
Lebaran tahun ini menjadi pengalaman perdana menjajal naik armada bus Sahaalah. Saya tak berencana memesan kursi di armada bus ini sebenarnya tapi karena sudah kehabisan kursi sleeper bus, kereta dan pesawat yang murah, akhirnya saya memberanikan diri memesan tiketnya.

Alasan saya memilih bus Sahaalah adalah karena rutenya yang membuat saya tak perlu naik taksi atau bus lagi untuk ke kota asal saya, Kudus. Saya memesan satu kursi dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan via platform EasyBook.com. Kemudian anehnya saya dioper ke titik keberangkatan di agen bus tersebut di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Saya awalnya enggan tapi setelah mensurvei lokasi yang sangat jauh dari rumah saya di Banten, akhirnya saya pasrah karena toh lokasi terminal di Jaktim itu bisa dijangkau dalam waktu kurang dari 2 jam jika saya naik Commuterline dari stasiun dekat rumah. Bismillah, ucap saya. Saya pun membayar. Untuk 1 tiket pulang pergi, saya merogoh kocek 1,2 juta. Lumayan murah mengingat 1 tiket kereta bisa lebih dari itu.
Ternyata prosesnya tak semulus itu. Pihak EasyBook menghubungi via WhatsApp bahwa ada masalah tiket. Bus yang saya pesan sudah penuh. Saya diarahkan untuk berangkat dari Terminal Pulo Gebang Jaktim sana, alih-alih Lebak Bulus yang lebih dekat dengan rumah. Untungnya saya bisa.

Masalah kedua ialah karena ada perubahan harga tiket, saya perlu bayar ekstra 80 ribu tapi setelahnya agen EasyBook berkata bahwa ada potongan 80 ribu karena titik tujuan berubah. Saya agak kesal sebab saya sudah transfer 80 ribu seperti yang diminta admin lalu ternyata diberitahu ada diskon 80 ribu juga dan refund itu bakal ditransfer beberapa hari kerja lagi. Untungnya saat itu saya puasa. Kalau tidak, ya saya masih bisa menjawab sopan juga sih. Please dikonfirmasi dulu sana sini sebelum menyatakan ke konsumen bahwa dia harus transfer sejumlah uang untuk kompensasi. Untung jumlah uangnya tak begitu besar. Namun, kerepotannya itu. Bagaimana jika kursi yang saya order 5 atau lebih? Bayangkan kerumitannya. Tapi kritik ini ditujukan ke admin EasyBook ya, bukan ke pihak Sahaalah.

Keberangkatan Molor
Kemudian pada hari H jelang jadwal keberangkatan tanggal 18 Maret 2026 pukul 16.30 WIB, saya sudah sampai di Terminal Pulo Gebang, Jaktim. Saya disambut dengan informasi dari pihak agen bus Sahalaah bahwa bus masih tertahan dan baru bisa berangkat pukul 8 malam.
Reaksi saya: “Hahhh? Saya harus menunggu sampai malam??” Ini sangat disayangkan, karena ternyata saya tidak diberitahu via WhatsApp oleh pihak agen bus Sahalaah di Terminal Pulo Gebang soal waktu keberangkatan yang mundur beberapa 3,5 jam dari waktu yang tertera di tiket yang saya sudah beli itu. Beberapa penumpang diberitahu via WhatsApp sehingga mereka masih di rumah. Tapi meski demikian, saya tak begitu bersungut-sungut karena dengan tiba lebih awal saya tak perlu panik dan buru-buru. Bayangkan jika saya masih di jalan dan baru berangkat maghrib. Malah repot. Saatnya berbuka, salat dan macam-macam. Lebih baik memang siang tadi.
Lalu saya menunggu saja dengan sabar di depan agen bus. Ternyata kabar baiknya bus sudah datang tepat waktu. Saya pun segera menukarkan tanda booking dari EasyBook ke loket yang diawaki relawan dari Pramuka dan sejenisnya dan bergegas ke lobi terminal tempat banyak bus bercokol. Saya bertanya ke beberapa kondoktur tapi ternyata bus saya belum ada. Saya bingung. Saya pun duduk di selasar yang penuh orang. Eh, malah kemudian katanya ada yang mencari-cari penumpang. Ternyata bus saya sudah tiba tapi masih di sisi lain terminal.
Sekitar pukul 17.20 WIB lebih saya masuk dan duduk di kursi yang nomornya sesuai tiket. Lalu saya duduk menunggu keberangkatan. Sejam, dua jam, tiga jam. Eh ternyata jam berangkatnya memang jam 20.00. Dan saya masih bertanya kenapa jam keberangkatan di tiket kok tertera jam 16.30? Itu yang saya sesalkan. Apakah salah saya karena tidak tahu aturan tidak tertulis bahwa mengharapkan keberangkatan yang tepat jika naik bus adalah berlebihan? Apakah memang hal itu cuma berlaku untuk kereta dan pesawat?

2 Kelebihan Bus
Satu kelebihan bus Sahalaah ini ialah dari awal hingga akhir, suhu AC-nya manusiawi. Iya, saya bersyukur bahwa suhu pendingin kabinnya tidak sampai menusuk ke tulang. Saya pikir suhu itu cuma di awal dan bakal turun saat kami sudah melaju tapi bahkan sampai tengah malam pun suhu masih cukup bersahabat. Saya tak sampai menggigil dan tersiksa semalaman karena kedinginan. Pihak bus sudah menyediakan selimut tebal tapi bahkan selimut itu tak begitu perlu. Saya paling suka suhu bus begini. Antara 24-25 derajat celcius.
Kemudian yang bagus juga adalah adanya dudukan berpermukaan empuk di depan kursi penumpang. Anehnya ada tulisan yang melarang kami memakainya untuk meluruskan kaki. Tapi secara naluriah, siapa saja mau menyelonjorkan kaki di atas dudukan yang mungkin untuk tempat tas atau barang bawaan (handcarry) itu. Menurut saya, desainnya sudah bagus dan manusiawi tapi salah instruksi. Biarkan saja itu buat menopang kaki penumpang. Di bagian bawah dudukan ternyata ada foot rest atau pijakan kaki. Terlepas dari itu, pengalaman duduk selonjor ini membuat sensasinya mirip naik sleeper bus yang lebih mahal. Cuma, saya harus mengorbankan privasi sebab saya masih bisa melihat dan dilihat penumpang sebelah kanan dan kiri. Kalau di sleeper bus, saya seorang diri dalam sebuah kabin yang bertirai meski tak bisa ditutup rapat sempurna. Tapi setidaknya saya bisa sendiri dan menjadi penguasa.
Bus saya melaju ke arah timur dan sekitar pukul 22.10 saya menemukan diri saya di Batusari, Jalan Tol Cikopo-Palimanan. Saya dipersilakan makan malam. Menu yang tersedia bervariasi, dari soto ayam hingga nasi rames. Saya pilih soto ayam. Setelahnya saya ke toilet umum yang lumayan bersih dan bayar 2000. Lalu salat isya. Di sana juga ada musholla bersih. Kemudian saya ke bus dan pukul 11 kurang kami kembali melaju kencang ke arah Karesidenan Pati.
Perjalanan terasa mulus. Pukul 2 pagi saya sampai di Brebes dan sejam kemudian sampai Kendal. Artinya sudah dekat tujuan akhir. Pukul 5 lebih bus sudah menyentuh Terminal Kudus yang untungnya tidak tenggelam akibat banjir. Ada tenda BNPB di pintu keluar terminal.

Perjalanan Pulang
Pada tanggal kepulangan yakni 24 Maret 2026 saya tiba di Terminal Kudus lagi dengan tiket bernomor duduk. Jam keberangkatan menurut pesan WhatsApp agen adalah 18.30 WIB tetapi saya sampai sana pun ternyata masih adem ayem. Malah dikatakan bus yang harusnya saya tumpangi belum sampai. Nanti dipanggil, kata agen.
Sampai akhirnya saya harus mondar-mandir keliling area itu untuk memastikan bus saya sudah tiba atau belum. Ternyata baru jam 19.12 saya bisa menemukan dan naik ke bus.
Untuk makan malam, pihak Sahaalah menyediakan di Kutosari Jalan Raya Batang-Weleri. Bus saya tiba di sana pukul 21.30. Dan saya langsung makan malam dan bergegas ke toilet dan kembali ke bus. Saya tak mau jadi orang lelet yang membikin seisi bus susah dan menggerutu karena terlambat.
Cuaca kadang hujan di beberapa titik namun sopir bisa mengemudia dengan nyaman dan aman. Artinya ngebut tapi penumpang masih bisa tidur nyenyak. Jelang tengah malam bus sampai Tegal dan dalam waktu 4,5 jam bus sampai di BSD.
Saya turun di BSD sebab di Lebak Bulus ternyata malah lebih jauh dari Stasiun Jurangmangu. Dan perjalanan pulang pun berakhir.

Simpulan
Menurut saya, perjalanan mudik bersama Sahaalah kali ini cukup worth the money. Nyaman dan yang penting aman. Tidak ada insiden pencurian atau sejenisnya. Para pegawainya dan supirnya juga sopan.
Jika ada kritik ialah please sopir Sahaalah saat sudah sampai di Jakarta dan mengantar penumpang ke titik-titik drop, usahakan menahan diri dulu dari merokok. Ini karena mereka sudah mau santai dan tak paham bahwa asap masih bisa masuk ke bus dan mengganggu pernapasan penumpang yang meski sudah berkurang tapi belum sepenuhnya meninggalkan bus. (*/)
Leave a Reply