Karena Kita Hidup Tak Cuma Sekali Ini Saja

Buku ini rekomendasi bacaan yang tepat untuk Anda yang sedang gundah gulana dalam hidup. (Foto: Shopee.co.id)

“Mengungkap Rahasia Hari Kemudian” seakan ditulis Imam Ghazali untuk menyanggah semboyan hidup masa kini “You Only Live Once” alias YOLO. Pemikiran YOLO banyak diadopsi orang modern untuk menjustifikasi gaya hidup mereka yang mengedepankan hedonisme dan materialisme.

Tapi apakah memang pasti kita akan hidup sekali saja? Setelah saya melihat ketidakadilan merajalela di muka bumi ini, makin yakin bahwa semua ini bakal ada balasannya yang setimpal. Sistem peradilan manusia yang bobrok tak akan sanggup menegakkan keadilan seratus persen. Apalagi sistem peradilan 62. Kita bisa lihat kasus Tom Lembong baru-baru ini yang secara terbuka menunjukkan kebobrokan sistem ini.

Sebagai rakyat kecil, saya cuma bisa menghela napas. Bahkan untuk mengkritik di media sosial pun saya tak punya energi lagi. Lebih baik saya habiskan energi yang sangat terbatas ini untuk bertahan hidup. Biarkanlah mereka berpolah tingkah semau mereka tapi ingatlah bahwa kita tidak hidup cuma sekali lalu mati tanpa diadili. Semua akan ada balasannya.

Buku Imam Ghazali ini mengisahkan apa yang disebut oleh filsuf berdarah Yahudi Yuval Noah Harari sebagai “ciptaan terhebat manusia” sebab ia pernah berkata: “Agama adalah ciptaan terhebat manusia” (Religion is our greatest invention). Dengan demikian, ia menafikan bahwa agama bagi para pemeluknya adalah firman Tuhan. Tapi tentu saja ia mungkin sampai ke kesimpulan itu sebab dikecewakan dengan penerapan agama oleh banyak manusia di sekelilingnya yang tak sanggup mengejawantahkan ajaran agama yang konon baik semua itu menjadi nyata.

Ia juga berucap bahwa kemampuan bercerita ialah kekuatan super manusia sebagaimana ditulis Carmine Gallo dalam tulisannya “The Power of Storytellers to Shape Our World” di laman Forbes.com. Jika memang agama itu cerita rekaan manusia sekalipun, pemahaman agnostik Harari sebenarnya juga sebuah cerita semata. Jadi pernyataannya boleh saja tidak kita anggap serius sebagaimana dia tidak menganggap serius ajaran agama Anda dan saya.

Kembali ke buku “Mengungkap Rahasia Hari Kemudian”, di dalamnya Anda akan menemukan penjelasan runtut dan lengkap mengenai apa yang terjadi pada manusia setelah ajal menjemput. Dijelaskan bahwa kehidupan dan kematian manusia itu tidak cuma sekali tapi berkali-kali. Kehidupan kita yang pertama dan sudah kita lupa ialah saat kita masih berupa roh atau jiwa tanpa jasad/ raga. Saat itu kita ditanya oleh Allah atas kesaksikan kita bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam satu-satunya. Begitu selesai, kita dimasukkan Allah kembali dalam sulbi/ punggung Nabi Adam AS. Inilah kematian kita yang pertama. Lalu roh kita dimasukkan Allah dalam bejana di Arsy/ singgasana-Nya. Saat roh kita ditiupkan Allah ke dalam sebuah janin, inilah yang disebut sebagai awal kehidupan kita yang kedua. Jadi saat ini kita, Anda dan saya, sebenarnya sudah pernah merasakan kematian dan sekarang ini kita hidup kedua kalinya.

Namun, kematian pertama terasa lebih nyaman sebab di kematian kedua nanti, tak peduli Anda orang saleh atau tidak, rasanya konon akan tetap menyakitkan. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa sakaratul maut itu lebih dahsyat sakitnya dari tebasan 300 pedang. Deskripsi rasa kematian lainnya diungkap oleh Ka’ab pada Umar RA yang menyatakan bahwa kematian seperti pohon yang banyak durinya di rongga badan manusia dan tidak ada satu urat dan sendi pun yang luput dari rasa sakit bak ada duri di semua bagian tubuhnya (hal. 17).

Buku ini sangat saya sarankan bagi Anda pembaca muslim yang ingin menenangkan hati yang gundah di masa yang penuh cobaan ini. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Peperangan di sejumlah bagian dunia, genosida terhadap bangsa dan kelompok minoritas yang dilakukan secara terang benderang, rezim pemerintahan yang jauh dari kata adil dan mengayomi, dan berbagai tindak kebodohan, tindakan penindasan dan kekerasan yang masif. Penistaan tak cuma pada agama tapi juga pada ilmu pengetahuan juga terjadi di mana-mana dengan dinormalkannya mengangkat pejabat dan petinggi yang tak punya kompetensi dan kepakaran di bidang kerjanya. Dan orang-orang yang menggunakan agama sebagai tameng dan menistakan ilmu pengetahuan layaknya mereka orang yang terpelajar dan bijak. Sungguh mengerikan.

Jika Anda sanggup mematikan ponsel lalu menghabiskan waktu sejenak untuk melupakan dunia yang kacau balau dan fokus pada kehidupan akhirat nanti, saya pikir buku terjemahan bahasa Indonesia dari kitab ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah terbitan Penerbit Lentera inilah salah satu rekomendasi saya. Bisa dibaca di mana saja sebab ketebalannya cuma 100-an halaman, Kalau tanpa riwayat penulis dan catatan kaki, ketebalan buku ini cuma 109 halaman. Cekak dan berdampak. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights