“Episode Hujan” (2022) Angkat Kompleksitas Hidup Para Jurnalis di Tengah Buruknya Penegakan HAM Indonesia

Saya baru saja menyelesaikan sebuah novel berjudul “Episode Hujan” (2022) yang ditulis oleh Lucia Priandarini, seorang mantan jurnalis Femina dan penulis nonfiksi. Dan saya terdorong untuk menulis sebuah ulasan yang lugas, tidak ‘ndakik-ndakik’ (bahasa Jawa: memakai istilah-istilah yang memukau pembaca saking ‘canggihnya’). 

Mungkin karena ini sebuah aktivitas pengisi waktu ngabuburit, saat glukosa darah saya lebih rendah dan otak saya dalam modus penghematan energi.

Kesan pertama saya saat membaca novel satu ini adalah betapa ‘relatable’ narasi soal kehidupan sehari-hari wartawan/ jurnalis. Ada banyak kejadian dan detil yang saya juga rasakan saat saya bekerja sebagai jurnalis ‘ala-ala’ dahulu. Ya, saya juga sempat mencicipi kehidupan begitu dan sekarang masih menggunakan keterampilan dan pengalaman yang saya punyai itu untuk mencari nafkah sekarang ini.

Idealis VS Pragmatis

Saya sebut saja dikotomi atau kategorisasi antara jurnalis investigasi yang idealis, punya citra macho bak Superman yang dalam novel diwakili sosok Banyu Mili yang bekerja di Majalah Barometer dan jurnalis berhaluan gaya hidup dan PR yang lingkungannya lebih pragmatis, superficial, dan materialistis yang diwakili sosok Katya yang menjadi sosok sentral kisah dalam novel ini. 

jujur kalau saya sendiri juga memiliki pemahaman bahwa saya bukan jenis jurnalis macho seperti Tempo. Rasanya susah membayangkan untuk bekerja di institusi sekeren Tempo. Mungkin karena mental dan latar belakang jurnalistik saya tidak kuat di situ. Saya kuliah di jurusan Sastra Inggris dan saya punya pengalaman bekerja sebagai content writer di media daring perusahaan properti. Saya tak punya pengalaman dan pengetahuan soal jurnalisme investigasi kecuali saat saya hanya menjadi notulen dalam workshop yang diadakan Tempo Institute saat saya berkesempatan menjadi notulennya. Cuma sebatas teori. Sayangnya jika ditanya portofolio, saya tidak bisa memberikan karya jurnalistik investigatif seperti itu. Lain dari Katya yang sebenarnya bisa dan akhirnya masuk ke media investigasi yang meghasilkan karya jurnalistik nyata dan berdampak, saya belum punya kemewahan tersebut.

Karya-karya saya lebih soal pesanan pemberi kerja karena saya pada dasarnya menulis untuk pesanan pemilik modal. Terkesan kasar tapi begitulah faktanya. Apa yang dilakukan dan bisa menambah baik citra bos saya, akan saya tuliskan. Saya mirip copywriter saja, sebuah profesi yang saya lakoni hingga sekarang juga. Dan itu tentu jauh dari profesi wartawan yang sejati.

Dan karena tidak bisa bergabung dengan organisasi jurnalistik idealis begitu, saya memutuskan melakukan apa yang saya bisa untuk menyalurkan idealisme saya sendiri. Saya membuat website berita kawasan sendiri, dengan suntikan dana pribadi, menggunakan otak sendiri untuk menyusun strategi, dan menolak intervensi eksternal manapun. Untuk urusan iklan, tentu saja saya menerima dan saya pisahkan tulisan itu di bagian advertorial, bukan berita reguler. Karena setahu saya, memang begitulah etika jurnalistiknya. Tentu tidak haram menerima dana dari pengiklan tapi harus dipisah supaya pembaca paham bahwa teks yang mereka baca itu pesanan orang, bukan hasil karya jurnalistik yang objektif, netral, tidak berpihak, dan minim bias.

Mewah Tapi Miskin

Di novel “Episode Hujan” ini saya juga bisa merasakan kejengkelan saya soal kesejahteraan jurnalis dan pekerja media. Citra pekerja media yang tampak selalu bisa berfoya-foya dengan gaji yang sebatas UMR atau sedikit di atas UMR, sangatlah nyata bagi saya.

