Kenapa Menulis Pendek di Media Sosial Itu Lebih Melelahkan

Selain mengajar yoga, saya juga punya bidang pekerjaan lain sebetulnya: menulis. Kebetulan saya bulan ini menjalani sertifikasi penulisan buku nonfiksi. Dalam prosesnya, ada pemaparan oleh tutor soal menulis yang menceritakan bahwa tutor saya ini mengenal seorang penulis kawakan, sebut saja Ibu X, yang mengatakan dirinya tak mau menulis pendek (sekitar 200-300 kata) untuk sebuah ulasan buku. Alih-alih menulis pendek, ia memilih menulis berlembar-lembar kata pengantar yang bisa berjumlah lebih dari 1000 kata. 

Pertama kali mendengar cerita itu, saya pikir Ibu X sangat arogan dengan keterampilannya menulis. Saya menyangka ia tukang pamer. 

Tapi setelah beberapa pekan berlalu, saya renungkan kembali cerita tersebut dan saat saya mengangkat jemuran pakaian dan merawat tanaman di halaman rumah siang tadi, saya berpikir pelan-pelan. “Mungkin Ibu X benar. Menulis panjang lebar lebih mudah daripada menulis pendek. Apalagi menulis sependek utas di Thread atau media sosial lainnya,” batin saya.

Saya teringat dengan sebuah utas saya beberapa waktu lalu. Cukup ramai ditanggapi orang. Mungkin karena topiknya sangat aktual dan orang menganggapnya menarik untuk dibaca. Ternyata yang merespon tak semuanya bernada positif. Syok juga akhirnya saya. Kenapa? Karena awal membuat konten pendek itu bukan untuk menyudutkan siapapun tetapi lebih untuk menarik orang memperbincangkannya. Istilah kekiniannya, konten clickbait. Betul sih jadi viral tapi terasa mengganjal. Karena saya menjadi sangat lelah secara psikis dan mental sebab harus menjelaskan kesalahpahaman pada tiap orang. Saya merasa tujuan saya di sini memberikan edukasi tetapi karena ada yang salah paham saya jadi terdorong untuk mengoreksi.

Usut punya usut, saya tahu penyebabnya. Ternyata ada sebagian yang berkomentar miring karena tidak membaca utas saya sampai tuntas. Dengan kata lain, sudah terpantik emosinya saat cuma membaca di unggahan pertama. Karena sudah emosional, jempol pun lebih mudah bergerak. Padahal belum tuntas membaca. Itu dari sisi eksternal.

Dari sisi internal alias saya sendiri, kesalahan saya adalah menggunakan kata-kata yang terlalu tendensius, memojokkan, memicu emosi, ambigu, yang jika dibaca sekilas tanpa membaca lebih lanjut apalagi memahami konteks lengkapnya bakal menyulut amarah pembacanya. 

Lalu strategi saya pun saya ubah. Saya tak mau lagi menulis pendek dengan hook atau kalimat pembuka yang memancing emosi. Betul, emosi memang membantu konten cepat viral. Sebagai informasi, saya paham ampuhnya faktor permainan emosi sebab saya juga mantan copywriter. Namun, ternyata itu bisa jadi bumerang bagi diri saya sendiri apalagi profesi saya bukan content creator/ influencer 100%. Saya pengajar yoga yang kebetulan menggunakan media sosial sebagai alat berkomunikasi.

Sisi copywriter dalam otak saya memprotes: “Kalau kamu menulis panjang-panjang, mana ada yang mau baca? Orang sekarang attention span-nya pendek lho!” Tapi saya sanggah sendiri juga: “Buktinya masih ada kok yang baca tulisan-tulisan yang agak panjang.”

Bagi saya, menulis panjang di media sosial membantu saya menjelaskan konteks dengan lebih lengkap dan berimbang. Dengan begitu, saya tidak perlu menjelaskan lagi jika ada orang yang salah paham. Saya tinggal balas: “Sudah saya jelaskan/ sebutkan hal itu kok di atas. Belum baca sampai selesai ya?”

Menulis panjang juga membantu saya menyaring pengikut dan audiens untuk konten saya. Jadi saya tidak perlu meladeni orang-orang yang berseberangan pemikiran karena konten panjang saya sudah melelahkan bagi otak mereka. Akhirnya mereka scroll dengan sendirinya dan risiko debat kusir di media sosial yang tak berujung jadi menurun drastis. It DOES save my energy at the end of the day! Jadi, menulis panjang itu sebenarnya sangat menghemat energi dan menulis pendek bisa jadi malah lebih susah dan berisiko membuang-buang energi. Setuju nggak? (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights