
Siang itu saya memesan sebuah taksi. Saya lihat sang pengemudi seorang ibu paruh baya. Jarang sekali saya menemukan seorang pengemudi taksi yang seorang perempuan usia 50-an. Rambutnya dipotong pendek, putihnya mulai merata, kulitnya kering karena AC mobil dan sinar matahari. Ia mengaku bukan berasal dari Jakarta.
“Lalu tinggal di mana sebelumnya, bu?” Tanya saya menanggapi permintaan maafnya saat ia mengaku tak paham lokasi gedung yang saya tuju siang itu. Gedung yang saya tuju relatif populer di Jakarta jadi sangat kecil kemungkinan seorang pengendara taksi yang berpengalaman tidak tahu.
Ternyata sang ibu pengemudi memang pengemudi baru. “Saya dari Bandung. Nekat mengadu nasib di Jakarta, mas,” tuturnya sambil menyetir penuh konsentrasi pada kondisi jalan Sudirman yang saat itu sangat sesak tapi lancar.
Saya tak bertanya mengapa. In this economy, rasanya naif kalau orang melakukan hal-hal yang lazim kalau bukan untuk mengais rupiah di kolong langit.
Umurnya 54 tahun. Belum setua ibu saya yang sudah pensiun dan menyibukkan diri dengan mengurus rumah dan bepergian ke tempat-tempat wisata bersama teman dan keluarga.
Yang menarik menurut saya ialah karena logat Jawa Tengahnya yang sangat medhok. Itu agak berlawanan dengan pengakuannya yang katanya sudah tinggal di Parijs van Java selama 3 dekade. Di sana, ia pernah bekerja sebagai pekerja di bidang pemasaran, mirip saya juga. Kemudian ia memiliki 3 orang anak laki-laki. Anehnya saat menyebut anak laki-laki, ia tak mengatakan “putra”. Itu karena dalam bahasa Jawa, anak laki-laki disebut sebagai “putro”. Dan kata itu secara tak sadar dipakai juga oleh orang Jawa saat mereka berbahasa Indonesia. Namun, ibu ini tidak menggunakan istilah “putra”. Jadi menurut saya ia sudah kehilangan ke-Jawa-annya di situ.
Namun, di aspek mentalitas dan kultur ia sangat Jawa. Ia bercerita sepanjang perjalanan soal bagaimana perjuangannya sebagai sopir taksi burung biru selama 3 bulan terakhir ini. Sebuah rentang waktu yang sungguh sebentar untuk ukuran pengemudi taksi yang berpengalaman.
Komentarnya soal Jakarta panjang lebar tapi intinya begini: “Saya kaget dengan budaya taksi di sini (Jakarta). Ternyata saya boleh ya masuk ke parkiran gedung tanpa harus dipersilakan masuk oleh sekuritinya. Saya pikir kalau sekuriti memanggil, baru saya boleh masuk ke dalam ambil penumpang.”
Ia ditertawakan oleh teman-teman sesama pengemudi taksi. “‘Mana bisa dapat penumpang kamu kalo mikirnya kayak gitu?‘ kata temen saya. Saya ketawa aja. Ya maklum anak baru. Hahaha.”
Ia juga masih dalam fase belajar untuk menelusuri jalan-jalan protokol di ibu kota ini. Kalau harus bekerja tanpa Google Maps, terus terang ia tak sanggup. Ia bahkan mengaku heran kalau ada teman-teman pengemudi yang bisa menemukan ‘jalan-jalan tikus’.
“Saya sering sudah berkali-kali melewati sebuah lokasi atau jalan dan kalau ditanya bagaimana caranya ke sana, saya masih tak bisa menjelaskan. Saya duga karena otak saya sudah full memory-nya,” ujarnya.
Ia masih ingat dengan nomor telepon landline ibunya yang bahkan sekarang sudah tidak ada, nomor ponsel suaminya, nomor ponsel adik kandungnya, bahkan nomor telepon kantor yang sudah lama ia tinggalkan dahulu. Karena otaknya masih penuh dengan hal-hal itulah, ia mengaku susah memasukkan informasi baru ke dalam otaknya.
