Kucing Freelance

Saya hanya punya dua kucing tahun 2024. Yang pertama namanya Viktor, jantan dan sudah saya kebiri. Ia sudah bersama saya tahun 2021. Sebelum saya kebiri, dia hampir tiap hari pulang babak belur. Mirip anak cowok yang sekolah di STM, pekerjaannya cuma berkelahi dan tawuran sana-sini. Capek betul saya mengobati luka-lukanya. Yang paling besar adalah luka di kaki kirinya yang berbulan-bulan tak kunjung sembuh meski sudah dijahit beberapa kali. Harusnya ia dikurung di rumah tapi selalu saja bisa melarikan diri begitu pintu terbuka. Sampai saya mengomel padanya bahwa saya jengkel dan pada titik kulminasi saya pernah mengejarnya naik turun tangga di rumah demi mencekokinya pil supaya lukanya yang menganga cepat menutup. Karena tak berhasil jua, saya menangis di tangga dengan memegang sapu. Begini rasanya punya anak yang badungnya di luar batas nalar. Akhirnya semua plester, pil obat penyembuh luka itu mubazir. Tiada energi untuk membuatnya mau duduk manis diolesi salep, dicekoki obat, dan tidur agar lekas sembuh.

Kini setelah ia disterilisasi, kebadungan Viktor mereda. Ia lebih rumahan daripada era sebelumnya. Saya bersyukur untuk itu. Pekerjaannya sekarang cuma tidur di rumah atau teras rumah tetangga yang tak berpenghuni di siang hari. Ia berangsur jadi lebih manis dan mudah diatur dan mudah diajak cuddle dan dielus. Saya minta maaf padanya karena untuk bisa semenyenangkan itu, ia harus kehilangan harga dirinya sebagai seorang kucing jantan. Ia mirip seorang kasim istana sekarang, tanpa skrotum dan penurut. Meski begitu, sisa-sisa hormon testosteron itu masih ada juga. Viktor kadang agak buas juga saat menghadapi kucing jantan yang lebih muda.

Kucing satu lagi namanya Katya. Ia betina dan belum saya angkat rahimnya karena biaya sterilisasi betina lebih mahal dari kucing jantan. Dalam hati saya bertanya, “Apakah kucing betina juga kena pink taxes??” Masak iya itu nggak berlaku cuma di manusia perempuan? Kebangetan rasanya. Tapi apakah karena menjadi perempuan itu lebih rumit dan mahal? Entahlah, mungkin itu pertanyaan penelitian kaum feminis tersendiri.

Dan karena Katya, saya boncos. Ia beranak pinak dengan jantan-jantan yang saya tak ketahui bentuknya. Ia berhubungan seks di luar rumah tanpa sepengetahuan saya. Saya pikir ia mengeong karena tak betah jadi saya lepaskan di luar. Eh ternyata itu dorongan mencari pejantan karena dia sudah tak sabar mau disetubuhi dan beranak.

Pada gilirannya Katya memberi saya anak-anak kucing baru. Ia punya 3 anak lagi dan anak-anaknya itu sudah beranak juga. Begitu populasinya sudah meledak mencapai belasan dari dua ekor, saya merasa kewalahan. Rumah kerap kotor dan bau karena kelakuan mereka, jumlah makanan juga meningkat, dan itu artinya beban keuangan meningkat. Di kondisi ekonomi begini, saya pikir-pikir untuk jor-joran membeli pakan kucing kering yang mahal. Lalu saya mencoba memberi cakar ayam segar saja dengan harga 23 ribu per kantong yang bisa digunakan 2-3 hari. Alhamdulillah mereka tetap sehat dan bulunya bagus karena asupan nutrisi dan kolagen cakar yang melimpah ruah itu.

Rupanya kucing-kucing saya tetap merasa tidak puas dengan jumlah makanan yang saya sediakan. Beberapa kali mereka saya pergoki merambah ke rumah tetangga yang dermawan mau memberi sisa makanan untuk mengganjal perut yang masih belum penuh. Pantas saja mereka tak kelihatan beberapa jam atau hari. Saya pikir karena telah merasa cukup kenyang saya beri itu semua.

Saat saya tahu, saya membatin: “Gila ya zaman sekarang aja kucing pada nyari sampingan. Dasar kucing freelance!!!”

Tak saya duga bahwa kucing-kucing saya pun punya mindset yang sama dengan saya: “Ngapain mendedikasikan diri ke satu employer secara penuh waktu, sementara mereka nggak kasih asuransi lagi di samping gaji pokok, BPJS dan Jamsostek juga bayar sendiri? Enakan kerja fleksibel gini supaya bisa freelance ke mana-mana, ya nggak cuyyy??!”

Saya tersenyum. Benar juga kalau ada orang bilang: perilaku kucingmu mencerminkan perilaku majikannya (atau babunya?). (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights