Bagaimana Hidup dalam Masa Serba Krisis

Salah satu pemengaruh pikiran yang saya sukai dan berpengaruh bagi diri saya adalah Fahruddin Faiz. Dosen filsafat ini kerap membagikan mutiara pemikir-pemikir dunia lewat kanal lapak_mjs di platform YouTube dan Spotify.

Ia sanggup mengurai pemikiran kompleks untuk bisa dicerna dengan lebih baik oleh masyarakat awam seperti saya dan khalayak ramai penikmat konten.

Konten terkininya sangat mencerminkan keresahan saya beberapa waktu terakhir. Soal tak cuma kekisruhan di Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini tapi juga semua kekacauan skala global. Dari genosida Palestina oleh Israel, hingga runtuhnya demokrasi dan pemerintahan Trump di Amerika Serikat, rasanya dunia memang sedang tidak baik-baik saja karena ia sedang berada di fase transformasi. Entah itu menuju ke yang lebih baik atau buruk. Intinya semua berubah. Fondasi-fondasi dunia lama rontok dan fondasi-fondasi dunia baru belum ditegakkan. Jadinya kacau balau begini.

Kalau Anda menyaksikan video penjelasan Faiz di atas, ia menjelaskan ada 6 tahap krisis nilai dan spiritual yang sedang terjadi dalam diri manusia zaman sekarang: pra-krisis, pemicu krisis, disorientasi dan kekosongan, pencarian intensif, pertemuan dengan kebenaran baru, dan integrasi dan transformasi.

Saya sendiri merasa bahwa saya tengah berada di fase ketiga (disorientasi dan kekosongan). Sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat sebuah negara dan planet, terjadi sebuah kehilangan arah dan kekosongan jiwa. Dengan begitu tak terbendungnya kekejian Israel, rasanya tergoda untuk mengatakan bahwa Allah tak menghiraukan penderitaan mereka rakyat sipil Palestina yang tak bersalah. Saya jadi beranggapan apakah penderitaan mereka adalah jalan penyucian jiwa? Saya sendiri merasa tak kuat lagi menyaksikan konflik. Di dalam negeri, masyarakat adat berseteru dengan rezim yang gila-gilaan soal ekstraksi. Di luar negeri juga banyak ketidakadilan. Mau menghindari media sosial, kok rasanya bakal ketinggalan banyak hal. Tapi mau terus memantau dari detik ke detik, kok lelahnya luar biasa. Secapek itu ya Tuhan. Dan akhirnya malah kesehatan pribadi yang jadi korban karena saraf ini kelelahan dalam kondisi alert/ waspada melulu.

Sebagian orang berhenti di fase disorientasi dan mengakhiri hidup mereka dengan jalan beragam, dari menghilangkan nyawa mereka sendiri atau menjerumuskan diri ke hal baru yang ternyata makin menyesatkan jiwa mereka.

Faiz mengatakan kita yang ada di fase disorientasi ini jangan putus asa. Teruslah berjalan ke depan untuk mencari cahaya. Caranya bisa bermacam-macam, dari membaca buku, berguru ke guru spiritual, atau mencoba melakoni meditasi, zikir atau pengalaman mistis. Cuma ya memang harus di jalur yang aman dan tepat. Kalau salah ilmu dan guru, kata teman saya bukannya dapat ilmu spiritual tapi malah dapat ‘cepiritual’. Ada teman saya yang mengalami penipuan dan perisakan oleh guru spiritualnya dahulu. Karena ia tahu si guru spiritual ini ternyata meniduri murid-murid perempuannya. Saat ada korban membuka mulut, ia meradang dan teman saya kena getahnya. Si guru spiritual itu terus beroperasi hingga sekarang. Tak bisa dijerat pasal tindak kriminal apapun karena ya, begitulah kejamnya dunia spiritual. Begitu logika sudah tersandera, habislah akal sehat. Seperti orang tua santri di pondok yang rela tak menuntut pimpinan pondok pesantren hanya demi ‘ngalap berkah’ meski di luar sana ada tuntutan deras mengalir agar si pimpinan pondok mau bertanggung jawab atas keteledorannya.

Tapi terlepas dari semua kekacauan tadi, saya mengambil kesempatan ini sebagai momen untuk terus ingat pada Allah dan waspada terhadap apa yang terjadi di dunia ini. Apapun yang terjadi semua bisa diatasi dengan terus ‘eling lan waspodo’. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights