
Kemarin saya iseng saja menghubungi sebuah UMKM lokal dan mengatakan ingin menulis soal bisnis kecilnya. Si pemilik ternyata sedang di lokasi dan saya pun menyatakan niat saya berbincang sebentar setelah menyantap dan membayar makanan. Saya ke sana bukan dalam kapasitas sebagai kreator konten yang bakal mereviu produk kuliner mereka tapi cuma menulis saja untuk artikel website yang saya miliki.
Di sini ada juga beberapa kreator konten dan salah satunya saya kenal. Ia diundang oleh banyak UMKM demi untuk membuat video Instagram atau TikTok yang kemudian ditayangkan demi meningkatkan jangkauan agar produk makin dikenal di segmen konsumen yang tepat.
Kembali ke si pemilik UMKM, ia berkata anak-anaknya sedang sibuk kerja dan kuliah di luar negeri. Taiwan tepatnya. Saya katakan sedang alami puncak musim panas ya Taiwan karena anaknya tak sanggup kembali ke sana akibat mataharinya yang lebih gila daripada Jakarta. Justru Jakarta yang sekarang hujan melulu.
“Iya anak saya kemarin tuh mau saya suruh ke Amrik aja. Kerja di sana di resto apa gitu. Ada temen saya di sana. Di Seattle,” ceritanya pada saya.
Saya sepakat, wawancara visa AS memang sangat tak bisa ditebak hasilnya. Padahal dia etnis Chindo dan bukan Islam tapi karena sekarang Trump memang memusuhi siapa saja yang bukan warga Amerika jadinya wawancara itu gagal mengantarnya ke sana.
Saya bertanya apakah anaknya memang mau tinggal di sana selamanya untuk kemudian mendapatkan green card. Ia menjawab dengan meringis, ilegal kok.
Hah? Saya kaget. Ya karena saya dengar dan baca memang konsekuensinya bakal berat kalau ketahuan oleh Imigrasi sana. Bisa di-blacklist. Soal imigrasi begitu, saya tak berani main-mainlah sama Amrik. Indonesia mungkin bisa dianggap remeh karena masih lemah soal monitoring dan evaluasi tapi kalau sudah CIA dan FBI, bakal repot. Mereka saya yakini punya catatan dan dokumentasi perilaku kita tak cuma di dunia nyata tapi juga maya apalagi beberapa waktu lalu sudah ada perjanjian antara rezim sekarang dengan rezim Trump soal pengelolaan data pribadi WNI.
Ia berkata gaji sebulan di sana 60 jutaan kalau dirupiahkan. Sangat worth it daripada bekerja sama capeknya di Indonesia ini. Saya mengangguk sepakat dari dalam hati.
Semua orang tampaknya sedang ingin keluar negeri untuk mengadu nasib atau pindah ke sana tapi di saat yang sama saya juga menyaksikan aliran masuk warga asing ke Indonesia.
Beberapa hari lalu saya nongkrong di sebuah kafe baru di sekitar rumah dan di dalamnya sudah duduk seorang pria yang lebih paruh baya daripada saya. Ia duduk dengan laptop terbuka. Rautnya ada gen Asia Selatan atau Barat. Entah yang benar yang mana tapi begitu temannya yang orang Indonesia tiba, saya tahu ia orang Asia Barat. Aksen bahasa Inggrisnya sangat kental dengan intonasi Arab.
Dalam percakapan mereka soal bisnis kos-kosan di Jakarta, mereka bercakap-cakap soal pemandangan sebuah lansekap Semenanjung Arab yang menjadi tanah kelahiran si pria asing itu. Saya sempat tangkap kata “Palestina”, lalu “Masjidil Aqsa”. Apakah benar ia lahir di Palestina sana? Apakah ia pengungsi negara yang jadi bulan-bulanan oleh Israel itu?
Setelah cangkir americano saya tandas, saya meninggalkan kafe dan bergumam: “Kok bisa ya ada orang asing yang tertarik hidup dan tinggal di Indonesia?”
Tapi kalau saya pikir ya memang masuk akal kok kalau mereka menganggap Indonesia tempat tinggal yang ideal. Terlepas dari segala cacat dan aib segenap perangkat negara ini dan perilaku aneh bin ajaib para rakyatnya, Indonesia sebagai daratan punya lokasi yang strategis. Suhu dan cuacanya ideal, tak sering berubah drastis. Tidak ada musim yang ekstrem panasnya dan ekstrem dinginnya. Semua masih bisa ditolerir. Banjir dan kemarau masih bisa diatasi, tak sampai separah Afrika.
Masyarakatnya juga ramah dan terbuka. Siapa saja disambut, dari bandar narkoba sampai raja asing saking terbuka dan ramahnya.
Jadi, negara mana yang lebih baik untuk ditinggali? Entahlah. Saya tak bisa menjawab karena memang jawabannya tergantung masing-masing manusia. Untuk si pria Asia Barat di kafe tadi mungkin Indonesia bisa menawarkan kesempatan baru dalam hidupnya yang sudah sarat dengan konflik. Ia mau tempat yang damai dan kondusif untuk memulai bisnis dan hidupnya lagi. Saya sepakat bahwa Indonesia damai dan karenanya ideal untuk ditinggali tapi untuk berbisnis sepertinya agak susah kecuali tahu jenis bisnis yang cocok dan bisa mengakali taktik pemerintah yang makin tengil dengan segala strategi pengerukan pajaknya di segala lini kehidupan.
Untuk anak-anak si pemilik UMKM, mungkin memang cocoknya di negara-negara lain yang lebih egaliter dalam banyak hal terutama ketersediaan lapangan kerja dan kelayakan gaji sebagai pekerja. Di Indonesia, etnis Chindo memang sudah lama diberi jatah berbisnis saja. Itu sebuah stigma rasial dari zaman Kolonial Belanda yang masih setia kita pakai sampai abad AI.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah menurut Anda Indonesia ideal untuk Anda tinggali atau ada negara lain yang sudah lama Anda incar sebagai sebuah tempat tinggal baru selama sisa hidup Anda? (*/)
Leave a Reply