Saya masih ingat bahwa saya dulu sempat merasa menjadi bagian elit hanya karena bisa mendapatkan akses menuju event-event mewah, dengan audiens yang terdiri dari orang terkenal baik itu pejabat atau pengusaha kaya raya atau pengusaha yang akhirnya jadi pejabat seperti Ridwan Kamil. Untuk bisa percaya diri masuk ke dalam ballroom hotel dan auditorium megah, saya sampai menyisihkan gaji yang tak seberapa itu untuk membuat setelan jas sendiri, membeli sepatu formal sendiri. Dan saya berterima kasih karena bos besar saya bermurah hati pernah memberi angpaw yang jumlahnya fantastis betul buat saya kala itu. 

Tapi itu peristiwa langka. Kebanyakan momen saya harus lalui dengan berjuang sendiri. Lembur meliput event kehumasan sampai hampir tengah malam. Meski pulang naik taksi bluebird dengan voucher dari kantor, tetap saja rasanya sedih sebab tak ada uang lembur dan kebebasan pribadi terenggut. Saya bisa melakukan hal lain jika saya tak lembur untuk perkembangan pribadi saya tapi saya selalu menjustifikasi lembur-lembur itu dengan berkata pada diri sendiri: “Hitung-hitung kamu memperluas koneksi dan wawasan. Bayangkan berapa banyak orang yang kamu bisa kenal dari sana.” 

Ada benarnya juga karena setidaknya ada satu dua orang yang saya ajak bertukar kartu nama dari event-event yang saya hadiri itu. Ada yang masih ingat dengan saya bertahun-tahun kemudian dan ada juga yang entah ke mana tak ingat lagi.

Semi Autobiografi

Soal isi novel itu sendiri, saya pikir sudah tidak perlu banyak dikritisi. Mungkin karena sudah lama saya diajari menulis makalah kritik sastra yang terlalu ketat dan teoretis di zaman kuliah dulu jadi saya menghindari menulis seperti itu lagi sekarang. Jadi terkesan tak bebas. Toh tidak ada upah jika mematuhi norma akademik itu. 

Secara umum, plotnya bagus, penyajian karakternya oke, cara membangun momen dan konfliknya juga patut diacungi jempol. 

Karakter protagonisnya sendiri saya pikir mirip dengan versi diri si penulis tapi di usia yang lebih muda. Mungkin saja ini sebuah semo autobiografinya. Saya berani memvonis begini karena saya mengenal si penulis Lucia Priandarini sebagai seorang tetangga dekat. Mungkin kebetulan-kebetulan ini juga mirip dengan kebetulan yang dipilihnya untuk ditampilkan dalam novelnya. Kalau saya membayangkan kebetulan adanya hubungan darah antara protagonis, anak perempuan itu dan bapaknya itu sebagai kebetulan yang sangat ‘sinetron’. Saya malah agak berharap bahwa plotnya dibuat agak tidak ‘sinetron’ begitu. Supaya agak riil. Kalau perlu dibuat open ending atau bad ending supaya lebih ambigu, atau sekalian saja muram alias gloomy. Hehe. 

Kalau ada saran dan masukan dari saya untuk novel ini, mungkin adalah kurang panjang dan mendalam. Saya pikir 200-an halaman masih kurang sekali untuk mengurai kompleksitas hubungan orang tua dan anak, hubungan antarsaudara kandung, masalah perdagangan manusia, masalah-masalah yang membelit industri media dan jurnalistik masa kini, pelanggaran hak anak dan kekerasan serta eksploitasi pada anak-anak, kemiskinan struktural yang membelit banyak orang Indonesia, dan harapan untuk mendapatkan keadilan yang setimpal bagi para korban pelanggaran HAM di Indonesia yang sejarahnya sangat panjang dan kalau diikuti sangat melelahkan.

Di tengah merebaknya pemberitaan bangkitnya dwifungsi TNI dari kubur, lalu ada pengiriman kepala babi dan bangkai tikus tanpa kepala ke kantor Tempo sebagai media yang vokal mengkritisi pemerintahan Prabowo-Gibran, dan kasus pembunuhan wartawan  perempuan Juwita di Banjarbaru oleh J, seorang kelasi kelas 1 TNI Angkatan Laut, rasanya Anda sangat perlu membaca novel ini untuk paham bahwa isu-isu ini sudah diperjuangkan sejak lama dan perjuangannya tidak akan pernah berhenti di tempat sebab ia akan terus dirongrong oleh pihak-pihak yang tak senang dan merasa dirugikan. 

Saya harap ia akan menulis novel berikutnya yang lebih mencengangkan, lebih kolossal, lebih sinematik, atau sejenisnya. Karena saya dengar ia sedang ‘gatal’ ingin melahirkan novel baru. Semoga saja proses pembuahan jabang bayi baru ini lancar. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights