Beberapa hari lalu saya diberitahu oleh seorang tetangga bahwa ia baru saja kembali dari Vietnam dengan sebuah cerita yang sangat menarik. Ia menyodorkan pada saya sebuah buku yang menceritakan kisah hidup seorang mata-mata terbaik di dunia dari Vietnam. Namanya Phạm Xuân Ẩn’s.
Saya terpana mendengarkan lika-liku kerja Pham yang punya banyak pekerjaan dari jurnalis, hingga double agent. Meskipun diangkat sebagai pahlawan bagi Vietnam, ia sebenarnya juga melakukan banyak hal yang menguntungkan bagi Amerika Serikat, musuh Vietnam Utara saat Perang Vietnam dulu.
Untuk detail selanjutnya, Anda bisa tanya saja AI. Ada rangkuman singkatnya di sana. Tapi yang saya ingin kemukakan di sini adalah begitu melelahkannya hidup sebagai seorang mata-mata seperti Pham.
Saya sendiri tidak sanggup membayangkan betapa tidak enaknya tidur dengan dibayangi risiko kematian atau penyiksaan yang bisa dialami kapan saja jika membuat kesalahan sedikit saja, atau lengah dan sampai terkuak oleh musuh atau kawan karena di sini konteksnya ia bermain sebagai double agent.
Konon Pham sampai harus ke mana-mana membawa pil untuk bunuh diri karena mending mati cepat daripada disiksa sedemikian rupa di luar perikemanusiaan oleh musuh.
Mungkin ia bisa disiksa pelan-pelan seperti dicopoti kukunya satu persatu, atau dikuliti hidup-hidup, atau dipenggal kepalanya.
Entahlah, tapi dari apa yang saya saksikan dahulu saat berkunjung di Museum Perang Vietnam, kemungkinan-kemungkinan keji seperti itu sangat memungkinkan. Setelah dari museum itu, saya seperti habis keluar dari Museum Lubang Buaya yang angker itu, saya makin membenci sesama manusia. Tiada makhluk yang sekeji manusia di muka bumi ini menurut saya.
Lalu siang tadi saya menonton juga sebuah film bertema mata-mata lagi. Judulnya Boy from Heaven. Bedanya setting film satu ini ada di Universitas Al Azhar Mesir. Ceritanya bergulir dari Adam, seorang pemuda sederhana yang anak kandung seorang nelayan miskin. Ibunya sudah wafat dan ayahnya mendidik dengan keras.
Entah bagaimana, Adam terpilih untuk mendapatkan beasiswa mengenyam pendidikan agama di Universitas Al Azhar sana. Hatinya membuncah sebab ia akan bisa menyalurkan hasrat belajarnya yang tinggi. Selama ini ia ingin keluar meninggalkan dunianya yang kecil: rumah dan laut.
Sialnya, Adam masuk ke universitas tersebut dan menyaksikan sebuah peristiwa pembunuhan yang menyeretnya ke sebuah pertikaian internal Badan Keamanan Negara Mesir dan konflik internal para ulama yang akan diangkat sebagai imam besar. Intrik-intrik di kedua organisasi ini membuat Adam yang tak tahu apa-apa menjadi korban.
Sama seperti Pham, Adam pun menderita karena harus berpura-pura melakukan hal yang sebetulnya bertentangan dengan kata hatinya. Ia bahkan mengkhianati teman sekamarnya demi tugas yang tak bisa ia hindari.
Jika saya berada di posisi Pham dan Adam, besar kemungkinan rasanya saya akan menolak matang-matang (tak cuma mentah-mentah) untuk menjadi mata-mata atau informan karena pekerjaan demikian memiliki tingkat stres yang sangat tinggi. Rasanya sangat tidak tenang baik lahir dan batin. Mending kalau taruhannya cuma gaji, kalau bekerja sebagai mata-mata, taruhannya bisa saja nyawa.
Tapi buat kaum mental baja yang kalau menurut deskripsi HR zaman sekarang “mampu bekerja di bawah tekanan”, mungkin Anda cocok jadi James Bond yang suka mengglorifikasi kemampuan bekerja di situasi-situasi yang membikin saraf tegang terus-menerus. (*/)
Leave a Reply