Sejak 3 Juni 2025 lalu, saya mencoba menulis rangkuman dari isi kajian agama yang saya hadiri setiap Selasa di Jakarta. Saya melakukan itu demi merawat ingatan karena tergerak setelah mendengar seorang teman Kristiani yang diwajibkan oleh pendetanya untuk mencatat saat ada khotbah di gereja. Kata pendetanya, manusia bisa berbuat dosa kalau lupa mencatat.
Dengan nada agak bercanda, sang pendeta mencontohkan bahwa pelanggaran yang dilakukan Nabi Adam dahulu mungkin akibat Nabi Adam lupa dan tidak mencatat sabda Tuhan sehingga ia malah terbujuk oleh bisikan Iblis. Karena itulah, mencatat sangat penting bagi manusia.
Dengan menggoreskan pena ke kertas, diharapkan memori itu terpatri lebih abadi dalam hati.
Selain itu, ternyata bikin otak saya tidak cepat mengantuk saat mendengarkan ceramah/ kajian agama. Kalau saya cuma bengong dan tangan menganggur, bisa dipastikan dalam 5-10 menit otak saya menjerit bosan dan minta hiburan. Karena itu saya bisa tetap melek saat hadirin yang lain terkantuk-kantuk dan terpaku pada layar ponsel, yang justru mencederai tujuan menghadiri kajian.
Begini hasil rangkuman saya: Tiap manusia adalah telanjang, kecuali jika Allah menganugerahkan pada mereka pakaian. Allah tidak menerima atau menanggung keuntungan maupun kerugian dari ibadah yang manusia lakukan.
Itu karena Allah bisa berdiri sendiri, tidak tergantung pada puja puji yang kita berikan setiap hari. Dosa dan amal apapun yang kita perbuat sejatinya hanya akan kembali pada diri kita sendiri.
Tugas Allah hanya mencatat, mengumpulkan, kemudian menyempurnakan pembalasan atas setiap perbuatan kita di dunia ini.
Tujuan penciptaan manusia dan alam ini ialah untuk menunjukkan kebijaksanaan-Nya. Dengan demikian, manusia harus berbuat baik demi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain atau makhluk lain atau bahkan demi Allah.
Dengan demikian, ibadah adalah bentuk self love yang paling tinggi (level ultimate).
Leave a Reply