
Hari ini saya membaca newsletter salah satu penulis yang saya sukai, Elizabeth Gilbert. Saya berlangganan newsletternya yang bertajuk “Letters from Love”. Di sana ia secara rutin menulis newsletter seolah ia menulis surat kepada kami yang berlangganan. Salam pembukanya: “Dear Lovelets”. Seolah para pelanggan newsletternya adalah serpihan cinta di alam semesta ini. Cute language.
Saya sebagai bagian dari generasi Millennial lebih menyukai gaya berkomunikasi seperti ini. Ya meski bisa juga sih menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi instan ala media sosial tapi takut lama-lama brain rotting saja kalau lama-lama di media sosial.
Jujur akhir-akhir ini kalau bosan dengan media sosial (apalagi LinkedIn yang toksik), saya memilih membaca newsletter Substack gratis saja. Sama-sama konten gratisan tapi setidaknya konten di Substack lebih ‘niat’ dalam memproduksinya. Viralitas dan algoritma bukan faktor utama seorang pemilik newsletter bisa dikenal lebih luas. Sekali lagi Substack mengkurasi newsletter yang ia tampilkan sebagai featured newsletter. Saya sangat suka fitur itu. Lebih manusiawi saja. Good ol’ days.
Omong-omong karena cuaca dan kondisi pencernaan yang agak kurang mengenakkan beberapa hari belakangan, saya mengirim pesan WhatsApp pada terapis langganan saya. Ia bekerja di sebuah tempat potong rambut, plus kafe dan tempat pijat keluarga. Di perumahan saya yang masih sepi begini, kehadiran tempat semacam itu memang sebuah angin surgawi.
Saya katakan saya akan datang 10 menit lagi dan ia membalas segera. Ketiknya begini: “Maaf bang, saya lagi sakit.” Di bawah teks itu, ia mengirimkan juga sebuah foto yang menampilkan sejumlah kantong obat berisi pil dan tablet yang ia katakan ditebus dari apotek Puskesmas terdekat. Saya bersimpati, mengatakan lekas sembuh dan ia membalas kontan: “AMIINNN”.
Ya saya paham ia ingin sekali lekas sembuh karena ia menjadi penopang ekonomi keluarga. Bisnis tempatnya bekerja sedang terseok-seok pula. Sempat THR tak terbayar tapi untungnya si pemilik bisnis mengusahakan pembayaran THR meski agak mepet hari raya. Dan karena itu si abang terapis merasa berutang budi pada si pemilik bisnis. Ia bekerja rajin sekali dengan jam kerja yang panjang tanpa dipaksa atasan agar omset selepas Idulfitri pulih. Maklum omset drop tajam begitu orang pulang kampung. Ia sadar jika bisnis itu kolaps, ia bakal kehilangan periuk nasi.
Karena sakitnya abang terapis itulah, saya yang mengharap diringankan keluhan lelahnya ini kecewa. Padahal ia sandaran saya untuk pemulihan. Eh ternyata ikut roboh juga.
Kembali ke newsletter Liz Gilbert yang saya baca pagi tadi, ternyata Gilbert juga mengangkat tema kekecewaan di newsletter barunya itu. Dan untuk memberikan ilustrasi bagaimana seorang manusia bisa menghadapi dan bangkit dari kekecewaan itu, Gilbert menyinggung kisah hidup Joseph Kibler, seorang pria yang dibuang orang tua biologisnya dan menderita HIV sejak lahir plus memiliki cacat bawaan sehingga ia harus duduk di kursi roda. Namun, kisah pahit dibuang orang tua dan keterbatasan fisik itu tak menghalanginya berkeluarga dan baru-baru ini untuk memiliki anak kandung. Kibler baru saja merayakan kelahiran jabang bayinya. Dan menurut Gilbert, kemampuan Kibler untuk memaafkan orang tua yang membuangnya dulu dan kemudian bangkit untuk membangun keluarga yang hangat miliknya sendiri sangatlah menyentuh hati. Gilbert mengaku dirinya menangis membaca kisah Kibler.
Dan karena itu saya juga tersentuh. Saya jadi bisa memaklumi kekecewaan saya barusan akibat abang terapis langganan yang tak bisa memberikan pijatan yang saya butuhkan. Saya paham ia manusia yang butuh pijatan dan istirahat juga. Abang terapis bukan mesin pemijat yang ada di emperan stasiun-stasiun di Jabodetabek. Seketika kekecewaan saya itu tiada artinya jika dibanding kekecewaan seumur hidup Kibler. (*/)
Leave a Reply to Ester Cancel reply