Seperti itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini terutama dengan ekskalasi Perang Iran-AS yang dikompori Israel akhir-akhir ini. Umat manusia sedang membakar rumahnya sendiri. Gila kan? Dan itu dilakukan oleh bangsa-bangsa yang katanya adidaya dan adikuasa seperti Amerika Serikat dan Israel. Kegilaan ini terpampang nyata di media sosial dan media massa sampai saya lelah mengikuti perkembangannya. Ada kalanya saya tertarik mengikuti. Ya namanya juga manusia, kalau dunia ini ada apa-apa, masak saya menutup mata? Wong ada kecelakaan di pinggir jalan saja insting saya menuntun untuk turut menonton bersama orang lain dan mengabadikannya.
Keinginan untuk menjadikan bumi sebagai surga adalah keinginan Benjamin Netanyahu sehingga ia nekat membuat kondisi dunia ini kocar-kacir sejak genosida yang dimulai sejak lama bukan cuma dari 7 Oktober 2023 saat Israel melaporkan adanya serangan dari Hamas pada warganya. Ada dugaan bahwa laporan itu palsu dan laporan palsu itu dijustifikasi menjadi alasan untuk memberangus Jalur Gaza beserta manusia di dalamnya. Hidup tak pernah sama lagi sejak itu. Jika kejahatan kemanusiaan lain rasanya ditutup-tutupi tapi kejahatan kemanusiaan Israel ini dipamerkan pada dunia. Seolah Israel tak keberatan menjadi musuh masyarakat dunia dan memang itulah tujuannya. Orang Israel (zionis) ingin menjadi manusia yang paling dibenci di permukaan bumi ini dan tetap menjadi kesayangan Tuhan. Ini seperti anak emas kesayangan orang tua yang kemudian secara membabi buta menyiksa saudara kandungnya yang lain tanpa merasa bersalah dan membuktikan bahwa bagaimanapun busuk dan kejinya perlakuannya itu ia tetap akan disayang orang tuanya. Menurut saya itu pemikiran yang paling menjijikkan. Dan zaman sekarang, makin banyak manusia yang berpikiran demikian sepertinya. Merasa memiliki surga dan berhak mempersekusi manusia lain.
Semua itu masih ditambah kacaunya kondisi dalam negeri. Rezim Prbw masih saja keras kepala dengan MBG-nya itu meski sudah diprotes sana-sini tak cuma oleh para pakar tapi juga rakyatnya sendiri. Lalu kontroversi bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace yang banyak orang nilai sebagai pengkhianatan terhadap pesan konstitusi kita yang sarat dengan nilai dan prinsip anti imperialisme. Pesan yang dikomunikasikan pejabat-pejabat itu tak sinkron. Menlu Sugiono punya sangkalan sendiri. Teddy si ajudan kesayangan punya argumen sendiri. Sebagai rakyat pusing jadinya.
Lalu soal kondisi ekonomi dalam negeri kita. Menkeu Purbaya yang jadi media darling itu makin lama makin menjadi media enemy. Sejak awal saya kurang bersimpati dengan gaya kerjanya. Sesumbar sejak mulai menjabat posisi menkeu per 8 September 2025 lalu pasca kerusuhan berdarah Agustus 2025 bahwa jika ia nanti sudah bekerja, perekonomian bakal segera naik, pengangguran teratasi hinggda detik ini belum ada wujudnya juga. Dasar orang Indonesia yang gemar pejabat populis, tingkah polah Purbaya yang sering mencuri perhatian dan simpati publik malah diglorifikasi oleh media massa. Sudahlah kalian diam saja. Biarkan menteri bekerja dan tak usah ditanyai macam-macam hal lain selain kinerjanya saja.
Lalu muncul berita penurunan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia akibat kacaunya manajemen, kebijakan dan aturan yang diberlakukan bapak-bapak dan ibu-ibu birokrat di singgasana mereka itu. Jangankan orang asing, saya sebagai WNI saja tidak percaya dengan kompetensi mereka. Pengangkatan keponakan presiden jadi pejabat kunci Bank Indonesia misalnya, itu sudah mencederai kepercayaan publik. Meritokrasi hancur lebur sudah sejak era Jokowi dengan lemahnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Prabowo malah melestarikan serta menyuburkannya. Ya mau bagaimana lagi, wong dia juga bagian dari Orde Baru yang sarat dengan praktik semacam itu. Nggak kaget juga.
Tapi yang kaget adalah kok ada ya masyarakat minoritas yang secara sejarah dahulu sudah dirugikan oleh Orba tapi secara sadar mendukung naiknya Prabowo ke tahtanya. Saya menemukan kesaksian seseorang yang secara etnis adalah Chindo (orang berdarah Tionghoa namun lahir di Indonesia) dengan jujurnya mengatakan bahwa sebagian orang di sekitarnya mendukung naiknya presiden sekarang ini karena beragam alasan. Lalu siapa yag harus disalahkan jika orang seperti itu mengangkat menteri semacam Fadli Zon yang mengingkari sejarah kelam peristiwa perkosaan massal di tahun 1998?
Terbaru yang paling menyakitkan adalah potongan pajak untuk Tunjangan Hari Raya para karyawan swasta. Orang-orang pun bertanya: “Apakah semiskin itu pemerintah sekarang??” Mungkin iya. Sudah kehabisan akal untuk menambah pemasukan negara. Jadi semua cara dilakukan.
Kemudian saya sampai pada pertanyaan: “Apakah memang kita pantas ya dapat semua cobaan ini?” Ya Tuhan, lindungilah kami dari akibat-akibat yang tak pernah terlintas dalam kepala ini dari kebodohan, kedunguan, dan ketidaktahuan kami ini. Cuma itu doa yang saya bisa panjatkan di hari ke-19 Ramadan 1447 Hijriyah ini. (*/)
Leave a Reply