Saya pernah membaca sebuah buku, sayang lupa judulnya. Intinya adalah agar sebuah masyarakat di permukiman baru bisa berkembang lalu menjelma sebagai masyarakat yang mandiri, diperlukan sebuah tempat ketiga. Bukan rumah kita. Bukan juga tempat kerja.
Tempat ketiga ini adalah kafe-kafe, toko-toko buku, taman-taman publik tempat orang bisa sedikit banyak terbebas dari kewajiban rumah tangga dan tanggung jawab profesional mereka. Di sini, mereka bisa mengobrol, bergosip, atau sekadar melamun, alias ‘gabut’.
Nah, atas dasar itulah saya membuat komunitas yoga. Sudah berjalan selama 4 tahun belakangan di area perumahan baru saya. Dibilang berkembang pesat ya tidak juga. Jumlah pesertanya tak ada 10 tiap kali saya menggelar latihan yoga bersama dengan skema donasi sukarela. Memang harus sabar, karena ini bukan Jakarta, batin saya.
Lalu komunitas kedua yang saya coba jalankan adalah klub buku, Maja Book Party. Saya memberanikan diri sebab saya tahu ada banyak pekerja intelektual kelas menengah yang tinggal di sini. Sayangnya kebanyakan masih berdiam di rumah saja jika libur dan ada waktu senggang. Mungkin karena lelah dengan rutinitas dan perjalanan commute yang tak bisa dibilang singkat. ke Tanah Abang saja dari sini makan waktu 1,5 jam.
Untungnya ide saya didukung sejumlah tetangga yang juga penulis novel, pengacara, wartawan, psikolog, dan sebagainya.
Dan pertemuan kedua komunitas ini diisi dengan topik diskusi yang cukup serius dari aktivis HAM dan jurnalis yang menjadi salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Andreas Harsono. Kebetulan beliau juga klien yoga saya.
Jumat siang pekan lalu, kami mengobrol di sebuah toko buku second di perumahan kami soal alasan mengapa jurnalisme masih diperlukan di tengah era tsunami informasi dan masa kebangkitan Kecerdasan Buatan (AI) sekarang ini. Andreas menggunakan buku terpopulernya “Agama Saya Adalah Jurnalisme” sebagai referensi diskusi. Katanya ia juga bakal merevisi isi buku itu sebentar lagi agar lebih relevan dengan tantangan yang dihadapi jurnalisme saat ini dengan kemunculan AI.
Mungkin bagi banyak orang, membuat community seperti ini adalah sesuatu yang ‘smilikity’ alias nggak jelas 😅 Tapi saya yakin setidaknya ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa orang yang belum tinggal di sini ingin pindah ke sini dan bagi yang sudah tinggal di sini, merasa sayang untuk meninggalkan kota baru ini. 😇
Anda bisa membaca ringkasan diskusi komunitas buku kami di newsletter Substack ini. Jangan lupa berlangganan untuk mendapatkan update terbaru dari diskusi kami. Salam. (*/)
Leave a Reply