Saya merespon: “Tapi setahu saya memang otak perempuan memiliki kemampuan spasial yang lebih rendah dari otak pria kok, bu. Jadi bisa dimaklumi mungkin.”
Tapi ia tak mau memaklumi hal itu. Ia mengatakan pada saya sendiri bahwa dirinya menolak tua. Dan begitu ia menyebut kalimat itu, saya bisa menyimpulkan bahwa motivasinya mengambil pekerjaan sebagai pengemudi taksi burung biru ini di luar zona nyamannya adalah salah satunya karena keinginannya untuk tetap bisa muda dan relevan dan dibutuhkan oleh dunia bagaimanapun caranya. Inilah cara yang ia bisa temukan.
“Awalnya saya syok dengan budaya kerja di Jakarta ini. Mungkin kalau di Jawa Tengah atau Bandung, budaya kerjanya lebih santai. Sebagai pekerja yang lebih tua, saya mungkin akan didahulukan oleh yang lebih muda. Tapi di sini, saya bahkan harus bersaing dengan pengemudi-pengemudi yang jauh lebih muda,” jelasnya.
Namun, ia menerima konsekuensi itu. Ia tak mengeluh bahkan berkata: “Justru saya malah kadang bersyukur mereka (anak-anak muda) masih mau bersaing dengan saya. Itu tandanya saya masih dianggap kompetitor yang setara. Karena itu saya merasa jadi lebih muda. Hahaha!”
Ia menyoroti kecenderungan kaum pekerja ibu kota yang tidak mengindahkan faktor umur. “Semua orang dianggap setara di sini. Meski umur saya wanita yang lebih tua, anak-anak muda yang jadi driver menganggap saya sebagai driver juga. Saya tidak harus didahulukan kalau datang lebih lambat. Saya tidak otomatis mendapatkan tempat parkir yang lebih dekat dengan pintu keluar fasilitas umum dan itu artinya saya yang sudah tua dan tak bisa membawa barang-barang bawaan berat penumpang ke mobil bakal lebih kerepotan.”
Ia ada benarnya. Jika kita mau tetap terus belajar dan mengajak otak untuk tetap bekerja keras agar neuroplastisitas terjaga, Jakarta-lah tempat yang tepat. Ia mengajak kita terus aktif, bergelut dengan kondisi kehidupan yang makin hari tak makin melembut. Malah makin keras dan getas.
Tapi saya pikir ada juga titik saat manusia ingin menyerah. Membuang semua ambisi dan menjalani hidup dengan apa adanya. Tanpa ngoyo. Dan orang-orang yang berpandangan seperti itu memang tidak cocok hidup di ibu kota. Si ibu mengambil contoh beberapa rekan pengemudinya yang ‘narik’ dengan mindset slow seperti itu dan akibatnya mereka kurang bersemangat dan akhirnya tergeser. Semangat juangnya nggak ada, katanya. Apa mau dikata, memang sudah saatnya mengerem dan berhenti.
Saya sampai di gedung tujuan dan sang ibu pengemudi berpesan: “Apa ada barang yang ketinggalan? Apa saya harus bayar parkir nanti?”
Saya pun menjawab dengan sopan semua pertanyaannya sembari menutup pintu mobil dan pergi ke dalam gedung.
Setelah duduk beberapa saat di dalam, melalui WhatsApp seorang rekan kerja yang memesankan taksi tadi bertanya: “Apakah taksinya sudah dibayar?”
Saya terkejut: “Lho, memangnya nggak dibayar dari aplikasi? Kupikir tadi kamu bayar via aplikasi…”
Dan mungkin si ibu pengendara taksi tadi masih menunggu di bawah gedung, sambil mengutuk saya dan menatap aplikasi di layar gawainya: “Aku belum dibayarrr! Gimana ini…?”
Aduh, maaf ya ibu. Aku tak bermaksud tak membayar. Ah ada -ada saja… (*/)
Leave a Reply