Kalau mau ngomong soal impact, sebenarnya agak risih juga karena kata satu ini sering dilontarkan di tengah diskusi dan press conference soal bisnis dan startup founders yang temanya muluk-muluk, selangit pokoknya. Saya kurang suka dengan sesuatu yang tidak membumi.
Tapi ada kalanya kata-kata yang muluk-muluk semacam itu bisa dipakai untuk menaikkan mood dan semangat yang sedang turun. Meski bisa berakibat delusional alias ‘delulu’ kata anak gen Z zaman sekarang.
Saya beberapa waktu lalu berbicara dengan seorang tetangga yang juga salah satu anggota aktif klub buku yang saya dan teman-teman saya inisiasi. Ia berkata bahwa saya sudah dikenal sebagai tokoh masyarakat di kawasan ini.
Saya terkekeh. Ia pasti cuma bercanda saja. Saya tak akan mudah terkecoh dan rasa percaya diri ini tak akan melambung.
Tapi lebih lanjut ia menjelaskan kenapa ia sampai berkata demikian. Ucapnya, kepala desa sekitar sini tahu saya yang menggerakkan komunitas yoga setempat, lalu mencetuskan klub buku. Kedua aktivitas ini, ujar tetangga saya, adalah jenis-jenis aktivitas kelas menengah atas dan kaum terdidik.
Saya mesti akui ia benar. Di masyarakat rural tempat saya berada sekarang, yoga dan buku bukan aktivitas arus utama. Aktivitas arus utama masyarakat sekitar tempat saya tinggal adalah menggulir layar ponsel untuk menikmati video-video viral di platform YouTube dan TikTok dan Instagram. Buku juga tetap aktivitas elit, bukan akar rumput. Harga buku yang second sekalipun masih membuat kelompok ekonomi lemah berpikir 1000 kali. Lebih baik uang itu dipakai buat makan enak, beli pulsa internet, skin online games, rokok, atau uang sekolah anak. Saya tak bisa menampik fakta di lapangan tersebut.
Di samping itu, saya juga berupaya membangun secara lebih konsisten dan serius kanal-kanal komunikasi digital saya seperti Instagram, TikTok dan Substack untuk meraih audiens yang lebih luas, yang memiliki ketertarikan pada skills dan pengetahuan yang saya miliki.
Pengakuan eksternal itu muncul dari sesama pengajar yoga. Tempo hari saat sebuah kasus viral soal adjustment bahu yang memicu cedera pada murid, teman saya meminta pendapat saya secara terbuka di Threads.com. Setengah bercanda, saya membalasnya: “Ada jutaan guru yoga di Threads.com dan kamu memanggil saya ke sini cuma untuk berkomentar.” Ia menjawab bahwa dirinya sudah menobatkan saya sebagai seorang ‘polisi yoga’.
Haha, saya merasa agak tercengang juga membaca jawabannya. Saya terkesan berdiri lebih tinggi daripada yang lain dan menjadi penegak hukum padahal saya cuma ingin membagikan opini dan hasil belajar dan bacaan saya pada orang lain agar kesimpangsiuran di tengah praktisi yoga bisa diminimalkan.
Namun, di sinilah kemudian saya bisa menggunakan kata “impact” sebagai penghiburan dan sumber motivasi. Setidaknya saya sudah berusaha membuat impact, dampak di tengah kondisi faktual yang jauh dari ideal. At least, I have been trying.
Jadi kalau dikatakan saya sudah mencapai resolusi saya di tahun 2025 ini, saya tidak bisa menjawabnya. Karena saya juga tak pernah secara sengaja mencetuskan new year’s resolution yang muluk-muluk. Saya berprinsip mengalir seperti air. Terbentur saat ke depan, ya tak masalah karena masih bisa mengalir ke samping, atau ke bawah atau atas. Asal terus ke depan pelan-pelan yang pasti akhirnya meski tidak sampai tujuan pun setidaknya bisa lebih dekat ke sana.
Bagaimana dengan Anda? Impact apa yang sudah Anda coba buat di 2025? (*/)
Leave a Reply