
Kemarin saya iseng menanyai ChatGPT soal informasi yang ia ketahui soal saya. Ia menyebutkan bahwa saya adalah seorang penulis, editor, ghostwriter, sekaligus guru yoga bersertifikat 200 jam, yang aktif di berbagai platform seperti Kompasiana, Medium, LinkedIn, dan blog pribadi ini.
Tak hanya itu, ia juga tahu latar belakang pendidikan, perjalanan karier saya, sampai perjalanan yoga saya. Tak heran karena ia mengumpulkan informasi dari sejumlah website yang pernah memuat tulisan saya dan tulisan orang lain soal saya.
Saya sendiri memang masih aktif menulis tak cuma di sini tapi di Kompasiana, Medium, LinkedIn, dan Substack. Ternyata kebiasaan menulis blog itu ada gunanya juga bahkan saat SEO mulai kehilangan tajinya. Karena semua AI Bot itu ternyata butuh asupan informasi dari blog dan website.
Lalu soal tulisan-tulisan orang lain mengenai saya, untungnya saya punya sejumlah kenalan wartawan di media-media besar seperti Kompas, Detik, Loker.com, dan RMOL yang membuat mereka dengan mudah bertanya pada saya saat ada isu soal yoga yang muncul dan viral di tengah perbincangan masyarakat kita. Di situ saya tampil sebagai pakar di media yang mapan. Maka tak heran ChatGPT memilih sumber itu.
Setelah tahu begitu pentingnya menaruh informasi sebanyak mungkin ke internet, saya paham gunanya berada di sebanyak mungkin platform meski memang melelahkan. Istilahnya “spread myself too thin” karena saya menyebar sebanyak mungkin energi saya untuk membuat konten di sebanyak mungkin platform dan media baru. Tapi ternyata cara itulah yang membuat saya dipandang kredibel sebagai pakar di era digital ini.
Bayangkan jika saya cuma fokus di satu platform, misalnya di Instagram saja atau di blog pribadi saja. Mungkin saya tak akan bisa dikenal lebih banyak orang dan membuat saya juga lebih kecil kemungkinan dianggap seseorang.
Anehnya, saya juga memiliki blog di blogger.com dan wordpress.com dan tulisan saya di sana sudah lama terpajang sejak 2009 dan tidak disentuh oleh ChatGPT sama sekali. Jadi, apakah ada kesepakatan bahwa ChatGPT tidak boleh menggunakan AI crawler-nya sampai ke blog-blog milik Google dan WordPress? Mungkin saja. Namanya juga kompetisi bisnis.
Media sosial yang dirambah AI ternyata cuma LinkedIn. ChatGPT entah kenapa tidak menampilkan konten-konten saya di Instagram (ya karena Meta juga punya AI-nya sendiri). Lalu saya pikir masuk akal karena LinkedIn dan Open AI/ ChatGPT masih berada di satu ekosistem Microsoft milik Bill Gates.
Lalu saya coba bertanya siapa diri saya ke DeepSeek. Ia tak tahu saya sama sekali. Mungkin karena ia diblokir di mana-mana oleh platform-platform yang saya pakai sebagai media berkarya/ menulis/ membuat konten. Mungkin saya harus memakai platform konten di China jika mau dikenal di sana via DeepSeek.
Lalu Gemini dari Google menampilkan saya sebagai blogger Kompasiana dan penulis buku meski saya punya banyak blog gratisan di blogger.com sejak lama. Saya duga karena ia menganggap buku sebagai tanda kredibilitas. Buku itu memang masuk Google Books. Lalu anehnya ia memasukkan info dari profil dan konten Quora saya.
Lalu di Meta AI, saya malah dikatakan sebagai seorang aktor film dan sinetron. Haha. Saya sampai kaget. Bagaimana bisa? Apakah Meta AI ini tidak mengumpulkan info saya dari paltform media sosial yang memuat konten saya? Padahal akun Thread dan Instagram saya tidak dikunci sama sekali. Publik sepublik-publiknya karena saya memang pakai untuk tujuan edukasi, informasi serta promosi jasa kelas yoga saya.
Tapi sekali lagi maksud saya adalah jika ingin membangun personal branding (entah apakah istilah itu masih relevan dengan era sekarang), ternyata menulis blog dan menulis di website masih relevan juga. Blog dan website terbukti masih relevan selamanya karena AI itu mau ambil informasi dari mana kalau bukan tulisan-tulisan dari blog dan website? (*/)
Leave a Reply