Claudio Marsello: “Suka Aerobic Gymnastics Karena Gerakan-gerakan Tak Familiar”

Claudio Marsello, mantan atlet aerobic gymnastics Indonesia kini menjadi pelatih. (Foto: Akhlis)

Mengawali latihan secara iseng di tingkat SD, Claudio Marsello pertama kali bertanding secara profesional di level junior di negeri sakura.

“Karena di Indonesia aerobic gymnastics kurang populer, saya disarankan pelatih ikut kejuaraan di Jepang,” ujarnya. Ia masuk ke dalam peringkat 10 besar dan hal itu membuatnya makin bersemangat menekuni dunia baru tersebut. Ia pun pulang dan dimasukkan ke dalam lapis ketiga tim gymnastics DKI Jakarta.

Serius Sejak Muda

Ini semua juga berkat dukungan orang tuanya. Dukungan itu juga disambut dengan keseriusan Sello dalam berlatih di usia 15 tahun. Ia tidak berlatih hanya untuk kumpul dengan teman-teman atau dengan tujuan bermain semata.

“Setiap saya datang ke tempat latihan, saya harus dapat 1 gerakan baru. Itu tujuan saya setiap latihan,” kisah pria 30-an itu. Ia juga tidak meributkan soal benefit yang didapat tapi memiliki keinginan untuk terus menyempurnakan keterampilannya sebagai pesenam muda kala itu.

Di usia 17 tahun, ia ikut kejuaraan lagi di Kalimantan Timur sebagai wakil DKI Jakarta dan berlaga dengan senior di PON dan mengantongi 2 emas. Ia terus berlaga di 2012 dan 2016 mempertahankan emas di nomor individual. Ia pun menggantikan seniornya.

“Saya suka aerobic gymnastics karena ia jenis olahraga yang gerakan-gerakannya tidak familiar, penuh tantangan, harus belajar tak cuma fleksibilitas tapi juga strength,” kenangnya.

Membungkam dengan Prestasi

Soal pilihan olahraga yang tak populer ini, Sello mengatakan dirinya pernah dicibir teman juga karena kebanyakan menekuni basket, sepakbola, badminton. Namun, para pencibir itu dibungkam begitu Sello mulai membuktikan prestasinya di kancah internasional.

“Bagi saya itu sesuatu yang wajar karena menguji mental kita juga agar mau terus semangat berlatih,” tutur Sello. Muncul kepuasan jika dirinya bisa membuktikan bahwa semua itu tidak sia-sia.

Kini Sello mendirikan sebuah klub atlet aerobic gymnastics setelah tak lagi berlatih untuk kejuaraan seperti PON.

“Setelah merasa ada kemandekan di sisi karier sebagai atlet, saya masih ingin menyebarkan ilmu dan pengalaman yang sudah saya dapatkan di dunia aerobic gymnastics,” ungkapnya.

Terus Belajar sebagai Pelatih

Ia tentu tak langsung mengajarkan gymnastics yang kompleks tapi mengajarkan keterampilan motorik pada anak-anak agar siap untuk dilatih dengan gerakan gymnastics nantinya.

Ia pun mulai memberanikan melatih anak-anak dan hingga sekarang ia mengakui telah ada 5-10 anak yang sedang dibina untuk ikut kejuaraan nasional.

“Saya juga belajar terus menjadi pelatih karena menjadi pelatih sangat berbeda dari menjadi atlet,” terangnya.

Namun, begitu pandemi 2020 melanda, Sello harus merelakan banyak anak asuhannya menghilang. Sebelum pandemi ia memiliki 50-an hingga 100-an anak dalam bimbingannya tapi setelah pandemi terjadi jumlahnya berkurang. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights