Emosi dan Pinggul

Beberapa hari lalu saya menemukan video TikTok yang memperlihatkan seorang wanita yang tampak menangis dalam pose pigeon. Kemudian ia meyakinkan penonton bahwa pinggul dalam yoga dianggap sebagai area berakumulasinya emosi.

Saya lalu membandingkan dengan pengalaman saya beryoga. Seingat saya, pose-pose yang meregangkan area pinggul belum pernah berhasil membuat saya menangis. Bahkan saat pernah cedera akibat hanumanasana pun saya tak menangis. Cuma sedikit panik. 

Justru saya pernah menangis setelah savasana. Saya pernah menangis pun karena savasana terasa begitu damai, enak di Minggu pagi dan tiba-tiba teringat besok hari Senin yang mengharuskan saya berjibaku dengan office politics yang memuakkan dan memualkan.

Di kelas maupun yoga teacher training juga pernah saya dengar narasi bahwa pinggul adalah area yang menyimpan emosi sehingga perlu rajin diregangkan agar bisa lega. Yang artinya – koreksi jika saya salah – makin lentur pinggul seseorang, semakin bebas ia dari akumulasi emosi negatif. Dan karena rata-rata wanita memiliki pinggul yang lebih lentur, apakah itu artinya wanita lebih sedikit memiliki beban emosi yang terkumpul di pinggul? Tapi kenapa yang lebih banyak bercerita pernah menangis saat kelas yoga adalah wanita? Itulah yang agak mengganggu pikiran saya.

Untuk mendapatkan sudut pandang lain yang mungkin lebih valid dari dugaan-dugaan saya, saya menelaah penjelasan guru yoga Jenni Rawlings dan akademisi di bidang Exercise Science Travis Pollen, PhD yang mengasuh kanal siniar “Yoga Meets Movement Science”. 

Menurut keduanya, klaim bahwa emosi tersimpan di pinggul terbangun berkat adanya era terapi pemulihan memori yang disebut “Memory Wars” di era 1980-1990-an yang mengklaim bahwa trauma tersimpan dalam tubuh dan memicu ingatan palsu. Masalahnya sekarang ilmu psikologi menolak pendekatan Memory Wars ini karena penelitian yang lebih baru menunjukkan trauma justru menciptakan ingatan yang lebih jelas sebagaimana dialami penderita PTSD.

Asumsi yang mendasari teori Memory Wars tadi didukung dengan anggapan yang kemudian banyak dianut guru yoga bahwa saat manusia merasa stres, tubuhnya akan cenderung bergerak menuju ke posisi fetus/ janin dan posisi ini memicu ketegangan di otot psoas dalam rongga perut.

Dari asumsi ini kemudian otot psoas dipandang sebagai otot yang ‘ajaib’ karena dianggap bisa menyimpan emosi dan tekanan. Psoas kerap dikambinghitamkan tanpa ada bukti ilmiah yang meyakinkan. 

Dalam kelas yoga, pigeon pose biasanya disarankan untuk meregangkan otot psoas ini. Namun, lanjut keduanya, masalahnya pigeon pose jika ditilik lagi juga tidak terlalu efektif meregangkan psoas. Ia lebih banyak meregangkan bagian luar pinggul, terang Rawlings dan Pollen.

Lalu mereka menjelaskan bahwa dari sudut pandang ilmiah, bisa jadi ada sebagian orang yang merasa pose-pose jenis membuka pinggul (hip opening) karena mereka merasakan ada efek plasebo alias sugesti belaka. Mereka percaya dan yakin manfaatnya lalu mereka pun merasa lebih baik setelahnya.

Asana jenis hip opening juga mungkin bisa mengurangi mengurangi rentang gerak (range of motion) karena ketegangan otot. Selain itu, peregangan statis (static stretching) terbukti secara ilmiah bisa membantu menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis. Ditambah lagi, pose jenis hip opening bisa memberikan sensasi peregangan yang sangat intens bagi pinggul kebanyakan orang yang sangat kaku (kecuali ia sengaja berlatih kelenturan pinggul karena melakoni olahraga senam artistik, wushu, dsb) sehingga ini memicu rasa nyeri dan kurang nyaman yang dikaitkan dengan emosi yang terpendam.

Simpulannya, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa emosi bisa tersimpan dalam pinggul (dan bagian tubuh manapun). Jika memang asana jenis hip opening bisa melegakan, itu karena peregangan statis bisa membantu merilekskan sistem saraf.

Dan patut diperhatikan bahwa olahraga jenis apapun bisa memiliki komponen emosional yang kuat sebab olahraga dapat membantu otak mengeluarkan hormon endorfin yang berkaitan erat dengan manajemen stres dan rasa bahagia. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights