penting dalam pengelolaan kelas yoga termasuk tata laku, kode etik dan moral serta pemberian sanksi bagi guru-guru yoga yang ada di bawah naungannya jika mereka melanggar tata laku (code of conduct) dan kode etik serta moral yang disepakati bersama dalam industri yoga.

Yoga Alliance mensyaratkan sebuah sekolah yoga untuk membuat kurikulum pengajaran agar lulusan mereka paham soal teknik, latihan dan asana/ pose fisik yoga (100 jam), filsafat yoga, etika, dan pola hidup yoga (30 jam), metodologi pengajaran (25 jam), anatomi dan fisiologi (20 jam), latihan mengajar kelas yoga (10 jam), dan 15 jam sisanya diisi dengan topik-topik lain yang masih relevan dengan industri yoga misalnya cara memasarkan kelas, workshop dan event yoga.

Gelar Memang Bukan Jaminan Tapi …

Bagi instruktur yang ingin meningkatkan kualifikasi mereka, tentu saja setelah menyelesaikan pendidikan 200 jam tersebut, mereka bisa melanjutkan ke jenjang RYT 300 sehingga total mengikuti pelatihan mencapai 500 jam. Dan ia berhak menyandang gelar RYT 500.

Tapi apakah gelar bisa menjamin keberhasilan dalam mengajar? Tidak sesederhana itu karena tolok ukur atau indikator keberhasilan mengajar tidak cuma soal banyaknya jam belajar di sekolah yoga tertentu. Ada sebagian orang yang mengatakan kurang cocok dengan kelas yoga yang diajar lulusan RYT 500 jam. Tapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang punya sertifikasi dengan jumlah jam lebih sedikit tapi lebih disukai murid-muridnya karena bisa mengajar dengan lebih pas, cocok, nyaman dan aman. Masuk akal karena ada juga faktor soft skills, kemampuan bergaul/ bersosialisasi, kemampuan membangun personal branding, keterampilan memasarkan diri, aspek psikologis dan mental di luar faktor hard skills (banyaknya pengetahuan dan keterampilan teknis asana yang dikuasai seseorang) yang harus dikuasai.

Dengan ada/tidaknya sertifikat mengajar dari Yoga Alliance, sebetulnya siapa saja masih bisa mengajar. Tapi apakah kelas yoga yang diajarkan bakal enak, nyaman, dan aman di badan Anda? Itu tidak bisa dijamin. Tapi logikanya, jika yang sudah diberi pendidikan yang sebanyak itu saja masih terasa kurang apalagi yang tidak? Jika ada pengajar yoga tanpa sertifikat tapi masih bisa mengajar dengan baik itu artinya ia cuma secuil pengecualian. Sebuah kasus langka yang tak bisa diovergeneralisasi. Jadi pesan saya, teliti dulu credentials atau sertifikasi guru yang Anda akan masuki kelasnya. Jika cuma berbekal sertifikat beberapa jam workshop yoga, lebih baik urungkan niat mengikuti kelas instruktur gadungan seperti itu. Jangan mudah percaya atau bersiaplah dengan risikonya.

Saya tekankan lagi bahwa sertifikat workshop bukanlah sertifikat yang setara dan tidak bisa dianggap sebagai pengganti sertifikat yoga teacher training yang proper. Sertifikat workshop yoga bisa dipakai sebagai credentials pelengkap untuk seorang instruktur yoga. Katakanlah ia sudah ikut workshop arm balance, workshop anatomi yoga, dan sebagainya tetapi jika ia belum punya sertifikat belajar yoga sebanyak minimal 200 jam, artinya ia masih bisa dianggap amatir. Apalagi jika jam latihan yoga mandirinya (self practice) masih minim. Misal orang yang baru saja mulai yoga 2-3 bulan lalu ikut yoga teacher training dan mengajar. Jika sebuah sekolah yoga punya kredibilitas tinggi, ia akan mensyaratkan seseorang untuk setidaknya sudah latihan mandiri selama 2-3 tahun baru boleh mengikuti yoga teacher training. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights