
Malam ini saya menyadari bahwa jauh sebelum anak-anak muda Gen Z itu demam journaling seperti sekarang, saya juga sudah melakukannya sejak lama. Tentu saja, karena saya termasuk Generasi Geriatric Millennials yang lebih tua dari mereka. Tapi saya menggunakan medium yang berbeda: blog privat.
Entri blog itu untungnya saya kubur alih-alih jadi tweet atau artikel blog yang berisi uneg-uneg. Untungnya juga saya bukan orang yang temperamen sampai jadi tak waras dengan mengunggah kegembiraan dan keluhan soal pekerjaan di internet seperti sebagian orang sekarang. Gaji tinggi dipamerkan di media sosial, dipecat. Tertangkap basah berkomentar seronok via DM atau second account bisa di-doxing dan kena PHK tempat kerja.
Artefak itu adalah sebuah file catatan harian pribadi yang saya tulis 27 Januari 2012 yang saat makan malam tadi tak sengaja temukan. Isinya keluh-kesah saya soal komunikasi yang tak jelas antara saya dan manajer yang membuat saya frustrasi. Dan tiga tahun setelahnya, saya masih bekerja di sana. Kalau dibaca-baca lagi saya memang saat itu gila mau bertahan di sana. Tapi itu sudah jadi suratan takdir yang tak bisa diubah. Sudah berlalu dan seharusnya saya ‘tutup buku’.
Kebetulan siang hari tadi juga saya menerima paket buku tulis untuk menulis jurnal yang secara tampilan mirip dengan Moleskine yang mahalnya selangit itu. Tapi merek Joyko ini untungnya jauh lebih murah meriah (beli di sini buku jurnalnya). Cuma Rp43.600 per bukunya. Sementara itu, satu buku jurnal Moleskine bisa lebih dari 500 ribu. Becanda memang buat ukuran sebuah buku tulis in this economy. Ya kecuali kamu kreator Amerika yang tak harus pusing dengan masalah kurs dollar seperti Zurkie ini.
Meromantisasi hidup juga adalah sebuah mekanisme menghadapi hidup yang tak jelas sebagai WNI. Sementara para petinggi negara bisa berakrobat dengan pemblokiran rekening rakyat, reaksi rakyat akar rumput yang kesal, lalu abolisi dari Presiden untuk Tom Lembong dan Hasto dan segenap lobi-lobi politik yang licik dan picik, saya tak ada alasan harus mengikuti semua berita itu karena saya lelah. Toh tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali mengomentari di Instagram stories, yang sebetulnya juga membuang energi saja.
Lebih baik saya menulis sesuatu. Entah itu untuk mengais rupiah dengan menulis blog atau buku, atau juga dengan menulis catatan pribadi untuk bisa sekadar meromantisasi hidup yang biasa-biasa saja ini.
Mungkin saya akan bisa bangga suatu hari nanti jika tulisan saya dibeli orang dan dibaca untuk dikomentari dengan iringan decak kagum atau simpati atau rasa ngeri atau jijik mungkin.
Seperti diary-diary yang dibeli oleh si Joanna Borns ini. Saya menikmati sekali saat ia membeli diary jadul kemudian membacakannya untuk audiens. Ada rasa asyik yang tak tergambarkan dengan kata-kata saat bisa kembali ke masa saat si penulis diary masih bernapas dan bisa menulis. Ya karena kebanyakan diary jadul dijual sebagai ‘estate’ alias harta yang diwariskan orang mati. Diary-diary semacam itu kemudian dijual bebas di eBay. Dan ada juga kolektor dan orang iseng seperti Joanna yang membelinya. Semoga saja jurnal saya suatu hari bisa dijual nanti. Haha.
Meski saya sudah mulai menulis jurnal digital sejak tahun 2011-2012 tapi harus saya akui menulis jurnal fisik memiliki sensasi lain. Saya sangat menikmati menulis dengan tangan tapi saya cukup trauma jika ada orang lain yang membaca jika jurnal itu ketinggalan atau mungkin tak sengaja terbuka di tempat umum. Bisa kacau.
Jurnal digital lebih praktis karena saat saya rindu dengan momen tertentu, saya bisa melacaknya lagi dengan menggunakan fitur pencarian. Tinggal ketik, bisa muncul deh entri yang dicari. Kalau saya menulis jurnal tulisan tangan, sangat merepotkan penyimpanan dan pencariannya. Tapi ya sudahlah, saya mencoba menggabungkan sensasi menulis di kedua medium ini karena saya adalah generasi millennial yang fleksibel. Bisa beradaptasi dengan gaya hidup primitif sekaligus modern tanpa banyak kesulitan. Analog oke, digital ayo aja. Selentur itu otak kami ini.
Jadi bagaimana? Sudah siap meromantisasi kehidupan yang nelangsa dan membosankan ala plankton jelata di era yang penuh ketidakjelasan ini? (*/)
Leave a Reply