Dia yang dikomentari, saya yang ikut ‘naik darah’. Haha. Lho kok bisa?
Ceritanya saya mengulir layar ponsel pagi ini dan menemukan konten si bapak satu ini.
Rupanya dia seorang househusband. Ia pria beranak istri dengan istri yang bekerja di luar rumah dan dirinya menulis dan memburu peluang kerja daring di rumah.
Sebuah komentar pedas mendarat di konten instagramnya. Warganet berpikiran kolot pun mencerca dengan nada kurang lebih: “Kamu laki-laki kok diem aja di rumah sementara istri kerja di luar rumah?! Laki pemalas, nggak pantas jadi pengayom dan pemberi nafkah keluarga.”
Di situlah ego saya juga tersentil. Ya karena saya bisa memahami posisi si pria itu. Bekerja di rumah dengan merangkai kata, ketik-ketik, dan berbekal koneksi internet.
Apa salahnya sih? Sering ingin kupatahkan jempol-jempol netizen 62 yang jahil sembarangan berkomentar.
Kemudian tentu saja si bapak itu menerangkan dalam konten barunya bahwa dirinya bukan berpangku tangan juga di rumah. Ia juga berupaya menghasilkan karya untuk dijual menyambung hidup. Saya pikir itu sudah bisa mematahkan argumen “diam di rumah berarti menganggur”.
Mindset “di dalam rumah nggak bisa menghasilkan uang” dalam masyarakat Indonesia memang sudah begitu mendarah daging. Entah kenapa sulit untuk membuat masyarakat kita paham bahwa bisa lho kaya dengan jalan halal dengan bekerja di rumah.
Kesulitan ini juga saya hadapi dengan orang tua yang memang mindsetnya masih sekolot itu. Dikira kalau tidak ngantor, tidak bakal makan karena tidak ada gaji bulanan, masa depan suram karena nggak ada naik pangkat dan uang pensiunan.
Padahal stabilitas dan kemapanan ala zaman mereka sudah menguap dibakar nyala api perubahan zaman. AI sudah muncul, tatanan geopolitik dan ekonomi dunia sudah morat-marit dan mereka berharap kita harus memegang teguh standar kerja era 1980-an. Musykil!
Untuk Anda yang punya orang tua seperti itu, bersabarlah. Mungkin akan datang saatnya mereka paham jika Anda sudah berlimpah uang dan materi. Atau tidak, ya namanya juga hidup. Tidak ada yang bisa dipastikan sekarang.
Dan buat Anda yang juga bekerja di rumah, baik yang lajang maupun terlebih lagi yang househusband, sabar juga dan tambahi lagi jumlahnya sampai kadar ekstra sebab sebagian masyarakat kita memang masih sebuta itu soal dunia digital. Maklumlah, pemimpinnya saja pola pikirnya masih secetek jualan minyak sawit. Kalau punya kreativitas dan intelektualitas, mungkin bangsa kita ini sudah maju dari dulu. (*/)
Leave a Reply