{"id":923,"date":"2026-04-14T12:52:03","date_gmt":"2026-04-14T05:52:03","guid":{"rendered":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/2026\/04\/14\/nasi-dan-keindonesiaan\/"},"modified":"2026-04-14T12:52:03","modified_gmt":"2026-04-14T05:52:03","slug":"nasi-dan-keindonesiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/2026\/04\/14\/nasi-dan-keindonesiaan\/","title":{"rendered":"Nasi dan Keindonesiaan"},"content":{"rendered":"\n<p>Ibu saya pernah berkata bahwa beliau selalu merasa badannya bergetar bila belum makan nasi. Saya merasa pernyataannya itu berlebihan. Saya generasi yang tidak percaya dengan superioritas nasi putih sebagai bahan makanan pokok harian. Apalagi dengan naiknya tren diabetes dalam beberapa dekade terakhir, nasi putih adalah sumber karbohidrat yang paling wajib dihindari menurut saya. Ini ditambah dengan pernyataan banyak pakar bahwa nasi menaikkan kadar gula darah. <\/p>\n\n\n\n<p>Saya pun berusaha mengurangi asupan nasi putih. Berharap bisa menekan risiko diabetes serendah mungkin. Saya memilih sarapan dengan oatmeal atau nasi merah atau susu atau telur. Apapun asal bukan nasi merah pokoknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi akhir-akhir ini saya agak goyah dalam pendirian saya sebagai pembenci nasi. Pertama bahwa nasi putih cuma salah satu dari banyak makanan di dunia yang menaikkan kadar gula darah. Dan itu memang bisa terjadi bila dimakan tanpa campuran protein sama sekali. Kalau nasi putih dicampur protein dan serat makanan yang banyak, konon menurut si dewi glukosa yang menulis buku soal gula darah dan beragam cara mengendalikannya, kenaikan kadar gula darahnya tidak bakal drastis. Jadi sebetulnya bukan masalah besar. <\/p>\n\n\n\n<p>Kedua ialah saya menemukan bahwa nasi putih itu lebih mudah dicerna dan lebih nyaman untuk pencernaan. Dan itu benar. Bahkan jika dibandingkan dengan beras merah, beras putih lebih mudah diterima perut. Kadang setelah makan nasi merah, rasanya perut menjadi begitu kosong dan melilit setelahnya. Tapi nasi putih tidak. Badan dan perut ini merasa nyaman dan tenang. Itulah alasan mengapa  orang sakit selalu diberikan bubur nasi putih, bukan bubur nasi merah. Nasi merah meski kandungan seratnya lebih banyak berkat kulit arinya itu ternyata lebih sukar dicerna karena ada kandungan enzim tertentu. Serat memang banyak tapi bila terlalu banyak, perut juga jadi kewalahan. Begitu kira-kira pemahaman saya. Semua mesti sesuai porsi dan kemampuan badan dalam mengolahnya. Mesti pas. Tidak kekurangan atau kelebihan. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, nasi putih juga menjadi makanan buat para atlet yang butuh asupan makanan utuh sehat. Para atlet binaraga juga makan nasi putih bersama protein hewani dan sayur mereka jadi menurut saya nasi putih tidak seburuk itu. Ia memang bisa berakibat buruk jika kita makan dalam jumlah banyak, tanpa diimbangi protein dan serat yang cukup, dan tidak diikuti aktivitas fisik dan olahraga teratur. <\/p>\n\n\n\n<p>Jadi kini saya mulai kembali memeluk kepercayaan bahwa nasi putih adalah baik sebagaimana yang diyakini ibu saya asal saya masih mengonsumsinya secara wajar dan seimbang. (*\/)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ibu saya pernah berkata bahwa beliau selalu merasa badannya bergetar bila belum makan nasi. Saya merasa pernyataannya itu berlebihan. Saya generasi yang tidak percaya dengan superioritas nasi putih sebagai bahan makanan pokok harian. Apalagi dengan naiknya tren diabetes dalam beberapa dekade terakhir, nasi putih adalah sumber karbohidrat yang paling wajib dihindari menurut saya. Ini ditambah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[70],"tags":[607,606],"class_list":["post-923","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-life","tag-gula-darah","tag-nasi-putih"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/923\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/akhliswrites.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}