Pagi ini saya enggan meninggalkan tempat tidur terlalu cepat dan memilih menonton sebuah film tentang penggalan kehidupan seorang remaja pria 16 tahun bernama Enzo.

Enzo (Eloy Pohu) ini aneh. Ia anak pasangan yang kaya, setidaknya mereka punya rumah mewah tepi pantai meskipun gaji keduanya tak banyak. Tapi anak remaja ini malah tak mau meneruskan sekolah formalnya dan memilih menjadi tenaga magang di sebuah proyek konstruksi. Kata Enzo, meski ia punya bakat menggambar sketsa, ia justru tertarik dengan konstruksi bangunan sebab jika bencana alam melanda, hanya rumah yang ia bangunlah yang akan bertahan. Semua manusia yang menghuninya akan mati tersapu bencana tapi rumah akan tetap utuh meski berpeluang rusak.

Enzo kerap dimarahi Vlad (Maksym Slivinskyi), seorang pekerja bangunan dari Ukraina yang tak mau pulang ke kampung karena alasan yang tak mau ia beberkan. Mungkin saja ia takut mati, atau tak mau bertemu ayahnya yang kasar dan ringan tangan, atau juga memberikan peluang hidup enak di Perancis secara cuma-cuma untuk menjadi tumbal perang Vladimir Putin.

Karena dianggap tak becus oleh mandor, Enzo diomeli dan kemudian diantar ke rumah. Begitu paham Enzo dari keluarga berada, sang mandor bersikap manis dan memoles kata-katanya. Namun, itu tak mengubah pesan bahwa Enzo sebenarnya tak ada bakat bekerja di bidang konstruksi. Enzo tak punya ketajaman soal presisi. Memasang batubata saja miring, kata si mandor.

Ayah Enzo sebenarnya pria yang baik. Ia tak pernah berkata kasar dan memukul Enzo karena ia orang terdidik. Hanya saja melihat anak laki-lakinya yang bungsu menjalani hidup yang eksperimental seperti itu, ia khawatir juga. Bagaimana kalau Enzo bakal jadi pecundang selama seumur hidupnya? Ia bandingkan Victor, anak sulungnya, yang sukses di bidang akademik dengan Enzo yang sangat sukar diatur.

Kerumitan muncul saat Enzo mulai merasa ayahnya terlalu mengatur kehidupannya. Ia juga memarahinya saat terlalu sering dan lama bergaul dengan Vlad dan teman Ukrainanya yang lain. Mereka bertiga ke klub dan tentu saja Enzo yang di bawah umur ditolak masuk ke dalam. Enzo pulang dengan kecewa sementara Vlad bersenang-senang bersama seorang wanita yang ia akui sebagai pacarnya.

Enzo juga bereksperimen dengan seorang gadis. Mungkin terdorong oleh perkataan teman kerjanya di proyek bahwa kalau ada pria yang umur 16 tahun saja belum pernah bersenggama dengan wanita, maka seterusnya ia tak akan pernah. Terbayang-bayang, Enzo mengajak seorang kenalan wanitanya ke rumah. Mereka berenang dengan syarat cuma pakai pakaian dalam dan sialnya kedua sejoli ini kepergok ibunya yang tiba-tiba masuk ke rumah untuk menaruh barang belanjaan. Gadis itu merasa kikuk dan risih lalu meninggalkan rumah segera meski ibu Enzo mempersilakan untuk makan malam bersama. Menurut gadis itu, ajakan tadi aneh.

Dengan merenggangnya hubungannya dengan sang ayah, Enzo makin lama makin dekat dengan Vlad. Mereka saling bertukar cerita bahkan Enzo sampai menginap di apartemen sewaan Vlad dan temannya. Mereka berteman sangat akrab.

Namun, yang aneh adalah saat kedekatan itu mulai mengarah ke arah seksual bagi Enzo. Vlad memang pria muda yang punya daya tarik seksual tinggi. Wajahnya rupawan, tubuhnya tinggi dan tegap, dadanya bidang dan berbulu lebat, bisep di lengannya begitu besar dan selalu tampak saat bekerja di proyek konstruksi bangunan tempatnya bekerja bersama Enzo. Di usia pertengahan 20-an, ia berkelana ke Perancis untuk mencari penghidupan yang lebih baik daripada Ukraina yang dilanda peperangan sejak 2022. Saking lamanya ia sudah menganggap dirinya sebagai warga Perancis dan menolak diajak pulang berperang di Ukraina.

Sayangnya, gayung tak bersambut. Vlad menolak jamahan tangan Enzo di tengah malam saat ia tidur dan menyuruhnya berhenti. Di mobil, saat ingin mengantar Enzo pulang, Vlad berdebat. Ia masih tidak percaya Enzo menyukainya lebih dari sekadar teman kerja dan bergaul. Enzo masuk ke rumahnya dan tampak gundah karena cintanya ditampik Vlad. Sementara Vlad sendiri sebenarnya tak mau bermusuhan dan berjauhan tetapi secara seksual ia bukan penyuka sesama gender.

Di sini mungkin saja Enzo berada di persimpangan di mana ia mendapati dirinya dengan banyak pilihan hidup untuk dijelajahi. Sayangnya , ia tak bisa menjalani semuanya. Ia harus memilih. Dan sayangnya lagi, pilihannya tak selalu selaras dengan pilihan pria-pria dewasa yang berharga baginya di sekitarnya yakni ayahnya dan pria yang disukainya Vlad. (*/)

Posted in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Verified by MonsterInsights