“Muscle Gigolos”: Saat Pria Menumpuk Otot lalu ‘Menjual’ Tubuh demi Algoritma

Subuh tadi saya sempat menyaksikan sebuah Instagram reel. Isinya seorang pemain biola yang mengatakan kurang lebih demikian: “Demi algoritmanya, akan kulakukan apapun….” Di tangannya sudah ada biola yang hendak digesek lalu sedetik kemudian ia mempereteli kancing kemeja flanel motif kotak-kotaknya. Dalam kondisi bertelanjang dada, sang pemain biola kemudian mulai memainkan musiknya.

Sebenarnya saya merasa cringey alias bergidik dengan apa yang ia lakukan. Maksud saya, apa memang harus sampai sejauh itu atau itu cuma skit alias sarkas? Entahlah. Di videonya yang lain ia tak tampak mengumbar badan atasnya juga jadi saya pikir itu cuma gimmick sesekali.

Tapi fenomena yang sama juga banyak sekali ditemui akhir-akhir ini. Para pemuda belasan atau 20-an yang berbadan kerempeng memulai mengunggah konten olahraga atau ngegym atau calisthenics atau jadi hybrid athletes lalu dengan cara yang entah bagaimana (entah itu natural atau memang punya bakat genetis atau berbekal peptida yang dikonsumsi sembarangan) menjadi lebih kekar, lebih berisi, lebih berotot, lebih memenuhi spesifikasi ‘gapura kabupaten’ (yang tinggi besar, gagah karena berdada dan berbahu bidang dengan pinggang kecil dan perut six packs), begitu istilah populernya.

Begitu mereka mengunggah konten transformasi bentuk badan yang menunjukkan kondisi badan sebelum dan sesudah berolahraga, mereka pun kebanjiran komentar dan likes, dan tawaran endorsement dari beragam brand, dari susu whey, dada ayam instan, alat olahraga hingga baju olahraga.

Tak cuma tawaran yang halal dan legal, anak-anak muda berbadan ‘jadi’ ini pun kebanjiran juga DM dari para pria penyuka pria. Ya, mereka ditawar untuk menemani ‘papa gula’ atau juga berpesta seks.

Ada muscle gigolos, demikian sebutan saya untuk anak-anak muda (bisa juga om-om paruh baya) pengeksploitasi tubuh dan otot mereka sendiri itu, yang menanggapi DM seperti itu dengan pedas bahkan mengunggah para pengirim DM ke feed media sosial mereka untuk menunjukkan bahwa mereka punya harga diri dan integritas. Mereka seakan ingin menunjukkan bahwa meski konten mereka buka-bukaan, mereka melakukannya untuk tujuan edukasi olahraga dan memacu semangat gaya hidup sehat. Tak masalah sebetulnya tapi yang membingungkan ialah meski mereka menolak diajak ngeseks mereka ini juga ada yang terus mengunggah video sugestif, misalnya video dengan adegan mandi, atau adegan olahraga tanpa baju, memamerkan ketiak, otot bokong, paha atau dada dalam kondisi basah dengan keringat. Mereka seolah bermain pasif agresif, yang membuat target audience semakin penasaran dan mungkin juga berniat menggenjot rate card mereka.

Dari tren ini, seolah kemudian banyak pihak yang menanamkan ide bahwa apapun pekerjaanmu, otot dan badan kekar adalah penjamin kesuksesan pria dalam jalan karier apapun. Jadilah ada pegiat gym yang berjualan makanan di pinggir jalan. Mereka menggunakan daya tarik visual dari badan yang tinggi, kulit bersih dan otot yang besar itu sebagai penarik pembeli. Kelezatan makanan bukan faktor utama. Yang penting viral di media sosial dan menarik banyak pembeli meski sebenarnya pembeli itu cuma mau menikmati suguhan visual berupa badan atletis si penjualnya.

Apakah fenomena menjual otot dan tubuh kekar ini bisa dikatakan karena sempitnya lapangan kerja bagi anak muda sekarang? Bisa juga dikatakan demikian. Dengan gagalnya pemerintahan kita dalam memenuhi janji surga penyediaan lapangan kerja, rasanya saya tak berhak menghakimi para muscle gigolos ini.

Saya tidak menyalahkan jika ada anak muda yang menempuh jalan berolahraga demi membentuk badan demi untuk menjualnya di media sosial dan memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu hak asasi setiap manusia yang memiliki badan. Anda bisa saja membentuk badan Anda seperti apa saja. Tapi jika itu membuat Anda terjangkit penyakit menular seksual, tentu akan merugikan diri dan pasangan sah nantinya dan masa depan Anda sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights