Saat Rumahku Berubah

Mudik yang baru saja berlalu membuat saya makin paham bahwa kota asal saya makin banyak berubah. Sekarang mungkin beberapa sudut wajahnya masih bisa saya kenali tetapi mungkin sebentar lagi laju pembangunannya sudah tak terkendali dan saya kehilangan memori zaman dahulu.

Sebut saja pusat perbelanjaan Matahari Department Store tempat dahulu saya menonton film “Titanic” yang legendaris itu pertama kalinya tak jauh dari rumah saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Itu salah satu core memory saya yang saksi matinya sudah diluluhlantakkan oleh buldoser. Saya melewati pusat perbelanjaan itu saat mudik dan saya memandanginya dengan kosong. Sambil merekam dengan ponsel, seolah saya ingin mengabadikannya sebelum ia berubah lagi. Kini area pusat perbelanjaan itu memprihatinkan, penuh dengan puing bangunan mall lawas tanpa ada kelanjutan mau dibangun apa lagi. 

Di sisi lain, kota asal saya ini makin menambah aset tempat tujuan wisata estetik untuk keluarga-keluarga muda. Maklum kota ini masih punya laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Lain dengan kota -kota besar yang penduduknya sudah malas beranak-pinak, orang-orang di sini masih hobi kawin. Tidak ada masalah tentu saja dengan fenomena itu sebab bagaimanapun juga sebuah populasi perlu regenerasi. Dan bayangkan jika nanti penduduk tuanya makin banyak, siapa yang akan membiayai pengobatan lansia yang sakit-sakitan dan berumur panjang  itu semuanya? Pastinya anak-anak muda yang masih bisa diandalkan sebagai lokomotif penggerak pertumbuhan ekonomi.

Saat saya bertanya ke saudara di mana saya bisa berenang, saya tak cuma disodori dengan beberapa nama tempat yang sudah familiar tetapi nama-nama tempat lainnya yang terdengar asing dan lokasinya saya tak pernah tahu sebelumnya. Kebanyakan dibangun di area persawahan di kampung yang kemudian disulap sebagai waterboom atau kolam renang keluarga yang ditandai dengan kolam-kolam dangkal untuk anak-anak yang mau bermain air. Bukan kolam renang serius yang bisa dibuat sebagai arena belajar berenang dengan kedalaman lebih dari 1,5 meter.

Saya iseng berkomentar, “Wah, ternyata kota ini banyak juga ya buat lokasi money laundry.” Saudara saya mengiyakan. Ekonomi riil kota asal saya digerakkan oleh pabrik-pabrik rokok. Jika di novel Gadis Keretek kota M adalah kota keretek, maka kota asal saya ini lebih keretek dari kota M itu. Jika di Yogyakarta disesaki dengan kafe-kafe estetik yang sepi, di sini fenomenanya juga mirip. Saya juga menemukan beberapa tempat makan mewah yang sebelumnya belum pernah saya temui dahulu saat kecil. Apalagi di kota asal saya ini, makin banyak institusi pendidikan baik negeri dan swasta yang diminati orang di Karesidenan Pati. Sebuah universitas swasta yang dulu saya pernah jadikan tempat mengabdi juga kata teman saya makin moncer sebagai tujuan pendidikan tinggi di area karesidenan. 

Dan dahsyatnya, sebuah sekolah menengah negeri berbasis agama dekat rumah ortu saya juga membangun reputasi mencengangkan sampai menumbangkan sekolah menengah saya dahulu yang konon adalah sekolah top di sini. Karena popularitas sekolah ini, jumlah siswanya membludak parah dan akibatnya selama jam masuk dan pulang sekolah, jalan di sekitar rumah ortu jadi penuh sesak tak bisa dilewati. Warga sekitar harus diam di rumah dan menahan keinginan keluar rumah jika tidak perlu. Begitu tutur ayah saya.

Anehnya seorang teman memantau story instagram saya dan memprotes, “Story kamu itu yang satu-satunya kupantau buat tahu pemandangan desa. Eh malah nggak ada foto desa dan kampungnya.” Lho, apakah itu salah saya bahwa ia punya ekspektasi yang keliru soal tujuan mudik yang tak selalu menuju ke udik atau desa? Bukankah ada kemungkinan atau probabilitas bahwa rumah kita sekarang lebih udik daripada daerah asal kita dahulu? Saya sendiri sekarang merasa tinggal di kawasan yang secara ekonomi dan segalanya jauh lebih tertinggal daripada kota asal saya. Dan saya justru menikmatinya. 

Perubahan yang paling saya sayangkan adalah berubahnya toko buku besar di pusat kota menjadi toko busana mahal. Saya pikir justru itu mencederai dan mengkhianati identitas kota ini. Di saat kota ini makin kuat jiwa pendidikannya, malah di sisi lain terjadi pergeseran prioritas ruang komersial. Tapi apalah artinya protes saya itu. Saya bukan bupati sini. Bahkan KTP saya saja sudah bukan daerah ini lagi. 

Kepada teman itu, saya katakan bahwa kota asal saya sudah bukan desa sebagaimana di pikirannya itu. Kota asal saya itu sudah berubah wajah drastis dan radikal, bak anak kecil mungil yang kini dipanggil paksa oleh orang tua dan para tamunya untuk keluar dari kamarnya untuk sekadar menunjukkan diri agar semua orang bisa berkomentar seberapa besar dan tingginya ia sudah bertumbuh kembang hingga saat ini. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights