Sore tadi saya baru saja melihat sepasang suami istri. Saya kebetulan berbelanja. Mereka tidak. Berdua mereka tampak turun dari motor, menuju kios mereka di depan Indomaret yang saya masuki untuk berbelanja kebutuhan pokok.
Kata seorang tetangga dan sekaligus teman, pasangan ini baru saja kena layoff juga. Saya kenal si pria. Ia pekerja profesional di bidang asuransi dan keuangan. Saya pernah menghadiri talkshow yang menghadirkannya sebagai pembicara. Bukan talkshow yang wow. Cuma acara kecil-kecilan di tengah perumahan kami yang baru berkembang. Sekadar untuk menggairahkan area yang digadang-gadang sebagai kota baru.
Masih kata teman, si pria ini di-PHK lalu menyusul istrinya juga jadi mereka berdua mesti bertahan hidup dengan mengerjakan apapun yang mereka bisa. Entah kenapa mereka berdua kemudian memilih berjualan susu segar dari Boyolali. Cukup jauh dari daerah perumahan kami. Saya duga mungkin ada kenalan baik yang bisa dipercaya untuk bisnis itu.
Tapi begitulah zaman sekarang. Tak perlu malu dan gengsi kalau sudah menganggur. Apa saja harus rela dijalani demi menyambung hidup.
Kalau ‘banting stir’ pun tak masalah. Dari asuransi ke jualan susu, memang siapa yang bisa melarang? Tidak ada.
Dari situ saya bergumam sebagai komentar terhadap nasib mereka (dan mungkin kita semua), “At least nggak nyusahin orang. At least nggak korupsi. At least nggak punya utang. At least….”
Lalu otak saya mengarang sebuah frasa: “A list of at least-s”. Haha. Jadilah judul untuk tulisan refleksi ini.
Sederet at least itu mungkin adalah sebagai berikut:
- At least nggak punya tanggungan utang pinjol. Saya baca tempo hari ada cukup banyak warga 62 bermasalah dengan pinjol. Bahkan ada yang sebagian sengaja membuat pinjamannya berstatus gagal bayar. Dan ada juga teman saya yang kena jeratannya. Sempat ia membuat geger grup whatsapp karena wanti-wanti kalau kami diteror debt collector. Dan ia lalu menghubungi kami teman-temannya seolah menjelaskan duduk perkaranya. Bak artis menggelar konferensi pers. Untungnya masalah itu tak berlarut-larut. Ia segera lunasi utang pinjol itu dan setidaknya saya tidak mendengar ada masalah serupa muncul lagi.
- At least badan dan jiwa masih sehat walafiat. Karena sakit di negara dan zaman ini sangat mahal, kesehatan adalah komoditas yang mahal dan sangat berharga. BPJS mencabut coverage untuk sejumlah penyakit, katanya. Lalu punya jiwa yang sakit juga bisa berdampak pada masa depan dan ekonomi diri. Bayangkan, mendapatkan pekerjaan saat ini dengan badan dan jiwa yang sehat saja masih bisa gagal apalagi jika kita ada catatan riwayat gangguan jiwa. Perusahaan mana yang mau menerima orang yang jelas-jelas dicap tidak waras oleh masyarakat umum Indonesia yang masih terbelakang soal kesehatan jiwa ini? Makanya kalau ada waktu luang, saya selalu berupaya menghabiskannya untuk merawat badan dan pikiran serta jiwa agar tetap seimbang di zaman yang serba labil sekarang.
- At least punya atap untuk berteduh dan tidur. Berucap syukur punya tempat bernaung yang sudah tak perlu dicicil lagi. Kecil tapi milik sendiri. Sudah sangat cukup. Tak perlu repot menyewa. Karena saya bukan Sophia Latjuba yang gemar pindah rumah kontrakan. Saya perlu rumah sebagai jangkar untuk berlabuh. Saya perlu kestabilan di tengah dunia yang terus berguncang dan terombang-ambing. Dunia boleh jungkir balik tapi asala saya masih bisa damai di rumah, setidaknya saya merasa aman dan nyaman.
- At least punya tabungan. Alhamdulillah saya bisa menghindarkan diri dari gaya hidup yang terlalu mewah dan bertujuan mengesankan orang lain. Mungkin karena ada internalisasi pola pikir dari orang tua bahwa gaya hidup boros adalah sumber penyesalan seumur hidup. Saya kenal seseorang yang hampir kehilangan seluruh keluarganya karena terkena utang kartu kredit. Entah untuk berbelanja apa saya tak tahu persis. Konon warga Korsel yang penampilannya wah dan good looking semua itu juga tak punya tabungan dan terus saja menumpuk utang. Duh, mendingan agak buluk tapi financially stable deh zaman sekarang. Tapi sekali lagi, itu pilihan hidup mungkin.
- At least masih bisa melihat langit. Saya entah kenapa terdorong untuk membangun sebuah balkon di rumah agar bisa beryoga di atasnya sembari menikmati langit dan saya tak menyesali keputusan itu. Melihat langit, menurut ulama Syaikh Ath-Tharifi dalam kitabnya At-Tafsir wal Bayan, juga menawarkan banyak manfaat, di antaranya menenangkan pikiran, menambah keimanan, menundukkan kesombongan dalam hati, dan sebagainya. Nabi Muhammad juga memerintahkan kita berdoa saat menatap langit. Doa tersebut artinya: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Masih banyak lagi at least yang bisa saya tambahkan tapi mungkin saya tak punya banyak waktu menuliskannya sebab saya masih harus menyusun materi special yoga class saya Sabtu akhir pekan ini di Bogor. Kalau Anda berada di Bogor dan sekitarnya, silakan bergabung dalam kelas spesial yang di dalamnya tak cuma akan ada yoga tapi juga sesi menulis ekspresif yang bersifat terapeutik alias bikin pikiran lebih lega dan plong. Sampai jumpa di matras! (*/)
Leave a Reply